Ketika Kuroko baru saja sampai sekolah, Akashi menelponnya. Menanyakan perihal surat yang tiba-tiba datang tadi pagi.

"Iya, Akashi-kun, aku juga menerima surat seperti itu. Tapi, tidak seperti Akashi-kun, aku tidak bisa membaca tulisan yang ada dalam surat."

Pemuda bersurai biru langit yang memiliki hawa keberadaan tipis itu masih berbicara lewat telepon. Matanya sesekali melirik pintu kelas, siswa yang lain mulai masuk dan kelas mulai ramai.

"Ha'i Akashi-kun, aku akan datang."

Kuroko menghela napas. Di tangannya tergenggam surat yang baru datang tadi pagi. Surat yang dikirim atas nama Kise Ryouta, teman--ah bukan--sahabatnya dari SMP.

"Oi, Kuroko," Pemuda bersurai merah gelap dengan alis bercabang yang duduk di depan Kuroko memanggilnya, "Sepulang latihan nanti, ayo ke Maji Burger, aku akan menraktirmu milkshake vanilla."

Mendengar kawannya berkata begitu, Kuroko menggeleng, "Tidak bisa, Kagami-kun. Aku juga tidak bisa ikut latihan. Tolong izinkan pada Hyuga-senpai."

"Hah? Tidak ikut latihan?" Meski hawa keberadaannya tipis dan sering tidak disadari, tapi Kuroko tidak pernah membolos latihan, "memangnya kenapa?"

"Akashi-kun meminta kami berkumpul hari ini di Majiba. Jadi lebih baik Kagami-kun juga jangan kesana nanti." Kuroko menggerakkan telepon genggamnya, tanda bahwa ia baru saja dihubungi lewat telepon.

"Akashi?" Kagami tambah mengernyit. "Ini hari Senin dan dia datang jauh dari Kyoto hanya untuk berkumpul dengan kalian... Kiseki no Sedai?"

Tatapan Kuroko sedikit menajam, menunjukkan ketidaksetujuan terhadap perkataan Kagami, "Tidak, Kagami-kun. Kami tidak hanya berkumpul dan mengobrol. Tetapi aku sangat yakin Akashi-kun tidak perlu berpikir dua kali untuk mengorbankan sekolahnya hari ini." Kuroko menghela napas, "Bahkan Murasakibara-kun yang biasanya malas bila diminta berkumpul pun pasti akan datang."

Kagami menggaruk bagian belakang lehernya, "Memang apa spesialnya hari ini? Hari kejayaan kalian di SMP?" Kagami tidak habis pikir. Buat apa kapten Rakuzan jauh-jauh datang dari Kyoto hanya untuk bertemu dengan teman-teman SMP-nya? Di hari senin pula! Juga, Kagami penasaran sepenting apakah urusannya hingga Kuroko rela mengorbankan latihan basket mereka demi sebuah reuni kecil.

"Bukan, Kagami-kun," Kuroko menggeleng, "hari ini adalah hari ulang tahun Kise-kun."

Setelahnya, yang terjadi adalah hening yang menyergap mereka berdua. Suara-suara dan argumen seakan tertelan ke dalam atmosfer. Ditambah, tatapan Kuroko yang menggelap dan anak itu sedikit menunduk.

Seketika, Kagami mengerti.

"Aaah, mantan Ace Kaijou itu, 'kan?"

Kuroko mengangguk.

"Kalau begitu, nanti akan kusampaikan kalau kau izin berlatih." Kagami meneguk ludah, tak nyaman. Hari ini hari ulang tahun si pemuda pirang, itu berarti semua anggota Kiseki no Sedai akan saling bertemu. Meski sebenarnya ia ingin ikut, mengingat ia dan Kise telah saling kenal, Kagami cukup tau diri untuk tidak mengganggu. Terlebih, dia juga tak bisa membayangkan apa yang akan kapten Kiseki no Sedai lakukan bila ia mengacaukan perkumpulan itu.

"Terima kasih, Kagami-kun."

.

.

tbc