"Okaa-chin dan Otou-chin, hari ini aku tidak sekolah, boleh ya?"

Enam orang lain yang tengah sarapan di meja makan itu serempak tersedak mendengar penuturan dari anggota keluarga mereka yang paling muda itu.

"Hah, kau ingin membolos, Atsushi?" Kakak ketiga Murasakibara yang pertama kali menjawab setelah terbatuk-batuk dan rusuh mencari air mineral.

"Hn, aku mau ke Yokohama hari ini."

"Hah?!" Kali ini, kakak perempuan Murasakibara yang tercengang. "Buat apa kau kesana? Itu jauh lho. Bahkan menggunakan kereta pun tetap jauh, ditambah lagi, biasanya kau 'kan biasanya tidak suka bepergian jauh."

"Hmm," Murasakibara tidak terlalu menanggapi bentuk kebingungan kakak-kakaknya. Sebaliknya, dia sibuk mengunyah susunan sarapan yang ibunya buat dengan lahap. Lezat, seperti biasa. Matanya melirik Sang Ayah yang sedang menyeruput teh hangatnya dengan nikmat, sama sekali tidak mempermasalahkan perkataan anak bungsunya itu, tidak ada raut ketidaksetujuan. Sementara sang ibu hanya tersenyum sejak tadi. Diam-diam bersyukur dalam hati tu buang anak bungsunya yang mulai berpikir dewasa.

"Tentu saja, Atsushi. Nanti Okaa-chin buatkan bekal untukmu."

"Haaah?" Keempat kakak Murasakibara Atsushi serempak berseru tidak percaya. Bagaimana mungkin orang tua yang disiplin perihal sekolah, bisa dengan mudahnya mengizinkan anaknya membolos?

"Hn, terima kasih, Okaa-chin."

Keempat kakak melempar pandangan pada Sang Ayah, yang hanya dibalas dengan anggukan samar.

Sebenarnya tadi pagi, ketika sebuah surat sampai ke rumah keluarga Murasakibara, sang ibu-lah yang menerima surat itu. Ia tahu siapa Kise Ryouta, dan apa yang telah terjadi padanya. Maka dari itu, kedua orang tua Murasakibara tidak perlu terlalu banyak bertanya tentang apa yang akan anak terakhir mereka lakukan.

"Eh, nanti mau ke Tokyo dulu. Aka-chin meminta kami berkumpul dulu."

"Woi, Atsushi," Kakak sulungnya tidak tahan bila tidak bertanya, "jadi kau ke Tokyo hanya karena suruhan Aka-chin yang itu?" Lelaki itu sedikit kesal saja. Dia tahu teman adiknya yang berasal dari keluarga konglomerat itu. Meski kaya, seharusnya dia tidak boleh bertindak sekenanya.

Murasakibara masih melanjutkan makan, menjawab dengan santai, "Iya. Aka-chin menyuruh kami berkumpul agar nanti bisa sama-sama menemui Kise-chin."

Seketika, ruang makan itu lengang. Hanya terdengar dentang sendok dan piring dari Murasakibara Atsushi yang masih melanjutkan makan. Sementara itu, keempat kakak Murasakibara mendadak enggan menyuap makanan mereka. Semua teringat bagaimana suasana saat itu. Saat pertama kalinya adik bungsu mereka yang hobi sekali makan, mendadak mengabaikan semua hidangan, bahkan bujuk rayu berupa satu plastik besar jajanan maiubo--makanan ringan favoritnya--pun tidak mempan untuk Murasakibara Atsushi selama seharian penuh. Pertama kalinya pula adik bungsu mereka yang memiliki mental seperti anak kecil memahami betapa berharganya seorang teman. Mereka bahkan masih mengingat perkataan Atsushi saat itu.

"Kise-chin tidak akan menjadi Kise-chin yang sama lagi, tapi aku tidak ingin Kise-chin menjadi pendiam, karena aslinya Kise-chin itu berisik. Tapi lebih baik berisik daripada sepi."

"Sebenarnya, tadi Atsushi menerima surat dari temanya yang itu," Sang Ibu berbicara, "bahkan aku ikut senang mengetahui dia tidak terpuruk dengan menulis surat."

Keempat kakak Murasakibara melotot.

"Huwaa? Temannya Atsushi yang itu bisa menulis surat? Hebat sekali. Ya sudah sana, Atsushi, siap-siap pergilah! Ah payah, kau pasti belum bersiap. Sini oneechan bantu!" Kakak perempuan Murasakibara yang satu-satunya itu segera bangkit berdiri, mendadak bersemangat. Bagaimana pun, dia termasuk salah satu fangirl Kise, sebelum teman adiknya itu berhenti dari dunia perbasketan dan model.

"Hm, Onee-chin, tolong ya."

.

.

tbc