Akashi Seijuro terdiam lama memandang secarik kertas yang berada di tangannya.
Tadi pagi, ketika hendak berangkat ke sekolah, penjaga keamanan rumahnya yang besar itu tergopoh menyampaikan sebuah surat yang baru saja diantar. Baru setelah putra tunggal keluarga Akashi itu duduk di kursi mobil dalam perjalanan ke sekolah, ia membaca nama pengirim surat. Seketika itu pula, sopir yang mengendarai mobilnya ia minta untuk berhenti. Memberi waktu untuk Akashi berkonsentrasi memahami kata demi kata yang tertera dalam selembar kertas putih itu.
Tulisannya Ryouta, jantung Akashi serasa diremas, apalagi ketika membaca untaian huruf yang tertulis tidak rapi. Saling bertumpuk, melingkar, banyak sekali coretan, dan tidak jelas. Tetapi bukan Akashi Seijuro namanya kalau tidak bisa menaklukkan tulisan yang lebih parah dari grafik seismik tersebut. Pada akhirnya, dia tersenyum tipis membaca kalimat sederhana yang tertulis di sana.
"Untuk Akashicchi,
Bagaimana kabar Akashicchi? Bagaimana tim basket Rakuzan? Aku sangat ingin membawa Kaijou berhadapan dengan Rakuzan dan bertanding dengan Akashicchi. Tapi sepertinya tidak mungkin bila Kaijou tanpa aku, hehehe. Aku juga sebenarnya ingin sekali bermain dengan Akashicchi, Aominecchi, dan yang lainnya. Tapi bagaimana lagi, hehehe.
Lihat, Akashicchi, aku sudah bisa menulis! Akashicchi balas suratku ya? Tenang saja nanti Neechan atau Neechi yang akan membacakannya untukku!
Dari Kise Ryouta."
Cukup lama Akashi terdiam di mobil. Tertawa kecil, tapi matanya memanas karena ingin menangis. Ia memijit keningnya, pusing karena dua hal. Satu, karena tulisan Ryouta benar-benar susah dibaca, dua, karena ia harus memikirkan apa yang akan dilakukan sekarang. Hari ini ulang tahun Ryouta, tentu saja Akashi tidak lupa. Hadiah temannya sudah ia kirim beberapa hari lalu, diperkirakan sampai di sana hari ini.
Tapi apa ini? Mengapa Ryouta mendadak memberinya surat seperti ini? Akashi tidak mengerti.
"Akashi-sama, Anda akan terlambat ke--"
"Batalkan. Kembali ke rumah." kata Akashi cepat, "Aku tidak akan ke sekolah hari ini."
Sang Sopir memilih untuk diam dan melakukan apa yang Akashi perintahkan. Mencoba bertanya sama dengan bunuh diri, jadi lebih baik menurut saja.
Akashi telah memutuskan sesuatu. Dia ingin bertemu Ryouta. Harus. Namun sebelumnya, dia harus memastikan sesuatu terlebih dahulu no arena Akashi yakin, Ryouta tidak mengirimkan surat pada dirinya seorang. Akashi meraih ponselnya, menekan salah satu kontak dan melakukan panggilan.
"Moshi-moshi, Akashi-kun?"
.
.
tbc
