Empat remaja lelaki berambut warna-warni bergerak-gerak gelisah di salah sudut di sebuah restoran cepat saji bernama Maji Burger. Mereka rajin melirik jam dinding yang berada di tembok sebelah, merutuk mengapa waktu terasa berjalan begitu lama.

"Lama sekali. Padahal dia yang menyuruh tapi dia sendiri yang telat." Aomine bergerak resah. Lelaki berkulit gelap itu mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, tidak sabar.

"Ini belum jam empat nanodayo. Akashi tidak telat tapi kita yang datang terlalu awal." Ucap Midorima sambil menentang headphone, lucky itemnya hari ini.

"Midorima-kun benar, Aomine-kun. Aku sebenarnya agak kaget kau sampai di sini paling awal. Tidak menyangka saja, biasanya kau kan yang paling malas."

Aomine berdecak. Kalau diingat, dia datang pukul tiga lewat lima menit. Terlalu awal memang, tapi dia kelewat semangat. Masalahnya, setelah melihat surat dari Kise, Aomine tidak bisa berpikir. Dia sudah meminta tolong pada Kuroko, Midorima, dan Murasakibara untuk membacakan surat itu. Namun ketiganya menggeleng tidak mengerti. Karena Kuroko bilang Akashi bisa membaca surat dari Kise, makanya Aomine sangat tidak sabar menunggu kaptennya yang satu itu, minta tolong dibacakan, kalau boleh.

"Hmm..." Murasakibara sudah asyik makan. Daripada tidak melakukan apa-apa, lebih baik mengisi perutnya yang terasa kosong setelah perjalanan jauh dari Akita.

Pukul empat kurang lima menit.

"Tetsuya, Daiki, Shintaro, Atsushi, kalian sudah berkumpul rupanya." Serempak, empat kepala menoleh ke sumber suara. Menampilkan sosok bersurai merah dengan iris senada dengan rambutnya. Akashi langsung mengambil tempat duduk di samping Kuroko.

"Ini tentang suratnya Ryouta." Kata Akashi tanpa basa-basi. "Kalian tidak bisa membaca tulisan Ryouta, aku tahu. Tapi jangan harap aku mau membacakan milik kalian, itu membuang waktu."

Hela kekecewaan terdengar dari keempatnya. Sebenarnya sejak tadi mereka berharap Akashi akan berbaik hati membacakannya, tetapi harapan itu rupanya harus pupus begitu saja.

"Aku sudah menghubungi Ryouna-san kalau kita akan datang. Sebaiknya bergegas, Ryouta pulang dari terapi sebelum petang." Akashi sudah bangkit berdiri.

"Oi oi, Akashi. Lalu buat apa kita ke rumah Kise kalau tidak tahu apa yang dia tulis di dalam surat, kan? Bisa jadi dia meminta agar tidak perlu khawatir atau apalah."

Tatapan Akashi menajam, "Tidak, Daiki. Ryouta hanya bertanya kabar dalam suratnya. Tapi lebih dari itu, aku tahu kalau dia ingin bertemu kita semua."

"Ta-tapi bukankah menyakitkan bila bertemu tapi dia tidak bisa melihat kita?"

Kelimanya terdiam. Aomine tahu dia salah bicara tapi tidak berniat sama sekali untuk meminta maaf. Aomine tidak perlu menyembunyikan perasaan itu, karena dia yakin semuanya merasakan hal yang sama. Sejak saat itu, tidak pernah ada chat-chat beruntun dari Kise yang selalu berusaha meramaikan group chat. Ditambah mereka hanya beberapa kali melakukan voice call dalam grup, itu pun seringkali karena Akashi yang menyuruh yang lain bergantian memulainya. Dan selama itu pula, rasanya Kise tidak pernah tertawa seperti dulu.

"Ya, itu menyakitkan," Bahkan Akashi merasakan suaranya hampir hilang di ujung kalimat, "tapi akan lebih menyakitkan bagi Ryouta kalau kita menjauh darinya. Ku beri tahu saja, Ryouta pasti meminta kalian membalas surat itu. Turuti apa katanya, tulis saja apa yang ingin kalian tulis, tidak peduli bila surat balasan Ryouta tidak bisa dibaca. Tulis saja, agar Ryouta tahu kita masih di sampingnya."

Akashi mengambil napas.

"Ayo pergi."

.

.

.

tbc