Kise bersenandung pelan di dalam mobil yang dikendarai nee-channya.
Hari ini dia berulang tahun. Ibu dan ayah Kise sudah bilang kalau mereka akan pulang dan makan malam bersama di rumah.
Pintu mobil dibukakan oleh sang kakak. Pemuda berambut pirang itu berjalan menuju pintu tu utama. Dia sudah hafal letak garasi dan seantero rumah, jadi dia tidak akan tertabrak lagi. Kise membuka pintu, sama sekali tidak menyadari kalau ada apanya sepatu asing yang berjajar di tempat sepatu, di samping pintu masuk utama.
"Tadaima Neechi--"
"Oi, kau menyenggolku!"
"Sebaiknya kau yang minggir nanodayo."
"Hm, nyam... nyam... "
"Atsushi, kau akan menghabiskan makanan keluarga Kise bila terus memakannya."
Suara tawa, "Tidak papa Akashi-chan. Makan saja Murasakibara-chan, sampai habis juga tidak masalah."
"Oi Tetsu! Jangan muncul tiba-tiba seperti itu!"
"Aku daritadi di sini, Aomine-kun."
Kepala Kise terasa pening. Apa ini? Halusinasi lagi? Mengapa ia seakan bisa melihat kelima temannya yang sedang saling ribut di depannya? Kurokocchi yang sering muncul tiba-tiba hingga membuat semua orang kaget, Aominecchi yang sering mengeluh dan mencari masalah, Midorimacchi dengan lucky itemnya, Murasakibaracchi yang selaku makan, serta Akashicchi yang terdiam sembari mengawasi semuanya, berbicara seperlunya.
"Eh, Ryou-chan? Kau sudah pulang?"
Lima kepala warna-warni itu membeku. Seketika senyap menyelubungi ruangan itu.
"Ta-tadaima, neechi," Kise terbata. Dia tertawa miris di dalam hati. Jadi aku berhalusinasi lagi ya-ssu?
"Bagaimana terapinya tadi?" Ryouna mengambil alih jaket dan tas yang Kise pakai, membawanya.
"Baik-ssu. Apa Ayah dan ibu sudah pulang?"
"Belum, mereka bilang akan tiba pukul tujuh. Ryou-chan mandi dulu sana. Neechi siapkan ya?"
Kise mengangguk. Ia lalu dengan santai duduk di sifat ruang utama. Matanya mengerjap, wajahnya menghadap ke arah televisi yang menyala. Meski tidak melihat tayangan yang ada di depannya, Kise dengan fokus mendengarkan siaran berita. Kata dokter terapinya tadi, ia harus lebih rajin melatih indra pendengarannya agar tidak harus selalu bergantung dengan orang lain.
Sementara sang tuan rumah sedang asyik menonton--err... mendengarkan acara televisi, kelima kepala warna warni masih mematung. Tidak berani untuk bergerak, bahkan berlaku juga pada Akashi. Pemuda itu menatap teman pirangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ryou-chan!"
"Iya-ssu!"
Kise bangkit berdiri. Berjalan dengan lancar menuju arah kamar mandi. Tidak tahu bahwa teman-temannya was-was bila saja dia tidak sengaja menabrak tembok. Tapi nyatanya, Kise dapat menuju kamar mandi tanpa dirinya terbentur suatu apa pun.
"Dia tidak melihat kita."
"Tidak usah diperjelas, Aomine-kun." Kuroko menjawab dengan nada sedih.
"Bukankah biasanya bila ada salah satu indra yang tidak berfungsi, indra yang lain akan lebih peka nanodayo?"
"Ryouta masih dalam tahap belajar memaksimalkan pendengarannya. Dia pasti sempat mendengar suara kita, tapi mungkin dia menganggapnya sebagai halusinasi." Akashi menatap punggung Kise hingga menghilang di belokan, menghela napas panjang.
*
Our Precious Sunshine
*
"Neecchi, kurasa aku berhalusinasi lagi-ssu." Ucap Ryouta kala ia menyadari kehadiran kakaknya di ambang pintu, "Tadi aku membayangkan teman-teman ada di sini. Aku bahkan mendengar suara mereka-ssu. Tapi ketika aku menyadarinya, tidak ada suara apa-apa lagi."
Ada yang aneh. Kakak keduanya itu biasanya selalu menjawab apa yang Kise katakan, sifat cerewet menurun darinya. Makanya, ketika Kise selesai berbicara dan tak kunjung ada jawaban, padahal ia yakin sekali ada orang yang berdiri di ambang pintu, Kise merasa bingung.
"Neecchi atau Nee-chan?"
Tidak ada jawaban lagi. Hingga Kise khawatir dan pemuda itu memutuskan untuk berjalan ke arah pintu, takut sang kakak kenapa-napa.
"Nee--"
Tahu-tahu, tubuhnya menghantam sesuatu. Tidak sekeras dan sedingin tembok, tetapi lebih besar dari tubuh kedua kakaknya. Kise bisa merasakan hangat dari sesuatu itu, seorang manusia. Ketika ia berpikir bahwa ayahnya yang ia tabrak, ia segera menepis pemikiran itu. Ini bukan ayahnya, aromanya berbeda. Sebaliknya, Kise merasa mengenal tubuh itu dengan baik. Beraroma mint dan musim panas, tubuh yang kekar tapi tingginya tidak berbeda jauh darinya...
Kise spontan mendongak, membuka kelopak matanya lebar-lebar, tapi tidak terlihat olehnya satu titik cahaya pun.
Sementara itu, sosok yang ditabrak meringis sedih. Apalagi ketika iris cokelat madu itu menatap lurus ke matanya, rasanya pilu.
"Aominechhi?" Si pirang berucap lirih, hampir tidak terdengar kalau-kalau suasana saat itu tidak benar-benar sepi. Tapi itu cukup untuk membuat pemuda berkulit gelap, teman dekat Kise itu untuk merusak seluruh rencana. Seharusnya, Aomine hanya kemari untuk melihat apakah Kise sudah siap atau belum, tetapi berakhir dengan lengan pemuda itu bergerak memeluk Kise.
"Hai."
Hanya pelukan singkat sesama sahabat, Aomine lalu melepaskannya. Diraihnya pergelangan tangan Kise, mengajaknya ke ruang keluarga bersama.
Kise mengerjapkan mata berkali-kali. Dia kebingungan.
"Loh, apa yang Aominechhi lakukan di sini-ssu? Mengapa Aominechhi tiba-tiba memelukku juga-ssu? Ini benar Aominecchi kan? Aominecchi jawab aku... "
Aomine ingin menjawab sekalian menjitak kepala pemuda yang cerewet itu. Tapi mendengar suara bernada ceria itu, rasanya suara Aomine hilang ditelan bumi, kabur hingga ke dasarnya, tidak mau keluar. Dia malah berhenti dengan mendadak, membuat Kise menabrak punggungnya yang kokoh. Kebingungannya telah membuat Kise lupa jarak antara kamar dan ruang utama yang mereka tuju.
"Daiki, kau mengacaukan rencana." Suara Akashi terdengar. "Kau bilang hanya akan melihat Ryouta saja, mengapa membawanya kemari sekarang?"
"Akashicchi?" Kening Kise berkerut, alisnya bertaut. Sayang, dia tidak bisa melihat Akashi yang tersenyum tipis ke arahnya, sesuatu yang jarang terjadi.
"Aomine-kun, kami mendengar percakapan tadi. Kau juga memeluk Kise-kun. Kau mengacaukan rencana." Suara dengan intonasi sedatar dinding turut menyapa relung telinganya.
Kise berucap tak percaya, "Kurokocchi?" Kise spontan membuka lengannya, tubuhnya seolah tersetel 'radar Kuroko' secara tidak sadar. Biasanya dia akan memeluk pemuda bersurai biru muda itu sampai yang dipeluk mendecit kesesakan, minta dilepas dari pelukan. Kise kemudian canggung. Dengan kaku dia kembali menurunkan tangan karena tidak tahu Kuroko ada di mana.
Kuroko mengerti isyarat tubuh Kise. Maka dari itu itu ia segera berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapan Kise. "Doumo, Kise-kun."
Kise terlonjak kaget mendengar suara itu berada di hadapannya. Segera senyumnya tertoreh lebar.
"Kurokocchi!!!"
Kuroko tidak protes ketika lengan Kise mengurung tubuhnya. Diam-diam Kuroko menikmati pelukan itu. Jujur saja dia sedikit merindukannya, tapi ia sedikit heran, pelukan Kise tidak seerat dulu.
"Sudah kubilang berhenti makan, Murasakibara. Bahkan Tuan dan Nyonya Kise belum mengizinkanmu untuk makan nanodayo."
"Mido-chin berisik. Kata kakaknya Kise-chin makan saja tidak apa-apa."
Kise melepas pelukannya pada Kuroko, mengerjap, menoleh ke sana kemari, "Midorimacchi? Murasakibaracchi?"
Apa ini? Mengapa teman-temannya mendadak berkumpul di rumahnya? Bukankah sekarang hari senin? Harusnya mereka 'kan masih sibuk dengan urusan sekolah masing-masing? Mengapa mereka ada di sini?
"Kau yang mengundang kami, Ryouta," Akashi seakan membaca pikiran Kise. Seharusnya dia tidak terkejut, kapten mereka yang satu itu memang perkataannya seringkali benar, "Kau meminta kami membalas suratmu, maka inilah jawaban kami, Ryouta."
"Minnacchi..." Sekarang Kise yang terbata. Air mata meleleh dari mata yang yang tak lagi berfungsi itu.
Ya, Kise buta. Beberapa minggu setelah pertandingan tim Vorpal Sword melawan Jabberwock yang ramai itu, mobil yang Kise kendarai bersama agensi permodelannya mengalami kecelakaan di jalan tol. Tidak ada korban jiwa, namun Kise kehilangan kemampuan melihatnya dikarenakan benturan yang mengenai kepala Kise menyebabkan saraf-saraf penglihatannya mati.
Kise kecewa? Ya, tentu saja. Dengan ketidakmampuan untuk melihat, sudah pasti pemuda itu akan berhenti bermain basket dan permodelan. Hal itu tentu membuat mental si pirang amat terpuruk. Tak terhitung ia menangis sepanjang hari hingga kedua matanya membengkak dan demam. Yang lebih membuatnya sakit adalah, Kise tahu kini memandangnya berbeda. Seakan Kise telah dikeluarkan dari lingkaran kehidupan mereka. Kise tahu mereka. Tidak mungkin melakukan itu, tetapi seperti itulah yang Kise rasakan. Kise takut bila pada akhirnya dia akan tertinggal, jauh dari teman-temannya yang terus berjalan maju.
Butuh waktu lama bagi Kise untuk kembali bangkit. Beberapa bulan lalu, pada akhirnya Kise setuju untuk melanjutkan sekolah, keluar dari Kaijou dan pindah ke sekolah khusus. Belajar semua dari awal, membaca aksara braille, menggenggam pensil, menajamkan pendengaran, dan banyak hal lain. Perlahan, semangat hidup Kise kembali. Dia memang mendapat teman baru yang senasib, namun tetap saja Kise merindukan teman-teman lamanya. Kise merasa tidak memiliki hak untuk meminta berkumpul meski dia ingin, itu sebabnya Kise menahan diri hingga dia dapat melakukan sesuatu, yang Kise buktikan dengan menulis sebuah surat. Berharap agar mereka tidak memandang dirinya sebelah mata lagi.
"Kami datang untukmu, Kise-kun." Kise tahu kalau Kuroko tengah tersenyum kepadanya. Maka dari itu si pirang menyusun fragmen-fragmen ingatan yang ada, membayangkan kelimanya berada di hadapannya sambil tersenyum.
"Otanjoubi Omedetou, Kise." Midorima yang berinisiatif pertama kali, sesuatu yang jarang terjadi. Lelaki berkacamata itu membawa dua benda di tangannya. Sebuah headphone kuning-hitam yang menjadi lucky item cancer hari ini, beserta sebuah Mp3 player berwarna senada. Dipasangkannya headphone itu di kepala Kise sambil berkata, "Ramalan Oha-asa hari ini mengatakan kalau cancer harus memberikan lucky itemnya pada gemini. Kebetulan juga lucky item gemini adalah mp3 player. Jadi sekalian untukmu saja, nanodayo."
Kise mengerjap, mendengarkan sebuah alunan nada. Musik yang sering ia dengar di sekolah barunya.
"I-itu musik klasik. Bisa untuk mempertajam pendengaran sekaligus relaksasi nanodayo."
Kise mengangguk-angguk. Tertawa kecil karena mendengar aksen bicara Midorima yang menurutnya lucu. "Arigatou Midorimacchi!" Dipeluknya pemuda tsundere berkacamata itu singkat, menorehkan roda merah tipis di pipi.
"Y-ya sama-sama Kise."
"Otanjoubi Omedetou, Kise-chin." Murasakibara yang gantian maju. Satu tangannya menangkup puncak kepala Kise, mengacaknya.
"Murasakibaracchi..." Kise mendongak, sadar kalau Murasakibara jauh lebih tinggi darinya.
"Aku membawakan makanan khas keluargaku dari Okaa-chin. Enak sekali lho, Kise-chin."
"Wah benarkah-ssu? Aku akan memakannya nanti! Arigatou Murasakibaracchi!"
" Otanjoubi Omedetou, Kise-kun." Kini, giliran Kuroko yang maju. "Sekarang memang belum musim dingin, tapi Kise-kun bisa memakainya besok."
Kise merasakan sesuatu yang lembut menyentuh kulit lehernya.
"Warnanya kuning dengan motif garis sederhana berwarna biru muda. Meski warnanya tidak penting, tapi aku ingin Kise-kun ingat kalau syal ini dariku."
"Hangatnya ..," Kise menyamankan diri dengan syal barunya, menggesek-gesekkan pipinya ke kain yang lembut itu, "Arigatou Kurokocchi! Musim dingin nanti, aku pasti akan memakainya-ssu!"
Kuroko tersenyum, sekali lagi membiarkan Kise memeluknya erat.
"Oi Kise," Suara berat yang memanggilnya membuat Kise melepaskan pelukan pada Kuroko. Kise menoleh pada sumber suara, mengerjapkan mata, membuat Aomine menelan ludah. Sedih melihat sinar yang telah redup dari mata itu. Dengan susah payah, Aomine berucap, "Otanjoubi Omedetou."
"Aominecchi, Arigato-ssu!" Kise berujar ceria, matanya kembali mengerjap lucu, "etto... hadiahku-ssu?"
Yang ditanya hanya mengusap tengkuknya canggung. Kalau Akashi tidak memberi pesan tadi pagi, Aomine pasti lupa kalau hari ini adalah ulang tahun Kise. Mana sempat ia beli kado?
"Ano, hadiahnya seperti ini saja, ya, Kise." Aomine mendekati si pirang. Lalu dengan sekali gerakan, tubuh si pemilik perfect copy itu telah berada dalam pelukan hangat Aomine. Membuat semua orang di sana melotot, bahkan kacamata Midorima sampai melorot.
Sementara itu, Kise dengan segala kebingungannya, tidak bisa menahan air mata yang ingin keluar lagi. Ia tertawa kecil, "Aominecchi ingat ulang tahunku saja aku sudah senang-ssu. Terima kasih sekali ya, Aominecchi."
Akashi dengan tatapan kesalnya, merusak momen peluk-memeluk itu, "Minggir, Daiki." yang diperintah dengan berat hati melepas pelukan. Kalau boleh jujur, Kise maupun Aomine sebenarnya masih ingin berpelukan seperti itu, tapi mereka masih sayang nyawa.
"Otanjoubi Omedetou, Ryouta. Aku mengirimkan hadiahmu dari Kyoto, tapi sepertinya belum sampai. Dan, aku ingin memelukmu, boleh kan, Ryouta?"
Tentu saja itu bukan pertanyaan. Tanpa menunggu Kise menjawab, Akashi sudah sigap memeluk Kise. Memejamkan mata kuat-kuat kala mengingat kondisi temannya yang sekarang. Akashi meremas pakaian Kise, merasakan kesedihan yang temannya alami akibat kecelakaan itu.
"Akashicchi... Arigatou... "
Sayang, ketenangan Akashi tidak berlangsung lama.
"Aku ingin memeluk Kise-chin mm..."
" Aku juga--"
"Tetsu, dari tadi Kise sudah memelukmu tahu!"
"A-aku juga mau, nanodayo."
"Kalau begitu, sini peluk bersama-ssu!" Kise merentangkan tangannya lebar, tersenyum senang.
Aku senang teman-teman masih peduli padaku-ssu! Kami-sama, terima kasih banyak!
.
.
.
終わり
.
Ampuni aku Kise-ku sayang Maaf kalau karakternya rada OOC :") Terutama si Kise jadi bocah banget gitu. Ya emang kan, biasanya orang sakit, mentalnya jadi menurun.
Oiya, maapin juga di situ keknya dominan AkaKi dan AoKi :v, itu pair kise fav aku, tapi tenang aja di sini bukan Romance kok, lebih ke friendship.
ehe. semoga kalian suka!
with love,
aeflytte.
