A/n : Waktunya update untuk cerita kecil ini. Terimakasih atas apresiasi pembaca yang baik. Aku sangat antusias untuk bisa mengembalikan caraku menulis agar bisa meng-update ceritaku lainnya yang kutinggal cukup lama. Untuk banyak pembaca terima kasih banyak terutama yang telah menamparku keras dalam peringatan untuk tidak menyia-nyiakan jemariku dalam merangkai kata.

[]

Dungeon.

Sebuah tempat dimana orang-orang pergi menjelajahinya untuk mendapatkan ketenaran ataupun keberuntungan dengan membunuh monster. Sebuah tempat labirin yang telah ada jauh sebelum dewa atau dewi turun ke dunia dan hidup di tengah-tengah manusia. Tempat dimana terdapat begitu banyak lantai hingga tidak diketahui sampai mencapai lantai berapakah jika petualang turun untuk menjelajah Dungeon tersebut. Pada atas dungeon dibangun sebuah menara besar bernama Babel yang berisi tempat usaha mewah atau tempat tinggal milik dewa dewi yang telah sukses dengan familia yang mereka miliki. Familia sendiri adalah sekelompok petualang yang diberi berkah oleh dewa atau dewi tertentu dan menjelajah Dungeon bersama-sama dengan membawa nama dewa atau dewi mereka. Selain itu, Familia juga bisa diartikan sebagai pelayan dewa ataupun dewi pada dunia ini.

Uzumaki Naruto memandang ketika dia berhenti sejenak pada depan menara Babel yang dibawahnya terdapat pintu masuk untuk menuju menara Babel atau menuju Dungeon itu sendiri. Seperti biasa disini selalu ramai oleh para orang yang menyebut diri mereka adalah seorang petualang.

Meski Naruto berhenti pada depan menara tersebut, tujuan Naruto sebenarnya bukanlah untuk pergi kesana. Dia hanya sekadar lewat untuk menyaksikan para petualang memulai hari mereka untuk bersiap pergi ke Dungeon. Menyaksikan wajah wajah mereka yang tidak dia kenali seorangpun. Mungkin wajah senang dari seorang petualang yang dia saksikan sekarang bisa jadi menjadi yang terakhir dia lihat sebelum kejadian tidak terduga terjadi pada petualang yang Naruto lihat punya senyum mengembang pada wajah petualang itu sekarang. Itu bukanlah sebuah cerita baru dimana mungkin hari ini petualang itu akan menemui kematiannya pada Dungeon hari ini atau mungkin sebuah keberuntungan. Apapun itu, Naruto hanya melihat saja para petualang tersebut sebelum melanjutkan langkahnya menuju tempat tujuan aslinya.

Setelah segala waktu yang telah dia lalui pada dunia baru ini, dia mensyukuri dia diberi kehidupan kedua pada sebuah tempat yang cukup tenang. Dengan keadaan dimana Naruto harus beradaptasi dengan dunia baru ini yang mana dilakukannya dengan baik, Naruto kemudian memilih untuk tidak menjadi petualang.

Alasan untuk itu sangatlah sederhana namun bermakna untuknya. Dia yang merupakan Shinobi telah lelah mengangkat senjata, sesuatu yang telah dilakukannya semenjak masih kecil. Darah yang telah membasuh tangannya telah terlalu banyak dan dia ingin berhenti untuk itu. Selain itu alasan lain dia tidak ingin menjadi petualang adalah dia tidak ingin dekat dengan dewa ataupun dewi dimana menjadi petualang mengharuskannya memiliki hubungan dengan mereka. Dia punya kenangan buruk dengan mereka yang memilik gelar dewa atau dewi tersebut. Orang gila yang mengatakan dirinya telah menjadi dewa dan telah merancang perang dunia Shinobi yang telah merenggut nyawa banyak orang membuatnya tidak menyukai kata yang berhubungan dengan dewa ataupun dewi.

Petualang adalah mereka yang dekat dengan dewa dan dewi lalu menerima berkah mereka dan mendaftarkan diri mereka pada Guild. Itu adalah aturan seorang petualang dan karena itu Naruto tidak menjadi petualang. Lagipula dia bisa hidup tanpa harus menjadi petualang untuk mendapatkan uang. Ada pekerjaan lain yang menghasilkan uang untuknya hidup tanpa harus membuatnya mengangkat senjata dan itu lebih dari cukup untuknya.

Tempat yang dia datangi sekarang tidak lebih dari kios kecil yang dia sewa sebagai tempatnya usaha. Itu hanyalah tempat reparasi senjata terutama pedang karena Naruto memang mengerti akan segala hal yang berbau pedang. Pedang setidaknya telah menjadi bagian hidupnya sedari dulu bersama dengan senjata lain dan dia tahu betul bagaimana memperbaiki dan merawat mereka. Sebenarnya dia bisa saja menjadi pandai besi sekalian, namun karena peralatan yang dia punyai masihlah belum cukup dan tempat yang dia miliki masihlah kecil, maka cukup dengan usahanya ini saja lebih dahulu. Dia tahu dia punya uang untuk memulai usaha lebih kapanpun dia mau, namun ketika dia ingin memulai segalanya dengan sebuah usaha kecil terlebih dahulu dan menikmati prosesnya, dia tidaklah perlu terburu-buru.

Usaha ini dia bangun dengan uang yang dia kumpulkan dari membantai monster pada Dungeon secara diam-diam. Menyusup masuk untuk mendapatkan kristal sihir yang didapatkan setelah membunuh monster. Kristal sihir yang kemudian dapat ditukarkan dengan Valis atau mata uang dunia ini dapat dengan mudah dia dapatkan bahkan ketika dia semakin turun ke lantai paling bawah. Setelah cukup dengan kristal yang didapatkan, dia membuat ilusi pada banyak petualang untuk menukarkan kristal sihir yang dia dapatkan. Dia sendiri tidak bisa menukarkannya karena dia bukan petualang dan jika dia hanya melakukan Genjutsu pada satu petualang untuk menukarkan begitu banyak batu kristal sihir, itu akan menimbulkan kecurigaan pastinya. Setidaknya dia tahu bahwa meskipun dia memulai hidup pada dunia baru, dia tidak lekas lengah begitu saja sampai melakukan hal bodoh.

Tempat usaha kecilnya berada pada sebelah bangunan bar atau restoran bernama Hostess of Fertility. Pemiliknya bernama Grand Mia dan dia pernah satu kali kesana untuk memperkenalkan dirinya yang membuka usaha pada sebelah bar tersebut. Grand Mia adalah perempuan yang jika Naruto katakan adalah perempuan paruh baya yang besar tubuhnya. Maklum saja karena merupakan keturunan dari Dwarf dan mantan seorang petualang juga katanya yang sudah pensiun. Itu adalah yang dia dengar dari sekitar dan meskipun terlihat kasar, dia adalah perempuan yang baik menurut Naruto itu sendiri. Pegawai pada bar itu cukup banyak dan semuanya adalah perempuan. Naruto tidak mengenal semuanya, namun mungkin beberapa ada yang dia kenali. Ya, terkadang bertegur sapa adalah hal yang normal jika bertemu namun untuk berbincang hingga lama itu adalah sesuatu yang belum pernah terjadi.

Naruto sendiri bukan tipikal orang banyak bicara dan lagi dia punya usaha yang harus dijalankan ketika pagi hari, bertentangan dengan bar yang buka ketika matahari mulai tenggelam.

Mengeluarkan kunci pintu tempat usahanya, Naruto kemudian menarik nafasnya perlahan.

Saat hari baru dimulai, meski hari ini dilaluinya secara monoton dan mungkin penuh kebosanan untuk banyak orang, dia tahu kedamaian ini adalah sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan ketika dahulu kala dan dia mencoba menikmatinya.

[]

Syr Flova bukanlah gadis yang merasa dia bisa mengetahui seseorang bahkan ketika dia baru pertama melihatnya. Gelagat mereka, gerak tubuh mereka, tatapan mereka, cara bicara mereka, hanya dengan itu Syr bisa menebak seperti apakah orang yang dia hadapi atau yang menjadi lawan bicaranya. Semua ini dia dapatkan dari pengalamannya dalam hidup dan juga ditambah dengan bagaimana dia bekerja pada sebuah bar ramai seperti Hostess of Fertility dimana berbagai macam petualang selalu datang dan mampir untuk bercerita tentang keadaan mereka atau bagaimana hari mereka berlalu.

Namun ketika Syr merasa dia sudah mahir membaca orang lain, Syr harus menelan ludahnya dalam-dalam ketika dia bertemu satu orang pemuda yang tidak bisa dia baca sama sekali. Pemuda itu bukanlah seorang petualang, tidak sama sekali. Dia hanyalah pemuda yang membuka usaha tepat disamping bar milik Grand Mia atau Mama mia- panggilan yang lebih sering diberikan pada bosnya- dimana usaha itu hanyalah tempat reparasi senjata sederhana. Sebenarnya Syr ingin tertawa dalam hatinya. Untuk apa hanya membuka usaha reparasi senjata saja? Kenapa tidak sekalian sebagai pandai besi juga? Kalau hanya reparasi senjata saja, bukankah itu akan kalah dengan pandai besi yang juga bisa mereparasi senjata? Syr tidak bisa tahu akan hal itu.

Tapi lupakan hal tersebut, lebih daripada itu, Syr memang telah tahu bahwa dia tidak bisa membaca pemuda bernama Uzumaki Naruto itu. Meski dia sopan- juga tampan dengan rambut merahnya serta mata birunya itu yang menawan- Syr merasa bahwa apa yang dia lihat dari wajah itu hanyalah sebuah kepalsuan.

Meski senyum terpasang diwajah itu, Syr tahu senyum itu hanyalah palsu. Hal itu berteriak pada pikiran Syr ketika dia melihat senyum dari Uzumaki Naruto. Senyum itu mengatakan hal yang salah dan entah mengapa meskipun senyum itu palsu, Syr merasa dia harus tahu bagaimana senyum yang sebenarnya dari Uzumaki Naruto.

Sayangnya itu adalah yang sulit.

Uzumaki Naruto bukanlah orang yang banyak bicara. Dia hanya menjawab seperlunya dengan sopan dan setelahnya dia akan berlalu begitu saja. Untuk menemuinya pada pagi hari juga sulit karena pagi hari biasanya Syr disibukkan dengan berbelanja bahan makanan bersama Ryuu dan baru kembali ketika sudah agak siang dan Uzumaki Naruto sudah berada dalam tempat reparasinya dan keluar ketika sore hari ketika dia juga disibukkan dengan persiapan untuk membuka bar. Jika dia menyapu di pagi hari sekalipun, Syr juga jarang melihat Uzumaki Naruto datang karena pemuda itu selalu datang setelah Syr menyapu pada depan bar. Dia juga tidak pernah datang lagi ke bar setelah perkenalannya dan meskipun Syr ingin datang ke tempat reparasi milik pemuda itu, rasanya Syr tidak mungkin karena jika dia datang kesana, dia ingin mereparasi apa? Dia tidak punya senjata untuk diperbaiki bukan?

Syr sebenarnya sangat penasaran sekali dengan pemuda itu sejak pertemuan pertama. Seperti apakah sifat aslinya dan bagaimana jika wajah pemuda itu menunjukkan emosi miliknya yang sebenarnya. Syr ingin tahu hal itu. Untuknya yang merupakan gadis tamak yang ingin tahu segalanya, Syr merasa baru kali ini dia menemui sesuatu yang menarik untuk dia pecahkan.

Are... Syr yang memandang tempat reparasi senjata dari depan ketika dia berhenti sejenak itu memegang pipinya. Sebuah senyum kecil mengembang pada wajah ayunya.

''Kau tidak apa-apa Syr?'' Ryuu, gadis Elf dengan paras ayu, rambut pirang sebahu dan mata berwarna biru yang senantiasa menemaninya bertanya padanya ketika dia merasa Syr tiba-tiba berhenti dan melihat cukup lama pada tempat reparasi senjata disebelah bar Hostess of Fertility. Ketika Ryuu melihat senyum kecil pada wajah Syr Flova dan senyum itu adalah senyum yang menunjukkan suatu ketertarikan, Ryuu tidak mampu menerjemahkan apa yang ada pada pikiran teman gadisnya ini.

''Uhm... Tidak apa-apa.'' Syr menjawab Ryuu sembari berjalan lagi untuk masuk ke bar bersama gadis Elf yang juga ikut berjalan masuk bersamanya.

Tidak perlu terburu-buru untuk mengetahui semuanya. Setidaknya Syr sekarang harus bersabar untuk itu.

Dia akan tahu cepat atau lambat dan dia ingin menikmati proses ini.

[]

''Kau datang lagi?'' Naruto mengangkat wajahnya setelah dia mendengar bunyi lonceng kecil yang dia pasang pada atas pintu masuk sebagai pertanda jika ada pelanggan datang.

Rambut putih dengan pakaian coklat disertai armor sederhana pada bagian dada juga membawa tas punggung kecil. Mata merah cerah dengan wajah tanpa mencerminkan dosa dan merupakan sebuah kenaifan disertai senyuman itu. Entah kenapa Naruto merasa kini dia familiar sekali dengan pemuda yang sering datang untuk memperbaiki senjatanya pada Naruto ini.

''Ha'i Uzumaki-san!'' Pemuda yang baru masuk ketokonya itu menghampiri Naruto yang berada pada belakang meja konternya. Pemuda itu kemudian mengeluarkan belati yang tersarung pada sarung belati yang terpasang pada pinggul belakangnya.

''Tumpul lagi?'' Tanya Naruto.

''Ehehehe... Ada banyak geriginya kali ini.'' Pemuda itu menggaruk pipinya dengan malu sementara Naruto memberikan dengusan geli dan mengambil belati yang diletakkan pemuda meja konternya.

Samar-samar bau keringat dan darah masuk ke penciumannya. Mungkin itu adalah bau sisa darah yang ada pada pakaian sebelah kiri pemuda berambut putih yang sering mengunjunginya untuk memperbaiki belati sederhana miliknya.

Pemuda itu bernama Bell Cranel. Seorang petualang dari Hestia Familia yang merupakan sebuah Familia kecil yang baru dimulai. Sebuah familia yang masih miskin dan dia bekerja keras untuk Familia tempatnya berada. Bell Cranel pernah bercerita padanya- meski saat itu Naruto sendiri tidak bertanya- bahwa dia secara kebetulan bertemu dengan dewi yang mau menerimanya menjadi anggota Familia setelah dia ditolak familia disana sini. Bell Cranel pertama kali mengunjungi tempat ini setelah direkomendasikan oleh resepsionis Guild bernama Eina Tulle, seseorang wanita yang Naruto kenal secara tidak sengaja. Mungkin karena tarif yang murah dan kinerjanya yang bagus, Bell Cranel sekarang menjadi pelanggan tetapnya dalam memperbaiki senjata miliknya dan mungkin menjadi orang yang familiar dan menjadi orang yang bisa dia kategorikan teman pertama pada dunia ini.

Dengan semua sikap dan keceriaannya, menganggapnya teman mungkin bukanlah sebuah kesalahan.

Naruto melihat belati milik Bell, mengelus sisi yang seharusnya tajam disana dan mendapati banyak gerigi yang membuatnya tumpul. Pemuda ini mungkin melawan banyak sekali monster selama Dungeon. Ada sedikit retakan pada pangkal belati itu yang terlihat berbahaya jika sampai diteruskan untuk digunakan. Meskipun masih bisa diperbaiki tapi setelahnya belati ini harus dibuang.

''Kau perlu membeli belati baru, Cranel-san.'' Naruto

''Eh?''

''Belatimu ini seharusnya sudah menjadi barang usang, harus dibuang. Aku bisa memperbaikinya satu kali lagi tapi jika sampai rusak maka aku tidak bisa. Ketebalannya sudah tipis.''

''Ahh...'' Bell terlihat melenguh disana. Wajahnya tertekuk lesu. ''Kukira masih bisa dipakai beberapa kali lagi.'' Bell tersenyum paksa dalam kepasrahan kemudian. ''Sepertinya aku harus merelakan uang yang kukumpulkan minggu ini untuk belati baru. Padahal aku ingin berhemat untuk Kami-sama.''

''Kau berjuang dengan keras Cranel-san.'' Naruto berkata dengan nada kalem. ''Kuberi diskon untuk perbaikan kali ini.''

''Uwah! Benarkah Uzumaki-san!'' Bell terlihat antusias. Dengan diskon dia bisa berhemat lagi! Naruto mengangguk untuk itu dan sebuah senyuman penuh diberikan untuk Naruto.

Senyuman yang membuat Naruto meringis.

Senyuman itu terlalu cerah untuk diberikan pada pemuda yang belum menemui kengerian daripada tempat bernama Dungeon tersebut. Naruto mungkin hanya bisa berdoa untuk keberuntungan pemuda berambut putih itu selama menjalani petualangan miliknya.

''Kau bisa mengambil belati ini besok seperti biasa. Pembayarannya besok saja.'' Naruto menaruh belati itu pada tempat barang yang akan diperbaiki hari ini. ''Kau terlihat terburu-buru sepertinya?''

''Anda tahu Uzumaki-san?''

Sembari mengangkat kedua pundaknya, Naruto berkata ''Hanya menebak saja.''

''Aku ada keperluan dengan nona Eina untuk menanyakan sesuatu.'' Bell berkata demikian. ''Sesuatu yang penting sekali.''

''Jika begitu sepertinya kau harus bergegas, Cranel-san.'' Kata Naruto. ''Guild akan segera tutup bukan karena sudah sore hari?''

Bell yang mengetahui itu kemudian terhenyak! Ah iya! Bagaimana dia bisa lupa? Dia kembali saat sudah sore dan Guild biasanya akan tutup ketika sore telah tiba. Dia harus bergegas!

''Uwahhhh...! Terima kasih sudah mengingatkan Uzumaki-san. Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih mau memperbaiki senjataku!'' Bell berkata demikian sembari dengan lekas menuju pintu keluar dan pergi dari toko Naruto sementara Naruto hanya merasa geli dengan tingkah pemuda itu yang terlalu ceria dan menganggap cerah semuanya.

Naruto memandang Bell yang keluar tadi dan kini memandang pintu masuknya. Astaga... Pemuda itu. Setidaknya mungkin dunia memang perlu orang seperti Bell.

Namun Naruto tidak tahu ketika takdir mungkin akan berkata lain. Jika pemuda itu terlihat cerah sekarang, mungkin akan tiba suatu saat pemuda itu mengalami sesuatu yang membuatnya berubah.

Apapun itu, setidaknya Naruto berdoa pada hal yang dia yakini.

Jangan buat dia harus berhadapan dan memenggal kepala pemuda berambut putih itu ketika suatu saat roda takdir harus membuat mereka menjadi sesuatu yang bertentangan karena dia pernah memgalaminya meskipun dia berharap itu tidak terjadi dalam kehidupan damainya.

Tidak ketika dia telah mulai merasa familiar dengan pemuda itu dan mungkin saja mulai menganggapnya sebagai teman.

Bau darah yang dibawa pemuda itu mulai berubah...