Monsterphilia dan Festival.

Dua kata itu saling berkaitan pada Orario dan orang-orang lebih sering mengatakan dua frasa itu secara berbarengan. Festival Monsterphilia. Sebuah festival dimana kota bersuka cita dan hari dimana Ganesha Familia menunjukkan kepada Familia lainnya dan kota Orario bahwa mereka adalah Familia penjinak monster.

Dengan monster-monster yang dibawa dari Dungeon untuk dipertontonkan pada Koloseum yang Familia ini bangun dan anggota Familia ini unjuk taji mereka dengan menjinakkan mereka, sebuah hiburan ini tentu tidak bisa begitu saja dilewatkan. Saat sebuah hiburan yang dipertunjukkan oleh satu Familia kemudian menular pada bisnis lainnya, sebuah festival-pun pada akhirnya digelar.

Kota akan dipenuhi dengan orang-orang yang bersuka cita. Mereka akan bersenang-senang pada festival ini meskipun mereka tahu bahwa sebenarnya festival ini seharusnya melanggar larangan.

Monster dari Dungeon seharusnya tidak dibawa keluar dari Dungeon— dari tempatnya. Ada alasan kenapa hal demikian terjadi dan alasan itu seharusnya dibahas oleh para dewa-dewi dalam pertemuan mereka.

Namun Ganesha— dewa itu meyakinkan bahwa festival ini aman. Familianya akan bertanggung jawab dan dewa itu berjanji dimana janji seorang dewa adalah sesuatu yang teramat sakral untuk dilontarkan begitu saja. Alhasil festival ini tetaplah digelar dan semua orang bisa bersenang-senang.

Tak terkecuali dengan Naruto juga.

Naruto sebenarnya bukanlah orang yang menyukai keramaian. Berada pada satu tempat dengan begitu banyak orang terasa membuatnya merasa sesak namun dia menyukai ketika dia mengamati orang-orang yang lalu lalang berseliweran dari balik tokonya. Berbekal dengan secangkir teh hangat dan cemilan roti kecil, Naruto menikmati bagaimana para orang-orang kota, para petualang saling berseliweran dengan raut wajah mereka yang menunjukkan kesenangan. Naruto sendiri sebenarnya juga ingin melihat bagaimana Ganesha Familia menjinakkan monster-monster yang mereka tangkap. Setidaknya itu adalah hiburan untuknya nanti dalam menghadapi masa-masa monoton dalam hari-hari yang dia lalui.

Pertunjukkan akan diadakan saat pukul 10 Luna. Setidaknya dia tidak perlu terburu-buru untuk datang ke Koloseum karena Naruto setidaknya juga ingin menikmati perjalanannya menuju ke Koloseum. Ketika jam pada dinding tokonya menunjukkan waktu pada pukul 9 Luna, barulah Naruto kemudian bergegas pergi.

Waktu satu jam sebenarnya adalah waktu yang sangat cukup untuk Naruto pergi ke Koloseum hingga setelah Naruto menutup pintu tokonya dan menguncinya, suara lain memanggil namanya.

''Tuan Uzumaki-nya! Tunggu sebentar-nya!'' Seorang gadis melangkah cepat ke arahnya. Gadis berambut coklat sebahu bertelinga kucing yang keluar dari balik bando yang dipakainya lengkap dengan aksen khas miliknya yang selalu membuat Naruto geli ketika mendengarnya menghampiri dirinya dalam pakaian pelayan khas milik Bar Hostess of Fertility.

Anya Fromel adalah gadis yang menghampiri Naruto saat ini.

Naruto memandang gadis yang ada pada hadapannya dalam pandangan bertanya. ''Nona Anya, ada yang bisa saya bantu?'' Kata Naruto dengan sopan.

Sebenarnya Naruto tidaklah sering datang ke Bar ataupun berbicara dengan pelayan-pelayan gadis disana. Dia hanya kerap menyapa mereka saja ketika lewat dimana tidak ada yang lebih daripada itu. Mereka hanya tetangga bisnis yang Naruto kenal namanya saja dan dia ingat begitu saja. Ketika ada gadis pelayan yang memanggil namanya seolah membutuhkan sesuatu, hal itu barulah pertama kali ini terjadi dan itu membuatnya penasaran.

''Nyaaaa~, Tuan Uzumaki apakah akan pergi ke Koloseum?'' Anya bertanya padanya.

''Ya, aku akan pergi kesana. Ada apa memangnya nona?''

''Uhm... Kalau begitu bisa titip dompet milik Syr yang ketinggalan-nyaa? Itu lho... Punya gadis berambut abu-abu yang agak ceroboh itu-nyaa.''

Naruto menaikkan alisnya untuk pertanyaan Anya. Sepertinya sedikit bingung namun Anya yang lekas melihatnya kemudian berkata lagi.

''Aku sudah menunggu pemuda berambut putih yang disukai Syr tapi dia tidak lewat-lewat-nyaa. Kupikir aku ingin menitipkannya padanya tadi. Berhubung tuan Uzumaki mau ke Koloseum bisa minta tolong sekalian antarkan dompet milik Syr ini?''

Naruto yang mendengar penjelasan Anya masih terdiam disana. Tentu dia tahu siapa pemuda berambut putih yang dimaksud Anya tadi yang tidak lain adalah Bell Cranel-pelanggan toko miliknya. Hanya saja meskipun begitu kenapa Anya meminta tolong kepadanya seolah dia bisa dipercaya? Dia tidak terlalu mengenal mereka semua maksudnya.

''Kau yakin?'' Naruto bertanya dalam keraguan. ''Aku bisa saja tidak mengantarkan ini kepada temanmu nona dan malah mengambil uangnya sendiri.''

''Nyaa~ Tuan Uzumaki tidak akan melakukan itu.'' Anya tertawa kecil disana. Apa yang keluar dari mulut Anya Fromel selanjutnya adalah sesuatu yang membuat Naruto tertegun sedikit mendengarnya.

''Karena aku tahu dan percaya tuan Uzumaki adalah orang yang baik.''

[—]

Naruto menikmati perjalanannya menuju ke Koloseum dalam diam. Suara ramai yang ada pada sekitarnya tidak menganggu dirinya dan Naruto justru lebih berpikir ke arah hal lain.

Dia... Dia dikatakan orang baik oleh orang yang bahkan hanya bertegur sapa saja dengannya selama ini?

Itu adalah sebuah lelucon untuknya.

Naruto bukanlah orang baik. Tidak. Selama ini dia tahu bahwa dalam hatinya dia bukanlah orang baik. Orang sepertinya yang telah mengecap apa itu perang dimana moral terkadang tergadaikan demi kepentingan kata bernama kemenangan, tidak ada istilah baik untuknya.

Dia tidaklah baik dan Naruto mengakui itu. Kedua tangannya sendiri telah banyak berlumur darah juga terkadang bayangan orang-orang yang dia bunuh muncul begitu saja dalam lintas penglihatan miliknya.

Dia sudah rusak.

Dia sudah hancur.

Jika Anya Fromel tahu apa yang sudah dilakukannya. Tahu dosa sebesar apa yang dia lakukan, Anya mungkin tidak akan mengatakan dirinya baik. Malah mungkin justru kata yang familiar dia dengarlah yang akan terucap dari gadis kucing itu dan semua gadis dari Bar Hostess Of Fertility.

Monster.

Naruto tertawa kecil penuh kehambaran dan perasaan sesak ketika kata itu terlintas lagi pada saat dia memikirkan kejadian barusan.

Naruto lelah.

Dia teramat lelah dan dia ingin beristirahat.

Namun bahkan ketika dia berpikir dia telah siap untuk mati, nyatanya dia justru terbangun disini.

Hah... Tidak ada gunanya dia berpikir demikian itu sekarang. Jika dia masih hidup maka dia diberikan kesempatan untuk hidup dan mungkin saja dia bisa menebus segala kesalahan yang pernah dia perbuat juga dia bisa berhenti bertarung.

Dia berharap demikian.

Langkah kakinya yang menyusuri jalanan telah sampai pada Koloseum. Mata Naruto melihat sekeliling, memastikan dia melihat gadis bernama Syr Flova yang mungkin saja masih berada di luar Koloseum dan masih berada pada sekitar stand penjual makanan.

Mungkin cukup lama Naruto sendiri berkeliling mencari Syr Flova hingga kemudian angin yang berhembus membuat langkah kakinya terhenti sejenak.

'Perasaan ini...' Naruto melihat ke arah lain dari pintu Koloseum. Itu adalah pintu dimana para monster Dungeon dibawa masuk untuk dibawa menuju ruang Arena atau bahkan disana adalah tempat dimana semua monster yang belum dijinakkan oleh Ganesha Familia berada.

Bau darah tipis keluar dari sana. Angin yang memberitahu Naruto mengatakan ada sesuatu yang akan segera terjadi dan itu melibatkan banyak orang yang tidak bersalah yang mungkin saja tengah menikmati festival ini tanpa tahu apa yang akan menimpa mereka kemudian.

Ketika bau darah yang keluar itu semakin menajam, Naruto kemudian mengeluarkan kutukan.

''Fucking Shit!''

lalu takdir tertawa melihatnya dan pintu yang tadi membawa aroma darah itu hancur dan monster-monster keluar dari sana lengkap dengan tatapan kekejian dan haus darah mereka akan darah manusia.

Teriakan-teriakan manusia yang terdengar setelahnya hanyalah bunyi dari tepukan Shinigami akan kematian yang datang menjemput nyawa-nyawa yang tidak mampu melawan monster.

Semua kocar-kacir tidak karuan. Festival yang harusnya dinikmati semua orang itu berubah menjadi tragedi sekarang.

Monster-monster yang belum dijinakkan, mereka merajalela menyerang para penduduk yang mereka lihat. Mereka mengamuk dengan penuh amarah seolah mereka melihat musuh alaminya.

Naruto melihat para petualang mencoba untuk bertarung melawan para monster yang keluar dari tempat yang mengurung mereka sembari memberi waktu pada penduduk untuk lari. Meskipun begitu beberapa monster berada jauh pada jangkauan level yang para petualang miliki dan itu membuat keadaan semakin sulit apalagi ketika monster-monster yang keluar tidaklah sedikit.

Para Monster kemudian saling menyebar ke berbagai tempat. Setiap kali mereka menyerang, ada saja teriakan yang terdengar. Teriakan ketakutan dan sayatan kesakitan yang menggema pada udara meracuni pendengaran.

Naruto sendiri sebenarnya tidak ingin tinggal diam. Dia dengan hal yang dia miliki menyelamatkan nyawa beberapa penduduk tanpa harus bertarung dengan monster-monster yang lepas itu.

Tapi ketika itu saja tidaklah cukup, Naruto mengepalkan tangannya.

Dia kemudian melihatnya. Gadis yang dia cari karena Anya Fromel menitipkan dompetnya yang ketinggalan untuk diberikan. Gadis bernama Syr Flova yang berlari sembari menggendong anak kecil yang tidak lain gadis itu mencoba untuk menyelamatkannya.

Jika terus begini berapa banyak lagi nyawa yang harus terluka?

Haruskah dia diam saja ketika situasinya memaksanya untuk bergerak sementara dia sendiri sudah tidak ingin bertarung?

Ketika pikiran dan hatinya kemudian saling bertentangan, sebuah dorongan astral mendorongnya pelan.

'Pergilah... Lakukan apa yang harus kau lakukan Naruto.'

Naruto terkesiap dan menoleh kebelakang. Suara yang terdengar barusan terasa sangat familiar untuknya dan dia lalu mendengus kecil.

Astaga...

Bahkan ketika dia sudah berada pada dimensi yang berbeda, kenapa dia masih harus diingatkan ketika dia ragu?

Tangan kanan Naruto kemudian mengambil sesuatu pada kantung belakangnya. Itu adalah sebuah sarung tangan hitam yang kemudian Naruto pakai karena sebuah kebiasaan. Tangan kirinya kemudian menyentuh segel penyimpanan yang ada pada pergelangan tangan kanannya dan mengeluarkan sebuah topeng putih yang menjadi ciri khasnya saat masih berada pada kesatuan Anbu.

Itu tidak lebih daripada topeng porselen putih dengan dua buah lubang untuk mata. Ada dua garis merah runcing yang menghiasi bagian topeng itu tepat pada bagian pipi hingga ke tengah.

Bagi dunia ini, mereka mungkin akan menganggap itu tidak lebih dari topeng biasa, namun pada dunia Shinobi topeng ini sangatlah terkenal.

Seseorang yang harus dihindari ketika bertemu langsung. Harus kabur ketika berhadapan meskipun kemungkinan kabur sangatlah sedikit.

Ketika kau berhadapan dengan pemilik topeng Shinigami, bisakah kau kabur dari dekapan kematian yang akan datang kepadamu ketika kau sudah ditandai olehnya?

Naruto memakai topeng tersebut dan membuka aliran Chakra miliknya. Percikan aliran petir berwarna emas kemudian muncul disekitarnya dan Naruto kemudian menghilang.

Sedangkan pada sisi lainnya, Syr Flova, gadis yang tengah menggendong anak kecil yang dia selamatkan kini tengah berlari lebih cepat. Monster ular besar yang mengincarnya kini semakin mendekat dan Syr semakin khawatir. Bukan khawatir akan dirinya sendiri melainkan dia khawatir akan anak yang dibawanya. Dia bisa mengalahkan monster yang mengejar mereka karena Syr adalah bekas petualang. Semua yang bekerja pada Bar Hostess of Fertility adalah mantan petualang yang rata-rata telah mencapai level dua. Namun saat ini dia kini sedang minim senjata jadi yang dia bisa lakukan adalah berlari. Desisan yang terdengar semakin jelas dan Syr Flova menengok kebelakang untuk melihat monster ular yang mengejarnya sudah membukan rahang miliknya.

Selesai sudah. Syr bisa saja menyelamatkan dirinya sendiri tapi itu bertentangan dengan moral yang dia pegang. Dia tidak bisa meninggalkan anak yang tidak berdaya yang tengah dia gendong sambil menangis ini.

Jika ini sudah takdirnya untuk tewas disini, maka setidaknya dia akan tewas dengan terhormat, itulah yang ada pada pikiran Syr hingga mata gadis berambut abu-abu sebahu itu terbuka lebar takkala seberkas cahaya keemasan dengan suara percikan burung melintas begitu cepat dan monster ular yang mengejarnya terhenti sejenak dengan mata terbuka sebelum meledak dan meninggalkan kristal sihir kemudian.

Itu sebenarnya adalah Naruto yang membunuh monster ular itu dan setelah membunuh satu monster yang mengejar Syr, Naruto melanjutkan menghabisi monster lainnya setelah dia mendeteksi mereka semua dengan kemampuan sensornya.

Untuk para petualang lainnya, yang mereka lihat juga tidak lebih sama dengan apa yang dilihat Syr bahkan mereka tidak sadar jika para monster yang mereka lawan terlalu cepat untuk mati. Ketika Naruto kemudian mendeteksi tinggal satu lagi monster yang tersisa berada pada sudut kota, kecepatan yang dimilikinya semakin bertambah. Naruto kemudian melihat Bell Cranel, pemuda yang dikenalnya tengah bersusah payah untuk mengalahkan satu monster.

Pemuda itu masih terlalu lemah jadi Naruto kemudian juga bergerak dengan kecepatan kilat miliknya dan memukul monster kera putih besar yang mengamuk tepat pada bagian hatinya hingga bagian tersebut meledak lalu monster tadi meledak mati dan meninggalkan pula kristal sihir sementara Naruto kemudian berhenti terdiam disana. Naruto kemudian menoleh pada Bell yang melihatnya begitu terkejut sekali dan mungkin berpikir siapakah dia.

Naruto tidak memperdulikan itu karena angin yang berhembus mengabarkannya hal lain dan dia melihat ke arah satu bangunan yang berada cukup jauh disana. Mata Naruto menajam dan dia melihat sosok berjubah berada disana.

Akar dari semua masalah yang barusan terjadi.

Naruto menatap disana dengan pandangan membunuh sebelum dia kemudian menghilangkan hal tersebut dan lebih memilih untuk kemudian pergi dari sini. Dia akan menarik perhatian lebih banyak jika dia masih berada disini dan hal itu adalah hal terakhir yang dia inginkan. Jika sosok berjubah itu nanti membuat masalah lagi untuk banyak orang lain atau terlebih untuk dirinya sendiri dikemudian maka Naruto akan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.

Bunuh dan selesai semua perkara.

[—]

Freya— dewi kecantikan dari mitologi Norse tengah berteriak kegirangan dalam hatinya. Ketika dia sudah lama mengincar pemuda bernama Bell Cranel karena Freya melihat bagaimana bersihnya jiwa pemuda itu hingga memikat memikat dirinya, Freya membiarkan dirinya sedikit bermain-main selagi mempoles jiwa milik pemuda itu yang mungkin akan menjadi begitu bersinar dikemudian hari untuk dia miliki. Memiliki penglihatan dewi yang membuatnya mampu melihat jiwa seseorang, Freya kini ingin berteriak penuh ekstasi ketika dia melihat Bell Cranel tengah berusaha sebaik yang dia miliki untuk bertarung melindungi Hestia, dewi keluarga dari mitologi Olympus.

Dia sebenarnya merasa kasihan untuk berbuat ini pada Hestia karena Hestia sendiri adalah teman yang cukup dekat dengannya tapi setelah melihat jiwa yang memikat hatinya, Freya tidak bisa untuk tinggal diam dan merencanakan sesuatu untuk merebut pemuda tersebut ketika jiwanya benar-benar telah memenuhi ekspektasi dari apa yang Freya inginkan.

Rencana awal dari Freya berjalan dengan sukses. Memikat para monster milik Ganesha yang belum dijinakkan dan membiarkan mereka mengamuk adalah bayaran kecil untuk Freya ketika dia lebih menyuruh secara spesifik pada satu monster untuk mengejar Hestia yang bersama dengan Bell. Jika kekacauan adalah hal yang tidak terlalu diperhatikan oleh Freya selain dia lebih peduli pada mulai bersinarnya jiwa dari Bell Cranel, sesuatu kemudian menghentikan kesenangan yang Freya dapatkan.

Itu begitu cepat. Terlalu cepat malah untuk mata seorang dewi seperti Freya mengikutinya dan yang Freya lihat hanyalah kilatan emas dengan percikan kecil seperti petir sebelum monster kera besar— Silverbunk nama monster tersebut, yang mana Bell Cranel tengah lawan meledak dalam kematiannya dan sosok yang membunuhnya berdiri disana terdiam.

Freya mungkin hanya bisa melihat punggung orang yang menghentikan kesenangannya, dia harusnya marah karena itu namun hal lain menghalanginya untuk marah dan dia justru tertegun ketika mata dewinya melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Jiwa berwarna merah terang yang begitu berkilau menyaingi permata Ruby terindah yang pernah Freya lihat. Itu begitu indah hingga Freya tidak mampu berkata-kata.

Bagaimana jiwa bisa memiliki keindahan seperti itu? Bahkan jika Bell Cranel nanti bersinar jiwanya, Freya mungkin meragukan jiwanya akan bersinar seperti orang yang menghentikan kesenangannya.

Keindahan itu... Pancaran kilauannya itu begitu luar biasa. Freya, dewi kecantikan tersebut telah terpikat dalam pandangan pertama.

Namun ketika dia tengah menyaksikan bagaimana keindahan jiwa yang tengah masuk kedalam penglihatannya miliknya, sebuah sensasi merinding begitu hebat membuatnya bergetar.

Rasanya seperti sesuatu terkutuk memandangmu dari belakang, hal yang bernama ketakutan, sesuatu yang tidak pernah terlintas untuk kelas para dewa atau dewi menghinggapi diri Freya. Seperti sebuah ilusi, sebuah tangan berkarat, sesuatu yang tidak pernah menjamah kulit pipinya yang begitu mulus dan menawan telah membuat Freya bersimpuh.

Apa ini?!

Apa perasaan mencekam yang dia rasakan!?

Hey? Pernahkah kau ditandai oleh dewa kematian yang mana kau tidak bisa lari darinya?

Jangan takut semua akan menyakitkan.

Jika tidak ingin kesakitan maka jadilah anak baik dan bertingkahlah yang baik pula.

Mungkin dosamu akan terampuni.

Freya tersadar ketika sosok yang telah merusak kesenangannya, yang memiliki jiwa yang telah begitu memikat hatinya tadi kini menatapnya lewat topeng putih yang berisikan wajah datar.

Freya bergetar, kedua tangannya mencoba memeluk dirinya sendiri.

Dalam ketakutan yang tidak pernah terlintas, Freya kemudian menyaksikan bagaimana sosok bertopeng yang melihatnya tersebut kemudian lenyap dalam angin, memudar dan meninggalkan satu kesan padanya.

Jangan pernah biarkan Shinigami menatapmu karena dia tidak akan berbelas kasihan untuk kedua kalinya.

[...To be Continue?...]

Daku kembali...! Ahahaha... Setelah cukup lama tidak menulis daku telah kembali dengan lembaran baru dari tulisan kecil miliknya. Maafkan daku karena tugas pada dunia yang menutut kenyataan jauh lebih berat daripada yang daku kira.

Kiranya tulisan kecil ini bisa menjadi pelepas rindu bagi pembaca yang menyukai gaya daku menulis. Tetap sabar dan biarkan daku juga memenuhi apa yang telah daku tulis. Untuk dukungan yang begitu melimpah dan kritikan yang begitu mengesankan daku ucapkan terima kasih banyak.

Salam hormat dari hamba, Riesa AfieLa. :3