Chapter 2. Rusak Susu Sebelanga
Tangan kecil Hikari terangkat, berusaha menjangkaunya, sementara matanya yang masih dihiasi setitik air mata menampakkan kebahagiaan ketika melihatnya. Sambil tersenyum, Akira mengambil alih putrinya dari tangan wanita paruh baya penjaga toko suvenir, menghapus air matanya dan mendukungnya dengan sebelah tangan.
"Terima kasih sudah mau menjaganya, Mitou-san. Maaf merepotkan" katanya, sedikit menunduk memberi hormat. Wanita yang menjadi lawan bicaranya hanya mengibas pelan.
"Ah, sama sekali tak merepotkan, kok. Hikari-chan anak baik, ya kan Hika-chan?" ia sedikit membuat wajah lucu pada anak kecil itu, membuat si batita tertawa. "Ah, pasti repot, mengurus bayi sendirian. Kalau mau, saya bisa mengenalkan Anda pada keponakan saya, Touya-sensei. Dia guru TK, sudah terbiasa mengurus anak."
"Ah, terima kasih, tapi tidak usah, Mitou-san," Akira menolak dengan halus, seraya dengan lembut melepaskan rambutnya dari mulut Hikari. Sejak menjadi ayah tunggal, ia nyaris tak punya waktu untuk mengurus rambut. Alhasil, kini rambutnya yang panjang sepunggung terlihat kusam dan kasar, dan hanya diikat asal saja di tengkuk. Seharusnya ia bisa menempuh cara yang mudah dengan memangkas pendek rambutnya. Namun entah mengapa ia merasa sayang, bagaimanapun ia sudah memelihara rambutnya sejak kecil. "Dan aku bukan lagi Touya, namaku Fujisaki."
"Touya-sensei tetap Touya-sensei," si wanita itu mengibas. Kalau sudah begini, Akira tak tahu lagi harus bicara apa, jadi ia membiarkannya saja. "Anda harus membuka hati, walau bagaimanapun, Sensei. Harus ada seseorang yang mengurus Anda. Lihat, Anda sudah jadi sedemikian kurus..."
Dari dulu juga Akira selalu kurus, lebih lagi setelah menjadi ayah tunggal. Harus ia akui, terkadang ia memikirkan suatu skenario yang memungkinkan keadaan untuk jauh lebih baik. Tapi kalau soal menikah lagi…
Akira sudah akan mengatakan sesuatu, namun kata-katanya terpaksa harus tertahan kala terdengar suara yang sangat dikenalnya dari sisi lain konter.
"Bibi, kipasku sudah rusak, nih. Apa ada kipas baru?"
Memberi tatapan memohon maaf, sang wanita penjaga toko pamit untuk menemui sang pelanggan, sementara Akira menarik napas dan memejamkan mata. Konter cenderamata itu berada di pojok ruang lobi, dengan dua etalase yang ditata membentuk sudut siku-siku. Di antara satu etalase dengan etalase lain terdapat rak berisi kartu pos yang menjulang. Jadi seandainya Akira tidak bersuara dan tidak menarik perhatian, serta menyembunyikan diri di balik rak suvenir kartu pos dan gantungan kunci, sangat mungkin orang di etalase satunya tidak akan mengenalinya.
Sayangnya, Hikari menganggap ini saat yang tepat untuk bermain dengan gantungan kunci yang menggelantung dari rak suvenir. Terlambat ketika Akira menyadari, bocah itu sudah menariknya. Rak suvenir itu jatuh dengan suara keras, membuat susunan kartu dan gantungan kunci berhamburan di lantai.
Dengan panik Akira berjongkok untuk memunguti barang-barang suvenir itu, sembari berusaha menjauhkan tangan Hikari yang hendak mengambil dan memasukkan barang-barang itu ke mulutnya. Agak bersyukur, ia tak melihat ada sesuatu yang pecah. Saking sibuknya memunguti benda-benda itu, ia lupa sama sekali pada sosok yang sedang ia hindari. Ia baru ingat ketika sebentuk tangan terjulur, membantunya memunguti kartu pos.
"Terima kasih," katanya pelan, berusaha tidak memandang mata orang itu.
"Sama-sama," balas orang itu. "Ah, lama tidak ketemu, Touya. Apa kabar?" ia kedengaran canggung, tapi mencoba bersikap sopan.
"Namaku Fujisaki," ia mengoreksi, sementara menempatkan kembali kartu pos ke tempatnya.
"Ah, ya...," terdengar suara gesrekan dari sisinya, seolah lawan bicaranya tengah menggaruk rambut dengan sesuatu. Ujung kipasnya, mungkin. "Aku tahu, tapi kudengar kau dan Akari sudah berpisah, jadi..."
"Aku masih Fujisaki," ucapnya, bertekad segera menyelesaikan obrolan sebelum berubah menjadi makin tak enak. "Maaf, aku harus segera pulang. Selamat sore, Shindou-san."
Ia memberi hormat singkat dan menarik tasnya yang berisi perlengkapan bayi dari lantai. Ia baru akan berbalik, ketika perutnya menggemuruh keras.
"Ah ya, sudah waktunya makan malam," seolah rasa malu belum cukup, Shindou merasa perlu ikut menggarisbawahi suara perutnya. Akira baru ingat ia hanya sempat sarapan sedikit, sebelum terburu-buru pergi ke pertandingan pagi itu. Seperti biasa ia tidak makan siang, dan pembahasan pertandingan hari ini berjalan lebih lama dari biasanya. "Bagaimana kalau kita pergi makan malam?"
"Ah, maaf, aku tidak bisa. Kami harus cepat pulang. Hikari harus segera disalinkan dan diberi makan dan..."
Mungkin salah, menjadikan putrinya sebagai senjata. Karena yang ada, Shindou malah seperti diingatkan pada sosok bocah usia setahun yang menggelantung di pinggangnya.
"Oooh, Hika-chan, halo...," Shindou mulai menggoda putrinya layaknya bibi-bibi paruh baya. Akira bisa mendengarnya memperkenalkan diri sebagai 'Paman Hikaru', mengajaknya bicara dengan bahasa bayi dan membuat ekspresi aneh. Sayangnya, Hikari tampak tertarik, dengan riang tertawa-tawa dan mengangkat tangannya seolah minta digendong.
"Boleh aku menggendongnya?" Shindou mengalihkan pandangannya pada Akira. Matanya yang bulat bersinar antusias.
Ditanya begitu, apa daya Akira untuk menolak? Dialihkannya Hikari dengan hati-hati pada (mantan) rivalnya itu, yang anehnya langsung menggendong Hikari dengan entengnya seolah terbiasa menghadapi anak-anak.
"Ah, benar, kelihatannya ia perlu disalinkan," ujar Shindou, ketika bokong Hikari menyentuh lengannya.
"Ah, maaf," muka Akira memerah menahan malu, dan ia berupaya mengambil kembali putrinya dari tangan Shindou. Namun orang itu justru berputar, menjauhkan Akira dari putrinya sendiri dan malah mendekapkan Hikari ke dadanya.
"Di dekat sini ada restoran yang ramah anak, kau bisa mengganti popok Hika-chan dan membuatkannya susu."
"Maaf, kami..."
"Sekalian nanti kita bisa mengobrol. Anggap saja makan-makan merayakan ulang tahunmu, ya kan?"
Mata Akira mengerjap. Ah, ulang tahun!
"Jangan bilang kau lupa..."
Akira menunduk. Ah, benar, lusa 14 Desember, hari ulang tahunnya yang ke-21. Bagaimana mungkin ia bisa lupa? Belakangan banyak sekali kejadian, ia bahkan tidak sadar bahwa ia masih berusia 21.
"Pokoknya, ayo kita makan! Tenang, aku yang traktir!" dengan sok akrab, Shindou menarik tas bayi dari pundak Akira dan berjalan duluan dengan membawa Hikari. Kalau sudah begitu, apa daya Akira untuk menolaknya? Setengah berlari, ia mengejar Shindou, yang dengan langkah lebar dan cepat menembus lobi Ki-In.
Restoran ramah anak yang dikatakannya adalah sebuah restoran keluarga yang menjual makanan Barat. Setelah mengganti popok dan meminta pelayan menghangatkan ASIP, Akira menempatkan Hikari di kursi tinggi untuk bayi, sementara menunggu pesanan makanan. Di seberangnya, Shindou sibuk membuat wajah-wajah aneh untuk menghibur bocah itu.
"Berapa usianya?" tanya Shindou akhirnya, setelah botol ASIP untuk Hikari datang dan Akira menyibukkan diri memberi susu untuk putrinya.
"8 Januari nanti genap dua tahun," jawab Akira.
"Tidak terasa, ya?"
Akira tidak bisa bilang 'tidak terasa', karena jujur saja, dua tahun ini sungguh melelahkan. Ia tak pernah mengira ada sesuatu yang bisa lebih memakan energi dan pikirannya ketimbang go. Ia bahkan tidak pernah tahu ada sesuatu yang bisa ia letakkan di atas go dalam skala prioritasnya, tapi inilah kenyataan yang harus ia hadapi sekarang.
"Lalu, kau dekat dengan siapa sekarang?" cengir Shindou.
"Tidak dengan siapa-siapa."
"Haaahhh? Serius?" suara Shindou yang mendadak meninggi membuat Hikari kaget dan menangis, sayangnya sembari menyedot susunya. Alhasil ia tersedak dan menangis, sehingga Akira terpaksa mengangkatnya dari kursi dan menepuk-nepuk punggungnya.
Shindou hanya bisa menunjukkan cengirannya yang penuh permohonan maaf, sementara Akira meliriknya dengan kesal.
"Serius, kau tidak dekat dengan siapa-siapa?"
"Tidak," setelah sekitar sepuluh menit, mau juga Hikari diam. Kali ini ia malah kelihatan mengantuk. Akira merogoh tas bayinya, mengeluarkan selembar selimut dan bantal kecil, menggelarnya di meja sebelah mereka yang kosong, kemudian meletakkan Hikari di situ.
"Eh, apa kau ... um, belum move on? Soalnya kudengar Akari sedang dekat dengan seorang sutradara..."
Ah, apakah itu berarti Shindou masih (atau kembali) menjalin kontak dengan Akari? Baguslah, kalau begitu. Dulu ia sempat merasa bersalah karena merusak hubungan baik dua sahabat itu. Sayangnya, Akira sudah cukup lama nyaris kehilangan kontak dengan mantan istrinya itu, sehingga ia tak pernah mendengar kabar itu.
"Bukan begitu. Aku hanya tidak bisa berpikir tentang masalah cinta sekarang ini," Akira memperbaiki letak bantal kecil dengan hati-hati untuk menyangga kepala Hikari. "Hikari masih butuh perhatianku."
"Tapi kalau kau punya istri, kan ia bisa memperhatikan Hika-chan. Mungkin kalau begitu, kau bisa lebih berkonsentrasi pada go?" ia menambahkan yang terakhir dengan nada setengah berharap.
"Masalahnya kan tidak semudah itu. Butuh proses untuk saling mengenal, belum tentu juga dia bisa menerima keadaanku."
"Tapi sebentar lagi Penyisihan Gosei kan? Setelah itu langsung lanjut Penyisihan Honinbou, Meijin, lantas Kisei... Apa kau tidak ingin merebut kembali gelarmu?"
"Aku juga sedang tidak bisa fokus pada go sekarang, setidaknya hingga aku bisa meninggalkan Hikari."
"Kalau begitu sih, kau takkan bisa meninggalkannya. Anak itu tidak bisa kautinggalkan hingga ia dewasa, tahu. Lalu sampai kapan kau mau mengesampingkan go?" Kalimat terakhir terdengar menuntut.
Ia tak menyalahkan Shindou. Rivalitas di antara mereka adalah hal yang ia junjung tinggi, dulu sebelum semua kekusutan ini terjadi. Sangat wajar jika Shindou marah padanya bukan hanya karena urusan Akari, tetapi juga karena performanya yang sangat kacau belakangan. Terutama pada perebutan gelar Meijin tahun lalu, ketika ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi karena harus meninggalkan Hikari yang tengah demam. Ia hanya berhasil memenangkan satu dari empat pertandingan; sekali ia harus meninggalkan pertandingan di tengah-tengah karena mendapat kabar Hikari dibawa ke rumah sakit, sekali ia tidak datang berhubung harus menunggui Hikari di ICU, dan sekali lagi ia kalah dengan selisih tak kurang 5,5 moku. Bahkan bagi Shindou, lawannya saat itu, itu adalah kemenangan yang getir. Tak heran jika ia tidak merasa puas.
Belum lagi setelah itu pun, mereka belum memiliki kesempatan untuk bertanding dengan layak. Dengan statusnya sebagai pemegang empat gelar, Shindou berada di strata yang sama sekali berbeda dengannya, yang tahun ini harus kembali ke Babak Penyisihan Ketiga di nyaris semua turnamen, setelah dengan mengenaskan tersingkir dari Liga. Bahkan ia berada pada urutan terbawah pada Liga Meijin dan Ouza tahun ini, yang berarti kansnya untuk otomatis masuk liga tanpa melalui penyisihan tahun depan hilang sama sekali. Di Turnamen Kisei, ia bahkan harus merangkak kembali dari Babak Penyisihan Kedua. Hari ini ia bertanding untuk mendapatkan tempat di Babak Penyisihan Ketiga Turnamen Jyudan, dan ia kalah telak dari Isumi, jadi sudah dapat dipastikan bahwa ia takkan berpartisipasi dalam Liga Jyudan.
Sama sekali tidak aneh jika Shindou Meijin-Honinbou-Tengen-Gosei tidak lagi menganggapnya layak menjadi seorang rival. Bukan cuma masalah kemampuan, ia juga sadar mentalitasnya jatuh bebas dengan semua kekalahan dan masalah belakangan. Jujur saja, saat ini ia masih bermain hanya demi membiayai hidupnya dan Hikari. Sungguh jauh berbeda dengan idealismenya dulu. Ironis.
"Maafkan aku, Shindou-san. Saat ini, aku memang tidak bisa fokus pada hal selain Hikari."
"Iya, aku mengerti. Tapi kalau kau ada waktu, aku mengadakan study group setiap Sabtu sore di apartemenku. Ada Waya, Isumi, Fuku, Kurata, Saeki... kadang-kadang Ashiwara juga datang," ia terlihat agak merasa tak enak mengatakan yang terakhir. Ashiwara, bagaimanapun, dulu adalah termasuk kelompok Touya. "Oh, ada Nase dan Fuku juga. Mereka suka anak-anak, jadi kau bisa menyerahkan Hika-chan pada mereka kalau kau datang."
"Ah, terima kasih. Aku merasa tidak enak jika harus mengganggu waktu belajar kalian."
"Tidak apa. Kami pasti bisa belajar banyak darimu."
"Tapi aku bukan lagi..."
"Kami pasti bisa belajar banyak darimu!" tegas Shindou, mengulang pernyataannya sebelumnya. Ada determinasi di nada suaranya yang sesaat membuat Akira terpana. Ketika ia melirik, dilihatnya Shindou tengah mengurut kepalanya. "Ah, maaf, lupakan. Jika kau memang sibuk..."
Akira tidak tahu apa yang merusak pertimbangan akal sehatnya, ketika alih-alih menolak, ia justru menjawab, "Baik, nanti aku akan ke sana jika bisa."
"Benarkah?" Shindou kelihatan benar-benar girang.
"Jika bisa," ia kembali menekankan, tidak ingin memberi harapan terlalu banyak. Tetapi percuma, kelihatannya Shindou sudah demikian senang hingga tak mau mendengar.
.
.
Notes:
Karena chapter ini kepanjangan jadi dibagi dua. Mohon maaf untuk yag sudah baca ya...
Btw, aku ngerevisi setting waktu untuk cerita ini. Sebelumnya, umur Akira 20 tahun di cerita ini. Sekarang 21. Jadi umur Hikari (anaknya Akira) jadi 2 tahun ya...
Omong-omong, agenda pelaksanaan 7 Turnamen di cerita ini ngikutin yang ada di Sensei's Library #ScheduleForTheSevenJapaneseBigTitles#
Kalo ada yang nanya kok beda sama di Kelopak Wisteria Gugur, ya itu karena di KWG aku belum tau hahaha... Apa aku harus ubah yg di sana ya?
Jadwal Turnamen
Kisei League – Juni-Oktober (round robin 2 grup 6 orang); penentuan penantang (pemenang Grup A vs Grup B) November
Kisei Title Match – Januari-Maret (best 4 of 7)
Jyudan League – Mei-Februari (single knockout 16, putaran 1 menentukan Grup Pemenang dan Grup Kalah, pemenang tiap grup bertanding untuk kursi penantang) ... btw kenapa liga ini doang yang panjang banget waktunya kenapaaaaaaa?
Jyudan – Maret/April, best 3 of 5
Gosei League – November-Mei (single knockout 32)
Hokuto Cup – 3-5 Mei
Wakajishisen – 13 Mei
Gosei Title Match– Juli-Agustus (best 3 of 5)
Honinbou League – Juli (round robin 8)
Honinbou Title Match – Agustus (best 4 of 7)
Meijin League – Desember-Agustus (round robin 9)
Meijin Title Match – September-November (best 3 of 5)
Ouza League – Maret-Agustus (single knockout 16)
Ouza Title Match – Oktober-Desember (best 3 of 5)
Tengen League – Januari-Oktober (single knockout 32)
Tengen Title Match– November-Desember (best 3 of 5)
Setting
Setting episode ini (chapter 2) hari Jumat, tanggal 12 Desember 2008, dua hari sebelum ultah Akira ke-21. Di chapter 1, disebutin Akira mendapatkan gelar Ouza pada ultah yang ke-18 (2005). Tahun 2006, ia kehilangan gelar (oleh Kurata), tapi karena dia mantan pemegang gelar, dua tahun berikutnya dia masih di Liga Ouza. Pas cerita ini berlangsung, Akira baru nyelesein Liga Ouza dengan peringkat paling bawah dan lagi ngejalanin Penyisihan Ketiga Jyudan (dan langsung kalah)
Tahun 2007, Akira main di Liga Meijin (Juli/Agustus) dan Ouza (Oktober/November), tapi karena kalah terus, tahun depan dia harus mulai dari Penyisihan Ketiga.
