Chapter 3. Burung yang Terbang Tinggi

Mungkin ini bukan ide baik, pikir Akira Sabtu minggu berikutnya, ketika ia mendapati dirinya (dan Hikari) berdiri di depan pintu apartemen mewah Shindou. Ia sudah akan berbalik badan dan pulang, berpura-pura tidak pernah menginjakkan kaki di situ, ketika pintu elevator di seberang kamar Shindou terbuka dan keluarlah orang yang paling tak ingin ditemuinya seumur ia berada di Ki-In.

"Lho, Touya?" suara Waya merupakan campuran keterkejutan dan kebingungan.

"Uhm, selamat sore, Waya-san," ia memberi salam. Waya meliriknya dari ujung kepala hingga ujung kaki, jelas sekali ada ketidaksukaan di matanya. Akira berusaha tidak gemetar, atau lebih baik: kabur dari tatapan itu.

"Sedang apa kau di sini?"

"Ah, Shindou-san mengundangku, jadi..."

Ia tak meneruskan menjawab, sekali lagi menyesalkan kehadirannya di tempat itu. Kini setelah ia memikirkan ulang alasan Shindou mengundangnya, makin ia merasa bukan tempatnya untuk ada di sini. Waya kelihatan berdecak, tapi tak memperpanjang urusan dan menekan bel.

Terdengar suara ribut dari dalam, kemudian pintu terbuka.

"Waya!" suara cerah Shindou menyambutnya. "Ah, Tou ... eh, Fujisaki, kau datang juga! Eh, ada Hika-chan!" ia membuat wajah-wajah aneh lagi, sehingga Hikari tergelak dan menjulurkan tangannya seakan minta digendong. Setengah menahan desahannya, terlebih ketika Shindou dengan cerianya meminta Hikari, Akira pun menyerahkan putrinya pada mantan rivalnya. Membetulkan posisi Hikari di gendongannya, pemuda itu pun mempersilakannya masuk.

"Maaf mengganggu," ujar Akira, membuka sepatunya dan meletakkannya di rak, kemudian mengikuti Shindou memasuki ruangan dalam.

Ini pertama kalinya Akira datang ke apartemen Shindou yang ini. Dulu, sewaktu mereka masih akrab, memang Shindou sudah keluar dari rumahnya dan tinggal di sebuah apartemen kecil. Katanya lebih enak begitu, berhubung ibunya selalu mengomplain saat ia membawa masuk gadis-gadis ke rumah. Tapi apartemennya dulu hanyalah ruangan studio dengan dapur mini, bukan apartemen suite dengan ruang tengah luas seperti ini.

Berhubung dalam suasana Natal, apartemen Shindou lekat dengan nuansa merah-hijau. Sebatang pohon Natal penuh hiasan tegak berdiri di pojok ruang keluarga, serasi dengan cushion merah-hijau yang menghiasi sofa. Sama sekali tidak ada kado satu pun di bawahnya, tapi itu tak mengurangi ambience yang terbangun. Akira bahkan melihat beberapa pasang kaus kaki warna-warni tergantung di foyer, bersanding dengan pajangan lilin-lilin merah dan deretan pigura foto.

Memperhatikan lebih detail isi pigura itu, Akira bisa melihat perulangan penampakan seorang pemuda usia 20-an berwajah blasteran di sisi Shindou. Keduanya tampak ceria menatap kamera. Segaris perasaan aneh terbersit dadanya tatkala tanpa diminta, otaknya menarik kesimpulan mengenai siapa pemuda itu. Akira lekas menggeleng, mengenyahkan pikiran sekaligus perasaan aneh itu, dan menyusul Shindou untuk memasuki ruang go.

Shindou sudah masuk duluan dengan membawa Hikari, meninggalkan Akira di belakang. Tak usah disebutkan, dari dalam ruang go langsung terdengar kehebohan begitu para anggota study group mendapati Shindou masuk dengan membawa bayi di gendongannya.

"Aaaaa, lucunyaaaaa...," ia mendengar suara seorang perempuan. Ini pasti Nase Dan-5 yang disebut Shindou sebelumnya, pemain pro yang belum-belum sudah menghebohkan karena berhasil menjuarai Turnamen Meijin Wanita. Orang yang pernah diisukan menjadi pacar Shindou, batinnya menambahkan.

"Wah, kau menculik bayi, Shindou?" terdengar suara Kurata.

"Bukan, itu pasti anaknya entah dari cewek mana. Hah, benar kan kataku? Akhirnya kau menyusul Touya juga!" suara seseorang yang lebih dewasa—Saeki, kalau tak salah, Ashiwara pernah memperkenalkannya—menimpali, yang langsung membuat Akira berhenti di tempat.

Ia tahu reputasinya tidak terlalu baik semenjak kasusnya dengan Akari tersebar ke muka publik. Namanya dijadikan contoh kasus 'pergaulan remaja yang kelewat batas', 'pemuda berprestasi yang kesandung masalah kenakalan remaja', 'keacuhan akan pentingnya masalah safe sex berbuah kehancuran diri', atau 'bahkan nerd pun bisa tergelincir'. Beberapa orang memandang positif keputusannya untuk bertanggung jawab dan menikahi Akari, namun dengan retaknya pernikahan mereka dalam waktu tak sampai setahun, ia pun menjadi representasi buruk efek pernikahan dini dan kehamilan di luar nikah. Ia juga sepenuhnya awas bahwa namanya menjadi sinonim '(si bodoh yang) menghamili anak gadis orang bahkan walau tidak punya hubungan apa-apa dengannya', baik dalam bentuk kata kerja maupun kata benda, seperti dalam ungkapan seperti 'Awas nanti kau jadi seperti Touya Akira' atau bahkan candaan 'Apa kau men-Touya-kan cewek itu?'. Tapi mendengarnya langsung, apalagi dari lidah orang yang ia kenal, sungguh merupakan tusukan tajam.

"Bukan!" terdengar bantahan dari dalam, bukan dari Shindou, melainkan Waya. "Bocah itu memang anak Touya."

"Eh, kok bisa ada padamu?

"Ah, iya... Aku mau memperkenalkan... Lho, mana dia?"

Kepala Shindou menyembul di ambang pintu, disusul tangannya yang memberi kode agar Akira mendekat. Menarik napas panjang, Akira pun memberanikan diri memasuki ruangan go. Sudah tak ada jalan kembali. Ia akan menghadapi apapun neraka yang ada di hadapannya, kemudian pergi dan kembali pada hidupnya dengan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Bukankah ia sudah berlatih melakukan itu selama satu setengah tahun terakhir?

"Nah, mulai hari ini, Tou ... eh, Fujisaki akan ikut study group kita," Shindou memperkenalkannya di depan seluruh anggota study group, tak lupa menepuk punggung Akira sok-akrab. Tapi bukan karena tepukan di punggungnya yang membuat Akira meringis, melainkan kata 'mulai hari ini'. Bagaimana cara mengatakan pada Shindou bahwa ini mungkin yang pertama dan terakhir?

Masih untung ia ingat bahwa namanya adalah Fujisaki, bukan lagi Touya.

Tak ada gunanya mengatakan itu sekarang, simpul Akira sebuat menunduk hormat, "Se-selamat sore. Mohon bantuannya."

"Tuh, sudah kubilang itu anak Touya," Waya menandaskan. Akira tak bisa tidak meraba nada kesal dalam suaranya, yang tak aneh, sebetulnya. Siapapun tahu dari dulu Waya tidak suka padanya.

"Namaku Fujisaki," ia tak bisa tidak mengoreksi. Yang seharusnya tidak perlu, kalau Waya mau mengingat bahwa sudah setahun setengah ia memakai nama tersebut di pertandingan resmi.

Waya hanya mengibas seraya menggerutu, seolah fakta itu tidak penting baginya. Dan bagi siapapun, sebenarnya. Di mana-mana, semua orang masih suka memanggilnya Touya, seakan mengingatkannya bahwa bagaimanapun, ia takkan bisa menghapus hitamnya arang yang ia torehkan di muka keluarganya. Pada ayahnya, tepatnya.

"Ah, putrimu benar-benar lucu, Fujisaki-san," melihat canggungnya situasi, Nase kelihatan mencoba membuat keadaan lebih ringan. "Siapa namanya?"

"Fujisaki Hikari," jawabnya.

Mungkin ini pertama kalinya ia menyebut nama putrinya di hadapan pro lain, selain Shindou tentu. Ia memang kerap membawa Hikari ke Ki-In, jika tidak bisa menemukan babysitter atau sedang tak punya uang untuk menitipkannya di tempat penitipan bayi. Tapi, biasanya ia menitipkannya pada wanita penjaga konter suvenir sebuat ia bertanding. Akira mempertahankan pola yang sama belakangan ini dalam kehidupan profesionalnya: datang ke Ki-In mepet waktu, menitipkan Hikari, bertanding, menghabiskan jam makan siang mengurus Hikari, melanjutkan pertandingan, berdiskusi secepat mungkin, mengambil Hikari, dan pulang. Mana ada waktu baginya untuk bersosialisasi dengan pro lain?

Tapi tak urung, ia merasakan aura ruangan sedikit berubah ketika ia menyebut nama putrinya. Tentu, ia sadar benar apa yang bisa terimplikasikan dari nama itu. Bukannya ia tak pernah sadar adanya gosip murahan yang menyebutkan bahwa sesungguhnya putrinya adalah anak Shindou, berhubung Akari adalah satu-satunya mantan Shindou yang masih menjalin hubungan dekat dengannya bahkan setelah Shindou mendapat predikat playboy omnivora. Beberapa mata terlihat saling pandang dengan gugup. Waya bahkan terang-terangan berdecih.

"Ah, Hika-chan," Nase tersenyum, atau hanya berusaha sopan, entahlah. "Dia cantik sekali, matanya mirip denganmu, Fujisaki-san... Umh, dan rambutnya juga..."

Kalau dia berusaha bilang 'Jangan khawatir, aku tidak peduli pada rumor yang bilang anak ini adalah anak Shindou', dia melakukan tugasnya dengan buruk, pikir Akira. Tapi saat ini, ia hanya bisa mengucapkan terima kasih.

Diam-diam Akira mengedarkan pandang ke seantero ruangan. Ruang go ditata dengan gaya tak kalah modern ketimbang seluruh ruangan apartemen itu, jika tak bisa dibilang terlalu minimalis untuk sebuah ruang belajar. Alih-alih tatami, di lantai terhampar karpet tebal dalam warna abu-abu, serasi dengan warna dinding yang polos tanpa hiasan, hanya ada beberapa hambalan rak yang nyaris kosong. Beberapa goban tampak tertata rapi di atas karpet.

"Ah ya, apa rencana kalian untuk Natal?" Nase kelihatan berusaha beramah-tamah, yang terang saja membuat Akira kikuk.

"Um, kami tidak ... um..."

Ini bukan masalah Akira bukan penganut Kristiani, tentu. Natal adalah momen perayaan untuk semua orang, terlepas dari apa latar belakang kepercayaan yang mereka anut. Masalahnya, ia memang tidak merasa perlu merayakan, karena siapa yang hendak ia ajak untuk berbagi kebersamaan? Hikari jelas terlalu kecil untuk mengerti arti perayaan, dan ketimbang menghabiskan uang untuk itu, bukankah lebih baik ia mengalokasikannya untuk terapi Hikari?

Nase kelihatannya tahu ke mana arah pikirannya, karena ia bisa melihat belas kasihan di senyumnya, kala berkata, "Kalau kau mau, ke sini saja," undangnya yang disambut anggukan penuh semangat Shindou. "Kami mengadakan pesta tanggal 24."

"Um, terima kasih atas undangannya. Sayangnya kami tidak..."

"Ah, jangan banyak alasan!" decak Shindou. "Pokoknya nanti kau harus datang, ya! Nanti kukenalkan sama temanku, deh. Pasti kau bakal suka! Dia cuantiiiiikkk, tipemu betulan, deh. Dulunya mantan anggota idol group," ia mulai berpromosi.

Dari mana juga Shindou tahu apa tipenya? Tapi Akira sedang malas berpanjang-panjang, jadi seperti biasa ia mengatakan, "Terima kasih, nanti aku pertimbangkan."

Shindou memamerkan cengirannya, lantas menoleh pada Hikari. "Nah, Hika-chan, Paman punya sesuatu untuk Hika-chan..."

Sebelum Akira sempat protes, Shindou tiba-tiba pergi bersama Hikari. Ia kembali tak lama kemudian, sebuah boneka plushie (yang kelihatannya tokoh sebuah film anak-anak, entahlah, rasanya cukup familiar tapi Akira tidak tahu apa) terlihat di pelukan Hikari.

"Ayahmu yang pelit itu pasti tidak memberimu hadiah Natal kan, Hika-chan," ia memberi Akra tatapan menuduh, "tapi Paman Hikaru baik kan, ya? Nah, bilang apa sama Paman?"

Hikari menjawab dengan serangkaian seruan tidak jelas, yang membuat Shindou bingung dan berpaling pada Akira.

"Lho, dia belum bisa bicara?"

"Belum," jawab Akira pendek. Shindou agak mengerung, tapi ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Hikari, berusaha membuat anak itu mengucapkan namanya.

Alih-alih mengikuti contoh Shindou, diberi plushie begitu, Hikari malah terkantuk-kantuk seraya memeluk bonekanya. Melihatnya, Akira mengulurkan tangan hendak mengambil alih putrinya dari tangan Shindou. Namun alih-alih menyerahkan putrinya padanya, Shindou justru makin mendekapnya erat.

"Kau duduk saja di sini. Aku akan menidurkan Hika-chan di kamar, ya..."

"Ah, Shindou-san, biar aku menggelar alas di pojok ruang ini saja, supaya aku bisa mengawasinya."

"Kalau begitu kau mana bisa konsentrasi!"

"Tapi..."

"Tenang, aku pernah menjadi babysitter anak temanku, aku tahu bagaimana cara menidurkan bayi. Oh, kalau kau khawatir, di situ juga ada baby monitor," ia menunjuk satu benda di rak dinding. Ia tak menunggu jawaban Akira, langsung saja melambai dan membawa pergi Hikari. Akira hendak menyusulnya, tapi Nase menghentikannya.

"Fujisaki-san, kalau kau khawatir, biar aku saja yang mengecek, ya?"

Senyum Nase, bagaimanapun, tak bisa menutup kekhawatirannya. Shindou selalu menggunakan tempat tidur bergaya Barat, setidaknya dulu waktu ia masih tinggal di rumah dan apartemen studionya. Hikari sudah bisa berjalan, bagaimana jika ia bangun lantas berusaha turun dari tempat tidur dan jatuh? Tapi berhubung Nase bilang ia akan memastikan segalanya baik-baik saja, tidak sopan jika ia bersikeras, kan?

Lagipula, jika melihat familiaritas Nase dengan Shindou, mungkin saja mereka berpacaran, kan? Meski ya, itu menimbulkan pertanyaan mengenai sosok pemuda di foto-foto yang terpajang di atas foyer, patut diakui Shindou adalah seorang Don Juan, sehingga sama sekali tak aneh jika ia juga punya affair di sana sini. Ah, kenapa juga ia jadi mengurusi siapa yang jadi pasangan Shindou?

Intinya, ia sama sekali tak punya hak untuk masuk ke kamar Shindou, bahkan walau dengan alasan khawatir pada putrinya. Jika Nase adalah pacar Shindou, jelas ia lebih berhak. Jika ia masih sangsi Shindou bisa menangani putrinya, bukankah Nase terlihat lebih dapat dipercaya?

Jadi dengan menahan kegundahannya, ia pun duduk dengan menjaga jarak yang cukup dari goban. Dengan tidak adanya Shindou, Waya yang memimpin diskusi dengan mengeluarkan soal tsumego yang katanya baru-baru ini muncul di buku karangan seorang pro kelas atas dari Korea. Sejujurnya, Akira tidak menganggap soal itu sulit, tapi karena Waya tidak bertanya, ia juga bersikap sopan dengan diam.

Selagi Waya sibuk melontarkan beberapa variasi jawaban—yang terlalu sederhana, menurut Akira—dua anggota lain study group muncul: Isumi dan Ashiwara. Akira berusaha membuat dirinya tampak kecil dan tak terlihat, tapi percuma, karena Ashiwara langsung berseru girang melihatnya.

"Astaga, Akira! Aku tidak pernah melihatmu lagi sejak ... uhm, kapan ya? Ah, tidak penting, pokoknya aku kangen sekali, tahu! Eh iya, bagaimana Hikari-chan? Pasti sudah bisa jalan, dong? Oh iya, katanya orangtuamu mau pulang tahun baru ini. Bagaimana kalau kau pulang? Ibumu pasti akan senang melihat cucunya sematawayangnya..."

Aura di ruangan berubah begitu Ashiwara menyebut mengenai orang tua Akira. Siapapun di kelompok kecil mereka—bahkan seluruh Ki-In, tidak, bahkan seisi dunia go—tahu masalahnya dengan sang ayah. Masih jelas di ingatan Akira, tamparan dan kata-kata kasar yang ia terima ketika ayahnya mengusirnya dari rumah, tatkala ia mengatakan tentang kehamilan Akari dan rencana untuk menikahinya. Akira sendiri sudah berusaha berbaikan, dengan memberi tahu ibunya dan mengundang mereka pada hari pernikahannya serta pada hari kelahiran Hikari, terlepas dari kesediaan mereka untuk datang. Ia juga sempat berkunjung dengan membawa keluarga kecilnya sekitar dua bulan setelah Hikari lahir, kebetulan saat itu orang tuanya pulang sehubungan dengan final salah satu turnamen internasional yang ayahnya ikuti di Jepang. Sayangnya, itu pun tak berjalan baik. Sang ayah menutup gerbang di depan hidungnya, serta menyatakan bahwa ia takkan pernah menerima anak haram itu dalam keluarganya.

Kemarahan dan hinaan yang ditujukan padanya, sekasar apapun, bisa ia terima. Tapi tidak demikian halnya dengan hinaan terhadap Hikari, yang sama sekali tak bersalah. Hari itu juga Akira bersumpah takkan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah tempatnya dibesarkan selama 18 tahun itu, dan takkan pernah membiarkan Hikari menyandang nama Touya apapun yang terjadi.

Tapi rupanya Ashiwara sama sekali tak tahu, atau ia memang begitu tak sensitif untuk bisa menangkap roman wajah Akira yang berubah. Ia bahkan tidak menanggapi ketika jelas-jelas Isumi menyodoknya, malah terus mencerocos mengenai entah apa—Akira sudah berhenti mendengarkan sekitar lima menit lalu. Ia baru berhenti ketika tiba-tiba terdengar seruan dari ambang pintu, terlalu keras hingga Akira pun terlonjak.

"Ah, ada Ashiwara!" semua mata terarah pada Shindou. "Astaga, ke mana saja kau? Kami menunggu, tahu!"

"Hahaha, maaf, Shindou," senyum Ashiwara sok-inosens seperti biasa. "Aku tadi harus bimbingan penulisan disertasi pada profesorku, kebetulan dia tidak bisa pada hari kerja biasa."

"Huh, dasar gila belajar," Shindou menggerutu. Ashiwara adalah mahasiswa doktoral tahun kedua jurusan Matematika di Todai, bisa dibilang satu dari segelintir pemain pro yang masih konsisten mencari pencapaian akademis di luar go. Akira dulu termasuk salah satu di antaranya, dan ia berharap masih bisa, jika saja takdir menghendaki. "Ah, Fujisaki," Shindou memanggilnya, ketara sekali menekankan pada nama 'Fujisaki', "di mana kau menyimpan popok, ya? Nase bilang sepertinya Hika-chan perlu salin."

"Oh, ada Hika-chan?" dengan sumringah Ashiwara mencoba bangkit, tapi Shindou langsung menghentikannya.

"Ashiwara di sini saja, kami tidak lama, kok. Nah, Fujisaki?" ia memberi kode agar Akira lekas bangkit. Dengan gugup Akira membalas, dan mengikuti Shindou keluar ruang go.

"Uhm, maaf Shindou-san, aku sebenarnya sudah mengganti popok Hikari tadi sebelum kemari. Aku tidak menyangka ..."

Shindou berbalik begitu mendadak hingga Akira kaget, kedua tangannya menggenggam lengan atasnya dan matanya terpusat pada mata Akira. Pandangannya begitu intens hingga Akira merasa entah apa dalam dirinya bergetar.

"Uhm, Shindou-san?"

"Kau tidak apa-apa, kan?"

"Eh?"

Shindou melepaskan tangannya, mendesah dan menggaruk kepalanya. "Ck, Ashiwara memang bodoh dan sama sekali tak sensitif, aku sama sekali tidak habis pikir bagaimana bisa dia jadi calon doktor," gerutunya. "Kalau kau mau, nanti aku bisa bicara padanya supaya dia tidak mengungkit-ngungkit ... uhm, atau mungkin lebih baik jika aku mengatur agar ia tidak usah datang lagi? Bagaimana menurutmu?"

Akira mengerjap. "Ah, ti-tidak usah, Shindou-san," ia menggeleng cepat. "Ashiwara-san sama sekali tidak bermaksud buruk, dan ia juga sudah lebih lama ikut study group ini, jadi..."

"Kalau begitu aku akan bicara pada Saeki, biar dia yang bicara pada Ashiwara. Tenang saja, Fujisaki, aku akan pastikan kau takkan pernah dengar satu pun kata soal ... uhm, orang-orang itu, oke? Nah, ayo kita kembali ke ruang go?"

"Eh, tapi Hikari..."

"Tenang, Nase bisa mengurusnya, kok. Ayo!"

Tanpa mendengar jawaban Akira, Shindou menggamit tangannya dan menariknya ke ruang go. Kalau sudah begini, Akira jadi ingat zaman dulu, ketika mereka masih kecil dan ia menggerek Shindou ke sana kemari tanpa berpikir. Ketika mereka remaja dan hubungan mereka masih baik, ganti Shindou yang acap menggereknya ke salon-salon go yang tak pernah terpikirkan Akira. Tentu saja, semua petualangan mereka berakhir ketika Shindou mendapat mainan baru dalam bentuk gadis-gadis (dan pemuda) yang kagum pada keterampilan lainnya di luar go. Tak urung kadang Akira berpikir, saat itu, jika saja ia lebih tampan, atau mungkin lebih gaul, atau lebih tidak membosankan, mungkin Shindou juga akan menyertakan dirinya dalam petualangan itu. Mungkin kalau begitu, semua hal buruk itu takkan terjadi.

Tapi tak ada gunanya menyesali semua itu, kan? Justru dari semua itu, ia bisa menemukan satu hal yang lebih berharga dari go. Siapa tahu, mungkin Shindou juga merindukan hubungan mereka dulu, jika bukan sebagai sahabat, mungkin sebagai rival. Cuma itu kan alasannya ia berusaha untuk mengikutsertakan Akira dalam study group ini? Ia bahkan kelihatan tulus menerima dan menyukai Hikari...

.