Chapter 4. Akan Jatuh Terhempas ke Bumi

Sayangnya, semua angan Akira yang sudah melambung itu pecah ketika mereka kembali ke ruang go, dan hal pertama yang Shindou rasa pantas untuk menginisiasi masuknya ia ke study group-nya adalah mempermalukannya. Tak lain, dengan membahas pertandingannya minggu lalu dengan Isumi.

"Aku tak tahu apa yang ada di pikiranmu, Fujisaki. Langkah ini bodoh sekali!" kritik Shindou pedas, untuk entah yang keberapa kalinya, di depan seluruh anggota study group. Untung saja Akira masih tahu diri untuk menunduk dan menelan semua ejekan itu. "Kau bunuh diri dengan menyerang di area atas ini sementara membiarkan area kanan bawahmu terbuka. Kalau aku jadi Isumi, aku akan membantaimu dengan memotong di sini," ia menunjuk satu titik di goban. "Kau bahkan tak akan punya kesempatan lagi untuk membuat langkah 105 yang jauh lebih tolol."

"Uhm, aku mengerti jalan pikiran Fujisaki, sebenarnya," Isumi tampak berusaha menengahi perdebatan sepihak yang mulai memanas, karena sungguh Akira tidak ingin ambil bagian untuk melawan per-bully-an terhadap dirinya sendiri, yang sudah jelas hanya akan membuat Shindou tambah ganas menyerangnya. "Dengan menyerang sisi itu, sebenarnya ia berencana merusak formasi yang sedang berusaha kubangun di sini."

"Ya, itu kalau ia bisa menjebakmu di sini. Nyatanya tidak, kan? Sudah kubilang dari dulu kelemahanmu adalah jebakanmu selalu mudah diprediksi, Fujisaki, kau itu kapan sadarnya sih? Nah, langkah setelah itu malah lebih konyol lagi," ia meletakkan langkah Akira selanjutnya dengan keras sekali sampai biji-biji di sekitarnya bergetar, "Kesalahan bodoh seperti ini sih, insei kelas B saja tidak mungkin melakukannya! Apa otakmu berkarat gara-gara sehari-hari kerjaanmu cuma mengganti popok dan memberi makan Hikari?"

Nah, ini langkah yang bodoh sekali di pihak Shindou. Akira akan menerima ejekan apapun, sungguh, asalkan itu tidak membawa-bawa Hikari. Kelihatannya yang lain pun merasakan hal yang sama, karena terdengar napas tertahan dari beberapa anggota study group, diiringi hening yang mencekam.

"Apa katamu tadi?" Akira mendengar getar tertahan dalam suaranya. "Cabut perkataanmu sekarang!"

"Apa? Nyatanya begitu, kan? Nah, langkah berikutnya malah super-duper tolol, aku sampai tak tahu langkah beginian mungkin dilakukan seorang pro yang pernah jadi Meijin!" jika ada kelemahan Shindou, itu adalah bahwa ia tak pernah cukup pintar untuk tahu kapan harus diam. "Apa karena kau kelamaan menduda, hingga otakmu ikut-ikutan membeku seperti spermamu?"

Oke, ini sudah kelewat batas.

"Aku tidak terima itu dikatakan seseorang yang baru-baru ini salah perhitungan hingga menyerang kluster kecil di sisi kanan, sementara membiarkan kluster besarnya terbuka, dan efektif dihabisi tidak sampai sepuluh langkah kemudian," balas Akira pahit.

Mata Shindou memicing. "Permainan mana yang kaumaksud ini?"

"Pertandingan ketigamu lawan Kurata di perebutan gelar Ouza, tentu!"

"Kalau kau tak sadar, aku berhasil membalik keadaan dan menghabisi Kurata! Aku memenangkan pertandingan itu!"

"Hanya karena Kurata terlalu naif hingga tak melihat jebakanmu! Kalau aku jadi dia, sudah pasti aku akan memereteli jebakanmu dalam sepuluh langkah."

"Hah! Dan itu dikatakan orang yang menyerahkan gelar Ouza pada Kurata dua tahun lalu!"

"Kau juga takkan bisa merebut Ouza, kalau begitu permainanmu!"

"Oh, apa kau hanya membaca majalah cara mengurus anak hingga tak pernah membaca Weekly Go belakangan? Aku sudah memimpin sejauh ini, tinggal satu pertandingan lagi sebelum aku meraih gelar kelimaku! Ha! Makan itu, Fujisaki! Sudah kubilang sejak kita 13 tahun, aku pasti mengejar dan mendahuluimu, sementara kau berleyeh-leyeh..."

"Aku tidak berleyeh-leyeh!" tangkis Akira.

"Oh ya? Lantas apa kaubilang persentase kemenanganmu dalam setahun terakhir yang cuma 20%? Serius, Fujisaki, di taraf ini, aku ragu kau masih pantas menyandang status sebagai pro!"

Aura ruangan yang sudah berat tambah mencekam. Di ujung mata Akira, ia bisa melihat beberapa teman Shindou sudah saling melirik dengan gugup, sementara yang lainnya tampak membelalakkan mata. Di sisi Shindou, Isumi tampak beringsut mendekat, berbisik, "Shindou!" dengan nada penuh peringatan seraya menarik-narik ujung kemejanya. Tapi Shindou sama sekali tak terpengaruh. Dagunya terangkat, matanya memandang Akira seakan ia adalah makhluk hina yang tak berhak ada.

"Tarik perkataanmu, Shindou!" geram Akira. Ia bisa merasa gemetar yang sedari tadi sudah menjalar di sekujur tubuhnya makin meraja, hingga ia tak bisa menahan getaran dalam suaranya. "Atau..."

"Atau apa?" tantang Shindou. "Atau kau akan membantaiku di atas goban? Omong-omong soal pembantaian, apa kau lupa, aku sudah melakukannya! Aku sudah merebut Meijin darimu!"

"Kau hanya dapat menjadi Meijin karena aku dinyatakan kalah WO dua kali! Itu sama saja aku menyerahkan gelar itu padamu secara cuma-cuma!"

"Oh, kau masih tidak bisa menerima itu, rupanya? Bagus, karena aku juga sama! Nah, jadi kapan kau berencana akan merebutnya lagi dariku kira-kira, supaya aku bisa memasukkannya dalam agendaku?"

Dia tidak mengatakan itu sebagai undangan, atau bahkan tantangan. Itu adalah penghinaan. Seolah ia bilang, "Kau takkan pernah bisa merebut gelar ini lagi dariku! Lihat saja di mana kau kini. Kau masih beruntung tahun sebelumnya kau adalah Meijin, sehingga tahun ini secara otomatis kau masuk Liga. Tapi tahun depan tidak, kan? Melihat performamu belakangan, jangan kata menjadi penantangku, belum-belum sudah jelas kau akan dihabisi oleh para pemain lain! Makhluk rendah sepertimu bahkan sebenarnya tidak pantas masuk Penyisihan Ketiga!"

Tangan Akira terkepal erat di pangkuan. "Suatu saat... Suatu saat aku pasti..."

"Kapan? Saat Hikari sudah bisa kautinggal? Saat Hikari sudah dewasa? Saat itu kau sudah terlalu renta untuk bahkan bisa mengangkat biji go! Oh, mungkin bahkan Hikari sendiri sudah merebut setidaknya dua gelar ketika saat itu tiba! Atau memang itu rencanamu dari awal? Apa kau ingin menjadikan Hikari sebagai bidakmu, berhubung kau sudah terlalu berkarat untuk bisa bermain sendiri?"

"Cukup!" seru Akira, tidak bisa lagi membendung kemarahannya, dengan kasar menunjuk goban lain yang sedang kosong. "Nigiri, Shindou! Kita lihat apa memang aku memang sudah berkarat seperti yang kaubilang!"

Senyum pongah muncul di wajah pemuda yang pernah menjadi rivalnya itu. "Menantangku, Ex-Meijin? Oke, asal jangan lari menangis kalau kau kalah!" katanya seraya bangkit menuju goban yang ditunjuk. Para anggota study group saling pandang dengan canggung, tapi mereka memberi jalan pada kedua rival yang kini menjadi musuh itu.

Adrenalin—atau mungkin kemarahan—sepertinya sudah menguasai Akira, hingga ia nyaris menjatuhkan tutup goke yang ia buka. Mungkin menertawakan sikap cerobohnya, dengan seringai menghiasi wajahnya, Shindou meraup segenggam biji. Menarik napas dalam-dalam dua kali, Akira meletakkan satu biji di atas goban. Ia berusaha keras menahan getaran yang merambati jemarinya tatkala menyaksikan Shindou menghitung bijinya. Genap. Menerima goke dari tangannya, mereka saling bertukar salam sebelum tanpa banyak berpikir, Shindou membanting biji hitamnya ke goban.

Oh, sungguh ia benci sebenci-bencinya pada wajah Shindou, serta seringai yang tak alpa hadir di bibirnya. Ia tahu Shindou dari dulu kasar dan nyaris tak punya sopan-santun, tapi ia juga tahu betapa peduli dan setia kawannya pemuda itu. Shindou sering mengomelinya karena ia tidak makan cukup, dan acap dengan senang hati membagi bekalnya. Ia tahu Shindou dulu pernah mati-matian berusaha menghibur Waya ketika patah hati, menaikkan semangat Isumi ketika pemuda itu tengah terpuruk, serta tak pernah pelit berbagi dengan siapapun jika punya strategi go baru. Beberapa orang memang menyebutnya tak tahu diri, dengan menganggap semua pro setara dan tak gentar menantang siapapun. Tapi di luar itu, ia tak pernah sombong menganggap dirinya lebih daripada yang lain. Apakah pemuda itu sudah terbutakan oleh pencapaiannya selama ini, sehingga ia menjadi begitu tinggi hati dan kehilangan sifat positif yang dulu selalu Akira kagumi? Ataukah memang kesalahan yang dilakukan Akira begitu besar, hingga bahkan setelah dua setengah tahun pun, Shindou masih memendam dendam padanya?

Tapi untuk menggiringnya datang ke ladang pembantaiannya sendiri dengan sok-sokan bersikap baik padanya dan putrinya, untuk kemudian menjagalnya dengan mempermalukannya di hadapan teman-temannya... Di depan Isumi dan Ashiwara, tak kurang. Tak pernah ia duga Shindou akan bertindak serendah itu.

Orang lain mungkin akan menangis dan berteriak, tapi tidak Akira. Dia sudah biasa di-bully, dihina, diinjak-injak seolah ia bukan manusia yang punya perasaan. Ini sama sekali bukan apa-apa. Bukankah ia selalu bisa menekan perasaannya? Pada akhirnya, ia selalu menyatakan pada siapapun yang berani-berani mem-bully-nya, terbuat dari apa sesungguhnya seorang Akira!

Pertandingan berjalan dengan intens. Shindou jelas-jelas memperlihatkan bahwa ia menyepelekannya. Kipas yang ia pakai untuk menutupi separuh wajahnya mungkin bisa menyembunyikan senyumnya, tapi tak bisa menyembunyikan pandangannya yang meremehkan. Belum lagi ditambah ejekan dan hinaan yang tak henti mengalir. Menggemeretakkan gigi, Akira berusaha menulikan telinganya pada apapun yang dikatakan Shindou, dan berusaha memfokuskan konsentrasinya pada permainan di hadapannya. Perlahan, dunia di sekitarnya menghilang, dan semestanya mengerucut hanya pada susunan pola hitam putih yang tercipta atas goban, beserta seluruh permutasi langkah yang mengejawantah dalam alam pikirannya yang tak terbatas.

Shindou sama sekali tidak menahan diri, langkah-langkahnya sadis dan penuh jebakan seperti biasa. Tapi Akira juga bertekad takkan kalah.

Tanpa terasa, permainan sudah mencapai yose.

"Ke mana lagi pikiranmu?" geram Shindou memasuki kesadarannya, dan ketika ia mengangkat kepala, dilihatnya mata Shindou yang tampak terganggu. "Permainan belum selesai, Fujisaki! Atau kau sudah mau menyerah sekarang?"

"Tidak!"

"Bagus. Kalau kau bisa mengejar ketertinggalanmu sekitar 10 moku sejak pikiranmu melantur tadi, aku akan menarik kembali ucapanku bahwa kau tidak pantas menjadi pro!"

Sekitar 10 moku? Dengan nanar Akira kembali memperhitungkan susunan biji di goban. Benar, dengan komi 6,5 moku, ia kalah 12,5 moku. Sejak kapan Shindou berlari meninggalkannya begitu jauh? Permainan memang belum berakhir, tapi jarak ini jelas bukan sesuatu yang bisa dijembatani dengan mudah.

Shindou sejak dulu dikenal dengan dua hal: permainan kreatifnya yang penuh jebakan berlapis serta persistensinya dalam yose. Bukan tak jarang, ia justru mengejar ketertinggalannya di chuuban pada yose. Akira sudah berulang kali menghadapi atau berupaya membahas strategi Shindou, tapi semakin jebakannya dipereteli, semakin kreatif dan tak terduga pula pemuda itu merancang jebakannya. Dari semua strateginya, jebakan berlapis (yang sering disebut maze Shindou) yang ditanamnya pada chuuban dan baru benar-benar menampakkan giginya pada yose adalah hal yang membuat Shindou sangat menakutkan di atas goban.

Lantas bagaimana caranya ia mengejar minimal 13 moku? Ia tak boleh kalah di sini. Ini mungkin bukan pertandingan resmi, tapi ini adalah pertaruhan nama baiknya!

Ia melipatgandakan upayanya untuk memperhitungkan kembali variasi susunan biji di atas goban, berusaha mencari celah sekecil apapun. Ah, itu dia! Dengan menggemeretakkan gigi, Akira mengincar titik di antara dua kluster kecil Shindou. Jika ia bisa memanfaatkan ini, ia bisa membalik keadaan dalam sepuluh langkah dan mencuri setidaknya 9 moku. Ditambah komi, ia bisa mengejar ketertinggalannya, bahkan bisa menang sekitar 3,5 moku. Shindou juga kelihatannya menyadari ini, karena sesaat Akira bisa melihat genggaman tangannya atas kipasnya agak mengetat. Tapi lantas ia menutup kipasnya, dan mengincar biji putih milik Akira. Bagus, justru itu yang Akira tunggu. Saatnya penentuan.

Justru di saat itu, terdengar suara gedebuk dari rak dekat Akira, diikuti suara rintihan dan tangis yang agak teredam suara mesin. Biji di tangan Akira terjatuh ketika ia menyadari dari mana suara itu datang—dan apa artinya.

"Hikari!" seru Akira, dengan segera bangkit dan bergegas menuju kamar Shindou, tak peduli jika ia menghantam kaki goban dan menghancurkan susunan yang mereka buat dengan susah payah. Pintu kamar Hikaru terbuka—dan tak ada Nase, tak ada siapapun yang menjaga Hikari. Sosok putrinya tampak telungkup di lantai yang dialasi futon, menangis. Di dahinya tampak bekas merah seperti membentur sesuatu.

"Sssssh, Hikari, cup cup, Ayah ada di sini," Akira mengangkat dan mencium kening putrinya, menimangnya dengan penuh kasih. "Maafkan Ayah tidak menjagamu, ya... Tenang, Ayah di sini..."

"Huh, putrimu bagaimana mau mandiri kalau kau terus-terusan menimangnya?" terdengar suara dari pintu. Akira menoleh dengan mata membara. Sosok menyebalkan Hikaru ada di sana, bicara seolah ia lebih tahu mengenai Hikari lebih daripada dirinya. "Hika-chan sudah dua tahun, kan? Mana ada anak yang masih digendong ke sana ke mari di umur segitu? Seharusnya dia sudah bisa berjalan!"

"Kalau kau tidak tahu hanya dengan melihat, Shindou," ia meraih selimut Hikari yang masih teronggok di atas tempat tidur, melipatnya dan memasukkannya ke tas, "Hikari mengalami keterlambatan perkembangan fungsi otak, yang juga mempengaruhi kemampuan motorik dan kognitifnya. Ia mungkin berusia 2 tahun, tapi perkembangan motoriknya baru setara dengan bayi usia 8 bulan. Itu sebabnya aku tidak bisa meninggalkannya."

"Keterlambatan ... fungsi otak?" Huh, apa yang mungkin Shindou ketahui mengenai hal itu? "Apakah itu berarti ... ia tak mungkin main go?"

"Serius, Shindou, Hikari bisa main go atau tidak sama sekali bukan kekhawatiranku sekarang!" seru Akira, mendadak begitu benci dengan go saat ini. "Setidaknya asal ia bisa bicara dan berjalan seperti anak seusianya, aku sudah cukup senang."

Dengan itu ia membetulkan posisi Hikari di gendongannya, menyeletingkan kembali tas, dan menyelempangkannya di bahu. "Maafkan aku mengganggu dan merusak sesi belajarmu, Shindou-san. Harusnya aku tidak pernah datang. Aku permisi," ia menunduk memberi salam dengan cepat dan lekas keluar ruangan. Shindou tampak membeku, hingga bahkan ia tak bereaksi ketika Akira melewatinya. Ketika ia tengah mengenakan sepatunya, Isumi dengan tergopoh-gopoh menyusulnya.

"Fujisaki, mohon maafkanlah Shindou," ia menunduk dalam-dalam. "Dia sama sekali tidak bermaksud buruk, sebenarnya. Dia hanya..."

"Berusaha membuatku panas agar aku serius melawannya?" sambung Akira, sama sekali tidak berpaling untuk menatap Isumi. Sejauh yang ia tahu, bisa jadi Isumi juga turut merencanakan ini. "Tenang saja, aku sudah tahu sejauh itu."

"Ah, jadi..."

"Tapi bukan berarti dia harus menghinaku. Shindou bukan ingin memanas-manasiku, Isumi-san, dia memang serius masih mendendam padaku. Dan itu tidak masalah, patut kuakui ia ada benarnya."

"Fujisaki..."

"Maaf, aku tidak bisa lama-lama, Isumi-san. Sudah malam, aku tak ingin Hikari sakit. Selamat malam."

Ia tidak memedulikan Isumi yang memanggilnya, atau Shindou yang (akhirnya) mengejar dan berusaha menggedor-gedor jendela taksi yang ia tumpangi. Menyuruh si supir taksi melaju, tanpa memedulikan sang Meijin, Akira menyandarkan kepalanya di sandaran kursi penumpang. Ia berharap malam ini segera berakhir.

.