Chapter 3. Apalah Arti Kata Maaf
Minggu paginya, bangun-bangun Akira sudah dipusingkan dengan dering telepon tanpa henti dari nomor yang tak ia kenal. Ia mengangkat sekali, takut itu adalah dari dokter Hikari atau semacamnya, tapi begitu mendengar suara Shindou di ujung sana, ia langsung menutupnya.
Entah dari mana Shindou mengetahui nomornya, berhubung ia mengganti nomor demi menghindari pers. Tak ada seorangpun rekannya yang tahu selain pihak manajerial Ki-In, jadi tentu saja, Akira dapat menuduh mereka sebagai tersangka yang tidak tahu arti kata privasi.
Siapapun tahu Shindou akrab dengan pihak manajemen Ki-In, berhubung kabarnya salah satu mantan insei yang tidak menjadi pro, tapi tergabung dalam pihak manajerial, pernah ia tiduri. Di samping daftar taklukannya yang impresif, Shindou juga dikenal selalu menjaga hubungan baik dengan mantan-mantannya. Berhubung rata-rata mereka berasal dari kalangan selebriti (atau setidaknya orang yang punya nama di kalangan profesional apapun), ini juga yang memastikan nama Shindou tetap berkibar di dunia infotainment. Ia bahkan pernah mendapat tawaran membintangi iklan televisi, dan senyum menyebalkannya pernah menghiasi billboard di nyaris seluruh sudut Jepang.
Dan itu rupanya mengubah karakter Shindou. Dia bukan lagi pemuda yang Akira kenal. Dia makhluk sombong, angkuh, pendendam...
Semalaman Akira mencoba berpikir, dan jawabannya tetap sama. Seperti apa yang ia katakan pada Isumi: Shindou tak mungkin menghinanya sejauh itu hanya dengan alasan "ingin membuatnya panas dan serius bermain go melawannya", karena rupanya Shindou kehilangan rivalnya dan ingin membuatnya meningkatkan performa seperti dulu. Cacian yang ia keluarkan terlalu sadis, terlalu menusuk, terlalu sungguh-sungguh, seolah ia benar-benar membencinya dari hati.
Ia sudah melakukan bagiannya. Ia sudah meminta maaf berulang kali. Ia sudah mengundang Shindou ke pernikahan sederhana ia dan Akari—yang tidak dihadiri siapapun selain Ashiwara, Ogata, dan dua orang teman perempuan Akari, sebenarnya, karena penerimaan keluarga Akari terhadapnya sama seperti penerimaan keluarganya terhadap Akari. Jika setelah semua itu, Shindou masih juga tak mau memaafkannya, ya sudah.
Seumur hidup, Akira selalu melakukan segala yang menurutnya benar. Bahkan setelah satu kesalahan itu, ia masih berusaha berpegang pada prinsip tersebut. Tidak, ia tidak bisa meminta Akari menggugurkan kandungannya hanya demi menyelamatkan nama keluarga. Tidak, ia tidak bisa menjanjikan biaya tunjangan dan biaya hidup bagi Akari dan anaknya, lantas meninggalkannya seolah ia semacam pelacur yang bisa ia tinggalkan begitu saja. Tidak, ia tidak bisa membiayai kehamilan dan persalinan Akari, memberinya kompensasi atas kesulitan yang ia hadapi, lantas mengambil bayinya sementara membuang Akari seolah ia semacam rahim yang bisa ia pinjam. Tidak, ia juga tidak bisa menutupi kehamilan Akari dari orangtuanya, tetap menjaga janjinya untuk menikahi gadis yang ditunangkan padanya sementara menyimpan Akari dan putrinya di luar. Meski itu artinya ia kehilangan semua yang ia miliki, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menjaga integritasnya.
Tolong katakan, di mana ia telah memutuskan langkah yang salah?
Karena setelah itu, tak ada hal baik yang terjadi, kan? Ia tak bisa berperan sebagai suami yang baik, bahkan walaupun ia mencoba, dan ia tak bisa menyalahkan Akari yang meninggalkannya untuk menggapai mimpinya. Keluarganya masih tak mau bicara padanya. Hikari didiagnosis dengan keterbelakangan perkembangan fungsi otak, hingga kini masih belum jelas apa, yang jelas besar kemungkinan ia takkan bisa tumbuh normal seperti anak-anak lain. Performanya di goban begitu buruk hingga Shindou mengatakan ia tak layak menyandang status sebagai pro. Dan Shindou ... Shindou masih tak dapat memaafkannya.
Tolong katakan, di mana letak kesalahannya?
Setelah berpikir dan merenung, sampailah Akira pada keputusan itu. Ini berat, tapi ia tak merasa ada cara lain. Shindou benar, tak ada alasan lagi untuk mempermalukan dirinya lebih dari ini. Dengan berat hati, ia mengetik surat permohonannya, dan Senin itu juga mengantarkannya secara langsung ke Ki-In sebelum pergi membawa Hikari ke klinik untuk pemeriksaan dan terapi rutinnya. Untung saja Ki-In buka walaupun beberapa hari lagi Natal (biasanya di musim liburan begini, baik para pro maupun pihak manajemen seringkali sudah mengambil cuti), sehingga ia tak harus menunggu untuk mengantarkan surat permohonan pengunduran diri itu.
Ki-In tidak langsung meluluskan permintaannya, memintanya waktu beberapa hari untuk meninjau permohonan tersebut. Tidak masalah. Saat ini fokus Akira terarah pada Hikari, yang rupanya setelah insiden jatuh dari tempat tidur Shindou Sabtu itu, mengalami demam ringan dan jadi agak rewel. Dokter mengatakan tidak ada masalah berarti sehubungan dengan insiden kemarin, mengatakan bahwa demamnya adalah karena dingin dan bukannya sesuatu yang berhubungan dengan kepalanya, sehingga hanya memberinya vitamin dan menyuruh Akira untuk memberi Hikari asupan makanan sehat dan hangat. Jadi seharian itu, dan besoknya, dan besoknya lagi, Akira sibuk di rumah mengurusi putrinya.
Panas Hikari agak mereda pada hari keempat, tapi ia masih khawatir untuk meninggalkannya, jadi ia hanya memesan makan siang dari layanan pesan-antar, berhubung ia sudah tidak selera makan dengan bahan makanan khusus untuk Hikari. Hari ini Natal, restoran langganan Akira kebanjiran order, sehingga ia harus menunggu lebih lama ketimbang biasanya. Ketika tengah menanti datangnya makanan itulah, tahu-tahu bel di pintu apartemen berdering.
"Ya, sebentar," sahut Akira yang sedang memanaskan sup untuk Hikari, mematikan kompor dan menuju pintu depan untuk mengambil makanan. Namun alih-alih pengantar makanan yang sedang ditunggunya, yang ada di balik pintu justru orang yang paling tak ingin ditemuinya saat ini.
Menyesalkan tidak adanya lubang pengintai di pintu, interkom, atau bahkan rantai pintu, Akira lekas menutup pintu. Namun sayang, orang itu cepat tanggap dan memasukkan kakinya untuk mengganjal pintu.
"Fujisaki—ow, ow—kumohon, sebentar saja, aku ingin bicara!"
"Aku tidak mau! Pergi sana! Atau kugerus kakimu!" Akira tidak main-main dengan ancamannya, dan menekan pintu, berharap orang itu menyerah dan menarik kakinya.
"Lima menit saja, oke? Kumohon!"
"Tidak! Pergi!"
"Fujisaki! Aaaaaaa, kakiku retaaaaakkk!"
Bukan masalah konten dramatisasi Shindou yang berlebihan, melainkan performanya—repot kalau tetangga melongok dan melihat apa yang tengah terjadi di pintunya—yang membuatnya menyerah dan membuka pintu dengan muka masam.
"Ada apa? Aku tak punya banyak waktu, aku sedang masak."
"Ya, aku bisa lihat," Shindou menilainya dari ujung kaki hingga ujung rambut, tapi fokus pada apa yang ia pakai di tubuhnya. "Kau cocok pakai apron, omong-omong."
"Kututup."
"Aaaaa, tidak, tidak, kumohon jangan tutup, Fujisaki. Aku benar-benar butuh bicara denganmu."
"Aku tidak mau bicara denganmu."
"Dengar, aku minta maaf soal Sabtu lalu, oke? Aku akui aku memang keterlaluan. Sangat keterlaluan. Tapi..."
"Aku tidak mau lagi mendengar maafmu atau hinaanmu atau ucapan manismu soal Hikari atau apapun. Intinya aku tidak mau bicara denganmu!"
"Fujisaki, kumohon...," Shindou menjatuhkan dirinya di depan pintu apartemen Akira—di depan pintu apartemen Akira!—dan mulai menyembah.
"A-apa-apaan kau?" dengan panik Akira melongok ke kanan-kiri. "Bangun!"
"Tidak kalau kau tidak memaafkanku!"
"Kau sudah menghinaku di depan semua teman-temanmu, lantas kau mau mempermalukanku dengan bersikap begini di depan apartemenku? Jangan lupa kau itu banyak dikuntit paparazzi, Shindou! Apa kau mau membuatku kena masalah lagi? Bangun!"
Cuma atas argumen itu, Shindou mau juga bangkit dari sikap menyembahnya. Tahu ia akan menyesali ini seumur hidup, Akira menarik Shindou masuk dan menutup pintu.
"Jadi, apa kau mau memaafkanku?" tanya Shindou tak tahu malu.
"Tidak!"
"Haaaaaaaaaaaahhh?"
"Jangan lupa, aku juga dulu berulang kali minta maaf padamu, dan kau menutup pintu di mukaku. Kau menghindariku dua tahun lebih, dasar brengsek! Pikirmu hanya dengan satu kata maaf, kau bisa menghapus semua itu?"
"Aku juga minta maaf soal itu," Shindou mengatupkan tangan di atas kepalanya. "Aku larut dalam kemarahanku terhadap kalian berdua, dan sama sekali tidak mengkonfirmasi apapun padamu atau pada Akari. Aku juga makin marah padamu karena ujung-ujungnya kalian bercerai dan kau mengambil Hikari. Tapi kemudian tanpa sengaja salah satu mantanku, uhm, pacarku waktu itu, ternyata kenal Akari. Ia cerita masalah Akari padaku, dan setelah aku berhubungan lagi dengan Akari, aku baru dengar cerita sebenarnya soal kalian. Aku benar-benar minta maaf, Fujisaki. Kau sama sekali tidak salah, aku yang salah menilaimu."
Sampai sejauh mana sebenarnya cerita Akari?
"Dan soal kau yang mempermalukanku di hadapan teman-temanmu?"
"Sudah kubilang itu aku yang keterlaluaaaan," Shindou terlihat frustrasi. "Aku cuma ingin kau ... uhm, 'panas', supaya kau berhenti selalu bersikap pasif terhadap apapun omongan orang terhadapmu dan melawan. Kau selalu bisa membuktikan salahnya anggapan orang padamu jika kau berdeterminasi, sayangnya aku tak melihat itu darimu belakangan. Aku cuma ingin kau seperti dulu lagi, Fujisaki, sungguh. Hanya saja, mungkin dalam prosesnya aku..."
"Terlalu terbawa suasana hingga mengungkapkan apa yang sesungguhnya ada dalam hatimu?"
"Ya ... eh, tidak! Tidak! Aku terbawa karakter antagonis, uhm, aku..."
"Huh, 'terbawa karakter'?" Akira mendengus, "Apa lagi ini? Apa kau mau bilang kalau kau ikut audisi terselubung untuk semacam sinetron, dan tanpa tahu-menahu aku digerek jadi tokoh menyedihkan yang ditakdirkan untuk di-bully dan mati di pertengahan episode? Jujur saja, alasan itu sungguh menyedihkan, Shindou."
"Tidak, bukan begitu, Fujisaki... Kumohon..."
"Aku banyak urusan, Shindou. Hikari sakit gara-gara kau, tahu! Dan seperti kaubilang: kerjaanku sebagai ayah rumah tangga adalah memberi makan dan mengurus Hikari, bukan mengurusi orang sepertimu. Jadi silahkan keluar, Shindou-san, kau tahu di mana letak pintu keluar."
"Eh, tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian! Keluar! Jangan ganggu aku lagi, aku tidak mau kenal denganmu!"
"Fujisaki..."
"Keluar!"
.
.
Rupanya urusan dengan Shindou belum selesai, karena malamnya, tidak ada angin tidak ada hujan, mendadak Akari menelepon. Tanpa banyak basa-basi, bahkan juga tanpa mengucapkan selamat Natal, ia langsung menanyakan hal yang benar-benar tak ingin Akira dengar.
"Kenapa kau tidak bilang padaku kalau Hikari sakit?" tuntutnya.
Akira mendadak ingin memijit kepalanya yang sakit. "Pasti kau dengar dari Shindou ya?"
"Hikaru meneleponku barusan, bilang Hikari sakit sejak jatuh dari tempat tidurnya Sabtu kemarin. Apa yang terjadi? Apa ia kenapa-kenapa?"
"Dia cuma masuk angin," balas Akira.
"Dia juga bilang sesuatu soal keterlambatan perkembangan Hikari. Bahwa Hikari belum bisa berjalan dan kemungkinan tidak akan bisa tumbuh normal? Sesuatu tentang semacam gangguan otak? Apa ini, Akira? Kenapa kau tidak pernah bilang padaku?"
"Akari, tenang..."
"Ini salahku, mementingkan karir dan malah pergi... Aku harus kembali ke Jepang... Iya, benar begitu. Aku akan kembali dan mengurus Hikari, ya? Mungkin..."
"Kalau kau pulang, bagaimana dengan karirmu?"
"Itu tidak penting!"
"Akari, aku pribadi akan sangat senang jika kau kembali. Tapi tolong pikirkan lagi. Aku tak ingin nantinya kau menyesal... Menjadi aktris adalah cita-citamu, kan? Jangan sampai ada yang menghalanginya, apapun itu."
"Tapi Hikari..."
"Aku masih bisa mengurus Hikari."
"Tapi bagaimana dengan go? Itu juga cita-citamu, kan? Tapi karena harus mengurus Hikari, yang seharusnya menjadi tanggung jawabku, kau sampai menelantarkan go... Aku..."
"Tunggu. Dari mana kau tahu ini?"
Tentu saja jawabannya sudah jelas. "Hikaru bilang kau menyampaikan surat permohonan pengunduran diri ke Ki-In. Katanya kau kerepotan mengurus Hikari hingga prestasimu menurun, lalu akhirnya kau memutuskan pensiun..."
Brengsek memang si Shindou itu.
"Ini sama sekali bukan urusannya! Sejak kapan juga Shindou ikut campur urusan personalia?"
"Katanya Ki-In menghubunginya untuk berkonsultasi soal ... um, pengunduran dirimu... Ki-In sebenarnya tidak ingin melepasmu, tapi... Ah, Akira, jika memang ini semua karena aku, aku akan pulang, supaya kau bisa kembali fokus pada go."
"..."
"Akira? Akira? Halo?"
"Akari, kudengar kau dekat dengan seorang sutradara? Siapa namanya? Richard Moore, kalau tak salah, aku baca semalam di internet?"
"Ah, itu..."
"Kalian bertunangan, kan? Apa rencanamu dengan Hikari? Apa kau mau membawa Hikari ke Amerika?"
"Ti-tidak! Aku tahu Hikari sangat berharga bagimu, aku takkan mungkin mengambilnya darimu."
"Lalu apa? Kalau kalian bertunangan, kau tak mungkin rujuk denganku, kan?"
"Ah, Akira... Soal itu..."
"Jadi bagaimana caranya kau mau meninggalkan karirmu di Amerika dan mengurus Hikari, sementara kau harus mempertahankan hubunganmu dengannya? Kumohon, jangan sampai karena kami, kau sampai melepaskan sesuatu yang sangat berharga bagimu. Kau akan menyesal seumur hidup."
"Tapi bagaimana dengan karirmu, Akira?"
"Karirku adalah membesarkan Hikari sekarang. Dan tolong katakan pada Shindou, karena sepertinya dia terlalu bebal untuk menyadari. Aku mundur dari Ki-In bukan karena Hikari, aku keluar karena dia."
"Karena Hikaru? Apa maksudnya?"
"Tanyakan saja pada Shindou. Serius, Akari, mantanmu itu membuat kepalaku sakit..."
"Ada apa lagi dengan Hikaru?"
Mendesah berat, Akira pun menceritakan kejadian Sabtu lalu. Entah mengapa, Akira merasa hanya Akari yang selama ini mampu menjangkau dirinya yang tertutup. Hanya pada Akari ia merasa nyaman untuk mengutarakan apa yang biasanya tak bisa ia utarakan pada orang lain. Mungkin itu juga yang membuat mereka bisa dekat pada awalnya, dan memungkinkan 'insiden' itu terjadi.
Wajar jika kadang ia merindukan kehadiran Akari. Bukan sebagai istri, tapi sebagai sahabat. Ia toh manusia, bukan robot yang hanya bisa main go seperti anggapan orang-orang. Ia tetap butuh tempat untuk berbagi, tempat untuk berkeluh-kesah, bahkan walaupun kehidupan seksual mereka tidak sepanas seperti yang dibayangkan orang-orang ketika mendengar mengenai skandal mereka.
Sesungguhnya ia ingin, lebih dari ingin untuk membuat kehidupan rumah tangga mereka berjalan sebagaimana mestinya. Akira lahir dari keluarga yang lebih mementingkan tanggung jawab dan kewajiban ketimbang cinta, tapi tidak demikian halnya dengan Akari. Istrinya itu bukan cuma orang yang romantis, tapi juga orang yang berjiwa bebas. Ia punya mimpi, yang kandas karena satu keputusan salah yang mereka ambil tatkala keduanya tengah terpuruk. Bukan cuma sekali, Akira mendapati istrinya tengah melamun, dan ia juga sempat mengalami masa depresi yang berat pada trimester kedua kehamilannya, ditambah baby blues syndrome pada bulan-bulan pertama kelahiran Hikari. Mungkin itu juga menjadi faktor yang berpengaruh pada perkembangan otak Hikari.
Akira mencoba menjadi suami yang suportif, tapi rasanya itu pun tak mampu memperbaiki keadaan. Di satu sisi, ia ingin membentuk keluarga yang bahagia. Tapi di sisi lain, ia juga tahu bahwa ia tak punya hak untuk mengekang Akari menempuh mimpi yang ia cita-citakan sejak lama, serta mencari cinta yang tak bisa Akira ditawarkan dalam kehidupan rumah tangga mereka. Sesungguhnya Akira dapat menerima jika Akari memiliki kehidupan ekstramarital, seandainya dengan itu, mereka dapat mempertahankan rumah tangga mereka demi Hikari. "Aku tidak masalah jika pernikahan kita hanya sekadar fasad, aku bahkan takkan menuntut hubungan seksual denganmu. Asalkan ia tahu diri bahwa prioritas utamamu selain karir adalah Hikari," demikian katanya waktu itu. Namun Akari dengan idealismenya tak dapat menyetujui hal yang menurutnya akan menyakiti Akira, sehingga dengan berat hati, mereka sepakat untuk berpisah.
Membawa seorang bayi, sementara berusaha merintis karir dari nol di negeri orang, hanya akan menyusahkan Akari dan menjauhkannya dari mimpinya, sehingga Akiralah yang mengambil alih tanggung jawab merawat Hikari. Mereka masih dapat mempertahankan komunikasi dan hubungan baik pada masa-masa awal, sebelum Akari makin sibuk—atau ia punya pacar baru yang mungkin akan cemburu jika tahu Akari masih berhubungan dengan mantan suaminya, entahlah. Yang jelas komunikasi mereka makin renggang seiring bertambahnya usia Hikari. Mungkin hal itu jualah, di samping kekhawatiran akan mengganggu karir Akari, yang membuat Akira tidak menyampaikan masalah perkembangan Hikari, yang baru ia ketahui ketika Hikari menginjak usia 8 bulan.
Apakah itu juga ternyata adalah satu dari setumpuk kesalahan yang ia lakukan?
Tanpa terasa, keluhannya mengenai Shindou mengalir tanpa bisa dibendung. Dadanya terasa agak lega setelahnya, dan pikirannya terasa lebih jernih. Tapi tak urung, kekesalan dan rasa terhina yang ia rasa masih belum dapat teredakan.
"Hikaru memang bodoh," sahut Akari, setelah mendengarkan curhatan mantan suaminya selama sekitar seperempat jam. "Ia sama sekali tak punya hak bicara begitu tentangmu, bahkan walau ia bilang demi membangkitkan semangat bertarungmu!"
"Betul," akur Akira.
"Aku tahu ia memang sedang ada masalah, kau tahu ... setelah ditinggal Rei-san... Tapi itu bukan alasan..."
"Rei-san?"
"Konoe Raymond, pacarnya yang terakhir..."
"Oh, pemuda blasteran itu?" dalam memori Akira membayang sosok pemuda berambut burgundy, berkulit pucat khas Kaukasia, dan bermata abu-abu keunguan yang ia lihat dalam foto-foto di apartemen Shindou.
"Oh, kau tahu?"
"Hanya pernah lihat. Memang kenapa ia meninggalkan Shindou? Apa ia memergokinya meniduri gadis lain di ranjang mereka?" Nase, pikirannya menambahkan dengan sinis.
"Hah? Gadis lain? Tidak, tidak, bukan begitu kejadiannya. Rei-san meninggal bulan lalu, gagal jantung..."
"Meninggal?"
"Kalau tak salah beritanya lumayan heboh. Rei-san berasal dari keluarga birokrat, dan juga seorang model..."
Pastinya begitu kalau nama keluarganya adalah Konoe. Keluarga Konoe sangat berpengaruh di Jepang, beberapa anggotanya pernah menjabat sebagai Perdana Menteri, dan asal-usulnya bisa dilacak hingga pada keluarga Fujiwara yang menguasai Jepang pada zaman dahulu. Kalau sejauh itu Akira paham. Tapi kalau sudah berkaitan dengan dunia selebriti...
Akari sepertinya tahu diamnya Akira sebagai tanda minimnya pengetahuannya pada topik itu, jadi ia menyudahi pendahuluannya mengenai siapa itu Konoe-san dan langsung pada intinya. "Hikaru sangat terpukul, karena katanya Rei-san mengingatkannya pada ... uhm, cinta pertamanya, aku rasa. Hubungan mereka lumayan serius, kalau tidak salah Rei-san sudah melamarnya. Hikaru benar-benar menyesal, karena katanya ia belum sempat menjawab lamarannya."
"Lalu apa itu memberinya hak untuk menghinaku?"
"Tentu tidak. Tapi berusahalah sedikit lebih bertoleransi padanya, Akira... Ia benar-benar serius ingin berbaikan denganmu, tahu..."
"Akan kuusahakan, Akari... Tapi aku tidak bisa janji, ya..."
"Tidak apa, asal kalian sudah berusaha. Kau tahu, aku masih sangat merasa bersalah, aku telah merusak hubungan kalian. Jadi..."
"Tolong jangan diungkit-ungkit lagi," ujar Akira, merasa sungguh-sungguh lelah dengan semua ini. "Omong-omong, terima kasih sudah menelepon dan mendengarkan keluhanku. Oh ya, kau sendiri bagaimana? Kubaca kau dapat peran heroine di film seri?"
"Ah ya, aku dapat peran jadi pacar pemeran utama dalam film yang diadaptasi dari manga, lho. Ini film mengenai tokoh anti-hero, jadi peranku juga lumayan badass. Katanya mereka mencari wajah oriental yang fasih bahasa Jepang, soalnya nanti syuting beberapa adegannya dilakukan di Jepang."
Akari meneruskan bercerita panjang lebar mengenai rencana film dan syuting dan lain sebagainya. Ini gebrakan yang sangat berarti untuknya, setelah sekian tahun hanya kebagian peran minor dalam film dan drama televisi, jadi tentu saja ia sangat antusias. Akira mendengarkan monolog mantan istrinya sembari menyandarkan tubuh di kasur, sementara sesungging senyuman terkembang di bibirnya.
Ah, mimpi dan ambisi... Di manakah adanya kedua kata itu untuknya?
"Oh ya, kalian ngapain Natal ini?" setelah mengobrol kesana-kemari, Akari sampai juga pada topik itu.
"Tidak kemana-mana, kan Hikari sakit." Mungkin curang, menjadikan urusan kesehatan Hikari sebagai alasan, tapi setidaknya itu membuatnya sedikit tidak terkesan terlalu menyedihkan.
"Kalau tahun baru nanti, kalian ada rencana?"
"Tidak."
"Tidak apa jika aku mampir? Apa ... um, pacarmu mau datang atau semacamnya?"
"Aku tidak punya pacar, Akari..."
"Oh," nada Akari seperti standarnya reaksi orang kala mendapati bahwa ia adalah pria beranak satu yang masih menjomblo setelah setahun lebih menduda—campuran antara heran dan kasihan. "Ummm, anu ... tadinya aku berencana ke Jepang tahun baru ini. Mungkin kau mau ketemuan? Uh, Richard juga bilang ia ingin bertemu Hikari, jadi..."
Mendadak, sinyal peringatan berdering di kepala Akira.
Kelihatannya tiadanya reaksi Akira atas pengumuman rencananya membuat Akari sadar apa yang ada di benak mantan suaminya, karena ia buru-buru berucap, "Ah, maksudku bukan ... um, bukan ia berniat mau menggantikan posisimu atau apa. Kami tidak akan merebut Hikari darimu, Akira. Aku cuma ... aku kangen sekali dengan Hikari..."
"Tentu saja, Akari... Tidak masalah, kok," Akira mencoba tersenyum. Jahat sekali jika ia menghalangi Akari bertemu putrinya sendiri. "Kabari saja nanti kalau kalian jadi datang, ya."
Kalimatnya itu menjadi tanda bagi Akari untuk lekas menyudahi pembicaraan, jadi setelah berbalas sedikit basa-basi penutup, ditambah titipan kecupan untuk Hikari, terdengar bunyi tut-tut dari ujung sana tanda telepon sudah ditutup. Akira menekan tombol off dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Wajah ceria Akari yang tersenyum pada kamera, dengan Akira di sisinya dan Hikari dalam gendongannya—foto yang diambil tiga bulan setelah Hikari lahir, dan hingga kini masih menjadi wallpaper ponselnya—menatapnya dari balik layar. Akira memandangnya balik, dan setelah menimbang sejenak, mengganti wallpaper itu dengan foto Hikari.
