belakangan ini ada sedikit masalah dengan mata saya, jadi saya rasa saya tidak bisa terlalu sering meng-update fanfic-fanfic buatan saya
PERTEMUAN
Author: Prissycatice
Pairing: ZoSan – Zoro x Sanji, Other x Sanji
Disclaimer: They belong to Odacchi, not mine
Genre: Romance And huge Drama
Rating: M /untuk percakapan dan darah dimana-mana
Warnings: Yaoi. OOC. Alur terlalu cepat/lambat. Typos. Abal.
You've been warned
.
.
.
Sialan! Sanji tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk tidak menyumpah serapah. Kata-kata itu tidak meluncur keluar dari bibirnya― tapi mereka berputar-putar di dalam pikirannya. Dia menggeretakkan giginya dan menahan nafasnya pada saat yang bersamaan. Tubuhnya yang berguncang tidak beraturan sudah membuat bagian punggungnya terasa nyeri sementara kakinya harus tetap berdiam kaku.
Seharusnya Sanji menuruti kata-kata Marco untuk tidak membawa kuda sendiri. Sanji bukannya orang yang tidak bisa berkuda, demi Tuhan dia tahu bagaimana cara berkuda yang baik dan benar. Hanya saja dia tidak sering melakukannya, tapi bukan berarti dia menjadi pengendara yang buruk. Ini hanya masalah sedang sial atau tidak.
Marco sudah mengajukan diri untuk mengantarnya dengan kereta kuda saat Sanji meminta pelayan itu untuk menyiapkan kuda untuknya. Dia masih ingat ketika salah satu alis pria itu terangkat dan matanya menatap Sanji dengan tatapan aneh yang lucunya terlihat cemas. Pelayan itu sekali lagi bertanya, untuk yang terakhir kalinya apakah tuannya itu yakin ingin berkuda sendirian. Marco bahkan menawarkan diri untuk ikut dengan kuda tambahan yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Sanji.
Dia sungguh tidak berpikir bahwa akan ada seekor kijang yang melompat keluar dari balik semak belukar dan berakhir menabrak kudanya yang langsung menjerit histeris dan berlari membabi buta. Sanji sudah berusaha menenangkan kuda itu dan menarik tali kekangnya, tapi malangnya rasa panik kuda itu jauh lebih besar.
Terpaan angin di wajahnya yang begitu kencang membuatnya hampir menutup sebagian matanya. Dan samar-samar dia bisa melihat perbatasan antara hutan Folkery dengan pintu masuk kota. Saat keluar dari hutan, hanya ada satu jembatan besar yang akan menghubungkannya langsung dengan jalan masuk ke pusat kota, dan Sanji sudah bisa melihat jembatan itu ―dekat dihadapannya.
Oh bagus, dalam kondisi seperti ini dia jelas akan menabrak orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan. "Ayolah! Berhenti!" raung Sanji penuh rasa kesal. Dia mencoba menarik tali kekangnya lagi, membuat telapak tangannya bergesekan dengan kuat yang pastinya akan menimbulkan goresan. Dan saat kuda itu masih berlari seperti kesetanan, itu membuatnya jadi ikut panik.
"Minggir! Aku tidak bisa menghentikannya!" teriak Sanji saat dia sudah menyeberangi jembatan dan mulai memasuki wilayah kota. Kudanya berteriak-teriak nyaring melihat banyaknya kerumunan, tapi tidak membuatnya berhenti menghentakkan kaki-kakinya yang kokoh.
Sanji bisa melihat raut wajah panik satu persatu orang di sana. Mereka berhamburan, berlari menuju tepian toko untuk menyelamatkan diri sebelum kuda itu mendekat. Tapi dia belum bisa merasa tenang, karena tepat di tengah jalan di hadapannya, ada seorang gadis kecil yang berdiri ketakutan melihatnya. Kakinya yang mungil bergetar hebat, dan tangannya mencengkram erat gaunnya hingga naik sebatas lutut. Air mata gadis itu sudah tumpah sejak tadi, tapi kakinya terlalu lemas sehingga dia tidak bisa berlari dari sana.
Beberapa orang berteriak panik, meneriakkan kata-kata yang tidak bisa ditangkap dengan jelas oleh Sanji karena saling bertubrukan. "Tenanglah! Berhenti!" Sanji membentak kudanya sambil menarik tali kekang dengan kencang. Dan dia menutup matanya saat jarak antara dirinya dengan gadis mungil yang malang itu sudah sangat dekat.
Pada detik yang cepat itu Sanji bisa merasakan seseorang naik, duduk di belakangnya dan mengambil alih tali kekang dari kedua tangannya. Tubuhnya tidak lagi berguncang, tidak ada lagi terpaan angin pada wajahnya.
Dan kuda itu berhenti.
Sanji bisa mendengar detak jantungnya yang berdebar begitu keras hingga membuat dadanya nyeri. Dia tidak menabrak gadis itu kan?
Setelah meneguk saliva beberapa kali untuk mencoba menenangkan dirinya, dia mulai membuka matanya, perlahan, sembari berdo'a agar gadis mungil itu selamat dan tidak terinjak kaki kuda. Dan gadis mungil itu ada di sana, selamat, walau kini dia terduduk lemas dengan linangan air mata.
Orang-orang yang berjejer di pinggiran toko kembali berhamburan ke tengah jalan untuk melihat kondisi gadis itu dan mengucap syukur karena gadis kecil itu tidak terluka. Jantung Sanji seperti mencelos turun dari tempatnya berada. Ketegangan di dalam tubuhnya menguap entah kemana. Dia menutup matanya dan menyandarkan dirinya. "Syukurlah," bisiknya lirih.
"Ya, Syukurlah kau tidak menabraknya." Suara berat yang dalam dan hembusan nafas hangat di dekat telinganya membuat Sanji tersentak. Ia cepat-cepat menolehkan kepalanya, dan menemukan wajah seorang pria di sana ―dengan jarak yang teramat dekat.
Bagaimana dia bisa tidak sadar pada apa dia menyandarkan tubuhnya? Dan tangan kokoh pria itu yang memeluk erat pinggangnya. Sanji bisa merasakan sengatan rasa panas mengaliri tubuhnya dari sentuhan pria itu. Jantungnya kembali memompa dengan cepat. Sanji tidak tahu bagaimana dia bisa larut ke dalam bola mata sehitam malam milik pria di belakangnya, tapi disaat yang sama ia menemukan bahwa dirinya tidak ingin pergi dari sana.
Baru kali ini Sanji melihatnya, pria ini. Mata hitam tajam yang seakan bisa menembus langsung ke dalam pikiranmu, hidung yang terlihat tegas, rahang yang kaku dan kuat, dada bidang kokoh yang sekarang menjadi tempat dia bersandar, lengan yang memeluknya dengan erat, Sanji tidak pernah menemukan pahatan Tuhan seindah ini di dalam hidupnya. Seperti melihat ukiran patung pria Yunani dan iblis pemikat dalam saat yang sama.
"Kau tidak bisa berkuda?"
Sanji tersentak lagi. Dia menemukan fakta bahwa dirinya menyukai suara berat pria itu saat rasa panas itu kembali menggelitik bagian dalam tubuhnya. "Oh, aku bukan― tadi ada kijang yang melompat dan― ya Tuhan! Apa gadis itu baik-baik saja?"
Dengan gerakan yang terburu-buru Sanji mencoba untuk melompat turun dari kuda untuk menghampiri gadis itu. "Hei, tenang," Sanji mendengar pria itu berkata. "Biar aku turun dulu, lalu kubantu kau untuk turun."
Dan pria itu melompat turun, menjulurkan tangannya kepada Sanji yang langsung disambut. Astaga, Sanji merasa seperti seorang wanita terhormat yang sedang dibantu menuruni kuda karena ia memakai gaun muslin, bukan pakaian berkuda. Setelah turun, dia cepat-cepat menghampiri gadis itu dan menanyakan kondisinya serta meminta maaf.
Sanji sama sekali tidak menyangka bahwa pria itu masih ada di sana, setelah ia selesai berbicara dengan gadis kecil itu dan beberapa orang yang memakan waktu cukup lama. Pria itu sedang membelai lembut kuda hitamnya yang terlihat senang. Sanji tidak bisa menghentikan dirinya untuk berjalan mendekat dan menatap pria itu.
"Ini kuda yang bagus. Siapa namanya?" tanya pria itu, dia bahkan tidak repot menolehkan kepalanya ke arah Sanji. Tangannya yang berwarna kecokelatan itu masih setia mengusap-usap punggung kuda hitam miliknya.
"Huh? Nama? Aku tidak tahu― apa aku harus memberinya nama?"
Pria itu menatapnya dengan aneh, seperti bertanya 'Kau ini bodoh atau apa', "Kau harus memberinya nama, jadi kalian bisa lebih akrab." Ucapnya.
Sanji tidak pernah tahu bahwa kuda bisa menjadi akrab bila diberi nama. Kakak-kakaknya tidak pernah mengajarkan hal itu. "Nanti akan kupikirkan," balas Sanji. "Dan terima kasih karena sudah menghentikannya tadi, kau tahu, aku tidak mengerti bagaimana kau bisa melompat naik begitu saja, tapi kau sudah menyelamatkan nyawa gadis itu."
"Dan amukan orang-orang terhadapmu?" pria itu melemparkan sebuah seringai ramah kepada Sanji. Dan Sanji tidak mau mengakuinya, tapi dia benar-benar menyukai bagaimana cara pria itu tersenyum.
"Dan itu juga― kurasa,"
Pria itu tergelak. Semburan hawa panas kembali menyelimuti tubuh Sanji saat suara tawa itu menyentuh indera pendengarannya. Sanji tidak bisa berhenti terpana. "Kau itu lucu."
Sanji menemukan dirinya tersinggung sekaligus senang mendengar kata-kata itu, percampuran aneh yang baru kali ini dirasakannya. "Well, itu karena ada kijang bodoh yang seenaknya melompat menabrak kudaku dan membuatnya jadi gila. Jadi sekarang aku akan mentraktirmu, untuk balasan yang tadi itu."
Pria itu menggeleng, rambutnya yang berwarna hijau dengan helaian pendek terayun pelan. "Tidak perlu, seseorang memang harus menghentikannya. Dan kebetulan saja aku bisa."
Mungkin dia masih dalam keadaan terguncang, atau mungkin karena udara mulai terasa dingin karena akan menghadapi musim dingin sebentar lagi, Sanji merasa tidak terima atas penolakan itu. Bukan karena dia merasa bahwa pria itu terlalu sombong karena telah menolak kebaikannya, tapi karena dia teramat senang dengan rasa panas yang membakar tubuhnya saat pria itu ada di dekatnya.
Sanji menaikkan sedikit dagunya dan menegapkan tubuh, "Aku bersikeras," katanya, "Sir― siapa namamu?"
Pria itu menatapnya cukup lama, seperti tidak ingin Sanji mengetahui namanya, "Roronoa Zoro" jawabnya pada akhirnya setelah dua menit yang panjang.
"Sanji Vinsmoke," ucap Sanji. "Jadi sekarang Sir err... Roronoa, aku akan membawamu ke restoran paling enak di Folkery."
...:::...ZoSan...:::...
Suara gemerincing bel yang sangat familiar terdengar saat Sanji membuka pintu sebuah restoran di sudut pusat kota dengan papan nama dari kayu ek tua yang bertuliskan BARATIE dengan guratan yang kasar.
Zoro menatap bangunan tua itu sebentar sebelum mengikuti Sanji yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam. Ruangan itu tidak terlalu luas seperti restoran pada umumnya, tapi cukup lebar dan terlihat nyaman. Terdapat satu anak tangga selebar dua setengah meter yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua, dan seluruh meja serta kursi makan yang ada terbuat dari kayu yang terlihat kokoh meskipun dengan sekali pandang kau bisa melihatnya dengan jelas bahwa barang-barang itu sudah berumur cukup tua.
Pria berkulit kecokelatan itu mengedarkan pandangannya. Tidak terlalu banyak pengunjung di sana, tapi juga tidak sepi. Beberapa orang pelayan terlihat sibuk keluar masuk dari sebuah pintu sambil membawa baki-baki berisi makanan. Dan Zoro harus mengakui bahwa indera penciumannya termanjakan dengan aroma-aroma lezat yang berputar di udara sesaat setelah ia melangkahkan kakinya memasuki restoran itu.
"Duduklah di salah satu kursi, biar kupesankan makanan," Ujar Sanji sembari membuka jaket berkudanya dan melipatnya di lengan.
Sebelah alis mata Zoro terangkat naik, "Kau tidak bertanya aku mau apa?" tanyanya sembari menarik sebuah kursi pada meja kosong dan menyamankan dirinya di sana.
Seringai yang terlihat sombong hadir di wajah Sanji, "Kau akan menyukai apapun yang kupesankan untukmu," katanya sebelum berjalan pergi ke arah pintu dimana para pelayan muncul dan menghilang.
Zoro tidak pernah tahu ada tamu yang memesan makanan dengan cara pergi ke dapur secara langsung. Pria yang ditemuinya ini benar-benar aneh, terlihat untuk mencoba bersikap angkuh, penuh percaya diri, lugu dan lucu di saat yang bersamaan. Belum lagi mereka bertemu di saat yang aneh.
Pria itu tidak menghitung berapa lama waktu yang ia habiskan untuk duduk sendirian di sana, tapi dia tahu itu cukup lama. Dan pria bersurai secerah mentari itu belum juga kembali. Zoro mendesah dan memijat keningnya yang berdenyut. Seharusnya saat ini dia sedang menyusuri jalanan di pusat kota dan mencoba untuk menemukan pekerjaan, tapi dia malah berakhir di sebuah restoran dengan pria yang terlihat seperti seorang bangsawan kaya.
Dari pakaian berkuda yang dipakai pria itu saja Zoro bisa tahu kalau harganya pastilah mahal. Kuda hitam itu juga gagah dan terawat dengan baik. Ah, kalau bicara soal kuda Zoro jadi kembali teringat peristiwa tadi.
"Maaf lama," suara itu membuyarkan lamunannya. "Kenapa kau senyum-senyum sendiri?"
Sanji meletakkan beberapa piring berisikan makanan yang terlihat lezat ke atas meja sebelum menyamankan dirinya pada kursi di hadapan Zoro. Zoro yakin makanan itu pasti enak, karena saat melihatnya ia jadi merasa sangat lapar. "Aku tidak tahu kau ternyata seorang pelayan,"
Mata Sanji terbelalak, dan dengan cepat dia menendang kaki Zoro dari bawah meja, membuat pria Roronoa itu meringis merasakan kakinya yang berdenyut nyeri. Sanji menegakkan tubuhnya dan menaikkan dagunya tinggi-tinggi "Oh, aku tidak pernah memperkenalkan diriku sebagai seorang pelayan, bukan begitu?"
Sanji tidak habis pikir kenapa pria dihadapannya ini bisa menyimpulkan bahwa dirinya adalah seorang pelayan. Dia memakai pakaian berkuda yang diberikan oleh Reiju kepadanya yang pastinya mahal, begitu juga dengan celana berbahan kulit yang menyelimuti kakinya, ditambah sepatu hitam mengkilap ternama. Jadi bagaimana bisa Sir Roronoa di hadapannya ini dengan sangat lancangnya menganggap dirinya adalah seorang pelayan? Ini benar-benar penghinaan.
Tatapan angkuh yang diberikan Sanji kepadanya malah membuatnya geli. Pria itu bersikap layaknya seorang aristokrat yang merasa dirinya sedang dihina, ingin terlihat tegas dan angkuh, tapi kaku dan gagal. "Aku hanya tidak terbiasa melihat tamu yang masuk ke dapur dan melayani dirinya sendiri." Ujar Zoro.
"Oh," Sanji baru mengerti bagaimana pria itu bisa melihatnya dengan cara yang salah. Tapi dia tidak menyesal karena telah menendang kaki pria itu, Zoro pantas mendapatkannya. "Aku kenal dengan pemilik restoran ini, jadi aku memiliki akses keluar masuk dapurnya secara penuh."
Sanji terlihat sangat bangga saat mengatakannya, Zoro bisa melihat itu dari kilauan matanya yang berbinar senang. Dia tidak terlalu mengerti, tapi dia menyukai ekspresi itu. Dan dia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa dan mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Zoro harus mengakui bahwa itu adalah makanan terenak yang pernah menyentuh lidahnya.
Seringai Sanji melebar melihat reaksi pria itu. Perutnya terasa melilit, namun dengan cara yang menyenangkan. Ia tidak ingat kapan terakhir kali dia merasakan perasaan itu, mungkin saat pertama kali dia mencoba membuatkan ibunya sepiring makanan buruk rupa yang mendapat pujian, dan itu sudah sangat lama.
"Kupikir seperti apa orangnya sampai kau mau repot memasak dan mengantarkannya sendiri," ujar suara yang dalam dari balik punggungnya, membuat Sanji tersentak. Dia terkesiap dan berputar, menabrakkan sikunya dengan keras pada punggung kursi.
Zeff, pria pemilik restoran itu sedang berdiri beberapa kaki jauhnya dari Sanji, mata kelabunya tidak memperlihatkan ekspresi apapun, tapi sudut bibirnya yang menekuk naik sudah cukup memberitahunya bahwa Zeff akan punya bahan yang cukup bagus untuk menggodanya nanti.
Sanji melongo padanya "Apa?"
"Jangan berikan tatapan itu padaku, bocah. Ini pertama kalinya kau membawa tamu, dan aku hanya ingin melihatnya," pria paruh baya itu berjalan mendekat, mengamati baik-baik pria bertubuh maskulin yang dibawa oleh Sanji yang masih setia mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Sanji berdeham cukup keras sembari mengusap sikunya yang mulai terasa sakit. Dan itu berhasil membuat Zeff melirik padanya. "Kakek tua― maksudku Zeff, ini Sir Roronoa," ucap Sanji. "Dan Sir Roronoa, ini Zeff, dia pemilik restoran ini."
Zoro berdiri dari kursinya dan menunduk dengan hormat. "Senang bisa berkenalan dengan anda," katanya. Saat menegakkan tubuh kembali, dia hanya mendapatkan sebuah dengusan dari Zeff. "Aku rasa aku akan kembali duduk dan menyelesaikan makananku, kalau anda tidak keberatan?" tanyanya, mencoba untuk bersikap sopan.
Zeff mengibaskan tangannya tidak peduli "Duduklah," dan balasan yang keterlaluan tidak sopannya itu membuat Sanji ingin berteriak frustasi dan mengucapkan rentetan sumpah serapah. Setidaknya dia berharap Zeff akan bersikap sopan terhadap tamunya. Biar bagaimanapun Sanji tidak ingin memperlihatkan sisi buruk dirinya di hadapan pria itu. Tidak selama ia masih bisa merasakan gairah panas yang membakar tubuhnya setiap pria itu menyentuh atau berada di dekatnya, dan rasa menggelitik yang menyenangkan setiap ia melihatnya tertawa.
"Kau tidak berasal dari sini, benar?" tanya Zeff saat Zoro sudah kembali duduk.
Mereka saling bertatapan, "Benar. Aku baru tiba di Folkery tiga hari yang lalu."
Sanji menyamankan posisi duduknya dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dia ingin mengetahui lebih banyak tentang pria itu, tapi menemukan dirinya bertahan untuk tidak bertanya macam-macam karena tentu saja, dia tidak mau secara terang-terangan menunjukkan rasa ketertarikannya.
Matanya mengamati bagaimana bibir pria itu bergerak saat ia bicara. Sanji akan lebih senang menemukan bibir pria itu menyelimuti bibirnya dan membawanya ke dalam sebuah ciuman panas yang tak kenal ampun. Mereka bisa melakukan hal itu semalaman, oh tidak, mereka tidak akan melakukan hal itu semalaman karena Sanji yakin ia bisa mendapatkan lebih dari sekedar ciuman memabukkan kalau mereka berdua terjebak semalaman di dalam kamar yang sama.
Itu pasti akan sangat menyenangkan.
Sanji tersentak dari lamunannya, jengkel terhadap dirinya yang biasanya terkendali.
"Aku berasal dari wilayah timur Grandline," dia tidak tahu apa saja yang dia lewatkan saat melamun tadi, tapi Sanji kembali memfokuskan telinganya untuk mendengarkan. "Kudengar Folkery adalah jantung Grandline, jadi kuputuskan untuk mencoba mencari pekerjaan di sini."
Oh, jadi pria itu sedang mencoba peruntungan hidupnya. Sanji tahu kalau pria dihadapannya ini bukan seseorang dari kalangan bangsawan dari caranya berpakaian. Tapi dengan postur tubuh tinggi dan besar seperti itu, serta wajah tampan dengan rahang yang kaku dan tegas, dia bisa berubah menjadi seorang pria bangsawan dalam sekejap mata hanya dengan mengganti pakaiannya. Dan Sanji sangat yakin akan ada banyak gadis bangsawan muda yang tergila-gila kepadanya dan mengantri dengan panjang hanya untuk bisa berdansa bersama.
"Apa yang dulu kau lakukan? Pekerjaanmu maksudku" tanya Zeff lagi. Sesekali dia melirik ke arah Sanji, mengamati bagaimana pria itu terlihat seperti seorang gadis debutan di pesta dansa pertamanya dan menemukan pasangan pria yang begitu menarik hingga merasakan nafasnya tercekat di tenggorokan.
Biasanya bocah pirang itu akan marah bila melihat seseorang mengabaikan makanan dan malah mengobrol panjang lebar sampai makanan itu dingin. Tapi kali ini dia membiarkannya, seperti melupakan hal itu dan larut ke dalam pembicaraan yang menyenangkan meskipun dia tidak mengucapkan sepatah kata apapun.
Zoro terdiam sebentar, tidak menyangka akan mendapati dirinya diinterogasi sedemikian rupa seperti ia akan melamar seorang gadis dengan ayah yang meragukan apakah dirinya adalah pria yang benar-benar bisa membawa kebahagiaan untuk putrinya. "Aku melakukan banyak hal," balasnya. "Mulai dari menjadi pelatih untuk berburu, menjadi barista, menjaga keamanan di gedung parlemen, sampai ke pekerjaan kasar."
"Kurasa― " akhirnya Sanji membuka mulutnya. "Aku bisa membantumu mendapatkan pekerjaan."
Zeff mendengus dengan geli. Sampai sejauh mana sebenarnya bocah ini tergila-gila? "Tentu saja kau bisa," ujarnya sarkastis, mendapatkan sebuah tatapan tajam dari Sanji. Ia meregangkan tubuhnya dan berbalik, mulai berjalan ke arah dapur. "Kau tidak perlu bayar, bocah. Lain kali ajak dia ke sini lagi, aku senang melihat ekspresi tololmu itu."
Sanji bisa merasakan seluruh darahnya naik ke wajahnya. Dia pasti benar-benar terlihat seperti orang idiot.
...:::...ZoSan...:::...
"My Lord!"
Pauli, Earl of Randolph kelima, berlari tergopoh-gopoh dengan wajah yang menyiratkan rasa takut dan senang di saat yang bersamaan. Kakinya hampir saja terantuk pinggiran kursi.
Pria yang terkenal sebagai seseorang yang lebih suka bermain dengan para wanita dari kalangan bawah itu tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan kedatangan tamu yang sangat penting. Ia berusaha merapikan kemejanya yang berantakan di dalam jas cokelat yang dipakainya, tidak lupa menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangannya.
"Saya tidak tahu anda akan datang ke sini, seharusnya saya menyiapkan sambutan. Biarkan saya menyuruh para pegawai untuk mempersiapkan teh dan beberapa kue." Pauli bicara dalam satu nafas yang cepat.
Sanji memutar kedua bola matanya. Inilah sebabnya dia tidak pernah pergi keluar rumah dan menyerahkan semua persoalan di kota kepada Marco atau Reiju ―kecuali jika ia akan berkunjung ke Baratie.
Sambutan mereka terlalu berlebihan.
Memang dia bukan seseorang yang terkenal, ya Tuhan, mungkin memang hampir tidak ada yang mengenalnya di kota. Tapi Sanji kenal dengan beberapa orang, beberapa orang penting yang memiliki kedudukan tinggi yang cukup berpengaruh.
Tanpa menoleh ke belakangpun Sanji bisa tahu bahwa Zoro sedang menatap Pauli dengan pandangan bertanya-tanya. Dan dia tidak mau Zoro bertanya. Pria itu tidak perlu tahu apa-apa.
"Pauli, aku tidak pernah menyangka akan menemukanmu di sini," Kata Sanji dengan nada yang sengaja dibuat ramah. Dia benar-benar tidak tahu kalau Pauli akan berada di toko yang dikelola oleh Earl of Randolph tersebut, karena biasanya pria muda itu lebih sering menghabiskan waktunya di salah satu bar untuk bersenang-senang daripada mengurus tokonya. Tadinya dia hanya ingin mampir dan memberitahu Zoro tentang tempat itu, lalu ia akan mengirimkan sepucuk surat ke rumah Pauli melalui Marco. "Dan terima kasih untuk jamuannya, tapi aku― dan temanku tidak akan lama."
"Apa ada yang bisa saya lakukan untuk anda?" tanya Pauli. Pria itu memutar ulang memorinya, mencoba mengingat-ingat apakah ia pernah melakukan suatu kesalahan sampai orang sepenting Sanji datang untuk menemuinya secara langsung. Dan dia berharap dia tidak melakukan kesalahan apapun, karena dia jelas tidak bisa mengingat kesalahan apa yang telah dia lakukan.
Sanji berdeham pelan. "Jadi, temanku di sini, Sir Roronoa, nampaknya sedang membutuhkan pekerjaan," Pauli mengamati pria di belakang Sanji yang tidak disadarinya ada di sana."Dan kulihat kau sedang membutuhkan beberapa orang pegawai tambahan."
"Kalau ada yang bisa aku kerjakan di sini, Sir." ucap Zoro sembari membungkuk.
Pauli menarik matanya dari bawah ―dari sepatu pria itu― sampai ke atas, ke kepalanya yang berhiaskan rambut kehijauan, lalu kembali fokus menatap Sanji. "Manusia, My Lord?" tanyanya pelan.
"Pauli" desis Sanji, mencoba memperingatinya. Dan Pauli langsung menegakkan tubuhnya dengan kaku. "Sir Roronoa, kalau tidak keberatan, aku harus menyampaikan beberapa hal kepada Earl of Randolph di hadapanku ini." Ia berbalik sebentar dan melemparkan senyum sebelum mengapit lengan Pauli dan membawanya menjauh, memasuki bagian dalam toko yang terpisah oleh sebuah dinding.
"Kau hanya perlu memberinya pekerjaan, apapun, aku tidak peduli," nada itu bersirat perintah, bahkan terdengar begitu untuk telinganya sendiri. "Dan keluargaku tidak perlu tahu tentang ini, tentang pria itu, semuanya."
Pauli meneguk ludahnya ke dalam tenggorokannya yang mendadak terasa kering. "A-apakah dia akan menjadi santapan anda, M-My Lord?" setidaknya Pauli perlu tahu hal itu, jadi dia bisa menjaga agar pria itu aman dari vampire lainnya, dan memastikan bahwa anggota kerajaan tidak akan memenggal kepalanya.
Dan pertanyaan yang dilontarkan Pauli itu memberikannya sebuah ide baru. Ide baru yang bagus. "Benar," Sanji melemparkan sebuah senyum yang berhiaskan seringai yang terlihat sangat menarik di wajahnya yang tampan. "Dia santapanku, dan tidak boleh ada seorangpun yang tahu atau mereka akan mencoba untuk merebutnya."
Pauli mengangguk-angguk seperti orang linglung.
Sanji menatap Earl of Randolph, seorang vampire kelas biasa itu dengan ekspresi yang menunjukkan kekuasaan penuh. "Akan kujemput dia nanti, kau tahu apa yang harus kau lakukan."
.
.
.
To be continued
.
.
.
A/n: saya harus memberitahu hal ini. di fanfic ini tidak semua orang menyukai sesama jenis. dan untuk sementara rate M hanya untuk percakapan ―sampai saya merasa perlu adanya adegan rate M
saya sepertinya juga tidak bisa memenuhi semua harapan pembaca tentang pairing, jadi saya ingin meminta maaf kalau cerita fanfic ini tidak seperti yang kalian harapkan.
Big Thanks to: Hiria-ka, murruemioria, Lost Green Tiger, Panda. Blackwhite, GPEG, Yuuna, Pii, donutsandcoffee, Coviee Zoldyeck, dan puchou
With Love,
Cndy
