Halo, masih ada kah yang menunggu ff ini?
maaf lama baru bisa update, aku punya beberapa masalah di RL dan sedikit stuck di penulisan, tehe~
mungkin ini ga akan sebagus chapter-chapter sebelumnya, tapi semoga kalian suka!
KEPEMILIKAN
Author: Prissycatice
Pairing: ZoSan – Zoro x Sanji, Other x Sanji
Disclaimer: They belong to Odacchi, not mine
Genre: Romance And huge Drama
Rating: M /untuk percakapan dan darah dimana-mana
Warnings: Yaoi. OOC. Alur Kecepetan. Typos. Abal.
You've been warned
.
.
.
Sanji tahu dirinya tampan, bahkan mempesona. Tapi dia tidak pernah tahu kalau pantulan cermin bisa membuat sosoknya terlihat sangat memikat. Begitu memikat sampai membuatnya malu untuk menatap pantulan itu. Bahkan kemeja putihnya yang terlihat biasa tidak mampu menutupi keindahan dirinya yang saat ini terlihat begitu cantik dengan wajahnya yang tampan.
Rasanya ia akan jatuh cinta pada dirinya sendiri.
Dia merebahkan tubuhnya, tidak sanggup berdiri lebih lama dengan sengatan rasa panas yang mengalir dan menyelimuti tubuhnya yang ramping dalam artian maskulin. Sanji sudah akan memaki, kalau dia bisa, sayang bibirnya terus bergetar tanpa membiarkan satu katapun lolos, kecuali lenguhan.
Kenyataan bahwa Folkery telah memasuki awal musim dinginnya seperti bergema jauh di dalam ujung lorong panjang sebuah gua yang berlawanan, karena Sanji merasa panas, hanya rasa panas yang menyengat.
Putra ketiga keluarga Vinsmoke itu tidak pernah berpikir akan merasakan rasa yang teramat kuat seperti ini, yang membuat tubuhnya luar biasa bergetar di luar kendalinya. Bahkan kehangatan dan rasa mendamba saat ia berada di pelukan kedua putra keluarga Dracule tidak pernah terasa begitu hebat.
Sanji masih ingat saat jemarinya menyentuh lengan kekar pria itu. Sangat keras, tebal dan berotot, sangat berbeda dengan lengannya yang kurus.
"Shit! Jangan bereaksi," tubuhnya terhentak pelan. Ia mengulurkan tangannya perlahan menuju daerah selatan tubuhnya, menyentuhnya, dan mengusapnya. Otaknya memerintahkannya untuk berhenti, untuk bertahan, untuk kembali menjadi dirinya yang bersikap penuh kesombongan dihadapan siapapun yang dapat terpesona oleh kehadirannya, tapi tangannya yang nakal menolak untuk menuruti. Dan saat bayangan pria bersurai hijau itu kembali datang, perlakuan dibawah sana berubah menjadi sebuah remasan lembut yang membuatnya melenguh dengan suara redam. Sangat lirih, dan bergetar.
Sanji tidak mengenakan celana, atau bahan apapun untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Hanya sebuah kemeja putih yang terlampau besar milik Ichiji yang terjulur panjang mencapai pahanya ―kemeja yang diberikan paksa oleh Ichiji saat Sanji begitu mabuk dan berakhir di kamar sang kakak. Sanji tidak ingat dia menyimpannya, bukan juga ia menyukainya, tapi ia merasa kemeja itu akan menjadi pakaian yang tepat saat ia membuka lemari pakaian untuk berganti dan menemukan kemeja putih itu disana.
Ia merasa seksi.
Andai saja Zoro bisa melihatnya sekarang, dengan pakaian yang minim, sedikit lirikan mata dan decakan yang sensual, Sanji bisa membayangkan pria itu akan berjalan mendekat dan menaiki tubuhnya.
Mereka tidak akan saling menatap, paling tidak bukan untuk waktu yang lama. Pria itu jelas akan segera menariknya mendekat dan mengusapkan bibirnya ke seluruh permukaan kulit Sanji yang putih menggoda, meninggalkan bercak kepemilikan di sana, merabanya dengan jemarinya yang kasar dan tak tergoyahkan, dan membisikkan namanya dengan suara berat menggairahkan tepat di telinganya.
"Akh!" tubuh ramping itu terhentak, bersamaan dengan desakan rasa nikmat yang nyaris menyakitkan.
"Oh, aku tidak tahu kau bisa seantusias itu saat memikirkanku,"
Sanji seperti terbentur dengan keras, cukup keras untuk membawanya kembali dan membuka mata. Ia merasa sangat bodoh karena larut terlalu dalam di dunia khayalnya sampai tidak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Dengan cepat dia menarik selimut tidak berbentuk yang hampir setengahnya berada di bawah tubuhnya dan berusaha mendudukkan diri.
Ketegangan yang menyenangkan itu turun dengan cepat saat ia melihat wajah Ichiji yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Harus berapa kali kukatakan untuk mengetuk pintu sebelum kau masuk, sialan," desis Sanji, tangannya dengan cekatan melilitkan selimut ke bagian bawah tubuhnya yang terbuka. Matanya yang biru jernih berkilat marah menatap sang kakak yang malah membalasnya dengan senyuman nakal.
"Kau tidak bisa memerintahku, sayang, ini rumahku, dan peraturanku," kata Ichiji, menyamankan dirinya di samping Sanji sebelum mengulurkan tangannya yang besar untuk menarik wajah adiknya mendekat. "Atau perlu kuingatkan kau lagi tentang hal itu?" bibirnya beralih menuju pipi Sanji untuk mengecupnya dan menggigitnya perlahan.
Sanji tidak ingat sejak kapan Ichiji mulai suka menyentuh dirinya seperti ini. Dan bukan berarti dia menyukainya, tapi bukan juga membencinya. Sudah berapa lama dia mengaharapkan kasih sayang itu dari pada saudaranya, yang menyedihkannya hampir tidak pernah ia rasakan. Ia bahkan ingin tertawa saking gelinya.
Sejak kecil Sanji memang lemah, cukup lemah untuk ukuran seorang vampir, belum lagi dengan status darah murni yang seharusnya menjadikan dirinya beberapa tingkat lebih kuat dibandingkan dengan vampir lainnya.
Sanji adalah barang gagal.
Paling tidak itu yang dikatakan oleh ayah dan para saudaranya.
Orang lain tidak tahu bahwa dia adalah bahan guncingan menyenangkan bagi para saudaranya. Bahkan ayahnya, sang raja terdahulu selalu menatapnya dengan cara merendahkan. Hanya kedua wanita keluarga Vinsmoke yang memberikan sedikit warna di kehidupan abu-abunya yang kelam, sebelum semua orang tahu bahwa dia memiliki darah istimewa yang mengalir di tubuhnya dan membuat dunianya berputar.
Paling tidak ayah dan ketiga saudara laki-lakinya tidak lagi bersikap jahat kepadanya.
Seperti ini, Sanji selalu membiarkan Ichiji menyentuhnya, meskipun dia harus merapatkan giginya kuat-kuat saat rasa kecewa itu kembali datang. Rasa kecewa karena perhatian sang kakak datang begitu terlambat. Tapi Sanji tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia menyukai sentuhan-sentuhan kecil itu, yang bahkan tidak terasa begitu hangat.
"Kupikir kau ingin mengatakan sesuatu saat datang ke kamarku."
Ichiji hanya bergumam menanggapi perkataan Sanji, bibirnya sibuk bergerak mengecupi dan menggigiti pipi ranum adiknya yang terasa begitu lembut. Tangannya yang besar menyelinap masuk dan mengangkat kemeja yang dikenakan Sanji ke atas, memperlihatkan pinggang ramping pemuda itu.
"Ichiji..." Sanji memberi peringatan sambil berusaha untuk menurunkan kembali tangan Ichiji. "Ayolah jangan seperti ini, ini menjijikkan," tambahnya.
Bibir Ichiji berhenti bergerak. Wajah tampan itu berubah kaku. Laki-laki tertua keluarga Vinsmoke itu menatap Sanji melalui sudut matanya yang tajam. "Katakan padaku bagian mana dari apa yang kulakukan yang terlihat menjijikkan di matamu?"
Suara itu penuh dengan emosi yang tertahan. Walaupun tidak sampai titik dimana terdengar seperti erangan hewan buas, tapi mampu membuat tubuh Sanji bergetar saat mendengarnya. "...Kau..." ,hening beberapa saat. "...Tidak perlu menciumi pipiku sampai seperti itu, lagipula kita saudara,"
"Lihat aku Sanji," Ichiji mendorong tubuh Sanji hingga berbaring, dan menahan dada Sanji dengan telapak tangannya yang besar dan kuat. "Katakan padaku―"
Sanji menelan ludahnya melewati tenggorokannya yang tiba-tiba terasa begitu sempit. Tatapan mata sang kakak yang lurus menatapnya itu membuatnya takut. Ia sudah menghabiskan banyak waktu dengan semua saudaranya, dan hafal betul kapan dia harus berdansa mengikuti alur permainan agar tidak membuat semuanya menjadi lebih kacau dari apa yang telah terjadi. Ichiji akan memberikannya sebuah pertanyaan, mungkin sebuah pertanyaan yang bodoh, tapi Sanji tahu bahwa ia tidak boleh sampai salah menjawab.
Atau semuanya akan berakhir buruk.
"Siapa pemilik seorang Sanji Vinsmoke?"
Saliva itu tertelan sekali lagi, dan terasa begitu sulit sebelum Sanji menjawab dengan cicitan pelan, "Ichiji, Ichiji Vinsmoke,"
Sanji berusaha menembus ke dalam bola mata Ichiji, mencari jawaban atas kata-kata yang keluar dari bibirnya, dan baru bisa bernafas lega saat ekspresi puas itu terukir di sana. Ichiji menerima jawaban itu. Dan dia merasa bangga. Sangat bangga mengetahui bahwa adiknya mengerti posisinya. Sanji bisa melihat itu dengan jelas.
Sebuah lengkungan indah membentuk kedua sudut bibir Ichiji naik, yang berhasil membuat wajahnya terlihat semakin tampan.
Dan sialnya dia memang tampan. Tampan dan menakutkan. Rutuk Sanji.
Belaian itu kembali datang menghampiri pipinya. "Benar sekali sayang, kau milikku. Bukankah aku terlalu baik?" Ichiji mendengus sembari tersenyum geli. "Membiarkanmu bermain-main dengan kedua putra keluarga Dracule, berapa kali sudah mereka memasukimu disini?"
Sanji terkesiap saat jari kasar Ichiji menyelinap masuk ke dalam selimutnya dan menyentuh lubang mungilnya di bawah sana. Kalian memang sedang berhubungan intim. Reiju seperti berbisik di telinganya, mencemoohnya. Dan hal itu membuat nafas Sanji tercekat. Ichiji tidak akan melakukannya kan? Tolong katakan bahwa Ichiji masih punya sedikit kesadaran diri untuk tidak meniduri adik kandungnya sendiri. Karena Sanji sangat yakin dia tidak menginginkan hal itu.
Ia pikir hanya Reiju yang tahu? Bukankah seharusnya memang begitu? Atau ia teramat bodoh sampai tidak menyadari bahwa ada orang lain yang mengetahui waktu bermainnya yang singkat dengan kedua putra keluarga bangsawan itu?
Bodoh, mungkin semua orang tahu.
"Berapa kali, hm?"
Ichiji menekan jarinya lebih keras. "Tiga! Demi Tuhan Ichiji jauhkan jarimu dari sana!" ucap Sanji susah payah. Kakinya bergerak berusaha menendang, tapi tubuh Ichiji yang berada di antara kedua pahanya tidak membuat keadaan menjadi mudah.
Ini pertama kalinya Ichiji bertindak sejauh ini. Si rambut merah sialan itu tidak pernah menyentuhnya disana. Dia hanya mencium, menjilat, dan membelai seluruh permukaan tubuhnya. Walaupun Sanji mengakui itu sudah berlebihan untuk tingkatan saudara, tapi Sanji masih bisa menahannya. Dan sekarang rasa cemas itu benar-benar datang.
"Dan hari ini aku mencium aroma lain dari tubuhmu," kata Ichiji, memaksakan kedua jarinya memasuki lubang mungil itu, membuat Sanji mendongak dengan mata terpejam. Bibirnya digigit dengan kuat, sebisa mungkin berusaha menahan suara yang sudah tertahan di tenggorokannya. Tangannya dengan kasar mencakar lengan Ichiji, memintanya untuk berhenti menjadikan mimpi buruk itu semakin nyata.
"Pria lain, seorang manusia, begitu dekat, dia menyentuhmu, hm?" rasa tidak suka terpancar jelas di wajah Ichiji, dan dia sama sekali tidak bersusah payah untuk menyembunyikannya.
Dua jari di dalam sana menekuk dan bergerak memutar, Sanji bisa merasakan ujung kuku jari Ichiji yang tajam seperti menggoreskan ukiran kepemilikan di sana. Begitu perih, dan gatal.
"Kuda! Dia, akh! berhenti," Sanji memohon lagi, sambil mencoba untuk bergerak menjauh, menendang, apapun yang bisa ia lakukan. Tapi tubuhnya tidak bergeser sedikitpun dibawah kendali Ichiji. Seandainya dia tidak selemah ini. "Dia membantuku untuk memberhentikan kudaku!" teriak Sanji dengan nafas yang tersenggal.
Dan pergerakan tangan Ichiji berhenti dalam detik yang cepat. "Oh?" gumamnya. "Haruskah aku percaya? Aromanya tercium sangat kuat, Sanji, kau tidak berusaha untuk menipuku kan?" Ichiji memiringkan kepalanya ke samping dan melemparkan senyuman datar setajam pisau yang terlihat menakutkan.
Sanji menggeleng dengan cepat, tidak mempedulikan rambutnya yang menjadi semakin kusut. "Sungguh," cicitnya, "Aku hanya membawanya ke restoran Zeff sebagai ungkapan terima kasih," tambah Sanji, "Kau percaya padaku kan Ichiji? Aku adik kesayanganmu kan?"
Wajah Ichiji berubah datar dan sedikit melembut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Sanji bersikap semanis ini, memohon dan merengek, dengan mata yang basah dan pipi yang merona menahan kesal. Seharusnya dia lebih sering melakukan ini, memaksa adiknya hingga semua kesombongan dan rasa percaya diri itu habis tak bersisa. Karena Ichiji lebih senang melihat Sanji yang lemah seperti ini, yang bersikap manja kepadanya, yang tidak berdaya di bawah kehendaknya, yang menatap memohon seperti ia tidak memiliki pilihan lain selain mengemis kepadanya.
Sejak kapan dia mulai suka menyentuh Sanji seperti ini? Sehari yang lalu? Seminggu yang lalu? Akhir bulan lalu? Dia tidak ingat, dan Ichiji tidak mau mempermasalahkannya. Yang pasti dia tahu bahwa sekarang dia menyukainya.
"Ya, kau adik kesayanganku. Adikku yang paling manis," saat Ichiji menurunkan wajahnya, kedua bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman. Tidak kasar, juga tidak lembut.
Sementara Ichiji menikmati memagut bibir sensual milik adiknya, Sanji terus berusaha untuk menekan rasa mual yang bergolak hebat di dalam perutnya.
Ciumannya sama seperti ciuman lain yang pernah Sanji rasakan, tapi kenyataan bahwa Ichiji, kakak kandungnya yang sedang melumat habis bibirnya yang membuatnya merasa ingin muntah. Sanji hanya berharap Ibu mereka di surga tidak melihat hal ini terjadi. Astaga, dia tidak akan punya muka.
Ichiji menempelkan bibirnya dengan bibir Sanji setelah ia merasa cukup puas dengan semua lumatan dan gigitan yang ia berikan, "Sejak kapan menyentuhmu terasa semenyenangkan ini?" tanya Ichiji dengan suara yang tidak sabar dan berat. Nafasnya yang cepat dan bibirnya yang sedikit bergetar memberitahu Sanji bahwa ini tidak akan menjadi sebuah keadaan yang menyenangkan. Ichiji sedang bergairah. Dan dia tidak ingin berada di sana untuk menerima gairah itu.
"Ichiji, besok pertemuan, kau tidak bisa membuatku berjalan pincang di tengah kerumunan. Aku tidak mau berjalan menyeret kakiku di lantai dansa seperti seekor keledai dengan luka di lututnya." Sanji berujar dalam satu tarikan nafas yang cepat. "Aku akan terlihat konyol, dan paman Don akan menertawaiku dengan tawa khasnya yang menyebalkan. Kecuali kalau kau memang ingin aku menjadi bintang utama pesta,"
Sanji memuji dirinya sendiri atas otaknya yang cerdas dan kelihaiannya dalam membentuk pola suatu kalimat seperti yang sudah dipelajarinya selama bertahun-tahun.
Akhirnya, itu bukan hal yang sia-sia.
Dan Ichiji menyerah dengan rentetan kalimat itu. Dia mengeluarkan kedua jarinya, dan menjauhkan tubuhnya dari Sanji. Adiknya benar, dia tidak ingin menjadikan Sanji bintang utama pesta. Tidak usah seperti itu saja semua orang sudah berkerumun seperti lalat di sekitarnya. Sanji tidak butuh perhatian lebih dari orang lain kecuali darinya.
Lidah Ichiji bergerak menjilat bagian atas bibirnya sendiri saat ia menurunkan pandangannya dan melihat lubang mungil itu berkedut, menutup dan membuka dengan gerakan lucu seperti menggodanya. Memintanya untuk kembali mempermainkannya dengan jemarinya dalam gerakan-gerakan kasar.
Laki-laki tertua keluarga Vinsmoke itu berdecak dan memutuskan untuk memalingkan wajahnya sebelum ia kembali bergairah, "Benarkan pakaianmu, pelayan kesayanganmu sudah ingin menyampaikan sesuatu sejak tadi, bukan begitu, Marco?"
Sanji jelas kaget mendengarnya. Marco? Sejak kapan dia ada di sana? Oh Tuhan, jangan katakan Marco mendengar semuanya, tidak, jelas Marco mendengarnya. Rasanya Sanji ingin membunuh Ichiji dan melemparkan potongan tubuhnya ke hutan untuk menjadi santapan para hewan liar. Sanji tidak mengerti bagaimana Ichiji bisa tetap menyentuhnya sementara ia tahu Marco sedang berdiri di luar.
Saat wajah Marco muncul dari balik pintu, Sanji langsung memalingkan wajahnya, tidak ingin bertemu pandang dan melihat ekspresi sang pelayan. "Maaf mengganggu aktivitas kalian, tuan," Marco memberi jeda pada kata-katanya, dan melirik ke arah Sanji sebentar dengan raut wajah yang terlihat cemas. "Saya hanya ingin menyampaikan bahwa nona Califa dan tuan Cavendish sudah berada di ruang tunggu keluarga dan menantikan kehadiran anda berdua."
Sanji menggeram jengkel. Harus berapa kali ia mendapatkan kejutan buruk hari ini? "Seingatku Reiju bilang pertemuannya akan diadakan besok?" tanya Sanji dengan nada tinggi.
Marco menghela nafasnya. Ia tidak bermaksud untuk selalu menyampaikan berita yang tidak ingin didengar oleh tuan mudanya. Tapi dia hanyalah seorang pelayan yang tidak mempunyai pilihan dalam hal ini. "Maafkan saya tuan, nona Califa bilang bahwa ia sedang berada di Paltha untuk suatu keperluan dan memutuskan untuk lebih dulu datang ke Folkery karena tidak ingin memutar balik perjalanan ke Dressrosa lalu kembali lagi ke sini."
Ichiji tersenyum tipis sembari melirik Sanji yang masih terlihat kesal. Wajah ketus dengan segala kekakuan itu terlihat sangat manis di mata Ichiji. Oh, betapa ia menyukai adiknya yang satu ini, "Apapun yang ia katakan tidak akan merubah fakta bahwa mereka telah sampai di sini,"
Sanji memutar kepalanya sangat cepat dan membalas lirikan itu dengan tatapan tajam. Seperti ia tidak tahu itu, Ichiji tidak perlu memberitahunya. "Keluar, aku ingin berganti pakaian" ujarnya dengan nada angkuh. Ia bergerak bangkit sambil menarik turun kemeja Ichiji saat tangan Ichiji dengan cepat memeluk pinggangnya.
Bangsawan tertinggi diantara para vampire itu tersenyum penuh arti yang terlihat sangat menggoda "Pakaian itu sudah sangat indah membingkai tubuhmu," ucapnya, "Dan aroma khas diriku ini menambah nilainya."
Marco tidak bisa untuk tidak menutup kedua matanya mendengar kalimat itu. Jelas ruangan milik Sanji itu penuh dengan aroma khas Ichiji yang menggoda dengan ledakan gairah. Pelayan itu jelas mengkhawatirkan tuan mudanya, karena ini pertama kalinya ia menemukan Ichiji dengan aroma yang teramat kuat seperti ini.
Marco hanya tidak ingin Sanji terlibat dalam gairah itu, karena ia berani bertaruh bahwa Sanji juga tidak ingin menjadi bagian dalam permainan sang raja.
Sanji menyentak tangan Ichiji dengan keras. Ia sungguh geli. Sejauh mana Ichiji ingin mempermainkannya? Lebih baik Sanji memakai pakaian pelayan yang lusuh daripada harus memberitahu semua orang bahwa mereka telah selesai bercumbu. Bercumbu? Konyol, tapi itu kata yang paling tepat.
"Aku senang atas perhatianmu, sekarang kalau kau memperbolehkanku, aku berniat untuk mengganti bajuku yang sudah tidak layak untuk menyambut tamu."
Ichiji bangkit berdiri dan melemparkan seringai kecil sembari membungkuk "Yes, my lady"
"Sialan kau!" umpat Sanji. Wajahnya merah padam, semerah beludru yang menghiasi lantai kamar sang kakak.
...:::...ZoSan...:::...
"Oh Sanji! Lihat betapa aku merindukanmu" Cavendish, sepupunya yang juga merupakan seorang Duke itu menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat. Kapan terakhir kali mereka bertemu, Sanji tidak terlalu ingat, yang pasti itu terjadi saat acara pertemuan para bangsawan musim lalu. Dan sekarang rambut sepupunya itu sudah semakin panjang, gila, itu sudah menyentuh pinggulnya. Tidak bisa dibilang tidak cocok dengan wajah secantik malaikat itu. "Kau semakin tampan sejak terakhir aku melihatmu"
"Yah, rambutmu juga semakin panjang. Dan kau lebih tampan dariku Cav," balas Sanji sembari menepuk pelan punggung sepupunya.
Senyuman yang mampu melelehkan hati para malaikat Tuhan terlukis di wajah cantik Cavendish, begitu senang mendengar pujian yang dilontarkan Sanji. "Aku tahu itu" bisiknya.
"Ck, sampai kapan kau mau memeluknya? Berikan giliranku juga" ujar Califa yang sudah berkacak pinggang. Melihat dua pria bersurai pirang ditambah wajah mereka yang serupa malaikat itu sedang bersama terlalu menyilaukan mata, membuat Califa gemas sendiri ingin memisahkan mereka.
Cavendish mempererat pelukannya, belum ingin melepaskan Sanji, "Kau perusak suasana, Califa. Aku sedang membayar rasa rinduku pada Sanji." Kata Cavendish dengan suara yang mengalun lembut, berhasil membuat Ichiji memutar kedua bola matanya.
Sanji menghela nafasnya dan mendorong tubuhnya menjauh dari Cavendish, membuat pria cantik itu menggembungkan pipinya yang membuatnya terlihat lucu dan manis. Dia berjalan mendekati Califa yang langsung memeluknya dan mendaratkan kecupan singkat di pipinya "Lama tidak bertemu, bibi."
Kerutan kecil singgah di dahi Califa, "Aku sudah berulangkali bilang padamu aku tidak suka panggilan itu. Aku masih begitu muda, dan itu sebuah pelecehan." Ucap wanita itu sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Yah, hanya 130 tahun, kau masih muda sekali." Ucap Ichiji yang sedang duduk bertopang dagu, bosan melihat Sanjinya yang mejadi pusat acara pegang-memegang. "Dan yang kau lakukan kepada Sanji itu yang disebut pelecehan." Tambahnya.
"Mou! Kau tidak bisa bicara begitu Ichiji, aku kan hanya memeluk keponakanku. Dan kau tidak perlu dengan jelas menyebutkan umurku, lagipula kalau hitungan umur manusia aku masih muda." Balas Califa yang semakin lama semakin terdengar seperti gumaman, tapi dia juga melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh, tidak mau mencari masalah dengan sang Raja.
"Jadi, pertemuannya tetap diadakan besok? Di Falkery?" Reiju buka suara, setidaknya ia ingin mengalihkan topik pembicaraan agar adik kecilnya bisa segera duduk. "Bukankah ini sangat mendadak? Paman Don mengirimkan surat padaku tiga hari yang lalu, dan sekarang kalian sudah berada disini."
Califa menyamankan dirinya di sebelah Yonji yang langsung merangkulnya, yah, semua kalangan vampir tahu bahwa Califa menaruh perhatian khusus kepada anggota keluarga kerajaan yang satu itu. "Kurasa tidak ada alasan khusus, pertemuan terakhir diadakan dua musim yang lalu, itu sudah terlalu lama, setidaknya Don berpikir begitu." Ucap Califa. "Kalian tahu kalau dia sudah memperluas wilayah kekuasaannya ke Wistandhl kan? Mungkin dia ingin membuat suatu perayaan."
"Pada dasarnya dia memang suka berpesta." Sambung Niji.
"Itu benar, tapi kalau terlalu mendadak seperti ini jangan salahkan aku kalau pertemuan nanti tidak seperti yang kalian harapkan. Aku masih harus bolak-balik ke kota, kau tahu, sebentar lagi Folkery akan berganti musim, dan banyak yang harus kuurus." Kata Reiju, mengambil cangkir tehnya dan meminumnya sedikit.
"Tidak masalah sayang, kami cukup hadir dan sebuah pesta akan terjadi, kau tidak perlu memikirkan itu, lagipula kita sudah punya bintang pesta disini" Califa melirik Cavendish yang membalas lirikannya dengan sebuah kedipan mata.
Dan pembicaraan itu terus berlanjut sementara Sanji hanya duduk diam tidak mendengarkan. Dia tidak peduli, dan sejujurnya dia tidak ingin menghadiri acara pertemuan itu. Dia sedang tidak ingin bertatap muka dengan kedua putra keluarga Dracule, ia lebih ingin bertemu dengan pria bersurai hijau itu lagi, Roronoa Zoro.
Sanji ingin merasakan kehangatan tubuh itu sekali lagi, tidak, tidak cukup sekali, dia ingin merasakannya berkali-kali sampai tidak terhitung jumlahnya.
...:::...ZoSan...:::...
Setelah melalui perdebatan hebat karena Cavendish ingin tidur di kamar Sanji malam ini, sementara Ichiji terus menatap pria cantik itu dengan tatapan membunuh, Sanji akhirnya bisa membujuk Cavendish untuk tidur di kamar tamu. Kalau tatapan bisa membunuh, Sanji yakin Cavendish sudah mati sejak beberapa jam yang lalu.
Benar-benar hari yang melelahkan.
Dan besok akan lebih melelahkan lagi.
Apa besok Zoro sudah mulai bekerja di toko Pauli? Tidur dimana pria itu sekarang? Apa pria itu punya cukup uang untuk membeli makan malam hari ini?
Sanji menatap sendu bayangan pepohonan dari jendela kamarnya yang besar, ia tidak yakin sudah berapa lama ia berdiri disana sambil memeluk tubuhnya sendiri. Rasanya ia ingin membuka jendela dan berjalan menuju balkon kamarnya, menatap ke bawah dan menemukan sosok Zoro disana. Tapi Sanji tahu pria itu tidak akan ada disana.
Dia menyeret kakinya kembali ke tempat tidurnya, dan mencoba menutup matanya untuk melewati malam yang panjang. Semoga pesta pertemuan besok berlangsung sangat cepat, karena ia ingin segera pergi ke kota, dan menemui pria bersurai hijau itu.
.
.
.
To Be Continued
Yuuna adsjhdkslfk makasih banyak lho! iya itu Zoro, kalau Law... dinantikan saja eheheh
Panda Blackwhite Makasih banyak untuk supportnya! iyalah Sanji pasti naksir Zoro, kan dia keyen. lol
trrrr OK!
Chococinno Brwon Sugar kenapa ya? ahahah. Sekali-kali gitu pertemuan mereka ada di adegan bahaya, lol
the fangirl in a wheelchair makasih untuk supportnya!
roliepolie124 asddfjgkljk seneng banget ada yang cinta ZoSan, tapi gomen belom ada moment mereka lagi lol
kiyo OK!
KTSN thank you so much!
Do-S 1412 tenang, nanti ada moment mereka lagi kok, thank you!
Jo thank you so much! semoga kamu masih suka baca ff ini
A/n: makasih banyak buat semua yang udah review, aku cinta kalian! bisa lanjut lagi kapan ya...?
With Love,
Cndy
