PUTRA DRACULE

Author: Prissycatice

Pairing: ZoSan – Zoro x Sanji, Other x Sanji

Disclaimer: They belong to Odacchi, not mine

Genre: Romance And huge Drama

Rating: M /untuk percakapan dan darah dimana-mana

Warnings: Yaoi. OOC. Alur Kecepetan. Typos. Abal.

You've been warned


"Stop! Pencuri!"

Suara kecil seorang wanita yang melengking tinggi terdengar dekat di belakang Zoro, membuat kerutan kecil bermunculan di persimpangan kedua alisnya yang menukik. Banyak kepala menoleh ke arah wanita yang terlihat bersusah payah mengangkat gaun muslinnya di tengah jalan St. Giles yang sungguh ramai itu, yang tidak sepantasnya dilakukan, dan bersiap untuk berlari.

Zoro sedang dalam perjalanan menuju toko Pauli setelah membeli beberapa barang atas permintaan atasannya saat wanita itu berteriak. Sekarang sudah hampir pukul lima sore, dan ia tidak berharap untuk bertemu dengan masalah dalam satu jam terakhir masa kerjanya hari ini, karena Zoro yakin ia pasti akan masuk ke dalam masalah itu ꟷsatu hal yang entah mengapa menjadi keahliannyaꟷ mengingat ia tidak bisa tinggal diam melihat hal-hal tidak menyenangkan terjadi di depan matanya.

Zoro merasakan sebuah benturan kecil yang begitu tergesa pada lengan kirinya saat ia menoleh ke belakang, dan merasa amat tidak senang saat menemukan fakta bahwa si pencopet adalah seorang anak kecil. Ia hampir melontarkan rentetan sumpah serapah, yang ajaibnya berhasil ia tahan pada ujung lidahnya.

Demi Tuhan, anak itu terlihat tidak lebih tua dari usia sembilan tahun.

Dengan langkah lebarnya Zoro memperkecil jarak diantara mereka dan menarik lengan anak itu dengan hentakan kasar, menyeretnya ke sebuah gang sempit diantara dua toko pakaian, tempat dimana pramuniaga biasa mengeluarkan sampah-sampah berupa debu dari lantai-lantai toko. Ia bisa melihat kaki dan tubuh bocah itu yang gemetar. Tangannya yang kurus berusaha menutupi wajahnya sambil memegang erat sebuah tas serut oranye yang terlihat mahal, jelas ketakutan dibawah tatapan tajam pria tinggi di hadapannya.

"Oh Tuhan! Syukurlah kau menangkapnya." Wanita pemilik tas serut itu berdiri di ujung gang dengan rambut yang sedikit berantakan di bawah topi bonnetnya yang cantik. Ia masih mengangkat gaun muslin hijaunya, dan jelas terlihat kecapaian dengan nafasnya yang cepat dan pendek. "Aku ingin tas serutku kembali." Tukasnya sambil mengulurkan sebelah lengan.

Zoro melirik sebentar pada wanita itu, lalu kembali menunduk untuk melihat wajah si bocah yang sudah sepucat kertas. "My Lady," sapanya tidak yakin. Ia berusaha melembutkan suaranya yang serak dan kasar, "Aku bisa pastikan anak ini akan mengembalikan tasmu. Tapi bisakah aku meminta agar kau berbaik hati untuk tidak melaporkannya?"

Untuk sesaat wajah bocah itu kembali berwarna, walau tidak berubah banyak, sebelum mendengar decakan dari sang wanita pemilik tas, "Oh omong kosong!" katanya, yang membuat aliran darah bocah itu meluncur turun dengan cepat dari kepalanya, kembali pada kakinya yang gemetar. Ia berusaha menyembunyikan tubuh kecilnya dibalik tubuh Zoro yang besar.

Wanita itu terkikik, "Aku memang tidak bermaksud melaporkannya. Aku hanya ingin tasku kembali, di dalamnya ada gelang pemberian yang penting."


Setelah tas itu kembali, dan dengan sebuah jitakan kecil serta ucapan janji, wanita itu memberikan sedikit uang pada sang bocah yang membuat sebuah lengkungan lebar terbentuk pada wajah si pencopet yang terlihat tidak berdosa. Ia bahkan melompat riang saat keluar dari lorong, meninggalkan Zoro berdua dengan si wanita bangsawan.

Zoro yakin keadaan lah yang membuat anak sekecil itu bisa mencuri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kejamnya dunia yang menempa tubuh kecil itu setiap harinya. Ia sungguh berharap ia bisa membantu. Sayangnya dengan keadaannya yang sekarang, ia tidak akan bisa membantu banyak.

Zoro melihat wanita itu mencoba membetulkan rambut merah kecoklatan yang terlepas dari gelungan-gelungan kecil di kepalanya sebelum mengikat topi bonnetnya kembali dan memastikan tidak ada sisa-sisa debu yang menempel di ujung gaunnya yang terlihat baru. Jelas wanita itu tidak mau gosip menyebar lebih buruk dari yang sebenarnya terjadi.

Setelah ia memastikan bahwa ia terlihat cukup pantas untuk kembali berjalan di St. Giles, ia menegakkan tubuh dan menatap Zoro, "Terima kasih sudah membantuku mendapatkan tasku kembali."

Zoro memperhatikan wanita itu sebentar. Mengagumi kecantikan dari rangkaian yang terbingkai pada wajahnya yang putih dengan sedikit rona merah yang pas pada tempatnya. Iris mata kecoklatan yang berkilau seperti batu Kristal kecil menambah daya tariknya, disertai dengan dada ranum yang hampir tidak tertutupi oleh gaun dengan belahan dada yang rendah. Tapi Zoro tahu dari sorot matanya, dan lengkungan kecil di sudut bibir wanita itu, bahwa wanita ini adalah tipe wanita yang sebaiknya tidak didekati olehnya.

"Tidak masalah, Miss. Sekarang kalau kau mengizinkanku, aku harus kembali ke tokoku. Sebaiknya kau lebih berhati-hati." Zoro membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum berbalik dan mulai melangkah saat suara wanita itu kembali terdengar.

Dan suaranya terasa selembut beludu termahal yang ada di toko Pauli, "Setidaknya biarkan aku tahu nama orang yang telah membantuku." Ucapnya. Wanita itu maju selangkah mendekati Zoro dan menyentuh lengannya dengan lembut namun penuh kuasa, "Aku Nami. Bolehkah aku mampir dan melihat benda-benda yang kau jual di toko?"

Zoro tidak bisa untuk tidak melihat lengan wanita itu yang mulai memeluk lengannya, juga payudara sekalnya yang berdesakan diantaranya. Ia berdeham pelan, mencoba menenangkan diri untuk tidak mengikuti godaan-godaan yang mulai bermunculan secara liar di dalam kepalanya. "Sejujurnya Miss, toko itu bukan milikku, aku hanya bekerja disana." Tapi kakinya tetap melangkah, diikuti oleh wanita bernama Nami itu yang berusaha mengimbangi dengan langkah-langkah kecilnya yang cepat.

Nami, nama yang cukup unik, yang jelas tidak berasal dari Folkery. Zoro bukan bermaksud untuk mengajak wanita itu yang membuat berpasang-pasang mata melirik ke arahnya dengan iri, tapi ia jelas tidak bisa dengan kasar menolak permintaan dari seorang wanita yang terlihat terhormat dan menimbulkan masalah baru yang lebih besar.

"Oh aku tahu itu, tenang saja, aku tidak sepenuhnya menyukai pria bangsawan." Dan Zoro memperingatkan dirinya untuk segera menjauhi wanita itu sebelum terjadi sebuah skandal, yang meskipun akan sangat menyenangkan, pasti merepotkan.


:::…ZoSan…:::


"Aku tidak tahu kalau Dad suka menjadi pusat perhatian" suara melengking yang disertai geraman rendah mengusik Sanji yang sedang berusaha menenangkan dirinya yang gusar. Ia berdiri dari kursi mewahnya dan berjalan ke arah satu-satunya jendela di kamarnya. Jendela itu terhubung dengan balkon, yang mengarah tepat pada hutan bagian timur yang merupakan akses masuk ke pusat kota.

Tidak ada seorangpun saudaranya yang ingin menempati kamar itu, kamar itu hampir selalu terkena cahaya yang mengintip dari balik pepohonan saat Folkery mulai memasuki musim panas, dan mereka tidak suka itu. Tapi Sanji jelas menyukainya.

Dia memang aneh.

Sanji tidak keluar ke balkon, ia hanya mengintip dari sudut yang tidak akan terlihat dari luar, dan mengumpat kasar saat melihat seluruh keluarga Dracule yang baru turun dari kereta kuda mereka.

Para bangsawan sudah mulai berdatangan rupanya.

"Perona, jaga sikapmu, aku yakin papamu tidak akan suka melihatmu bersikap seperti ini." Dracule Mihawk, kepala keluarga Dracule membalas perkataan putrinya dengan suara yang tenang, dan dalam.

Mata gadis berambut merah muda itu membelalak dengan geram ke arah ayahnya. "Jangan bawa-bawa Pop!" pekiknya, membuat anggota keluarga Dracule yang lain menghela nafas, bosan, terlampau sering melihat kejadian itu.

Sanji bisa melihat Reiju menyambut mereka untuk masuk ke dalam. Ia tahu dua 'putra' dari bangsawan Dracule melirik ke jendela kamarnya, mencoba untuk menemukan dirinya. Tapi Sanji segera masuk dan bersembunyi di balik tirai jendelanya yang tebal.

"Aku akan membenci ini" gumamnya. "Masuk, Marco"

Marco bahkan baru ingin mengetuk pintu kamar Sanji. Pelayan itu tidak mengerti kenapa tuannya seringkali tahu kalau ia sedang berdiri di luar, selain saat bersama Ichiji yang akan mengalihkan dunia Sanji sepenuhnya, tentunya.

Marco membuka pintu perlahan, kemudian membungkuk rendah sebelum menegakkan badan. "Saya ingin menanyakan apakah andaꟷ" pelayan itu terlihat ragu "Apakah anda perlu bantuan untuk hadir di perjamuan?"

Sanji ingin terbahak mendengarnya, tidak tahan dengan cara Marco memperhatikan dirinya yang terasa begitu lucu. Marco selalu menganggapnya seperti anak berumur lima tahun.

"Oh tentu Marco, aku butuh sedikit bantuan." Balas Sanji, dan Marco sudah akan menghampirinya saat Sanji berbalik memunggungi sang pelayan dan menatapnya dari samping dengan tatapan seorang gundik yang sedang menggoda tuannya. "Aku rasa aku kesulitan untuk mengancingkan bagian belakang gaunku, jadi bisakahꟷ?" ia sengaja tidak melanjutkan ucapannya.

Perkataan itu membuat wajah Marco terlihat asam. Pelayan setia itu memijat pelipisnya, hampir tidak mengerti bagaimana harus menghadapi tuannya yang satu ini. "Maafkan aku My Lord, bukan maksudkuꟷ"

"Aku mengerti, aku mengerti Marco" potong Sanji. "Dan terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja." Bangsawan itu menatap dirinya dari pantulan cermin, mengamati wajahnya yang terlihat lelah dan sedikit lebih pucat dari biasanya. "Terlihat begitu, benar?"

Marco menatap tuannya, tidak mengalihkan pandangannya dari tubuh kurus Sanji yang masih masuk ke dalam artian kata maskulin. "Kalau bisa kubilang begitu, My Lord. Tapi tubuh anda terlihat begitu kurus. Saya khawatir semua orang akan memaksa anda untuk menemani mereka dalam pembicaraan tidak menyenangkan yang akan berlangsung semalaman."

Dan kali ini Sanji tertawa dengan keras. Hanya Marco satu-satunya pelayan yang berani bicara seperti itu tentang bangsawan lainnya. Meskipun sepertinya Marco hanya melakukan itu di hadapan Sanji. Tapi Sanji menyukainya, karena ia seringkali sependapat.

Pelayan setia keluarga Vinsmoke itu melangkah maju dan berjongkok di depan kaki tuannya, membetulkan simpul yang terlepas dari sebelah sepatu hitam Sanji yang mulai terlihat usang. "Kurasa sebaiknya anda mengganti sepatu anda dengan salah satu sepatu baru yang dibelikan oleh nona Reiju." Usulnya. "Sepatu ini sudah terlalu sering anda gunakan saat bepergian keluar, kalau para bangsawan lain melihatnyaꟷ"

"Aku suka sepatu ini, Marco. Ini hadiah pertama dari Reiju setelah orangtua kami mati." Potong Sanji lagi. Ia menghela nafas sebelum tertawa kecil, membuat Marco mendongak untuk melihat sang tuan, "Aku ingat dengan jelas saat itu Reiju belum pandai dalam hal seperti ini. Dia membelikan sepatu dengan ukuran yang terlalu besar untuk kakiku. Dan baru setahun yang lalu aku bisa memakainya."

Marco jelas mengingatnya. Ialah yang mengantarkan Reiju untuk membeli sepatu itu di pusat kota. Melihat bagaimana satu-satunya wanita yang tersisa dari keluarga Vinsmoke itu mencoba untuk menghibur Sanji yang sedang berduka, meskipun ia berada dalam keadaan yang tidak jauh berbeda.

Saat membeli sepatu itu, Marco hanya mengantarkan Reiju sampai di depan toko, dan berdiam di luar untuk menjaga kereta kuda mereka. Gadis dengan helaian rambut merah muda itu keluar dari toko dengan menenteng beberapa bingkisan. Reiju tidak melupakan seorangpun. Ia membelikan masing-masing satu pasang untuk keempat adik laki-lakinya, meskipun ia tidak terlalu menyukai ketiga adiknya yang lain.

"Ya, saya rasa saya mengerti bahwa ini adalah sepatu kesukaan anda. Tapi My Lord, saya yakin tuan Ichiji tidak akan senang melihat anda mengenakannya untuk hadir di perjamuan." Kata Marco, memaksa dirinya untuk berdiri dan merapihkan kerah kemeja Sanji. "Anda pasti tahu bahwa Lord Donquixote sangat jeli terhadap hal-hal seperti ini. Dan saya tidak ingin melihat anda berada di dalam kamar tuan Ichiji semalaman, hanya karena masalah sepele yang bahkan tidak dipedulikan olehnya."

Marco yakin, sangat yakin Ichiji akan menggunakan alasan apapun itu jika memang dengan begitu ia akan bisa mengurung Sanji seharian di dalam kamarnya. Belakangan sifat tuan besarnya itu berubah, begitu berbeda saat menyangkut Sanji.

Dari semua wanita dan pria dari kaum bangsawan yang mempesona, terpikat pada adik sendiri merupakan suatu hal yang sangat menyedihkan. Marco selalu berusaha menulikan pendengarannya dari desahan-desahan yang keluar dari bibir Sanji saat kedua orang itu bersama. Suara-suara serak yang tertahan itu seperti merayap pada dinding-dinding yang ia lewati, seakan membisikkan lolongan permintaan tolong dari tuan mudanya yang terasa meremas jantungnya.

"Sanji?" kepala Cavendish menyembul dari balik pintu, membuat Sanji dan Marco menoleh ke arahnya. "Oh! Lihat betapa indahnya dirimu!" mata Cavendish berbinar senang ketika melihat sepupunya dengan dandanan formal yang begitu rapih. Dan Sanji menghela nafas untuk kesekian kalinya. Tidak bisakah para saudaranya mengetuk pintu dan menunggunya untuk mempersilahkan masuk, benar-benar tidak sopan.

"Aku belum selesai berganti pakaian My Dear, bisakah kau menunggu sebentar diluar?" Sanji memaksakan sebuah senyuman terpasang di wajahnya. Cavendish merupakan salah satu penggosip terbaik dari kaum bangsawan, dan selalu merasa paling hebat ketika ia bisa menemukan berita-berita, yang akan sedikit ia lebih-lebihkan, untuk diceritakan kepada bangsawan lainnya. Sanji hanya bisa berharap Cavendish tidak mendengar pembicaraannya dengan Marco.

Dan sepertinya pria itu tidak mendengarnya, atau melupakannya dengan cepat, karena Cavendish justru terkikik dengan wajah malu-malu. Terlalu senang dengan panggilan 'My Dear' yang ditujukan untuknya. "Oh Sanji, sayangku," Cavendish membuat suaranya terdengar semanja mungkin. "Kau pasti tahu aku akan lebih senang melihatmu berganti pakaian sambil bersantai di ranjangmu."

Oh Tuhan, Sanji merinding mendengarnya.

Cavendish membuka pintu lebih lebar, yang membuat Sanji membatu. "Lagipula aku hanya membantu dua pangeran ini agar bisa bertemu denganmu." Sanji sudah tidak mendengarkan Cavendish yang masih berceloteh. Iris mata birunya yang jernih tidak bergeser dari kedua pria bangsawan Dracule yang berdiri di belakang sepupunya.

Kedua pria itu ꟷGin dan Law, terlihat begitu liar dengan baju dan rambut hitam mereka yang dibiarkan berantakan, ciri khas pria keluarga Dracule yang terlihat tidak bersahabat. Sangat kontras dengan Cavendish yang bersinar secerah lampu-lampu jalan di samping taman St. giles pada malam hari.

"Nah, kurasa aku akan meninggalkan kalian." Cavendish menepuk kedua sahabatnya sambil mendorong mereka dengan lembut. "Dan Marco, bisakah aku minta bantuanmu untuk memasangkan cravatku? Aku ingin mencoba gaya-gaya terkini yang sedang populer di Folkery." Pria bergelar Duke itu tersenyum lembut ke arah Marco sambil menggerakkan jemarinya yang cantik.

Marco bisa merasakan kebohongan dari kata-kata Cavendish. Pria itu tahu semua gaya terbaru, mungkin ia lebih tahu dari semua orang di Grandline. Cavendish hanya ingin membuatnya keluar dari kamar Sanji, dan membiarkan kedua putra keluarga Dracule memiliki waktu dengan tuan mudanya tanpa gangguan dari siapapun. Oh itu akan menjadi gosip yang bagus. Sekarang Sanji tahu dari mana Ichiji mengetahui waktu bermainnya. Kenapa ia bisa sampai lupa.

"My Lord?" Marco akan menanyakan pendapat Sanji, dan jika tuannya meminta ia untuk tinggal, pelayan itu akan berada di sisinya.

Sanji berjengit ketika kedua pria berambut hitam itu mulai masuk ke dalam kamarnya. Ia sungguh jengkel, kenapa ia bisa merasa segusar ini. "Tidak apa-apa Marco," suaranya terdengar serak, bahkan untuk telinganya sendiri. "Bantulah Cavendish, aku akan bicara sebentar dengan Gin dan Law."

Masih belum mengalihkan pandangannya, Marco ingin memastikan sekali lagi, dan Sanji memberi isyarat dengan menggeser dagunya. Pelayan itu membungkuk dan mengikuti Cavendish yang keluar dari kamar Sanji sambil melambaikan tangannya.

Tatapan mata Sanji berubah menjadi sedingin es saat suara pintu yang tertutup mampir ke telinganya. "Aku senang kalian menyempatkan diri untuk datang." Ia melemparkan senyum yang sama dinginnya, dan mengulurkan tangan pada dua pria dihadapannya untuk sekedar berjabat tangan, yang langsung disambut oleh Gin.

Pria itu menyentuhnya dengan lembut, lalu menggenggam dan membungkuk untuk mengecup permukaan punggungnya.

"Oh demi Tuhan, bukan itu yang kuinginkan, kalian sialan!" Sanji menarik kembali tangannya, dan mengibaskannya. Dahinya berkedut nyeri menahan rasa pusing yang semakin bertambah.

"Suatu kehormatan bisa mempelakukanmu dengan layak" balas Gin sambil melempar senyum.

Di sebelah Gin, Law melirik 'kakak'nya sekilas, sebelum maju mendekati Sanji dan mengecup pipinya "Senang melihatmu dalam keadaan baik." Anak laki-laki termuda keluarga Dracule itu mengusap bawah mata Sanji yang terlihat kehitaman dengan lembut, yang menuai geraman rendah dari sang bangsawan pirang.

"Jangan mencuri start, dik." Gin menghela nafas, ia mengantungkan sebelah lengannya ke dalam saku celananya.

Law membalasnya dengan decakan, "Bukankah seharusnya itu kalimatku?" ujarnya, melemparkan sebuah senyum kecil ke arah sang kakak. Sebelah lengannya memutari pinggang Sanji untuk menariknya mendekat.

"Hentikan pelecehan ini! Sekarang juga." Kata Sanji geram, menjauhkan tubuhnya dari Law. Ia sedang tidak ingin masuk ke dalam permainan kedua pria ini. Tidak sekarang.

Kata-kata itu membuat Gin dan Law tertegun, "Sayang, apa yang salah denganmu?" tanya Gin cemas, mencoba mendekati Sanji yang menampik tangannya. "Kau jelas tidak seperti Sanji yang kukenal. Kau sakit?"

"Ia jelas terlihat lelah, dan kurus." Sambung Law.

Gin menghela nafasnya. "Katakan padaku sayang, apakah sebaiknya aku menemanimu di kamar sampai kondisimu membaik? Aku akan bicara kepada nona Reiju, dia pasti mengerti."

Anak tertua keluarga Dracule itu membimbing Sanji untuk duduk di atas ranjangnya. Harus Sanji akui, Gin selalu memberikan perhatian lebih dan memanjakannya. Dan Sanji jelas menyukai perlakuannya yang lembut.

"Omong kosong Gin, aku lebih mengetahui kondisinya daripada kau, aku seorang dokter kalau boleh kuingatkan. Jadi kurasa biar aku yang menemaninya." Law ikut duduk di sisi Sanji yang lain.

"Oh adikku, Sanji butuh seseorang yang bisa memanjakannya saat ini dan membuat perasaannya lebih baik." Dan jelas aku orangnya, Gin menambahkan.

Sanji melirik kedua pria di sisinya dan memutar kedua bola matanya, percakapan konyol yang tidak akan ada akhirnya. "Aku akan turun, atau paman Don yang akan datang sendiri untuk menyeretku, kalian jelas kenal dia. Dan aku tidak mau itu terjadi." Ucapnya. "Terima kasih untuk perhatian kalian, Gin, Law, aku senang kalian sangat perhatian padaku. Bagaimana kabar Lucci?"

Kalau memang harus mengobrol dengan kedua orang ini, Sanji lebih memilih untuk membahas topik lain.

Keadaan hening sejenak sebelum Gin menampilkan sebuah senyuman yang dipaksakan. "Kau jelas tahu cara membuatku cemburu." Katanya. Dan Sanji sudah akan membalas, tapi suara Gin jauh lebih cepat "Sanji, aku dan Law saja tidak kau tanyakan kabarnya. Dan Lucci baik-baik saja, sangat sehat, dan sedang berusaha untuk membuat nona Reiju terkesan di lantai bawah."

Oh bagaimana ia bisa sampai lupa kalau Lucci mengincar kakak perempuannya sejak lama. Pria dengan otot-otot sekeras besi itu selalu berusaha mendekati Reiju, dengan cara yang baik tentunya, seperti seorang gentleman. Sanji bukan tidak menyukainya, tapi harus Sanji akui bahwa Lucci adalah pria yang memberikan kesan mengerikan, bahkan hanya dengan kehadirannya.

Bukannya Sanji takut Reiju akan terluka, ayolah, Reiju sangat bisa menjaga dirinya sendiri, dan sepertinya kakak perempuannya juga tidak menaruh minat pada Lucci, sejauh ini.

"Kau mau mengajakku berkeliling sebentar? Sebelum paman Don datang?" Sanji terkesiap saat Law menggenggam tangannya. "Sebagai kakak tertua, bukankah seharusnya kau ada di bawah bersama Mihawk?" Law memberikan sebuah alasan dan melemparkan senyum kemenangan ke arah Gin.

Seluruh keluarga Dracule bukanlah saudara kandung seperti keluarga kerajaan. Hanya Perona lah satu-satunya keturunan asli dari seorang Dracule Mihawk. Gin, Lucci, dan Law adalah mereka yang bertahan setelah 'Tragedi' yang hampir melenyapkan seluruh bangsawan Vampire seratus tahun yang lalu dan masih memiliki darah bangsawan Dracule.

Mihawk mengambil mereka yang tersisa dan mengurusnya di sebuah kastil mewah yang cukup tua di wilayah barat Grandline. Bukan hanya keluarga Dracule, tapi hampir seluruh keluarga bangsawan memiliki keadaan yang sama.

Sanji tidak sempat bereaksi saat jemari Gin menarik wajahnya, dan hanya bisa mengerjap saat bibir pria itu sudah memagut bibirnya. Otot-otot tubuh Law mengeras melihatnya, jelas tidak suka. "Aku akan menunggumu di bawah. Dan jangan berbuat macam-macam dik, oh tunggu, aku percaya padamu." Gin tersenyum dan mengecup kening Sanji sebelum keluar dari kamar.

"Curang sekali si sialan itu." Gerutu Law.

Sanji memijat keningnya yang kembali berkedut dengan nyeri. Ia merasa seperti mainan yang tidak memiliki kekuatan bila bersama kedua pria ini. Biasanya mereka akan mendekati Sanji sendirian, tidak berdua seperti ini. "Sudah jangan merajuk seperti itu. Kau ingin melihat taman belakang kami?"

Dan Law tersenyum sebelum mengecup bibirnya.

.

.

.


Yahooooo! Maaf banget baru update lagi, masih ada yang baca ga ya? ahahah

Jujur aku udah bener-bener mentok dan ga ada inpirasi beberapa tahun terakhir, aku udah bikin chapter ini berapa kali ya? Mungkin ada 7 kali aku ganti terus karena ngerasa kok hasilnya jelek banget.

Ini yang agak mendingan lah ya. Dan Yup! Zoro straight! Gimana dong?


ChinatsuIchihara makasih banyak udah mau baca, seneng kalau kamu suka fic ini. And here! Kumunculkan Zoro.

Sanji fans loh? Niji ada kok, dari Chapter pertama juga ada tapi memang masih jarang muncul. coba dibaca lagi ya, dan makasih banyak udah mau baca.

Axepenaka GPEG aku juga suka kamu~ betul, ZoSan seperti menghilang karena akhir-akhir ini ga ada mereka di chapter buatan Oda. Pokoknya kita harus dukung terus!

Happy Balon ahahah belum ada mereka bareng lagi nih

Piilazy login Yes! Masih akan lanjut, tapi aku ga bisa janji soal waktunya ya. Heh, mpreg? gimana ya~

Opurple UDAH KETAUAN NIH

Roliepoloe124 Sanji memang ukeable! Makasih udah menunggu dan masih mau baca TTATT

KuKuRu21 syudah ya bebs *wink

AR Vinsmoke thank you so much! Mereka saudara kandung kok, tapi disini mereka itu ga kembar ya, mereka beda usia tapi ga jauh.