© Tokubetsuna Nanika ©™
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichiei Ishibumi
Created by : Parzival Balthazar
Rated : M
Genre : Action, Martial Art, School, Romance and Etc.
Pairing : (?)
Warning : Typo (s), Miss Typo (s), OOC, OC, Alternative Universe and Etc.
Not like, Don't read ..
.
.
.
Last Chapter
.
.
.
'Civil War'
.
.
.
Didasari kecemburuan dan prasangka buruk Uzushio harus rata dengan tanah.
Kota Lotus, Lyonesse, dan Emerald City adalah pelaku sejarah dari tragedi hancurnya Uzushio. Mereka beralasan Uzushio berbahaya untuk Imperial Kingdom dimasa depan. Klan Uzumaki dengan kemampuan Fuinjutsu yang mengerikan, Klan Namikaze yang mampu menguasai ruang dan waktu, bukankah ancaman terlihat sangat jelas ?.
Itulah yang mereka pikirkan saat itu, tidakkah mereka berpikir semua kelebihan itu dapat mengantarkan Imperial Kingdom berada diatas dari yang teratas. Sayangnya semua sudah terlambat, tak ada lagi klan Uzumaki dan Namikaze.
Kembali ke cerita, saat ini waktu menunjukkan pukul 08.25. Terlihat ruang kepala sekolah telah hadir beberapa murid akademi yang memiliki Pamor karena kemampuannya, diantaranya Uchiha Sasuke, Vali Lucifer, Ootsutsuki Kaguya, Senju Shion, dan seorang sensei nyentrik, Hatake Kakashi.
"Sebenarnya siapa anggota party terakhir ini Azazel-kocho ?" Tanya perempuan bersurai perak, tubuh proporsional agak pendek, tapi jangan lupakan wajahnya imutnya yang mampu membius kaum Adam hanya dengan senyuman, Ootsutsuki Kaguya.
"Masih ada lima menit lagi sebelum jam 08.00. Jadi aku persilahkan kalian menebak-nebak sendiri siapa anggota terakhir ini." Jawab Azazel sambil terkekeh melihat raut wajah penasaran dari bungsu Ootsutsuki itu.
Tok tok tok
"Masuk!" jawab Azazel dengan senyum mengembang diwajahnya.
Kriieeet..
"KAU!?"
.
.
.
.
Chapter 4
.
.
.
Tok tok tok
"Masuk!" jawab Azazel dengan senyum mengembang diwajahnya.
Kriieeet..
.
.
.
"KAU!?"
"Ada apa ?" tanya Naruto datar. Ia heran kenapa ekspresi perempuan pirang ini begitu heboh saat dirinya baru saja masuk ruang kepala sekolah.
"Ehm, tidak ada.." jawab Shion menjaga image seorang bangsawan Senju.
'Sepertinya aku pernah melihat laki-laki ini..' batin Shion saat Naruto masuk ruang kepala sekolah.
"Gadis aneh.." gumam Naruto yang entah kenapa bisa didengar oleh semua orang yang ada di ruang kepala sekolah.
"Sudah-sudah.. Arashi-kun coba perkenalkan dirimu kepada anggota quest lainnya supaya kalian bisa bekerja sama dengan baik nantinya.." ucap Azazel.
"Baiklah, Arashi Naruto.."
'Dia sekolah disini rupanya..' pikir Naruto melihat perempuan surai perak, Ootsutsuki Kaguya.
'Bangke, apa-apaan perkenalan nya itu..' batin Vali dengan kedutan di alis kirinya.
"Selanjutnya, apa saja yang perlu diperhatikan dalam quest ini Kocho ?" tanya Naruto.
"Seperti yang kalian ketahui quest ini adalah menjemput putri Raja yang nantinya akan bersekolah di akademi ini.."
"Quest ini cukup mudah, tapi bukan tanpa resiko. Kalian akan ke Emerald City menjemput putri raja, setelah itu kembali ke akademi. Sasuke dan Kaguya bertugas sebagai sensor dengan Doujutsu kalian. Shion, Vali, dan Naruto sebagai tim penjaga, Kakashi sebagai ketua tim. Patuhi semua perintah Kakashi, dan Naruto sama seperti yang aku katakan kemarin.." jelas Azazel dengan perkataan yang ambigu diakhir penjelasannya.
"Baik Kocho.." balas Naruto. Setelah semua perlengkapan telah siap, mereka berenam berangkat menuju Emerald City menggunakan kuda.
Dalam perjalanan diam-diam Kakashi memperhatikan Naruto yang berbincang dengan Sasuke. "Arashi-kun, kuperhatikan kau lumayan dengan Sasuke.."
"Panggil saja Naruto sensei, aku merasa kau berbicara dengan orang lain jika kau memanggil dengan margaku."
"Kedekatan ku dengan Sasuke, anggaplah kami bertemu di masa lalu.." ucap Naruto menjelaskan.
"Hn.."
"Kebiasan buruk menggunakan konsonan tak berarti mu masih saja tak berubah.." ucap Naruto menanggapi dua huruf andalan Sasuke.
"Hn.." balas Sasuke lagi.
Perjalanan kemudian berlangsung tanpa ada percakapan dari anggota lainnya. Kaguya dan Shion juga hanya memperhatikan interaksi ketiga pria itu. Tapi Kaguya terlihat lebih berfokus kepada pemuda pirang yang tak ia kenal pasti, tapi sepertinya familiar 'Auranya seperti tak asing untukku..' batinnya.
Sementara kita tinggalkan mereka melanjutkan perjalanannya menuju Emerald City. Kini di atap akademi terlihat dua gadis sedang menikmati makan siang dengan berbincang-bincang ringan. Nakiri Alice, dan Dunois Charlotte, dua orang yang menduduki tempat teratas dalam kehidupan Naruto saat ini.
"Apakah Nii-chan tidak meninggalkan pesan Alice-nee..?" tanya Charlotte sambil kembali melahap Bento yang dibawa Nakiri hari ini.
"Kakak bodohmu itu Cuma meninggalkan dua bekal Bento ini dan selembar surat. Dia mengerjakan quest dan misi ganda dari Azazel-kocho.." jawab Alice
"Jadi Bento ini buatan Nii-chan ? Huwaa, pantas rasa enak seperti biasa hihi" ucap Charlotte tak menyadari perempuan disebelahnya mengeluarkan aura tak bersahabat.
"Jadi menurutmu Bento buatanku tidak enak ne Imouto-chan..?"
"Heeh.. Bu-bukan begitu.." jawab Charlotte panik. Hukum pertama saat bersama dengan Nakiri Alice, Jangan membicarakan tentang masakan. Dan sialnya Charlotte lupa hal sepenting itu.
"A-aku hanya rindu ma-masakan Onii-chan.." lanjut Charlotte dengan keringat memenuhi wajahnya.
"Hmm.. benarkah Imouto-chan..? Atau kau akan.."
Ceklek..
Belum selesai dengan kalimatnya, Alice mendengar suara pintu dibuka. Setelah sepenuhnya terbuka, terlihatlah dua laki-laki yang dikenalnya. Yang pertama memiliki wajah datar kemalasan akut, dengan rambut dikuncir keatas, Nara Shikamaru.
Laki-laki kedua memiliki surai cokelat dengan bagian belakang melawan gravitasi, wajahnya terkesan datar dan malas, tak jauh berbeda dengan Shikamaru, ia lah pemilik kursi kesepuluh Hyoudou Issei, pemilik Megical Beast naga surgawi Red One, Draig.
"Haahh, akhirnya pasangan tanpa niat hidu bersatu kembali.." ucap malas Alice melihat Shikamaru dan Issei.
"Issei-senpai sudah kembali ternyata, jadi Shikamaru-senpai tidak sendirian lagi melakukan aktivitas kemalasannya hihi.." ucap Charlotte menambahkan.
"Kalian ini, bukannya senang aku kembali cepat. Tapi sudahlah.. Dimana pria cantik itu ? Aku masih belum percaya dia mau berada ditempat bernama akademi.." ucap Issei panjang lebar menanggapi ucapan Alice dan Charlotte.
Yah Shikamaru tak menyangkal jika ia dan Issei memiliki takaran kemalasan yang hampir sama. 'Entah kenapa aku seperti memiliki kembaran..' pikir Shikamaru mengingat kemalasannya dan Issei yang sama-sama mengkhawatirkan.
"Biasanya dia bersama kalian bertiga, tumben kalian Cuma berdua.." ucap Shikamaru.
"Imoutou-chan, kau saja yang menjelaskan pada mereka. Aku malas, kakak bodohmu itu selalu berhasil membuat ku naik darah.." ucap Alice dengan tatapan tak mau di bantah.
"Onii-chan sedang menjalani quest, baru tadi pagi berangkat.."
"Dan si pria cantik itu tidak memberi kabar sebelumnya pada kalian berdua ?" lanjut Issei melihat ekspresi dari Alice.
"Yapp, seperti itulah Onii-chan.." jawab Charlotte cepat sambil membereskan kotak Bento nya.
"Bagaimana pelatihan mu Issei ?" tanya Alice
"Yaah, lumayan. Aku bisa bertahan cukup lama dalam mode Balance Breaker."
Setelah ini terjadi perbincangan ringan antara mereka berempat, kebanyakan Charlotte yang bertanya karena penasaran tentang naga surgawi Red One itu.
Saat mereka berbincang di atap akademi, terjadi juga perbincangan di salah satu ruang Guild akademi. Ruangan ini memiliki interior peradaban barat kuno, ada beberapa orang yang fokus mendengarkan pemilik kursi pertama berbicara.
.
.
.
.
.
Timeskip no Jutsu
Hari ini rombongan yang menjemput putri raja berada di pintu masuk kota Emerald City. Kakashi sebagai ketua langsung menyerahkan surat perintah penjemputan untuk diperiksa oleh penjaga gerbang Emerald City.
"Siang tuan-tuan, saya Hatake Kakashi dari Imperial Akademi memiliki tugas yang datangnya langsung dari kerajaan.." ucap Kakashi memberikan surat perintah yang ditandatangani langsung oleh raja Imperial Kingdom, Raja Arthur Pendragon.
Penjaga gerbang Emerald City membaca dengan seksama, akhirnya ia membuat satu note yang nantinya sebagai bukti bahwa rombongan ini sudah memiliki ijin dari penjaga gerbang. "Tolong berikan note ini kepada penjaga gerbang kerajaan tuan, sebagai bukti ijin memasuki Emerald City. Dan silahkan melanjutkan perjalanan, yang mulia pasti sudah menunggu kalian di istana." Ucap penjaga tadi mengembalikan surat perintah yang Kakashi bawa, sekaligus memberikan note perijinan memasuki Emerald City.
"Terimakasih tuan, saya undur diri melanjutkan perjalanan langsung ke istana.." balas Kakashi kembali naik ke kudanya dan bergegas menuju istana diikuti Kaguya, Shion, Vali, Sasuke, dan Naruto paling belakang.
Selama perjalanan Naruto merasa ada yang mengawasi rombongannya. Sensornya menangkap setidaknya ada 3 magic knight yang seperti mengikuti sejak keluar dari perbatasan Imperial City. Namun ia tak merasakannya lagi setelah melewati gerbang Emerald City barusan.
Naruto memacu kudanya mendekati Kakashi. "Sensei kau merasakannya kan..?" tanya Naruto ambigu.
"Samar-samar aku merasakan tiga orang mengikuti kita, tapi menghilang sejak di gerbang barusan." Ucap Kakashi.
"Sepertinya perjalanan pulang kita akan sedikit lama sensei.."
Kaguya, Shion, dan Vali yang melihat interaksi Naruto dan Kakashi ditelan kebingungan. Mereka tak bisa mendengar perbincangan Naruto dan Kakashi dengan jelas, namun melihat ekspresi keduanya sepertinya bukan sesuatu yang bagus.
Kini rombongan dari Imperial Akademi berjalan menuju kerajaan setelah mengikat kuda masing-masing di tempat yang disediakan. Dalam perjalanan mereka dikejutkan dengan seseorang yang menyapa salah satu anggota quest ini.
"Naruto-kun.." ucap gadis pirang yang tak sengaja melihat Naruto yang berjalan menuju lobby istana.
"Eh, Art-chan. Sedang apa kau disini..?" tanya Naruto heran.
Perempuan yang Naruto ketahui bernama Arthuria ini memiliki surai pirang panjang sepunggung, mata hijau cerah sehijau permata zamrud, dan memiliki sifat menyebalkan. Walaupun Naruto akui sosok yang ia panggil Art-chan itu baik dan agak tsundere.
"Err.. Aku di-disini.. Hmm.. aku ma-maid yaa.. aku maid disini Naruto-kun.." jawab Arthuria tergagap karena dipandang penuh selidik oleh Naruto.
"Ka-kalau begitu a-aku akan me-melanjutkan pekerjaan na-naruto-kun.." ucap gadis pirang itu langsung pergi meninggalkan rombongan yang menatap aneh interaksi Naruto dan Arthuria.
"Maid disini diberi pakaian yang sebagus itu.." ucap Shion tiba-tiba.
"Benar katamu Shion. Pakaian maid tadi juga layaknya pakaian para bangsawan di Imperial City." Tambahan Kaguya menyetujui pendapat Shion.
'Iya kah..' ucap Naruto dalam hati.
"Ayo kita harus menghadap raja.." ucap Kakashi kembali melanjutkan jalannya menuju lobby istana.
Memang benar seperti kata Shion, pakaian yang dipakai Arthuria sangat mewah jika benar ia hanya maid di istana ini. Bagaimana mungkin maid memakai gaun mewah yang biasa digunakan bangsawan pada umumnya. 'Entahlah, mungkin maid disini diperlakukan istimewa oleh raja. Siapa yang tau..' batin pemuda pirang itu malas berpikir.
Jauh di hutan perbatasan Emerald City, terlihat 3 orang memakai pakaian serba hitam tertutup, hanya memperlihatkan kedua matanya saja.
"Ini buruk, rombongan yang dikirim Imperial Akademi bukan bocah akademi biasa. Apalagi dipimpin oleh mantan pemimpin kesatuan pengintai, Hatake Kakashi." Ucapa sosok pertama.
"Tenang, mereka memang sudah mulai diakui dengan kemampuannya masing-masing. Tapi ingat, mereka tetap bocah akademi, mereka belum terbiasa dengan pertarungan sesungguhnya, pertarungan hidup dan mati." Balas sosok kedua.
"Tapi aku akan meminta bantuan, supaya misi ini lebih meyakinkan. Bukan perkara mudah menghadapi Hatake Kakashi.." lanjut sosok kedua menjelaskan rencananya.
Sosok ketiga hanya diam saja memperhatikan kedua temannya berbincang. "Hey, kau kenapa diam saja dari tadi..?" ucap sosok pertama yang menyadari sosok ketiga hanya diam tanpa menyuarakan pendapatnya.
"Aku hanya merasakan sesuatu yang buruk saat melihat pemuda pirang dalam rombongan Hatake Kakashi tadi." Ucap sosok ketiga.
"Halaah, kau tenang saja. Lumpuhkan Hatake Kakashi, maka kemungkinan misi berjalan sesuai rencana lebih besar.." ucap sosok kedua meyakinkan. Namun tak ada suara yang keluar dari sosok ketiga.
.
.
.
.
© Tokubetsuna Nanika ©™
.
.
.
.
Saat ini rombongan Imperial Akademi sedang berada di meja makan, mereka dijamu dengan begitu baik oleh raja Imperial Kingdom, Arthur Pendragon. Di meja makan banyak tersedia makanan-makanan yang mampu menggugah nafsu makan.
"Jadi, bagaimana menurutmu dengan ide yang sudah aku sampaikan sebelumnya Kakashi-san ?" ucap raja Arthur membuka percakapan setelah selesai makan malam.
"Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih banyak karena kami dijamu dengan sangat baik disini. Untuk usulan yang telah kita bahas, saya rasa itu merupakan suatu tindakan yang tepat jika ingin mendapatkan kedekatan dan loyalitas dari setiap kota.." Kakashi menjeda sejenak kalimatnya.
"Tapi mungkin itu akan membutuhkan waktu lebih lama lagi, terlebih semua konsep sudah di siapkan dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.." Lanjut Kakashi memandang kelima muridnya bergantian.
"Namun, kami siap melakukan perombakan jika memang seperti itu yang mulia inginkan."
"Ya, aku harap permintaanku ini bisa direalisasikan nantinya.." balas raja Arthur sembari tersenyum memandang putri semata wayangnya yang menunduk diam. Sesekali putrinya itu memandang pemuda pirang yang ia kenal adalah salah satu anggota Akatsuki, karena beberapa kali pemuda itu berkunjung langsung ke istana.
"Arthuria.. Kenapa kau dari tadi menundukkan kepalamu..? Adakah yang mengganggumu ?"
"Ah.. Ti-tidak Tou-sama.. A-aku ha-hanya.. hmm.. anu.. bosan.. ya, a-aku hanya bosan Tou-sama.." ucap perempuan pirang yang merupakan anak semata wayang raja Arthur, Arthuria Pendragon.
"Lalu, pemuda-san.. Apakah dirimu mengenal putriku sebelumnya ? Dari tatapan yang kulihat, kau seperti tak nyaman.. mungkin.." perkataan raja Arthur ini menimbulkan rasa penasaran dibenak semua yang menghadiri makan malam mewah di istana.
"Sebenarnya itu yang dari tadi ingin aku tanyakan Anata.." ucap perempuan pirang disebelah raja Arthur, permaisuri raja Imperial Kingdom, Guinevere Pendragon.
"Maaf sebelumnya yang mulia raja dan ratu jika saya membuat putri Arthuria menjadi tak nyaman. Tapi saya belum pernah mengenal sosok tuan putri, ini pertemuan pertama saya dengan tuan putri Arthuria-sama.." ucap Naruto sambil menunduk sebagai isyarat permohonan maaf.
Mendengar ucapan Naruto yang seakan tak pernah mengenal dirinya, Arthuria semakin dalam menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap langsung Naruto. Meremas erat gaun mewah yang ia kenakan, Arthuria mungkin akan kehilangan teman pertamanya diluar golongan bangsawan disekitar Emerald City.
"Tapi, sebelumnya saya mengenal sosok gadis yang mirip dengan tuan putri. Gadis yang menyebalkan, namun memiliki kepedulian terhadap sesama tanpa memandang status. Gadis yang tegas, namun kadang manja. Gadis yang mengaku tidak memiliki marga dan bekerja sebagai maid di kerajaan.." ucap Naruto memandang raja Arthur dan permaisuri Guinevere.
Setiap mata memperhatikan Naruto, Sasuke yang ada disebelah pemuda pirang itu hanya menaikkan alisnya mendengar ucapan Naruto. Kakashi yang sepertinya mengerti hanya tersenyum geli sesekali melihat Arthuria dan Naruto bergantian.
Kemudian pemuda pirang itu menghela nafas dan tersenyum. "Entah kenapa Gadis itu memiliki nama yang sama, Arthuria namun tanpa marga. Parasnya pun sangat mirip dengan tuan putri Arthuria-sama. Mungkin hanya kemiripan atau bagaimana, tapi senang bisa mengenal tuan putri Arthuria-sama." Lanjut Naruto mengalihkan pandangannya ke Arthuria.
"Hahaha, sudah kuduga seperti yang aku perkirakan.." ucap raja Arthur tertawa mengingat kebiasaan aneh putri semata wayangnya itu.
"Sepertinya aku sudah tau benang merahnya.." permaisuri Guinevere menanggapi ucapan suaminya sambil terkekeh dengan kelakuan unik putrinya.
Ini semakin menimbulkan rasa penasaran keempat anggota quest ini, Sasuke, Vali, Kaguya, dan Shion. "Maaf yang mulia, jadi apakah memang ada penduduk atau maid yang sangat mirip dengan tuan putri Arthuria-sama..?" ucap Shion yang sepertinya sudah sangat penasaran.
"Hahaha.. sepertinya kau termakan permainan kata pemuda pirang disana nak.." ucap raja Arthur tertawa dengan kepolosan Shion.
"Sepertinya kau harus menjelaskannya tsuma.." lanjut raja Arthur.
Guinevere memandang Arthuria sambil tersenyum, "Apakah kau ingin menjelaskannya sendiri Arthuria ?" tanya ratu Imperial Kingdom dengan senyum yang masih bertahan diwajahnya.
Arthuria memandang ibunya sebentar, ia melihat ibunya mengangguk tersenyum padanya. "Baiklah Kaa-sama.." jawab Arthuria.
"Sebelumnya maaf Naruto-kun jika aku membohongimu selama ini. Yah, aku sering menyamar sebagai penduduk biasa untuk menghilangkan rasa bosan jika harus di istana sepanjang hari.."
"Aku sering menyusup keluar istana dan berkeliling daerah Emerald City. Tentunya tanpa menggunakan marga Pendragon. Masyarakat pasti akan memperlakukanku berbeda jika mereka tau jika aku putri semata wayangnya raja Arthur Pendragon. Aku hanya tak ingin dikenal sebagai putri raja Imperial Kingdom, aku ingin dipandang sebagai Arthuria Pendragon Magic Knight kerajaan Imperial Kingdom."
Arthuria mengakhiri penjelasannya menatap Naruto dengan senyum yang menyiratkan rasa bersalah. Shion yang merupakan putri bangsawan merasa tercubit mendengar penjelasan Arthuria. Putri raja Pendragon ini sangat rendah hati, tak pernah menunjukkan kekuasaannya sebagai putri orang nomer satu di Imperial Kingdom.
"Yaa sebenarnya saya tak ada masalah dengan itu. Hanya saja Art-chan yang ku kenal memiliki senyum yang memancarkan semangat untuk menjadi Magic Knight terkuat, bukan senyum pasrah seperti tadi. Sekarang angkat wajahmu, sayang jika wajah cantikmu disembunyikan dengan menunduk.." ucap Naruto tersenyum geli melihat Arthuria yang malu-malu sambil memainkan jarinya menghilangkan rasa grogi.
"Ba-baka.." ucap Arthuria mengalihkan pandangannya dari Naruto.
"Hahaha.. Indahnya masa muda.." ucap raja Arthur sambil tertawa melihat tingkah Arthuria.
"Baiklah, mari kita pindah. Kita akan membahas sesuatu yang membuat kalian kemari, dan sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua.." lanjut raja Arthur berdiri melangkahkan kakinya, diikuti semua yang ada di ruang makan, membicarakan sesuatu yang lebih serius.
Kini rombongan Imperial Akademi, raja Arthur, permaisuri Guinevere, dan putri Arthuria tengah berada di ruang yang biasanya digunakan untuk rapat. Bukan ruang rapat sebenarnya, hanya ruangan dengan meja besar dikelilingi kursi sebagai pelengkap.
"Seperti yang sudah diberitahu oleh Azazel, putriku.. Arthuria Pendragon akan menimba ilmu dan mengasah kemampuannya sebagai Magic Knight di Imperial Akademi.." raja Arthur membuka percakapan serius tentang rencananya kali ini.
.
.
.
.
.
Terlihat sosok dua pemuda bersurai pirang sedang berbincang. Ruval Phenex dan Riser Phenex, saat ini mereka berada di halaman belakang Mansion klan Phenex.
"Sudah dua minggu aku melihatmu seperti ini, apakah kejadian tiga minggu lalu belum menyadarkanmu..?"
Mendengar ucapan kakaknya yang terkesan menghakimi tindakannya, mata Riser memicing tak suka. "Aku hanya mempersiapkan diri untuk event Battle of Honor yang akan diadakan kurang dari 6 bulan lagi.." jawab Riser tanpa memandang kakaknya yang bertanya.
"Benarkah itu..? Bukannya kau ingin kembali menantang anak pindahan itu ke pertarungan resmi dalam Rating Game ?" tanya Ruval memandang adiknya penuh selidik. Ia akui Riser memiliki bakat dalam pengendalian sihir, buktinya ia mampu menempati peringkat kesembilan dari sepuluh kursi Legacy of Heaven.
'Sial.. Darimana Ruval tau aku akan menantangnya lagi untuk mengembalikan namaku yang jatuh karena kekalahan kemarin..' batin Riser mendecih kakaknya mengetahui rencananya menantang kembali anak pindahan itu.
"Lakukan sesukamu, setelah menanggung malu atas kekalahan mu dari Shisui, Guild tak akan lagi menyelamatkan dirimu jika kau kehilangan kursi kesembilan. Phoenix tak memiliki hak mempertahankan posisimu karena ia tidak tergabung dalam Guild manapun.." ucapan panjang lebar Ruval, kemudian ia berdiri, ia memandang langit yang gelap terlihat tanpa adanya bintang yang menghiasi malam ini.
"Banyak Magic Knight hebat yang bukan berasal dari keluarga bangsawan. Sejujurnya, aku malu memiliki anggota Guild yang arogan karena statusnya dari salah satu bangsawan terpandang di Imperial Kingdom." Setelah ucapannya itu, Ruval pergi meninggalkan Riser sendiri. Pemilik kursi keempat itu berharap sikap arogan adiknya itu akan berkurang saat dikalahkan telak murid pindahan yang berasal dari kalangan masyarakat biasa.
Namun sayangnya harapan cuma jadi harapan, arogansi adiknya itu masih melekat dan semakin menjadi-jadi. Ia semakin ragu menyerahkan tonggak kepemimpinan Guild Phoenix kepada adiknya. 'Haaah, ini salahku terlalu memanjakannya..' pikir Ruval menghela nafas lelah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Continue...
Author note :
Akhirnya selesai, maafkan keterlambatan update chapter kali ini. Jujur keterlambatan ini keteledoran ane sendiri, ane lupa backup chapter yang sudah siap ane publish. Ane bikin cerita ini lewat handphone karena gampang menyesuaikan panjang pendeknya kalimat dalam cerita. Nah, ane install ulang handphone karena sesuatu, tapi lupa backup, akhirnya ane harus buat ulang chapter ini dari awal.
Ya harus baca dari awal, lihat note konsep, ribet dah. Tapi Alhamdulillah selesai juga, entah kenapa sepertinya chapter ini berbeda dari yang sudah ane siapkan sebenarnya hehehe..
Entah chapter ini bagus atau nggak, cuma saya masih belajar lagi mendapatkan feel saat membuat scene drama atau romance. Dan sepertinya masih belum dapet di chapter ini.
Mungkin jika ada masukan ide dari alur, konflik, pair, atau apapun bisa cantumkan di kolom review.
Cuma membagi spoiler, di cerita ini Naruto punya Doujutsu tapi bukan Sharinggan, Rinenggan, Byakugan, atau Teisenggan.
Jadi tunggu saja, bisa saja chapter depan keluar, siapa yang tahu kan Hehehe..
Jujur, untuk masalah pair saya masih belum menentukan singel pair atau lebih. Takutnya akan rusak alur jika masih awal sudah menentukan pair.
Terimakasih sudah berkunjung dan membaca, hanya ini yang bisa saya persembahkan, sekali lagi mohon maaf dan terimakasih.
.
.
.
Ten Legacy of Heaven
1. Gremory Sirzech
2. Nagato
3. (?)
4. Ruval Phenex
5. (?)
6. (?)
7. (?)
8. (?)
9. Riser Phenex
10. (?)
Guild :
Absolute : Gremory Sirzech
Phoenix : Ruval Phenex
(?)
(?)
(?)
(?)
(?)
.
.
.
© Tokubetsuna Nanika ©™
.
.
Terimakasih sudah berkunjung.
Parzival Balthazar Undur diri..
See you next chapter..
.
.
.
Minggu, 1 Maret 2020.
