.

"Akashi, kau tidak ikut pergi ke lapangan?" Siswa berambut hijau itu membetulkan kacamata yang sedikit merosot dari tulang hidungnya. Dia berkata pada seseorang yang duduk di dalam bayangan. Salah satu kakinya menekuk di atas kursi, dagunya bertumpu pada tangan yang diletakkan di atas lutut. Sementara tangan yang lain, lincah menari di atas papan shogi."Tidak," Kata siswa berambut merah itu, telunjuk dan ibu jarinya memindahkan pion shogi yang sedang ia mainkan seorang diri, "Teiko akan menang.""Bagaimana kau tahu?"Si rambut merah menyeringai, "Aku tidak pernah salah, Shintarou."

*

"Baik sebelum atau sesudahnya, aku tidak pernah menemukan orang semacam dia," Kata Midorima Shintarou kepada orang yang ada di hadapannya, "Meski pemikirannya pernah salah tentang kemenangan, tapi dia tidak pernah kalah dalam bermain shogi-nanodayo."

"Aku tahu, kapten dari Rakuzan sekaligus kapten Kiseki no Sedai itu kan?" seseorang tiba-tiba menyeret kursi di samping Midorima, ikut dalam pembicaraan, "yah, meski tidak mengenalnya sebaik Shin-chan, paling tidak aku tahu betapa mengerikannya dia."

Midorima hanya diam, sementara Takao Kazunari malah tertawa, "Meski begitu dia orang yang baik, ya kan, Shin-chan?"

Midorima Shintarou mengangkat sudut bibirnya sedikit, "Aku tidak pernah berkata kalau dia orang yang baik. Tapi, Akashi selalu memiliki caranya sendiri untuk tetap berteman dengan kami."

Orang itu, yang memakai kemeja putih berdasi yang dibalut dengan jas berwarna hitam itu kembali bertanya, "Bisa kau jelaskan bagaimana cara kalian berteman?"

"Tidak masalah," sekali lagi, Midorima membetulkan kacamatanya, "Hm, maksud Anda, bagaimana cara kami berteman atau caraku berteman?"

"Caramu berteman," Kata pemuda itu memperjelas, "Tentang bagaimana tanggapanmu tentang dia."

"Kata orang-orang, Akashi orang yang baik--" Midorima memulai, namun Takao kembali menyelanya dengan cengiran jahil.

"Katanya, kau tidak pernah menyebut Akashi orang yang baik, Shin-chan."

"Berisik, Bakao! Aku bilang itu kata orang-orang, bukan kataku," Midorima berdeham, "sejak bergabung dengan klub basket SMP Teiko, dalam sekali lihat, orang akan tahu kalau dia memiliki bakat. Pembawaannya santun. Meski menjadi wakil kapten sejak kelas satu, dia tetap menghargai orang-orang yang mendukung mereka dari belakang. Hingga sejak Murasakibara hampir mengalahkannya dalam one-on-one, semuanya berubah. Akashi tetap menjadi kapten kami, tapi dia tidak lagi menjadi teman kami, nanodayo."

"Loh, tapi bukankah Shin-chan menjadi wakil kapten setelah itu?"

"Benar-nanodayo," Ucap Midorima, "tapi pertemanan kami rusak, sejak saat itu, hingga akhir dari wintercup di tahun pertama SMA. Terima kasih kepada Seirin yang telah mengembalikan Akashi menjadi dirinya sendiri."

Pemuda berjas itu masih mendengarkan.

"Kiseki no Sedai kembali utuh. Semua kembali berteman, b-bukannya aku peduli, tapi itulah yang terjadi."

Takao tiba-tiba memukul punggung Midorima, "Sampai kapan kau mau menjaga sifat tsundere itu Shin-chan?"

"Berisik, Takao!"

"Boleh kutahu apa yang paling kau ingat dari sosok Akashi setelahnya?"

Midorima terdiam sejenak.

"Ada sesuatu yang terjadi di hari itu-nanodayo."

*

Hari itu, musim dingin di tahun ketiga SMA.

"Maaf memanggilmu kemari, Shintarou."

"Tidak apa," ucap pemuda ber-megane hitam itu, "Oha-asa mengatakan pada hari ini cancer akan menghadapi sesuatu yang mengejutkan. Kurasa itu adalah apa yang akan kau sampaikan nanti. Aku juga tidak lupa membawa lucky item-ku hari ini." Midorima Shintarou menunjukkan sebuah jam beker berwarna hijau sebesar telapak tangan yang ia bawa.

"Begitu," Akashi tersenyum, "kalau boleh kutahu, apa yang Oha-asa katakan hari ini tentang sagitarius?"

Netra hijau Midorima membulat. Dia tidak salah dengar? Seorang Akashi Seijuro yang mempercayai penghitungan nyata daripada takhayul bertanya tentang ramalan Oha-asa? Apakah itu fakta mengejutkan yang diterima cancer hari ini?

Midorima berdeham, menyembunyikan keterkejutannya. Untung saja dia mengingat hampir seluruh nasib dan lucky item semua zodiak yang ada.

"Sagitarius berada di tingkat teratas dalam afeksi. Pernyataan perasaan akan diterima, dan lucky item hari ini adalah pena antik."

"Hmm, pena antik? Kupikir aku akan membelinya nanti."

"Dan ngomong-ngomong Akashi, apa kau berniat menyatakan perasaan kepada seseorang?"

Alis Akashi terangkat, dia tertawa kecil, "Ramalan Oha-asa mengerikan."

'Tidak, ini aneh! Akashi bertingkah aneh hari ini! '

"Tapi, karena Oha-asa-mu sudah menebak semuanya, kita berbicara lain kali saja, Shintarou. Oh ya, satu lagi. Aku mengharapkan kehadiranmu di rumahku akhir pekan nanti. Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Kau bisa melanjutkan kegiatanmu."

"Tunggu, A-akashi!"

Akashi yang sudah berjalan, kembali berbalik.

"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Midorima, "Tidak mungkin kau datang jauh dari Kyoto dan pergi tanpa mengatakan apa pun. Bahkan perintah untuk pergi ke rumahmu itu, kalau kau menyuruh lewat telepon pun, aku pasti datang. Bukannya aku peduli, tapi kau biasanya tidak pernah melakukan suatu hal yang sia-sia."

Mereka berdua terdiam sebentar. Midorima Shintarou masih menunggu. Akashi Seijuro masih menimbang. Hingga pemilik mata kaisar itu mengubah raut wajahnya menjadi datar, bahkan melemparkan pandangannya ke bawah.

Seorang Akashi Seijuro tidak pernah menunduk!Dan tidak seharusnya menunduk!Entah mengapa ada suatu bagian dalam diri Midorima yang menolak si pemilik mata kaisar itu merasa rendah. Akashi seharusnya selalu berada di posisi tertinggi. Kalau pun harus menunduk, seharusnya ia melayangkan pandangan penuh kuasa, bukan sorot kekalahan seperti yang Midorima lihat ini.

Tunggu... Apa?

Kekalahan?

"Kau benar, seharusnya aku membicarakan hal-hal penting sekarang. Tapi kurasa, aku bisa melakukannya lain kali." Mengambil jeda untuk bernapas, Akashi melanjutkan, "untuk saat ini, kupikir cukup untuk berkata,"

Akashi menaikkan wajah, menatap netra hijau Midorima lekat. Bibirnya mengulas senyum tipis.

"Terima kasih telah pernah menerimaku sebagai kapten."

*

"Lalu apa jawabanmu saat itu?" Pemuda berjas hitam itu bertanya tanpa melepas perhatian sejak Midorima memulai cerita.

"Aku tidak mengatakan apa pun," jawab Midorima, "dan seminggu setelahnya, kabar itu datang."

Midorima menelan ludah. Entah kenapa, mengatakan kalimat terakhir terasa menyesakkan. Dia berujar lirih, namun cukup untuk pemuda berkas hitam dan Takao yang ada di sebelahnya untuk mendengar, "Seharusnya aku setidaknya menjawab perkataannya."

Pemuda misterius yang tiba-tiba menanyakan tentang Akashi ketika dia dan Takao sedang berada di Majiba mengangguk-angguk.

"Terima kasih sudah bersedia menjawab pertanyaanku, Midorima Shintarou." Dia berdiri dari kursi, berpamitan.

"Tunggu." Mata Midorima memicing, "Siapa kau?"

Dia adalah orang asing. Namun, ketika dia mulai bertanya tentang Akashi Seijuro, entah kenapa Midorima tidak keberatan sama sekali ketika menjawabnya. Entah kenapa, kedatangan orang itu terasa tepat bagi Midorima yang ingin mengeluarkan isi pikiran yang telah membebaninya sejak lama. Isi pikiran tentang teman sekolah menengahnya itu, yang ia tak pernah bicarakan kepada siapa pun karena rasa takut sering hadir bersamaan dengan itu.

Mendengar pertanyaan itu, pemuda berpakaian hitam itu tersenyum, "Aku adalah penanggung jawab Akashi Seijuurou."

"Kukira dia kenalanmu, Shin-chan," tanya Takao setelah orang itu pergi.

"Bukan." Midorima Shintarou menatap punggung lelaki itu hingga menghilang di tengah kerumunan orang yang hendak menyeberang jalan, "aku baru bertemu dengannya tadi."

"Aku tidak mau mengakui ini-nanodayo," Midorima memijat kening yang mendadak sakit, "rasanya saat ini juga, aku ingin berlari ke Kyoto."

*

"Seijuurou,"

Pemuda berambut merah itu menoleh.

"Masih ada hal yang ingin Midorima Shintarou katakan padamu."

Manik merah itu memilih untuk tidak menatap lawan bicaranya, ia lemparkan pandangan ke dinding di belakang pemuda itu, "Begitu."

Pemuda berjas itu mendengkus, kesal terhadap respon lawan bicaranya yang selalu monoton akhir-akhir ini, "Dasar pengecut."

"Aku tahu."

"Kalau kau sudah selesaikan semuanya saat itu, akan mengurangi bebanku, tahu."

Lelaki bersurai merah itu memilih untuk tidak menjawab. Pikirannya telah dipenuhi oleh banyak hal.

*

"Oi, Akashi, yang benar saja. Terima kasih telah menerimamu menjadi kapten kami, katamu?

Yang ada, kami yang harus berterima kasih kepadamu yang telah menyatukan kami."

*

Dear My Captain chapter 1 : Midorima Shintarou completed.

Next : Aka-chin.

Stay Tune!