.

"Akashi terkena ankle break?! Tidak bisa dipercaya!"

Murasakibara berjalan perlahan. Hingga di depan sang kapten yang terduduk itu, ia mengulurkan tangan,

"Ayo cepat bangun Aka-chin, kau tidak pantas duduk di situ."

'Sang Kaisar tidak boleh jatuh terduduk. Bila Sang Kaisar terjatuh, maka kami ada untuk membuatmu kembali bangkit berdiri.'

Murasakibara kembali berkata, "Setelah itu, kau bisa menyerahkan dia padaku kan?"

Aomine yang berada tak jauh dari mereka berdua, langsung berkata kaget, "Yang benar saja? Kau mau melawan Nash sendirian?"

"Tentu saja tidak," Murasakibara menatap Akashi yang masih terbelalak, ada sudut di dalam hatinya yang menolak melihat tatapan mata temannya, "Cuma Aka-chin yang bisa melakukannya, kan? Aka-chin tidak akan kalah dengan orang seperti dia. Tadi itu, Aka-chin cuma kesulitan melakukannya, kan?"

Murasakibara memutuskan untuk percaya sepenuhnya pada sang kapten.

Karena ia tahu, Aka-chin tidak akan pernah kalah.

.

*

Bungkus makanan ringan dibuka, serbuk-serbuk bumbunya bertebaran di udara. Tangan besar itu merangsek ke dalam, meraup langsung tiga potong keripik kentang berasa itu. Sementara itu matanya menatap malas orang yang tiba-tiba menghadangnya dan memaksa untuk berbicara.

"Humm? Aka-chin?"

"Ya, Akashi Seijuurou, kaptenmu di Teiko."

"Hmm," sosok tinggi besar berambut ungu itu masih sibuk mengunyah, "memang siapa kau? Mengapa bertanya-tanya tentang Aka-chin?"

Pemuda berkas hitam itu mengulas senyum, "Aku penanggung jawab Akashi Seijuurou."

"Huh? Penanggung jawab? Bukannya ayahnya Aka-chin masih ada?"

Sosok itu tersenyum. Dan entah mengapa, Atsushi mendadak merinding di seluruh badan. "Bisa ceritakan tentang Akashi Seijuurou di matamu?"

Atsushi terdiam. Ia sibuk menimbang tentang apa yang harus diceritakan kepada sosok tak dikenal itu. Kalau bisa sih, dia berharap Himuro ada di sampingnya saat ini. Paling tidak, anak itu bisa memilah mana kisah yang harus diceritakan, mana yang jadi konsumsi pribadi saja. Terlebih, Atsushi benar-benar malas membicarakan pendapat pribadi terhadap temannya sendiri, apalagi kepada orang asing. Masalahnya pria itu datang ketika Himuro sedang ke rumah Taiga, menemuinya tepat ketika pemuda titan bersurai ungu itu keluar dari pintu minimarket dan memaksa mereka berbicara empat mata.

Yang lebih parah lagi, pria itu membawa sekotak maiubo jenis terbaru. Sekotak isi dua belas--membuatnya mati kutu untuk berkilah.

"Hmph ... tentang Aka-chin, ya?" Bungkus ketiga Snack ringan bercita rasa gurih itu dibuka. Debu bumbunya menguar karena getaran itu.

"Aka-chin sering membelikanku makanan. Eh, bukan aku, tapi kami. Jadi, kalau sedang reuni, dia pasti mentraktir kami. Ya wajar saja sih, Aka-chin kan kaya--"

"Eh, tapi yang kau mau bukan penjelasan seperti itu, ya?" Atsushi sendiri juga tidak tahu mengapa ia rela duduk di sini dan menuruti perintah pria itu. Bisa saja dia hanya mengambil bungkus maiubo dan pergi sekarang. Entah apa yang terjadi pada dirinya, Atsushi juga tak mengerti.

"Aka-chin itu baik kok."

Pria itu tampak tak puas. "Baik bagaimana yang kau maksud?"

"Baik kok. Seperti yang tadi kubilang, sering ditraktir makan dan ... jajanan maiubo. Untukku, tepatnya. Tapi, kadang Kise-chin juga minta. Walau kalau menyusun jadwal latihan itu menyebalkan. Dia suka memaksaku untuk berusaha lebih keras--"

"Dia memaksamu?"

Ketika pertanyaan itu terlontar, barulah Atsushi menyadari bahwa situasi ini mulai keliru. Siapa pria ini? Mengapa dia terus bertanya-tanya tentang Aka-chin? Mengapa aku terus menjawabnya dengan jujur? Apa dia punya dendam pada Aka-chin?

"Iya, memaksa." Atsushi berkata dengan mulut penuh. "Kalau tidak dipaksa, aku memang malas latihan. Kalau aku malas latihan, nanti Teiko kalah."

Pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Ia kemudian meletakkan benda itu ke atas meja dan mendorongnya ke arah si pemuda bersurai ungu. "Kudengar kalian pernah berselisih di kelas tiga."

Atsushi meneguk saliva seraya menatap benda keramat yang ada di atas meja. Sebungkusnya maiubo lagi. Isi enam seperti tadi. Dia mulai merinding. Dia tahu, dia sedang disogok. Tetapi tawaran makanan ringan itu sungguh menggoda. Harapan akan kehadiran Himuro bertalu-talu dalam kepala.

Atsushi memaksakan diri memalingkan pandangan dari bungkus maiubo.

"Ya. Tapi Aka-chin sudah minta maaf dan dia memang orang yang baik."

"Kalau begitu, apakah Akashi bertemu denganmu akhir tahun ini?" Snack renyah tersebut disodorkan mkain mendekat. Atsushi semakin goyah.

Tetapi, Atsushi sudah berjanji pada diri untuk tidak mempersulit kaptennya lagi. Jadi, dia mengumpulkan semua kekuatan yang dia punya untuk mendorong balik bungkus maiubo dari hadapannya.

"Tidak."

Sosok itu tampak terkejut.

"Aka-chin memang datang ke Akita. Tetapi saat itu kami sedang berada di Nagoya untuk pertandingan persahabatan. Besoknya, kabar itu tiba."

Sepintas, kenangan akan hari itu mengusik benak Atsushi. Suara Akashi yang bergetar di telepon, dan ketakutan yang tiba-tiba menyeruak tanpa Atsushi tahu akibatnya.

Atsushi kesal mengapa semua kejadian ini terasa sangat merepotkan. Dan membuatnya sedih.

"Terima kasih maiubo-nya, Tuan." Atsushi berdiri. Memilih untuk pergi lebih dahulu. Siapa pun pria itu, meski mengaku sebagai penanggung jawab Akashi, yang Atsushi rasakan adalah keinginan untuk mendesak kaptennya terus menerus. Menguak kekurangannya, mengorek luka-luka lama. Dan Atsushi membencinya.

Tanpa Atsushi sadari, pria itu mengulas senyum tipis setelah kepergiannya.

.

.

*

"Seharusnya kau melarangnya terlalu banyak memakan makanan ringan. Tidak sehat, tahu."

Pemilik mata kaisar itu melirik dari sudut mata, "Kau habis bertemu Atsushi."

"Begitulah." Pemuda berpakaian putih berbalut jas hitam itu duduk di tepi kasur, "aku jadi tahu kalau kau orang yang benar-benar rapuh."

Kekehan kecil terdengar.

"Jangan berharap banyak pada orang sepertiku."

.

.

"Aka-chin hanya harus terus berkata kalau kau tidak pernah dan tidak akan kalah.

Aka-chin hanya perlu terus berkata kalau semua perkataanmu adalah mutlak.

Karena Aka-chin telah mendapatkan kepercayaanku secara penuh. Aka-chin hanya perlu bangkit lagi, aku akan terus mengulurkan tangan, akan terus menunggu hingga Aka-chin mau menerima uluran tanganku,seperti waktu itu."

.

.

.

Bersambung

haii hisashiburii :")maaf updatenya lamaaa banget karena aku sibuk ngurus ini-dan-itu. Maaf juga pendek karena aku susah bikin sudut pandang Atsushi hiks.Terima kasih sudah baca ya, love ya!NEXT : Akashicchi