.

.

Bola oranye terpantul lemah ke lantai marmer.

Lantas, seluruhnya menjadi senyap untuk sesaat. Seorang bernomor punggung empat, langsung menoleh, matanya membola menampilkan raut khawatir ketika pantulan bola terakhir itu terdengar. Dilangkahkan kakinya menuju pemuda bersurai pirang yang terduduk dengan bahu bergetar.

"Aku lemah sekali." Suara lirih terdengar bergetar, suara yang sarat akan kekecewaan dari si pirang.

Sang kapten mengulurkan tangan di depan pemuda pemilik kekuatan perfect copy yang terduduk kehabisan stamina. Kise Ryouta, nama pemuda itu, menerima uluran tangan kaptennya, membiarkan tubuh itu bergantung pada punggung kokoh sang kapten yang memapahnya hingga bangku pemain.

"Tidak, kau tidak lemah." Kata Sang Kapten dengan nada tegas. Bukan bermaksud untuk menenangkan belaka, namun memang itulah yang pemuda bersurai merah itu ingin katakan pada temannya, "Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik."

"Akashicchi..."

Tidak ada seringai dan senyum, yang ada hanyalah sorot mata yang tajam. Penuh dengan keinginan untuk melindungi dan tekad, bahwa ia akan membawa teman-temannya menuju kemenangan. "Selanjutnya, serahkan semuanya pada kami, Ryouta."

.

.

.

*

"Kise Ryouta?"

"Ya?" Yang namanya merasa dipanggil langsung menoleh.

"Apa kau sedang sibuk?"

"Tidak-ssu." Mata cokelat madunya sedikit menyipit ketika seorang pria berjas hitam yang kelihatannya umurnya mendekati kepala tiga itu tiba-tiba duduk di bangku di hadapannya. "Ada urusan apa denganku-ssu?"

Kise yang sedang mampir di sebuah kafe di dekat sekolahnya, terkejut ketika seorang pria tiba-tiba mendatanginya.

"Apa kau fanboyku-ssu?"

"Hah? Bukan." jawab pria itu, "aku hanya tahu kalau kau adalah teman dari Akashi Seijuurou."

Mendengar nama itu, netra cokelat Kise membulat, "Kau kenal Akashicchi? Akashicchi bagaimana? Apa dia ingin bertemu denganku? Ah! Aku harus memberitahu Kurokocchi, Aominechhi, dan yang--"

"Kise Ryouta." Nada itu terdengar tegas. Kise terhenyak sejenak, teringat tentang sosok yang biasa memberinya perintah dengan intonasi seperti ini. Hampir menyerupai perkataan mutlak Akashi, tapi tetap saja tidak sama.

"Iya-ssu?"

"Aku hanya ingin bertemu denganmu," katanya, "kalau kau bisa diajak bekerja sama, semua akan selesai dengan cepat."

Perkataan itu membuat sosok si pria berjas hitam mengeluarkan aura mengerikan.

"Ba-baik-ssu. Tapi, kalau boleh kutahu, kau siapa?"

"Aku adalah penanggung jawab Akashi Seijuurou," katanya jujur, "langsung saja. Aku hanya ingin bertanya. Bagaimana pertemananmu dengan Akashi?"

Karena ditanya oleh orang yang tak dikenal, Kise memilih untuk memberitahu sisi baik temannya saja. Soalnya, dia masih takut bila Akashi tiba-tiba datang membawa gunting--meski sang kapten sudah tidak pernah melakukannya lagi, sih. Tapi tetap saja, kan, membaginya kondisi Akashi yang sekarang, orang di depannya itu jelas sedang mengorek info tentang Akashi sedetail mungkin. Dan rasanya, Kise tidak sampai hati berkata kalau kaptennya sewaktu SMP itu orang yang tidak baik. "Hmm. Dia baik-ssu. Akashicchi memahami semua anggota tim, dan selalu memperhatikan mereka. Akashicchi juga disiplin, dia tidak menoleransi ketidakdisplinan sedikit pun. Biasanya sih, Aominechhi yang sering kena marah, tapi aku tahu maksud Akashicchi baik, kok. Yah, salah Aominechhi sih, yang sering malas latihan dan suka mengajak bercanda. Jadinya, kadang aku juga ikut dimarahin Akashicchi-ssu. Akashicchi kalau marah menakutkan, apalagi kalau sudah memberi hukuman! Oh ya, training camp waktu itu juga mengerikan! Aah, bagi orang yang tidak mengenalnya pasti akan langsung membencinya karena terlalu kejam, tapi aku tahu Akashicchi tidak pernah berniat untuk menyiksa siapa pun, kok."

Pria berjas hitam itu gatal ingin memijat dahinya yang berdenyut. Kise Ryouta, pemuda itu malah membahas tentang hal yang tidak ditanyakan. Ditambah dengan logat yang unik dan nama panggilan khusus itu, membuat penanggung jawab Akashi tersebut kurang bisa menangkap apa yang Kise sampaikan.

"Jadi kesimpulannya?"

"Akashicchi orang yang baik-ssu!" Ucap Kise dengan mata berbinar, "kami semua menghormatinya!"

"Begitu ya," pemuda berjas hitam mengupas senyum. "Kalau begitu, apakah Akashi pernah menemui dalam waktu dekat ini?"

"Terakhir sih, ketika musim dingin-ssu." Kise melempar pandangannya ke langit-langit Cafe, mengingat kejadian sekitar tiga bulan lalu.

"Bisa kau ceritakan bagaimana kejadiannya?"

Kise mengangguk. "Boleh saja-ssu."

.

.

*

"Oh, Kise-senpai? Kise-senpai ada, mungkin belum keluar, tunggulah sebentar."

Pemuda berambut pirang yang kini telah berada di kelas akhir itu terlihat keluar dari gedung olahraga SMA Kaijo, lengkap dengan jaket biru dan tas olahraga berwarna serupa.

"Ah, Kise-senpai! Ada yang mencarimu!"

Manik cokelat madu Kise membelalak ketika melihat siapa yang datang. "Akashicchi?"

"Lama tidak bertemu, Kise." Akashi tersenyum tipis.

"Akashicchi mengapa ada di sini? Kau datang dari Kyoto?" Melihat jaket biru-putih Rakuzan tersampir di bahu pemuda itu, Kise berpikir kalau Akashi langsung datang begitu jam sekolah usai.

"Apa aku mengganggumu, Kise?"

"Tidak, kok!" Seperti biasa, Kise langsung memasang senyum secerah mentari. "Akashicchi ada apa sampai kemari menemuiku?"

Angin sore yang berembus kencang mengibarkan rambut mereka. Terjadi jeda sejenak sebelum Akashi menjawab pertanyaan Kise.

"Aku hanya ingin mengabarkan, kalau aku menginginkan kehadiran kalian di rumahku ketika akhir pekan."

Netra madu membulat, "Whoa! Acara menginap" Kise tidak mau repot-repot menyembunyikan kegirangannya. "Semuanya akan ikut? Aominecchi, Kurokocchi, Midorimacchi dan Murasakibaracchi akan ikut?" Mendapat anggukan serta senyuman tipis dari pemuda berambut merah, Kise malah beralih berjingkrak-jingkrak. Membuatnya menjadi tontonan mendadak di halaman sekolah, tetapi yang bersangkutan malah terlihat tak peduli sama sekali.

"Jadi, kau bisa datang?"

"Pasti bisa-ssu!"

Lagi, Akashi mengulas senyum tipis. Hanya saja, Kise benar-benar tidak memahami arti dari senyum itu.

.

.

.

*

"Kemudian kabar itu datang-ssu." Mendung segara berkerumun di mata si pemuda pirang. Jelas, Kise tidak pernah sibuk merepotkan diri dengan menutupi afeksinya kepada orang lain.

Tetapi itu semua sudah cukup. Lewat reaksi dan tatapan mata Kise, pria itu tahu bahwa Kise mengatakam keujujuran dalam kisahnya.

"Kalau begitu, kita sudahi sampai di sini." Si pria mulai beranjak. "Terima kasih sudah mau berbicara denganku."

"Tunggu!" Kise menahan pria bertuksedo tersebut. "Kau bilang, kau penanggung jawab Akashiccchi, kan?"

"Ya, benar."

"Tolong sampaikan pada Akashicchi," Kise menundukkan kepala. Ada banyak, banyak sekali hal yang ingin ia sampaikan pada Akashi. Sebagian besar adalah kekesalan--itu pun kalau dia berani dan kuat nyali memarahi Akashi. Untuk bagian ini, besok-besok dia bisa berkolaborasi dengan Midorima untuk melakukannya. Kise yakin temannya yang hijau itu juga punya banyak sekali hal untuk dikeluhkan di depan sang kapten-- Sebagian lainnya adalah harapan.

Mungkin tidak pantas untuk menitipkan kekesalan, jadi, Kise memilih yang kedua.

"Tolong sampaikan pada Akashicchi, 'kita belum jadi reuni, lho, Akashicchi. Ayo, kau kan sudah mengajak kami.' "

.

.

*

"Aku tidak menyangka kalau orang seperti dia jago bermain basket." Lagi, pria berjas hitam itu menyampaikan pendapatnya setelah melaksanakan tugas. "Dia lebih cocok menjadi model dengan wajah ikemen itu."

Pemuda bersurai merah yang sedang memandang ke luar jendela itu pun menoleh. Dia berniat mengabaikan pria itu, namun pembicaraan tentang teman-teman selalu membuatnya tertarik. Tidak peduli meski pria itu akan berakhir menginjak harga dirinya sedemikian rupa.

"Ryouta memang seorang model."

"Sudah kuduga!"

Sadar terus-terusan ditatap, pria berkemeja putih balik bertanya, "Ada apa Seijuurou? Ingin mengatakan sesuatu?"

"Tidak," ucapnya, "aku hanya heran kau tidak mengejek atau menyalahkanku setelah mengunjungi teman-temanku."

"Oh," mendengarnya, pria berjas hitam menyeringai, "Mengejek? Tidak kali ini, Seijuurou. Tapi aku hanya ingin mengingatkan kalau temanmu yang berambut pirang itu menghormatimu dengan tulus."

Pemilik mata kaisar masih diam, tahu kalau kalimat itu masih ada lanjutannya.

"Kau harusnya bisa menilai dirimu sendiri. Apa kau pantas menerima rasa hormat setulus itu dari seseorang? Ah, kurasa bukan. Yang benar adalah : apa kau pantas menerima rasa hormat teman-temanmu yang tulus itu?"

Seperti yang sudah-sudah, pemuda bersurai merah itu tetap bungkam, tidak peduli meski hatinya diinjak habis oleh lawan bicaranya itu. Tak ada tatapan penuh titah, apalagi sanggahan angkuh. Untuk yang entah keberapa kali, sang kaisar melempar pandangan ke luar jendela. Tatapan itu meredup, seakan kehilangan kekuatannya.

.

.

"Akulah yang lemah di sini, Akashicchi. Aku memang yang terlemah di antara kalian semua. Namun, Akashicchi satu-satunya yang berkata kalau aku tidak lemah.

Itu sebabnya aku selalu percaya. Kalau Akashicchi kuat, sangat kuat, bahkan paling kuat di antara kita semua.

Maka, jangan pernah tiba saatnya aku harus mengatakan apa yang Akashicchi katakan padaku dulu."

.

.

NEXT : Akashi