Disclaimer: Bleach is Tite Kubo's property and Congratulations is a song written and sung by DAY6. I only write the fanfiction

Warnings: probably OOC, plot-hole, storyline agak maksa, mungkin kebanyakan narasi, etc...

Note: AU based on DAY6 – Congratulations


chapter 2 - congratulations

.

.

.

Kereta cukup sepi hari itu.

Rukia duduk di kursi kereta, berulang kali membuka-tutup ponselnya sembari menunggu hingga kereta tiba di tempat tujuannya. Ia menunggu. Mencari sesuatu. Sesaat setelah ia membuka ponsel, Rukia menghela napas panjang. Masih tidak ingin bicara, ya...

Satu bulan telah berlalu sejak panggilan telepon terakhir darinya untuk Ichigo. Walaupun hari telah berganti, Rukia masih ingat betul suara Ichigo di ujung telepon—suara yang monoton, bukan suara bersemangat seperti apa yang diharapkannya.

Rukia terus menerus meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja sejak panggilan telepon tersebut, namun tak bisa dipungkiri—mau bagaimanapun ia berusaha untuk tetap tenang, Rukia selalu mengkhawatirkan sang kekasih. Ia pun akhirnya memasang earphone dan memutuskan untuk memutar beberapa lagu untuk mengalihkan pikirannya.

Ah, Rukia benci ketidakpastian. Sudah berapa lama waktu berlalu sejak mereka berdua memutuskan untuk 'istirahat' dari hubungan mereka? Ralat, bukan mereka berdua—Ichigo yang meminta untuk beristirahat.


"Ichigo, kenapa kau seperti ini?" tanya Rukia—raut khawatir terlihat jelas di wajah sang puan.

Ichigo hanya mendecakkan lidah sebelum melirik Rukia. Rukia menyadari tatapannya berbeda dari yang ia (tadinya) selalu tunjukkan pada Rukia. Tatapan yang dingin. "Apa maksudmu aku seperti ini?"

Rukia terdiam sesaat, memilih kata-kata di dalam kepalanya—ia tidak mau kata-katanya terdengar terlalu kasar hingga menyakiti hati Ichigo. "Kau... seperti menghindariku. Setiap aku mengajakmu pergi bersama, kau selalu menolak. Kau mulai jarang membalas pesan dan teleponku," tandas Rukia, "apa aku berbuat sesuatu yang membuatmu marah?"

Keheningan mengikuti kata-kata Rukia, mengisi atmosfir di antara sepasang kekasih yang sedang bertengkar ini. Hei, apakah ini bisa dibilang bertengkar? Toh Rukia hanya bertanya pada Ichigo perihal perubahan sikap sang pemuda.

Semenit berlalu hingga akhirnya Ichigo memutuskan untuk mematahkan keheningan. "Rukia, kurasa aku harus istirahat," balas sang pemuda bersurai oranye.

"Istirahat?"

"Ya. Kurasa aku perlu beristirahat dari... hubungan kita," lanjut Ichigo.

Rukia diam mematung. Ia tak bisa menghentikan dirinya dari menghujani pikirannya dengan pertanyaan. Apa maksudnya itu? Kenapa? Apakah ia melakukan sesuatu?

"Tidak apa-apa, Rukia. Kau tidak salah," ucap Ichigo, menarik Rukia ke dalam pelukan. Setelah sesaat berada diam dalam posisi tersebut, Ichigo melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Rukia. "Aku... hanya butuh waktu. Setelah ini, aku akan merasa lebih baik." Sebuah senyuman tipis terukir di wajah Ichigo. "Jadi, kau tidak perlu khawatir, oke?"

Jawaban masih belum keluar dari bibir Rukia—walaupun Ichigo bilang ini bukan salahnya, di lubuk hati paling dalam Rukia masih merasa bahwa Ichigo ingin meminta istirahat dari hubungan mereka karena dirinya. Karena entah apa yang Rukia lakukan—atau mungkin Ichigo merasa bosan dengannya? Entahlah, terlalu banyak kemungkinan bagi Rukia.

Namun pada akhirnya ia memilih untuk menyetujui pilihan Ichigo dan memercayainya. Bagaimanapun juga, Ichigo merupakan kekasihnya—lelaki yang ia cintai. Rukia tentu percaya padanya. Sebuah senyuman dengan enggan terbentuk di bibir Rukia, anggukan pelan pada akhirnya ia berikan sebagai jawaban. "Jika kau bilang begitu, baiklah. Kuharap kau akan segera merasa baikan. Aku akan menunggu," balas Rukia lirih.

Ichigo kembali memeluk Rukia erat. "Terima kasih, Rukia."

Perlahan Rukia melingkarkan lengannya ke sekeliling tubuh Ichigo. Rasanya Rukia tak ingin melepaskan pelukannya dari sang pemuda. Ia ingin tetap seperti ini.

"Aku mencintaimu, Ichigo."

Terdapat jeda beberapa saat sebelum sebuah balasan dilontarkan.

"Aku juga mencintaimu."


Ia bilang ia ingin beristirahat, namun sampai detik ini masih belum ada kabar lagi dari dirinya. Entah hanya perasaan Rukia saja, tapi—bukankah ini waktu yang terlalu lama untuk 'istirahat'? Jujur, Rukia tidak suka dibiarkan menunggu di balik bayangan ketidaktahuan seperti ini.

Apa yang sedang dilakukan Ichigo? Apakah ia menanyakan Rukia? Apakah ia merindukan Rukia?

Tidak apa-apa, Rukia. Ia hanya butuh lebih banyak waktu. Saat ia selesai, ia akan kembali padamu. Tenang saja—kalian saling mencintai. Ia mencintaimu, aku tahu itu—setidaknya, itulah yang selalu Rukia katakan pada dirinya.

Tidak apa-apa. Rukia tahu Ichigo akan kembali pada dirinya. Saat hatinya mulai meragu, ia selalu kembali percaya.

Karena ia tahu Ichigo menyayanginya. Sangat.

Pintu kereta sesaat kemudian terbuka. Rukia yang masih menunduk terfokus pada ponselnya tak memerhatikan orang yang masuk ke dalam kereta—sebelum sebuah suara yang familiar terdengar oleh telinga Rukia.

Eh—?

Tidak, tidak, ia pasti mengkhayal. Tidak mungkin ia ada di sini. Apakah ia mulai berhalusinasi mendengar suara Ichigo karena terlalu merindukannya?

Suara itu terdengar lagi. Tawa Ichigo. Rukia menghentikan lagu yang sedang diputarnya dan mengangkat kepalanya, tapi...

"Ahaha, Ichigo-kun lucu sekali!"

Dan tepat saat itu Rukia melihatnya. Pemuda yang masih ia tunggu-tunggu—pemuda yang ia cintai. Ichigo Kurosaki, duduk di kursi seberang Rukia—bersama seorang gadis yang tak Rukia kenal. Gadis manis dengan rambut oranye panjang, kedua lengan sang gadis melingkar di lengan Ichigo.

Raut wajah Ichigo yang awalnya terlihat senang berubah saat melihat Rukia. Mereka berdua hanya saling bertatapan dalam diam, tak tahu harus berbuat apa.

Rukia merasa sesak. Ia tak bisa bernapas, untuk bicara saja rasanya sangat sakit. Hatinya serasa tercekik. Ah, jadi ini alasan Ichigo memintanya untuk 'istirahat' dari hubungan mereka. Jadi begini akhirnya. Jadi ini akhir dari penantian dan kepercayaannya.

"Ichigo-kun, Ichigo-kun! Lihat, deh," ucap gadis itu, kembali mengalihkan perhatian Ichigo dari dirinya. Rukia dapat melihat Ichigo yang tertawa dengan bahagianya setiap ia bicara dengan gadis itu.

Jika saja Rukia tidak sebodoh itu. Jika saja Rukia tidak semudah itu menaruh kepercayaannya pada Ichigo, mungkin ini semua tak akan terjadi. Mungkin ia tak perlu menyakiti dirinya sendiri seperti ini.

Tak terasa sebuah senyuman terbentuk di wajah Rukia.

Hebat sekali, Ichigo Kurosaki. Bagaimana ia bisa terlihat baik-baik saja? Bagaimana bisa ia dengan mudahnya menginjak-nginjak Rukia?

Rukia bertanya-tanya—Bagaimana hubunganmu dengan gadis itu? Apakah ia lebih baik dariku?

Apakah ia berhasil menghapus semua ingatan tentangku dari kepalamu?

Ya, kebahagiaan Ichigo-lah yang paling penting bagi dirinya. Tapi, hei, mengapa Rukia harus mendoakan kebahagiaan Ichigo? Untuk apa ia mendoakan kebahagiaan pemuda yang telah meninggalkannya?

Satu persatu kilasan kenangan Rukia bersama Ichigo muncul di kepalanya.

Saat mereka bermain game bersama. Saat mereka pergi ke taman hiburan. Saat Ichigo menyanyikan lagu dan bermain gitar untuk Rukia. Saat mereka bermain tembak-tembakan dengan pistol air. Saat mereka pergi ke festival kembang api dan Ichigo mencium Rukia untuk pertama kalinya.

Kini semua kenangan itu telah hangus. Hancur berkeping-keping bersama harapan Rukia.

Kereta sebentar lagi akan tiba di stasiun tujuan Rukia. Rukia segera mengambil tasnya dan beranjak dari kursi, memberikan Ichigo satu tatapan terakhir. Kedua mata mereka bertemu. Tak ada kata yang terucap, mereka tenggelam dalam diam sebelum Rukia berjalan ke depan pintu kereta.

Hei, Ichigo.

Apakah kau sebahagia itu? Aku melihatmu tersenyum sangat bahagia seakan kau telah melupakanku.

Lain halnya denganku yang hingga setiap bernapas, hatiku terasa sakit.

Ah, tapi bukankah itu hal yang bagus? Kau tidak akan pernah merasa sakit hati.

Karena jika kau berpisah dengannya, kau hanya akan memulai cinta yang baru.

Tak apa-apa. Tinggalkanlah aku.

Pergilah dengannya seakan aku tidak pernah ada.

Kereta pun berhenti dan pintu terbuka. Rukia berjalan keluar dari kereta—sesaat setelah ia mengatakan sesuatu pada Ichigo. Kata-kata terakhirnya untuk (mantan) kekasihnya.

"Selamat, Ichigo Kurosaki."

Selamat, kau telah menghancurkan hatiku.

.

.

.

Fin.


Akhirnya bisa update fic ini ;_; maaf udah menelantarkan(?) fic ini huhuhu /halah

Sebenernya lagunya lumayan lama tapi saya baru dengerin dan baru suka /dzigh/ selain melodinya yang enak, arti lagunya juga- nyes :")

Terima kasih telah membaca!