.

Terhitung sudah tiga jam berlalu sejak sesi makan malam berakhir. Jaehyung sudah nyaman pada posisinya; berbaring di kasur yang dua kali lipat lebih luas dari kasurnya yang dulu, pun bantal empuk yang berlapiskan kain lembut mengganjal kepalanya. Namun sayang kombinasi memabukkan itu tak mampu membuat Park Jaehyung terlena untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya.

Ia tetap tidak bisa tidur.

Percayalah, ia sudah berulang kali mencoba untuk terlelap, memejamkan mata sambil menghitung ratusan domba imajiner tapi sayangnya semua itu tak membuahkan hasil.

Sesuatu masih mengganjal di hatinya, terasa ganjil dan tak masuk akal.

Semua berputar-putar di otaknya, saling terkait hingga menggumpal menjadi kusut.

Tentang keganjilan yang ia lihat tadi sore...

-Under the Sea-

Ketika masuk ke dalam, Jaehyung bertemu dengan anak sulung Paman Seojoon dan Bibi Minyoung. Park Sungjin, begitu dia memperkenalkan diri. Melihat Sungjin berbicara santai seperti kawan lama, Jaehyung perkirakan mereka seumuran.

"Ayo kuantar. Ada satu kamar lagi di lantai atas." begitu kata lelaki itu, kemudian menarik lengannya tanpa permisi.

Sepertinya sifat ramah Sungjin turun temurun dari Ibunya, begitupun Dowoon, mereka sama-sama banyak bicara. Sebanyak langkah menaiki anak tangga sebanyak itu pula kisah yang Sungjin ceritakan, tentang gitar kesayangannya yang bernama Atom, anak anjing Dowoon yang melahirkan bayi-bayi lucu, taman belakang rumah mereka yang seram banyak hantunya, dan kisah-kisah lain yang tak sempat Jaaehyung dengar karena sibuk menahan beban di kanan-kirinya.

Jaehyung hanya iya-iya saja selama Sungjin mengoceh, tak benar-benar mendengarkan apa-apa saja yang dilontarkan lelaki bergigi kelinci itu. Tangannya sudah kelewat kebas mengangkat koper dan tas yang super berat seorang diri. Bukannya ia ingin meminta Sungjin membantunya mengangkatkan barang berat—tidak sama sekali, tapi ia tak menyangka Sungjin tega hanya memandunya sampai ke kamar tanpa menawarkan bantuan.

Ah, ya sudahlah.

Anggap saja ia sedang berusaha meningkatkan masa otot lengannnya yang selalu dijadikan objek lelucon karena dinilai terlalu kurus dan lembek seperti seuntai pasta. Jangan salahkan dia soal itu. Pekara postur tubuhnya, salahkan saja gen orang tuanya yang tinggi menjulang dan kurus. Jae tidak tahu apa-apa soal itu.

Tak terhitung berapa anak tangga yang ia daki, tahu-tahu ia sudah berdiri di depan sebuah pintur berpelitur mengkilap. Gemerincing kunci yang berdesakan terdengar nyaring begitu Sungjin memutar kunci searah jarum jam. Pintu terbuka. Sungjin mempersilahkan Jaehyung masuk terlebih dulu.

Aroma perasan lemon samar-samar menyeruak masuk indera penciuman Jaehyung saat kakinya menapak ke dalam ruangan.

"Kemarin aku dan Dowoon yang membersihkan kamar ini. Pembersih lantai dan pewangi ruangannya satu merk satu aroma, jadi baunya masih terasa, tapi enak 'kan?"

Anggukan samar Jaehyung berikan walaupun Sungjin juga tidak memperhatikan. Lelaki itu malah sibuk mengelilingi sisi-sisi kamar. Tas dan koper Jaehyung ia taruh di samping lemari, ia memutuskan menata bajunya besok saja, terlalu lelah jika melakukan semuanya hari ini sekaligus.

Jaehyung dudukan bokongnya pada salah satu dari dua kasur yang berjejer. Ia putuskan untuk memilih kasur yang dekat dengan pintu, sementara yang dekat dengan jendela untuk Younghyun saja.

Jaehyung tahu Younghyun suka menatap pemandangan luar. Anak itu betah sekali membuka jendela kamar tengah malam, tak peduli ratusan kali Jaehyung mengomel dirinya yang kedinginan.

"Eh? Jae, bukannya itu Younghyun?"

Sungjin bersuara dari dekat jendela. Jaehyung yang penasaran menghampiri lelaki itu.

Dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri, bocah berambut hitam legam dengan bola ditangannya memang benar adalah Younghyun, adiknya. Jaehyung yakin pasti.

Tapi yang membuatnya ragu adalah pemandangan selanjutnya yang membuat dirinya juga Sungjin terperangah. Tak jauh dari mobil yang terparkir di bahu jalan, Younghyun sedang tertawa cekikikan.

Jaehyung mengucek kedua matanya untuk memastikan ia tidak salah liat. Tapi berapa kali pun matanya mengkerut hanya ada Younghyun seorang diri.

"Jae.. Younghyun..."

Mata Sungjin membulat, sama tak percayanya dengan Jaehyung.

".. bermain dengan siapa?"

-Under the Sea-

Perihal kejadian kemarin sore sudah mereka sepakati sebagai rahasia bersama. Jaehyung meminta Sungjin untuk merahasiakannya dari siapa pun, termasuk jangan bertanya pada Younghyun--walau dalam hati Jaehyung juga setengah mati penasaran.

Selepas makan siang, Sungjin menawarkan diri setengah memaksa untuk mengajak Jaehyung dan Younghyun berkeliling desa. Dia ingin ajak kedua penghuni baru itu melihat-lihat pemandangan asri desa dan memetik apel di kebun keluarga. Ketika melirik kearah Ibunya, wanita itu mengangguk setuju, dan Jaehyung tak sempat menolak karena Younghyun sudah berteriak kegirangan diikuti Dowoon yang tak kalah berisik. Mau tak mau remaja berkacamata itu harus menggerakan badannya untuk ikut tur dadakan yang dipandu Sungjin, karena kalau terjadi apa-apa pada Younghyun—semisal anak itu tersesat atau tenggelam di sungai, ujung-ujungnya Jaehyung juga yang akan disalahkan.

Huh, merepotkan betul jadi seorang kakak.

Keempatnya beriringan membelah jalanan yang dihimpit hamparan tanaman jagung yang menjulang tinggi. Tanah yang mereka pijak kering dan berbatu. Sedang cakrawala terbentang luas dengan kapas-kapas besar yang mengambang. Jaehyung menikmati semilir angin menerpa ujung-ujung rambutnya yang mulai memanjang. Diam-diam ia merasa sedikit senang, tak ada ruginya ikut tur dadakan ini.

Beruntung musim panas disini tidak seekstrem di kota, kalau tidak Jaehyung sudah pasti akan memilih mendekam di kamar sambil berleha-leha di depan kipas angin. Ia sangat tidak suka kulitnya terbakar sinar matahari, karena kalau itu terjadi bisa dipastikan dia akan berubah jadi monster merah jambu. Kulitnya benar-benar sensitif. Berbeda sekali dengan Younghyun yang memang terlahir untuk bercengkrama dengan alam.

"Hyung, apa boleh aku mengajak Youngie hyung ke pantai?"

Perjalanan mereka terhenti sejenak. Dowoon mendongak untuk bertanya pada kakaknya. Melihat bagaimana bocah itu berucap dengan lidah cadelnya, Jaehyung merasa gemas. Wajahnya polos sekali waktu bertanya. Berbeda sekali dengan adiknya, Younghyun bahkan tidak pernah meminta izin saat hendak bermain, anak itu tahu-tahu sudah menghilang setelah mengganti seragam dan baru pulang sore harinya dengan muka belepotan tanah. Benar-benar perbedaan yang kontras.

"Eum, tapi jangan main sampai ke tengah ya, di pinggirnya saja."

Jaehyung sontak kaget, lelaki itu memberi pelototan kepada Sungjin. Membiarkan dua bocah bermain di pantai tanpa pengawasan orang dewasa? Yang benar saja. Kalau sampai mereka tenggelam digulung ombak bagaimana? Kalau—

"Tenang saja Jae, disana ada Paman Park, nelayan yang tinggal di sekitar pantai, kami mengenalnya dengan baik--" tangan Sungjin mengipas udara sekali, "--tidak perlu khawatir."

Jaehyung menggigit bibirnya, melihat kebawah dan menemukan empat pasang mata kecil yang berbinar memohon seperti anak kucing. Tidak, jangan menatapnya begitu, Jaehyung tahu dia tidak akan tahan ditatap seperti itu.

Lelaki itu akhirnya menghela napas.

"Baiklah, terserah kalian saja."

Setelah mengantongi izin, kedua bocah terpaut usia dua tahun itu kemudian berlarian sambil bergandengan tangan, tertawa lepas seperti teman lama yang sangat akrab. Dowoon membawa Younghyun berlarian menuju hutan, menginjak rerumputan dan melewati pepohonan rimbun dengan langkah pasti, seolah sudah terlalu hapal tata letaknya. Younghyun hampir menangis ketika kakinya terseok akar pohon yang menjalar karena Dowoon berlari terlalu cepat, namun itu semua terbayarkan begitu kedua netranya disuguhi pemandangan menakjubkan. Younghyun tak dapat menutup bibir mungilnya ketika gelapnya hutan kemudian tergantikan dengan bentangan pasir putih yang terlihat kemilau digempur ombak. Membuatnya tak henti-hentinya merapalkan; 'Uwah, luar biasa!'

Dowoon melirik Younghyun sekilas, bocah itu tertawa melihat Younghyun yang seperti baru saja melihat surga. "Hyung, kau norak."

Younghyun mendelik, "Biarin. Pokoknya aku mau bermain disini sampai puaaas."

Dengan tidak sabaran Younghyun melepas sandalnya, membuangnya asal lalu berlarian menyambut ombak meninggalkan Dowoon. Melihat teman barunya mencuri start lebih dulu, Dowoon tidak mau kalah dan ikut melepaskan sandalnya. "Hyung, tunggu akuu!"

Seperti yang dikatakan Sungjin, seorang nelayan yang mereka panggil Paman Park memang tinggal di pesisir pantai, seorang diri dirumah sederhana yang berdindingkan kayu dan beratap daun rumbia. Sederhana sekali. Lelaki tua berkulit kecokelatan itu tengah mengurai jaring ketika mendengar suara tawa anak kecil yang berlarian di pinggir pantai.

"Paman Park!"

Suara melengking khas anak-anak itu menghantam deburan ombak. Lelaki tua Park mendongak. Matanya menyipit. Di usia senjanya, melihat saja sudah sulit. Barulah ketika dua bocah itu sampai di hadapannya ia dapat mengenali mereka.

"Aigoo lihat siapa yang datang ini." Lelaki itu meninggalkan aktivitasnya sejenak. Menekuk lututnya untuk menyamakan tinggi dengan anak-anak itu. Kerut-kerut di sekitar matanya semakin terlihat terlihat jelas kala ia tersenyum.

"Omo! Siapa ini?! Temannya Dowoon ya?"

Younghyun tersenyum meringis. Memperlihatkan gigi depan yang tak rata bentuknya.

Ia membungkuk sopan. "Namaku Younghyun. Park Younghyun, paman!" Serunya lantang bersemangat.

Paman Park tersenyum dan mengangguk. Satu tepukan pelan di kepala Younghyun ia berikan. Kemudian dua bocah itu dibiarkan bermain di pesisir pantai. Mencari sisa-sisa kerang yang tertimbun ataupun menganggu binatang kecil penghuni pesisir pantai. Mereka bersenang-senang dengan gembira yang meletup-letup. Younghyun mendadak lupa kesedihan yang ia rasakan sebelum ini. Bocah itu merasakan bahagia yang sederhana hanya dengan melihat pantai. Sementara ombak-ombak terus bergulung teratur, kedua bocah itu menghabiskan siang mereka.

-Under the Sea-

"Hei, Sungjin! Cepat sedikit. Tangankan pegal tahu!"

Jaehyung tidak menyangka siang itu akan menjadi terik yang menyengat. Pemuda itu menyipitkan mata kala tengadah melawan mentari. Sementara dua bocah itu mengeluyur entah kemana, di sinilah Jaehyung dan Sungjin, di perkebunan apel. Jaehyung tak protes apa-apa saat Sungjin membawanya kesana, terlebih melihat bulat-bulat hijau dan merah menggantung di ranting-ranting membuat pemuda itu meneguk ludah. Kelihatannya enak, begitu pikirnya. Lalu Sungjin tawarkan Jaehyung untuk memetik apel. Ia tahu Jaehyung ingin makan apel, tapi si jangkung itu seperti tidak sudi untuk meminta tolong padanya. Maka Sungjin berinisiatif untuk memetikkan apel dan Jaehyung yang membawa keranjang untuk wadahnya.

"Jangan banyak mengeluh! Kalau mau yang enak," Sungjin melompat. "--tidak bisa ambil sembarangan-- ughh, tinggi sekali sih." Pemuda itu susah payah mengambil satu apel yang menurutnya sudah matang dan siap di makan. Namun sayangnya, apel itu terlalu sulit diraih. Belum lagi Jaehyung yang daritadi terus mengeluh kepanasan. Padahal mereka baru mendapatkan tiga buah sejauh ini. Belum cukup untuk dimakan dan dibawa pulang.

Jaehyung yang mudah lelah dan tak tahan kepanasan itu akhirnya menyerah. Ia kesini bukan untuk bersusah diri, jadi pemuda itu memberikan keranjangnya untuk di bawa Sungjin. Ia pikir lebih baik dia saja yang mengambilkannya. Mengingat letak apel yang ingin Sungjin gapai masih mungkin untuk ia raih.

Sungjin yang tak mengerti maksud Jaehyung menatap pemuda disampingnya dengan dahi yang berkerut.

"Kau yang bawa keranjangnya. Biar aku yang mengambilkan apelnya. Tunjuk saja yang mana."

Mendengar itu, Sungjin merasa harga dirinya sedikit tercoreng. Maksud Jaehyung berkata seperti itu apa? Mau bilang kalau Sungjin pendek, begitu? Atau mau pamer kalau pemuda itu punya kaki-kaki yang lebih panjang darinya?

Sungjin tidak mau diperlakukan seperti ini. Pemuda itu mengembalikan keranjangnya pada Jaehyung. "Tidak usah. Aku saja."

Jaehyung mendecih, "Lihat. Kalau kau yang ambil akan menghabiskan banyak waktu. Biar aku saja."

Keranjang itu kembali beralih pemegang. "Oho! Kau meremehkanku ternyata. Dengar ya, disini aku yang punya perkebunan ini, Jaehyung-ssi. Tolong ingat itu."

Di tengah terik yang meronta-ronta dua pemuda itu terus beradu mulut. Sementara apel-apel disana sedang jengah menatap dua manusia yang berebut posisi.

Panas ini makin membuat kepala Jaehyung berkedut pusing. Perdebatannya dengan Sungjin semestinya tidak perlu ada. Jaehyung menghela napas sejenak. "Baik. Begini saja. Kita bergantian tiap dua pohon. Begitu keranjangnya penuh, kita berhenti. Dengan ini adil, 'kan?"

Tawaran Jaehyung itu disambut anggukan Sungjin beberapa detik kemudian. Mereka sepakat dengan ide itu. Luas perkebunan mereka jarah untuk mendapatkan apel yang berkualitas. Dahi-dahi berpeluh keringat, sengatan mentari benar-benar menjemur mereka hingga tenggorokkan terasa kering dahaga. Mereka cukupkan perburuan mereka di pohon kesepuluh. Lumayan menghabiskan waktu untuk bisa memenuhi sekeranjang penuh. Dengan begini mereka bisa makan apel hingga perut kembung.

"Ahhh.. capeknya."

Sungjin pilih tempat berteduh di pohon yang daunnya rapat-rapat. Cukup rindang untuk berlindung dari sengatan matahari. Jaehyung menghampiri Sungjin dan ikut duduk di hamparan tanah yang kering. Tak ia indahkan celananya akan kotor setelah ini. Pemuda itu tak acuh saja. Rasanya terlalu lelah hanya untuk mencari tempat yang bersih untuk menaruh bokong.

Satu yang merah itu ia ambil dari dalam keranjang. Tidak dicuci, hanya di usap dengan kaus lalu ia gigit dengan gigitan besar. Segar. Manis dimulut. Tenggorokannya terobati dengan ini. Sungjin ikut merogoh keranjang. Tangannya mengambil secara acak lalu menggigitnya dengan satu gigitan besar pula. Mereka duduk dengan kaki lurus bersandarkan badan pohon yang kokoh. Pemandangan jejeran pohon yang tertata rapi jadi hiburan. Mereka diam sambil mengunyah. Sesekali angin lewat untuk menyapa.

"Hei, Jaehyung!"

Yang di panggil menoleh dengan malas. "Apa?"

"Adikmu itu... punya keistimewaan khusus ya?"

"Ya, dia istimewa. Makannya banyak. Mainnya banyak pula."

"Aish, bukan itu maksudku." Jaehyung terkekeh. Apel di tangannya tinggal setengah, bentuknya jadi bergerigi dan mengeluarkan sari. Pemuda itu kembali menatap Sungjin.

"Lalu istimewa yang bagaimana maksudmu?"

Sungjin melempar sisa apelnya jauh di depan sana. Mengambil yang baru lalu mengunyahnya. "Ya, yang kemarin sore itu."

Jaehyung menghentikan kunyahannya. Ia tatap apel di tangannya. Perihal kemarin sore, sejujurnya Jaehyung juga penasaran. Selama ini ia tidak melihat gelagat aneh dari Younghyun. Anak itu terlihat normal seperti kebanyakan anak pada umumnya. Makan, bercanda lalu main. Begitu lah Younghyun di mata Jaehyung. Remaja itu tidak cukup tahu mengenai keseharian adiknya. Ia terlalu sibuk dengan urusan sekolah dan Younghyun, bocah itu lebih suka bermain di luar rumah karena seringnya Jaehyung enggan di ajak bermain. Lidah Jaehyung kelu untuk menjawab pertanyaan itu. Ia merasa tidak benar-benar mengenal adiknya sendiri. Apel di tangannya kini tidak lagi terasa lezat. Nikmatnya sudah hilang entah kemana.

-Under the Sea-

Lelah tertawa dan kejar-kejaran dua bocah itu kini tengah asyik menggambar di atas pasir. Ranting kurus yang Dowoon ambil dari bibir hutan ia patahkan untuk kemudian di bagi dua dengan Younghyun.

Guratan-guratan kasar itu membentuk gambar-gambar binatang, pesawat dan bunga-bunga. Mereka gambar apa saja yang terlintas dalam benak. Dowoon melihat Younghyun dari kejauhan. Ia telah selesai dengan astronotnya yang terbang dengan pesawat di ladang bunga. Ia ingin pamerkan itu pada teman barunya. Lalu Younghyun yang masih asyik dengan dunianya Dowoon hampiri diam-diam.

Dilihatnya Younghyun tengah menggambar dua orang anak laki-laki dengan satu bulatan, yang Dowoon asumsikan adalah bola sepak, tengah tertawa riang. Ada kupu-kupu disana. Adapula sesuatu yang bergelombang.

Yang lebih muda ikut berjongkok. Ia pandangi Younghyun yang tak pedulikan kehadirannya. Jari-jari mungil itu masih semangat menggaris-garis. Dowoon tunjuk ke arah orang itu. "Hyung, apa itu aku? Kenapa rambutku panjang sakali?"

Dowoon tanyakan itu karena dia yang disana berbeda sekali dengan dirinya. Rambut anak itu punya rambut yang panjangnya hampir menutupi mata. Padahal Dowoon sendiri sudah potong rambut sejak lama, bahkan sebelum bertemu Younghyun.

Bocah itu pandangi temannya sekali lagi. Younghyun tersenyum. Lalu menggeleng. "Itu bukan kamu. Dia teman baruku."

Dowoon berkedip-kedip pelan. Ia tidak mengerti. Teman baru? Apa Younghyun sudah memiliki teman baru selain dirinya?

"Apa dia tinggal di dekat rumah kita?"

Dowoon bertanya karena penasaran. Namun lagi-lagi Younghyun menjawab dengan gelengan. Bocah itu kembali menatap Dowoon dengan senyum yang sama.

"Aku tak tahu dia tinggal dimana. Aku tak sempat tanya. Tapi kemarin kami sempat bermain bola di pekarangan."

Gerakan tangan itu berhenti kemudian. Dowoon pikir Younghyun sudah selesai dengan gambarnya. Ia ingin cepat-cepat memberitahu Younghyun gambar miliknya, tapi bocah berpipi gembil itu kembali berucap,

"Tapi aku tahu namanya." Dowoon mengurungkan niatnya. Ia kemudian kembali berjongkok untuk mendengar jawaban Younghyun.

"Siapa?", tanya Dowoon.

Younghyun menggerakan lagi rantingnya. Dowoon melihat dengan saksama apa yang akan di tulis Younghyun.

"W-o-n-p-i-l. Kim Wonpil namanya."

Tbc

Holaaa~

Adakah yang menunggu ff ini

Udah lama banget terbengkalai -.-

Baru bisa nyelesain satu chapter ini setelah jari2ku bisa di ajak kompromi wkwkw

Semoga kalian suka ya

Jangan lupa love dan komen

See you

Bbaing~