-UNDER THE SEA-
.
.
.
Setelah panas yang terik berganti menjadi senja yang hangat, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Dengan keranjang apel yang mereka jinjing bersama, Jaehyung dan Sungjin berjalan beriringan. Tak banyak yang mereka bicarakan, tak ada bahasan lanjut tentang keistimewaan Younghyun, hanya obrolan iseng tak penting untuk membunuh canggung.
"Ibu, kami pulang~"
Keduanya masuk dan mendapati ibu mereka sedang asyik minum teh di beranda belakang rumah. Keranjang apel itu diletakkan di dapur setelah isinya dimasukkan ke dalam kulkas. Sungjin langsung naik ke atas, menuju kamarnya, sedang Jaehyung menatap penjuru rumah. "Anak itu belum pulang juga?"
Arloji di tangan ia lirik. Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore dan Jaehyung sama sekali tidak mendengar suara-suara berisik kedua bocah itu dimana pun. Lalu ia hampiri ibunya untuk bertanya.
"Bu, Younghyun belum pulang?"
Obrolan terhenti. Yang di panggil Ibu menoleh, menarik atensi pada anak sulungnya.
"Bukannya kalian pergi bersama tadi?"
Tanya itu dibalas tanya. Satu alis naik sebelah menatap putranya. Jaehyung terdiam. Ia pikir Younghyun dan Dowoon akan pulang lebih awal, tahu begini ia tadi menjemput mereka terlebih dahulu.
Dan sekarang pandangan Ibunya seperti menuntut jawaban kemana si bungsu belum pulang sampai sekarang.
"Kenapa diam saja?"
Jaehyung garuk tengkuknya yang memang gatal, sementara otaknya sedang berputar-putar mencari alasan. Tak mungkin juga ia katakan kalau kedua bocah itu pergi ke pantai hanya berdua, tanpa pengawasan orang dewasa, Jaehyung benar-benar takut di amuk Ibunya.
"Emm-- itu.."
"AAAA HYUNG, TUNGGU AKU!!"
"HA-HA YANG KALAH HARUS SIKAT GIGI PAKAI LUMPUR POKOKNYA!!"
Suara melengking khas anak-anak tahu-tahu menyeruak ke dalam rumah. Kaki-kaki berpasir itu berlarian meninggalkan jejak di lantai, celana-baju mereka basah, dan wajah mereka belepotan pasir hingga ke rambut. Suara melengking disertai tawa-tawa itu akhirnya makin terdengar jelas. Jaehyung menghela napas syukur. Hampir saja ia keceplosan mengatakan yang sebenarnya. Kedua bocah itu kini berdiri di hadapan ibu mereka. Cekikikan itu sudah surut, namun masih ada sisa-sisa tawa dari bibir-bibir mungil mereka. Tak peduli seorang wanita yang lebih tua sudah merengut siap mengomel.
"Astaga!! Darimana saja kalian sampai kotor begini! Ya ampun Younghyun!!"
Ibu Jaehyung memijit-mijit kening melihat putra bungsunya pulang dengan keadaan kotor semrawut. Ada bau asin dan aroma matahari ketika ia mendekati dua bocah itu. Sementara Younghyun, seperti biasa, tak pernah ambil pusing meski di omeli ibunya. Jaehyung pelototi adiknya yang cengar-cengir tak berdosa itu.
-Under The Sea-
Setelah membersihkan diri, Jaehyung merasa seperti terlahir kembali. Rasanya segar sekali, seolah keringat dan pegal-pegal di kaki dan tangannya luruh di guyur air dingin. Pemuda itu setuju, mandi adalah obat terbaik untuk menghilangkan lelah. Ketika hendak menutup pintu, ia lihat Younghyun tengah berkutat dengan sesuatu. Bocah itu menunduk di tepian kasur, tangannya bergerak-gerak, jendela yang di buka lebar-lebar itu memberi celah untuk cahaya rembulan menerangi sosoknya. Jaehyung tutup pintu pelan-pelan, lalu menghampiri adiknya dalam diam.
Ia mengamati Younghyun yang tengah menggambar dengan krayon di tangan. Anak itu mendongak begitu merasakan kehadiran Jaehyung. Ia beri senyum cemerlang untuk kakaknya. Jaehyung balas tersenyum simpul. Ia dekati adiknya, mengambil tempat di sebelah bocah itu.
"Sedang gambar apa, eum?"
Younghyun tak jawab. Ia geser tangannya agar Jaehyung lebih leluasa melihat gambarannya. Jaehyung miringkan wajahnya, melihat dengan jeli gambaran bocah sebelas tahun yang warna dan bentuknya masih tak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Langit di beri warna merah, rumput yang mestinya hijau di beri warna biru, bunga-bunga tampak layu dengan warna cokelat. Jaehyung menghela napas. Adiknya ini benar-benar payah dalam hal menggambar. Namun kendati demikian Jaehyung coba pahami gambaran adiknya sekali lagi. Satu yang ia mengerti jelas adalah dua orang anak kecil, satu yang tertawa lebar itu Jaehyung asumsikan adalah Younghyun, tengah bermain bola di padang rerumputan.
"Apa ini Dowoon?"
"Bukan! Ini bukan Dowoon."
Jaehyung pandangi wajah polos adiknya. Ia berpikir dalam diam, kalau ini bukan Dowoon, bisa saja itu teman Younghyun di tempat mereka tinggal dulu. Tapi pikiran itu pun terasa ganjal bagi Jaehyung. Apa mungkin, itu adalah anak yang kemarin?
Jaehyung tanya dengan perasaan hati-hati, "Lalu... siapa?"
"Ini Wonpil. Teman baruku, Hyung."
Mendengar jawaban itu lolos dengan mudahnya dari bibir Younghyun, Jaehyung yakini benar Wonpil adalah anak kecil yang bermain dengan Younghyun kemarin sore. Pemuda itu mengulum bibir dan mengangguk canggung sebagai respon.
"Oh, begitu. Kalau begitu kapan-kapan ajak dia main kemari--"
"Dia ada disini, kok."
Deg! Untuk sepersekian sekon Jaehyung lupa caranya bernafas. Perkataan Younghyun barusan terdengar sungguh-sungguh. Ia tatap bocah itu, yang tengah tersenyum ke arah lain. Ia tak berani untuk menoleh sekitar, sudah jelas di sini hanya ada mereka berdua. Orang bilang penglihatan anak-anak masih bagus, mereka bisa lihat apa yang orang dewasa tidak bisa lihat. Jaehyung tidak ingin percaya, tapi stereotip itu masih mengganggu benaknya.
Jaehyung usap-usap lengannya. Entah kenapa hawa di sekitarnya mendadakdingin, padahal tak ada angin yang berhembus. Heningnya kamar yang ia diami sekarang turut menambah kesan ngeri.
Hanya jam dinding yang berbunyi resah.
Tik tok.
Tik tok.
Tik tok.
"Ha-haha, jangan bercanda. Tidak lucu tahu?" kepala kecil itu diberi jitakan. Jaehyung berusaha tertawa. Namun tidak bertahan lama setelah Younghyun berkata,
"Aku tidak bercanda." bocah itu mengusap-usap bekas jitakan. "Tuh! Dia ada di sana. Lihat saja sendiri." Telunjuk pendek itu mengarah pada lemari pakaian di seberang kanan Jaehyung.
Ini tidak lucu! Jaehyung lagi-lagi berusaha tak ingin percaya, namun yang mulai dirasakannya adalah tengkuknya mulai basah akan keringat. Dari pelipis menetes bulir-bulir bening.
"Wonpil bilang, Hyung tidak usah takut."
Tidak usah takut. Tidak usah. Bagaimana Jaehyung bisa tidak usah takut kalau sesuatu yang tak kasat di matanya tengah berada di sekitarnya. Lebih-lebih sesuatu itu tidak ia ketahui posisinya dimana. Bisa saja sesuatu itu tengah berdiri di depannya, atau bisa pula tengah melotot di depan wajahnya. Sekarangpun bernafas saja sulit bagi pemuda itu. Jaehyung tentu tidak bisa tenang dan berkata, "Oh, hai Wonpil, salam kenal ya." disaat seperti ini.
Dok! dok! dok!
Apalagi ini! Belum selesai dengan pekara keberadaan anak tak kasat mata, kini pintu kamar mereka bergetar. Jaehyung dengar. Younghyun juga. Tapi tak satupun dari mereka berniat membuka pintu.
Dok! Dok! Dok!
Jaehyung tak melihat ke arah manapun, saat ini ia tengah terpejam sambil merapalkan doa-doa. Suara dok dok itu terdengar makin keras sebelum Jaehyung dengar derit pintu yang terbuka dengan sendirinya.
Krriieeet
"Oy, kalian mau ikut lihat bintang tidak?"
Sungjin! Jaehyung hela napas lega. Itu Sungjin! Tak pernah ia rasakan sebersyukur ini mendengar suara Sungjin. Pandangan kedua kakak adik itu lalu tertuju pada Sungjin dan Dowoon di ambang pintu.
"Hei, kenapa diam saja? Mau ikut tidak?" tanya Sungjin heran ditatap begitu oleh Jaehyung dan Younghyun. Ia menatap mereka dengan alis naik sebelah.
Lalu Dowoon yang penasaran dengan gambar di tangan Younghyun berlari kecil menghampiri temannya. Gambaran di tangan Younghyun ia rebut, lalu dia lihat dengan bola mata kecilnya. Jaehyung pandangi Dowoon yang berekspresi sulit ditebak. Dia seperti berpikir, alisnya bertaut.
"Hyung menggambar anak itu lagi?"
Jaehyung terhenyak. Jadi Dowoon juga tahu soal anak yang bernama Wonpil itu.
"Tunggu, kau juga kenal anak itu, Dowoon-ah?" tanya Jaehyung memastikan.
"Tidak." anak itu menggeleng. "Tapi tadi sore, Youngie-hyung juga menggambar Wonpil. Ya 'kan, Hyung?"
Younghyun mengangguk. Sungjin yang berada di ambang pintu akhirnya ikut bergabung karena penasaran dengan obrolan mereka yang terlihat serius. Namun begitu ia mendekat, obrolan itu sudah berakhir. Ia tatap bingung wajah ketiganya. Dua bocah itu kembali sibuk dengan gambaran di tangan Dowoon. Lalu ia lihat lagi temannya yang tengah termenung.
Wajahnya pucat sekali.
-Under The Sea-
"Jadi, obrolan serius macam apa yang kalian bincangkan tadi malam?"
Sungjin yang tidak tahan untuk bertanya perihal tadi malam, akhirnya mengutarakan juga pertanyaan itu. Di loteng rumah mereka yang sepi, Sungjin ajak Jaehyung untuk melihat pemandangan-- sekaligus mencuri kesempatan untuk bertanya. Siang ini tak sepanas kemarin, langit menjatuhkan air lumayan banyak, tetesannya cukup kuat untuk membuat ranting-ranting merunduk. Sudah dua jam sejak awan mendung menumpahkan isinya. Dingin yang dibawa cukup membuat kulit meremang.
Jari-jari itu diremas-remas gelisah, sementara pandangannya tak jelas tertuju kemana. Jaehyung ragu untuk menjawab. Takut Sungjin tak akan mempercayai perkataannya, takut lelaki itu berakhir mentertawakannya. Hanya itu yang terpikirkan olehnya. Lagipula siapa yang akan percaya omongan tidak masuk akal bocah seperti Younghyun? Ia sendiri pasti akan tertawa garing dan menyuruh dirinya untuk tak ambil pusing jika di posisi Sungjin.
Satu sudut bibir terangkat, "Tidak. Tidak ada apa-apa. Bukan sesuatu yang penting kok." Pemuda itu tersenyum meyakinkan. Namun gelagat aneh itu jelas Sungjin sadari. Lelaki itu memicingkan mata.
"Kalau kau sampai segitunya menyangkal, pasti benar-benar ada sesuatu." ujar Sungjin santai. Jawaban itu telak menohok Jaehyung. Sungjin tersenyum remeh. Dimatanya Jaehyung sangat transparan dan mudah dibaca. Ekspresi Jaehyung terkadang memang samar menunjukkan perasaannya, pemuda itu seringnya pasang wajah datar, tapi emosi, kesal, dan senang itu begitu mudahnya Sungjin terka.
Slruupp. Cokelat panas itu ia seruput pelan-pelan. Hangatnya menjalar ke tenggorokan.
"Ah, hangatnya. Mm, ya sudah kalau kau tak mau cerita sekarang." Sungjin lirik teman di sampingnya. "Tapi tolong jangan pasang wajah suram begitu dong. Bikin orang takut saja."
Sungjin terkekeh. Jaehyung balas mengumpat pelan. Suasana yang awalnya tegang itu perlahan mencair. Kemudian dua pemuda itu kembali membuang pandang pada jalanan yang basah. Dalam diamnya, Jaehyung tengah berpikir.
Dia belum sanggup untuk bercerita pada siapapun.
tbc
.
.
.
