Penyakit susah tidur Jaehyung kambuh lagi.
Pemuda itu sebelum ini memang sering mengalami insomnia dan ironisnya menjadi semakin parah semenjak pindah rumah. Ia pikir dengan lingkungan baru, yang jauh lebih rindang dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan, tidurnya akan jauh lebih lelap. Pikirnya begitu. Tapi nyatanya tidak. Tidak sama sekali.
Entah apa yang mengganggunya. Jaehyung rasa ia terlalu banyak membawa pikiran sebelum naik ke kasur. Ini bukan seperti Jaehyung punya beban di pundak untuk mencari nafkah esok hari atau pun bermasalah dengan orang lain yang ia temui di jalan. Tidak serumit itu.
Kalau dipikir-pikir, ia hanya... memikirkan adiknya sebelum tidur. Sepele kalau dia coba ingat. Gambaran itu. Anak yang bernama Wonpil. Semua itu Jaehyung pikir bukanlah hal penting. Namun nyatanya perkataan Younghyun lima hari silam benar-benar menyangkut di kepalanya, melekat kuat tak mau hilang meski Jaehyung berusaha meyakinkan dirinya tak perlu menganggapnya sebagai suatu hal yang serius.
Inginnya begitu. Namun semakin kuat Jaehyung ingin melenyapkannya, semakin sulit dienyahkan. Seperti permen karet bekas. Benar-benar merepotkan.
"Sial. Apa yang sedang kulakukan sebenarnya?" gumam Jaehyung, masih menatap adiknya yang tengah tertidur pulas di ranjang seberang.
Menyerah dengan usaha untuk tidurnya, pemuda itu merubah posisi menjadi duduk. Meraba-raba meja nakas untuk mengambil kacamatanya, lalu menyibak selimut. Berjalan-jalan sebentar mungkin bisa membuat kantuk, pikirnya.
Jaehyung beranjak keluar kamar dengan langkah hati-hati, tidak ingin menimbulkan suara yang berpotensi membangunkan adiknya. Begitu menutup pintu kamarnya, hanya ada kesunyian yang menyambut. Lantai dua kamarnya benar-benar sepi. Pintu-pintu kamar milik Sungjin dan Dowoon tertutup rapat, tak ada cahaya sama sekali dari celah bawah pintu. Tentu saja, mereka sudah tidur. Lagipula ini sudah--Jaehyung memicingkan mata menatap arlojinya-- pukul 02.15 pagi.
Ya, hanya ia seorang diri yang masih terjaga di pukul dua pagi. Menatap pintu cokelat milik Sungjin, Jaehyung menggeleng-geleng lemah. Ia masih punya kewarasan untuk tidak membangunkan Sungjin guna mengajak lelaki itu mengobrol hingga Jaehyung merasa kantuk. Ya, dia masih waras.
Tak punya tujuan, akhirnya Jaehyung memilih menuruni tangga yang melingkar ke lantai satu. Langkah kakinya berderap berisik tiap turuni anak tangga. "Aish, selop ini berisik sekali."
Ruang tamu benar-benar gelap. Hanya bias cahaya dari lampu teras yang menembus sebagian ruangan. Sepi. Senyap. Dingin. Bunyi jam dinding yang berdetak konstan itu menemani tiap langkah Jaehyung. Pemuda itu menelan salivanya susah payah. Mampir ke dapur untuk minum segelas air dingin mungkin adalah ide terbaik.
Tungkai kakinya lantas ia bawa berjalan menuju dapur. Tak butuh waktu lama untuk ia menemukan keberadaan kulkas, lampu dari teras samping rumah sudah cukup memberinya penerangan. Ia menerawang ke arah jendela di dekat wastafel, benar-benar sepi, hanya ada tanaman-tanaman gantung yang tengah terlelap. Sebotol air mineral yang selalu disediakan di kulkas ia ambil untuk kemudian di tuangkan ke dalam mug.
Dap dap dap
Secepet kilat, Jaehyung menoleh. Air yang hendak ia minum, urung ia lakukan. Barusan Jaehyung seperti mendengar derap kaki yang berlarian cepat. Pemuda itu melirik sekitar dengan curiga. Namun nihil. Tidak ada siapa-siapa.
Pemuda itu menggeleng, lalu lanjut meminum airnya. Mungkin hanya perasaanku saja, pikir Jaehyung.
Merasa cukup dengan segelas air dingin, Jaehyung hendak beranjak dari dapur, namun suara asing itu kembali terdengar.
Dap dap dap
"Siapa disana? Younghyun?"
Ia berjalan menyusuri ruang tengah dengan meraba-raba dinding. Suasana yang gelap membuat indera penglihatannya tidak berfungsi dengan baik. Yang bisa ia andalkan hanya pendengarannya. Saat ini setiap suara begitu sensitif di telinganya.
Dap dap dap
Suara itu lagi. Jaehyung mencondongkan telinganya, mencoba dengar dari mana asalnya suara itu. Dari tempatnya berdiri, ada lorong panjang yang sangat gelap. Ia memicingkan mata, meski tak dapat melihat apa-apa.
Dap
Dap
Dap
Dap
Dap
Suara langkah kaki itu kini terdengar makin jelas. Jaehyung terpaku di tempatnya berdiri.
Brakkkk
Dari arah berlawanan, suara pintu yang terbuka menjeblak dengan keras. Jaehyung dengan cepat menoleh. Pintu masuk utama rumah terbuka lebar-lebar. Jaehyung memicingkan mata, ia melihat sesosok bayangan anak kecil di ambang pintu.
"Younghyun...?"
Jaehyung yakin itu adalah adiknya, ia hapal jelas siluet bocah itu. Perlahan-lahan ia dekati Younghyun. Ketika sedikit lagi ia bisa menggapai adiknya, tiba-tiba pintu itu tertutup dengan cepat.
Brakkk
"Young-ah!!!" Jaehyung berlari dan memutar kenopnya dengan panik. Tidak bisa di buka. Lalu dengan paksa ia menarik pintu itu dengan bantuan kakinya. Jaehyung berusaha keras, hingga akhirnya pintu itu terbuka. Dengan langkah tergesa-gesa, tak pikir panjang pemuda itu berlari ke luar.
Jaehyung menoleh ke sana kemari, ia lihat punggung Younghyun sudah menjauh. Anak itu berjalan seperti orang linglung; setengah sadar setengah tertidur.
Lalu Jaehyung amati Younghyun tidak sendiri. Tangannya digandeng oleh seorang anak kecil lainnya.
Itu Wonpil!
Sekarang barulah ia mengerti, anak yang bernama Wonpil itu ingin membawa pergi adiknya. Tidak! Jaehyung tidak ingin adiknya diambil. Sekuat tenaga lelaki itu berlari menggapai adiknya. Namun sekuat apapun ia melangkah, bayang adiknya serasa semakin jauh dari jangkauannya.
Jaehyung tidak sadar sudah berapa jauh ia melangkah. Ketika melihat sekitar, ia tersadar dirinya sudah berada di tebing yang curam. Ada angin yang berhembus kencang. Langit di atasnya bergemuruh gelap. Sementara di bawah sana ombak bergelung-gulung menabrak karang.
Rasa perih tiba-tiba mendera jemari kakinya. Ketika Jaehyung menunduk, ia lihat kulit jari-jari kakinya robek dan berdarah. Tak sadar kapan ia terluka. Kakinya hanya beralaskan tanah. Ia lupa dimana meninggalkan selop saat berlari tadi. Namun bukan itu yang terpenting saat ini. Jaehyung bisa menahan perihnya untuk lebih lama. Yang terpenting adalah menyalamatkan Younghyun dari anak itu.
"Younghyun!" teriaknya pada angin.
Pandangannya terhalang kabut tibis. Menyesatkan mata seperti tak punya arah pasti. Berkali-kali ia lantangkan nama sang adik, namun hanya kesunyian yang menyahut.
Jaehyung membawa kakinya menyusuri. Tak acuh pada kakinya yang kian berdenyut perih. Dia panggil-panggil adiknya, berharap anak itu akan menjawab.
Lalu pandangannya tertuju beberapa langkah di depan sana, dari kabut-kabut tipis itu samar Jaehyung lihat Younghyun dan anak itu berdiri di ujung tebing. Punggung yang membelakangi itu membuat Jaehyung tak bisa melihat wajah Younghyun dengan jelas.
"Young-ah... kembali lah. Itu berbahaya. Hyung mohon, pergi dari sana." Jaehyung coba memanggil adiknya dengan napas tersengal-sengal. Hembusan angin makin menyamarkan suaranya yang lemah. Kaki Jaehyung serasa ditarik oleh bumi, sangat sulit untuk digerakkan. Ia tidak bisa menggapai adiknya, terlebih saat kedua anak itu bersama-sama menjatuhkan diri ke laut.
"YOUNGHYUN!!!"
Under the Sea
"Oh oh, dia sudah bangun."
"Hyung..."
Matanya berkedip-kedip pelan. Sedikit demi sedikit kesadarannya menjadi jelas. Adalah Younghyun, Sungjin, dan Dowoon yang pertama kali ia lihat. Jaehyung merasakan lelah yang luar biasa, keringat bercucuran membasahi pelipisnya. Rambutnya jadi lepek, kulitnya jadi lengket. Ketika menatap sekitar, dia tersadar hal mengerikan yang baru saja ia alami hanyalah bunga tidur semata. Hanya mimpi. Tapi luar biasa buruk untuk ia alami.
"Hyung, kau tak apa?"
Jaehyung berusaha bangun dari baringnya, lalu bersender dengan bantuan Sungjin. Ketika mengusap wajah, ia merasakan sesuatu mengalir di pipinya. Apakah dirinya menangis dalam tidur?
Jaehyung tak mengerti, mengapa ia bisa mengalami mimpi seburuk itu. Melihat Younghyun menatapnya khawatir, Jaehyung bersyukur bocah itu masih di sisinya. Ia bernafas lega meski ketakutan itu masih ada.
"Aku langsung kesini karena Younghyun bilang kau menginggau parah. Tapi Jae, kau baik-baik saja?" Jaehyung mengangguk, tersenyum tipis untuk mengurangi kekhawatiran tiga saudaranya.
Kicauan burung di luar sana membuat Jaehyung menoleh ke arah jendela. Mentari sudah terbangun mendahuluinya, meninggalkan ia dengan sisa-sisa malamnya yang buruk.
Under the Sea
Siang itu, matahari masih lah menyengat panas. Matahari seolah hendak memanggang siapa saja yang berani melangkahkan kakinya keluar rumah. Jaehyung ingin cari aman, selain takut pada matahari, ia juga malas. Rebahan di lantai sambil mengemil semangka yang baru dibelah bibi Park lebih baik ketimbang panas-panasan di luar.
Setidaknya begitu definisi kenyamanan terbaik menurut Jaehyung.
Tapi tidak bagi si anak desa yang suka panas-panasan seperti Sungjin dan Dowoon. Mereka yang tiap harinya suka menjelajah tentu tak setuju dengan preferensi kenyamanan versi Jaehyung.
"Panas-panas begini enaknya makan Patbingsu, Jaehyung-ah." Begitu kata Sungjin pada Jaehyung. Dowoon tak menimpali, namun ia mengangguk setuju sambil melahap rakus segarnya semangka. Younghyun yang telah menghabiskan lima irisan semangka pun ikut-ikutan mengkhianati kakaknya. Oh, ayo lah. Memang apa lagi yang bisa dipikirkan anak-anak selain bermain dan bersenang-senang?
"Kalian saja lah. Aku malas. Enak 'kan disini, makan semangka dan melamun dibelai angin sepoi-sepoi," kicau Jae sambil memejamkan matanya, mendadak sentimentil pada kedamaian angin musim panas yang semilir.
"Hyung, kau seperti kakek-kakek saja." kata Dowoon dengan logat Busan-nya yang kental. Anak itu terkekeh setelah dapat satu delikan tajam dari Jaehyung. Younghyun ikut mengikik, padahal menurut Jaehyung anak itu mengerti pun tidak maksudnya apa.
Kalau dipikir-pikir, Jaehyung perhatikan, penghuni rumah ini memang lah sangat aktif dan pekerja keras. Suka berpergian, melakukan apa saja asal tidak hanya diam diri. Apa saja dikerjakan. Membersihkan pekarangan, membetulkan perabotan, merajut, membuat mainan--apa saja, selama tangan bekerja. Orang desa memangnya seulet begini, ya? Jaehyung membatin.
Pagi tadi pun paman Park sudah siap dengan topi dan peralatan potong-memotongnya. Siap berkebun, kata Sungjin. Bibi Park juga, alih-alih mengobrol suntuk membicarakan gosip-gosip seleb, wanita itu lebih memilih berkutat di dapur. Tentu saja dengan Ibu sebagai partner kerjanya. Dua wanita itu sudah sibuk sejak sebelum jam makan siang datang. Setelah acara masak-masak itu terjeda makan siang pun mereka berdua kembali melanjutkan kegiatan mereka. Sesekali terdengar suar mixer, sesekali tawa yang menggema, sesekali teriakan. Heboh sekali. Para lelaki muda itu tak tahu apa yang dikerjakan dua wanita yang jadi sangat dekat melebihi sauadara kembar itu, sebab keduanya melarang siapapun mendekati dapur. Bisa runyam kalau anak-anak ikut campur, kata Ibu. Jadi, dapur sepertinya tidak bisa dijadikan alasan Jaehyung untuk mangkir dari ajakan Sungjin.
Pemuda jangkung itu berpikir keras, mencari-cari alasan. Tapi ditatap begitu intens oleh tiga pasang mata yang menuntut itu seperti menutup aksesnya untuk berkelit. Jaehyung menghela napas berat, "Baik baik! Aku ikut. Puas kalian?"
Jaehyung menyerah, suara sorakan terdengar. Lalu piring-piring semangka ditinggalkan, lantai kayu yang nyaman itu juga ditinggalkan. Dengan malas Jaehyung bangkit keluar dari zona kenyamanan yang sempat membuatnya terlena.
Para pemuda dan anak-anak itu bergegas mengenakan sandal, mengantongi uang receh dan sekarung kegembiraan di wajah-wajah mereka. Jaehyung tak tahu kemana dia akan dibawa. Dia menurut saja. Setelah berteriak minta ijin kepada para wanita di dapur, mereka pergi meninggalkan rumah.
Under the Sea
Mereka beriringan melewati jalanan kering dan berbatu. Di kanan kiri, rumput-rumput melambai-lambai dibelai angin. Hanya hijau, hijau, dan hijau sejauh mata memandang. Jaehyung dengan mengantongi tangan di saku mencoba ikut bergabung dalam atmosfir musim panas di desa. Sungjin bersiul-siul. Dowoon dan Younghyun bergandengan tangan dengan riang, ditemani nyanyian fals Dowoon dengan lirik-lirik yang tak Jaehyung mengerti.
Siang itu memang panas, matahari pucat terik di atas kepala, birunya langit terlalu bersih sampai awan-awan pun enggan mengotorinya. Tanpa penghalang, matahari bebas menyoroti bumi. Panas, gerah, dan bikin malas, tapi penduduk desa sepertinya tak menganggap itu semua sebagai halangan. Mereka mengerjakan ladang kebun mereka, menjemur biji-bijian, memberi makan sapi, menjemur pakaian, serta bermacam kegiatan lain yang jadi menguntungkan sebab sengatan matahari, yang menurut Jaehyung adalah musibah.
Lama bersiul-siul tak jelas, Sungjin ajak Jaehyung bicara. Membuat si jangkung buyar dari lamunannya.
"Setelah lulus SMU kau mau berkuliah di mana?" Tanya Sungjin dari celah bibirnya yang mengigit lini rumput.
"Aku tidak kuliah, mau daftar CPNS saja." Jawab Jaehyung lugas, sambil memicing sebab matahari membuatnya silau.
"Oh, begitu. Kupikir kau akan ambil kedokteran seperti remaja-remaja di drama yang dipaksa orang tuanya masuk kedokteran." Lelaki bergigi kelinci itu terkekeh, Jaehyung mendengus, namun ikut terkekeh juga akhirnya.
"Kau kebanyakan nonton drama."
"Tapi, omong-omong enak juga ya, tinggal di kota. Ahh... aku jadi iri denganmu Jae-ya. Tinggal di kota sepertinya sangat lah keren. Banyak yang bisa dikerjakan." Jaehyung melirik karena perkataan Sungjin seperti memutarbalikan fakta yang diimaninya tentang penduduk desa. Dia masih memicingkan mata sambil menunggu Sungjin melanjutkan.
"Aku, setelah lulus SMU, paling-paling mengurus kebuh Ayah. Mau kuliah pun tidak tahu minatku apa, ditambah lagi otakku pas-pasan." Pemuda berhidung besar itu terkekeh atas apa yang keluar dari mulutnya. "Pernah kukatakan begini pada Ibuku, 'Aku akan pergi ke kota setelah lulus nanti,"
Sungjin menoleh, menatap langsung Jaehyung, "Kau tahu apa yang dia katakan waktu itu?" Jaehyung menggeleng.
"Dia bilang begini, 'Untuk apa ke kota? Lebih baik disini mengurus kebun ayah. Ayahmu sudah tua, kalau bukan kamu siapa lagi yang akan mengurusnya?'" Sungjin meniru logat bicara ibunya, Jaehyung diam memperhatikan. Tapi dia sadar, ada setatap... apa yaâ kesedihan? Putus asa? Dia bingung mengartikan raut yang coba Sungjin sembunyikan dengan tawa ironis itu.
Jaehyung masih bergeming tak menimpali. Dalam diamnya dia coba memposisikan dirinya sebagai Sungjin. Tumbuh besar di desa sejak lahir, sedikit banyak pasti lah membuat lelaki itu bosan. Sejak bayi, kanak-kanak, remaja dan sampai dewasa hanya menetap di lingkungan yang itu-itu saja. Merantau ke kota, mencari atmosfir baru pastilah sangat menggoda.
Sambil mengernyit Jaehyung hendak merespon, "Sebenarnya kehidupan kota tidak se-wah yang kau bayangkan. Ibarat keluar kandang, banyak hewan buas yang siap menerkammu. Bukan maksud untuk meruntuhkan imajinasimu, tapi kota tidak semenyenangkan kelihatannya. Hingar-bingar dua puluh empat jam, persaingan yang kejam, rekan kerja yang manipulatif, kriminalitas... belum lagi polusi debu halus." Jaehyung menggeleng pahit, teringat asap kiriman negeri tetangga yang mencemari udara hingga ia harus selalu mengenakan masker demi keberlangsungan hidupnya.
Dia lirik Sungjin lagi, lelaki itu masih mendengarkan rupanya.
"Cari pekerjaan di kota tidaklah muda. Kupikir hal umum seperti itu kau juga pasti tahu. Lama mengadu nasib tak membuatmu jadi makmur, ya kalau jalan takdirmu bagus, kalau tidak--ya, pasrah saja pada keadaan. Lagi pula mengurus perkebunan luas yang subur bukanlah ide yang buruk. Itu bisa jadi lumbung emas. Kau bisa jadi orang paling kaya di sini, kalau kau giat bekerja sih."
Sungjin mengangguk-angguk. Sedikit banyak pikirannya jadi terbuka. Dia tak menyangka, Jaehyung yang banyak diam dan pemalas itu bisa bicara bijak juga rupanya.
"Bicara sih gampang. Pelaksanaannya... Entah lah, Jae. Aku masih bingung," Sungjin menendang kerikil kecil dengan kakinya.
Kemudian perjalanan yang ditempuh dengan kedua kaki itu nyatanya tak memakan waktu dan jarak yang banyak. Di daerah pertokoan dan pasar, mereka berhenti. Di sebuah kedai yang desain bangunanya paling biasa di antara bangunan yang lain.
Itu adalah kedai yang dikelola seorang wanita paruh baya. Sungjin, yang sepertinya sudah akrab dengan si pemilik, sempat bersanda gurau dan melempar senyum. Jaehyung dan Younghyun turut diperkenalkan. Lalu mereka memilih meja yang mereka inginkan.
"Bingsu-nya 4 ya, Bi," kata Sungjin, tanpa sempat membiarkan Jaehyung melihat-lihat isi buku menu. Namun, apa boleh buat. Tujuan mereka ke sini 'kan memang untuk patbingsu.
Menutup buku menunya, Jaehyung ganti melihat-lihat seisi ruangan. Di dinding-dinding kayunya banyak ditempeli foto-foto keluarga. Kedai ini sejatinya adalah ruang tengah yang disulap jadi tempat usaha. Sebelum masuk Jaehyung sempat lihat, kedai ini memiliki satu lantai lagi di atasnya. Kemungkinan si pemilik tinggal di sana.
Dari semua yang menempel, kebanyakan adalah potret seorang bocah laki-laki yang tersenyum riang. Hanya anak itu. Sepertinya itu adalah anak tunggal si pemilik kedai, Jaehyung membantin.
"Itu Lim Junhyeok." sahut Sungjin, seolah mengerti pandangan Jaehyung.
"Eh?" Jaehyung menoleh dengan raut bingung. Kemudian dia tersadar, yang Sungjin maksud adalah anak lelaki di dalam figura.
"Junhyeok adalah putra semata wayang Bibi Lim. Sewaktu kecil, kami sering bermain bersama. Dia anak yang menyenangkan, meski kadang menyebalkan juga." Sungjin tersenyum membayangkan masa lalu.
"Lalu di mana ia sekarang?"
Tanya itu tak langsung berbalas. Jaehyung perhatikan ada perubahan di wajah Sungjin. Lelaki itu menatap lirih.
"Dia sudah meninggal."
Bibir Jaehyung sedikit menganga. Dia tidak menyangka bocah kecil seumuran Younghyun di dalam figura itu telah tiada. Jaehyung pandangi lagi figura itu. Kalau anak bernama Junhyeok itu meninggal di usia kanak-kanak, berarti itu sudah lama sekali. Sungjin pasti merasakan kerinduan tiap kali berkunjung kemari. Begitu pula Bibi Lim yang pasti sama rindunya tiap-tiap melihat Sungjin bertandang.
Jaehyung membuka mulut, hendak bertanya dengan hati-hati, "Dia... meninggal karena apa?"
Sungjin mengelim bibirnya. Sebelum dia menjawab, dia menoleh ke belakang, takut-takut Bibi Lim mendengarkan pembicaraan mereka.
"Sampai sekarang, sebenarnya aku tidak tahu dia meninggal atau hilang," Sungjin menarik napas, lalu membuangnya pelan. Kenangan buruk itu serasa menariknya kembali ke masa kecil yang ingin ia lupakan, "Hari itu aku dan Junyeok, juga beberapa anak dari desa sebelah bermain-main di pantai. Itu adalah pantai yang kami temukan saat tersesat mencari kumbang di hutan. Kami yang terlalu senang itu kemudian bermain hingga lupa waktu. Tahu-tahu langit sudah gelap. Lalu kami putuskan untuk segera pulang, takut Ibu kami marah.
Namun, ketika kami sampai di desa, baru lah kami tersadar; Junhyeok tidak ikut bersama kami. Padahal sebelum meninggalkan pantai aku yakin Junhyeok masih bersama kami. Saat itu kami menjadi sangat panik, juga takut. Takut karena kami bermain ke pantai asing tanpa sepengetahuan orang tua.
Malam itu juga, warga desa beramai-ramai mencari Junhyeok. Kami--anak-anak-- dilarang untuk keluar rumah meski kami sangat khawatir pada Junhyeok kami. Namun, sayangnya pencarian itu tidak membuahkan hasil. Warga kemudian melaporkan kasus hilangnya Junhyeok ke kantor polisi. Waktu terus berjalan, seminggu, sebulan, dua bulan, dan kasus hilangnya Junhyeok tak kunjung menemui titik terang.
Junhyeok menghilang secara misteri. Banyak yang membuat cerita versi mereka sendiri. Ada yang bilang Junhyeok diseret ombak, diculik orang jahat sampai cerita mistis Junhyeok dibawa oleh makhluk gaib penghuni pantai."
Sungjin menjeda, dia meremat-remat tangannya kalut. Raut mukanya pun berubah keruh.
"Junhyuk kami... andai saja waktu itu aku menggenggam tangannya..." Sungjin menunduk, meremas rambutnya penuh sesal.
Jaehyung merasa sedih atas hilangnya Junhyeok. Bagaimana pun, Sungjin pasti merasa sangat kehilangan atas kepergian sang teman masa kecil.
"Itu bukan salahmu, Sungjin-ah," Bibi Lim tahu-tahu menyahut dari arah belakang dengan membawa nampan berisi pesanan mereka.
Wanita paruh baya itu menaruh nampannya. Dia lantas tersenyum lembut, seolah semua yang telah terjadi sudah ia ikhlaskan sejak lama.
Dengan wajah bersahajanya dia menatap Sungjin, tangannya menepuk-nepuk pelan bahu Sungjin yang kian merosot, "Bibi tidak menyalahkan siapa-siapa, Sungjin-ah. Mungkin ini memang sudah kehendak Yang Kuasa." tangan Sungjin kemudian diremas hangat, "Junhyeok pasti sudah bahagia di atas sana. Kau adalah teman terbaiknya, dia pasti tidak ingin melihatmu sedih. Jadi, jangan menyalahkan dirimu lagi ya."
Sungjin yang mendengar perkataan lembut Bibi Lim tak kuasa membendung air matanya. Meski dia mencoba mengikhlaskan, bayang-bayang Junhyeok saat mereka tertawa riang membuat dadanya merasa sesak.
"Maafkan saya, Bibi Lim."
Siang itu, ada kehangatan lain yang menjalar di dalam dada. Meski tak cukup melegakan, sedikit banyak mampu meringankan. Mereka kemudian bersama-sama meredam duka dengan makan es serut dan berbagi canda tawa untuk mengenang Junhyeok yang mereka sayangi.
TBC
: halo, aku tahu ini work lambat banget kayak siput
dan sebenernya chapter ini udah lama ngendep di draft dan baru pede sekarang buat diupload. tbh, aku punya krisis kebanyakan mikir sebelum upload satu chapter aja, takut ngecewain takut ga bagus takut ini itu haha
tapi, makasih banyak buat kalian yang masih mau baca sampe sini :) maafkan diriku juga yg gampang insecure ini :)
see you next chap~
