Pakabar kalean para awak 1001? Masih berlayar atawa sudah karam?

Wakakaka :D

Adakah yang kangen padakuuu? Hahahahaaa :D

Nih kuberikan sedikit asupan. Remake dari karyaku di fandom cicinaan :D

SOMEONE WHO REALLY CARES #1

-000-

Katakanlah Kim Junmyeon ini tidak pengertian. Dia jelas-jelas tahu kalau adik satu-satunya yang berumur sepuluh tahun lebih muda--Kim Sehun--sedang butuh perhatian lebih. Namanya mengalami cedera yang lumayan serius di tangan kiri, tentu saja butuh perhatian lebih. Masalahnya, adiknya itu jadi luar biasa manja saat sedang sakit seperti ini. Mending kalau manja padanya. Boro-boro, Bro!

Junmyeon yang notabene kakak kandung Sehun justru 'tidak laku'. Alih-alih manja pada kakak kandungnya, Sehun lebih memilih manja pada kakak iparnya, Zhang Yixing. Otomatis perhatian Yixing tersita oleh Sehun, sampai-sampai Junmyeon jadi senewen dibuatnya.

"Kenapa malah bengong? Ayo cepat dimakan mumpung masih panas. Aku capek-capek membuatkan bubur dan sup kesukaanmu itu untuk kaumakan, bukan untuk kaujadikan pajangan!"

"Tapi tanganku sakit, Kakak Ipar. Sulit pegang sendok."

"Jangan berlebihan! Yang digips itu tangan kirimu. Tangan kananmu masih berfungsi dengan baik!"

"Tangan kananku juga sakit, Kakak Ipar. Badanku rasanya sakit semua. Kepala sakit, tangan sakit, kaki sakit. Semuanya sakit."

"Makanya kalau diberi nasihat itu didengarkan, bukan masuk kuping kanan keluar kuping kiri! Sudah kubilang jangan main futsal dulu, malah nekat! Lihat, sekarang kau cedera begini. Sebenarnya kau itu main futsal atau latihan handstand, sih? Jadi kiper juga tidak, bisa-bisanya tanganmu yang cedera! Coba lihat dirimu. Jadi repot sendiri, 'kan? Sekarang cepat duduk. Kalau mau makan jangan sambil tiduran! Duduk yang rapi dan makan!"

"Kakak Ipar yang menyuapi, 'kan?"

"Sehun." Tak tahan menyaksikan Sehun mendrama, Junmyeon sekonyong-konyong memanggil adiknya, menginterupsi dialog antara sang istri dan sang adik.

"Makan sendiri. Kau sudah kelas dua belas," tegur Junmyeon. Terus terang, dia senewen melihat kelakuan manja sang adik pada Yixing. Biasa, cemburu.

"Apa kau tidak malu disuapi kakak iparmu?"

Junmyeon memang tersenyum lembut seperti biasa. Akan tetapi, sorot matanya nyaris tak ada beda dengan Ian McKellen saat aktor kawakan itu memerankan karakter Gandalf dalam The Lord of The Rings: The Two Towers, tepatnya pada adegan Gandalf mencoba membebaskan Raja Théoden dari Rohan yang dirasuki penyihir jahat, Saruman.

"Kakak sendiri sudah mau kepala tiga, tapi tidak malu disuapi Kakak Ipar."

Alih-alih gentar melihat sorot mata kakaknya yang seolah menyerupai Gandalf, Sehun dengan berani justru balas berargumen.

"Aku ini suaminya, lagipula aku hanya minta disuapi kalau sedang sakit," Junmyeon membela diri dengan tangkas.

"Aku adik iparnya dan aku sedang cedera serius," Sehun tak mau kalah.

"Cederamu hanya di tangan kiri, Kim Sehun. Tangan kananmu baik-baik saja, masih bisa kaugunakan untuk memegang sendok."

"Diam kalian berdua!"

Kakak-beradik Kim spontan mengerem mulut masing-masing begitu mendengar sang nyonya rumah 'menggelegar'.

Yixing di sebelah sofa tempat Sehun berbaring tampak berkacak pinggang. Tatapannya yang garang menyapu paras tampan kakak-beradik Kim bergantian. Perempuan yang satu ini sebenarnya manis, tetapi galaknya boleh diadu dengan singa betina. Apalagi saat ini dia tengah mengandung bayi kembar yang berusia tiga puluh satu minggu, semakin mudah baginya untuk terpancing emosi akibat pengaruh hormon.

"Kakak Ipar, aku jarang sakit, jadi jarang minta disuapi. Apalagi Kakak Ipar pasti sibuk dengan Si Kembar setelah mereka lahir. Kakak Ipar tidak akan punya waktu untuk menyuapiku meski aku sakit."

Junmyeon bukannya tidak sayang pada adik satu-satunya, tapi melihat adiknya memasang tampang cute lengkap dengan puppy eyes di hadapan Yixing, juga sok-sok melontarkan kalimat bernada memelas, ingin rasanya Junmyeon memulangkan pemuda delapan belas tahun itu ke rumah besar milik paman mereka. Yang lebih menyebalkan lagi, Sehun bicara lebih dari satu kalimat pada Yixing. Coba bandingkan saat dia bicara dengan Junmyeon tadi. Satu kalimat cukup, Kawan. Diskriminatif, bukan?

Sehun benar-benar manja pada Yixing. Kolokan!

"Tsk! Lama-lama kuminta Paman Yunho untuk memaksamu masuk militer, biar kau tidak manja seperti ini! Sudah, jangan banyak omong! Cepat duduk dan buka mulutmu!"

"Sayang," Junmyeon memanggil istrinya, nadanya kedengaran jelas protes. Maklum, dia kesal melihat istrinya luluh, bersedia menyuapi adiknya meski disertai ritual mengomel yang menjadi trademark seorang Yixing.

"Kau juga jangan banyak omong, Kim Junmyeon! Adikmu ini sudah lumayan berisik, kau jangan ikut-ikutan!"

Belum sempat melontarkan kalimat protes, Junmyeon sudah kena semprot duluan. Benar-benar apes!

"Makan duluan saja sana! Aku mau urus dulu bayi gigantisme yang satu ini." Dia menunjuk wajah tampan Sehun dengan sendok.

Sadar bahwa istrinya tak bisa dibantah, Junmyeon terpaksa mengalah. Daripada nekat melawan dan berakibat nanti malam dia tak boleh tidur sekamar dengan istri cantiknya yang semakin seksi sejak mengandung itu, Junmyeon pun tak punya pilihan lain. 'Demi asupan malam', demikian menurut Junmyeon.

Yah, walaupun dia masih kesal pada Sehun, sih.

'Sabar, Junmyeon,' Junmyeon membatin, mencoba menahan iri melihat Sehun disuapi Yixing sambil nonton serial War of The Worlds, serial BBC yang belakangan digandrungi Yixing.

'Daripada nanti malam diusir dari kamar, daripada tidak bisa peluk-peluk dan cium-cium Yixing tersayang.'

Ya, deh. Pokoknya demi asupan malam!

-000-

Sejak Yixing mengandung, kebiasaan cuddling Junmyeon memang makin menjadi-jadi. Maklum, seiring pertambahan usia kehamilannya, istrinya itu jadi makin montok, seksi. Junmyeom jadi makin betah memeluk, mencium, dan yang paling barbar tentu saja ... Menyusu! Nahas, malam ini agendanya untuk cuddling sepuasnya sampai barbar gagal total gara-gara Yixing tiba-tiba mendorongnya begitu saja.

Belum juga lima belas menit ...

"Berhenti dulu," pinta Yixing. Seakan belum cukup, telapak tangannya yang masih menyisakan aroma serum alami berbahan dasar minyak mawar Bulgaria membungkam bibir Junmyeon yang masih dalam moda 'siap sosor'.

Junmyeon tentu saja kaget. Secara refleks dia menangkap tangan istrinya, menjauhkan telapak tangan Yixing dari bibirnya. Protes ditunjukkannya terang-terangan lewat sorot mata.

"Kenapa?" Junmyeon bertanya, setengah bingung dan setengah kecewa.

"Aku mau ke kamar Sehun dulu," jawab Yixing. Maniknya yang indah sejenak melirik jam dinding.

"Tiga jam yang lalu dia sudah minum obat turun panas. Aku mau cek apa demamnya sudah turun atau belum."

"Pasti sudah turun. Tidak usah dicek," Junmyeon menanggapi.

"Itu 'kan demam biasa. Efek cedera," dia menambahkan.

"Cederanya bukan cedera biasa, Junmyeon," Yixing mengingatkan, tegas dan mengirimkan sinyal waspada pada Junmyeon lewat lengkungan alis seanggun rune kuno yang terangkat satu.

"Tulangnya sampai bergeser begitu. Masih untung penyembuhannya cukup dibantu dengan gips."

"Aku tahu, Sayang." Junmyeon tersenyum lembut, bermaksud menenangkan.

"Tapi tadi kau lihat sendiri Sehun baik-baik saja, 'kan? Tidak usah terlalu khawatir. Sehun sudah besar dan dia tidak selemah itu."

"Pokoknya aku mau cek dulu!" Yixing berkeras.

Sambil memegangi perutnya yang sudah sangat buncit, Yixing pelan-pelan turun dari ranjang.

"Jangan-jangan panasnya belum turun dan dia malah mengigau seperti waktu sakit tifus yang dulu itu."

Junmyeon di satu sisi keberatan dengan kekhawatiran Yixing yang menurutnya berlebihan, tapi di sisi lain hatinya terasa hangat. Bagaimana tidak? Istrinya ini benar-benar perhatian pada Sehun. Pastinya episode Sehun demam tinggi sampai mengigau sewaktu sakit tifus dulu begitu membekas di hati Yixing.

"Sehun itu seringkali seperti anak kecil saat dia demam, Junmyeon," Yixing mengingatkannya.

Tanpa perlu diingatkan, Junmyeon tentu saja ingat. Adiknya memang seringkali jadi seperti anak kecil saat demam. Yang paling parah tentu saja dulu waktu Sehun masih SMP. Pernah dia terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena tifus. Demam tinggi membuatnya gelisah dan mengigau, memanggil-manggil mendiang ibu mereka.

Memang di antara mereka berdua, Sehun menjadi yang paling sulit menerima kenyataan bahwa ibu mereka sudah meninggal dunia. Malah Sehun sempat menangis dalam tidurnya segala dan baru tenang setelah Yixing turun tangan, membiarkan Sehun memeluknya sampai pagi menjelang. Rupa-rupanya Sehun mengira Yixing adalah ibunya, makanya dia merasa tenang dan berhenti mengigau.

Hei, jangan sampai kejadian itu terulang kembali!

Meski dia tahu adiknya seperti anak kecil saat demam, Junmyeon tetap tidak mau semalaman minum cuka melihat istri tercintanya tidur sambil dipeluk Sehun. Apalagi Sehun yang sekarang sudah dewasa, sudah delapan belas tahun. Dia bukan lagi Sehun yang berumur empat belas tahun. Tidak pantas ķalau dia tidur sambil memeluk kakak iparnya. Sekalipun Sehun tak bakal macam-macam pada Yixing, Junmyeon tetap cemburu jika adiknya itu menempeli Yixing-nya tersayang. Lagipula dia tak mau istrinya yang tengah hamil besar jadi tidak enak tidur gara-gara mengurusi Sehun.

Bagai pegas, Junmyeon langsung melompat turun dari kasur. Buru-buru dia menyusul istrinya yang melangkah keluar kamar. Junmyeon memutuskan untuk ikut istrinya memeriksa langsung kondisi Sehun.

Sehun punya kebiasaan tidak mengunci pintu kamar sehingga baik Junmyeon maupun Yixing tidak perlu repot-repot mengetuk pintu terlebih dahulu atau menggunakan kunci cadangan. Berdua mereka masuk ke kamar Sehun. Melihat pemandangan yang tersaji di dalam kamar, Junmyeon dan Yixing sontak kaget bukan kepalang.

"Oh astaga!"

TBC