SOMEONE WHO REALLY CARES
BAGIAN 2
-000-
Rasanya tak berlebihan jika Junmyeon dan Yixing kaget, pasalnya Sehun membungkus dirinya dengan selimut sampai ke kepala. Jika dilihat dari posisinya yang menyerupai buntalan besar, Junmyeon menduga adiknya itu meringkuk di balik selimut.
"Ya ampun, kenapa posisinya begitu? Kalau tangan kirinya tertindih bagaimana, coba?" Yixing langsung mengeluh.
Perempuan itu mendahului Junmyeon mendekati ranjang Sehun. Melihat buntalan besar yang berisi tubuh adik iparnya, Yixing lagi-lagi kaget. Buntalan selimut berisi Sehun bergerak-gerak dengan iringan bunyi bergemeletuk dan erangan lirih.
"Nghh ... Bu ... Bu ..."
Mendadak panik, Yixing cepat-cepat-cepat menyibak selimut yang menutupi bagian kepala Sehun.
Baik Yixing maupun Junmyeon sama sekali tak menyangka bakal mendapati Sehun menggigil kedinginan di balik selimut seperti ini, sampai-sampai giginya bergemeletuk. Bahkan pemuda itu mengigau, memanggil-manggil mendiang sang ibu.
"Astaga. Kau lihat ini, Junmyeon? Feeling-ku tepat." Yixing menoleh ke arah suaminya.
Belum sempat Junmyeon menjawab, Sehun tahu-tahu membuka matanya. Rupanya gerakan selimut tersibak dan suara milik kakak iparnya sukses membawanya kembali dari alam mimpi.
"Ngkak Ipar?" Suara Sehun lirih, sedikit serak, juga agak tidak jelas gara-gara giginya bergemeletuk.
"Sehunnie," Yixing menyapanya tanpa terpikirkan untuk minta maaf sudah nyelonong masuk kamar orang.
"Maaf kami masuk ke kamarmu. Kakak iparmu khawatir demammu belum turun," Junmyeon mewakili istrinya untuk minta maaf.
"Sehun, badanmu panas sekali," kata Yixing khawatir, mendahului adik iparnya untuk bicara. Punggung tangannya menempel di kening Sehun, merasakan suhu tubuhnya yang tinggi.
"Waktu makan malam tadi tidak sepanas ini." Raut wajah Yixing semakin terlihat khawatir, apalagi Sehun terus menggigil kedinginan.
"Apa obatnya tidak manjur?" Dia kembali menoleh ke arah suaminya.
Junmyeon tak menanggapi. Jujur, dia masih kaget, tak menyangka demam yang dialami adiknya ternyata cukup serius. Pantas saja Yixing keukeuh mendatangi kamar ini. Firasat istrinya sama sekali tak meleset. Bagaimanapun juga Yixing sudah seperti ibu Sehun. Junmyeon jadi curiga, jangan-jangan Yixing tegas melarang Sehun bermain futsal karena punya firasat buruk. Buktinya Sehun cedera, lumayan serius pula.
"Junmyeon, cepat ambil air hangat dan handuk. Kita harus mengompres Sehun agar panasnya cepat turun," titah Yixing pada suaminya.
"Sekalian termometer. Aku penasaran dengan suhu tubuh adikmu."
"Ya, Sayang. Kuambilkan." Tanggap terhadap situasi, Junmyeon bergegas keluar dari kamar adiknya untuk melaksanakan titah istri tercinta.
Sementara Junmyeon mengambil air untuk mengompres, Yixing duduk di tepi ranjang Sehun. Dengan hati-hati dia membantu Sehun memperbaiki posisi tangan kirinya yang digips agar tidak tertindih, pasalnya posisi Sehun meringkuk seperti janin.
"Tidurlah lagi," kata Yixing pada adik iparnya. Dia cukup pengertian, bicara dengan nada lembut alih-alih ngegas.
"Nanti biar kukompres keningmu. Semoga demammu bisa segera turun."
Sehun tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Pemuda tampan itu pun memejamkan mata. Menuruti arahan kakak iparnya, Sehun mencoba kembali tidur.
Atensi Yixing sejenak teralihkan dari Sehun lantaran Junmyeon datang membawa baskom berisi air hangat, handuk, dan tak ketinggalan termometer. Gurat kekhawatiran semakin jelas membayangi paras tampan Junmyeon. Cepat-cepat dia meletakkan baskom di meja kecil tempat Sehun meletakkan lampu tidur, persis di sebelah ranjang.
"Biar aku yang mengompresnya. Kau periksa suhu tubuhnya," titah Yixing pada sang suami.
Junmyeon menurut. Segera saja dia meraih termometer, mengaktifkannya terlebih dahulu sebelum menyelipkannya di lipatan ketiak tangan kanan sang adik. Sambil duduk di sebelah istrinya, Junmyeon menunggu bunyi 'bip' yang menandai suhu tubuh telah terdeteksi oleh termometer.
Yixing juga turut menantikan bunyi 'bip' dari termometer sembari mengompres kening Sehun dengan telaten. Sesekali dia meringis melihat adik iparnya yang menggigil itu memperdengarkan bunyi gemeletuk dari gigi-giginya. Melihat adik iparnya dalam kondisi yang demikian, Yixing terlihat seperti ikut-ikutan merasakan sensasi saat tubuh menggigil akibat demam.
BIP
Bunyi termometer ibarat pengumuman quick count Pemilu bagi Yixing dan Junmyeon. Tanpa menunda-nunda, Junmyeon menarik keluar termometer dari lipatan ketiak adiknya.
"39?" Yixing terbelalak membaca angka yang diperlihatkan termometer di tangan Junmyeon.
"Astaga, parasetamol sama sekali tidak mempan?"
"Apa kita perlu memanggil dokter?" Junmyeon balas bertanya.
"Kita coba kompres dia dulu. Ada perubahan atau tidak," Yixing mengambil keputusan.
Raut kekhawatiran semakin mendominasi wajah cantik milik Yixing. Dia benar-benar khawatir pada kondisi Sehun, sampai-sampai nyaris tak berhenti mengoceh lirih tentang ini dan itu, hal-hal yang sekiranya bisa membuat Sehun merasa lebih baik. Walhasil Junmyeon yang jadi korban, pasalnya Yixing menyuruhnya melakukan ini dan itu.
"Dia menggigil seperti ini. Junmyeon, ambilkan kaus kaki."
"Balsam, mana balsam, Junmyeon? Kakinya perlu dioles dengan balsam biar hangat."
"Coba cek pemanasnya, Junmyeon. Naikkan suhunya supaya Sehun cepat keluar keringat."
Berhubung Junmyeon ini tipe suami takluk pada istri, dia tidak sedikitpun protes. Padahal kalau boleh jujur, ingin rasanya Junmyeon ada di posisi Sehun sekarang. Hei, kapan lagi menikmati perhatian yang begitu heboh dari Yixing-nya, bukan?
Astaga, Kim Junmyeon. Sepertinya 'kebucinan'-mu perlu dikondisikan, Bung.
-000-
"Sayang, sudah malam. Istirahatlah, Sayang. Ada aku yang menjaga Sehun. Kau dan anak-anak kita butuh istirahat yang nyaman."
Untuk ketiga kalinya, Junmyeon membujuk istrinya lewat bisikan, tak ingin mengusik Sehun yang terlelap. Hampir satu jam berlalu setelah Sehun diperiksa suhunya dan diberi kompresan air hangat di kening. Bahkan air kompresannya sudah dua kali diganti, tapi Yixing masih setia duduk di tepi ranjang Sehun, mengompres dan mengawasinya seolah Sehun bakal terbangun sewaktu-waktu. Junmyeon memang bisa memaklumi kekhawatiran istrinya terhadap Sehun, tetapi jarum jam yang bergerak menuju pukul 22.45 dan kondisi Yixing yang tengah hamil besar menjadi prioritas. Istrinya butuh istirahat, apalagi sore tadi dia kelelahan gara-gara Sehun ngotot ingin dibuatkan sup iga teratai yang harus dimasak sendiri oleh kakak iparnya itu.
"Ishh, diamlah. Aku dan bayi-bayi kita baik-baik saja," Yixing mendesis sebagai bentuk tanggapan.
"Lagipula apa kau tidak lihat? Adikmu belum mau melepas tanganku." Yixing menggunakan dagu lancipnya untuk menunjuk tangan kirinya yang masih digenggam Sehun.
"Nggh ... Ibu ... mnn ..."
"Tuh, dengar. Dia juga masih mengigau."
Junmyeon yang duduk di kursi milik meja belajar Sehun hanya bisa memasang tampang kecut. Sempat terpikir olehnya apa jangan-jangan Sehun pura-pura mengigau agar tidak ditinggal kakak iparnya. Akan tetapi, raut wajah Sehun yang kentara benar menahan nyeri serta rasa tidak keruan di tubuhnya mencegah Junmyeon dari tindakan nekat semacam menarik tangan Yixing dari genggaman tangan sang adik.
Junmyeon keburu ingat, Sehun pernah mengalami demam tinggi semacam ini, mengigau memanggil-manggil ibu mereka, lalu baru tenang setelah Yixing mengulurkan tangannya untuk dia genggam. Malah waktu Sehun sakit tifus dulu Yixing sampai harus tidur satu ranjang dengannya saking Sehun tidak mau lepas, mengira Yixing adalah ibunya. Junmyeon yang waktu itu masih pacaran dengan Yixing sempat mencoba menggantikan posisi kekasihnya, tapi Sehun langsung tahu kalau sosok 'ibu'-nya digantikan orang lain, padahal anak itu sedang tidak sadar karena demam tinggi.
"Tapi Sa--"
"Ssh!" Yixing lagi-lagi mendesis.
"Tunggulah sebentar lagi. Dia sudah mulai berkeringat. Setengah jam lagi mungkin demamnya akan turun dan dia berhenti mengigau. Baru kulepas tanganku nanti."
"Sayang, aku tidak tega melihatmu duduk terlalu lama. Kau pasti pegal, 'kan?" Junmyeon masih mencoba untuk membujuknya.
"Junmyeon, aku baik-baik saja," Yixing mulai senewen.
"Mau istirahat juga tidak tenang, kepikiran Sehun. Lebih baik begini," dia berargumen.
"Sehun semakin lama semakin dewasa. Akan tiba masanya posisiku sekarang digantikan oleh istrinya kelak. Mumpung sekarang dia masih manja padaku, aku ingin menikmati momen-momen semacam ini, Junmyeon. Kau tahu Sehun sudah seperti anakku sendiri ketimbang adik ipar, 'kan?"
Junmyeon tak menjawab. Dia justru tertegun mendengar penuturan istri tercintanya.
"Aku jadi teringat apa yang dia katakan padaku waktu makan malam tadi. Setelah anak-anak kita lahir nanti, waktuku otomatis lebih banyak kuhabiskan untuk menjaga mereka berdua. Saat itu Sehun akan sulit bermanja-manja padaku, bahkan pada saat dia sakit."
Mendengar ini, rasa kesal terhadap Sehun yang menghinggapi hati Junmyeon berangsur menguap. Apa yang dikatakan istrinya barusan turut mengingatkannya pada statement Sehun saat ngotot ingin disuapi kakak iparnya jelang makan malam petang tadi. Dari statement Sehun, Junmyeon baru sadar. Adiknya itu menyadari betul bahwa tak selamanya dia bisa bermanja-manja dengan Yixing saat sedang sakit. Itulah sebabnya Sehun ingin memanfaatkan waktu yang tersisa selagi kakak iparnya belum 'dikuasai' sepasang keponakan kembar kedhana-kedhini yang akan lahir beberapa minggu lagi.
"Kalau pamanmu luluh, tahun depan anak ini akan kuliah di Amerika, bukan? Saat dia sakit, teman asramanya yang akan menggantikanku untuk menjaganya, atau mungkin Lu Han jika dia sedang tidak ada jadwal turnamen," Yixing lagi-lagi menambahkan.
Istrinya terlihat begitu serius, begitu bersungguh-sungguh, sementara sorot matanya terlihat tidak rela saat menatap wajah Sehun. Sekarang Junmyeon baru paham. Istrinya belum rela melihat Sehun cepat-cepat dewasa, mandiri, tidak bermanja-manja lagi padanya. Seperti yang dikatakan Yixing tadi, Sehun sudah seperti anak sendiri ketimbang adik. Figur ibu yang ditemukan Sehun dalam diri Yixing membuat bonding yang terbentuk di antara mereka lebih mirip bonding antara ibu dan anak. Malah kalau Junmyeon boleh jujur, Jiang Wanyin bahkan turut memiliki andil dalam membesarkan Sehun. Maklum, genap setahun pacaran, Junmyeon nekat mengajak Yixing tinggal serumah dengan mereka. Sejak saat itulah Sehun mulai dekat dengan Yixing, pelan-pelan mengantarkannya menemukan sosok seorang ibu dalam diri perempuan yang sangat dicintai oleh kakaknya tersayang.
Menyadari semua ini sukses besar menghangatkan hati Junmyeon. Untuk kesekian kalinya, dia bersyukur memiliki seorang istri seperti Yixing, perempuan yang kasar di mulut namun lembut di hati. Perempuan yang peduli, juga penuh kasih sayang, mampu mengobati Sehun dari kesedihan akibat ditinggal ibu mereka saat umur anak itu baru menginjak sepuluh tahun. Berkat Yixing-lah Sehun 'hidup kembali', merasa dirinya tidak lagi kekurangan kasih sayang seorang ibu meski Yixing hanya terpaut usia delapan tahun lebih tua darinya.
Demi Tuhan, Kim Junmyeon jatuh cinta lagi dan lagi pada istrinya ini!
Tergerak oleh perasaan, Junmyeon bangkit berdiri dari kursinya yang hanya berjarak satu langkah dari ranjang Sehun. Senyuman lembut lagi memikat yang menjadi ciri khasnya mengembang, menyempurnakan visualnya yang tak main-main. Tatapan heran istrinya tak dipedulikannya sama sekali. Junmyeon memilih mendekati istrinya, berdiri di hadapan sang istri. Tanpa aba-aba dia sedikit menunduk, mengecup puncak kepala Yixing sebelum sang empunya sempat mengatakan sesuatu.
"Junmyeon?" Alih-alih blushing, Yixing justru kaget campur heran.
Junmyeon kembali mengulas senyum patennya saat bertemu pandang dengan sang istri.
"Aku dan Sehun beruntung memilikimu sebagai bagian dari keluarga ini, Sayang," katanya tulus.
"Kau sangat peduli pada kami berdua. Selama ini kau mengurus dan menjaga kami dengan baik. Menyayangi kami berdua. Terima kasih, Zhang Yixing. Aku mencintaimu. Jatuh cinta padamu lagi dan lagi."
Kecupan kembali didaratkan Junmyeon di puncak kepala Yixing, mengakhiri ungkapan rasa terima kasih dan cinta yang tulus dari Junmyeon untuk istri cantiknya itu. Ibaratnya kecupan dari bibirnya adalah bonus. Bisa dibilang itu semacam ungkapan cinta dari Junmyeon dalam versi nonverbal.
Yixing tentu kembali terkejut, tetapi tidak lama. Dia tersenyum manis sambil memejamkan mata, menikmati kecupan bertubi-tubi Junmyeon di puncak kepalanya. Tangan kanannya yang bebas sedikit terangkat, memberikan usapan lembut di lengan kekar milik Junmyeon.
Baik Yixing maupun Junmyeon sama-sama tidak menyadari bahwa sudut bibir Sehun perlahan-lahan sedikit melengkung, membentuk sebuah senyuman yang samar-samar.
FIN
