Title :
Dragon Revenge
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto™
Highschool DxD© Ichie Ishibumi™
Creator :
Wsa Krisna™
Rate :
M (Mature)
Genre :
Misteri, Supernatural, Adventure, Friendship, Romance, etc.
Warning :
OOC, Super-strong, Godlike, Adult scene, S-M, Sadist Art, Gore, Death-chara, etc.
.
.
.
.
Chapter 5!
"Pertemuan di tengah kematian"
.
.
.
.
"TIDAKKK"
Jeritan gadis berambut hijau muda itu menggema ke penjuru istana keluarga pemimpin Klan Bael. Matanya menatap tak percaya pada isi peti mati berwarna putih di depannya.
"Ceca, tenangkah dirimu"
Seorang wanita yang sepertinya adalah ibu si gadis memeluk tubuh putrinya erat dia mengerti jika anaknya ini mengalami tekanan mental yang berat.
"Kaa-sama."
Si gadis bermahkota hijau itu membalas pelukan sang itu menumpahkan segala kesedihan di hati.
Para iblis yang berada di ruangan itu hanya diam tak memberi komentar. Seorang pria paruh baya mengambil beberapa langkah ke depan sehingga seluruh pasang mata kini menatapnya.
"Aku memanggil kalian kemari karena ada berita penting yang akan kusampaikan..." Semua Iblis yang berada disana diam menunggu kelanjutan dari sang pertama Bael.
"Tadi malam saat mengerjakan sebuah misi perburuan Stray Devil. Lunio Bael dan peerage-nya berhadapan dengan lawan yang kuat dan mati ditangannya."
"Dan yang menjadi pertanyaannya, kenapa dia mengirimkan mayatnya kepada kita dengan sepucuk surat ini!" Zekram mengeluarkan sepucuk surat dari kantung jasnya dan hal tersebut membuat semua mata disana menatapnya penasaran.
"Bisa anda bacakan?" Tanya Sirzechs yang juga hadir dalam pertemuan ini.
Bukan hanya Sirzechs tiga Maou lain seperti Ajuka, Fallbium dan Serafall juga hadir mengingat Zekram sendiri yang memanggil mereka secara langsung. Kepala klan Bael saat ini dan seluruh anak istrinya, beberapa anggota klan Bael yang bisa disebut sesepuh, dan Cecaniah Corabelle dan keluarganya mengingat Lunio dan Cecaniah akan bertunangan sebulan lagi.
"Baik, begini...
Salam hormat untuk kalian yang membaca surat ini.
Hmm, bagaimana dengan hadiah yang kuberikan? menyenangkan'kah? berhubung aku baik jadi kukirim tubuh bedebah ini dalam keadaan utuh... berterima kasihlah.
Ini baru awal, selanjutnya kalianlah yang akan menjadi mangsaku. Bael dan mereka yang memiliki hubungan baik dengannya, aku akan menjadi Dewa kematian kalian.
Kalian harus membayar akan perbuatan kalian 16 tahun 8 bulan 1 minggu 12 jam 5 menit 36 detik yang lalu.
Semua Iblis mengerutkan dahinya, beberapa dari mereka sedikit mendapatkan gambaran mengenai sosok yang mungkin menjadi musuh mereka dikemudian hari. Sosok yang bisa menjadi musuh itu memiliki selera humor yang bagus.
"Jadi, adakah suatu kejadian yang terjadi pada 16 tahun 8 bulan 1 minggu 12 jam 5 menit 36 detik yang lalu?" Tanya memastikan Fallbium. Maou satu ini memasang wajah serius berharap bisa segera pulang dan memeluk guling tercinta.
3 Maou lain yang sahabat dari Fallbium hanya mendesah pasrah mereka mengerti kenapa Fallbium memasang wajah seperti itu. Alasan tak jauh dari tidur nyenyak mengabaikan pekerjaannya.
Semua terdiam setelah mendengarkan pertanyaan Maou dengan gelar Asmodeus itu, menelusuri memori kepala adakah sebuah peristiwa yang terjadi yang berhubungan dengan waktu yang dikatakan sosok misterius yang ingin menteror mereka.
Suasana di ruangan itu cukup sunyi hanya suara tangisan yang diredam dari calon tunangan Lunio Bael salah satu petarung terbaik klan Bael.
Sirzechs melirik Ajuka temannya.
"Ajuka, apakah ada aura lain yang tertinggal pada jasad Lunio?" Tanyanya kemudian
Ajuka, Maou berambut cokelat yang disisir kebelakang menggeleng pelan.
"Sayangnya tidak, tak ada aura yang tertinggal. Tampaknya ini sebuah pekerjaan kelompok, dimana ada yang bertugas sebagai pencari informasi, eksekutor, dan pembersih." Jelas sang Maou Beelzebub
"Apa hal itu mungkin? dan apa tujuannya?"
Serafall, Maou Leviathan itu menanyakan perihal perkataan Ajuka, jika hal itu adalah ulah sebuah kelompok maka mereka harus segera mengantisipasinya sebelum ada korban lain. Apalagi jika itu menyangkut keselamatan adiknya So-tan yang imut.
"Klan Bael merupakan Klan yang paling berpengaruh di Mekkai, menjadi bagian tertinggi dalam posisi klan sebagai "Great King" tak heran jika mereka menempatkannya sebagai target utama." Tutur Lord Bael
"Jadi, mereka ingin menghancurkan bagian terkuat dulu sebelum menyerang Mekkai?" Kali ini Pemimpin keluarga Corabelle yang bertanya. Kemarahan terlihat di bola matanya kematian calon tunangan putrinya pastilah membuat hati putri semata wayangnya hancur dan dia tak suka itu.
"Kurasa tidak, di surat itu dikatakan dia ingin membalas dendam pada Bael. Balas dendam apa itu?"
"Balas dendam. Apakah ini ulah Golongan Maou Lama?"
Perbicaraan serius itu hanya berlangsung lama segala hal yang mungkin masuk kedalam kemungkinan mereka utarakan. Sampai akhirnya rapat kecil itu diakhiri dengan sebuah keputusan
"Kami dari Klan Bael sendirilah yang akan mencari si pembunuh, serahkan hal ini pada kami. Dan rahasiakan mengenai hal ini untuk sementara waktu." Ucap Zekram Bael
"Kami mengerti, jika ini memang ulah Golongan Maou Lama maka terpaksa kami ikut campur."
"Aku mengerti Sirzechs."
.
Lady Gremory tengah merenung di taman belakang istana Gremory. Duduk dibangku putih taman dan memikirkan apa yang tengah terjadi saat ini.
Kematian salah satu anggota Bael, sudah cukup memicu masalah politik dunia bawah sehingga hal ini akan ditutup rapat-rapat dan hanya Maou, Kepala klan Bael dab beberapa orang saja yang diberitahu.
Tapi bukan itu yang menyebabkan Venelana merenung begitu dalam, tapi karena dalam beberapa hari terakhir ini dia bermimpi bertemu dengan sang keponakan dalam keadaan... bersimbah darah.
Ya.. Dia bermimpi jika anak dari Kushina Bael datang dan membunuh semua Iblis klan Bael dan mereka yang memiliki hubungan baik dengannya.
Venelana belum menceritakan hal ini pada orang lain. Dia hanya tak mau jika ada anggapan bila Naruto dalang dibalik pembunuhan Lunio Bael. Walau hanya baru anggapan tetap dia tak mau menerimanya.
"Venelana!"
Suara seorang pria membuat wanita bersurai cokelat panjang itu menoleh kesamping dan mendapati suaminya, Lucius berdiri disampingnya.
"Ya, Anata?" tanyanya, sambil menggeser tubuhnya kesamping memberi ruang untuk sang suami duduk.
Lucius tersenyum kemudian duduk disamping istrinya.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Aku.. Hanya memikirkan keseleamatan Rias di dunia manusia sana. Anata, setelah apa yang terjadi..."
Lucius memeluk istrinya lembut,
"Tenanglah, Rias akan baik-baik saja. Aku yakin itu."
"Ya."
.
.
.
.
.
Duarr...
Ledakan besar disalah satu ruangan di istana keluarga Bael. Para pelayan yang mendengar suara ledakan segera berlari kearah suara.
"Dari mana asalnya?"
"Kurasa, tempat istirahat Zelouch-sama dan Clara-sama berada."
"Sisa peerage Lunio-sama'kah? hei, salah satu diantara kalian segera laporkan ini pada Lord Bael-sama."
"Baik."
Salah satu pelayan yang tampaknya adalah pemimpin para pelayan keluarga Bael setelah bertanya mengenai asal ledakan segera memberi perintah.
.
Drap! Drap! Drap!
Suara kaki yang berlari mengiringi lorong-lorong istana Bael. Para pelayan yang telah sampai ditempat ledakan dikejutkan dengan 4 buah laser berwarna hijau muda keluar dari kepulan asap yang masih mengelilingi kamar yang dimaksud.
Jrashh.. Jrashh.. Jrashh..
""""Arrgghh""""
Empat orang pelayan laki-laki yang berada paling depan harus meregang nyawa karena laser-laser itu tepat mengenai kepala mereka sehingga isi dari kepala harus terciprat kemana-mana.
Para pelayan lain terkejut melihat hal tersebut sontak dengan serempak mereka menghentikan lari mereka dan memasang sikap siaga.
Wushh..
Lagi. Dari dalam kepulan asap itu melesat satu bayangan membuat mata para pelayan menyipit.
Jrashh..
"Gakhh.."
Satu kepala menggelinding di lantai. Semua memandang ngeri kearah kepala tersebut terutama para maid.
"Kyaaa.."
Dan banyak diantara mereka yang pingsan hanya beberapa yang masih sadar itupun dengan kaki gemetar. Mereka adalah pelayan, bukan seorang petarung. Walaupun sihir dikuasai mereka itu hanya sebagai support dalam hal bekerja.
"Ada apa ini?"
Menoleh, mereka mendapati calon pewaris kepala klan Bael, Sairaorg sedang berjalan tegap dari tempat datangnya mereka tadi. Senyum bahagia menghiasi wajah syukurlah sang tuan muda tiba beserta beberapa pelayan lain.
Jrashh.. Jrashh.. Bleshh..
Tapi kebahagiaan itu hanya sementara karena tiga dari lima pelayan yang masih sadar harus menjadi sasaran selanjutnya. Dua kepala menggelinding sedang yang satunya tertusuk dibagian jantung.
Sontak dua pelayan yang tersisa mengambil langkah mundur walaupun harus terjatuh. Didepan mereka, Zelouch sang Knight dari Lunio Bael sedang tersenyum psikopat dengan pedang ditangan kanannya terus menusuk tubuh pelayan yang sudah kehilangan nyawanya.
"Hihihi..."
Tawa yang menyeramkan, para pelayan yang tersisa harus menahan takut dengan merapatkan kedua kakinya. Menahan kencing.
Mata violet Sairaorg menajam saat menangkap keanehan dari tawa sang Knight. Dia juga menemukan tanda-tanda aneh pada tubuh sang Knight, kulit berwarna hijau muda, iris mata yang memutih sehingga hanya warna putih yang dapat dilihat pada bola matanya dan tubuh yang berdiri sempoyongan.
"Hihihi..."
Tawa lain terdengar dari belakang Zelouch dimana seorang wanita berambut emas acak-acakan tertawa melengking dengan kondisi tubuh sama dengan Zelouch. Langkah kakinya yang gontai membuat sebuah kesimpulan pasti dipikiran pemuda berotot itu bahwa sisa peerage Lunio Bael ini bukanlah diri mereka yang sesungguhnya.
Sring..
Lingkaran sihir muncul ditangan kanan Claire kemudian masih dengan tawa melengkingnya diarahkannya lingkaran sihir tersebut tepat didepan Sairaorg. Laser-laser berwarna hijau muda keluar dari sana mengarah pada Sairaorg.
Kepalan tangan pemuda berambut hitam itu mengarah kedepan yang kemudian sebuah aura putih menguar dari tubuhnya dan bergerak menyebar membentuk sebuah perisai.
Dumm
Ledakan-ledakan kecil tercipta saat laser-laser itu berbenturan dengan perisai yang tercipta dari energi dalam tubuh Sairaorg. Merasa jika ledakan telah tak terdengar lagi dia menon-aktifkan kemampuannya.
Sesaat setelah serangan berhenti dan Sairaorg telah menon-aktifkan kemampuannya dia sudah disambut sebuah senyum menjijikan didepannya.
"Hihihi.."
Zelouch telah berada didepannya dengan posisi siap menebas tubuhnya.
Swung.. Krakk..
"He?"
Wajah berkulit hijau muda Knight dari Lunio itu tak ada bedanya dengan zombie yang pernah dilihat Sairaorg walaupun mengeluarkan suara dengan nada bingung tapi wajah nya tak menampilkan ekspresi apa-apa. Sekujur tubuh kekar Sairaorg telah dilapisi energi berwarna putih dan hal itu mencegah bilah tajam pedang milik sang knight Lunio tidak membelah ataupun melukai Sairaorg yang ada hanya bilah pedang itu retak.
"Huh"
Brakk
Sairaorg menampilkan raut kecewa dengan satu cengkraman kuat tangan kekar calon pewaris Bael itu telah memegangi wajah pucat Zelouch kemudian dengan tenaganya yang besar dihantamkannya pada lantai lorong istana Bael menciptakan sebuah ledakan besar disana sekaligus menampilkan Zelouch yang pingsan seketika.
"Hihihi.."
Sring.. Duakk..
Tak membiarkan hal sama terjadi Sairaorg dengan kecepatan dewanya telah berada dibelakang Claire, Bishop berambut emas itu langsung jatuh kelantai setelah pukulan ringan pada tengkuknya mengakibatkan dirinya pingsan seketika.
Tak lama kemudian pemuda berambut hitam itu mendengar suara langkah kaki menuju tempat ini, Cecaniah Corabelle yang merupakan Queen sekaligus (calon) tunangan Lunio berjalan didepan. Dengan pandangan mata menajam gadis yang baru ditinggal mati kekasih itu menyuarakan pertanyaannya.
"Sairaorg, apa yang terjadi?"
"Seperti yang kau lihat Ceca, mereka mengamuk dan yah.. mereka bukanlah mereka yang kau kenal dulu."
Dengan santainya Sairaorg menjawab pertanyaan gadis berambut hijau muda itu. Sepertinya gadis ini mulai menerima fakta jika sang kekasih telah tiada terbukti dengan wajahnya yang terlihat serius.
"Apa maksudmu?" Tanya Ceca serius.
"Tanyakan saja pada dokter dibelakangmu.."
Dan putra sulung Lord Bael itu melengos pergi. Membiarkan dokter yang sengaja dipanggil untuk memeriksa keadaan peerage Lunio. Saat melewati sang ayah yang juga mendatangi tempat ini dia membisikkan sesuatu
'Masalahnya semakin serius. Otou-sama.'
.
.
.
.
Berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Itulah yang dilakukan sang Hakuryuuko masa kini. Matanya tertutup bukan tidur tapi berkonsentrasi memasuki alam bawah sadarnya.
...
Warna langit berwarna biru cerah dengan awan-awan putih yang melayang-layang diudara. Hamparan rumput hijau dengan beberapa pohon besar disana dan disini tak lupa sebuah gunung besar menjulang dengan sebuah danau disekitarnya berair jernih dari mata air gunung. Ada pula sebuah tebing tinggi dimana air terjun berada disana. Itulah gambaran alam bawah sadarnya Naruto.
Seekor naga berwarna putih tengah berbaring diatas rumput ditepi danau. Menyadari jika sang inang berada disini naga yang diketahui bernama Albion itu membuka matanya memperlihat warna matanya yang sewarna dengan biru langit.
"Yo! Naruto"
"Hm"
Merasa jika basa-basinya cukup dan mengingat sang inang hampir sama dengan inangnya yang sebelum-sebelumnya, tak suka basa-basi.
"Ada apa?"
"Janjimu."
Jawab Naruto pendek. Jawaban itu membuat dahi sang naga mengkerut beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk-angguk mengerti. Mengingat beberapa hari yang lalu dia menjanjikan sebuah peninggalan sang ayah Naruto yang dititipkan kepadanya.
"Oh itu, baiklah."
Mata birunya bersinar diikuti dengan munculnya sebuah koper khas orang kantor berwarna cokelat pudar diudara kosong didepan mata Albion.
Mengikuti hukum fisika koper itu meluncur kebawah yang ditangkap dengan satu tangan oleh Naruto. Albion memandang sang inang sebentar mengingat masa lalu sang inang yang cukup suram.
"Jadi, apa isinya?"
Pertanyaan diajukan Naruto saat dia telah memegang koper tadi. Albion meliriknya malas.
"Entah, itu peninggalan yang dititipkan ayahmu beberapa jam sebelum kematiannya. Dia membangunkanku secara paksa dulu."
.
Krekk..
Koper terbuka memperlihatkan isinya. Ada sepucuk surat, satu kertas yang digulung (peta), dan sebuah kubus berwarna hitam.
Pertama Naruto mengambil surat disana dan membukanya.
Untuk Naruto..
Jika kau membaca surat ini maka itu berarti ayah dan ibumu telah tiada. Maaf, tak bisa melihatmu tumbuh dewasa.
Ayah menulis surat ini karena merasa hal buruk akan terjadi katakanlah insting seorang ayah. Ayah juga menulis surat ini secara diam-diam jika dia tahu mungkin ayahmu sudah berakhir diikat pada kursi. Hahaha
Pertama, semoga kau baik-baik saja walau tanpa kami bersamamu ayah percaya kau baik-baik saja.
Kedua, ini mengenai alasan ayah menulis surat ini. Kau pasti tahu jika ayah hanyalah seorang manusia dan ibumu adalah Iblis. Cinta manusia dan iblis apalagi jika iblis itu mencintai seorang penganut tuhan. Dan kau pasti sudah tahu apa yang ayah terjadi, kami diburu baik oleh iblis maupun oleh orang-orang gereja. Mereka yang dulu merupakan teman kami tanpa segan dengan niat membunuh menebaskan pedang mereka pada kami.
Satu tetes air mata jatuh pada kertas surat yang dipegangnya.
Tapi, kami bisa melewatinya. Hakuryuuko pada masa sebelum kau adalah teman ayah maka dari itu dia membantu kami mencari tempat aman. Dan pada saat itu adalah hari pertama kau hadir dikandungan ibumu. Sungguh sebuah kabar yang membahagiakan.
Ngomong-ngomong, ayah menulis surat ini sehari setelah kau lahir. Kau tahu ayah sangat buruk dalam bercerita tak ada yang ingin ayah sampaikan lagi. Tapi, jika kau sudah tahu apa yang terjadi mengenai jati dirimu ayah hanya bisa meminta untuk tidak terlalu masuk pada kegelapan. Kalaupun kau mencoba balas dendam kau harus siap menanggung apa yang akan terjadi karena pasti seseorang yang lain akan membalaskan rasa sakit yang kau torehkan.
Oh, satu lagi. Ayah menitipkan sebuah peta menuju lokasi dimana pedang yang ayah gunakan sewaktu menjadi exorcist dulu. Bukan pedang hebat sih hanya sebuah pedang yang dapat mengendalikan es. Yukianesa.
'Pedang seperti itu kau sebut biasa ayah?' Batinnya mengingat jika pedang itu memiliki legenda sendiri.
Mengingat saat kau lahir, kau dengan seenaknya menyebarkan energi dingin ke seluruh ruang persalinan. Haha, kau memiliki elemen sihir alami sepertiku yaitu es. Dan Yukianesa merupakan senjata yang cocok untukmu. Ayah sengaja menyembunyikan pedang itu karena selain ayah ingin hidup damai bersama ibumu ayah ingin menjauhkannya dari tangan-tangan yang ingin menggunakannya untuk hal buruk. Dan ayah harap kau tidak termasuk kedalamnya.
Terakhir, ayah tahu jika Hakuryuuko generasi sebelummu itu telah tiada ayah menyadarinya saat dikelahiranmu ayah merasakan aura Hakuryuuko padamu. Dia teman ayah sewaktu di kesatuan exorcist dia orang yang baik dan sudah ayah anggap sebagai saudara sendiri. Maka secara tak langsung dia adalah pamanmu, Naruto. Naruto anakku, Hidup menjadi Hakuryuuko itu sangatlah buruk, kau akan diincar tiap fraksi untuk dijadikan sekutu atau mungin senjata perang. Maka dari itu cobalah untuk tidak ikut campur kedalam masalah mereka.
Cobalah berteman dengan Albion anggaplah dia temanmu bukan sebuah alat. Hakuryuuko sebelummu juga berteman dengannya dan menjadi pasangan terkuat dalam bertarung dan ayah harap kau juga bisa melakukannya. Maaf, ayah bilang ini terakhir tapi bicara cukup panjang. Apapun pilihanmu ayah akan selalu mendukungmu.
Baiklah, saatnya melakukan S dengan ibumu sudah lama ayah melakukannya. Kuharap kau tidak memiliki sifat seperti ayahmu ini.
Sampai Jumpa...
Minato Namikaze
[Sayang sekali Minato. Anakmu sama S-nya denganmu haha]
Suara Albion terngiang dikepalanya. Dengan punggung tangannya Naruto menghapus air matanya yang mengalir, meski hanya melalui tulisan dia merasa sedang berbicara sang ayah secara langsung.
'Sihir es, ya? aku memang memilikinya ayah.'
Senyum tipis terukir pada wajah yang selalu menampilkan ekspresi dingin itu.
'Terima kasih atas hadiahmu. Dan aku sudah yakin akan keputusanku dalam membunuh klan Bael.'
.
Lorong-lorong itu terbuat dari batu dengan ukiran-ukiran kuno, seperti menceritakan suatu kisah yang pernah terjadi dimasa lalu. Cahaya obor yang terpasang pada setiap sisinya memperjelas gambar yang tak pudar ditelan waktu.
Kisah seorang kesatria yang gagah berani dengan sebuah pedang suci ditangannya melawan seekor naga raksasa. Itulah yang tergambar disana, dikisahkan berulang-ulang tapi dengan versi berbeda tapi dengan inti yang sama. Cerita seorang dragon slayer.
Mata cokelat itu menatap lurus kedepan tak tertarik dengan apa yang tergambar di dinding lorong. Posisi rubuhnya terlihat santai tapi tak mengurangi kewaspadaan pada sekitar. Waspada pada jebakan yang mungkin juga terpasang disini.
Sring... Swush.. Swush..
Tangan kanannya terjulur kedepan dimana kumpulan cahaya berkumpul dan memadat. Membentuk sebuah pedang dengan unsur cahayanya kemudian menangkis setiap pedang-pedang yang melesat kearahnya. Posisi tubuhnya masih tegap seperti semula dengan pedang cahaya ditangan kanannya dia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dan berjalan lurus kedepan. Kearah sumber energi dari benda yang dicarinya.
...
Wajah datarnya tidak berubah walau kini didepannya 5 makhluk ganas berkaki empat berdiri menghalangi jalannya. Hanya tinggal menaiki tangga sampai puncak dan dia akan mendapatkan apa yang dicarinya.
-pedang Dragon Slayer, Ascalon.
[Hellhound! tak kusangka makhluk seperti mereka yang menjaga Ascalon.]
'Sekuat apa mereka?'
Tanya pemuda berambut cokelat itu melalui pikiran kepada sang partner. Mata cokelatnya tidak lepas melihat 5 makhluk yang bisa dikatakan mirip anjing namun dengan ukuran sebesar beruang meraung ganas kearahnya.
[Hellhound, anjing neraka sekelas Cerberus. Lihatlah kulit tubuh mereka berwarna hitam, mata merah dan sekeliling tubuh dikelilingi api secara samar.]
'Jadi intinya, aku bisa membunuh mereka'kan?'
[Kau ingin membunuhnya? lihat ukuran tubuh mereka yang sebesar beruang itu menandakan kekuatan mereka yang besar. Lebih baik kau jadikan peliharaan saja!]
Saran Draig, sang Wels Dragon. Partner-nya yang bernama lengkap Hyodou Issei hanya bisa bergumam kecil.
"Blade Blacksmith"
Sebuah pedang berukuran besar dengan warna dominan putih dan memancarkan energi suci tercipta ditangan kanannya. Menggenggamnya kuat kemudian melompat tinggi bersiap memulai serangan.
Tangan kirinya yang bebas mengambil pistol dari pinggang kirinya, Kemudian pistol itu diarahkannya pada lima Hellhound yang juga ikut melompat kearahnya.
Dorr.. Dorr.. Dorr..
3 peluru ditembakkan pada tiga anjing neraka yang berada paling dekat dengannya. Walaupun serangannya itu tidak memberi luka berarti tapi itulah yang Issei harapkan. Pedang besar ditangan kanannya dia gunakan untuk menangkis sebuah cakaran dengan sisi lebarnya.
Lingkaran sihir berukuran sedang muncul dibawah telapak kakinya. Menjadikannya sebagai pijakan Issei kembali melompat dan mendarat pada anak tangga ke-3 diruangan besar tempat dimana pedang Ascalon berada. Berbalik dan langsung disambut oleh satu Hellhound yang telah berada dihadapannya kemudian memberi cakaran berapi ungu-kehitaman.
Traakk..
Pedang besar yang masih tergenggam ditangannya dia gunakan untuk menahan cakaran makhluk hitam itu. Memberikan dorongan kuat pemuda yang memegang gelar Sekiryuutei itu segera memutar tubuhnya dan memberikan tendangan kuat dan membuat anjing besar tersebut terlempar dan menabrak dinding batu.
Bruss
Tiga pasang sayap hitam keluar dipunggungnya, mengepakkannya kuat dia telah terbang di langit-langit ruangan. Matanya menatap kebawah tepat kearah anjing-anjing neraka yang membalas tatapannya dengan sangar.
'Lupakan soal menjadikan mereka peliharaan. Mereka hanya makhluk bodoh, Draig!'
[Terserah kau saja.]
Boosted Gear
[Boost]
Sarung tangan naga berwarna merah telah terpasang dilengan kirinya. Tanda bahwa dia adalah pemegang Sacred Gear Longinus [Boosted Gear] dan pemegang gelar Sekiryuutei.
.
"Sekarang apa?"
Menatap datar pada orang disampingnya yang juag memasang wajah datar. Tengah begini pintu kamarnya sudah gedor oleh sahabat baiknya Sasuke membuat Naruto yang tengah merasakan sedikit kebahagiaan dari surat ayahnya harus mengeluarkan energi iblis-naga besar-besaran.
"Sebuah organisasi sihir yang dipimpin penyihir kelas atas menyerang markas ini."
Sasuke membalas pertanyaan temannya dengan datar.
"Ulah apa lagi yang dilakukan pedo itu?"
Sasuke hanya mengangkat bahu tak peduli akan pertanyaan sahabatnya itu. Mereka terus berjalan menuju pintu keluar markas organisasi mereka bermaksud melawan pasukan penyihir itu berdua saja. Berdua? tentu saja, kemampuan mereka sebagai petarung sudah tak diragukan lagi.
Ketakutan tidaklah menghinggapi mereka karena sejak usia dini sewaktu dipungut oleh pedo-Orochi mereka sudah diberi pelatihan yang membuat rasa takut menguap dari tubuh kecil mereka saat itu. Seringai maniak bertarung bertengger diwajah kedua pemuda berbeda warna rambut itu. Melihat keatas ratusan penyihir telah menutupi langit malam hari di tempat salah satu markas Awakening Dragon.
Pertempuran besar-mungkin bisa dikatakan pembantaian akan segera menghiasi malam ini. Seorang penyihir wanita dengan usia sekitar 30-an tapi entah berapa usia sebenarnya melayang turun dan menghadap beberapa meter didepan Sasuke dan Naruto.
Rambut pirangnya digerai bebas, Pakaian yang dikenakannya berbeda dengan kebanyakan penyihir yang melayang diudara bermaksud mengepung mereka dimana jika para penyihir itu mengenakan jubah khas penyihir dengan menutupi kepalanya berwarna merah gelap dengan sebuah tongkat sihir dengan hiasan bulan sabit diujung tongkatnya. Maka wanita tadi mengenakan sebuah jubah putih panjang yang mungkin secara sengaja dibuat sesuai ukuran tubuhnya sehingga sekilas terlihat seperti gaun, dengan tongkat yang lebih besar dan panjang dari penyihir lainnya.
Senyum menggoda nampak diwajahnya yang masih dibilang muda itu. Mata birunya meneliti kedua pemuda yang berdiri beberapa meter darinya.
"Ufufu, si ular itu meremehkanku, ya? mengirim dua pemuda tampan-san yang masih perjaka.. Ara-ara apa yang harus kulakukan pada kalian, hmm."
Nada genit keluar dari mulut si penyihir yang ada dihadapan Naruto dan Sasuke. Jari telunjuk kirinya ditaruh pada bawah bibirnya menambah kesan sensual tapi tak berefek apa-apa.
"Ada apa kalian kemari?" Sasuke bertanya.
"Ara, Onee-san cuma ingin menguluti seekor ular..." Tangan kanan yang memegang kongkat sihir itu terangkat sedikit mengarah pada pemuda beberapa meter didepannya.
"...dan menjadikan kalian bonekaku."
Syuuutt! Duarrr
.
.
Crashh..
Dan pedang berwarna putih itu menusuk kepala anjing neraka tersebut, mengakhiri hidupnya sebagai penjaga dari Holy sword-Dragon slayer, Ascalon.
Entah apa yang menghinggapi pikiran Hyodou Issei. Menyatukan sebuah pedang pembunuh naga dengan sacred gear tipe naga. Sesuatu yang mustahil, itulah menurut Azazel, guru yang mengajarinya dalam hal Sacred gear.
Tapi dia tak peduli, jika sesuatu yang msutahil seperti rumor yang beredar mengenai Great War terjadi. Kenapa hal yang dipikirkan olehnya tak akan terjadi?
Langkah kaki yang dibalut sepatu kulit yang dibuat khusus dalam pertarungan itu menaiki satu persatu anak tangga diruangan yang ada diruangan luas ini. Semakin naik dia keatas semakin terasa aura suci yang membuat tubuhnya merinding. Inikah kekuatan pembunuh naga? Jantungnya menjadi berbedar kencang tak karuan, bayangan si putih mati ditangannya berputar terus dikepalanya.
Dukk..
Menabrak sebuah penghalang tipis namun kuat itulah yang dialami pemuda Sekiryuutei tersebut, matanya yang berwarna cokelat yang mengeluarkan cahaya hijau dapat melihat dengan jelas kekkai yang menghalangi langkahnya di anak tangga ke-berapa ya? peduli amat.
'Kekkai dengan aura pembunuh naga? hati-hati, Partner.'
Draig memperingati partner-nya, ketika menyadari jenis energi yang digunakan untuk membuat kekkai tersebut.
'Merepotkan saja.'
.
.
.
.
Naruto terbang tinggi dilangit kemudian melakukan gerakan berputar menghindari bola-bola merah berenergi iblis dengan cepat.
Swuiing.. Plakk..
Duarr
Bosan karena terus terbang kesana-sini menghindari serangan musuhnya, dengan kenekatan yang besar Naruto mengumpulkan Demonic-Dragon power di telapak tangan kirinya yang kemudian dia menampar bola bernergi demonic membuat laju si bola berbuah kembali turun menuju si empu serangan.
Debu beterbatangan di sekitar tempat yang menjadi sasaran bola energi yang tadi ditampar oleh Naruto. Setelah debu hilang terlihat seorang pria diumur akhir 30an dengan rambut merah panjang, setelan tuxedo putih yang dikenakannya kotor akibat debu dari pembalikan serangan tadi.
Lucius Gremory, dialah sosok yang menjadi lawan Naruto. Kepala pemimpin keluarga Gremory itu telah mengikat kontrak dengan pemimpin organisasi sihir bernama Angele de la Barthe sehingga dia kini dipanggil untuk melaksanakan tugas dari pengkontraknya.
Lucius memandang pada pemuda bersayap biru-keputihan yang terbang diatasnya. Sedikit familiar dengan warna rambut yang kuning, kulit tan, dan mata biru. Entah kenapa dia sedikit cemas setelah mendapat firasat jika pemuda itu adalah anak yang selama ini selalu dicari istrinya.
"Hei nak, apa kau menyerah?"
Lucius angkat bicara walau dia tahu pemuda yang dilawannya itu belum serius sama sepertinya.
Naruto yang mendengar pertanyaan Lucius entah kenapa merasa kesal, merasa jika dia tengah diejek saat ini.
'Sialan, Regulus.'
Tangan kanannya terjulur kedepan tepatnya pada seekor singa Nemea yang tengah berlari kearahnya setelah merobek beberapa tubuh penyihir setelah mendengar telepati dari sang tuan.
"Regulus Nemea : Balance Break."
Teriak Naruto tepat saat Raja singa itu melompat kearahnya. Sinar emas menguar dari tubuh si singa kemudian bentuknya berubah menjadi sebuah kapak perang besar berwarna hitam.
Hap
Kapak besar yang meluncur kearah Naruto ditangkapnya dengan mudah oleh tangan kanannya dengan sedikit kekuatannya Naruto mulai mengayun-ayunkan kapak itu yang menimbulkan sebuah gelombang tipis berwarna merah.
'Albion, mulai pengisian energi untuk menggunakan Juggernaut drive.'
'Kau yakin Naruto? kau hanya bisa bertahan selama 20 detik itupun jika kau dalam kondisi baik.' Albion mencoba meyakinkan partner-nya mengenai penggunaan Juggernaut drive.
'Aku hanya akan memakainya selama 10-15 detik. Lawanku adalah pemimpin sebuah klan sudah pasti Juggernaut drive adalah pilihan tepat.' Balas Naruto yakin melalu pikirannya
'Baiklah.' Balas Albion pasrah
.
Sedangkan dengan Sasuke, pemuda berambut style pantat ayam dibagian belakangnya itu yang tengah terus terbang menghindar dari serangan setiap pasukan penyihir yang dipimpin oleh Angele tadi.
Sarung tangan berwarna hitam-biru terpasang dikedua tangannya yang merupakan Sacred gear miliknya. Kini terselimuti petir biru dengan kecepatannya Sasuke telah berada disamping satu penyihir dan menghujamkan jari tangan yang diluruskan diselimuti petir tepat pada dadanya.
Bzzztt
"Ahk."
Satu penyihir jatuh, kemudian pemuda itu melesat menuju penyihir lainnya dan melakukan hal yang sama, menusuk jantung mereka. Jumlah penyihir yang awalnya ratusan ini kini hanya tinggal puluhan. Mengingat sebelum Naruto bertarung dengan Lucius, Naruto telah membabat sekitar seratus lebih penyihir.
"Sial, serang dia dengan serangan gabungan." Teriak seorang penyihir pria kepada penyihir lainnya.
'Hn, percuma.'
Batin si pemuda Uciha itu saat telah berada diatas mereka dengan tangan diselimuti oleh petir yang terhubung dengan seekor naga petir yang tampaknya adalah hasil kreasi si Uchiha dengan Sacred gear-nya.
Zroaaahhhh...
Naga petir itu melaju kearah para penyihir yang sibuk mengucapkan mantra. Tak menyadari jika lawan mereka telah mengirim sebuah serangan.
Bzzztt.. Bzzztt..
"""Arrggghh."""
Teriak kompak mereka yang terkena serangan Sasuke.
.
.
Kembali ke Naruto
Pertarungan antara Naruto dan Lucius semakin memanas, kemampuan dari seorang kepala klan Iblis tak bisa dianggap remeh. Lucius tidak hanya menembakkan bola-bola demonic kearah pemuda yang menjadi lawannya tetapi dia juga menggunakan sebuah pedang untuk mengadunya dengan kapak besar yang dipegang Naruto tadi.
Ctank!
Pedang dan kapak beradu, iris Light Blue Lucius beradu iris biru samudera Naruto. Keduanya saling menekan dengan senjata yang dipegang keduanya.
Crikk!
Naruto melompat mundur saat menyadari sebuah serangan dari arah samping. Begitupun Lucius dia juga melompat menghindar dari bola sihir yang ternyata ditembakkan Angele yang berada tak jauh dari tempat pertarungan keduanya. Mengamati.
Tap
Lucius sampai ditempat Angele berada, pedang jenis rapier berwarna perak tetap berada ditangan kanannya. Mata Light blue-nya menatap pada pemuda berambut kuning yang setia terbang menggunakan sayap biru-putih tanda jika dia seorang Hakuryuukou.
"Dia lumayan hebat."
Puji Lucius menyadari kehebatan pemuda yang menurut masih sangat muda itu. Angele hanya diam tak merespon mata merahnya tetap menatap lekat pada sayap sacred gear Naruto yang entah kenapa dari menit ke menit memancarkan energi yang meningkat.
"Lucius-sama, apa anda merasakannya juga?"
"Jika yang nona Angele maksud adalah energi yang terpusat pada sayap-nya, maka ya saya merasakannya."
Lucius menjawabnya kalem dia memang menyadari energi yang terus meningkat pada sayap sacred gear Naruto. Apapun itu yang jelas bukanlah hal baik untuk mereka.
'Mereka menyadarinya.' pikir Naruto
'Tentu saja, Angele seorang penyihir tingkat atas terbukti dengan dirinya bisa membuat kontrak dengan iblis kelas atas yang juga seorang Head clan.' Albion ikut berbicara dipikiran Naruto.
'Ya, aku tahu itu. Sudah berapa banyak?' Tanya Naruto mengenai rencana pengisian energi yang akan dijadikan pengorbanan oleh Naruto agar bisa bertahan dalam Juggernaut drive tanpa harus berkurangnya usianya.
'55% Naruto.'
'Begitu.'
Ctank!
Dengan reflek Naruto menggunakan sisi lebar kapak besar-nya menahan serangan berupa tebasan oleh Lucius.
"Ditengah pertarungan, kau masih bisa melamun. Nak!" Nasihat Lucius, tapi tetap itu terasa sebuah ejekan bagi Naruto.
"Aku sengaja." Balas si blonde asal.
Angele dengan kemampuan sihirnya dia telah berada diatas keduanya, tongkat sihirnya diarahkan tepat pada Naruto yang masih menahan pedang Lucius.
Sring.. Syuut..
Duarr
Bola sihir kembali ditembakkan oleh penyihir wanita berambut blonde itu, Lucius yang memang menghindar disaat yang tepat sekarang terbang disampingnya. Menatap pada debu hasil ledakan tadi.
Wushh..
Asap hasil ledakan menghilang seketika bersamaan dengan mengepaknya sayap sacred gear milik Naruto. Pemuda blonde itu hanya memasang wajah datar mengingat dari tadi serangan penyihir wanita blonde itu selalu sama. Bola sihir terus dan itu membuatnya bosan.
'Energi yang harusnya mencapai 60% kini menjadi 50% gara-gara digunakan untuk menahan serangan tadi.' Suara Albion kembali hadir dipikiran Naruto.
'Kau bercanda'kan?'
'Sayangnya tidak, sihir wanita itu harus kuakui sangat kuat.' Jelas Albion, hal itu membuat Naruto semakin kesal. Kesal karena merasa dipermainkan.
'Naruto... Bukankah Gremory memiliki hubungan baik dengan Bael? dan jika tak salah Kabuto pernah bilang jika pemimpin klan gremory memiliki istri dari klan Bael.' Albion tiba-tiba mengungkit informasi Kabuto beberapa bulan lalu. Naruto menundukan kepalanya, mendengarkan.
'Dan jika tak salah, anak pertama pemimpin Gremory adalah Maou-'
Albion tidak jadi meneruskan kata-katanya saat hasrat membunuh milik Naruto mulai mencemari sekelilingnya. Ya, Albion mengungkit masalah hubungan Gremory dan Bael bukan tanpa alasan. Karena segala yang menyangkut dengan Bael yang telah merenggut nyawa orangtuanya harus lenyap.
'Bunuh... Bunuh... Bunuh mereka yang terikat dengan Bael.'
Mengangkat wajahnya keatas menatap pada Lucius dan Angele yang memandangnya tajam. Karena hasrat membunuhnya yang tiba-tiba meningkat melebihi yang sebelumnya.
"Heh... Aku lupa hal itu, terima kasih Albion." Ucapnya pelan.
'Tidak masalah, kau tahu'kan kekalaha Hakuryuukou selama beberapa generasi ini gara-gara Bael yang ikut campur.' Balas Albion dengan sedikit, mengingat kekalahan para Hakuryuukou dikarenakan kelicikan Sekiryuutei meminta bantuan para Bael.
"Nah..." Kapak besarnya diangkat keatas, tepat pada Lucius "Kau duluan yang mati...Gremory."
'Ayo, Regulus.'
.
Naruto terbang cepat keatas langit tepat kearah Lucius, kapak perang yang dipegangnya diayunkan secara melintang namun dapat ditahan dengan rapier ditangan kanan Lucius.
Trank!
Tangan kiri Naruto terbuka diarahkan pada Lucius, lingkaran sihir berwarna putih muncul disana bersamaan dengan keluarnya pisau es tepat kearah kepalanya.
Tak ingin terkena serangan itu, Lucius menarik kembali rapier miliknya dan terbang menghindar kebawah.
Angele yang terbang menjauh saat serangan Naruto segera menyiapkan puluhan lingkaran sihir. Menunjukan kehebatannya sebagai penyihir tingkat tinggi. Dengan perintah batinnya, ratusan serangan sihir dengan elemen berbeda keluar dari lingkaran sihir ciptaannya dan melesat kearah Naruto.
Melihat serangan dalam jumlah besar tak menggetarkan hati Naruto, Hakuryuukou masa kini itu mengeratkan genggamannya pada kapak perang wujud Balance breaker Regulus nemea.
Slash..
Energi merah berbentuk bulan sabit keluar bersamaan dengan Naruto menyabetkan kapaknya secara horizontal.
Bumm..
Memanfaatkan keadaan yang masih penuh debu sehingga membuat penyihir Angele tak bisa menyerangnya. Naruto mengedarkan keberadaan Lucius, saat mata memandang keatas disana terlihat Lucius yang telah siap dengan serangannya.
Sayap Sacred gear-nya terbuka lebar diikuti dengan energi putih yang meluapkan kemudian menghilang dengan cahaya putih.
Flash..
Tap
Lucius yang tengah membaca mantra sihir terkejut saat merasakan sebuah tepukan dibahu kanannya, ledakan serangan sihir yang tak jauh diatasnya membuat dirinya sulit merasakan energi seseorang.
Menengok kesamping kanannya, dapat dilihatnya sebuah sayap putih-biru Hakuryuukou bertengger manis dipunggungnya. Dan sebuah tangan yang menepuk pundaknya diikuti wajah yang juga menoleh kepadanya dengan sebuah seringai mengerikan.
"Matilah."
[Divide]
"Uhk..."
Lucius jatuh berlutut tenaga serasa tersedot disaat dirinya tengah menyiapkan sebuah sihir. Tak ingin hal sama terulang kembali, pria berambut merah crimson itu menebaskan rapier-nya kesamping bermaksud menjauhkan pemuda kuning itu.
Naruto melompat menghindar dari tebasan Lucius dan mendaratkan 3 meter dari tempatnya semula. Nafasnya satu-satu, diakibatkan berat dari mode Balance Braeaker milik Regulus. Kekuatan yang besar pasti memiliki kelemahan, kapak pembelah bumi itu bagai bermata dua. Memberikan serangan besar namun dengan efek kelelahan dan energi yang terkuras cukup banyak.
'Berapa banyak?'
'70% dengan kondisimu yang telah kelelahan, mustahil bertahan selama 10 detik dalam Juggernaut drive.'
'Berisik. Aku tak peduli jika harus pingsan seperti dulu, yang jelas. Habisi Bael mereka yang terikat dengannya.'
Zwuuung... Zwuuung...
Naruto menebaskan dua ayunan kapaknya, menimbulkan gelombang energi besar kearah Lucius yang masih mengatur nafasnya akibat energi yang tersedot disaat dirinya menyiapkan sihir.
Sring..
DUMMM
Sebuah lingkaran sihir besar menahan gelombang energi Naruto.
Asap hitam menutupi area yang menjadi sasarannya, beberap deti kemudian nampaklah seorang penyihir wanita berambut pirang berdiri disana. Dengan nafas yang tersengal dia merentangkan kedua tangannya kedepan, menciptakan sihir pelindung melindunginya dan iblis yang dikontraknya.
"Anda baik-baik saja, Lucius-Dono?"
Ditengah pengaturan nafasnya, wanita dengan ukuran dada memukau itu menengok kebelakang pada pemimpin Gremory yang masih duduk berlutut.
"Saya baik-baik saja, nona Angele. Hakuryuukou berhasil membagi energi saya."
Lucius bangkit, kemudian memasang kuda-kuda khas pendekar pedang. Angele tersenyum sesaat kemudian menyiapkan tongkat sihirnya.
"Anda terlihat ragu, Lucius-dono. Adakah hal yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Angele, sedari tadi dia memperhatikan Lucius dan menemukan kejanggalan dari setiap serangannya.
Lucius tertegun, benarkah dia ragu? tanyanya didalam pikirannya sendiri.
"Mungkin karena, pemuda itu mirip dengan anak yang selama ini dicari istriku." Lucius mengutarakan hal yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Mungkin bicara pada pengkontraknya bukan hal buruk.
"Venelana-dono? memangnya ada hubungan apa anak yang istri anda dengannya?"
"Mungkin seperti... Keponakan bagi istri-Dia datang."
Lucius berdiri beberapa meter didepan Angele menggunakan rapiernya dia menahan tebasan kapak besar yang dapat membelah bumi itu.
Sring..
Satu lingkaran sihir kecil tercipta ditelapak tangan Lucius bermaksud memberikan serangan padanya. Namun, Naruto telah memberikan tendangan lutut diperut membuat pria crimson itu sedikit membungkuk sampai akhirnya terlempar kesamping kirinya akibat pukulan berlapis Demonic power Naruto.
Angele yang telah pulih dari kelelahannya setelah menahan serangan milik Naruto sebelumnya, kini telah menyiapkan belasan singa api yang menerjang kearahnya.
'Bodoh.'
Sring...
Naruto menon-aktifkan balance breaker Regulus, sehingga kapak besar itu kembali ke wujud semula yaitu seekor singa jantan. Mengerti maksud sang tuan, Regulus ikut menerjang kedepan dengan sekali cakarnya dia melenyapkan satu singa kemudian beralih ke singa lainnya.
Naruto yang tahu serangan wanita blonde itu hanya pengalihan segera melesat terbang keatas. Menghindari bola-bola api sebesar 3 meter yang diarahkan padanya.
'Ck, lama sekali. Albion?'
'76%... Sabarlah, pulihkan stamina-mu itu. Naruto!'
Naruto segera melakukan terbang-menghindar kiri-kanan dari tembakan api Angele. Penyihir wanita yang memiliki dendam pada salah satu anggota Awakening dragon karena ditolak -dalam artian lain- plus ejekan perawan tua (yang benar adanya) kembali menembakkan ratusan panah api bermaksud tak memberi kesempatan pada sang Hakuryuukou membalas.
[Vanishing Dragon : Balance Breaker]
Naruto mengaktifkan armor naga-nya, merasa jika sia-sia menghindar terus ditambah dengan kelelahannya dia lebih baik segera mengakhiri ini.
Dalam bentuk armor naga Hakuryuukou-nya, Naruto melesat dengan cepat menerjang semua serangan yang diarahkan Angele kearahnya.
Syuutt.. Duarr
"Nona Angele!"
Naruto yang bergerak lurus menabrak semua serangan sihir kearahnya pun menabrak sang penyerang alias Angele de la Barthe membuat si wanita blonde terpental puluhan meter.
Lucius yang masih dalam keadaan ragu ditambah panik dia tak menyadari jika seekor singa menerjang kearahnya, menggigit tangan kirinya sampai putus.
"Ahk.."
Naruto yang kini tengah terbangpun menjulurkan tangan kanannya kedepan, tepatnya pada tubuh terbaring Angele. Dalam mode Balance breaker Divine dividing-nya Naruto bebas membagi kekuatan musuhnya dan menjadikannya sebagai kekuatan miliknya dengan syarat... Telah menyentuh lawannya.
[Divide] [Divide] [Divide]
Energi sihir Angele terkuras habis sampai kesadarannya menjadi remang-remang. Puluhan penyihir yang tersisa yang mendengar teriakan Luciuspun beralih mengepung Naruto yang santai terbang melayang.
'100% complete. Energi yang disimpan di sayap dan tubuhmu telah mencapai full up, Naruto. Hanya saja-'
'Bersiap masuk Juggernaut drive.'
.
.
.
Aku, seorang yang hendak bangkit
[mereka akan dimusnahkan!] [mereka sudah pasti akan dimusnahkan]
Para penyihir menatap tajam pada suara yang keluar dari kristal-kristal pada armor Hakuryuukou-nya.
Akulah naga langit yang memegang prinsip dominasi yang dicuri dari segalanya
[Impian akan berakhir!] [Ilusi akan dimulai]
Beberap dari mereka yang menyadari ucapan -mantra- itu segera berteriak.
"Semuanya, siapkan serangan penghabisan."
"Serang dia sebelum mengaktifkan Juggernaut drive."
"Bawa Angele-sama menjauh."
Aku iri pada ketidakbatasan, dan menginginkan impian
[Segalanya!] [Ya, beri kami segalanya!]
Lingkaran sihir dengan bervariasi ukuran berbeda tercipta. Mereka yang mengetahui maksud Juggernaut drive segera memberitahu rekannya akan kekuatan maha dahsyat yang dimiliki dua kaisar naga.
Aku akan menguasai jalur dominasi dari naga putih
[[[Dan aku akan memancingmu kedalam kemurnian tertinggi]]]
Juggernaut drive!
Dan bersamaan dengan itu tembakan sihir menerjang kearah Naruto yang diselimuti cahaya putih.
.
.
.
Orochimaru, dengan sebuah pedang katana berwarna putih berjalan ditengah kekacauan diluar markas Awakening dragon. Dimana mayat-mayat penyihir yang baru saja mati akibat serangan tertinggi salah satu naga langit yang telah mereda beberapa menit yang lalu.
Langkah pria perwujudan Yamata no Orochi itu terhenti tepat didepan tubuh seorang wanita yang dalam keadaan setengah telanjang karena jubah dan baju yang dikenakannya hancur akibat terpental berkali-kali. Pria berambut hitam panjang itu terkekeh. Kekehannya mengalihkan beberapa penyihir yang tengah mengobati sang pemimpin.
Jrashh.. Jrashh.. Jrashh..
Kepala-kepala penyihir itu lepas dari tubuh mereka sesaat akan menoleh kearahnya. Kini hanya Orochimaru dan Angele de la Barthe yang tersisa.
"Bagaimana rasanya... dihajar oleh Hakuryuukou? hm."
Ejek perwujudan Yamata no Orochi tersebut. Sedangkan yang diejek hanya diam dan menatapnya datar. Ingin menyerangnya tapi apa daya, kekuatan sihirnya telah terbagi oleh Hakuryuujou sampai untuk menggerakkan kepalanyapun dia harus menahan rasa sakit.
"Apa maumu? Orochimaru."
"Khukhukhu, hanya ingin melihat dirimu dibunuh salah satu muridku, sayang sekali dia ada urusan lain." Ujarnya sambil melihat pada kejauhan. Mata reptilnya melihat pada jarak 50m dari tempatnya berdiri dimana Naruto yang telah melepas Juggernaut drive-nya berdiri berhadapan dengan seseorang.
.
.
.
Amukan Juggernaut drive Naruto yang berlangsung selama 18 detik itu telah menghabisi seluruh penyihir yang tersisa. Kini, pemuda berambut kuning itu berdiri diatas tubuh Lucius yang menyender pada sebuah batu besar, tangan kirinya terputus terus mengucurkan darah sedang tangan kanannya menggenggam erat rapier yang setia dipegangnya.
Regulus berdiri disamping tuannya dimulutnya masih ada potongan tangan kiri Lucius. Lucius memandang wajah Naruto mencoba memastikan sesuatu. Merasa puas akhirnya dia tersenyum tipis.
"Sudah kuduga... hhh.. Kau memang dia!" Ucapnya tersendat. Naruto yang dalam kondisi lelah dan kesadarannya menipis masih bisa mengerutkan keningnya.
"Kau bingung?" Tangan kanan Lucius merogoh sesuatu dari saku celananya, selembar foto yang diambilnya yang dia perlihatkan pada Naruto.
Di foto itu terlihat dua wanita berbeda warna rambut tersenyum manis sambil salah satu dari mereka memberi tanda V. Lucius terkekeh melihat ekspresi terkejut Naruto.
"Di foto ini adalah, yang berambut merah Kushina Bael dan yang berambut cokelat adalah istriku, Venelana Bael. Kau-"
Jlebb
Mata light blue Lucius melebar saat dirasakannya sebuah tusukan didadanya. Didepannya terlihat wajah Naruto yang tertutup poni kuningnya.
"Hentikan. Jangan dilanjutkan kembali, aku sudah tidak peduli lagi."
"Naru...to...tidakkah kau ingin melihat keluarga-"
"Mereka sudah mati... Kalian yang membunuhnya. Bael dan Sekiryuutei membunuh ayah dan ibu."
"Itu-"
"Makhluk yang akan mati, lebih diam."
Tusukan tangannya semakin dalam membuat Lucius melebarkan matanya menahan sakit. Dan hembusan nafas terakhirnya bersamaan dengan kabut putih buatan mulai menutupi area tempat bekas pertempuran.
"Naruto-kun, ayo pergi. Markas ini sudah tak aman."
"Ya."
.
.
.
.
.
.
TBC
Note :
Lucius Gremory alias bapak-nya Sirzech-Rias sekaligus suami Venelana... Meninggal #Nebar bunga Raflesia. :v
6285 kata bersih buat ini chapter, word terbanyak yang pernah saya buat semoga kalian puas. #acungin golok (pajangan babeh :D)
Semoga saja kesana-nya ini fict gak jadi keponakan makan bibi. #ngangguk-ngangguk
Maaf lama update, setidaknya saya update dua fict jadi semoga kalian puas. Huh, apa yang harus kukatakan ya? -_-
oh, aku lafarrrr... :v
Huahaha
Baiklah, saya lagi gaje akhir-akhir ini. Jika ada yang ingin ditanyakan, tanyakan saja. Soal Juggernaut drive, Naruto bisa tapi harus ngumpulin energi tang banyak sebagai pengorbanan.
Issei? saya udah bosen dengan penggambarannya di fict FNI selalu lemah. Jadi, disini saya buat strong dan menggantika posisi Vali sebagai murid Azazel dan salah satu petarung Grigori.
Buat kalian yang membaca note ini sampai akhir, adakah saran untuk nama chara Vali dalam versi wanita? karena dia memiliki peran penting disini.
Akhir kata...
Wsa Out. ~Ciao.
