Title :

Dragon Revenge

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto™

Highschool DxD © Ichie Ishibumi™

Creator :

Wsa Krisna™

Rate :

M

(Kata kasar dan kotor yang lupa dicuci :v)

Genre :

Misteri, Supernatural, Adventure, Friendship, Romance, etc.

Warning :

AU, OOC, Super-strong, Adult scene, S-M, Gore, Death-chara, etc.

.

.

Arc I : Dua Naga Langit : Kebenaran Lain

.

.

Naruto sedang berjalan disebuah lorong berbahan batu bata dengan pencahayaan temaram. Ini adalah salah satu markas lain dari [Awakening Dragon] atau mungkin bisa disebut 'salah satu lab' milik The Pedofil of Orochimaru-sama dalam penelitiannya.

Tak sampai sepuluh menit berjalan Naruto telah berdiri pada pintu berwarna cokelat. Ditangan kirinya ada sebuah nampan, dengan piring berisikan roti tawar dengan kaleng-kaleng selai kecil rasa cokelat, strawberry dan kacang yang menurut data Kabuto itulah rasa selai kesukaan-nya. Memasang wajah tersenyum, Naruto membuka pintu itu dengan tangan kanannya. Pintu semakin lebar dan semakin cerah pula senyum yang dipasangnya.

Bugh

Dan senyum yang dipasangnya dibalas lemparan bantal oleh seseorang yang berada didalamnya.

"Ya ampun, Kuisha-chan. Beginikah caramu menyambut penyelamatmu?"

"Penyelamat? kau menculikku, kau tahu itu? apa alasanmu melakukan ini padaku? jawab aku kuning tahi."

Naruto mengabaikan sejumlah pertanyaan tak penting tersebut, dia memilih masuk kedalam ruang itu dan mengunci pintunya dan membuat Kuisha semakin merapatkan punggungnya pada tembok dibelakangnya. Naruto duduk ditepi kasur setelah menaruh nampan berisi makanan tawanan-nya itu pada meja kecil disana.

"Ah, aku benar-benar menyelamatkanmu, kau tahu. Dari tangan pak tua di sana."

Tangan kanannya mengelus surai pirang yang hampir senada dengan rambutnya. Kuisha hanya memejamkan matanya, dia ingin menepis kasar tangan pemuda itu tapi karena gelang yang terpasang dikedua tangannyalah membuat tangannya tak bisa bergerak bebas.

"Pak tua?" Cicit Kuisha, Naruto menghentikan elusannya dan Kuisha membuka sebelah matanya takut. Kejadian tempo lalu sudah membuatnya mengerti seberapa jauh perbedaan kekuatan mereka, Sairaorg -King-nya- yang disebut-sebut Iblis muda terkuat itu kalah dalam sekejap apalagi dirinya yang berada dibawahnya.

"Kau tak perlu takut, kau aman dari pak tua itu."

"A-Apa sebenarnya yang kau maksud?"

"Sebenarnya..."

.

.

.

.

Cahaya ruangan itu remang karena sumber pencahayaannya hanya dari sebatang lilin di salah satu sudutnya.

Dan tak jauh disamping lilin itu, sebuah tubuh terbaring hanya beralaskan sebuah tikar. Wajahnya tidak terlihat jelas karena salah satu punggung tangannya menutupi wajahnya, tapi dari tubuhnya yang kecil dan rambutnya yang panjang bisa kita anggap bahwa dia itu seorang wanita.

klekk~

Suara di sudut lainnya terdengar keras, si wanita sedikit menolehkan kepalanya melihat siapa yang mengunjungi orang terbuang seperti dirinya.

Suara langkah kaki yang terdengar seirama didengarnya dengan baik, itu karena dirinya seorang Iblis yang memiliki pendengaran berkali-kali lipat dari makhluk rendah seperti manusia. Dia cukup mengenalnya pemilik langkah kaki itu dengan baik, ya pasti orang itu.

"Hai, sepupu."

Seperti yang diduganya, suara itu tak lain milik sepupunya Diehauser Belial.

"Tak biasanya kamu kemari, Die."

"Hei hei. Dalam bahasa Inggris Die itu artinya mati lho, kamu ingin aku mati? Cleria!"

Cleria segera merubah posisinya, dari terbaring menjadi duduk menyandarkan punggung kecilnya pada dinding dibelakangnya.

Cleria Belial, salah satu Iblis dari pilar bangsawan Iblis di dunia bawah. Dia juga merupakan sepupu dari pemimpin keluarga Belial saat ini sekaligus Iblis yang menduduki peringkat no.1 dalam Rating Game, Diehauser Belial.

Cleria dipenjara atas hubungan terlarangnya dengan seorang Exorcist Gereja. Benar, dia menjalin hubungan selayaknya pasangan kekasih dengan seorang Exorcist bukan untuk menghancurkan iman sang Exorcist itu hanya cinta, cinta biasa selayaknya gadis manusia kepada lawan jenisnya.

Seharusnya Cleria dihukum mati karena tindakannya itu. Tapi jika bukan karena komplain dari Diehauser mengenai segala tindakan yang dillakukan Cleria terhadap dunia bawah seharusnya dia mendapat keringanan hukuman. Dan jika saja para Maou tidak turut campur khususnya Maou Lucifer dan menyarankan supaya dirinya di penjara saja para Iblis tua itu pasti akan tetap pada pendiriannya. Dan berakhirlah dia disini disebuah penjara tak dikenal.

Diehauser pun duduk bersila setelah melepas sejumlah bola cahaya dari lingkaran sihir kecil di tangannya. Ruangan itu menjadi terang memperlihatkan kondisinya yang sangat memprihatinkan. Dinding kusam dan lembab, lantai dingin sedingin es yang Diehauser tebak telah dirancang untuk menyiksa Cleria secara perlahan. Sepupunya diperlakukan seperti ini! diam-diam tangannya mengepal kuat, andai jika lebih kuat lagi, tidak bahkan para Maou yang memiliki kekuaan lebih dari dirinyapun terbatasi dalam melawan Iblis-Iblis tua itu.

Memikirkan kegagalan dirinya yang membuat sepupunya seperti ini, Diehauser merasa dirinya tak pantas menyebut dirinya sebagai 'Keluarga' dari gadis didepannya ini.

"Die... Die... DIEHAUSER BELIAL!-uhk."

"Ah."

Champion itu tersadar dari lamunannya, dirinya segera menciptakan lingkaran sihir dan memunculkan sebotol air mineral dan memberikannya kepada Cleria.

"Fuuhh, jarang-jarang aku minum air sesegar ini." Ungkap gadis dari klan Belial itu.

Jarang-jarang? apakah Cleria tak diberi minum dan makan oleh penjaga penjara ini secara teratur? lagi-lagi sang Juara Rating Game itu mengepalkan tangannya erat.

Tapi mengingat laporan yang diberikan familiar-nya mengenai keadaan sekitar penjara Cleria, dia harusnya tak semarah ini. Kenapa? itu karena dalam laporannya dituliskan bila tidak ada penjaga disini dengan kata lain penjara Cleria dibiarkan begitu saja, hanya Kekkai luar biasa kuat yang ditinggalkan.

"Hey, Die?"

"Hmm."

"Apakah... Sudah ada kejelasan mengenai keberadaan putra Nona Kushina?"

Raut wajah gadis berambut keabuan itu menunjukan kekhawatiran, bahkan disaat keadaanmu yang mengkhawatirkan kau masih memikirkan orang lain? sepupuku memang gadis yang baik.

Diehauser memperbaiki posisi duduknya yang makin lama semakin mendekat dan akan merapat pada Cleria.

"Ah, soal itu. Saat ini kondisi politik di dunia bawah tengah memanas."

Mendengar itu Cleria mencondongkan tubuhnya kedepan. Helaian rambut abu-abunya menutupi bagian depan tubuhnya yang dilapisi kain abu-abu yang pada masa lampau di dunia manusia dikenal dengan simbol pakaian budak.

"Politik Dunia bawah memang selalu panas'kan? menyaingi dunia manusia malah. Dan hal apa yang membuatnya begitu?"

"Ya, kamu benar." Diehauser sedikit menggeser tubuhnya mencari posisi yang nyaman.

"Seminggu lalu, saat diadakannya ujian kemampuan para calon pemimpin keluarga Iblis yang diadakan disalah satu kota Jepang. Dua Naga langit muncul dan bertarung disana, membuat pertandingan itu kacau balau. Para Heir dan Heiress Clan terluka parah dan sekarang masih dalam perawatan."

Cleria masih mendengarkan dia tahu jika Diehauser belum selesai bicara.

"Dan fakta paling mengerikannya adalah... Hakuryuukou masa kini adalah putra dari Kushina-Dono sendiri, dia juga mengatakan bila dirinya akan membalas kematian Ibu dan Ayahnya kepada dunia bawah."

Cleria terdiam mendengar berita panas yang kini menjadi topik didalam politik Underworld. Masyarakat umum Underworld memang tidak tahu akan hal ini, yang mereka tahu hanyalah bahwa Naga Langit dengan seenak duburnya mengganggu acara itu.

Diehauser memilih memperhatikan sepupunya, dia tahu jika informasi ini cukup mencengangkan baginya, melihat putra dari Raja-nya memilih menjadi musuh Underworld. Entah apalagi reaksinya jika dia tahu bahwa salah satu kepala keluarga Iblis tewas di dunia manusia.

"Setidaknya, dia tumbuh menjadi kuat ya, Die?" Ucap Cleria akhirnya.

Diehauser hanya mengangguk, tak bermaksud menyinggung perasaan sepupunya dengan mengatakan bahwa putra Kushina adalah seorang Kriminal sekarang.

Keheningan melanda keduanya, terbawa pada pikiran masing-masing sampai beberapa menit kemudian dipecahkan oleh Cleria.

"Hei, Die!"

"Apa?" Tanya Champion itu.

"Apa kau tahu, tentang bidak Raja?"

Pertanyaan yang mencengangkan. Memang saat Maou Beelzebub mempublikasikan mengenai Evil Piece yang berupa bidak-bidak catur sebagai alat pereinkarnasi Iblis dia tidak menyertakan bidak Raja didalamnya. Alasannya bahwa bidak Raja tidak akan banyak kegunaan selain sebagai tanda bahwa dia adalah Raja dan penghubung dengan bidaknya.

Maka Ajuka menciptakan sebuah monumen khusus dimana jika seorang Iblis kelas atas menyentuhnya, maka secara sah dia menjadi seorang Raja dari Evil Piece-nya. Meskipun Sang Juara itu pernah mendengar rumor-nya tapi tak ada bukti nyata akan kebenarannya dan Diehauser menganggapnya bahwa itu hanya bualan semata.

"Apa maksudmu, Cleria?"

Rasa penasaran menghinggapi dirinya, dengan memajukan tubuhnya sampai begitu rapat dengan Cleria.

Cleria sedikit memundurkan tubuhnya rasa sakit karena kondisi tubuhnya yang benar-benar kekurangan nutrisi menyerangnya.

"Die, kau terlalu dekat." Bisik Iblis betina itu.

Diehauser yang sadar jika dia seperti suami yang ngebet minta jatah pada istrinya yang tengah sakit segera memundurkan tubuhnya, memberikan cukup ruang diam keduanya.

"Baiklah." Cleria menarik nafas panjang, mata abu-abu-nya melirik kanan kiri memastikan sesuatu.

"Penjara ini tidak dipasangi penyadap'kan?"

"Tidak, aku berani jamin, Cleria." Jawab Diehauser mantap.

Cleria mengangguk.

"Ini bermula, setelah rating game terakhir nona Kushina..." Mulai Cleria.

...

20 Tahun Yang Lalu, Underworld.

Rating Game, Kushina Bael vs Sheska Belphegor

Ledakan besar terjadi pada ruang dimensi buatan itu. Sekelebat orang bergerak cepat mengayunkan pedang besarnya dengan cepat memotong setiap sosok yang dilewatinya. Asap hasil ledakan menghilang menunjukan seorang pria berperawakan tinggi dengan sebuah pedang besar ditangan kanannya tergenggam erat. Meskipun mulut dan hidungnya tertutupi perban namun senyuman maniak-nya dapat terasa dan terbayangkan.

Cahaya biru muda menyelimuti tubuh-tubuh Iblis yang ditebasnya dan juga makhluk-makhluk ciptaan sihir dari tanah liat -Minion- segera melebur menjadi debu.

[Dua Pawn dan 1 Knight Sheska-Sama kalah.]

Zabuza nama Knight berpedang besar itu, menggerak-gerakkan lehernya mencoba melemaskan otot-otot-nya yang menegang. Tak berapa lama kemudian terdengar suara dari wasit Rating Game ini.

[Dua Bishop Sheska-Sama kalah.]

Senyuman diwajah Zabuza semakin mengembang.

'Mei, kau cepat juga.' pikirnya.

Shikaku bergumam-gumam tak jelas sedangkan orang disebelahnya mendesah maklum akan kelakuan temannya ini.

"Wanita itu, seenaknya saja mengambil bagianku juga."

"Ayolah, Shika. Tak perlu begitu, Mei hanya sedikit bersemangat." Ucap pria lain disisinya.

"Lagipula ini pertandingan terakhir King kita sebelum pensiun." Lanjut pria itu.

Shikaku kembali mendesah dan memfokuskan pandangan kedepan.

"Terserah, Fugaku bakar pion-pion itu." Kepala Shikaku sedikit ditegakkan menunjuk enam Iblis ber-bidak Pawn yang kini terikat jurus bayangan klan Iblis Nara.

Salah satu tangan Fugaku terangkat ke depan tepat mengarah pada keenam Iblis yang berusaha melepaskan diri.

Ctik

Dengan satu jentikan jari semburan api keluar dari sekitar tangan Fugaku dan merambat membakar pion-pion Sheska Belphegor sebelum akhirnya terselimuti cahaya biru-putih dan lenyap.

[Enam Pawn Sheska-Sama kalah.]

Bayangan Shikaku yang memanjang mulai kembali ke wujud asalnya. Fugaku bersidekap dada dan menatap tajam kearah depan, Sharingan-nya aktif.

Pertandingan itu terus berlanjut sampai akhirnya kedua King saling berhadapan dan pertarungan klimaks dimulai.

"Pertarungan yang menyenangkan bukan, Sheska-Chan?" Tanya Kushina, melayang diudara dengan bantuan sayap Iblis miliknya.

"Aku juga tak menyangka kau dapat mengalahkan Mei dan kedua Rook-ku. Ini melebihi perkiraanku." Tambahnya dengan senyuman.

Sheska tersenyum.

"Anda juga akan kalah dsini, Kushina-Dono." Ucap Sheska, sembari mengibaskan rambut pirangnya memperlihatkan tanduk kecil dikeningnya yang tertutupi poni.

Kushina tersenyum, tidak menanggapi provokasi Iblis kecil dihadapannya. Power of Destruction menyelimuti kedua tangannya sampai siku, kemudian memasang kuda-kuda bertarung.

Sheska segera merelease lusinan lingkaran sihir, menembakkan puluhan laser penghancur kearah Kushina yang menyongsongnya dengan senyuman percaya diri.

Dumm.. Dumm.. Dumm..

Suara ledakan terjadi akibat benturan antara laser Sheska dengan tinju terlapisi Power of Desruction Kushina. Sheska kembali merelease lingkaran sihir lebih banyak dari sebelumnya dan kembali tembakan laser kearah Kushina yang kini berjalan santai kearahnya.

Ledakan kembali terjadi lebih besar dari sebelumnya, dan Sheska tersenyum penuh kemenangan. Beberapa menit berlalu dan Sheska menunggu dengan sabar pemberitahuan Kushina Bael yang gugur.

Asap yang mengepul akibat hasil ledakan itu hilang secara perlahan dan memperlihatkan benda bulat berwarna hitam dengan outline merah, itu adalah energi Power of Destruction yang Kushina bentuk menjadi sebuah pelindung. Benda bulat itu mengempis dan menjadi sepasang sarung tangan yang berkobar pada tangan Kushina.

Kushina menegakkan kepalanya, dengan angkuh dia memberi pandangan meledek kepada Sheska yang menggertakkan giginya kuat-kuat.

'Tak ada pilihan lain.' Pikirnya.

Seketika tekanan energi Sheska meningkat sepuluh tidak dua puluh kali dari sebelumnya, dan dalam iris violet-nya Kushina melihat bidak catur Raja di dada besar milik Sheska.

'Apa maksudnya ini?'

.

Puluhan -Ie- Ratusan lingkaran sihir terelease dan itu semua mengarah pada Kushina yang diam saja ditempatnya masih mencerna akan apa yang dilihatnya tadi mengenai bidak Raja yang ada pada tubuh Iblis kecil dihadapannya.

"Nona Kushina."

Sebuah teriakan dari Queen-nya -Cleria Belial- dari arah belakang menyadarkan Kushina dari lamunannya. Mata Violet-nya menatap serius kearah ratusan lingkaran sihir yang memuntahkan laser-laser penghancur kearahnya.

Aura hitam dengan outline merah menguar dari tubuh langsing Kushina yang semakin lama semakin kental dan banyak. Kedua tangannya terangkat kedepan membidik Sheska titik-titik energi berkumpul membentuk bola energi sebesar bola basket.

Tembakan energi hitam ber-outline merah itu terus memanjang secara diagonal menghancurkan setiap laser yang dilaluinya dan berhenti pada lingkaran sihir yang terus memproduksi serangan berikutnya. Kushina segera memutar tubuhnya yang secara otomatis Power of Destruction-nya yang dalam bentuk tembakan itu ikut terbawa membuat laser-laser lainnya hancur berikut lingkaran sihirnya.

Langit di dimensi buatan itu kembali terhiasi ledakan. Getaran-getaran begitu terasa dikaki jenjang Cleria, gadis berambut putih keabu-abuan itu tahu kalau Kushina bisa dibilang berpengalaman dalam pertarungan karena dibandingkan dengan Sheska yang lahir sekitar dua tahun lalu, Kushina lahir seribu tahn lalu dimana saat itu gejolak antar fraksi akherat kian menunjukan tanda-tanda Great War ke-dua dimana perang kecil-kecilan sering terjadi.

Kushina yang dalam keadaan terengah dan bercucuran keringat segera berlari kearah Sheska yang memuntahkan darah segar, tak lama sinar kebiruan mulai menyelimutinya pertanda bahwa dirinya sudah tak sanggup ikut dalam game ini. Bidak raja kembali terlihat didada Sheska meskipun samar tapi Kushina yakin akan hal itu, terbukti dengan peningkatan energi Iblis milik Sheska.

Sinar yang berniat menarik Sheska menghilang itu karena dengan meningkatnya energi Iblisnya Sheska memiliki cukup energi untuk merelease sihir penyembuh membuat dirinya secara paksa lepas dari kondisi gugur.

Lingkaran sihir terelease di depan telapak tangan Sheska diikuti beberapa lingkaran sihir disisi tubuhnya. Sheska menatap tajam Kushina yang berlari kearahnya dan meneriakkan "KUKALAHKAN KAU, KUSHINA BAELLLL!"

Lingkaran sihir milik Sheska menembakan laser penghancur, gadis Belphegor itu kembali memuntahkan darah rasa pening kembali menyerang kepalanya menarik kesadaran kedalam tidur paksa (pingsan). Gadis itu menggeleng, dia tidak akan menyerah hanya karena hal seperti ini. Mereka telah menjanjikannya kenaikan peringkat dan masuk 20 besar. Dan dia tidak akan dicemooh lagi setiap dalam pesta Iblis bangsawan, para orangtua dari keluarga Belphegor tidak akan menyebutnya 'produk gagal' lagi.

Itu semua akan terwujud jika dia dapat mengalahkan Kushina Bael disini, di pertarungan terakhir si peringkat pertama.

Kushina membuka telapak tangannya kedepan tanpa menurunkan kecepatan larinya, energi penghancur berkumpul disana dan menembakkan laser-laser kecil menghancurkan laser-laser yang ditembakkan Sheska kearah dirinya. Kumpulan energinya memekat dan dalam satu hentakan tangan bola penghancur keluarga Bael ditembakkan kearah Sheska, ledakan terjadi menimbulkan asap debu yang perlahan menghilang menunjukan lingkaran sihir pelindung yang retak dan kemudian hancur berkeping-keping.

Tangan kanan Kushina menusuk celah gunung Sheska cukup dalam, jemarinya mengambil sesuatu dan mencabutnya. Darah menyembur dari luka di dada Sheska membuatnya terselimuti cahaya putih-biru dan menghilang selang beberapa detik pemberitahuan kekalahan Sheska Belphegor terdengar diseluruh dimensi buatan.

[Sheska-Sama kalah, pemenang Game ini Kushina Bael-Sama.]

Tubuh Kushina terjatuh tak sampai mengenai tanah karena Cleria dengan sigap menahan tubuh King-nya yang lemas. Kushina menatap kosong kedepan tak bicara sepatah katapun, bahkan saat lingkaran sihir membawa pergi mereka dari dimensi buatan ini.

.

"...Dan setelah itu Nona Kushina dipanggil oleh para Tetua Great-King, dia lalu pergi ke dunia manusia bertemu Minato-San dan menikah sampai beberapa tahun kemudian dia dikabarkan meninggal oleh amukan Sekiryuutei." Tuntas Cleria dalam ceritanya.

"Ini... sulit dipercaya."

Ucap ragu Diehauser, bagaimanapun ini memang sulit dipercaya bidak Raja sesuatu yang cuma rumor yang tidak jelas keberadaannya. Tapi jika itu memang benar.. Diehauser mencium campur tangan para orang tua dibelakang layar.

Lagi-lagi sang Champion mengepalkan tangannya, saat informasi-informasi yang diterimanya menjadi sebuah kesimpulan.

"Apakah..."

Cleria yang menundukkan kepalanya tengah mengambar sesuatu dengan jari telunjuknya, menengangkat kepalanya menatap bingung kearah Diehauser. Terlihat jelas jika gadis itu rapuh, mental perlahan hancur seiring berjalannya hukuman penjara selama sepuluh ribu tahun dan itupun baru berlangsung selama 15 tahun.

"Hm, Die?"

Cleria memiringkan kepalanya bingung dengan Diehauser yang tak melanjutkan kalimatnya.

"...Apakah, dipenjarakannya dirimu ada hubungannya dengan bidak Raja?"

Iris abu-abu sang Champion menajam sampai-sampai Cleria bergidik ngeri melihatnya.

"Hubunganmu dengan pendeta itu, dijadikan alibi untuk menangkapmu tetapi sebenarnya hal itu untuk menyingkirkanmu karena mengetahui tentang bidak Raja,'kan?"

Lingkaran sihir kecil muncul disamping telinga Diehauser sebuah pemberitahuan jika waktu berkunjung telah habis. Pemimpin keluarga Belial sekarang itu berdiri raut wajahnya kembali tegas selayaknya pemimpin.

"Tunggu saja, Cleria. Akan kubebaskan kau disini dan kubongkar kebusukan Iblis-Iblis tua itu."

Dan sang Champion menghilang dalam beberapa detik dari sana meninggalkan Cleria yang terdiam.

Kegelapan kembali datang keruangan itu, menjadi teman mutlak Cleria setelah berada ditempat itu.

'Nona Kushina.'

.

.

.

.

.

Dalam cahaya remang yang keluar dari Tv kecil diruangan itu, dinding batu yang mengeluarkan hawa dingin, suara berisik dari Tv meredam suara dari penghuni ruangan itu.

"Hmmph..."

Meskipun dengan tubuh yang ditindih, Kuisha masih bisa menggeliat. Rasa geli dan nikmat dalam waktu bersamaan akibat bagian sensitif-nya yang disentuh oleh pemuda yang menindihnya.

"Katakan lagi."

Suara itu... Terus memasuki gendang telinganya dan terus berputar-putar dikepalanya.

"A-Aku... Saira-uto...Samaaaaa."

Kuisha berteriak kencang saat sebuah benda asing memasuki bagian sensitif bawahnya.

"Katakan lagi, Kuisha!"

Jari pemuda itu bergerak menusuk-nusuk lubang milik gadis pirang yang ditindihnya, mendekatkan wajahnya pada leher jenjang si gadis. Pemuda itu mengendus dan menjilat kulit leher Kuisha yang putih membuat tubuh si gadis makin menegang.

"Sa...Ruto-sama."

Sedikit lagi.

"Naru...to-sama. Naruto...-sama."

Tusukannya berhenti keringat mengucur dari tubuh keduanya.

Naruto mengecup kening gadis yang kini tertidur kelelahan. Deru nafasnya perlahan kembali normal menjauhkan tubuhnya dari Kuisha, Naruto terduduk di kasur di samping Kuisha yang terus menggumamkan namanya.

[Berhasil, ya?]

"Yup."

Naruto mengangguk puas ditatapnya wajah cantik Kuisha yang terlelap dipenuhi peluh. Beranjak pergi namun terhenti saat tangan kecil memegangi lengannya, Kuisha yang merasa jika Naruto akan pergi dengan tenaga yang tersisa memegang lengan kuat sang tuan lemas.

Diam. Dua bola mata biru Naruto beradu tatap dengan mata biru Kuisha.

"Naruto-sama~"

Menyebut namanya dengan sensual darah Naga Naruto yang mengalir tenang kembali sedikit bergolak, tangan kirinya bergerak membelai surai pirang si gadis lalu turun kearah pundak dan berakhir di dadanya. Memainkan benda bulat milik Kuisha tangan Naruto sedikit menekan puting Kuisha yang tertutup kemeja putih yang dikenakannya kemudian jarinya naik kearah bibir mungil menggoda gadis Iblis Abaddon.

"Mmhh."

Kuisha segera melumat jari tangan Naruto menggigit-gigit kecil lalu mengulumnya kembali memberi sensasi geli dan enak diwaktu bersamaan keseluruh tubuh Hakuryuukou itu.

"Baiklah, itu sudah cukup Kuisha."

Menarik jarinya membuat desahan tak senang dari mulut Kuisha.

"Kau perlu istirahat Kuisha, mari lanjutkan lain waktu."

"Umm."

Mencium bibirnya agak lama dan mengucapkan selamat tidur Naruto keluar dari ruangan tempat Kuisha berada.

.

.

.

[Berapa banyak feromon Naga yang pakai?]

"Eee, subete." Jawab Naruto polos.

[HAH?! Apa kau gila sampai memberikan semuanya? aku tak heran jika wanita itu bakal super posesif padamu, Naruto.]

"Ahh, Albion-kun. Bukankah itu yang kuincar? meskipun dia Queen Sairaorg tapi dia terpaksa karena suatu hal. Lagipula aku cukup tertarik padanya."

[Baiklah itu terserah padamu. Selama itu menghancurkan Great-King aku ikut.]

Tersenyum kecil Naruto melanjutkan langkahnya menuju tempat teman-temannya berkumpul.

.

"Hee. Aku harus ke jepang? bareng Kiba?"

"Itu benar, kalian berdua harus mengumpulkan data tentang Naga-Naga kuno disana."

Kabuto asisten Orochimaru itu menekan kacamatanya yang melorot, dia baru saja memberikan rincian misi untuk Naruto dan Kiba.

"Haaa'iii."

"Yosh, aku akan membeli banyak Galge dengan Milf yang banyak muahahahaha."

Kabuto menyodorkan secarik kertas kepada Naruto. Mata biru itu menatap lekat-lekat kata yang paling mengusiknya. 'Bael' nama itu sudah cukup memicu kemarahan dihatinya.

"Aku ambil."

Kilatan dimata biru dapat dilihat oleh ketiga temannya dan sang kakak.

"Tak perlu ragu meminta bantuan, oke."

"Hn, jangan sok keren."

"Selama ada Milf aku akan selalu ikut."

Ketiga temannya mengatakan itu dengan percaya diri, walaupun yang akan mereka lawan adalah sekumpulan Iblis se-usia zaman manusia sendiri.

"Yah, aku tahu."

[Kau punya teman yang peduli.]

'Berisik.'

[Waaa, disini banjir kau nangis ya? ngehehe.]

Kabuto tersenyum melihat ikatan kuat ke-empat pemuda didepannya, empat bocah yang kehilangan orang tua-nya dan mengalami hal sulit hanya karena darah yang mengalir ditubuhnya kini menjadi pemuda yang kuat.

'Adik-adikku sudah dewasa.'

.

"Jepang!"

Matanya menatap sekeliling dengan berbinar.

"Jepang!"

Matanya menatap lekat sekumpulan Onee-san yang memakai Yukata lengkap dengan kipas ditangan dan kaki yang memakai bakiak.

"Milf-guuhh."

Cucuran darah keluar dari hidung Kiba kebiasaan aneh yang cuma bisa kau temukan di anime-anime bergenre Ecchi dan Hentai yang dia ketahui memenuhi memory HP dan Laptop milik Kiba.

"Dinginnya."

Naruto merapatkan jaket yang dikenakannya, meskipun dalam tubuhnya mengalir darah Iblis dan Naga entah kenapa angin dingin ini cukup membuatnya menggigil.

"Ada yang aneh, sekarang ini masih musim gugur kenapa anginnya begitu dingin."

"Hng? apa maksudmu Naruto?" Tanya Kiba yang baru bangun dari kubangan darahnya.

"Anginnya Kiba, begitu dingin seperti saat musim dingin di Kutub Utara padahal sekarang musim gugur." Jelas Naruto dan Kiba ber-oh ria.

[Aku merasakan energi Naga!]

"Dimana Albion?"

[Sekitar 100 KM dari kirimu.]

"Oke, ayo Kiba saatnya berburu."

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Oshu, Wsa Krisna-desu. Minna-san genki? kalo saya baik-baik saja.

Jawab Review dulu :

A : sekki38

eto...bukankah iblis di anime high school dxd kalau mati jadi partikel cahaya dan menghilang dan gak ninggalin jasadnya...?

Q : Ng? rasanya saat membaca Novel-nya, saat ORC melakukan perburuan Iblis liar ada kata "Membuang Jasad" jadi gak seperti yang kamu kira memang setelah mati Iblis akan masuk ke kehampaan kagak ke surge atau neraka (lagi) kayak di fic sebelah. Di anime-nya semua berakhir dengan dimusnahkan oleh kekuatan Rias, jadi "Iblis mati langsung jadi debu" itu enggak ada dan entah siapa itu yang buat.

A : Ae Hatake

Manteb lah battelnya..

Apa yang akan Naruto lakukan pada Kuisha?

Q : Memanfaatkannya bung.

A : Ashuraindra64

Apa issei disini kekuatannya sama kayak di LN dxd,maksudnya apa great dan ophis akn memberi kekuatan mrk pada isse?i

Q : Jika yang kamu maksud Triania mode, maka mungkin iya bakal dipake tapi bakal saya buat sesuai versi saya. Dan soal Great Red dan Ophis kayaknya enggak, dengan dimilikinya ascalon dan sebagai half-Da tenshi eksitensi Issei bakal saya buat lebih mengerikan.

...

Yo, Tujuh bulan gak Up kurasa jika diitung dari update-tan di fandom NarutoxLove Live. Tapi saya balik lagi dan... fic ini gak mungkinlah di discontinue-in.

Hmm, adakah reader lama di fandom laknat ini? masih setia mengikuti kemunculan fic-fic 'itu'? Chap ini hanya membahas masa lalu Kushina yang menjadi alasan kematian-nya...

Well, bingung mau ngomong apa jika ada pertanyaan bisa ditulis di kolom review..

Wsa Out~