Title :
Dragon Revenge
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto™
Highschool DxD © Ichie Ishibumi™
Story by :
Wsa Krisna
Rate :
M
(Kata kasar dan kotor yang lupa dicuci :v)
dan
(Ada lime & lemon sedikit)
Genre :
Misteri, Supernatural, Adventure, Friendship, Romance, etc.
Warning :
AU, OOC, Super-strong, Adult scene, S-M, Gore, Death-chara, etc.
.
.
.
Arc I : Dua Naga Langit, Pertemuan tak terduga
3 hari setelah kejadian di Chapter lalu
Dalam tiga hari ini Naruto dan Lavinia menjalani hidup layaknya pasangan yang baru menikah, bermain di malam hari sampai pagi, jalan-jalan di kota, mencoba wahana bermain, bermesraan di taman dan tentu saja bermain ditempat tertentu. Salahkan sifat S-nya Naruto yang mana semakin tersiksa+malu teman mainnya maka semakin meningkat gairahnya.
Naruto segera bangun setelah dia mencium aroma masakan dari arah dapur dan tentu saja Lavinia yang memasaknya bung!
"Hei."
Seperti biasa pemuda itu akan langsung memeluk Lavinia dari belakang tak peduli seberapa kacau rambut dan wajahnya.
"Hei, juga."
Dan pemudi itu membalas santai dan melanjutkan memasak masakan terakhirnya tak peduli jika dilehernya telah dipenuhi bercak merah dan juga
"Naruto-san, sarungkan kembali Excaliber-mu itu atau kupotong."
"Jangan dong~"
Dan pedang legendaris itu disarungkan kembali kedalam Avalon.
"Hmm, kayaknya enak."
"Iya dong. Cuci muka dulu sana."
Saat Lavinia mengangkat masakannya dan menaruhnya pada sebuah piring kemudian membawanya ke meja makan sedangkan Naruto segera membasuh wajahnya dan segera bergabung ke meja makan yang segera disodori semangkuk penuh nasi yang diterimanya sepenuh hati.
"Masakan Jepangmu lebih enak dari restoran, Lavi."
"Setiap hari kamu selalu mengatakannya, Naruto-san."
"Ngomong-ngomong hari ini kita kemana, Lavi?"
"Hmm, hampir semua tempat dikota sudah kita kunjungi-"
"Walau sebentar." Potong Naruto, Lavinia hanya cemberut karena kalimatnya dipotong.
"Itu salah Naruto-san yang mudah terangsang."
"Ugh."
"Naruto-san bejat."
"Iya."
"Gampang terangsang."
"Maaf soal itu."
"Sadist Sex."
"Emm... Tapi enak'kan?"
"Muuu, Naruto-san berhentilah menggunakan penjepit cucian baju saat kita melakukan-"
"Woah, makanannya akan dingin, Lavi. Ayo kita lanjutkan makannya!"
"Muuu."
"Hei, Lavi."
"Hmm, apa Naruto-san?"
"Bagaimana kalau kita kesudut sana?"
"Gak mau, Naruto-san pasti tegak lagi."
"Kumohon~"
"Enggak."
Keduanya kembali berjalan-jalan diaquarium kota sebelah yang mereka kunjungi. Naruto sengaja mengajak Lavinia kemari untuk yah kau tahulah apa yang akan terjadi.
"Naruto-san, Naruto-san."
"Ada apa Lavi?"
"Bukankah anak itu seperti tersesat?" Tunjuk Lavinia kepada seorang anak kecil berambut merah yang berdiri dipojokan salah satu Aquarium.
"Enggak peduli."
"Peduliin dong, bagaimana kalau anak kita juga begitu?"
"Eh?" Naruto segera menatap Lavinia dengan wajah terkejutnya.
"Kau hamil?"
"Enggak."
"Fuu."
"Naruto-san, anak kecilnya bagaimana?"
"Hah, baiklah ayo kita lihat du-"
Sambil mengatakannya Naruto dengan enggan melihat kearah yang ditunjuk Lavinia tadi sampai ucapannya berhenti diikuti perubahan raut wajahnya yang mengeras.
"Gremory." Bisiknya
"Maaf, Lavi. Bisakah kau kembali ke Apartemen sendiri!" Perintahnya.
"Eh, kenapa?"
"Tolong ikuti saja. Nanti aku jelaskan!"
"Tapi-"
"Tak ada tapi-tapian, Lavi."
"Uuuh."
Mendengar hal itu Lavinia hanya bisa memanyunkan bibirnya, Lavinia sebenarnya penasaran apa yang membuat pemuda yang dicintainya berubah sikap hanya karena seorang anak kecil. Dan juga Gremory? bukankah itu nama sebuah Clan Iblis yang menguasai neraka.
"Mengatakan 'nanti kujelaskan' atau 'kembalilah terlebih dahulu' hanya akan membuat pasangan penasaran dan sulit meninggalkanmu, Naruto-kun."
Sebuah suara baru mengagetkan kedua pasangan itu, Lavinia menatap bingung orang yang muncul dibelakangnya sedangkan Naruto segera memelototinya. Sebuah kejadian aneh terjadi disekitar mereka, orang-orang yang disekitar mereka berlalu-lalang dengan normal melewati tempat berdirinya Lavinia, Naruto dan pria yang menegur keduanya seakan mereka tidak ada disana.
"Sebuah ilusi." (Naruto)
"Ilusi ini memungkinkan orang-orang untuk tidak mendekati si pengguna dan membuat mereka melihat hal lain. Ano, ada keperluan apa anda pada kami, sampai anda memasang sihir ini." (Lavinia)
Pria muda itu tertawa kecil yang membuat Naruto semakin memelototinya. Sedangkan Lavinia bersiap menggunakan sihir jika diperlukan, orang didepannya sudah pasti seseorang yang mengetahui dunia supranatural dan terlibat didalamnya.
"Hm, bicara disini rasanya kurang nyaman. Bagaimana kalau kita bicara di tempat lain."
Lavinia melirik Naruto yang mulai mengeluarkan nafsu membunuhnya dan sebelum hal yang tak diinginkan terjadi dia segera mengapit lengan Naruto dan mengangguk kepada pria muda tersebut.
"Baiklah."
"Pertama, perkenalkan namaku Sirzech Lucifer dan kurasa kalian berdua mengenalku'kan?"
Sirzech mengenalkan dirinya dengan senyuman diwajahnya, yang dibalas senyum gugup Lavinia dan nafsu membunuh Naruto yang hanya sebentar karena cubitan dari teman tidurnya dan lagi Naruto harus berhati-hati karena tatapan seseorang dibelakangnya cukup membuat insting bertarung berteriak 'bahaya' terus menerus.
Sirzech kemudian mengenalkan pada wanita berambut cokelat panjang yang terus menatap Naruto lembut yang disalah artikan sebagai 'ayo main ditoilet' yang kembali dicubit oleh Lavinia.
"Wanita ini adalah ibuku, Venelana Gremory."
"Salam kenal Naruto-kun, kamu bisa memanggilku Bibi karena aku sudah menganggap ibumu seperti kakakku sendiri."(Venelana)
"Kau menganggap ibuku sebagai kakak, tapi tidak berniat membunuh pelaku kematiannya, eh? menggelikan." (Naruto)
"Ah, tenang dulu Naruto-kun, hal itu juga akan kita bahas nanti. Ngomong-ngomong anak kecil yang tadi ditunjuk-tunjuk oleh istrimu tadi adalah putraku, Milicas. Dia lucu'kan? haha."
Kata Sirzech sambil tertawa mencoba mengalihkan topik Naruto yang secara blak-blakan mengarah pada 'Balas dendam'-nya itu.
"Humu, dia sangat lucu, aku juga pengen punya anak seperti itu. Iya'kan Naruto-san?"
"Lavi, jangan-jangan kau memang hamil ya?"
"Eh, aku gak yakin sih. Tapi Naruto-san'kan terus-terusan memakanku."
"..."
"Ara-ara, masa muda yang membara ya!" (Venelana)
"Keponakan ya?" (Sirzech)
Naruto mendesah, kemana niat membunuhnya tadi dan kenapa obrolan ini langsung menuju acara keluarga 'aku hamil - woah aku jadi paman - kya aku dapat cucu lagi' seperti ini?
Naruto, Lavinia, Sirzech dan Venelana sekarang berada disebuah restoran keluarga yang seluruh tempatnya disewa oleh keluarga Gremory yang bahkan pintu masuknya dijaga oleh beberapa bodyguard dan tentu saja tempat ini dipasangi sihir untuk menghalau hal-hal mengganggu karena kau tahu ada Raja Iblis disini oke?
Dan tentu saja, ada beberapa pengawal kepercayaan sang Raja yang ikut berada didalam sana. Salah satunya adalah pria berjubah yang duduk tak jauh dari tempat Naruto dan yang lain duduk.
'Bikin ngeri.' (Naruto)
Dan seorang maid berambut perak yang menyajikan teh dan beberapa piring kue untuk mereka yang kini berdiri dibelakang diantara Sirzech dan Venelana. Jika kau bertanya tentang anak Sirzech yang bernama Milicas itu, dia masih berada di Aquarium tadi ditemani seorang gadis berambut merah yang sedikit familiar bagi Naruto.
"Aku senang kamu masih hidup, Naruto-kun."
Kata Venelana setelah beberapa menit diisi kegaje'an.
Venelana mulai bercerita tentang hari dimana dia berkunjung kerumah ayah dan ibunya dulu namun disambut dengan kehancuran akibat amukan Juggernaut drive Sekiryuutei, mencari-cari jasad ayah dan ibunya, dan memulai pencarian tentang dirinya dan baru sekarang dia ditemukan dan itupun ketika Naruto mulai ditandai sebagai 'musuh' oleh pihak Iblis.
"Sungguh aku tak pernah sekalipun melupakan tentang keberadaanmu, Naruto-kun! Karena itu-"
'-Menikahlah denganku, seperti itu.'
"-Minta maaflah kepada Dewan Tetua Iblis dan para pemimpin Clan. Kita akan mengurus kematian Onee-sama dan Minato-san secara baik-baik. Ya, Naruto-kun?" Mohon Venelana
"Tidak."
Jawab Naruto singkat dia benar-benar tak peduli jika pihak Gremory akan mendukungnya dalam menindaklanjuti pembunuh sebenarnya ayah dan ibunya hey ini bukan kasus kopi sianida yang butuh setahun penyelesaiannya. Sudah jelas dalang kematian Ayah dan Ibunya berasal, walau dia tidak tahu bagaimana caranya Bael membuat Sekiryuutei sebelumnya mengamuk menggunakan Juggernaut Drive apa karena untuk menghilangkan bukti keterlibatan langsung? entahlah.
"Ke-kenapa? kamu bisa saja diserang'kan? bagaimana jika sebenarnya diluar sana kamu sudah dikepung?"
"Tak masalah, bahkan jika sekarang aku berada ditengah-tengah musuh. Aku pasti dapat memenangkannya, karena-"
Mata birunya berkilat berbahaya.
"-Aku adalah Hakuryuukou terkuat sepanjang masa."
Sirzech hanya dapat melihat ibunya yang menangis dipelukan istrinya, Grayfia. Jika dia harus memberikan komentar pada pertemuan singkat tadi, 'Mengerikan' adalah kata pertama yang akan dipilihnya.
Sirzech cukup yakin jika sepupu jauhnya itu cukup tahu masalah yang terjadi di Neraka saat ini, dimana banyak Tetua bahkan Kepala Clan yang menginginkan kematian 'Naruto Namikaze' dengan berbagai alasan.
'Dia salah satu anggota kelompok Yamata no Orochi, dia berbahaya bagi kelangsungan kaum Iblis'
'Dia adalah orang yang memimpin penyerangan kemarin, membunuhnya adalah hal pasti bukan?'
'Ini sulit, kekuatan politikku takkan sanggup menyelamatkan Naruto-kun.' Pikir Sirzech
'Pembicaraan tadi... adalah satu-satunya kesempatan-tidak.'
Seketika mata biru-hijaunya sedikit melebar setelah otaknya mengetahui sesuatu.
'Mungkinkah... dia mengincar ini?'
Sirzech mengalihkan pandangannya dari sang Ibu menuju jendela restoran menatap jalanan kota yang dilalui sedikit kendaraan.
'Semoga kau selamat, adik kecilku.'
"Hei, Naruto-san."
Panggil Lavinia, sementara tangan putihnya mengusap-usap rambut kuning pemuda yang menggunakan kedua pahanya sebagai bantal tidur itu.
"Hmm."
"Aku merasakan banyak energi Iblis yang terus berkobar disekitar sini apa kamu tahu sesuatu?"
Kepala Naruto bergerak-gerak diantara paha dan perut Lavinia dan kemudian menghirupnya dengan cepat yang menimbulkan rasa geli padanya.
"Na-Naruto-san?"
"Hmm, sepertinya mereka tak berniat menyembunyikan hawa keberadaannya, apa mereka sebegitu percaya dirinya?"
Tanyanya pada diri sendiri.
"Ah, sudahlah Lagipula kami sudah memperkirakannya sih."
Naruto bangun menimbulkan tanda tanya dikepala Lavinia, Hakuryuukou itu berjalan kearah kamar mandi dan tentu saja mengirimkan isyarat undangan kepada Kinpatsu Bishoujou itu untuk ikut bersamanya yang ditanggapi malu-malu tapi mau olehnya.
Sairaorg memasuki sebuah ruangan didalam sebuah gedung besar di dunia manusia, normalnya sang Queen akan mendampingi King kemanapun dia pergi namun karena sebuah insiden Queen dari kerajaan Sairaorg tak bisa mendampinginya untuk sementara waktu.
Pemuda berotot itu memberi hormat pada seorang Pria paruh baya yang duduk didepannya, menikmati segelas wine ber-merk.
"Ah, cucu kecilku. Kau sudah datang ya?"
Sairaorg mengangguk dia tak perlu menjawabnya karena pertanyaan buyutnya itu tak begitu penting.
"Sepertinya, rencana Maou Sirzech-sama tak berhasil maka-"
"Hmph, bocah kotor itu merasa hebat menghadapi Bael, huh?"
"Y-ya, menurut laporan dia secara terbuka menantang pihak Iblis."
Jawab Sairaorg sedikit gugup, dia tahu jika Naruto Namikaze itu kuat bahkan Sairaorg yang dikenal sebagai Iblis muda terkuatpun kewalahan menghadapinya. Kira-kira berada pada kelas Iblis apakah Naruto Namikaze itu? Ultimate? hm, Sairaorg rasa itu mungkin tapi kekuatan saja takkan cukup meruntuhkan kekuasaan Bael. Dia yang sebagai ahli warispun masih belum mengetahui sebesar manakah kekuasaan Clan Iblis yang sudah ada sejak dahulu itu.
"Tindakan yang sia-sia, apa dia berharap bantuan dari Organisasi Yamata no Orochi itu? Hmph, dia belum tahu jika seluruh markas-nya tengah dilanda penyerangan."
Mata ungu Iblis tua itu menatap tajam Sairaorg yang tentu saja menimbulkan sensasi merinding pada Iblis muda tersebut.
"Kaulah yang akan memimpin penangkapan ini, Sairaorg, sebagai ahli waris Great King Bael tunjukan kemampuanmu."
"Ya, Ojii-sama."
"Kau boleh pergi."
"Baik."
Memberi hormat ala Bangsawan secara singkat Sairaorg segera meninggalkan ruangan bercahaya remang tersebut. Dia segera menuju tempat anggota penangkapan 'Naruto Namikaze' berkumpul yang akan dipimpinnya.
Seratus. Seratus Iblis kelas atas pilihan yang masuk kedalam pengikut Bael itu adalah jumlah anggota yang akan dipimpinnya, terdengar 'Wow' tapi itu membuktikan betapa seriusnya Bael dalam menghadapi Naruto Namikaze.
"Semuanya!"
Seru Sairaorg dengan volume suara sedikit ditinggikan guna menarik perhatian seratus Iblis yang tengah mengobrol santai dengan kelomoknya masing-masing.
Seluruh pasang mata diruangan tersebut mengarah pada pemuda kekar yang merupakan Heir dari Clan Bael.
"Jangan mati."
Hanya dua kata yang keluar dari mulutnya dan setelah itu Sairaorg berbalik pergi meninggalkan para Iblis yang terdiam tak lama kemudian muncul bisik-bisik yang menjelekkan Heir Bael tersebut.
"Apa-apaan itu 'Jangan mati' kita hanya akan menangkap satu iblis kotor."
"Ahaha, tuan muda tampaknya masih syok karena ketidakberdayaannya pada insiden yang lalu."
Sairaorg hanya mendiamkan bisik-bisik diantara seratus iblis kelas tersebut. Iblis dengan segala kesombongannya, mereka berpikir dengan kekuatan penghancur yang mengalir dalam DNA mereka adalah yang terkuat sehingga kekuatan seorang setengah iblis berkekuatan naga.
"Kalian semua ingat ini, Namikaze Naruto ini adalah anak dari salah satu Iblis terkuat dengan pengendalian power of destruction terbaik dan seorang paladin terkuat."
Informasi yang keluar dari mulut Sairaorg cukup membungkam seratus Iblis kelas atas dihadapannya. Lagipula mereka ber-seratus hanya anggota klan cabang kekuatan penghancur mereka berbeda dengan orang-orang klan inti.
"Malam ini, tepat tengah malam. Kita akan menghabisi Hakuryuukou, Namikaze Naruto."
"Oohh."
Lavinia tertidur nyenyak di kamar atau lebih tepatnya dia kelelahan bermain dan berakhir tertidur dalam keadaan telanjang.
Naruto yang menjadi teman bermainnya masih terjaga dan duduk ditepi ranjang mengelus rambut pirang Lavinia yang acak-acakan.
["Mereka sudah mengepung diluar, kau tahu Naruto."]
"Ya."
["Tak ada balasan dari rekan-rekanmu. Si Wwrewolf itu juga tak ada kabar."]
"Ya."
["Ini akan jadi pertarungan yang sulit."]
"Ya."
["Argh, kau terus bilang 'ya ya ya' tak ada kata selain itu."]
Naruto tak menjawab dia memilih berjalan kearah kamar mandi tepatnya westafel untuk membasuh wajahnya.
Meski tubuhnya lengket karena keringat dia tak pedulikan karena keringat Lavinia juga ada diantaranya, cukup membuatnya senang.
"Albion, mari menari sampai puas."
["Che, seperti ini terakhir kalinya saja."]
"Apa kau sungguh sepercaya diri ini, Namikaze Naruto?"
Sairaorg menaikkan sebelah alisnya, tak menyangka pemuda yang menjadi target operasi besar klan Bael keluar dengan santainya dari sebuah gedung apartemen yang sudah dikepung oleh seratus Iblis kelas atas yang dipimpinnya.
Pertarungan tempo hari masih berbekas diingatan Sairaorg, Naruto hanya seorang diri dapat menandingi keempat Maou walau hanya sebentar dan kembali hidup-hidup.
"Hmm, para dewan itu meremehkanku ya?"
Mata biru Naruto menyisir sekelilingnya dan hanya mendapati seratus satu iblis kelas atas. Sungguh jumlah yang sedikit untuk menahan Kaisar Naga ini.
'Pasti ada jebakan di suatu tempat.'
Frost aura
Naruto melepaskan aura putih dari tubuhnya keudara membekukan semua yang dilewatinya memaksa Sairaorg dan pasukannya bergerak mundur.
Beberapa iblis melepaskan tembakan energi hanya untuk melihatnya meledak beberapa meter dari targetnya, Naruto Namikaze.
"Sialan."
Ice Magic : Ice Frozen River - Six Path
Energi sihir dalam jumlah besar berkumpul di telapak tangan Naruto sebelum akhirnya berubah menjadi enam jalur sungai memisahkan formasi penyerang pasukan yang dibawa Sairaorg.
Sairaorg dan keseratus bawahnya segera menjauhkan dari jalur serang Naruto. Mereka dapat merasakan energi yang dipakai Naruto cukup besar sekaligus es yang dihasilkan setingkat dengan yang diciptakan oleh Maou Leviathan, Serafall Leviathan dan Strongest Queen, Grayfia Lucifuge.
Serangan Naruto berhenti saat mencapai panjang seribu meter.
Ice Magic : Ice Frozen Blast
Jalur es yang dibuat Naruto segera meledak melepaskan hawa dingin membuat separuh dari Iblis yang mengepung Naruto berubah menjadi patung es.
Sairaorg dan sisa pasukannya hanya menatap ngeri pada Naruto tidak menyangka kurang dari sihir berhasil membutuh lima puluh iblis kelas atas.
"Sekarang kalian mengerti maksudku kan?"
Lima puluh iblis bawahan Sairaorg hanya mengangguk mereka menyesal telah meremehkan lawan mereka.
"Kalian serang dari kejauhan dengan power of destruction, aku yang akan melawannya dari dekat."
Memberikan perintah tersebut Sairaorg melesat kebawah bersiap memberikan pukulan dengan Touki dan power of destruction melapisinya.
[Half Dimension]
Sairaorg berhenti beberapa meter dari Naruto dia dapat merasakan sebuah dinding menekannya dari dua arah. Power of destruction telah menghilang dari tangannya karena fokusnya yang terganggu namun Touki masih bisa dia pertahankan.
[Divide]
Sairaorg merasakan setengah energinya terhisap keluar membuat Touki yang terpusat pada seluruh tubuhnya lenyap seketika.
Mata ungu iblis muda terkuat itu kini memandang Naruto penuh benci. Dapat dia lihat pula sepasang sayang mekanik berwarna putih-biru menyala terang di belakang punggungnya.
'Kenapa tidak ada serangan?'
Mata Sairaorg membulat saat dirinya dengan susah payah menoleh keatas untuk mendapati lima puluh iblis lainnya telah membeku dengan tubuh yang tertusuk tombak es.
'Apa-apaan.'
Sairaorg sendiri tersedak nafasnya sendiri, dirinya yang disebut sebagai iblis muda terkuat pun tidak mungkin mengalahkan seratus Iblis kelas atas dalam waktu singkat.
Dengan susah payah dia menggunakan sisa energinya membuat lingkaran sihir komunikasi, menghubungi seseorang di kejauhan.
"Rencana tahap satu selesai, lanjut ke rencana kedua."
Di kejauhan terlihat seorang gadis muda berpakaian khas sekretaris menggunakan lingkaran sihir untuk melihat pada pengepungan yang dilakukan oleh Sairaorg Bael dan seratus Iblis Bael kelas atas.
Kurang dari sepuluh menit dia memperhatikan dia sudah mendapati seratus Iblis tersebut tewas dalam keadaaan membeku sedangkan Sairaorg sendiri berada pada kondisi tertahan oleh sesuatu.
"Rencana tahap satu selesai, lanjut ke rencana kedua."
Sebuah lingkaran sihir kecil muncul di sebelah telinga kanannya, dari suaranya si gadis mengetahui itu adalah suara dari Sairaorg menginformasikan tahapan rencana pertama selesai.
Hal yang hanya diketahui oleh beberapa orang saja bahwa seratus Iblis yang dibawa Sairaorg tak lebih sebuah tumbal untuk menjalankan rencana klan Bael yang sesungguhnya.
Si gadis sendiri merupakan Queen dari kepala klan Bael saat ini dan bertugas mengawasi jalannya pengepungan abal-abal.
Si gadis membuat lingkaran sihir komunikasi lain dan memberikan sebuah perintah.
Naruto merasa heran, bagaimana bisa seratus Iblis kelas atas bisa dibereskannya dengan mudah, terlebih kekuatan serangan power of destruction yang dikeluarkan terlalu lemah dari milik Sirzech, Rias dan Sairaorg.
Mata birunya kini memandang Sairaorg yang sudah dilepas dari tekanan Half Dimension dan dikurung didalam penjara es.
Entah kenapa Sairaorg dihadapnnya berbeda dengan Sairaorg yang dilawannya tempo hari. Meski sama-sama memiliki Touki dan dapat menggunakan melapisi tangannya dengan power of destruction masih ada rasa mengganjal dalam pikirannya.
"Kau...siapa?"
Naruto bertanya pada Sairaorg yang berada dalam kurungannya dengan hati-hati.
Pemuda yang ditanya tersenyum meledek sebelum akhirnya jatuh pingsan diikuti denyar cahaya menunjukan wujud asli seorang pemuda iblis tak dikenal.
"Apa-apaan.."
Ketika Naruto ingin mengeluarkan sumpah serapah mendadak dirinya merasakan sebuah tekanan diikuti gempa bumi di sekitarnya membuat dirinya jatuh berlutut.
Formasi sihir juga seketika muncul dibawahnya dapat Naruto rasakan jika sihir ini adalah teleportasi paksa.
Cahaya menyala dari formasi sihir tersebut sebelum akhirnya menelannya membawa dirinya entah kemana.
.
.
Done
.
.
Sekian dan terima kasih..
