The Reason: A Chanbaek x Chansoo Story

Bagian 5

Kyungsoo menyuruh Jongin untuk berhenti melangkah lebih jauh lagi. Ia meninggalkan Jongin di ujung koridor untuk berbicara empat mata kepada ayahnya.

"Darimana saja? Tadi pagi kenapa kau tidak mengangkat telfonku?" tanya ayahnya mengintimidasi. Membuat Kyungsoo kesal dan menunduk geram.

"Kau mulai kluyuran tidak jelas ya? Mau jadi apa?" lanjut ayahnya lagi. Perkataan ayahnya bahkan sampai terdengar oleh Jongin, dan itu membuatnya merasa kesal.

Kyungsoo hanya diam tanpa menjawab perkataan ayahnya. "Appa kenapa ada disini?" ucapnya lirih.

"Uang bulanan untuk membayar apartemen." Ayah Kyungsoo mengulurkan sebuah amplop berisi uang yang tebal untuk anaknya. Namun Kyungsoo menolaknya dengan halus.

"Terima kasih, tapi aku bisa cari uang sendiri. Aku tidak mau menerima uang yang bukan hakku." Kyungsoo menolak karena ia tahu bahwa ayahnya akan memintanya melakukan hal-hal yang tidak membuatnya nyaman. Ayahnya memberikan uang untuk Kyungsoo agar Kyungsoo mau menuruti seluruh perintah ayahnya.

Ayah Kyungsoo tersulut emosinya. Ia menampar Kyungsoo keras tanpa sepatah katapun. "Kyungsoo!" Jongin yang melihat hal itu langsung berlari mendekat, merangkul Kyungsoo yang tertunduk menahan sakit di wajahnya.

"Ahjusii, kenapa anda menampar Kyungsoo?! Apa salahnya?!" Jongin geram.

Ayah Kyungsoo tidak membalas sepatah katapun pada Jongin. Ia membuang amplop berisi uang tadi ke lantai tepat di depan kaki Kyungsoo. Sebelum dia berbalik meninggalkan Kyungsoo dan Jongin, ayahnya bertanya, "Kau kekasih Kyungsoo?"

Jongin dengan mantap menjawab, "Iya, dan saya tidak akan segan melawan siapapun yang menyakiti pacar saya walaupun itu artinya saya juga harus melawan anda."

Kyungsoo yang mendengarnya tercekat. Namun, tanpa ambil pusing, ayah Kyungsoo langsung berbalik dan berlalu pergi meninggalkan keduanya di depan pintu apartemen Kyungsoo.

Kyungsoo yang masih ketakutan meremas lengan Jongin yang memeluknya dari belakang. "Kita masuk saja. Kau sudah tidak papa sekarang," ucap Jongin cemas.

Di dalam apartemen Kyungsoo, yang tadinya dia ingin membuatkan minuman untuk Jongin, malah sebaliknya. Jongin membuatkan kopi untuk Kyungsoo agar anak itu merasa rileks. Walaupun Kyungsoo tidak mengeluarkan air mata sama sekali, tetapi setelah kejadian tadi, Jongin bisa mengetahui bahwa anak itu sangat ketakutan.

"Minum, aku ini barista di kafeku sendiri. Jadi, rasanya pasti tidak akan seburuk itu." Jongin menyerahkan kopinya pada Kyungsoo yang langsung diminum cepat olehnya.

"Maaf kau harus melihat tadi." Kyungsoo menunduk bersalah.

"Tidak papa." Jongin memaklumi. "Kalau dia datang lagi, aku siap melindungimu."

Jantung Kyungsoo berdesir. Hari ini Jongin tanpa henti membuatnya gugup dan tersipu sendiri. Setelah bercerita tentang keluarganya dan merasa terbuka, dia mengaku pada ayahnya kalau dia adalah kekasihnya. Dan sekarang dia bilang dia akan melindungi dirinya ketika ada ayahnya.

"Terima kasih, Jongin. Sebenarnya aku tidak mau menerima uang dari appa, karena dia minta imbalan. Setiap bulan dia memberiku uang dengan syarat aku mau menuruti permintaannya. Makanya aku cari uang sendiri agar aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri dan mengembalikan uang itu ke appa. Supaya appa tidak mengejarku lagi." Kyungsoo menjelaskan sambil menggenggam cangkir kopinya kencang.

Jongin yang melihat itu merasa kesal. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk Kyungsoo jika sudah menyangkut masalah keluarga. "Maaf aku tidak bisa membantu banyak. Kalau boleh tau, dia minta apa?"

Kyungsoo diam, dia tidak mau menjawab.

Tersadar bahwa Kyungsoo tak mau menjawab pertanyaannya, Jongin pun mengganti topik pembicaraan. "Kau sudah tidak papa kan?" Ia mengelus puncak kepala Kyungsoo dan mengacak rambutnya pelan.

Kyungsoo berusaha untuk tersenyum lalu menghadap ke Jongin. Ia bersyukur ada Jongin di sampingnya, jadi ia merasa bisa sedikit tegar. "Tidak papa."

Sunyi lagi-lagi menyelimuti, tak ada yang bicara diantara mereka berdua. Sampai Kyungsoo akhirnya mengutarakan apa yang dari tadi ada di pikirannya. Saat Jongin mengaku sebagai pacarnya, dan hal itu tak berhenti membuat jantung Kyungsoo berdebar-debar.

"Jongin, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Kyungsoo memberanikan diri.

"Apa?" Jongin menjawab cepat. Ia ingat dia ada jam kuliah, namun dia mengabaikannya dan memilih bersama Kyungsoo. Ia merasa bahwa Kyungsoo butuh teman mengobrol sekarang ini.

"Ke..kenapa tadi kau mengaku kalau kau adalah pacarku?" tanya Kyungsoo deg-degan.

Jongin tersenyum manis. Manis sekali sampai membuat jantung Kyungsoo hampir copot. "Aku tertarik padamu. Boleh kan?" ucapnya tulus.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Nah ini dia yang bikin Baekhyun jalan ngangkang akhirnya jemput juga. Lama Park!" Jongdae teriak suaranya memenuhi lorong kampus dimana dia dan Baekhyun menunggu Chanyeol menjemput. Baekhyun langsung nabok muka Jongdae pelan nyuruh temannya berhenti teriak.

Chanyeol cuek. Masa bodo dengan Jongdae. Ia berjalan begitu saja mendekat tanpa peduli orang-orang sekarang terpesona memperhatikan penampilannya. Ia datang dengan dandanan rumahan karena tidak ada jadwal kuliah. Dengan sepatu vans oldskool dipadu celana warna hitam dan kaos gucci warna putih tak lupa kacamata minus untuk mengemudi bertengger di hidung mancungnya.

Chanyeol memang tidak pernah gagal membuat semua orang menoleh ke arahnya. Pusat perhatian semua orang. Apalagi ditambah suara Jongdae yang seperti toa, siapa yang takkan memperhatikan Chanyeol.

"Udah lama sayang nunggunya?" Chanyeol merangkul Baekhyun dan mencium bibir tipis kekasihnya cepat.

Jongdae yang jadi obat nyamuk pun langsung menyeletuk, "Bukan muhrim woy caplang." Dia mendorong Chanyeol menjauh dari Baekhyun.

"Apaan sih ustad gadungan!" Chanyeol risih dan kembali memeluk Baekhyun.

"Anjir, ustad gadungan katanya." Jongdae protes. Baekhyun ngakak puas.

"Yuk, pulang," ajak Chanyeol merangkul Baekhyun dan meninggalkan Jongdae sendiri. "Bye, toa!" Chanyeol melambai tanpa menoleh ke belakang. Ia berjalan bersama Baekhyun yang juga melambai tanpa menoleh ke belakang.

"Bye! Kurang-kurangin tuh ena-ena! Awas kena HIV!" teriak Jongdae yang hanya dibalas dengan teriakan Baekhyun. "BACOT ANJENG!"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Senja telah pergi bersama matahari. Chanyeol dan Baekhyun yang sempat makan di luar, sekarang telah kembali ke studio untuk latihan seperti biasa. Belum ada sejam mereka disana, mobil Jongin terlihat mendekat. Chanyeol yang melihatnya dari jendela langsung membukakan pintu sembari menunggu Baekhyun selesai mandi.

Saat dilihatnya Jongin datang bersama Kyungsoo, ia sedikit kesal tapi ia pendam dan tahan amarahnya agar tidak tersirat di wajahnya. "Cie, kok kalian datang berdua?" tanyanya.

"Aku berada di apartemen Kyungsoo seharian ini." Jongin menjawab enteng. Ia masuk ke dalam studio diikuti dengan Kyungsoo di belakangnya. Belum sempat Kyungsoo masuk, Chanyeol sudah mengganggam lengannya kencang sampai membuat Kyungsoo merintih pelan.

"Apa saja yang kalian lakukan tadi?" tanya Chanyeol tidak menyadari rintihan kesakitan Kyungsoo. Dari situ Kyungsoo bisa merasakan posesif Chanyeol yang selama ini dia lihat hanya untuk Baekhyun sekarang juga berlaku untuknya. Dan itu membuatnya tidak nyaman.

"Hanya marathon film dan makan. Tadi Jongin ketiduran di apartemenku saat marathon film," jawab Kyungsoo jujur. Ia teringat bagaimana posisi Jongin saat terlelap bersandar di bahunya hingga membuat ruang geraknya terbatas.

Mendengar jawaban dari Kyungsoo, Chanyeol melepaskan genggaman tangannya pada lengan Kyungsoo dan membiarkannya masuk menyusul Jongin. Chanyeol pun ikut masuk sambil mengunci pintu.

"Bukanya kau ada kuliah Jong? Kok malah membolos di apartemen Kyungsoo?" semprot Chanyeol.

"Ada ke—"

"Uhuk!"

Belum sempat Jongin menyelesaikan omongannya, Kyungsoo berdeham keras. Ia lupa bilang bahwa Jongin harus merahasiakan apa yang tadi terjadi di apartemennya hingga membuat keduanya ketiduran saat marathon film bersama.

"Tadi dosennya tidak ada, ya ngapain berangkat?" jawab Jongin enteng.

Chanyeol tau kalau ada yang disembunyikan oleh kedua anggotanya ini. Apakah mereka mulai berpacaran? Atau paling parahnya, apakah mereka sudah melakukan hal itu? Batinnya bergejolak.

"Hm, ya sudah." Chanyeol mencoba cuek.

"Ya sudah, aku mau pamit dulu." Jongin berdiri lagi, padahal baru sampai.

"Mau kemana? Baru saja sampai sudah pergi lagi." Baekhyun yang sudah selesai mandi, keluar dari kamar sambil menghanduki rambut basahnya.

"Aku kesini hanya mengantar Kyungsoo dan memastikan dia aman. Aku mau latihan dance di kampus malam ini." Jongin merapihkan rambutnya ke belakang.

"Widih, mengantar Kyungsoo? Memangnya kalian darimana? Habis kencan?" goda Baekhyun.

"Tidak, Baek.." Kyungsoo malu.

"Iya dong, memangnya hanya kau dan Chanyeol saja yang bisa kencan? Aku juga bisa kali. Iya kan?" Jongin mengedipkan matanya sebelah ke arah Kyungsoo. Dan sukses membuat wajah si pria bermarga Do merah padam.

"Hm, songong banget si Jongin." Baekhyun tau kalau Jongin tidak bersungguh-sungguh. Bagaimanapun trio bangsadh semuanya memang usil dan sok ganteng, terutama Sehun.

"Ehem! Sana kalau pulang ya pulang aja Jong," usir Chanyeol secara tiba-tiba. Baekhyun yang melihat kekasihnya memasang raut wajah tidak nyaman langsung berhenti tersenyum. Dia merasa semakin hari, Chanyeol semakin moody.

"Duluan ya! Baik-baik sama supreme leader." Jongin mengacak rambut Kyungsoo sebelum pergi menghilang dari balik pintu.

Baekhyun ikut duduk di samping Chanyeol yang sudah membawa dua bass guitar, satu untuknya, satu untuk Kyungsoo. "Kalian kok jadi sedekat ini? Jongin suka padamu? Atau sebaliknya?" kepo Baekhyun sambil lendotan ke Chanyeol.

"Kau salah paham, Baek. Jongin hanya mengantarku, karena tadi dia sudah aku masakan makanan di apartemenku." Kyungsoo mengambil bass guitar dari Chanyeol dan ambil posisi.

"Tapi dia kelihatan sumringah dan bersemangat begitu. Kau juga terlihat malu-malu tai ayam gitu sih aku perhatikan." Baekhyun bersikeras.

"Udah, udah, latihan, latihan." Chanyeol menggerutu, menyuruh keduanya berhenti bicara. Ia sudah tak ingin mendengar lagi apa yang Kyungsoo dan Jongin lakukan di apartemen Kyungsoo.

Baekhyun mengernyit heran karena Chanyeol jika dilihat semakin kelihatan badmood. Dia ingin bertanya namun ia urungkan niatnya. "Kalau misalnya Chanyeol sedang tidak bisa mengajarimu, kau latihan bersama Sehun tidak papa kan Kyung?" tanya Baekhyun di tengah-tengah latihan Chanyeol dan Kyungsoo.

"Tidak papa kok Baek. Tidak masalah," jawab Kyungsoo enteng.

Latihan pun berjalan seperti biasa. Dengan Chanyeol yang serius dan Kyungsoo yang lebih serius dibanding Chanyeol malah kesannya jadi tegang. Selain raut serius dari keduanya, Baekhyun menyadari kalau Chanyeol sering mencuri pandang pada Kyungsoo. Bukan pada permainan bassnya, namun pada wajah fokus Kyungoo dan hal itu membuatnya takut.

X

O

X

O

Happy Halloween

Review????