LIFE OF LOCAL BOYS' AU

#CERITA SEHARI-HARI

#TUNGGAKAN ANAN

#SORE HARI KOTA SANTRI

*Penjelasan :

Italic : flashback

Bold Italic : Komentar Penghuni

Natural : Masa Kini

*Warning : resiko tanggung sendiri;

.

.

.

"ANAN! BAYAR UANG KOS OY!"

SYUUTTT

BRAK

"ANJ-"

Suasana di kota santri sangat mencekam. Seorang mahasiswa teknik mesin semester 4 sedang membatu saat dirinya menabrak seseorang.

Ini seperti menuliskan namanya di death note.

"DASAR BEHA LO! NGAPAIN SIH PAKE LARI SEGALA?!"

Anan memejamkan mata. Berdoa pada Allah jangan sampai umurnya dipendekkin betulan. Aduh, dia belum ujian praktek merakit mesin, masa udah mati muda sih. Belum juga ngelamar Joshua meskipun udah diena-enain sampe mampus.

Kilat-kilat mata Daren semakin tajam. Bahkan ibu kos pun takut.

"Mati dah gue, mati..." gumam Anan masih memejamkan mata erat-erat.

"Ren, udah jangan dipelototin terus," terdengar suara lembut Joshua. "Anan ga sengaja kok,"

Daren menghembuskan napas kasar, "Iya mak. UNTUNG ADA JOSHUA, SELAMAT LO BEHA!" Kemudian tuh bocah kekurangan kalsium pergi menaiki tangga.

Ibu kos dapat bernapas lega, ia mencolek bahu Anan kembali hingga mau tak mau si hidung mancung cam perosotan TK itu menoleh dan menyengir kuda.

"Yes, mam?"

"Mam, mam, mam, mam, lu katain gue mampus ya?!"

Elah si ibu kos baper.

"CEPAT BAYAR LU UDAH NUNGGAK 3 BULAN!"

Teriakan wanita berumur 50 tahun lebih tersebut menyadarkan Anan dari keterpurukan. Telinganya pengang akibat tekanan turgor yang diberikan oleh wanita di hadapannya. Terasa memusingkan dan memutar kepala sejenak.

"WOY! GAUSAH PURA-PURA PINGSAN LO!"

"Bu Hami.." sapa Evan lembut bak pantat bayi, ibu kos menoleh, meleleh seketika melihat senyum manis Si Holkay. "Gini deh, daripada tekanan darah tingginya kumat, mending Evan lunasin dulu uang kosnya Anan,"

"Aduh nak." Bu Hami tercengang, "terima kasih loh.."

Evan mengeluarkan sejumlah uang dari dompet kulitnya. Memberikan secara halus kepada sang ibu kos tersayang. Bagaikan kejatuhan durian runtuh, Bu Hami mengecupi uang berwarna merah tersebut.

"Makasih ya, Nak Evan! Dan elu!" Tunjuk beliau pada Anan. "Awas lu kalo bulan depan nunggak lagi!"

Anan hanya mengulum senyum pahit.

Setelah kepergian ibu kos, Evan menatap tajam pada Anan.

"Lu gantiin duit gue sekarang."

"Anjir, bang! Tunggu dulu napa, biarkan gue benapas.." sahutnya tak mau kalah. Kemudian, ia merogoh kantong celana, mendapati uang 50 ribu di dalamnya. "Noh, sisanya nyicil. Adios!" Dalam kecepatan seribu langkah anlene, Anan berhasil kabur kembali meninggalkan Evan yang cengok.

"WOY ANJIR GUE UDAH BAYAR 4 JUTA BANGSAT!"

.

.

.

Yap, tipikal holkay kecolongan. Gapapa Evan tuh :)

.

.

.

Kos-kosan kembali ramai. Bias matahari sore memasuki celah setiap jendela di rumah itu. Volume televisi di ruang tengah terdengar memberitakan sebuah gosip.

Oke kita sudah bisa menduga siapa yang menonton.

"Kak Alfin, sini deh!" Teriak Adi memegangi remote, takut si Erlang nyuri dan mindah channel tiba-tiba.

Alfin yang baru habis mandi, melangkahkan kaki, menghampiri Adi. "Kenape?"

"Raisa tunangan sama Hamish Daud! Hari ini hari patah hati nasional, Kak!" Jawabnya antusias.

Ingin rasanya Alfin menjejalkan remote televisi di tenggorokan Adi kalau dia masih punya hati. Untungnya dia masih punya.

"Lah terus urusannya sama lu apa?"

"Gapapa, pengen ngasih tau aja.." balas si ahli gizi cuek.

Alfin diam, mengelus dada yang tidak terbalut handuk. Dia melirik Erlang sedikit.

"Mak mau diwakilkan buat ngejotos anak ini?"

Pemuda berambut blonde tersebut hanya menggeleng, "Jangan buang waktumu, Nak. Perjalanan masih panjang,"

"Seperti titit gue yang panjang dan memuaskan," celetuk Candra memamerkan gigi taringnya.

PLETAK

"ANJIR SAKIT KAK!"

"Otak lu tuh dibaikin dikit, konslet.." sahut Alfin kalem lalu masuk ke kamar. Melewatkan tawa Erlang yang terlalu nyaring dan Adi yang kesedakan minum saking lucunya.

.

.

.

Begitulah sore kosan kota santri. Sangat berfaedah sekali.

.

.

.

apa apaan nih