Author: Ritsuya gum

Sekali lagi makasih yang udah review, fav, sama follow :*

Maaf juga kalo author kelamaan updatenya

Tsuna: 16 tahun, berubah jadi anak kecil 6 umur tahun

Gokudera, Yamamoto: 16 tahun

Lambo: 7 tahun

Chrome: 15 tahun

Ryohei, Mukuro: 17 tahun

Hibari: 18 tahun

Pairing: All27

.

.

.

Chapter 4: Sasagawa Ryohei

Tsuna bermimpi, dia bertemu seseorang yang mirip dirinya, tapi dalam bentuk tubuh dewasa.

"Tsunayoshi"

Dia memanggil Tsuna dengan nama Tsunayoshi, Tsuna hanya memiringkan kepala bingung.

Sosok Tsuna dewasa itu tiba-tiba berjongkok dan berbicara.

"Aku adalah dirimu dalam versi dewasa, lebih tepatnya aku adalah pemilik tubuh yang kau tempati sekarang, tapi tentu saja tidak semungil ini. Aku tau kau pasti kebingungan dan tidak memiliki ingatan, karena ingatan itu semua ada di diriku. Maaf aku memanggilmu dengan sebutan Tsunayoshi, karena kalau memanggilmu dengan sebutan Tsuna aku seperti memanggil diriku sendiri" kata Tsuna sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Ehh…? Nanti Tsuna pada saat sudah dewasa akan menjadi seperti ini? Keren.." kata Tsunayoshi kagum.

Tsuna hanya bisa tertawa melihat tingkah laku Tsunayoshi.

"Dengarlah Tsunayoshi, tetap jalani kehidupan sekarang seperti biasa, tanpa kau sadari aku terus mengawasi. Jangan khawatir, teman-teman ku adalah orang yang bisa dipercaya, ikuti saja perkataan mereka. Oh iya satu lagi, jangan beritahu siapapun kalau kita bertemu mengerti?"

"Tsuna mengerti! Tsuna tidak akan memberitahu siapapun termaksud papa!" kata Tsunayoshi sambil menunjukkan jari kelingking. "Kalau diriku yang dewasa tidak percaya ayo membuat janji menggunakan jari kelingking"

Tsuna hanya mengangguk dan menunjukan jari kelingkingnya, pada saat mereka saling membuat janji, tiba-tiba semua menjadi hitam.

"Lawn head! Jaga Juudaime baik-baik! Jangan mengajak Juudaime lari pagi berlebihan!"

"Aku mengerti octopus head jangan berteriak ke arahku!"

"Kau sendiri berteriak ke arahku! Seharusnya kau sadar diri sebelum meneriaki orang!"

"Berhentilah berteriak kalian berdua, Tsuna sedang tidur. Ini juga masih tengah malam, kita kemari hanya untuk menentukan siapa yang akan menjaga Tsuna dan membawanya malam ini tanpa membangunkannya karena Hibari tiba-tiba mendapat misi" jelas Yamamoto.

"Aku yakin juudaime akan terbangun karena yang bergantian menjaganya itu lawn head" kata Gokudera sambil melipat kedua tangan.

"Uhmm…"

Ketika mereka mendengar suara dari belakang mereka, mereka reflek menengok ke asal suara tersebut dan menampakkan Tsuna yang terbangun sambil mengusap matanya. Ketika Tsuna menyadari semua orang ada disini, yang dicarinya hanya satu.

"Papa!"

Tsuna langsung berlari begitu menemukan orang yang dicarinya yang tidak lain adalah Reborn. Mereka iri melihat Tsuna memeluk Reborn, mereka juga ingin dipeluk oleh Tsuna.

Akhirnya mereka hanya bisa menghayal kalau Tsuna memeluk mereka dengan senyum polosnya yang membuat semua orang ingin terus berada disisi Tsuna.

Ketika mereka selesai dengan khayalan mereka, tiba-tiba Gokudera memarahi Ryohei.

"Teme! Lihat, gara-gara kau berteriak juudaime jadi terbangun!"

"EXTREMEE! Sekarang kau menyalahkanku!? Kau duluan yang pertama kali berteriak!"

Dan adu mulut yang tidak akan berakhir pun dimulai, kecuali jika ada yang menembak obat bius kearah mereka.

Ryohei dan Tsuna berpisah dengan yang lain karena rumah Ryohei berbeda arah dari mereka.

"Sawada, besok pagi apa kau mau lari pagi?" tanya Ryohei mencairkan suasana karena mereka tidak berbicara semenjak berpisah dari yang lain.

Tsuna hanya mengangguk.

Hening. Bahkan otak dangkal Ryohei mampu memahami apa yang terjadi sekarang. Hanya saja Ryohei bingung apa yang membuat Decimo kecil tersebut diam.

Tanpa terasa mereka sudah berada di depan rumah kediaman Ryohei. Tapi Ryohei tidak langsung membuka pintu, melainkan melihat kearah Tsuna.

"Kenapa kau daritadi hanya diam saja Sawada?" tanya Ryohei tiba-tiba.

Tsuna terlihat berpikir.

"Hmm.. karena menurutku Ryohei-nii menyeramkan" kata Tsuna dengan polosnya.

Ryohei langsung facepalm melihat kelakuan Decimo kecil di hadapannya.

"Dimananya dari diriku yang terlihat menyeramkan?" tanya Ryohei. Tumben Ryohei tidak berteriak? Mungkin karena dia tidak ingin membuat shock dan membuat pendengaran Tsuna rusak. Entahlah, hanya Ryohei dan Tuhan yang tau.

"Itu"

Tsuna sempat ragu menjawab pertanyaan Ryohei, tapi akhirnya dia menunjuk kearah luka yang ada di dahi sebelah kiri Ryohei.

"Eh? Luka didahi ku?"

Tsuna mengangguk.

"Aku tidak masalah kalau kau takut dengan bekas luka ini, tapi menurut ku ini extremee!" kata Ryohei.

Tsuna hanya memiringkan kepalanya bingung. Ryohei hanya tersenyum melihat reaksi Tsuna.

"Luka ini membuatku merasa kalau aku adalah seorang pria sejati! Aku merasa lebih kuat dan percaya diri setelah mandapat luka ini!"

Tsuna semakin bingung dengan omongan yang dilontarkan Ryohei. Tapi dia hanya mengangguk saja sebagai tanda bahwa dia mengerti.

Setelah itu mereka masuk kedalam rumah Ryohei dan Tsuna langsung tertidur karena tidurnya sempat tertunda tadi.

Paginya

Ryohei dan Tsuna sama-sama sudah bangun pagi sekali karena tiba-tiba Tsuna ingin kekamar mandi untuk menyelesaikan urusannya. Ketika Tsuna selesai, dia langsung menuju ke dapur, tapi belum sampai dapur dia melihat Ryohei lengkap dengan baju dan celana olahraga.

"Ryohei-nii mau kemana?"

Ryohei baru menyadari keberadaan Tsuna di belakangnya.

"Aku ingin olahraga pagi"

"Eh? Sepagi ini?" tanya Tsuna sambil setengah berteriak, jangan lupakan dengan suara cemprengnya.

"Memang harusnya sepagi ini sawada ketika ingin olahraga, ingin ikut?"

Tsuna mengangguk semangat sebagai jawaban.

Mereka pun memulai olahraga pagi dengan berlari kecil, Ryohei memperlambat larinya dan menyesuaikan dengan Tsuna.

"Apa kau sudah lelah Sawada?"

"Tidak, Tsuna masih ingin olahraga lebih lama lagi" kata Tsuna.

"Itu baru extreme Sawada!" kata Ryohei semangat.

"Extreme!" Tsuna pun mengikuti perkataan Ryohei.

Mereka berlari cukup lama, Tsuna juga mulai kelelahan, sedangkan jarak mereka dengan rumah Ryohei masih cukup jauh.

Ryohei menyadari kalau Tsuna mulai kelelahan, mereka pun berhenti sejenak untuk mengatur napas. Salahkan Ryohei yang terlalu bersemangat dan melupakan fakta bahwa yang berada di sampingnya saat ini adalah Decimo kecil.

"Sawada, apa kau masih bisa berlari?"

Tsuna tak menjawab pertanyaan Ryohei karena saat ini dia benar-benar kelelahan.

Ryohei jadi merasa bersalah. Mereka diam selama beberapa saat, menunggu Tsuna bernafas normal lagi. Alasan kenapa Ryohei jadi lebih pendiam ketika di dekat Tsuna adalah karena dia merasa bersalah, merasa bersalah karena pada saat Tsuna sedang dalam masalah dia telat datang dan membantu. Bukan hanya Ryohei saja yang merasa bersalah, yang lain pun juga begitu, hanya saja mereka berusaha menutupi kalau mereka merasa bersalah dan khawatir.

Ryohei larut dalam pikirannya sendiri dan tidak menyadari kalau Tsuna sedang berdiri di depannya dan melambaikan tangannya di depan mata Ryohei.

Merasa Ryohei tidak akan menyahut, Tsuna pun memanggil nama Ryohei, dia pun tersadar dalam lamunannya dan menyadari kalau Tsuna sedang menatapnya dengan khawatir.

"Ryohei-nii baik-baik saja? Ryohei-nii sakit?"

Hati ku sakit setiap kali melihat keadaanmu yang sekarang sawada. Kata Ryohei dalam hati.

"Aku tidak apa-apa sawada, lebih baik kita membeli makanan dan pulang kerumah. Ingin ke gendong?"

Tsuna mengangguk senang ketika Ryohei menawarkannya gendongan. Ryohei pun menggendong Tsuna di pundaknya dan pergi membeli makanan dan tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan.

.

.

.

Tbc

Halo~ author yang tidak bertanggung jawab kembalii.. /abaikan

Biar gk bingung kalau Tsuna dewasa sama Tsuna kecil ketemu author bedain dari namanya yaa.. Tsuna untuk yang dewasa, kalau Tsunayoshi untuk yang kecil.. ini dipakai kalau mereka bertemu saja ok

Oh iya, jangan lupa RnR..

Sankyuu~