A/N: Untuk penampilan wajah Naruto kalian bisa melihat cover fanfiksi ini. Atau kalian bisa mengetik kata "Saber Proto" pada Mbah Google.


Sword of Destiny


Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto, Highschool DxD by Ichiei Ishibumi, Sword Art Online by Kawahara Reki and Fate Series by Type-Moon

Menulis tanpa berniat mendapatkan keuntungan materil

Rate: M (For Safe)

Pair: Naruto x ?

Genre: Action, Fantasy, Magic, Slight Romance, Etc.

Warning: Typo, Out of Character, Bahasa Tidak Baku, Alternate Universe, and Etc.


Summary

Dia yang jujur, angkuh dan mengasihi. Senyumnya selembut dan secerah matahari pagi. Dia yang penuh rasa peduli. Mencintai semua kebaikan dan percaya akan keadilan. Meskipun dia membenci pertentangan, dia tak tertandingi saat memegang pedang. Pedang yang bersinar, menumpas kesalahan di dunia dan membinasakan segala kejahatan.


Arc I: Knight and Magic


Chapter 2


« Opening Song: JUSTadICE by Seiko Omori »


-1-

Jauh sebelum peradaban manusia dimulai, dikenal makhluk sihir yang konon katanya diciptakan oleh Dewa-Dewi untuk melindungi dan mengisi segala kebaikan yang ada pada dunia ini. Mahkluk tersebut dikenal dengan nama Seraphim, makhluk mistis yang menyerupai wujud manusia dan tidak bisa dilihat oleh siapapun kecuali Seraphim itu sendiri yang mengizinkannya.

Seraphim adalah makhluk istimewa dengan segala keajaibannya—sosok yang digambarkan sebagai peri maha cantik yang kecantikannya tidak dapat dicapai oleh manusia.

Dalam kasus Naruto, ia bertemu dengan salah satu mahkluk mistis yang melegenda itu. Meskipun itu benar bahwa sosok yang di depannya adalah Seraphim, mengapa sosok agung seperti Seraphim mengizinkan dia untuk melihatnya? Tak hanya sekedar melihat, namun makhluk agung tersebut juga berbicara padanya.

Bagaimanapun, kenyataan seperti itu tidak pernah terpikirkan oleh Naruto. Untuk itu, dia memutuskan untuk tidak terlalu mempercayai pertemuan ini.

"Siapa kau, dan apa mau mu?"

Sosok itu tersenyum menanggapi perkataan Naruto. Senyum manis semanis senyuman janda baru bangun tidur itu terlihat mengembang ibaratkan kelopak bunga mawar di awal musim semi.

"Aku adalah Vivian ... Seraphim yang menjaga danau suci ini, menjaga kota yang amat indah ini," kata sosok itu dengan senyumnya. "Tujuanku adalah memilih dia yang pantas. Dia yang agung. Dan dia yang penuh akan wibawa."

Naruto mengangkat sebelah alisnya bingung. Okay, miliyaran sel otak yang disebut neuron pada otaknya mencoba untuk bekerja lebih keras lagi—berpikir sejenak untuk memahami kata-kata yang menyelusup masuk ke dalam telinga.

Namun itu percuma. Dia sama sekali tidak dapat memahami maksud perkataan wanita yang mengaku sebagai Lady of the Lake pemilik nama Vivian tersebut.

"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak dapat memahami perkataanmu." Tukas Naruto dengan lembut kali ini. Meski sikap siaganya tiada bisa ia hilangkan.

Mendengar ucapan pemuda di depannya, Vivian mengangguk kecil.

"Namikaze Naruto, kemarilah. Ada sesuatu yang harus ku berikan kepada mu."

Bukannya penjelasan yang ia dapat melainkan sebuah permintaan di sertai juluran tangan lembut. Naruto sedikit curiga, namun hawa yang dikeluarkan oleh wanita yang mengaku sebagai Lady of the Lake pemilik nama Vivian itu sangat hangat. Dan juga nyaman ia rasa.

Sangat hangat sampai-sampai membuat perasaannya menjadi hangat pula. Apa benar wanita tersebut adalah seraphim yang melegenda itu?

Mengikuti intuisi hatinya Naruto berjalan mendekat menuju Vivian yang tersenyum lembut padanya. Sedetik kemudian, rasa hangat yang familiar menapaki helaian rambutnya.

—Itu adalah belaian hangat dari Vivian yang saat ini menatap dirinya haru.

"Kau ... hangat sekali. Entah mengapa aku merasa nyaman berada di dekatmu." Ucap Naruto tanpa sadar.

Lady of the Lake merasa bahagia mendengar hal tersebut. Sebenarnya, ia benar-benar ingin berinteraksi dengan anak laki-laki pirang ini lebih lama lagi. Namun ia harus mengurungkan niatnya, ia memiliki waktu yang terbatas, kau tahu?

Setelah selesai dengan mengelus kepala Naruto, Vivian lalu memegang kedua bahu Naruto. Sedetik ia melihat sebentar pada bungkusan lilitan kain yang ada di genggaman tangan laki-laki pirang tersebut—benda itu nampak berensonansi dengannya, itu hal yang wajar karena ia tahu persis apa yang tersembunyi di sana.

"Namikaze Naruto, aku memilihmu."

Suara itu sangat lembut, namun Naruto kembali bingung di buatnya.

"Aku tidak begitu paham."

"Suatu saat kamu akan mengetahuinya sendiri."

Naruto diam tak menjawab. Setelah beberapa detik, wanita itu menarik kedua tangannya yang menyentuh tubuh pemuda itu. Kemudian, tangan-tangan tersebut di satukan di depan dada wanita itu, memperlihatkan bentuk tangan yang biasa digunakan untuk berdoa.

"Engkau yang jujur, angkuh dan mengasihi. Senyummu selembut dan secerah matahari pagi. Engkau yang penuh rasa peduli. Mencintai semua kebaikan dan percaya akan keadilan. Meskipun engkau tak tertandingi saat memegang pedang. Pedang yang bersinar, menumpas kesalahan di dunia ini dan membinasakan segala kejahatan."

Hawa hangat terasa meledak tiba-tiba ketika kata-kata tersebut telah selesai diucapkan. Angin bertiup pelan, menggugurkan dedaunan yang bergelantungan di pepohonan. Cahaya emas kecil menyerupai kelereng terlihat muncul dari tangan yang tengah berdoa itu.

Naruto tersentak dan dibuat kaget olehnya.

"Apa-apaan ini?"

Dalam beberapa detik berikutnya cahaya yang sebesar kelereng tersebut bersinar semakin terang menyilaukan mata. Cahaya emasnya yang murni dan suci seolah-olah bersinar menembus lapisan langit.

Hal itu berlangsung tidak lama—kira-kira sekitar lima belas detik saja. Setelahnya, cahaya yang menyerupai kelereng tersebut tampak mengecil cahayanya dan terbang pelan menuju Naruto, kemudian masuklah cahaya itu kedalam tubuh Naruto melalui dada pemuda itu.

Naruto kembali terkejut dan langsung melihat ke arah Lady of the Lake yang hanya memasang senyum lembut.

"Itu adalah hadiah dariku ... sekaligus sebagai tanda bahwa aku telah memilihmu."

"Tanda bahwa kau telah memilihku?" Naruto bertanya keheranan. "Tunggu dulu, sejak awal aku tak begitu paham dengan perkataanmu."

Naruto benar-benar tidak dapat mengerti apapun. Ini terlalu cepat baginya untuk mengerti. Dia sama sekali bukanlah seorang pria super jenius yang langsung bisa memahami situasi apapun.

"Suatu saat, kamu akan tahu ..."

Sekali lagi, Namikaze Naruto dibuat tidak mengerti. Namun ada hal yang aneh, dari kedua bola mata birunya dapat ia lihat kalau tubuh wanita itu seolah semakin tembus pandang tiap detiknya. Seolah-olah tubuh tersebut akan hilang ditelan waktu.

"Sekarang sudah waktunya aku akan kembali ketempat seharusnya aku berada. Aku sangat-sangat senang bisa berjumpa dengan mu, Naruto anakku." Wanita itu tersenyum kembali. "Ayahmu masihlah hidup sampai sekarang, jadi gunakan pemberianku itu untuk membebaskan dan menyelamatkan ia yang tengah menderita."

Setelah itu, sosok Vivian hilang sepenuhnya yang di ikuti oleh tubuh Naruto yang bergetar hebat dengan kedua matanya yang membola.

"Ayah masih hidup."

-2-

Kaki-kaki itu melompat dengan lincah dan terlatih. Melompat dari batang satu ke batang yang lainnya. Menuju suatu tempat yang entah dimana. Namun ada suatu hal yang dapat dipastikan.

—Tak jauh di depan sana terlihat sebuah kuil tua dengan bangunannya yang retak dan tampak bobrok.

Kuil itu terbangun di samping sungai jernih yang bisa dijadikan sebagai air minum penghilang dahaga. Pohon-pohon di sekililingnya juga nampak tak sebesar pohon-pohon lainnya.

"Tempat ini sangat sunyi, aku tidak bisa merasakan hawa keberadaan siapapun selain kita," Gadis dengan rambut pirang bergelombang lalu menoleh ke arah satu-satunya pria di sana. "Apa kau yakin di sinilah tempatnya, Namikaze-kun?" Ujar Gabriel berbicara setelah menapakkan kakinya pada tanah hijau penuh rumput.

Naruto mengangguk kecil.

"Aku yakin, jika kita meniti dan memahami maksud dari 'sesuatu' yang di katakan oleh Vasco-sama, maka aku beranggapan bahwa itu adalah sesuatu yang tersembunyi keberadaannya."

Di samping kiri Naruto, Alice juga ikut mengangguk kecil. "Aku setuju, dan tampaknya tempat ini adalah yang paling mencurigakan." Ujarnya kemudian.

Gabriel yang menjadi ketua regu mengangguk kecil. Itu benar. Apa yang dikatakan oleh Naruto dan Alice sangatlah masuk akal.

Untuk sekilas nampak Gabriel memandang sebentar bangunan rubuh berupa kuil tua yang sudah bobrok tersebut. Dia menarik napas pelan sebelum mengangguk dan tersenyum.

"Baiklah, sekarang ayo kita periksa hal apa yang ada di sana." Tukas Gabriel yang setelahnya mereka melangkahkan kaki-kaki mereka melewati padang rumput halus untuk menuju tempat kuil tua berada.

Sesampainya mereka ke dalam tempat itu, apa yang menunggu mereka hanya sekumpulan reruntuhan isi dari bangunan marmer tua yang berdebu. Tempat ini cukup besar ternyata sehingga membuat mereka sesekali berpencar untuk meneliti tempat tersebut.

Setelah melakukan pencarian yang cukup memakan waktu, mereka menemukan titik terang.

Secara tidak sengaja, Gabriel menemukan sebuah dinding yang cukup mencurigakan. Dinding tersebut nampak tidak sempurna, seperti ada bagian-bagian yang hilang dari dinding tersebut. Tak jauh dari dinding itu, ada pecahan-pecahan dinding berukuran sedang yang bentuknya berbeda-beda.

"Itu terlihat seperti puzzle."

Gabriel melirik keasal suara dan menemukan Naruto yang berjalan perlahan melewati dirinya. Pemuda itu berhenti tepat di depan dinding yang berlobang tersebut. Mata biru pemuda itu melirik pada bongkahan-bongkahan marmer yang berserakan pada lantai berdebu.

"Puzzle?" Gabriel mengernyit bingung. "Bukankah itu semacam permainan otak yang banyak di jual di pasaran itu?" tanyanya dengan penuh kebingungan.

Naruto menoleh sebentar dan memberikan senyuman tipis dengan anggukan kecil miliknya. Setelah itu ia kembali menghadap ke depan, jemari-jemari tangannya terulur untuk mencapai potongan marmer itu. Ia melihatnya sekilas sebelum bola matanya kembali mengarah pada dinding berlobang.

"Apa yang sedang kamu lakukan, Namikaze-san?"

Berada tidak jauh dari Gabriel, Alice yang sejak tadi memperhatikan sambil bersandar pada salah satu pilar bangunan akhirnya angkat suara. Ia sedikit bingung melihat tingkah pemuda tersebut.

"Tunggu sebentar, jika asumsi ku benar maka kita akan menemukan sesuatu yang menarik nantinya," balas Naruto tanpa menolehkan kepalanya. "Sialnya tempat ini terlalu gelap." Rutuknya pelan kemudian.

"Aku akan membantumu." Tukas Gabriel setelah mendengar rutukan Naruto. Kedua tangannya ia rentangkan kedepan.

"Aku adalah ibu dari semua cahaya. Puteriku adalah putih berseri. Puteraku adalah terang benderang ... Light Magic: Observation Crystal."

Dari telapak tangan itu energi tercipta. Setelahnya, sebuah bola cahaya sebesar kelereng tercipta dari ruang hampa. Dalam beberapa detik berikutnya bola cahaya tersebut bertambah ukurannya hingga menjadi sebuah bola cahaya sebesar bola sepak.

Gabriel tersenyum tipis sebentar sebelum berjalan pelan menuju Naruto dengan bola cahaya yang melayang beberapa inci diatas telapak tangannya.

"Aku memang tidak begitu tahu apa yang sedang kamu lakukan, tapi mungkin hal kecil ini dapat membantumu." Ucap Gabriel yang dibalas Naruto dengan senyuman tipis.

"Itu sangat membantu. Terima kasih."

Sekarang tempat ini nampak begitu terang, dengan begitu Naruto dapat melihat dengan jelas bagian-bagian tembok yang tampak berlubang tersebut. Tidak hanya itu, ia bahkan bisa melihat dengan jelas bongkahan-bongkahan marmer yang tergeletak di lantai.

Pemuda pirang itu tampak tersenyum ketika melihat bongkahan yang ia pegang terlihat sama bentuknya dengan lobang yang terdapat pada dinding, dengan segera ia memasang bongkahan tersebut dengan perlahan. Selanjutnya dia kembali memilah beberapa bongkahan yang ada lalu memasangkan bongkahan tersebut pada lobang yang ada pada dinding.

Alice dan Gabriel melihat dengan penasaran pada pemuda itu. Setelah sampai pada bongkahan yang ketiga, akhirnya mereka mengerti akan apa yang pemuda itu lakukan. Hal itu berlangsung sampai beberapa menit hingga kemudian sampailah tangan pemuda itu pada bongkahan yang terakhir; yang tangan itu arahkan dan tangan itu letakan pada lobang terakhir di sana.

Seketika dinding-dinding itu nampak bergetar hebat. Gabriel dan Alice segera bersiaga dengan sihir dan pedangnya, namun yang terjadi berikutnya adalah terbukanya dinding tersebut dengan secara ajaib. Dinding marmer itu bergeser dan membelah menjadi dua bagian yang dari dalam tirai marmer tersebut tersembunyi sebuah ruangan kecil yang di tengahnya terdapat sebuah peti kayu yang sudah lapuk.

Naruto memberikan isyarat tangan agar tetap berhati-hati, di samping itu ia melangkahkan kaki-kakinya mengambil langkah ke depan.

Singkat cerita sampailah ia di tengah ruangan itu yang mana di hadapannya kini tersaji sebuah peti kayu yang sudah lapuk. Peti itu nampak tidak terkunci, oleh karena itu tanpa ragu Naruto membuka peti tersebut dengan pelan dan menemukan sebuah buku di sana.

Tidak! Itu bukanlah buku biasa. Di lihat dari sampulnya yang berupa buku bersampul hitam dengan lambang semanggi empat daun dapat di pastikan bahwa itu adalah salah satu perangkat sihir yang umum untuk digunakan seorang Magic Knight.

Benar. Itu adalah Grimoire—sebuah perangkat sihir berupa buku bersampul daun semanggi yang di dalamnya berisi mantera-mantera sihir.

Naruto tersenyum tipis melihat Grimoire tersebut. Ia memungut buku itu menggunakan tangannya kemudian kembali menuju tempat Gabriel dan Alice berada.

"Sekarang aku mengerti akan 'sesuatu' yang di katakan oleh Vasco-sama." Ujar Naruto setelah sampai di hadapan kedua gadis muda tersebut.

Kedua gadis itu sontak langsung menatap ke arah tangan kiri Naruto yang menggenggam sebuah buku bersampul.

"Ternyata begitu," Gabriel tersenyum senang melihatnya. "Baiklah, sekarang lebih baik kita segera bergegas menuju bagian tengah dari Dungeon ini. Aku bisa melihat menara yang di maksud oleh Vasco-sama, itu berada di sebelah barat daya." Ucapnya kemudian mengingat ini baru hari ke- empat mereka berada di dalam hutan ini, mungkin sudah banyak para kadet yang telah menyelesaikan misi ini terlebih dahulu.

Setelah perkataan dari Gabriel, mereka pun berjalan keluar dari reruntuhan kuil itu. Tidak lupa, Naruto meminta Alice untuk menyimpan Grimoire tersebut pada tas yang gadis itu bawa sebelumnya.


Cahaya terang dari matahari seakan menusuk bola mata, membuat pupil yang tersembunyi di antara retina menjadi mengecil untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk.

Kaki-kaki itu melangkah keluar dari reruntuhan kuil tua dengan santai. Kaki-kaki itu melangkah ke arah kanan kemudian, yang mana tempat tersebut terdapat sungai jernih yang mengundang haus dan dahaga. Untuk beberapa saat, mereka membasuh wajah mereka dengan nyaman sesekali meminum air yang jernih itu.

Setelah selesai, Gabriel yang menjadi ketua segera mengambil langkah pelan menuju barat daya—meninggalkan Naruto dan Alice yang masih setia berada di sisi sungai. Dari sudut matanya dapat terlihat sebuah bangunan yang menjulang tinggi di sana. Tempat yang akan menjadi tempat berkumpulnya pada kadet.

Angin berhembus pelan, meniup helaian-helaian rambut pirang yang indah di sana.

"Coba lihat, sepertinya mangsa kita memang benar sangat-sangat cantik."

"Fufufu ... Kau benar, bro. Aku tidak sabar seberapa besar harganya nanti jika bangsawan jalang ini ini kita jual di tempat perbudakan. Ahh ... Kita akan menjadi kaya raya seumur hidup kita."

"Fufufu ... Sabarlah kalian berdua."

Datang dari balik pepohonan yang rimbun—tiga manusia dengan tampilan acak-acakan berjalan ke arah Gabriel yang menatap mereka datar. Sedangkan Naruto dan Alice yang merasakan hawa keberadaan berbeda berjalan menuju ke arah Gabriel yang berjarak sekitar dua puluh meter dari mereka.

"Di lihat dari tampang kalian, nampaknya kalian bukanlah orang baik." Ucap Gabriel pada ketiga orang tersebut.

"Hahahaha ... Baik kau bilang, huh? Aku tidak peduli dengan kata baik. Dunia itu bukan tentang baik dan jahat, nona. Tapi tentang uang." Ucap salah satu pria di sana yang menyeringai sedikit kejam.

"Cara berpikirmu sangat sempit. Aku prihatin dengan nasib yang di berikan oleh Dewa-Dewi pada kalian." Ucap Gabriel membalas. Ia memasang diri bersiaga ketika melihat gadis kecil di sana nampak menyiapkan diri untuk melakukan tindakan di sertai tatapan predator menatap mangsa.

"Hei ... Onee-san jalang sialan. Tidakkah kau merasa mulutmu sedikit keterlaluan, huh? Kalau bukan karena kau itu adalah aset berharga, maka aku sudah merobek mulutmu itu sejak tadi." Ucap gadis kecil tersebut sambil menatap nyalang Gabriel.

"Merobek mulutku kau bilang? Maaf saja, tapi aku harus mewujudkan impianku menjadi seorang Holy Knight. Sekarang pergilah, sebelum aku dengan terpaksa memberi pelajaran pada kalian." Balas Gabriel dengan sedikit ancaman di akhir. Namun sayangnya itu sama sekali tidak mempengaruhi ketiga orang asing tersebut.

"Sttt ... Diam dulu, anak muda. Lebih baik turuti saja kata-kata kami, sebelum kami memilih jalan kekerasan yang membuatmu menyesal nanti." Ucap suara berirama yang di keluarkan oleh orang ketiga. Sembari berkata-kata, jemari tangan pria tersebut menyentuh kulit pipi Gabriel dengan lembut. Matanya yang licik nampak seperti mata ular yang berbisa, senyum pada bibirnya begitu menjijikan. Dia adalah gambaran seorang pria bajingan yang sempurna.

Mata Gabriel membola seketika.

"Sejak kapan kau?!"

Pria itu menyeringai lebar, jemarinya yang menyentuh halus kulit gabriel kini berubah menjadi menekan pipi gadis tersebut menggunakan jari telunjuk dan jempol tangan miliknya.

"Stt ... Itu, r-a-h-a-s-i-a." Ucap pria itu dengan nada berintonasi.

Merasa tak nyaman, Gabriel segera berusaha melepaskan diri dari pria tersebut dan ia berhasil melakukannya. Setelah itu ia melompat kebelakang untuk mengambil jarak dari pria berbahaya tersebut.

"Yare yare ... Sepertinya memang harus menggunakan cara kekerasan ya," Pria tersebut mendesah pelan dan nampak kecewa. "Mittelt, Dohnaseek. Buat jalang ini mengerti. Aku mengizinkan segala cara, namun jangan sampai membunuhnya." Ucap pria tersebut yang mana hal itu langsung diberi anggukan bersemangat dari kedua rekannya tersebut.

"Oh yeah ... Aku datang, uang!" seru pria pemilik nama Dohnaseek dengan topi fedora. Pakaian yang ia gunakan berupa pakaian formal serba hitam dengan sarung tangan yang hitam pula. Pria dengan tinggi 183 sentimeter itu menerjang Gabriel dengan tangan kosong.

"Kemari kau jalang!" Di sebelah Dohnaseek, gadis kecil bernama Mittelt juga berseru psiko sambil menerjang Gabriel menggunakan bilah belati hitam yang tergenggam di tangannya.

Pria yang memberi perintah hanya diam di tempat, ia menghela napas sebentar sebelum melihat ke arah bawah, di sana dia menemukan sekitar sepuluh jarum cahaya yang menempel pada [ Prana Skin ] yang ia buat untuk melindungi tubuh. Lima di antaranya mengarah pada jantungnya. Dia menyeringai kemudian.

"Kau boleh juga, Belgaria."

Gabriel mengeraskan wajahnya melihat dua serangan yang datang dengan cepat. Ia melompat ke belakang sebentar sebelum mulai memompa prana ke seluruh tubuhnya. Namun, ketika menyadari sesuatu yang akan datang, gadis itu tersenyum tipis.

"Maaf terlambat."

Di sana, sepasang lelaki muda dan gadis cantik berambut pirang melesat maju melewat Gabriel. Mereka menghadang laju terjangan yang Mittelt dan Dohnaseek lakukan. Naruto yang menahan tinju dari Dohnaseek menggunakan telapak tangan kanannya dan Alice yang menahan belati Mittelt menggunakan sisi pedangnya.

"Kalian lama sekali tahu!" ucap kesal Gabriel, namun itu adalah kiasan semata. Sesungguhnya ia benar-benar senang kedua rekannya itu bisa bergerak cepat ke arahnya.

Sedangkan sepasang penyerang tadi mengeluarkan decihan keras. Mereka tampak tak suka serangan mereka dihalangi oleh orang lain.

"Cih ... siapa pula bajingan yang menahan tinju ku ini. Enyah kau sana!" ucap Dohnaseek yang memberikan tekanan kuat pada tinjunya membuat Naruto yang menjadi seorang penahan harus lebih menguatkan kuda-kudanya.

"Maaf saja, aku tidak akan membiarkan mu untuk berbuat semena-mena." Balas Naruto dengan seringai kecil yang langsung dibalas decihan kembali oleh pria tersebut sebelum mundur ke belakanglah ia sembari menatap nyalang Naruto.

Sedangkan Alice yang menahan belati Mittelt menimbulkan suara gesekan yang khas di sertai kembang api yang terpercik ketika dua bilah logam itu saling mengadu tajam.

"Jangan menghalangi ku jalang pirang sialan!" ucap Mittelt kasar yang mana hal itu langsung di balas sedikit kekehan dari Alice.

"Terima kasih, itu benar-benar lucu mengingat dirimu juga seorang gadis pirang." Ucap Alice menohok.

Mittelt yang mendengarnya menatap nyalang Alice. Dia mengambil satu langkah ke belakang dan menarik tangan kanannya, tempat dimana belati tajam berada. Kemudian, dia bergerak berputar melewati pedang emas sembari melempar belati itu keatas—menimbulkan putaran putaran kecil di udara—gerakan indah tersebut di akhiri dengan Mittelt yang menangkap kembali gagang belati tersebut dengan bilah tajamnya yang langsung berniat menggorok mulut Alice.

"Jangan samakan aku dengan dirimu, jalang!"

Namun hal tersebut dapat diantisipasi oleh Alice dengan cukup mudah. Ia hanya menghentakkan kakinya sesaat sebelum melompat ke belakang cepat, sehingga bilati tersebut hanya memotong sebagian kecil rambut pirangnya.

"Cih!"

Mittelt mendecih tak suka melihat mangsanya dapat menghindari serangan miliknya. Setelah itu dia bergerak cepat menuju Dohnaseek yang juga nampaknya memilih untuk mundur sesaat.

"Wah, wah, wah ... Coba lihat, siapa yang datang. Aku tak menyangka kalau ternyata dua serangga ini juga cukup kuat ternyata."

Bersamaan dengan itu, orang ketiga yang menjadi penjahat tersebut berjalan pelan mendekati Dohnaseek dan Mittelt. Mata merahnya menyala sesaat, diikuti oleh rambut silvernya yang mengalun pelan ketika mendapati hembusan angin.

"Dilihat dari gelagatmu, sepertinya kau adalah pemimpin dari mereka," Naruto merasakan sedikit merinding ketika melihat laki-laki itu nampak tersenyum. "Katakan, siapa kau dan apa yang kau mau dari rekanku, huh?"

Pria tersebut tetap pada seringainya. Ia lalu mengangkat tangan kirinya dan meletakan jemari telunjuk pada bibirnya seolah-olah memberikan isyarat untuk diam kepada Naruto.

"Aku? Ahh ... bocah, mengungkap identitas diri kepada lawan itu sama dengan menggali kuburan sendiri."

Naruto sedikit tertawa mendengarkan ucapan tersebut.

"Yang ku inginkan adalah dia yang merupakan anak seorang bangsawan, harga budak saat ini sedang bersahabat. Jadi, aku memutuskan untuk membawa temanmu untuk kujadikan budak hahaha. Dan juga, kau salah menganggap aku adalah pemimpin dari mereka, bocah. Kami adalah keluarga ... ya keluarga yang bahagia." Lanjut laki-laki tersebut. Tidak lupa setiap kata yang di keluarkan oleh mulutnya memiliki intonasi nada yang menyeramkan.

Sepasang laki-laki dan anak perempuan pirang yang berada di samping laki-laki itu nampak tersenyum.

Sedangkan Naruto hanya menaikkan sebelah alisnya bingung.

"Pembohong. Kau bembohong. Semua kata-kata yang kau ucapkan hanyalah omong kosong." Ucap Naruto tegas, laki-laki yang menjadi lawan Naruto nampak berubah raut wajahnya.

"Kenapa kau bisa berpendapat seperti itu, bocah?" ujar laki-laki itu bertanya.

Naruto menyeringai kecil. "Itu mudah. Alasannya karena aku tidak mempercayai mu." Ucapnya singkat.

Laki-laki tersebut lagi-lagi berubah raut wajahnya. Kali ini ia nampak hendak tertawa kencang. Itu dapat dilihat dari sikapnya yang tersenyum sangat lebar.

"Hahaha. Menarik, menarik! Bocah, kau punya bakat untuk melawak. Ah ... Sayangnya aku tak memiliki banyak waktu untuk mendengar lawakanmu," Laki-laki tersebut kemudian membusur—dengan tangan kanannya di depan perut dan tangan kirinya lurus di sisi. "Mittelt, Dohnaseek, beri tahu dia seperti apa keluarga kita." Ucap laki-laki tersebut.

"Siap, kak Freed!" seru mereka berdua serentak.

Sedangkan di seberang mereka, Naruto, Alice dan diikuti oleh Gabriel sudah bersiap. Mereka membentuk formasi seperti segitiga—dengan Naruto dan Alice berada di garis depan sedangkan Gabriel di belakang menjadi seorang support.

"Aku harap kalian dapat mengulur waktu untukku, aku akan menyelesaikan mereka dengan mantera pengikatku." Kata Gabriel yang berada di posisi belakang yang mana ucapannya tersebut mendapatkan anggukan setuju dari kedua rekannya di depan.

"Mereka datang!" seru Naruto.

Pertarungan pun nampaknya akan terjadi kembali. Yang mana saat ini, Dohnaseek menerjang ke arah Naruto tanpa menggunakan senjata apapun. Sedangkan Naruto sudah bersedia dengan dua bilah pedang yang telah ia keluarkan melalui [Dimension Space Magic] miliknya.

Di lain pihak, Mittelt menerjang dengan gila ke arah Alice menggunakan belati pada tangan kanannya. Sedangkan Alice mengambil kuda-kuda bertahan, pedangnya ia pegang lurus ke kanan bawah.

"Oryaa!"

Dohnaseek dengan Hand Combat miliknya melayangkan sebuah pukulan tangan kanan penuh menuju Naruto, namun pemuda pirang tersebut dapat menahan pukulan keras itu dengan menyilangkan kedua pedangnya.

"Heeh, lumayan juga kau. Tapi jangan harap kau bisa menahan seranganku semudah ini!"

Setelah itu, Dohnaseek menarik napas dalam kemudian dalam hitungan detik tangan kirinya sudah di penuhi oleh prana biru. Menyeringai sesaat, pria dengan topi fedora tersebut mengarahkan tinju keduanya pada Naruto.

Sedangkan Naruto yang tak ingin terkena serangan itu menarik cepat kedua pedangnya kemudian menunduk dengan segera ke bawah sehingga pukulan itu hanya menemui ruang kosong belaka. Melihat celah yang dikeluarkan oleh lawannya membuat Naruto menyeringai sesaat sebelum mengayunkan pedangnya ke depan segera.

Namun Dohnaseek nampaknya bukanlah pria yang lemah. Lima belas tahun dia sudah berlatih menjadi seorang pembunuh. Ia seorang petarung yang berpengelaman. Serangan yang diberikan oleh Naruto hanya ibaratkan nyamuk terbang di matanya.

"Kau masih sangat lambat, nak." Ucap Dohnaseek yang menggeserkan tubuhnya ke kanan dengan santai untuk menghindari tusukan tersebut.

Naruto sedikit menyeringai mendengarnya. Setelah beberapa detik, dia lalu mengayun pedang yang berada di genggaman tangan kanannya ke samping secara horizontal, namun pria tersebut kembali menggeserkan tubuhnya dengan santai.

Hal itu terjadi beberapa kali sampai Dohnaseek dibuat kebosanan karenanya.

Naruto berhenti sesaat. Dia menatap Dohnaseek yang berada tak jauh di depan.

"Kenapa berhenti, nak? Apa kau sudah kelelahan huh?" tanya Dohnaseek sombong.

Mendengar hal tersebut, Naruto tertawa mengejek. "Ketahuilah, ossan. Kau jangan terlalu meremehkan lawanmu seperti itu. Itu tak baik. Kalau aku mau, aku bisa saja melumpuhkan mu sekarang."

Mendengar hal itu dari anak muda di depannya membuat Dohnaseek tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha. Jangan bercanda! Masih terlalu cepat 1000 tahun bagimu untuk mengalahkan ku." Ucap pria itu dengan penuh penekanan. Dia kemudian melihat ke arah Naruto—mencoba untuk melihat ekspresi takut pemuda itu.

Namun dia sama sekali tidak menemukan hal tersebut. Yang ia temukan hanyalah sedikit seringai yang entah mengapa terlihat menakutkan.

"Oi, oi, ossan. Tugas yang di berikan padaku hanyalah untuk mengulur waktu. Itulah kenapa aku tidak serius melawan mu."

Dan ucapan pemuda pirang itu membuat Dohnaseek tersulut emosi. Hei, hei, tidak serius katamu? Jangan bercanda sialan! Dia tidak pernah merasa sehina ini di depan seorang bocah kemarin sore.

"Cih. Akan ku buat kau menyesal terlahir di dunia ini, bocah sialan!" seru Dohnaseek. Dia mengatur pernapasannya kemudian, setiap sirkuit prana yang ada pada tubuhnya ia alirkan ke setiap titik tubuhnya—menghasilkan gelombang prana luar biasa yang menyeruak dari tubuh kekar miliknya.

"Limit Breaker," Pria itu menghentakkan kakinya pada tanah yang menimbulkan retakan-retakan tanah di tempatnya berdiri sebelum menerjang dengan cepatlah ia menuju Naruto di sana. "Rocket Puch!"

Naruto melirik sesaat pria yang tengah menerjang ke arahnya dengan sebuah pukulan tangan kanan super kuat. Pemuda pirang itu lalu menutup mata sebentar, kedua pedangnya ia rentangkan ke kiri dan juga kanan. Kemudian, menarik napaslah ia dengan dalam—hingga penuhlah paru-parunya oleh udara yang penuh akan oksigen.

Kelopak mata itu terbuka. Memperlihatkan retina biru dengan pupilnya yang membesar dan mengecil berirama.

"Sword Skill: Fell Crescent."

Naruto berdiam diri di tempatnya, menunggu serangan yang datang kepadanya. Dua buah cahaya biru menyala dari lintasan kedua pedang yang ia gunakan—menandakan di sana terdapat sejumlah prana yang terkonsentrasi pada pedang itu.

"Oryaa!"

Dohnaseek menginjakkan kakinya tepat di depan Naruto, bersama dengan pukulan penuh prana yang ia arahkan ke wajah dari pemuda pirang itu.

Naruto menggeser tubuhnya sedikit membuat pukulan keras tersebut hanya mengenai angin kosong yang membuat rambut pirangnya tertiup-tiup. Di lihat dari kekuatan destruktifnya—itu adalah pukulan mematikan yang langsung bisa menghancurkan tengkorak kepala hanya dengan satu pukulan saja.

*Slash!*

Suara tebasan tipis terdengar.

Dohnaseek nampak terkejut dan melihat ke arah wajah Naruto—namun yang ia temukan hanya sebuah wajah yang entah kenapa menunjukkan rasa kasihan. Dalam detikan berikutnya, semburan darah mencuat di udara.

Pria bertopi fedora itu melebarkan mata terkejut. Berteriak gila ketika menyadari bahwa kedua urat tangan telah terputus. Dengan wajah kesakitan ia mundur beberapa langkah ke belakang.

"T-tidak mungkin!" teriak Dohnaseek yang kemudian berlari dan menuju ke tempat Freed berada. "Kak Freed, tolong aku!" Dia benar-benar takut saat ini. Padahal dia sudah memberikan serangan terbaik yang pernah ia miliki, namun hal itu seolah tiada berguna di depan pemuda pirang tersebut.

—Seolah-olah pukulan tadi hanyalah pukulan bayi yang baru lahir. Benar-benar tidak berdampak apapun, bahkan bisa dihindari dengan mudah tanpa menunjukkan sedikit rasa sulit pun.

"Hmm, hmm. Benar-benar hal yang cukup mengejutkan. Tapi tak apa, itu tadi terlihat menyenangkan untuk ditonton."

Freed berkata dengan senang seolah-olah ia baru saja menonton pertunjukkan teater kerajaan. Ia lalu melihat ke arah dua orang di depannya, Dohnaseek dan Mittelt benar-benar dikalahkan dengan telak oleh dua anak remaja yang kurang pengalaman.

"Kak Freed, tolong aku! Bocah bajingan itu membuat tanganku tidak bisa digunakan lagi. Tolong hancurkan dia sampai dia tidak bisa menggunakan kedua lengannya juga!" ucap Dohnaseek berteriak meminta sembari menunduk ke arah pria bernama Freed itu.

"Kak Freed, lihat apa yang gadis pirang jalang itu lakukan pada ku. Dia menusuk telapak tangan ku sampai-sampai terasa sakit sekali!" Berada di sebelah Dohnaseek, Mittelt pun juga menunduk sembari berteriak, meminta dan memohon kepada Freed.

Freed memandang bosan mereka. Sesungguhnya dalam benak Freed, baik Dohnaseek ataupun Mittelt sama sekali tidak ada nilanya. Mereka hanyalah alat yang ia gunakan untuk mencapai tujuannya. Namun, sebuah ide gila terlintas di kepala Freed. Setelahnya—

—Freed menyeringai gila.

"Hei, kalian berdua adalah keluarga ku, bukan?" Freed bertanya.

Sepasang pria dewasa dan anak perempuan itu saling pandang sejenak sebelum kembali menatap ke arah Freed yang tersenyum mencurigakan.

"Maksud kak Freed?" Mittelt memutuskan untuk bertanya pada pertanyaan ambigu yang dilontarkan oleh Freed.

Freed tersenyum lebar. Dia berjalan mendekati Mittelt—tangannya terulur untuk mencapai pucuk kepala gadis kecil tersebut. Mengelus pelan helaian-helaian pirang yang diikat kuncir kembar tersebut.

"Maksudku kita ini keluarga 'kan?" tanya Freed kembali yang langsung dijawab anggukan keras dari Mittelt.

Freed tetap bertahan pada senyumnya. Ia kemudian melihat secara bergantian pada Mittelt dan Dohnaseek yang nampak bingung.

"Baiklah ... kalau begitu gunakanlah ini." Kata Freed dilanjuti dengan mengambil sesuatu di balik jubah hitam miliknya. Setelahnya, apa yang ia ambil adalah sebuah botol yang nampaknya berisi pil-pil kecil berwarna hitam.

Dohnaseek nampak berkeringat ketika melihat botol itu. "Kak Freed, apa yang sedang kau pegang itu?" tanyanya yang dibalas senyuman kecil oleh Freed.

"Ini? Stt ... ini hanya sebuah pil yang akan membuat kalian menjadi kuat."

Kemudian Freed melempar botol itu pada Dohnaseek yang langsung ditangkap oleh pria tersebut menggunakan tangannya yang masih sakit. Freed menyuruh ia agar meminum tiga biji pil itu, meski sempat agak ragu namun Dohnaseek tetap menurutinya dan menegak tiga pil sekaligus.

Setelah Dohnaseek, botol itu pun diberikan juga kepada Mittelt. Sama seperti apa yang Dohnaseek lakukan—Mittelt juga menegak tiga pil yang sama.

Setelah beberapa saat, baik Dohnaseek ataupun Mittelt merasakan sesuatu mengalir dalam nadi mereka. Tubuh mereka berkeringat hebat, ada rasa sakit yang datang dari tubuh mereka—seperti sekumpulan jarum berapi yang menusuk dari bawah kulit.

"AaargghhhhhHHHH!"

Mereka berteriak hebat. Berguling-guling di tanah untuk menghilangkan rasa sakit yang mematikan itu.

Freed tertawa gila melihatnya. Bola mata merahnya seakan hendak keluar dari sana, menikmati pemandangan ini.

Di seberang, Naruto, Alice dan Gabriel memandang was-was pada sekelompok penjahat itu.

"Apa yang telah kau lakukan pada mereka?"

Freed melihat sejenak dan menemukan Gabriel yang tengah bertanya. Dari mata Freed yang merah dapat terlihat kekejian dan kejahatan yang berkumpul di sana.

"Apa yang ku lakukan?" tanya Freed dengan senyum misterius. "Aku hanya menunjukkan rasa cintaku pada mereka, kau tahu?" Ucap Freed dengan intonasi nada yang menyeramkan.

Gabriel terdiam. Jemari-jemari tangannya menggenggam erat rok putih yang ia kenakan. Sungguh ia merasa tak sanggup melihat dan mendengar orang-orang kesakitan hingga beteriak seperti itu.

Setelah beberapa saat, suara rintihan kesakitan telah menghilang digantikan dengan suara tertawa keras yang menggema. Dohnaseek dan Mittelt kini bangkit dari tempat mereka. Membuat hawa dan udara menjadi berat seketika.

"Seluruh tubuh ku menjadi ringan. Bahkan aku sudah bisa menggerakkan lengan ku kembali!" Dohnaseek berseru sembari merilekskan tangannya beberapa kali. Ia kemudian tersenyum iblis, menatap Naruto yang tak jauh di depannya.

"Akan ku balas kau kali ini, bocah!" geram pria pemilik tinggi 183 sentimeter tersebut lalu berlari menuju tempat Naruto berada.

Dalam sekian detik, pria itu telah berada di depan Naruto dengan satu pukulan tangan kanan yang kuat.

Naruto dibuat terkejut. 'Dia cepat!' batin Naruto berseru dengan kelopak matanya yang terbuka lebar.

Menyempatkan diri untuk memasang kuda-kuda defensif, Naruto menyingkan kedua tangannya guna memblokade pukulan keras itu.

*Duakh!*

Pukulan tersebut mengenai tangannya yang menyilang yang mana membuat Naruto tergeser satu meter ke belakang. Dengan keringat yang mengalir di keningnya, ia mengambil napas pelan.

'Jika aku tidak dengan segera melapisi tangan ku menggunakan prana, mungkin kedua tanganku sudah patah.' Ucap batin Naruto sembari melihat pergelangan tangannya yang nampak memerah dan berasap.

Udara terasa menjadi semakin memberat. Saat itu, insting pemuda pirang berteriak keras menandakan ada bahaya yang mengincar tubuhnya—membuat ia melompat tinggi ke atas untuk menghindari bahaya tersebut.

*Boom!*

Benar saja, 0,6 detik setelah ia melompat, tempat yang menjadi pijakannya tadi sudah menjadi kawah berdiameter dua meter lebih membuat Naruto meneguk ludah sesaat.

Setelah beberapa detik melayang tinggi di udara, Naruto mendaratkan kedua kakinya dengan anggun di tanah. Bahkan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia menatap Dohnaseek kemudian, mencoba mencari tahu mengapa kekuatan pria itu meningkat drastis.

Pemacunya adalah pil yang telah diminum oleh pria tersebut. Namun Naruto sama sekali tidak pernah mendengar adanya pil yang bisa meningkan kekuatan serangan secara langsung. Kalau pun ada, itu akan menjadi barang yang sangat langka dan juga mahal tentunya.

"Oi, bocah. Kemarilah dan biarkan ku mematahkan kedua tangan mu yang menjijikan itu!" ucap Dohnaseek garang kepada Naruto.

"Heeh, kau tentu sudah tahu kalau aku tidak akan menuruti perkataan mu itu 'kan, ossan." Balas Naruto dengan sedikit seringai. Ini menarik bagi Naruto, dia sama sekali belum pernah bertemu dengan seorang tanpa senjata yang kuat seperti ini.

"Kalau begitu akan ku ambil secara paksa."

Dohnaseek menghentakkan kakinya ke tanah menimbulkan hempasan kuat yang membuatnya dapat melaju dengan cepat ke arah Naruto.

"Mungkin aku akan menggunakan 10% dari kekuatan ku." Gumam Naruto sesaat. Ia lalu menutup kedua kelopak matanya. Kemudian mengambil napas dalamlah ia hingga udara terasa memenuhi paru-paru.

Naruto membentuk kuda-kuda ofensif—mungkin saling beradu serangan akan membuatnya sedikit unggul. Lagipula dia sedikit diunggulkan dengan kedua bilah Long sword yang tersemat pada kedua tangannya.

"Sword Skill: Dual Blades." Pemuda itu mengambil satu langkah ke depan dan menerjang ke arah Dohnaseek yang juga menerjang cepat ke arahnya. Kedua lengannya ia lebarkan ke kiri dan kanan—membuat kedua pedang itu terlihat seperti sayap yang bercahaya.

Dohnaseek menyeringai garang. Matanya menatap nyalang Naruto sembari mengayunkan pukulan tangan kanan kuat yang mengarah langsung pada jantung pemuda itu.

Naruto yang mengetahui hal itu mempercepat akselerasinya dan menggunakan kaki kiri untuk mendorong tubuhnya ke samping kanan sehingga pukulan itu hanya mengenai angin kosong. Setelah itu, Naruto mengayunkan kedua pedangnya bersamaan ke arah tangan pria bertopi fedora itu.

—Tebasan itu menimbulkan kembang api yang terpercik dan menyala.

"Apa?" Naruto dibuat sedikit terkejut karena pedangnya sama sekali tidak dapat untuk mengiris kulit tangan pria tersebut.

Merasa aneh, Naruto lalu menghentakkan kaki kanannya dan bergerak ke arah kiri kemudian. Ia kembali mengayunkan kedua pedangnya secara bersamaan untuk mengiris urat tangan pria tersebut, namun anehnya bilah pedang tersebut sama sekali tidak dapat untuk mengiris kulit itu.

—Membuat kulit itu serasa seperti potongan besi yang kuat dan kokoh.

"Hahahaha! Ada apa bocah? Kau merasa kesal karena tidak bisa menebasku 'kan?"

Naruto hanya diam tak membalas olokan dari pria itu. Dia hanya terus berkonsentrasi untuk menebas urat tangan pria tersebut menggunakan Sword Skill: Dual Blades—skill pedang dengan 6 tebasan beruntun.


Di tempat yang tak jauh, Alice juga sedikit kesusahan untuk melawan Mittelt yang semakin menggila dengan tarian belatinya.

—Dia adalah lawan yang lincah dan merepotkan.

"Nee, nee. Mengesalkan bukan? Lebih baik kau menyerah saja dan biarkan aku merobek mulutmu itu, gadis pirang jalang."

Alice tidak memperdulikan perkataan gadis kecil itu. Matanya melihat pergerakan Mittelt yang semakin lincah dan cepat—akselerasi yang dimiliki oleh gadis kecil sangatlah tinggi. Sehingga hal tersebut membuat Alice tetap bertahan pada kuda-kuda defensif miliknya.

Satu serangan dari arah kiri datang cepat.

Insting Alice berteriak keras memberikan efek pada tubuhnya yang langsung mengambil langkah ke belakang menghindari serangan mematikan tersebut.

Dalam beberapa detik, Alice dapat melihat lintasan belati yang hampir mengenai wajahnya itu. Bilah tajam yang memantulkan cahaya matahari terlihat sangat mematikan.

Berada di samping kiri—Mittelt nampak sedikit kecewa melihat serangannya yang gagal. Tubuhnya kini memberikan pertahanan terbuka sehingga hal tersebut tidak di sia-siakan oleh Alice yang kemudian mengayunkan pedangnya kuat ke arah gadis kecil itu.

"Haa!"

Ayunan pada pedang emas yang kuat memiliki cahaya emas pada bilah dan lintasan pedangnya.

Namun mata Mittelt dapat melihat dengan jelas tebasan tersebut sehingga dengan memanfaatkan kelincahannya, ia dapat dengan mudah menghindari tebasan tersebut.

"Cih!" Alice mendecih kecil. Kelincahan yang dimiliki oleh gadis itu benar-benar merepotkan.

Namun meskipun begitu, sebenarnya Alice bisa saja mengalahkan gadis kecil ini dengan satu kali serangan miliknya jika ia mau memaksimalkan kemampuan pedang miliknya. Tapi karena keinginan Gabriel yang memerintahkan agar tidak melukai mereka secara berlebihan, ia mengurungkan niat itu.

Oh ya, ngomong-ngomong tentang Gabriel, saat ini sang gadis pewaris keluarga Belgaria tengah memanggil pengawas ujian melalui perangkat komunikasi yang diberikan oleh pengawas ujian tersebut. Perangkat yang berupa alat yang mampu mengirim sinyal gelombang elektromagnetik dengan cara mengalirkan sedikit prana pada alat itu.

Sebenarnya tujuan alat tersebut digunakan adalah sebagai sinyal kalau kelompok mereka menyerah dan tidak ingin melanjuti ujian ini. Namun karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan membuat mereka terpaksa menggunakan perangkat itu.

"Schuberg-san, apa kau terluka?"

Alice menoleh sebentar dan menemukan Gabriel yang sudah selesai dengan perangkatnya.

"Aku baik-baik saja. Bagaimana ... apa kau selesai dengan perangkat pemanggilnya?"

Gabriel mengangguk pelan atas pertanyaan Alice yang lalu membuat gadis itu menaikkan sudut bibirnya ke atas.

"Baiklah. Kalau begitu bantu aku untuk mengurus anak kecil ini. Jika aku sendiri, aku bisa memberikan luka berat padanya."

"Baik. Aku akan menggunakan sihir cahaya pengikat untuk mengekang gadis itu."

Setelahnya Gabriel dan Alice melakukan kuda-kuda dan bersiap untuk melakukan kombinasi. Namun apa yang terlihat adalah hal yang tak terduga.

—Gadis kecil yang ada di sana nampak melotot matanya. Kulitnya menjadi ke merah-merahan. Tubuhnya menjadi semakin kurus dengan keriput di sana dan sini. Tampak beberapa kali gadis itu berteriak nyaring seolah-olah tengah dilanda kesakitan yang teramat sangat.

Dalam waktu mencapai 20 detik, gadis pirang yang lincah tadi kini berubah penampilannya menjadi gadis dengan tubuh kurus kering layaknya manusia yang tak makan beberapa bulan. Kulitnya berwarna coklat. Matanya berwarna merah. Sekujur tubuhnya menegang beberapa saat sebelum jatuh pingsan ke tanah.

"Apa itu?" Gabriel bertanya dengan suara terkejut.

Sudah belasan tahun ia hidup di dunia ini, hari ini adalah kali pertama ia melihat fenomena seperti itu. Begitu pula untuk Alice, ia juga sama sekali tidak pernah melihat peristiwa seperti ini.

"Oi ossan yang ada di sana. Sebenarnya pil apa yang kau berikan kepada mereka tadi?"

Berada tak jauh dari tempat Gabriel dan Alice berada, Naruto bertanya dengan sedikit berteriak. Namun kalau di lihat dari raut wajah pemuda itu, ia nampak terlihat seperti sedang menahan rasa amarah.

Dapat terlihat kalau pria yang melawan Naruto tadi memiliki kondisi yang sama dengan Mittelt. Dia juga nampak pingsan di tempat.

"Hmm, entahlah. Sebenarnya aku pun juga tak begitu tahu," jawab Freed dengan suara mengesalkan. Setelahnya, ia menyeringai setan. "Ah ... Tapi itu benar-benar pertunjukan yang menyenangkan. Benar-benar Perfect Harmony."

Naruto mendecih kecil mendengarnya. Dari dulu ia tidak menyukai orang licik yang hanya bisa memanfaatkan orang lain demi tujuannya. Itu benar-benar sifat kotor yang harus dibuang ke tempat sampah menurut Naruto.

"Sekarang aku tahu kenapa sejak awal aku bertemu dengan mu membuat ku merasa jijik dengan mu, ossan." Naruto berkata dengan dingin. Udara di sekitarnya menjadi berat—dapat terlihat sapuan angin yang nampak mengitarinya perlahan saat ini.

"Oi, oi, nak. Apa kau marah pada ku? Jangan bilang kalau kau marah untuk kedua sampah tak berguna ini nak." Freed bertanya dengan seringai kecil.

Naruto menatap tajam pada Freed. "Entahlah. Aku tidak tahu apa yang membuat ku marah sekarang, tetapi aku menjadi sangat marah melihat kelakuanmu yang mengorbankan mereka." Ucapnya dingin.

Mendengar hal itu, Freed lantas tertawa keras. Apa-apaan itu? Apa anak bau kencur ini bercanda padanya? Dia menjadi sangat marah hanya karena hal sepele seperti itu. Benar-benar sebuah lelucon yang membuat Freed tak dapat menahan tawanya.

"Hahaha. Hei nak, kemampuan melawakmu memang luar biasa. Kau satu-satunya orang yang mampu membuatku tertawa seperti ini."

Naruto tidak membalas ucapan Freed. Dia tetap menatap tajam pria itu dengan mata birunya. Dengan satu kuda-kuda sederhana dan dengan mengubah caranya memegang pedang—pedang di tangan kiri di pegang dengan bilahnya lurus kebelakang, sedangkan yang sebelah kanan tetap normal seperti biasa—Naruto menyiapkan diri untuk menyerang pria itu.

"Original Sword Skill—"Naruto mengambil napas dalam. Kuda-kuda yang diperlihatkan olehnya begitu berbeda dari yang pernah ada. "—Wind Breathe—" Udara menjadi terasa memberat kala itu.

"Wah, wah, wah. Itu terlihat berbahaya, nak."

Naruto melebarkan matanya terkejut, konsentrasi yang sebelumnya ia bangun menjadi hancur seketika.

'Bagaimana bisa!' batin Naruto berteriak.

Ia di buat terkejut karena pria bernama Freed itu secara tiba-tiba berada di depannya saat ini. Itu terlalu cepat bahkan bagi seorang pengguna [Body Skill: Accel] sekalipun. Kecepatan yang abnormal seperti ini belum pernah ia lihat sebelumnya.

Freed nampak menyeringai melihat wajah terkejut pemuda di depannya. Dengan segera ia menyiapkan sebuah lingkaran sihir sedang pada tangan kanannya yang bersiap untuk ia arahkan kepada pemuda itu.

"Orang seperti mu ini akan merepotkan kalau di biarkan hidup."

Bersamaan dengan itu, Freed melesatkan tangannya yang terbalut lingkaran sihir ke arah Naruto. Namun instingnya berteriak untuk menjauh.

Dengan gerakan cepat, Freed melompat ke belakang segera sebelum bersalto kemudian. Setelah itu, tempat di mana ia berpijak sebelumnya telah tertancap sebuah pedang yang nampaknya keseluruhannya terbuat dari petir murni.

"Wah, wah, wah. Kita memiliki pengganggu di sini." Ucap santai Freed yang lalu menoleh ke arah kiri atas.

"Maa. Maaf untuk keterlambatannya, tadi aku tersesat di jalan yang bernama kehidupan."

Berdiri pada dahan pohon yang tidak terlalu besar, terdapat seorang pria yang mengenakan armor lengkap yang berwarna perak bercampur biru dengan masker yang menutupi wajahnya. Rambutnya yang berwarna putih seperti uban tertiup oleh sang angin.

Ia melihat sesaat kondisi di depannya. Setelah melihat hal itu, dengan segera ia melompat jauh ke depan—tepat menuju pada pedang petir yang tengah menancap di tanah. Pria itu lalu berdiri membelakangi Naruto.

"Medicina Fuerte ... jenis pil yang baru-baru ini di temukan. Terbuat dari darah iblis yang berfungsi untuk menambah kekuatan seseorang secara langsung. Namun karena terbuat dari darah iblis, pil ini memiliki efek yang mengakibatkan kerusakan fatal pada organ tubuh. Oleh karena itu, pihak militer menyebut pil ini sebagai Narkotika."

Pria yang baru saja tiba itu langsung saja bicara panjang lebar. Baik Naruto, Alice dan Gabriel langsung paham pil apa yang dimaksud oleh pria bersurai uban itu.

"Seperti yang diharapkan dari seseorang yang dijuluki sebagai Taring Kekaisaran, kau bisa tahu banyak mengenai info tersebut, sir Hatake Kakashi." Komentar Freed. Dia menyeringai melihat Kakashi yang menatapnya datar.

"Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi karena kau telah menganggu ketenangan di dalam ujian ini dan juga karena terbukti menyebar Narkotika, aku akan menangkapmu." Ucap Kakashi yang dilanjutkan dengan dicabutlah pedan petir yang menancap pada tanah tadi.

Freed menghela napas. "Sebenarnya aku ingin sekali melawanmu. Namun sayangnya pemimpinku adalah seseorang yang kejam dan juga pengecut. Dia meminta ku untuk mundur sekarang." Ucap pemuda tersebut.

Kakashi yang mendengarnya tentu tidak akan membiarkannya. Setelah menarik pedangnya itu, Kakashi langsung melesat ke arah Freed yang hanya menyeringai dan berdiri santai. Namun ketika ia telah sampai tepat di depan pria itu, sebuah bayangan hitam muncul di bawah kaki Freed yang lalu kemudian menghilanglah Freed seolah-olah ditelan oleh bayangan hitam tersebut.

Juga, bayangan itu membawa Mittelt dan Dohnaseek yang sedang pingsan. Setelahnya, bayangan itu pun menghilang tanpa jejak.

Kakashi hanya mampu mendecih. Dia lalu menatap ke arah Naruto dan kawan-kawan, melihat sejenak kondisi mereka yang nampak baik-baik saja. Setelahnya, pria yang mengenakkan armor lengkap kecuali pada bagian kepala itu menghela napas.

"Apa kalian sudah menyelesaikan misi pencariannya?" tanya pria tersebut.

Gabriel sebagai ketua dari regu ke-13 mengangguk pelan. "Jika yang di maksud 'sesuatu' yang di katakan oleh Vasco-sama adalah Griomoire ini, maka kami sudah menyelesaikannya sejak tadi, Sir Kakashi-sama." Ucap Gabriel yang diikuti oleh tangan Alice yang mengenggam buku sihir itu di sampingnya.

Kakashi mengangguk pelan. "Bagus, kalau begitu lebih baik kalian langsung mengarah ke Central Tower dan mengistirahatkan tubuh kalian di sana." Ucap Kakashi yang langsung di jawab oleh Gabriel.

"Baik, terima kasih atas pertolongan anda, Sir Kakashi-sama."

"By the way tolong hilangkan saja sufiks -sama yang kau gunakan. Aku tidak menyukainya." Ucap Kakashi sembari memberikan eye smile pada matanya.

Hal itu langsung dibalas anggukan oleh Gabriel. Kemudian dia dan Alice langsung menghampiri Naruto yang tak jauh dari tempat mereka. Wajah yang ditunjukan oleh Naruto kini sama seperti biasanya, yang mana begitu tenang dan enak di pandang.

Setelahnya, mereka menyempatkan diri untuk mengucapkan terima kasih kepada Kakashi sebelum melanjutkan langkah kaki mereka menuju menara yang berada di pusat Dungeon untuk mengistirahatkan tubuh mereka sebelum melanjutkan tes atau ujian yang kedua.

Bersama dengan Kakashi, dia menatap sekelompok calon Kesatria Sihir itu dengan mata tenang miliknya. Namun, hal yang paling ia perhatikan adalah pemuda pirang yang ada di sana.

"Dia kan—"

Bunyi riuh angin menghapus suara sang pemuda uban.

-3-

Sekarang sudah tiga hari tes atau ujian tahap pertama dijalankan. Waktu satu minggu penuh yang diberikan nampaknya bisa dimaksimalkan dengan baik oleh para kadet calon anggota Kesatria Sihir. Walaupun masih tersisa empat hari lagi sebelum tes ini ditutup, sekarang sudah banyak kelompok yang memenuhi Central Tower.

Teruntuk tim ke- 13 yang terdiri dari Gabriel La Belgaria, Alice Schuberg dan Naruto Namikaze menjadi tim ke- 16 yang telah sampai ke tempat ini. Itu artinya masih tersisa 44 kelompok lagi yang belum menyelesaikan ujian tahap pertama ini.

Setelah menunjukan Grimoire yang telah mereka peroleh, mereka diarahkan ke tenda-tenda kecil di sekitar Central Tower yang dibagi menjadi 60 tenda, yang mana jumlah itu sesuai dengan jumlah kelompok yang telah dibagi sebelumnya. Juga, ada beberapa tenda besar yang merupakan tempat dari para pemimpin Squad Kesatria Sihir Kekaisaran.

Matahari nampak sudah berada di barat, tanda sang ratu malam akan berganti memimpin dunia setelah raja siang.

Trio pirang sudah sampai pada tenda mereka yang tidak begitu besar. Tenda yang di dalamnya hanya berisi peralatan tidur seadanya. Mereka lalu mengambil posisi masing-masing. Mereka tidak mempermasalahkan untuk tidur setenda dengan orang asing, apalagi berbeda gender karena menurut mereka bertiga tidak ada gunanya mempermasalahkan itu.

Dikarenakan rasa lelah yang tidak ada henti-hentinya menyerang tubuh, mereka pun tertidur dan terlelap di sana.

Tak terasa hari-hari terlewati begitu saja seolah-hal ratusan ribu detik terlewati begitu saja. Saat ini memasuki hari ke- 9 mereka berada di dalam Dungeon Death Forest. 7 hari sudah terlewati dua hari yang lalu yang mana dari ke- 60 kelompok kadet yang diberangkatkan hanya tersisa sekitar 49 kelompok yang mampu menemukan Grimoire-grimoire yang disembunyikan di hutan-hutan.

Itu artinya ada 11 kelompok yang gagal atau tidak memenuhi syarat untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

Sekarang, di hari yang ke- 9 ini para kelompok kadet yang berhasil kini dibariskan di dalam aula besar yang bertempat di Central Tower. Saat ini, dua orang wanita dewasa yang bernama Grayfia Lucifuge dan Kaguya Ootsutsuki sedang menerangkan tentang ujian tahap kedua yang akan berlangsung mulai hari ini.

"Ujian tahap dua akan dilakukan secara individu, yang mana artinya kami akan mengetes kemampuan individu kalian. Bisa dibilang kami akan mengadu kalian semua untuk bertarung one by one. Seluruh tindakan kasar diizinkan selama itu tidak membunuh."

"Juga, dengan diakomodasikan dengan nilai yang kalian dapat di tahap sebelumnya, tahap ini akan menunjukkan peringkat yang akan kalian dapat. Kami akan memajang nama-nama yang berhasil menduduki peringkat sepuluh besar nantinya."

Penjelasan yang dilakukan oleh Kaguya dilanjutkan pula oleh Grayfia. Kedua perempuan dewasa bersurai silver itu menjelaskan perihal ujian tahap dua ini kepada para kadet yang nampak mengangguk dan mengerti.

Cukup lama penjelasan itu dilakukan hingga pada saatnya tibalah pengundian nama yang akan dilakukan secara acak melalui layar yang diproyeksikan mengguna kristal sihir. Layar proyeksi itu berada berada di pojok aula—yang mana layar tersebut nampak tengah mengacak-acak nama yang dari para kadet yang akan bertarung di hari ini.

Angin berhembus pelan melalui jendela dan celah ruangan. Setelahnya, layar tersebut berhenti dengan menunjukan dua nama.

Vali Silver vs Naruto Namikaze

"Untuk dua nama yang tertera silahkan menuju ke depan. Untuk yang lain, kalian diperbolehkan untuk duduk di kursi penonton." Ucap Grayfia dengan suara khasnya.

Naruto menatap malas layar tersebut. Dalam benaknya dia bertanya, kenapa dia bisa sial seperti ini?! Tapi, meskipun begitu, ia tetap bersikap profesional. Dengan menenteng lilitan kain yang ia gendong—dia menuju ke depan, dimana pertarungan akan menunggunya di sana.


"Kadet-kadet tahun ini nampak menjanjikan, bukankah begitu, Sir Kakashi?"

Duduk pada kursi yang berada di tempat teratas, seorang pria berambut hitam jabrik yang bagian depannya sengaja cat pirang berkata seraya menyeruput teh pada cangkir.

"Kau benar, Sir Azazel. Aku bahkan sangat terkesan melihat betapa kuat para kadet tahun ini." Balas Kakashi yang juga sedang duduk pada kursi khusus di samping pria bernama Azazel tersebut.

Azazel tertawa pelan. "Itu karena kau memutuskan untuk melihat cara mereka bertahan hidup di hutan beberapa hari yang lalu. Itu bisa di kategorikan sebagai kecurangan, Sir Kakashi. Kau bisa memilih bawahan sesukamu dengan itu." Ucap pria tersebut yang dibalas tawa kecil oleh Kakashi.

"Kalian berdua sepertinya cukup menikmati pembicaraan yang jarang ini, apa topiknya menarik?"

Baik Kakashi maupun Azazel menoleh ke sumber suara. Di sana, seorang pria tampan dengan rambut merah nampak tersenyum ramah ke arah mereka. Pria itu duduk pada kursi di sebelah kanan dari Azazel.

"Seperti biasa, Sir Kakashi kembali melakukan tindakan konyol yakni memantau para kadet untuk bertahan hidup di hutan beberapa hari yang lalu. Bukankah menurutmu itu tindakan yang sangat curang, Sir Sirzechs?"

Mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Azazel membuat pria yang dipanggil Sirzechs tersebut tertawa pelan.

"Menurutku tidak, Sir Azazel, sebenarnya itu masuk ke dalam kategori strategi perekrutan," Sirzechs menyeringai kecil. "Aku bahkan meminta Diehauser untuk melakukan hal yang sama."

"Cih! Kalian berdua sama curangnya."

Dan percakapan itu pun diakhiri dengan tawa dari ketiganya. Setelah cukup lama, mereka kemudian memandang ke arah tengah aula yang sebenarnya berbentuk seperti arena ini. Di tengah aula, dua orang pemuda dan dua orang wanita sedang berdiri—dengan catatan dua pemuda tersebut saling berhadapan dengan jarak 20 meter.

"Vali Silver melawan Naruto Namikaze. Seorang bangsawan melawan rakyat biasa. Sang pengguna Sacred Gear melawan pemuda antah berantah. Hmm, nampaknya aku sudah dapat menentukan siapa pemenangnya di sini." Kata Sirzechs yang lalu menyesap secangkir teh yang telah tersedia di meja; yang mana ucapannya tersebut langsung dihadiahi tawa kecil oleh Azazel.

"Seperti biasa. Kau selalu menebak kemampuan seseorang dari jalur keluarganya, Sir Sirzechs," ucap Azazel yang hanya dibalas dengan senyuman percaya diri dari Sirzechs. "Tapi, entah mengapa aku merasa familiar dengan nama Namikaze itu." Lanjut pria tersebut yang langsung mengambil perhatian Kakashi yang nampak tersedak dengan tehnya.

"Ada apa, Kakashi? Apa kau teringat salah satu scene ero yang ada pada Ica-Ica Paradise?" tanya Azazel sedikit bercanda, namun pemuda bermasker itu hanya menggelengkan kepalanya.

"Tidak, aku hanya terlalu bersemangat untuk menantikan pertandingan ini." Balas Kakashi polos.

Meskipun begitu, Azazel dapat melihat nampak ada sesuatu yang disembunyikan oleh salah satu dari enam Kesatria Sihir tingkat atas itu.

"Ah, lihat pertarungannya sudah di mulai."


Dan perkataan Kakashi tersebut membuat mereka—enam orang yang duduk di kursi khusus—memutuskan untuk memperhatikan pertandingan ini.

"Nama mu Naruto Namikaze, bukan?"

Suara yang begitu penuh akan kesombongan itu berasal dari seorang pemuda bersurai silver yang melawan gravitasi dengan wajah ikemen. Pakaiannya terdiri atas mantel hitam panjang dengan kameja putih, celana jeans dan sepatu berwarna hitam. Pemuda itu adalah Vali Silver, orang yang akan menjadi lawan Naruto pada pertandingan ini.

"Iya, dan kau sudah pasti Vali Silver. Dilihat dari namamu, sepertinya kau salah satu anggota bangsawan kelas atas." Balas Naruto yang saat ini sedang menggunakan pakaian sederhana berupa kaos putih polos, celana jeans hitam dan sepatu hitam.

"Itu benar. Baiklah, Namikaze. Aku akan memberikan mu kesempatan untuk menyerah. Aku sedang tidak mood untuk bertarung dengan orang lemah saat ini." Ucap Vali sombong seraya menatap remeh Naruto.

Mendengar kalimat itu membuat Naruto menyeringai kecil. "Baiklah, kalau begitu akan ku tunjukan kalau aku adalah lawan yang pantas untukmu." Ucapnya.

"Kalau begitu silahkan serang aku, jika kau mampu membuatku tertarik maka aku akan sedikit serius melawanmu." Balas Vali yang lalu di akhiri dengan bersedekap dadalah ia—menunggu Naruto bergerak ke arahnya.

Naruto mengambil napas pelan. Di keluarkannya lah kedua pedang berjenis Long Sword miliknya dari Dimension Space Magic. Setelah itu, ia mengambil kuda-kuda ofensif yang biasanya sering digunakan oleh para pengguna Sword Skill.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Naruto bergerak cepat menuju Vali. Dengan sekejap mata, Naruto berada di depan pemuda perak tersebut dengan satu ayunan pedang bagian kanan yang di ayunkan secara horizontal, kemudian ia melanjutkan ayunan pedang bagian kiri.

Vali hanya melompat kecil untuk menghindari hal tersebut. Matanya nampak menatap kebosanan.

"Apa-apaan itu? Apa kau baru saja belajar memegang pedang, huh?" ucap Vali memprovokasi.

Namun Naruto tidak memperdulikan provokasi tersebut. Ia tetap fokus pada konsentrasinya untuk menebas mengenai pemuda sombong yang menjadi lawannya.

"Sword Skill: Dual Blades." Naruto bergumam pelan yang mana hal itu mengakibatkan kedua pedangnya kini dilapisi oleh prana yang bercahaya biru pada bilahnya.

Ia menarik napas pelan sebelum melesat dengan cepat menuju ke tempat Vali yang hanya memandangnya kebosanan.

*Slash!*

*Slash!*

Skill pedang yang mana penggunanya akan melakukan 6 tebasan beruntun tersebut masih tidak bisa mengenai Vali. Pemuda perak tersebut terus melompat dan menghindari jalur tebasan Naruto dengan sangat mudah.

"Ah, ini membosankan. Apa kau sudah cukup? Aku ingin mengakhiri pertarungan ini segera." Ucap Vali yang belum mendidih semangat bertarungnya.

Meskipun ia sangat menggemari pertarungan, tetapi ia sama sekali tidak ada minat untuk melawan orang yang lemah. Itu adalah penghinaan bagi Vali.

"Heeh, baiklah. Bagaimana dengan yang ini," Naruto mengambil jarak dari Vali, mata birunya tidak ada lepas dari tempat Vali berada. "Accel."

Vali sedikit terkejut melihat pergerakan super cepat dari pemuda di depannya. Yang mana hal tersebut membuatnya sedikit bersiaga. Insting pemuda perak itu berteriak ketika merasakan sebuah serangan super cepat yang diarahkan padanya.

Vali lalu menunduk cepat, sehingga tebasan yang berasal dari arah belakang tersebut hanya dapat mengenai sebagian kecil dari rambutnya. Serangan kedua datang berupa tusukan dua pedang ke bawah yang lalu memaksa Vali untuk berguling ke samping untuk menghindari serangan mematikan itu.

Vali sedikit menyeringai ketika bangkit dari tempatnya. Ia melihat ke arah Naruto yang kini mengambil jarak darinya.

"Jangan bilang kalau kau bisa menguasai Skill tingkat tinggi seperti Accel?" tanya Vali memastikan. Dia lalu menepuk pakaiannya yang kini berdebu.

"Coba tebak." Balas Naruto seolah memberikan Vali sebuah teka-teki.

"Menarik." Ucap Vali menyeringai.

Naruto lalu kembali melakukan kuda-kuda yang sama seperti sebelumnya. Setelah itu, ia melesat cepat seperti cahaya menuju ke arah Vali yang kini jauh lebih siap dari sebelumnya.

Dengan kilatan kuning, Naruto tiba-tiba berada di depan Vali dengan dua buah pedang yang bersiap menusuknya. Kedua bilah pedang yang nampak begitu lapar untuk meminta darahnya.

Vali yang kini jauh lebih siap dapat menghindari serangan beruntun Naruto dengan gesit. Bahkan satu kalipun bilah itu tidak menemui kulitnya. Jika dilihat dari bangku penonton, itu terlihat seperti Vali yang tengah menari bersama cahaya kuning.

Juga, beberapa kali Vali akhirnya memberikan serangan balasan berupa pukulan ataupun tendangan. Namun itu juga dapat dihindari oleh Naruto dengan mudah.

Setelah beberapa kali menggunakan Accel, Naruto menjadi berkurang kelincahannya sehingga membuat Vali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan mengandalkan posisinya yang saat ini tengah melayang di udara—ia mengarahkan Axe Kick kuat pada Naruto yang berada di bawah.

Namun, sekali lagi Naruto dapat lolos dari serangan tersebut meskipun punggungnya sempat terbentur sedikit sebelum ia kabur menggunakan Accel.

"Skakmat." Ucap Vali yang hanya dibalas satu alis terangkat oleh Naruto.

Naruto nampak tak mengerti maksud perkataan Vali yang mana kata skakmat sendiri berasal dari permainan catur yang berarti lawan telah berhasil dikalahkan.

Tapi apa? Dia masih berdiri dengan sehat wal afiat sekarang.

Vali yang nampaknya menyadari kebingunan Naruto sedikit menyeringai kecil. Setelah itu, sebuah sayap putih bercampur biru muncul di belakang pemuda tersebut. Sepasang sayap mekanik yang diikuti oleh sebuah suara mekanik pula.

[Divide]

Dalam sekejap, Naruto jatuh dengan hanya lutut sebagai tumpuannya. Apa-apaan ini? Tubuhnya terasa kehilangan tenaganya tiba-tiba. Seolah-olah diserap secara paksa darinya.

"Masih belum kah?" Vali mengangkat sebelah alisnya melihat pemuda yang menjadi lawannya masih dapat bertahan. Padahal ia sudah membagi prana milik pemuda itu dan di jadikan sebagai miliknya.

[Divide]

Kali ini, suara tersebut terdengar lagi diikuti oleh Naruto yang tak dapat lagi bertahan menggunakan kedua lututnya—membuat ia tergeletak dan tengkurap pada lantai. Matanya masih terbuka, namun hampir semua tenaga dan prananya telah hilang dari tubuhnya.


Berada di tempat penonton, Gabriel menatap khawatir Naruto yang nampak sedang kepayahan saat ini. Hatinya meronta tak enak melihat pemuda yang sudah menjadi temannya itu akan kalah.

"Apa itu?" Duduk di sebelah Gabriel adalah Alice yang sedang bertanya.

"Divine Dividing. Salah satu dari sekian Sacred Gear yang keberadaannya merupakan salah satu keajaiban di dunia ini. Yang di miliki oleh pria bangsawan Silver itu adalah salah Sacred Gear bernama Divine Dividing—Sacred Gear yang menyimpan salah satu dari dua naga Surgawi. White Dragon Emperor, Albion adalah namanya—

—Sebuah Sacred Gear yang telah mencapai tingkat Longinus, dikatakan sebagai senjata yang mampu untuk membunuh Dewa. Kekuatan yang di milikinya adalah mampu membagi setengah kekuatan lawannya setelah melakukan kontak fisik dalam kurun waktu 10 detik."

Setelah mendengar hal tersebut Alice memandang khawatir Naruto. Ia berharap agar pemuda yang telah mendapat predikat menarik dalam matanya itu untuk dapat bertahan.

Di sebelahnya Gabriel juga sama, dalam hatinya ia berdoa—agar temannya itu dapat bertahan melawan seorang pengguna Sacred Gear tersebut.


Naruto merasakan kekuatannya telah hilang sepenuhnya. Bahkan untuk menggenggam pedang saja ia sudah tidak mampu. Rasanya ia ingin segera pingsan sekarang.

—Namun sebuah suara terdengar di kepalanya.

"Naruto ... jika kau merasa lelah, jika kau merasa lemah, jika kau merasa terpojokan, jika kau merasa kalah— kau harus tetap meniti hidupmu. Tak peduli seberapa sakit pun, kau harus bangkit, kemudian genggam Harta Mulia ini. Ayah selalu bersamamu."

—Naruto teringat perkataan ayahnya kala itu. Ketika mereka berdua sedang berjalan di sekitaran danau di kota Lady of the Lake.

Mengikuti suara dan ingatan tersebut, Naruto mencoba bangkit—menarik napas dalam dengan tangan dan tubuhnya yang bergetar.

"Ja-jangan bercanda. Aku tidak akan kalah di tempat ini sebelum impian ku tercapai." Ucap Naruto dengan suara bergetar yang dihadiahi rasa terkejut dari Vali.

'Pemuda ini!' seru batin Vali yang cukup terkejut melihat lawannya dapat bangkit bahkan setelah ia dua kali membagi prananya.

[Divide]

Naruto terjatuh kembali. Namun dengan segenap kekuatan yang ia miliki—ia bangkit kembali.

Seluruh penonton bersorak melihat pemuda tersebut bangkit. Sedangkan Naruto yang mulai bangkit dengan tubuh bergetar secara perlahan berusaha untuk berdiri.

—Lututnya lemah, pergelangan kakinya bergetar, napasnya cepat; dengan tubuhnya yang kini berdiri tegap, rasa sakit memenuhi seluruh tubuhnya dan hampir membuatnya hilang kesadaran. Namun meskipun itu sulit, Naruto tetap menatap lurus ke depan.

Secara perlahan ia mengambil lilitan kain pada benda yang sejak dulu selalu ia gendong. Kedua tangannya membuka pelan lilitan kain putih tersebut dengan bergetar.

Sejenak, seluruh penonton menjadi sunyi seketika—menunggu apa yang akan diperlihatkan oleh pemuda itu. Begitu pula dengan Vali, ia juga diliputi rasa penasaran dengan terus melihat apa yang akan lawannya tersebut perlihatkan.

Dalam beberapa saat setelahnya. Lilitan itu terbuka sepenuhnya—menampilkan maha karya yang membuka lebar seluruh mata yang melihatnya.

Dengan legendanya. Dengan bentuknya. Dengan keagungannya. Dengan auranya yang memancarkan segala kehormatan dan kebaikan. Sesuatu yang menjadi simbol para Kesatria dan para Raja.

Sesuatu yang ditempa oleh Dewa. Ditempa oleh dunia sebagai kristalisasi keinginan seluruh umat manusia.

Sword of Promised Victory—Excalibur.

Puncak dari seluruh pedang suci yang tersebar di seluruh dunia.

Pedang kebanggaan seorang Kesatria terkuat sepanjang masa.

Pedang yang memiliki panjang 90 sentimeter dengan lebarnya 12 sentimeter. Biilahnya yang bertuliskan huruf para peri yang menjadikannya bukti sebagai bukan merupakan karya manusia fana.

Pedang legenda yang ditarik oleh seorang pemuda bernama Minato Pendragon—seorang mantan Holy Knight yang kemudian menghilang secara tiba-tiba sepuluh tahun yang lalu.


To be Continued


A/N:

Yo Sawadikhap! Apa kabar kalian semua? Semoga baik-baik saja.

Sebelumnya maaf karena lama tidak mengupdate fanfiksi milikku. Itu dikarenakan aku yang tengah Ujian Akhir Semester. Sekarang aku baru memasuki fase liburan, oleh karena itu aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengetik fanfiksi ini. Dan hora! Hampir mencapai angka 10k!

Sebenarnya aku ingin mengupdate fanfiksi ini barengan dengan yang lainnya. Tapi yang lain sedang dalam proses editing. Jadi besok atau lusa adalah dua fanfiksi sekaligus!

Bicara tentang fanfiksi ini, aku terinspirasi dari manga Black Clover dan juga Fairy Tail. Untuk Vivian, itu adalah salah satu dari banyak nama yang dimiliki oleh Lady of the Lake.

Aku memohon dengan sangat agar para pembaca bisa memberikanku kritik ataupun saran mengenai tulisan ini. Aku ingin semangatku dalam menulis bangkit kembali.

Okay, by the way aku masuk ke dalam group whatsapp bernama Fanfiction Indonesia. Jadi bagi para kawan yang ingin masuk silahkan pm saya. By the way di sini banyak author kece-kece seperti , , Hanakusha dan banyak lagi dah.

SEKIAN SAJA, TERIMA KASIH!

SAWADIKHAP!

#RamaikanFFN2020

Diedit kembali pada 08 Maret 2020