"Suga-san?"

Kepada Tanaka yang menatap bingung sekaligus penasaran, Sugawara menoleh, tangan yang sedari sepuluh menit lalu sibuk memijat bahu diturunkan. Senyum khasnya yang sering dianggap Daichi sebagai obat penenang direkahkan, "Ada apa Tanaka?"

Tanaka menggeleng pelan, "Tidak apa-apa sih." Botol minuman disodorkan kepada Sugawara sambil mendudukkan diri disebelah si setter. "Hanya penasaran, sedari tadi Suga-san sibuk sendiri sampai aku dan Noya-san yang bertengkar saja tidak dilerai seperti biasa."

Alis Sugawara naik sebelah, sekali lagi meneguk dan memincing kepada Tanaka, "Lagi?"

Tanaka bersiul kecil, kentara sekali sedang menghindari tatapan Sugawara yang kalau sedang kesal itu mirip sekali dengan jelmaan Hannya. Tapi sejurus kemudian Sugawara ditatapnya lagi, jarinya menuding bahu sang senior, "Bahu Suga-san sakit? Butuh kompres es?"

Sugawara berkedip, satu, dua kali, kemudian tertawa sambil menggeleng. Bahu ditepuk dua kali, "Tidak usah. Aku sudah biasa, sebentar lagi juga sakitnya mereda."

Tanaka ber-hm panjang, tapi matanya sekarang menyasar pada Asahi yang sedang melatih spike dengan Daichi sebagai setter. Pertanyaan tanpa sadar meluncur, "Apa karena sedari kemarin Suga-san terus melakukan toss untuk Asahi-san dan aku?"

Sugawara mengangkat alis lagi, kemudian mendengus senyum. Kepala plontos Tanaka ditepuk sampai pemiliknya mengalihkan atensi kepadanya, "Bukan salahmu kok."

"Suga-san istirahat saja ya?" Tanaka menyarankan, air mukanya terlihat khawatir. "Kalau sampai cedera bisa gawat. Nanti aku ijinkan kepada Ukai-san."

"Wah!" Sugawara terlonjak. "Tidak perlu. Aku sungguhan baik-baik saja, hanya perlu istirahat sebentar kok. Lagipula, Ukai-san dan Takeda-sensei juga sedang pusing memikirkan Hinata yang berulah di camp Shiratorizawa, aku jadi tidak tega kalau hal sepele ini sampai menambah beban pikiran mereka."

"Tidak sepele, Suga-san." Sangkal Tanaka, tidak terima apa yang dirasakan Sugawara malah dianggap sepele oleh yang bersangkutan. "Bisa memicu cedera kalau dipaksakan. Terlebih Suga-san juga punya tanggungan lain diluar voli, sayang kan kalau nanti cedera malah jadi beban dan Suga-san jadi tidak bisa mengerjakan hal lain dengan maksimal."

"Aku saja tidak berpikir sampai kesana loh, Tanaka hebat ya."puji Sugawara, kembali menepuk puncak kepala yang bersangkutan sampai Tanaka memerah karena ketahuan sedang khawatir berlebihan.

"Biasa saja."

"Hebat loh."

"Biasa saja, Suga-san."

"Hebat loh, sungguh."

"Suga-saaan."

Sugawara terkekeh pada Tanaka yang mati-matian menutup wajah, telinganya memerah sampai turun ke leher, malu. "Kau ini, dipuji tidak mau ya?"

"Suga-san, aku bukan Hinata atau Noya-san, tahu."

"Tahu kok." Sugawara kembali merekahkan senyum penenang, dadanya menghangat karena tahu juniornya yang satu ini ternyata punya rasa simpati yang tingi. Kepala Tanaka kembali ditepuk, dan seruan Daichi dari tengah lapangan yang bisa ditangkap sebagai usainya latihan hari ini terdengar. Sugawara berdiri "Ayo pulang."

Tanaka berkedip dua kali, "Hari ini sudah usai ya?"

"Iya." Sugawara meraih satu dua bola yang teronggok di dekat kaki, disangga di satu tangan sementara tangan lain mengangkat botol minuman sampai mendarat pelan di pucuk kepala Tanaka. "Kau harus pulang, Tanaka."

Tanaka mengangguk sambil ikut berdiri, "Suga-san juga."

.

.

.

.

.Owari.

.

.

.

.


Haloooo :D

Aku baru berani terjun langsung ke dalam dunia fanfiksi baru-baru ini, aku sangat bersemangat!

Mohon bimbingannya (_ _)

RnR please?