Author: Ini bisa dibilang fic pasangan dari Mortal Body, Immortal Love. Versi fic sebelumnya yang jadi personifikasi itu si Alfred (Hetalia). Nah kalau di fic ini gantian, yang jadi personifikasinya Amelia (Nyotalia), Alfrednya jadi manusia biasa.

(Terus juga karena Author lagi kesemsem sama baju militer America. Baru sadar Himaruya ngegambar seragam khusus masa Perang Dingin Amerika dua kali. Satu versi dasi, satunya scarf)

Disclaimer: Hetalia milik Himaruya

Warning: Istilah militer aja sih


Joint Base Lewis–McChord 12:00PM

Di sebuah kafeteria yang merupakan bagian bangunan fasilitas militer Amerika Serikat terlihat sedang penuh diisi para tentara kelaparan. Mereka semua sama-sama makan dengan santai karena memang hari itu tidak ada kejadian berarti. Tak ada latihan serius atau apapun yang mengejutkan seisi pangkalan. Diantara kerumunan para tentara, terlihat salah satu orang paling mencolok. Mencoloknya ini bukan dari baju (karena mereka semua sedang memakai kaos pendek Air Force) maupun wajahnya yang memang bisa dikatakan termasuk baby face, tapi sebuah rambut melawan arus diantara rambut pendeknya sudah pasti ditatap aneh oleh orang yang baru pertama kali bertemu.

Ia terlihat tertawa bersamaan dengan tentara lainnya karena lelucon diantara mereka. Di depan masing-masing tentara juga terdapat wadah makanan.

Baru saja laki-laki dengan rambut mencuat selesai makan, seseorang dengan dress uniform Angkatan Udara berlari dari pintu keluar kafeteria menuju di mana ia duduk.

Laki-laki dengan pakaian lengkap hormat dan dibalas dengan perlakuan sama oleh si rambut mencuat, "permisi, Captain Jones. Anda dibutuhkan di ruang kantor secepatnya."

Selesai menyampaikan pesan dari atasan di kantor, laki-laki dengan seragam formal langsung mohon diri. Setelah kedua mata laki-laki yang dipanggil Captain Jones sudah yakin kalau pemberi pesan sudah jauh dari kafeteria, ia baru mengeluarkan erangan malas.

"Untuk apa mereka membutuhkanku? Kan sekarang hari santaaai!" Ia mengeluh dan untungnya dibalas dengan tepukan bermaksud untuk simpati di pundak oleh kolega di sampingnya.

"Good luck, Cap"

"Yah yah... kalian sih enak masih bisa santai." Laki-laki dipanggil 'Captain Jones' kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan titik di mana ia sudah merasa nyaman duduk dan mengobrol. Langkahan kakinya terlihat berat karena rasa malas. Walaupun berakhir meningkatkan kecepatan karena takut dimarahi atasan.

Setelah sampai di depan ruangan kantor di mana para pejabat militer berada, ia menyadari dari suara dibalik pintu telah diisi beberapa orang. Jika kita kira-kira, si kapten dengan rambut mencuat bisa dibilang pejabat Angkatan Udara di pangkalan Lewis–McChord paling terlambat karena ruangan sudah diisi penuh oleh orang-orang penting. Belum ditambah dia masih memakai kaos latihan fisik belum berganti ke seragam seharusnya. Erangan kedua keluar dari mulut. Pasrah, ia memilih masuk dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Saat pintu terbuka dan badan masuk ke ruangan, mata dari orang-orang dengan berbagai pangkat langsung tertuju padanya menyebabkan ia hanya bisa menelan ludah.

"Dan akhirnya, Kapten yang berhasil memimpin pasukannya dalam operasi tahun kemarin baru datang. Perkenalkan, namanya adalah Alfred F. Jones. Baru saja diangkat dua tahun yang lalu menjadi Kapten. Kau bahkan masih memakai kaos latihan dan belum berganti ke dress uniform, Jones" atasannya, Kolonel Woodrow memperkenalkan dengan muka masam dengan dibumbui semi mengomel di akhir.

Alfred hanya bisa mengelus belakang leher dengan wajah tersipu malu, "Maaf Pak, aku telat"

"Permintaan maaf diterima, Kapten." Suara feminim membalas perkataan Alfred. Ini menyebabkan si laki-laki berambut pirang mendongak dan berdiri dengan tegak. Ia juga sebenarnya takjub karena perempuan yang membalas bukan tentara biasa.

Lagipula, tidak ada tentara biasa mengucapkan permintaan maaf diterima kecuali kau punya jabatan lebih tinggi. Alfred juga jadi merona saat baru menyadari kalau memang tidak diisi oleh laki-laki saja, ada seorang perempuan rambut pirang sebahu dengan seragam formal Angkatan Udara berdiri dengan kedua tangan di belakang.

Kedua kedua mata birunya menangkap lencana di kedua bahu, ia merasa dirinya berharap ditelan bumi karena sudah terlambat bahkan tak menyadari keberadaan si perempuan yang memiiliki jabatan seorang jenderal bintang dua.

"Lagipula, kita harus maklumi. Baru selesai latihan, bukan Kapten?"

Alfred yang awalnya sibuk di dalam pikirannya sendiri terkaget saat si mayor jenderal mengajaknya bicara.

"Yes, Ma'am. Aku dan beberapa teman-teman sedang latihan fisik" dua jam yang lalu, bagian hati sanubari Alfred menambahkan. Ia berbohong sedikit.

"Wah kalau begitu, aku ingin lihat bagian latihan. Bagaimana kalau kutes langsung di pelatihan mempertahankan diri, Kapten?"

Entah kenapa Alfred merasa menyesal berbohong tentang ia sedang latihan, "baiklah, Ma'am."

Rombongan pejabat pertahanan Angkatan Udara berjalan di depan, Alfred mengikuti di belakang karena harus diomeli kolonel. Si kolonel mengingatkan kalau memang hari ini akan ada sidak mendadak. Seharusnya sudah berganti pakaian sejak selesai latihan bukannya malah mengajak ngobrol tak jelas dengan bawahan.

"Tapi Pak, aku melakukan ini untuk bonding dengan anak-anak!"

Namun sang atasan terlihat tidak percaya dengan alasan dari Alfred, "maksudmu bermalas-malasan, Jones? Yah sudahlah, ayo kita cepat ke gym untuk tes mendadak"

"... lagipula aku juga tidak tahu kalau ada sidak hari ini, Kolonel."

Penjelasan terakhir dibalas dengan tatapan tajam dari kolonel yang menyebabkan Alfred mengambil langkah seribu untuk mengikuti rombongan pejabat dari pusat berjarak dua meter di depan.

Mereka sampai di tempat latihan fisik. Terlihat banyak peralatan olah raga lengkap mulai dari threadmill sampai angkat beban. Oh ya, karena memang hari itu sebenarnya hari untuk bersantai jadi ruangan tersebut juga diisi beberapa tentara yang memilih untuk olahraga sendiri atau mengobrol. Melihat rombongan dengan jabatan tinggi membuat para tentara berdiri tegak dan menyambut dengan hormat. Para tentara tersebut juga akhirnya menyadari kalau atasan pasukan mereka yang paling dekat alias Alfred mengikuti di belakang dengan beberapa jarak langkahan.

"Baiklah, Kapten Jones. Ini sidak untuk mengetes kesiapan dalam mempertahankan diri" salah satu pejabat dengan pangkat letnan jenderal menatap Alfred dengan wajah serius. Alfed hanya mengangguk.

"Baik, Pak... uh, Harold! Kau jadi-"

Belum selesai Alfred memberi perintah ke salah satu tentara pangkat bawah yang ada di kerumunan, mayor jenderal malah mendekat dan memberi aba-aba untuk membatalkan perintah. Alfred mau tak mau hanya bisa mengangkat sebelah alisnya.

"Aku yang akan jadi partner di latihan kali ini, Kapten" penjelasannya ditutup dengan sebuah kedipan centil. Alfred hanya bisa menganga (dan sedikit malu juga karena wanita dengan rambut pirang sebahu dan dua jepitan rambut bentuk bintang baru saja mengerlingkan mata padanya). Tunggu, si mayor jenderal akan jadi partnernya?

"B-baiklah..." Alfred berakhir garuk kepala padahal tak gatal.

"Kolonel, pinjamkan aku pakaian latihan dong. Aku lupa bawa!"

Beberapa menit kemudian. Perempuan dengan jabatan tinggi sudah berganti dari seragam formal warna biru ke pakaian latihan berupa kaos warna abu-abu dan celana longga berbahan mudah bergerak warna cokelat. Ia masih tersenyum dengan lebar khas bintang Hollywood. Alfred sebenarnya menatap tak yakin pada lawan yang akan mengetes.

Keduanya sekarang berada di ring latihan.

"Kau memasang wajah berbeda dibandingkan sebelumnya. Kenapa? Takut melakukan kesalahan, Kapten? Atau karena aku seorang wanita?" Senyuman menantang diperlihatkan si perempuan.

Menyinggung pemikirannya, Alfred hanya terdiam dengan muka sedikit merona.

"Sorry, Ma'am"

"Satu hal, Jones. Jangan pernah menganggap enteng lawanmu hanya karena memiliki perbedaan mencolok pada penampilan. Oh yah aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Amelia, Amelia Foster Jones. Panggil saja Amelia, oke? Ahahaha aku baru sadar, nama belakang kita sama tapi aku yakin kalau kita tidak ada hubungan darah haha!"

Alfred tak mau berkomentar, ia sadar kalau salah satu ciri khas menyebalkan darinya adalah cerewet. Namun, perempuan bernama Amelia Jones seorang mayor jenderal di Angkatan Udara mengalahkannya dalam soal berisik. Ditambah kata-katanya benar-benar menohok, tidak direm sama sekali. Ia pikir dirinya terlalu terbuka dengan namanya pendapat. Perempuan di hadapannya malah menjadikan ciri negatif dirinya seperti diputar sampai diatas ukuran maksimal.

Mayor Jenderal Amelia Jones entah kenapa memiliki sifat berupa steriotip orang Amerika Serikat, pikir Alfred.

Keduanya sekarang berada dalam posisi menyerang, tangan kanan dan kiri terangkat sedangkan kaki-kaki melakukan kuda-kuda. Tatapan keduanya memperlihatkan sedang mencoba membaca gerakan.

Alfred maju duluan menyerang dengan tonjokan, dengan sigap Amelia menahan dengan tangan kanan untuk kemudian ia pegang dengan erat dan dibanting ke belakang. Butuh beberapa detik Alfred sadar kalau dirinya baru saja dibanting dengan mudah seperti dirinya tak punya berat.

"Aturan pertama dalam bertarung, jangan buat kesempatan musuh untuk membalas serangan atau... Kapten Jones, jangan bilang anda masih menganggap remeh diriku?" Alis kanan Amelia terangkat dan selanjutnya ia mengulurkan tangan. Uluran tangan perempuan itu diterima Alfred.

"Tidak dan terima kasih telah membantu berdiri"

Amelia tersenyum lebar, "bagaimana kalau bertahan? Biar aku yang menyerang."

Alfred hanya mengangguk. Keduanya kembali mengambil kuda-kuda. Kali ini wajah Alfred benar-benar serius dibandingkan sebelumnya.

...

Keluar dari mobil Ford warna hitam, Alfred dengan tas jinjing sport berjalan dengan malas. Seorang perempuan dengan pangkat tinggi yang berkunjung ke pangkalan di mana ia bertugas baru saja mengalahkannya saat mengetes. Ia sejujurnya masih tak percaya, semua gerakannya bisa terbaca dengan mudah oleh si mayor jenderal. Dalam hati kecilnya, Alfred jujur merasa harga dirinya sebagai laki-laki agak terluka dikalahkan begitu saja oleh perempuan.

Tapi kalau dipikir-pikir ada banyak kejanggalan dari perempuan berpangkat mayor jenderal tadi. Beberapa ciri aneh membuat ia bingung. Dimulai dari awal, ia dihormati bahkan seperti dianggap memiliki pangkat tertinggi diantara pejabat militer yang datang. Walaupun ada Letnan Jenderal, anehnya Mayor Jenderal Amelia Jones lebih sering bertanya dan lebih tahu. Apalagi tatapan yang diberikan saat tes pertahan diri, matanya begitu fokus seperti elang memangsa. Secara pendeknya, Amelia F. Jones seperti mengetahui seluk beluk militer bahkan di atas jenderal bintang empat. Melihat dari gerak-geriknya seolah berkarir sudah lama melebihi jenderal tertua yang ada.

Alfred hanya menghela nafas lelah, ia sadar telah dijadikan subjek sidak karena paling terlambat.

Pintu rumah berwarna putih dibuka, jalan ke dalam kedua mata biru cerulean miliknya menatap seisi ruangan. Ia juga tak lupa mengunci pintu, "akhirnya sampai rumah dan untung besok hari Sabtu..."

Ia duduk di kursi sofa untuk mulai melepas tali sepatu boot. Setelah dilepas, tangan kanannya kembali mengambil tas jinjing untuk dibawa ke kamar tidur. Sesampainya di kamar tidur, ia lempar tas ke sudut ruangan. Alfred mengerang, dirinya perlu membersihkan badan sebelum tidur.

Berjalan dengan pelan, ia ke kamar mandi dan mulai melepas baju.

Beberapa menit kemudian, badan sudah tidak lengket lagi karena keringat. Ia langsung mengambil kaos berbahan katun putih berlengan biru dan celana kolor warna merah. Sudah merasa nyaman, Alfred langsung merebahkan badan ke tempat tidur.

"Ahh... akhirnya tidur juga." Tidak ada yang bisa mengalahkan nyamannya ranjang di rumah sendiri. Ditambah kerja di militer kalau sudah harus memenuhi panggilan tugas, kasur empuk merupakan hal tidak mungkin di lapangan.

Kedua matanya langsung tertutup dan Alfred sudah melayang ke dunia mimpi.

DUK DUK

Suara pintu diketuk dengan kencang mulai mengganggu kegiatan Alfred berpetualang di negeri mimpi. Badan yang terlentang terlihat mulai bergerak karena terganggu. Ketukan pintu menjadi-jadi menyebabkan Alfred mulai sebal. Matanya langsung mencari jam di bufet dekat tempat tidur dan terlihat kalau jam masih pagi yaitu pukul tujuh.

Alfred mengerang lalu mengusap matanya.

"Siapa yang pagi-pagi begini berkunjung!? Jangan bilang si Orang Tua Harvey pula. Sudah kubilang seharusnya dia beli saja mobil baru, masih saja suka dengan Ford tahun 70an yang sudah reyot itu. Seharusnya sudah didonasikan ke car show atau museum saja!" Tanpa mempedulikan penampilan yang masih pakai baju tidur dan celana kolor serta rambut berantakan khas baru bangun, ia bergegas membuka pintu.

Tak melihat siapa tamu pagi, Alfred menguap. "Ya Mr. Harvey? Ada yang bisa kubantu pagi-pagi begini?

"Hehe... aku bukan Mr. Harvey dan kau baru bangun?" suara feminim justru membalas dengan pertanyaan.

Alfred akhirnya menatap siapa tamu paginya, matanya langsung membesar.

"Mayor General Amelia Jones?" Ia menatap tamu pagi yang ternyata Amelia dengan keheranan.

"Yup ini aku tapi karena sedang di luar pekerjaan, panggil saja Amelia. Dipanggil dengan Jones membuatku merasa tua" cengiran khas dari Amelia ditunjukkan dan tak lupa ditambah mengangkat jempol. Perempuan dengan dua jepitan rambut berbentuk bintang terlihat memakai kaos dengan jaket bomber.

Alfred hanya membalas dengan senyuman tipis dan membuka pintu depan dengan lebar,"ah! Silakan masuk, maaf aku baru bangun karena hari ini Sabtu, biasanya aku bangun siang sih dan... anggap saja rumah sendiri."

Amelia hanya mengangguk dan duduk di sofa. Alfred langsung mohon diri untuk berganti pakaian serta mempersiapkan diri. Perempuan yang datang berkunjung hanya mengangguk dan mulai membuka iPhone.

Tak butuh lama Alfred mempersiapkan diri agar lebih terlihat pantas. Ia memakai hoodie warna biru dengan lengan putih. Celananya berganti ke jeans standar dan jam tangan menghiasi lengan bagian kanan. Dog tag di leher tak pernah ia lepas sama sekali. Jadi bisa dibilang tambahan aksesori di badan. Tak seperti biasanya, kacamata bertengger di wajah.

Amelia menutup game yang sedang dimainkan, ia mendongak melihat kalau orang ditunggu sudah siap.

"Ayo kita sarapan, kutraktir tenang saja!"

Alfred hanya mengangkat sebelah alis, "eh?"

"Yup, karena aku merasa tak enak kemarin telah membantingmu. Jadi yah... kutraktir."

Yah minimal makanan gratis, pikir Alfred masih kebingungan. Perempuan ini benar-benar aneh. Ia mengikuti Amelia di belakang untuk keluar dari rumah.

Di depan rumah terlihat mobil jenis SUV berwarna abu-abu. Melihat merknya membuat Alfred menelan ludah (merknya Cadillac astaga, pikir Alfred takjub). Amelia berlari kecil membuka pintu bagian supir dan masuk untuk duduk. Alfred masih berdiri memperhatikan bagian luar mobil hingga akhirnya sura klakson terdengar mengagetkan. Kaca jendela turun dan memperlihatkan wajah Amelia yang terlihat tak sabar.

"Hei ayo masuk! Aku sudah lapar!"

Alfred hanya terdiam dan duduk di samping Amelia. Setelah memasang sabuk pengaman, mobil tersebut langsung meluncur.

"Sarapan di Mcdonald ya? Kau tidak keberatan kan ya?" pembicaraan langsung dibuka oleh Amelia.

"Tidak kok." Pembicaraan terhenti karena Alfred sibuk memandang jalanan kota Tacoma dan Amelia sibuk melihat ke depan.

Sungguh hawa tak nyaman, pikir Alfred.

"Hei... Alice kolegaku dari Inggris pernah bilang kalau aku sulit membaca keadaan. Umm... apa kau diam karena merasa tak nyaman denganku? Kalau ya, maaf yah"

Alfred mau tak mau tersenyum walaupun terlihat terpaksa, "tidak. Tidak juga, aku cuma bukan tipe orang suka bangun pagi kalau hari Sabtu jadinya marah-marah begini. Maaf Ms. Jones"

"Hei kan sudah kubilang panggil Amelia saja! Yah kalau begitu... ayo kita perbaiki mood. Itu berarti ganti rencana, setelah sarapan ayo kita ke festival. Seingatku di Tacoma hari ini ada festival musim gugur. Aku tak sabar melihat labu raksasa!" Mata Amelia berbinar.

Aura positif yang dipancarkan Amelia mulai menginfeksi perasaan Alfred jadi membuat perasaannya sedikit cerah.

"Labu raksasa, huh? Sudah lama aku tidak melihatnya..."

Alfred punya beberapa alasan untuk tidak datang ke festival musim gugur beberapa tahun terakhir. Selain ia sering dikirim ke daerah-daerah konflik juga ada alasan khusus kenapa dirinya jarang datang dibanding tiga tahun yang lalu. Alasan pertama ia tidak ada yang menemani untuk mengunjungi acara tahunan karena teman-teman seangkatan dari SMA sudah jauh, mulai dari kuliah di universitas Negara Bagian lain hingga pindah kembali ke negara asal (sedangkan temannya banyak orang imigran bukan asli Amerika Serikat). Serta alasan terakhir yang lebih sentimental. Bisa dibilang ini alasan paling pribadi dari seorang Alfred F. Jones. Yah, dia sebenarnya bukan anak satu-satunya dalam keluarga Jones. Kembarannya bernama Matthew juga sama masuk ke militer hanya saja berbeda kesatuan. Dia memilih Angkatan Udara sedangkan Matthew mengambil Angkatan Darat.

Matthew menghilang tiga tahun yang lalu tanpa kabar, orang-orang dari Angkatan Darat sudah menganggapnya gugur dalam tugas. Ia sejujurnya masih berharap kalau sang saudara kembar masih hidup. Hanya saja mungkin tiap hari tersiksa yang kalau dipikir lagi lebih baik dia meninggal daripada disiksa.

Alfred menghela nafas lelah dan berakhir ditatap sebentar oleh Amelia.

"Ada alasan tidak datang ke festival?"

Alfred sedikit kaget dengan pertanyaan perempuan yang mengendalikan mobil.

"Well..."

Amelia masih diam, menunggu jawaban dari Alfred atas pertanyaan diajukan.

"Itu karena... aku tidak punya teman yang bisa diajak" mukanya sedikit ada rona merah. Alasannya terdengar sepele sekali, hati Alfred menambahkan.

"Oh begitu? Kalau tahun depan aku mengajakmu, apa mau? Sekalian kita kencan hahaha!"

Ajakan dari Amelia sukses membuat Alfred benar-benar malu. Mukanya sudah merah bagaikan tomat.


Author: hedkenon author, versi manusia tiap personifikasi lebih mellow sifatnya soalnya mereka individu, nggak kena pengaruh keadaan penduduknya.