Author: Fiuuuh, selesai chapter kedua… maaf ya agak lama :D
Disclaimer: Hetalia aslinya punya Hidekaz Himaruya
Warning: sedikit adegan kekerasan
Keduanya berhenti di sebuah pemberhentian URT dan dengan cepat menuju gedung menjulang tinggi dengan lantai lebih dari 40 lantai lebih kurang. Di bagian depan tertulis Security and Defense Department. Keduanya berjalan dengan terburu-buru. Khusus di tangan Gilbert, smartglass berwarna hitam berada di genggaman. Ia sebenarnya merasa sedih dengan keadaan gadgetnya sekarang. Apalagi ia baru membelinya tiga hari lalu dan smartglass ini model terbaru.
Mereka berdua juga melewati beberapa orang bahkan bertubrukan saat berjalan terburu-buru sehingga menimbulkan reaksi berbeda-beda. Ada yang mencoba menghindar tapi bagi korban tubrukan hanya bisa merasa kesal bahkan mengucapkan kata kasar.
"Oh pagi Tuan Beilschmi-" seorang perempuan dengan rambut pirang sebahu dan memakai bandana baru saja dilewati Ludwig.
Gilbert menyadari, ia hanya melambaikan tangan dan dibalas yang sama walaupun si gadis terlihat kebingungan.
"Oi, Lud… tadi ada cewek cantik juga, lo malah nggak peduli dan kenapa harus buru-buru begini?"
Ludwig tak membalas, ia memilih masuk ke lift dan sang kakak ikut masuk. Beruntungnya di dalam lift hanya ada mereka berdua. Ludwig mengetuk-ketuk sepatu ke lantai lift. Gilbert melihat nomor lantai yang mulai bertambah.
"Tapi… kenapa di dalam video disebut tentang malaikat jatuh? Nggak mungkin kan ada malaikat jatuh beneran?"
Ludwig melihat Gilbert yang sedang memperhatikan smartglass gosong. Ia menarik nafas, bersiap-siap membuat penjelasan panjang.
"Para pemberontak mengatakan mereka ingin mengambil identitas mereka kembali atau bisa dikatakan mendirikan negara lagi. Bahkan menurut informan kami, tujuan utama mereka justru menjatuhkan pemerintahan yang telah berdiri sekitar puluhan tahun ini. Lalu tentang masalah malaikat jatuh… mereka percaya ada diantara kita semua, seseorang yang mempresentasikan kewarganegaraan mereka. Entitas diantara kumpulan manusia dengan sifat, ciri dan kebudayaan yang sama. Bisa dikatakan juga 'malaikat jatuh' ini orang abadi. Hmm… seorang personifikasi untuk versi pendeknya"
Gilbert memproses informasi panjang dari sang adik. Ia menunjukkan ekspresi kesal. Kenapa ia merasa kesal? Untuk apa sebuah pemerintah yang telah berkuasa lama dengan sistem cukup baik (menurutnya) ada saja orang menginginkan keruntuhan. Ia mengerti kalau manusia memang tidak pernah merasa puas, tidak semua orang setuju dengan pemikiran orang lainnya. tapi, apa salahnya dengan pemerintah sekarang?
Angka di lift berhenti di nomor 29, Ludwig keluar dan Gilbert membuntuti. Di depan mereka, terdapat meja-meja dengan computer transparan, tapi bukan salah satu dari mereka yang Ludwig maksud. Ia terus berjalan hingga sampai di depan pintu. Terlihat tulisan 'director of cyber crimes' terpampang jelas.
Ludwig membuka pintu, terlihat laki-laki berkacamata sedang asyik dengan komputernya sendiri. Bahkan kalau dilihat lebih dekat, ia tidak sibuk dengan pekerjaan, melainkan permainan first person shooter terpampang jelas. Ini membuat Gilbert nyengir sedangkan Ludwig menepuk dahi.
"Eduard von Bock!"
Karena dipanggil ketika si laki-laki berkacamata focus pada permainan, ia terkejut. Apalagi suara berat nan keras sehingga bisa dikatakan sebuah bentakan dari Ludwig begitu khas. Ia membalikkan kursi putarnya dan hanya tersenyum terpaksa. Lalu ia mempersilakan masuk kedua orang yang sedang berdiri di pintu.
"Ahahahah… tuan Beilschmidt! M-maaf aku bermain… tolong jangan tatap aku dengan garang…" sekarang terlihat ekspresi memelas ditunjukkan Eduard. Bukannya mengurangi tatapan tajam, Ludwig mengetukkan sepatunya, sepertinya ia benar-benar kesal.
"Err… ada butuh apa ya?"
Ludwig sudah kehilangan kesabaran, ia seakarang justru sibuk menenangkan diri sehingga Gilbert mengambil alih keadaan. Ia menunjukkan smartglass rusak, Eduard melihatnya meringis seolah alcohol mengenai luka terbuka.
"Smartglass milikmu sampai serusak ini… astaga! Dan tipe baru pula!"
Mendengar celotehan Eduard, wajah Gilbert makin kecewa. "Ja, karena itu juga adikku mengajakku ke sini karena ada hal penting"
"Oh apa? Membetulkan smarglass milikmu? Maaf, tapi ini sudah harus beli baru. Rusak total"
"Gu-Aku tahu tapi bukan itu masalahnya, tadi ada email berisi virus sekaligus video dari pemberontak. Berakhir smartglass jadi korban."
Mendengar permasalahan serius mengenai pemberontak membuat Eduard mengerti kenapa koleganya dari departemen anti teror bisa kesal melihatnya terlalu santai. Apalagi bermain saat kerja.
"Oke, video pemberontak berisi virus. Berita buruknya ini dikirim ke salah satu staf The Dux..."
"Aku bukan staf, bagian director pangan terutama logistik"
"Maaf, kukira cuma staff biasa. Oh! Bisa kulihat smartglass milikmu? Mungkin masih ada data tersisa yang bisa diselidiki"
Gilbert memberi alat komunikasi pribadi yang sudah rusak kepada Eduard. Laki-laki berkacamata yang ada di depan computer mulai bekerja. Ia letakkan smartglass di computer transparan dan menjalankan sebuah aplikasi untuk membaca data rusak. Dan ternyata data sudah tidak bisa dibaca alias rusak.
"Benar-benar rusak seratus persen, besar kemungkinan virus ini sudah menyebar ke cloud milikmu. Artinya The Dux juga pasti sudah menghapus direktorimu dan kau harus melapor ke bagian administrasi data diri, memulai dari awal."
Saran Eduard terdengar seperti halilintar di telinga Gilbert. Mengurusi semuanya dari awal? Ini akan jadi proses panjang sekaligus menyusahkan. Si empu smartglass meminta kembali gadgetnya dengan nada malas. Ludwig yang mendengar penjelasan dari Eduard sekarang memiliki ekpresi harap-harap cemas, ia tidak marah lagi.
"Masalahnya pesan tersebut juga ada di email milikku. Ada kemungkinannya kalau email milikmu juga terkirim hal yang sama."
Informasi Ludwig adalah hal penting, pikir Eduard. Ia tak berlama-lama untuk membuka email lewat computer. Benar saja, ada sebuah pesan tanpa pengirim dan subjek. Tapi Eduard tak membukanya, ia justru mengirimkannya ke pusat keamanan tertinggi agar bisa diselidiki.
"Kenapa tak dibuka?" Tanya Ludwig setelah Eduard mengirim pesan.
"Karena komputerku tak kuat, mendengar cerita Gilbert pasti virus ini sangat kuat sedangkan pengaman di komputerku hanya untuk sebatas kejahatan maya sekelas penipuan atau perdagangan manusia, tidak sampai separah kasus ini."
Ludwig hanya mengangguk, mengerti akan keterbatasan koleganya. Setelah selesai melaporkan, ia izin pamit untuk kembali ke ruangan di mana ia bekerja. Sebelum itu ia juga diminta Gilbert untuk membantunya menjelaskan pada atasan atas keterlambatannya. Pada awalnya Ludwig tak mau dan berkomentar bahwa ia sudah dewasa. Tapi ia berakhir setuju untuk ikut ke departemen pangan. Walaupun wajahnya berkata ia malas.
Mereka berjalan beriringan untuk turun ke lantai satu. Berbincang tentang masalah umum, mencoba untuk tidak membahas tentang para pemberontak saat berada di dalam lift. Pembicaraan mereka santai dan terlihat untuk meyakinkan bahwa mereka berdua adalah saudara kandung.
Suara pintu lift terbuka menandakan mereka telah sampai pada tujuan yaitu lantai akhir. Berjalan dengan ritme tak cepat menuju pintu keluar.
Sayangnya atmosfir santai dan tanpa tekanan dibandingkan tadi pagi rusak oleh suara sirine dari beberapa mobil hitam. Orang-orang di sekitar daerah sudah sepi. Mereka menyingkir walaupun masih melihat lewat jarak yang cukup jauh.
Gilbert merasa bingung melihat pemandangan di hadapannya tapi Ludwig dilain pihak tahu dari mana asal mobil-mobil ini dan tujuannya apa. Ketika mobil makin mendekat bahkan berhenti di area terbuka departemen di mana Ludwig bekerja membuat dia menautkan kedua alis. Ini pemandangan langka.
Apalagi ditambah beberapa orang dengan berseragam lengkap warna hitam ditambah rompi anti peluru menambah keheranan laki-laki berambut pirang di samping Gilbert. Di tangan mereka juga sudah ada senjata kejut listrik. Intinya, mereka sudah bersiap-siap dengan peralatan lengkap.
"Eh, Lud… bukannya mereka dari pasukan elit khusus buat ngurus pemberontak ya?" si rambut perak sudah berhenti dari keheranannya, sekarang ia melihat sang adik sedang kebingungan.
"Iya tapi untuk apa? Memangnya di departemen ada pemberontak? Tidak mungkin… soalnya untuk masuk ke sini itu ketat, mereka punya scanner retina untuk memastikan seseorang benar-benar bersih catatan kelakukan baiknya. Kalau sampai ada yang masuk, berarti The Dux kecolongan."
Gilbert mengangkat kedua bahu, ia juga tidak tahu menahu sama sekali.
Setelah pasukan dengan peralatan lengkap turun dari mobil, semuanya mendekati Ludwig dan Gilbert. Mereka hanya saling pandang dengan keheranan.
"Kalian, Ludwig Beilschmidt dan Gilbert Beilschmidt. Kalian kami tahan karena pelanggaran beberapa pasal dengan yang terberat menjadi anggota pemberontak aktif. Menyerah maka kami tidak akan memakai kekerasan!" Suara lewat speaker memperingatkan, ini juga membuat kedua bersaudara melebarkan mata karena tak percaya dengan perkataan komandang pasukan.
"KAMI TIDAK PERNAH SEDIKITPUN MEMILIKI PIKIRAN UNTUK MEMBERONTAK!" Gilbert berteriak balik dengan harapan ia dan sang adik tidak ditangkap. Mungkin hanya salah sasaran.
Ya, teriakan protes dari Gilbert tak didengar. Pasukan tersebut justru sengaja mendekat dengan senjata kejut listrik terangkat. Berarti mereka memang tak salah orang. Ludwig tak percaya sama sekali, bagaimana bisa orang-orang yang menjadi bawahannya justru menangkap dirinya sendiri? Lalu kenapa harus bersamaan dengan kakaknya?
Di dalam kebingungan sekaligus terkejut, ada gaya tarikan menarik tangannya ke belakang. Ternyata Gilbert sudah bersiap-siap mengambil langkah seribu. Ludwig sempat mempertahankan pijakan, ia tidak mau kabur.
"Udah Lud, mereka nggak akan mendengar perkataan kita!"
sang adik awalnya masih tetap bersikeras untuk bertahan. Namun melihat kalau para pasukan justru mulai berlari, keduanya benar-benar pergi masuk ke departemen lagi. Perbedaannya mereka sekarang sedang berlari secepat mungkin.
"APA YANG KAU LAKUKAN, KAK? BUKAN, KENAPA KITA MALAH KABUR? KITA MALAH TERLIHAT LEBIH SALAH!" Ludwig sudah tak bisa menahan emosi sekaligus kebingungan.
"Karena kita nggak salah, Lud! Berani karena benar, takut karena salah. Sedangkan kita kan nggak pernah ikut pemberontakan begitu… Oh iya, ada jalan alternatif untuk keluar?"
Ludwig diam sejenak, ia mencoba mengingat beberapa jalan keluar selain lewat pintu utama di depan gedung departemen. Ketika kepalanya berhasil mengingat, ia sengaja berlari di depan sang kakak untuk menunjukkan jalan.
"Ada dua, kita ambil parkir bawah tanah dulu!"
Keduanya berlari ke arah tangga dan menuju untuk menuruni. Keduanya tak bicara banyak karena lebih terfokus untuk menuruni anak tangga.
Baru saja mereka sampai di depan pintu keluar menuju parkir bawah tanah, mobil dengan sirine juga telah sampai di tujuan mereka. Bahkan beberapa petugas anti teror mulai berhamburan keluar dari mobil untuk mengepung keduanya. Melihat orang-orang berpakaian lengkap membuat keduanya panik, akan tetapi Gilbert mengambil piliha alternative untuk kembali ke atas. Ludwig mengikutinya di belakang dengan kecepatan lari yang sama.
"Ada jalur lain?"
"Ya, ada di lantai dua, pintu darurat jika ada bencana."
Gilbert mengangguk, ia berlari walaupun dari nafas terdengar bahwa keadaan lelah sudah mulai menyerang. Tapi kaki masih dipaksa untuk naik, sang adik terlihat khawatir.
"Gilbert, lebih baik kita menyerah"
Mendengar sang adik justru memanggil namanya, ia menoleh sebentar dan kembali melanjutkan berlari. Ia mengerti kalau sampai sang adik memanggil nama, artinya ada keseriusan di perkataannya.
"Tidak… aku tidak mau, apalagi mendengar apa yang mereka lakukan pada orang-orang yang dianggap memberontak pada pemerintahan. Mereka akan menyuntikkan serum blumite, Lud. Sedangkan kudengar serum tersebut bisa membuat orang berhalusinasi sampai seminggu… lebih buruknya nyawa kita jadi korban"
Ludwig berhenti berlari, kakaknya mengikutinya tapi ia bingung.
"Kenapa?"
"Kita terkepung…"
Melihat ke arah depan, terlihat jelas beberapa petugas sudah menunggu dengan jarak beberapa anak tangga dari keduanya. Gilbert berdecak kesal. Tak butuh waktu lama untuk petugas mendekati mereka. Gilbert duluan dipegang tangan bagian kanan untuk dipasang borgol. Tapi ia reflex memegang tangan si petugas dengan tangan kiri. Lalu ia tarik hingga badannya terangkat dan dibanding ke tangga.
Ludwig hanya bisa menganga melihat apa yang dilakukan sang kakak.
"Kak… apa kakak pernah belajar bela diri? Jika ya, sejak kapan?"
Author: Yak, saya nggak bisa komen apa-apa… terima kasih aja untuk yang baca dan memfavoritkan plus follow cerita saya
Sampai jumpa di chapter selanjutnya~
