Author : Aduh maaf, padahal cerita ini udah selesai seminggu yang lalu. Tugas sama koneksi internet bikin jadi berantakan…

Ya! Ini chapter 2!

Disclaimer: Hetalia milik Himaruya Hidekaz


"A-apa maks… HWA!" Gilbert memang berniat membalas pertanyaan adiknya, tapi terpotong oleh sebuah senjata kejut listrik yang berhasil ia hindari dengan cara mundur satu langkah. Lalu tangan petugas pemegang senjata ia pegang, sekarang dengan sengaja ia putar dan dengan badannya di dorong hingga terjatuh dari pegangan tangga. Ludwig masih tak percaya dengan apa yang dilakukan sang kakak.

"Kak… bagaimana bisa?"

Gilbert tak membalas pertanyaan adiknya kali ini. Ia justru terlihat memegang pegangan tangga dengan erat lalu dengan sengaja mengangkat badan. ia melakukan sebuah tendangan tepat di dada petugas paling depan setelah dua orang tumbang. Karena gaya dorong dari tendangan Gilbert cukup kuat, satu barisan di tangga atas terjatuh semua. Belum ditambah pakaian lengkap membuat mereka kesulitan untuk bergerak.

Gilbert tanpa banyak bicara menarik tangan si adik. Mereka kembali lagi berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Ludwig sekarang hanya bisa mengikuti kemauan kakaknya untuk melakukan apa. Ia sudah terlalu lelah karena berlari sekaligus bingung.

Menghabiskan beberapa langkahan kaki menuju ke atas, akhirnya mereka sampai di lantai kedua.

"Lud, dimana pintu daruratnya?"

Kali ini Ludwig mengambil alih untuk paling terdepan menunjukkan jalan. Lantai dua di mana biasanya orang berlalu-lalang karena pada lantai tingkat ini khusus menangani permasalahan masyarakat sekarang menjadi sepi. Hanya ada mereka berdua berjalan diantara kursi dan meja-meja kecil dengan computer transparan. Suara langkah dari sepatu memecah keheningan.

Pada awalnya kecepatan berjalan mereka berdua cukup santai. Lalu terdengar derap langkah dari sepatu boots pasukan anti teror membuat kedua bersaudara mempercepat langkahnya menuju pintu darurat. Pintu berwarna merah dengan tulisan 'Emergency Exit' sudah ada di depan mata.

Gilbert menarik pintu dengan sekuat tenaga, setelah terbuka ia percepat langkahnya lewat tangga darurat yang tersedia. Si adik hanya mengikuti tanpa bicara. Walaupun wajah dari laki-laki berambut pirang dapat dikatakan sudah berada pada kebingungan serta ketakutan. Melihatnya Gilbert justru memilih untuk diam dan tetap berjalan.

Setelah sampai di luar lebih tepatnya di samping bangunan departemen, keduanya hanya menatap tembok-tembok gedung lainnya, mata Gilbert berhenti pada jalan kecil diantara tingginya gedung. Ia memilih mendekati jalan sempit tersebut.

"Gilbert, kita tidak ke kota atau bahkan keluar kota? Kenapa harus ke gang sempit?" sepertinya Ludwig sudah tak tahan dengan kelakuan sang kakak.

"Kita lewat jalan yang sering kugunakan kalau aku sedang ingin bolos kerja. Lebih aman, kupikir kalau kita lewat kota malah akan dikejar oleh mereka."

Mata Ludwig terbelalak, ternyata Gilbert bisa bolos juga. Tapi, pendapat kakaknya ada benarnya. Mereka sedang dikejar dan memilih kabur, jalan tak terlihat memang lebih baik daripada keramaian.

Pintu darurat terbuka dengan keras, kedua bersaudara mempercepat langkah mereka untuk masuk ke gang sempit.

"Lud, lo muat kan lewatin jalan sempit gini? Kesesese"

"Tentu saja aku muat! Memangnya aku sebesar apa?"

"Yah… adik yang lebih tinggi dari gue. Gue aja tingginya 176, lo bisa 180an. Makan apaan Lud? Punya tips buat kakakmu yang terhebat ini biar tingginya nambah?"

Ludwig melakukan facepalm, walaupun sang kakak justru menjadi aneh beberapa waktu yang lalu. Pada akhirnya, Gilbert tetaplah kakaknya yang memiliki pemikiran nyeleneh. Dan ia bersyukur ia kembali normal. Tapi tetap saja, ia masih penasaran kenapa Gilbert bisa melakukan beladiri seperti tadi. Mungkin ia akan bertanya jika dirinya ingat.

Perjalanan keduanya menelusuri gang sempit berakhir di area tak terurus. Kotor dari sampah dan jalan aspal tergenang air membuat gambaran maju distrik G1 Mainland Reuope hancur seketika. Lebih ironisnya, G1 ini justru ibukota pusat Reuope. Sehingga melihat keadaan seperti ini membuat Ludwig justru bertanya-tanya.

"Uh… kak? Jangan katakan kakak sering ke sini? Lagipula kenapa bisa ada daerah begini di G1?" Ludwig melihat ada orang berpakaian compang-camping sedang mengais entah apa itu di tumpukan sampah, ia melihat dengan iba.

"Yah, jalan satu-satunya dimana E-Motion tidak bisa melacak agar gue bisa kabur dari pekerjaan, di sini. Tapi… kalau yah, mau nggak mau area kumuh pastinya susah dihilangkan. Tenang kok! Tempat kerja suka melakukan hibah makanan jadi yah… mungkin makanan tidak terlalu bermasalah di sini. Oh! gue juga punya kenalan yang mempermudah semuanya di daerah ini. Semoga dia tidak marah membawamu, Lud!"

Ludwig sampai pada konklusi bahwa sang kakak memiliki etos kerja yang buruk. Namun ia juga merasa kagum, sejauh ini kakaknya tak terdengar ada masalah di departemen. Sayang, ia bukan tipe santai seperti sang kakak.

"Lud, lo mau terus lurus aja? Kita sampai di tujuan" Gilbert terlihat sudah berdiri di depan bangunan bertuliskan 'Toko Sayur Antonio, dijamin segar' dengan cengiran khas. Ia menunjukkan cengiran karena merasa terhibur dengan Ludwig yang terlalu larut dalam berpikir sampai masih berjalan beberapa langkah dari tujuan sang kakak. Mendengar suara laki-laki berambut putih membuat ia berganti arah mendekati toko.

Bangunan yang lebih cocok disebut sabagai rumah dan toko itu berukuran sedang berlantai dua. Dengan jendela kaca hampir menutupi lantai satu. Cat dinding berwarna krim mempertegas kesan desain rumah minimalis. Jika kita lihat lewat kaca bening, terdapat rak-rak dan kotak-kotak berisi berbagai macam sayuran. Memang pantas kalau rumah dan toko ini bernama 'Toko Sayur Antonio'.

Gilbert mengajak Ludwig untuk mendekati pintu cokelat dengan bagian utama ditutupi kaca. Ia ketuk pintu ruko. Tak perlu berkali-kali mengetuk, dari dalam rumah terdengar suara gerutu. Kedua alis Ludwig bertautan, ia mendengar bahasa yang tak dikenal. Bukanlah bahasa sehari-hari. Pintu terbuka memperlihatkan orang berambut cokelat, ada bagian kecil mencuat melawan gravitasi. Wajahnya masam, memiliki manik warna sama dengan rambut. Kulitnya berwarna kecokelatan eksotik. Ia memakai apron cokelat dan memegang wortel di tangan kanan.

"CHIGI! Siapa yang ganggu jam pagi begini! Aku sedang menghitung worteltahu! Dasar idiota" sekarang bahasanya bisa dimengerti Ludwig, tapi ada beberapa terdengar asing juga. Gilbert masih santai dengan perangai tak bersahabat laki-laki pembuka pintu.

"Ini gue, Gilbert si awesome datang berkunjung." Sekarang sang kakak memperlihatkan cengiran khasnya.

Wajah laki-laki berambut cokelat selain bermuka masam juga ada ekpresi mengantuk. Mendengar omelan, Ludwig berasumsi si rambut cokelat merasa terganggu dalam tidur siang. Ia jadi merasa tak enak hati. Lalu, kenapa kakaknya masih santai tanpa merasa berdosa?

Mata melebar karena ia bereaksi dengan pernyataan Gilbert, laki-laki berambut perak masih tenang.

"CHIGIIII!"

Pintu dengan sengaja ditutup memakai tenaga penuh. Suara keras tercipta menyebabkan Ludwig terperanjat. Ia tidak menyangka respon pemilik rumah-ia berasumsi seperti itu-begitu kasar. Mereka berdua adalah tamu, kenapa bisa membanting pintu hanya karena sang kakak memberitahu bahwa ia datang berkunjung. Ludwig facepalm, sepertinya tingkatan stress mulai meningkat. Sedangkan menurut psikiatris pribadi, ia tidak boleh terlalu stress.

"Gilbert, kenapa kita ke sini? Tahu kan kalau kita sedang di kejar pasukan anti teror?"

Gilbert melipat kedua tangan di dada, "mereka nggak bakalan berani masuk sini, Lud! Gangster di sini itu garis keras. Bahkan tidak akan segan menggunakan senjata zaman dulu, ingat pistol berpeluru? Mereka masih memilikinya."

Ludwig menunjukkan wajah tercengang, bagaimana bisa sang kakak benar-benar santai berada di sini? Setelah banyak kejadian gila hanya dalam satu hari membuatnya makin khawatir dengan kakaknya. Bagaimana bisa ia yang notabennya sering turun ke lokasi untuk mengatasi keamanan di distrik ini bisa kalah dengan kakaknya? Ia punya beberapa kenalan yang bisa membantu tapi Gilbert mengenal orang-orang menarik.

Lamunannya terpotong oleh suara pintu yang dibuka. Sekarang si pembuka pintu bukanlah laki-laki dengan bagian mencuat melawan gravitasi bermata cokelat. Sekarang seorang laki-laki berambut cokelat pendek dan normal menyambut Gilbert dengan senyuman. Ludwig juga menyadari kalau si laki-laki yang sekarang mengobrol dengan kakaknya bermata hijau, bukan cokelat mengindikasikan kalau sekarang si penyapa mereka berbeda dengan sebelumnya. Seperti orang sebelumnya, ia juga memakai apron warna hijau.

"Hola Gilbert, ada apa mengunjungiku? Butuh sayuran atau jangan katakan ingin mengajakku minum bir? Hati-hati lho, terlalu banyak minum bir tidak baik untuk kesehatan" wajah laki-laki di depan Gilbert benar-benar serius seolah terlihat marah.

Gilbert masih bisa menunjukkan cengiran khasnya, "dan menjadi pengasuh si tukang tidur berisik sekaligus tukang ngomel juga tidak baik untuk kesehatan, dirimu bisa gampang kena stress, tahu?"

Mereka awalnya terdiam, namun detik selanjutnya kedua orang yang saling mengenal mulai tertawa. Mereka bahkan berpelukan dan melakukan brofist.

"Gil-Gil! Sudah sebulan lebih kau tidak berkunjung ke sini, apa pekerjaan di departemen membuatmu tambah sibuk? Padahal sesekali ke sini untuk mengajakku ke bar. Lovino selalu menolak ajakanku. Yah, walaupun dia senang kau tidak berkunjung. Tadi dia malah mengomel dan melakukan headbutt ke perutku."

Ludwig meringis, Gilbert hanya menggelengkan kepala dan menepuk pundak teman di hadapan.

"Sabar ya, hidup itu susah."

Sebuah bogem mentah diterima Gilbert.

Orang yang ditonjok rambut cokelat meringis kesakitan walaupun ia terlihat tidak marah dengan kelakuan kasarnya. "Ya ampun, Toni… tonjokanmu itu menyakitkan tau! Tapi kan itu memang kenyataan, kenapa marah sih?"

"Soalnya… si rambut landak alias si Wilhelm sering bicara begitu. Oh, laki-laki rambut pirang di belakangmu siapa, Gil?"

"Oooh, dia adik gue, namanya Ludwig. Hati-hati ye, dia punya sifat sensitif"

Mendengar Gilbert membicarakannya membuat Ludwig kesal,"siapa yang sensitif!?"

Gilbert kembali menatap kenalan dengan pandangan 'benar-kan?' dan laki-laki rambut cokelat hanya mengangguk mengerti.

"Hola, Señor Ludwig! Kenalkan, aku sahabat kakakmu dengan nama Antonio Fernandez Carrièdo" Antonio mendekati Ludwig, tangannya terulur. Ludwig tentu menerima tangan terulur dan mereka berjabat tangan, menandakan sebuah pertemanan terbentuk diantara keduanya.

"Oh, jadi tak sopan. Pasti sudah lama berdiri di depan, ayo masuk ke rumah" Antonio membuka pintu lagi, memberi gestur mempersilakan masuk ke rumahnya.

Tangan Gilbert mengangkat menandakan ia menolak ajakan baik sang empu rumah. Antonio jadi merasa bingung.

"Kami ke sini sebenarnya punya tujuan khusu-"

Antoni tiba-tiba didorong dari belakang hingga hampir terjatuh, Gilbert secara refleks menahan tubuh laki-laki dengan kulit eksotik. Melihat pelaku pendorong membuat Gilbert melihat dengan pandangan tak senang. Antonio berdiri kembali dan berterima kasih kepada penolongnya. Antonio memilih berkacak pinggang dan memasang wajah kesal.

"Lovino, kali ini kau keterlalua-"

"DENGARKAN DULU, TOMATO-BASTARD!" bentakan laki-laki yang setelah mendorong Antonio dan tidak merasa bersalah dengan kelakuannya membuat seluruh perhatian tertuju padanya.

Antonio menghela nafas, "baiklah aku mendengar. Tolong jangan berkata kasar seperti itu dan turunkan volume bicaramu…"

Mendengar nasehat Antonio, Lovino memutar bola mata dan mengomel pelan dengan bahasa tak dikenal oleh Gilbert maupun Ludwig. Antonio yang memang mengerti memilih menghela nafas lagi. Ia sepertinya sudah lelah dengan perangai laki-laki dengan rambut mencuat melawan gravitasi tersebut.

"Tch, kau itu memang menyebalkan dan terlalu baik sampai mau saja bicara bahkan bergaul dengan orang-orang bermasalah terutama rambut perak dengan mata merah. Dan aku paling sebal denganmu, rambut pirang!"

"Maksudmu apa Lovino?"

"CHIGI! ANTONIO, MEREKA BERDUA ADALAH BURONAN DENGAN KODE MERAH ALIAS BURONAN DI SELURUH MAINLAND!"

Ketiga orang yang berdiri menghadap ke arah Lovino berdiri melebarkan mata tak percaya.


Author: Ugghhh… menjelang UTS tugas makin banyak :'D oh kita balas review dulu

Kitsune857: Makasih :D

Marr Heartson: Ehh? Tapi ceritanya punya mas Ryu3Oktober ini udah dirilis tahun 2012-2013 lho! Berarti sebelum Psycho-pass ada X'D

Makasih ya untuk fave dan follow dari Kitsune857, Toriko Rissa, dan itsalwaysbeme.