Author: Maaf ya saya menghilang, sibuk di dunia nyata… kuliah banyak tugas D:
Ya sudah deh, langsung aja ke disclaimer dan warningnya
Disclaimer: Hetalia milik Himaruya
Warning: Nggak ada
Rasa bingung campur kaget dirasakan oleh kedua bersaudara Beilschmidt. Antonio yang berdiri di samping mereka memilih untuk menghindar. Ia mendorong badan Lovino ke dalam walaupun orang yang ia dorong protes tak suka. Ia kemudian mengganti tanda open pada pintu menjadi closed dan menutup dengan tenaga pintu rumah. Membuat Ludwig dan Gilbert sedikit terperanjat.
"OI ANTONIO! BANTUIN GUE DULU! Terus gue bakalan jelasin tentang status kita sebagai buronan" Gilbert berteriak di depan pintu, sayang empu rumah sepertinya tak ingin bertemu. Emosi Gilbert meninggi. Ia menggedor-gedor pintu kaca, tapi Antonio tidak kembali menemui. Ia sudah menghilang ke dalam rumah.
"Sudahlah, Kak… mereka pasti tidak mau berurusan dengan kita lagi. Lebih baik kita pergi, apalagi kita sudah dicap sebagai buronan dengan kode merah. Itu kode tertinggi untuk buronan, ke mana pun kita pergi, pasti kita akan dicari. Sudah kuduga, lebih baik saat itu kita menyerahkan diri. Sekarang mungkin kalaupun menyerahkan diri besar kemungkinan tidak akan separah ini." Ludwig memilih bersandar ke dinding, ia melipat kedua tangan di dada. Ekspresi masam tampak pada wajah laki-laki muda. Bisa dikatakan pemandangan langka dari Ludwig karena ekspresi standar miliknya adalah serius.
Gilbert menghela nafas panjang, kedua tangan mengacak-acak rambut warna putih miliknya. Memang ia memiliki keunikan, seseorang berambut putih dengan mata merah. Dokter di mana ia memeriksakan diri hanya mengatakan kalau ia adalah manusia albino. Keunikan berupa memeliki gen resesif bahkan jarang terjadi di dunia membuat Gilbert sering menjadi pusat perhatian. Beberapa orang di departemen yang ia bawahi bahkan sering memanggilnya "kakek" karena rambutnya berwarna putih, tentu Gilbert tak suka dengan panggilan mereka. Ia pasti akan memanyunkan bibir jika seseorang memanggilnya dengan sebutan kakek.
"Tidak, Lud… sebenarnya gue justru penasaran. Kenapa kita masuk ke buronan tingkat tinggi? Loe pernah ngurus buronan kode merah belum?" Gilbert memilih berkacak pinggang, kedua mata merahnya memancarkan keseriusan.
"Kenapa malah bertanya balik? Lalu kita harus bagaimana, Kak?"
"Jawab dulu pertanyaan gue, Lud"
Ludwig melihat sepatu pantofel warna hitam mengkilat di kaki. Ia hentak-hentakkan dengan pelan.
"Belum pernah. Bahkan sejauh aku menjabat menjadi director anti teror, tidak pernah mendengar orang menjadi burnonan kode merah. Karena… kejahatan tertinggi itu hanya sampai kode jingga. Sedangkan kode diatas warna kuning sudah jadi tanggung jawab intelijen."
Petikan jari terdengar, sekarang Gilbert menopang dagu.
"Bukankah ini aneh, kalau memang tidak pernah ada kejahatan sampai masuk kode merah, kenapa kita bisa masuk? Apalagi kita tidak pernah melakukan kejahatan. Err… ralat gue suka membolos tapi itu kan bisa dimaafkan! Jangan-jangan…" mata Gilbert melebar, ia menyadari hal penting untuk menjawab pertanyaan sekaligus menjelaskan teka-teki kenapa mereka masuk buronan tingkat tinggi.
"Apa, Kak?"
"EMAIL! EMAIL LAKNAT ITU LUD! Mein gott! Email, tentu saja email, kenapa tidak kepikiran? Email berisi virus. Jangan bilang karena gue ngebuka email sialan itu sampai menginfeksi ke direktori The Dux sehingga kita disangka si penyebar virus"
Tapi penjelasan panjang Gilbert tidak membuat ekspresi masam di wajah Ludwig hilang, "lalu jelaskan kenapa aku juga dianggap pemberontak? Salah satu peraturan tentang kejahatan mengatakan jika dalam pasal 40 UU Kejahatan, 'barang siapa yang belum terbukti melakukan pemberontakan, individu tersebut belum sah dinyatakan sebagai tersangka'. Jadi bukankah ini aneh? Aku seharusnya tidak dianggap buronan, hanya Kakak"
"Kejam banget sih, masa cuma gue doang. Minimal temenin gue kek di alam kubur kalau beneran ketangkep dan dihukum berat sama The Dux alias dihukum mati" kepalanya terasa sakit, si adik ternyata menjitak kepala Gilbert.
"Tapi tetap saja, Eduard juga mengirimkan email tersebut jadi bukan seharusnya hanya kita yang jadi buronan. semuanya makin tidak masuk akal" Ludwig berdiri tegak, ia melakukan peregangan. "Dan karena semua telah terjadi, lebih baik kita pergi"
"Tumben lo nerima keadaan apa adanya."
Tatapan tajam Ludwig hanya dibalas cengiran oleh Gilbert.
Kedua bersaudara berakhir memilih untuk pegi dari depan rumah milik Antonio. Meminta pertolongan laki-laki kenalan Gilbert berakhir nihil, daripada berlama-lama tanpa ada hasil sekaligus menghindari pasukan khusus lebih baik pergi. Mereka sekarang berjalan lebih santai. Walaupun tak ada pembicaraan diantara mereka. Keduanya memilih sibuk berpikir, terutama berhubungan dengan pemikiran orang-orang di pemerintahan. Gilbert memilih melepas jas karena keringat membasahi tubuh. Dua laki-laki dewasa berpakaian rapi terlihat asing di daerah kumuh, beberapa pandangan mengikuti langkah kaki mereka. Namun, tidak ada satupun yang berani menggubris. Lebih peduli memandang jalan atau bagi Ludwig memperhatikan keadaan sekitar.
Ludwig melihat langit, warna jingga mulai bersemburat di langit barat dan gelap semakin jelas dari arah timur. Lalu pandangan matanya menuju Gilbert, masih penasaran dengan pemikiran sang kakak. Mereka berdua sekarang tidak memiliki tujuan pergi, dan tak memiliki tempat untuk kembali. Ludwig dilain pihak hanya berharap bahwa tidak terjadi hal tidak diinginkan pada mereka. Walaupun menjadi buronan kode merah sudah menghancurkan harapan tersebut. Ia, tidak ingin kehilangan sang kakak lagi.
Ludwig terhenti, ia melebarkan mata. Kehilangan kembali? Tapi sang kakak selalu berada di sampingnya, bukan? Ia tidak pernah kehilangan satu-satunya orang yang ia sayang.
Tapi aku pernah terpisah, bukan?
"Lud lo kenapa?"
Kakaknya sudah menghentikan langkahan kaki dan pandangan penuh keingintahuan tertuju padanya.
"Tidak apa-apa... Kakak, aku…" Ludwig menggelengkan kepala
"Lupakan."
Alis Gilbert bertautan, tidak mengerti dengan maksud perkataan adiknya.
"Ayolah! Kan kita sudah janji nggak boleh berbohong kan? Ada apa, sebenarnya Ludwig?"
Mendengar nama depannya dipanggil secara lengkap membuat ia menatap sang kakak, "aku… takut hal buruk terjadi pada kakak dan berakhir aku kehilangan kakak"
"Heh, gue? Si hebatGilbert Beilschmidt bakalan hilang? Gue nggak bakalan ninggalin adik gue. Karena gue itu kakak ter-awesome yang lo punya"
–Awesome memiliki arti hebat, terbaik. Kenapa kata tersebut terngiang-ngiang di telinga Ludwig?
"KESESE! Hanya karena aku jadi masuk wilayah si syal panjang terus aku bakalan hilang, gitu? Tidak mungkin! Aku itu si awesome Prussia alias Koniegsreich Preussen pasti akan baik-baik saja. Tunggu aku, nanti kita bisa bertemu lagi. Lagipula aku itu kakak terawesome milikmu diantara semua kakak surammu."
Laki-laki berambut putih dengan pakaian yang sama rapinya dengan miliknya pergi bersama beberapa orang. Rombongan terdiri dari laki-laki dengan syal panjang, dua perempuan terdiri dari seorang berambut panjang dan seorang lagi dengan dada ukuran besar serta tiga orang yang ketakutan meninggalkan ruang pertemuan. Ia menatap sendu laki-laki yang berjalan keluar.
Prussia. Siapa Prussia?
"LUD! OI LUDWIG BEILSCHMIDT ADIK GUE!"
Bentakan keras Gilbert menyebabkan kesadaran Ludwig kembali.
"Ada apa kak?"
Gilbert menepuk dahi, "loe gak sadar apa? Lihat arah belakang kita, itu rumah Antonio dan terlihat ada keributan. kayaknya berasal dari pasukan anti teror. Mereka pakai helicopter dan mendarat di atas rumah Antonio, Lud!"
"Terus?"
"Kita kembali ke sana, dia sahabat gue"
Ludwig menggelengkan kepala, "tidak, Kak. Terlalu berbahaya, apalagi mereka sepertinya membawa persenjataan lengkap"
"Tapi…"
"Kita hanya bisa menunggu, setelah pasukan anti teror sudah pergi, kita bisa ke sana untuk memeriksa. Semoga saja temanmu, Antonio tidak ditangkap. Apalagi dia tidak salah apa-apa."
Gilbert memilih diam, ia kemudian berjongkok. Menggaruk kepala yang tak gatal kemudian mengusap muka dengan kedua tangan. Terlihat level stres Gilbert sudah tinggi. Ludwig memilih memperhatikan arah rumah yang mereka datangi tadi. Terlihat cahaya dari lampu sorot menyinari bangunan sahabat Gilbert. Ludwig makin tidak mengerti dengan keadaannya. Kenapa pemerintahan di mana ia mengabdi justru menganggap ia sebagai musuh nomor satu mereka. Apa salahnya? Ia sudah mengabdi beberapa tahun lamanya. Sudah banyak kasus pemberontakan diatasi, bahkan ia hampir diangkat menjadi director intelijen jika pada satu malam mengotori nama baiknya.
Ia menyadari lagi, kesalahan pada malam itu apa? Ia tidak mengingatnya.
"Ludwig, lo… ngerasa makin aneh dengan semua ini gak?"
Ludwig mengarahkan perhatiannya pada pertanyaan Gilbert. Ia memandang Gilbert yang sedang dalam posisi jongkok.
"Maksud kakak apa? Aneh?"
"Ya! Seperti pemerintah ingin sekali kita menghilang dari dunia ini, ada apa ya? Oh iya, jadi ingat suatu hal. Lud, lo hampir aja diangkat jadi director intelijen, kan? Tapi gagal karena pas malam sebelum dilantik… Lo… err…"
"Kenapa kak?"
"Sebenernya ini rahasia negara, entah kenapa pejabat di atas kita melarang gue cerita ke lu dan karena kita sudah dipecat secara tak hormat jadi lebih baik kuceritakan saja. intinya, pas malam itu lo ngamuk"
Ludwig menautkan kedua alis, "bisa dijelaskan lebih jelas?"
"Lo berhalusinasi sampai kejang dan mengamuk. Setelah diteliti, seseorang memasukkan serum blumite ke dalam wine merah yang kau minum saat jamuan makan malam antar pejabat tinggi di seluruh departemen. Bagus saja saat itu lo tertolong soalnya serum itu hiii… berbahaya sekali! Dan… lo berhalusinasi aneh"
Ludwig menopang dagu, "apa yang kuperbuat?"
"Lo ngamuk dengan teriak 'kembalikan wilayahku! Kembalikan kedaulatanku!' dan berakhir beberapa orang terluka, bahkan aku saja hampir dibanting oleh lo" Gilbert bergidik ngeri saat mengenang kembali malam terseram dalam hidupnya.
"A-aku hampir membanting… kakak?"
"Itu juga karena gue mencoba menenangkan dirimu. Yah, ada salahnya juga sih gue"
"Lalu bagaimana bisa aku berakhir tenang?"
Gilbert berkacak pinggang, "tentunya lo dilumpuhin pakai senjata berisi penenang dan efektif, lo jadi pingsan. Akhirnya malam tergila waktu itu berakhir."
Ludwig tak berkomentar, ia memilih memandang sepatu pantofel. Terlihat kotoran mulai menempel di kulit asli, ini menyebabkan ia bermuka masam. Jujur, ia bisa dikatakan mengidap obsessive compulsive disorders dan karena ini juga sering ribut dengan sang kakak. Walaupun sebenarnya sang kakak juga cukup rajin dalam hal bersih membersihkan.
Memang benar apa kata sang kakak, semuanya makin tak masuk akal dengan gerak gerik pemerintah.
"Wilayah… kedaulatan?" Ludwig bergumam pada dirinya sendiri.
"Hmm? Ada apa Lud? Lo masih mikirin tentang kejadian malam sebelum pengangkatan? Meh, lupakan saja, Lud… pemerintah makin nggak beres sekarang."
Untuk pertama kalinya Ludwig setuju dengan pemikiran ala pemberontak.
"Uh… dan rumah Antonio mulai sepi" Gilbert melihat ke arah rumah sang sahabat, Ludwig mengikuti pandangan kakaknya.
"Menyerah saja, esok juga sudah masuk berita. Kita bisa lihat dari headline di kota" Ludwig kembali berjalan, Gilbert mengikuti dari belakang.
Gilbert pada awalnya menampakkan wajah merengus, tidak setuju dengan pendapat si adik namun memikirkan kembali kalau tempat tinggal sang sahabat besar kemungkinan akan ramai oleh wartawan dan pasukan anti teror membuatnya setuju. Ia hanya bisa mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Lud?"
Ludwig tak berhenti berjalan, "Ya?"
"Hidup itu lucu ya?"
Ludwig sekarang menghentikan langkahnya, ia berbalik ke belakang dan kedua alis miliknya bertautan karena bingung.
"Yah maksudku… kemarin kita masih berada di posisi nyaman, tidur di apartemen mewah. Mendapatkan kemudahan dalam hidup apalagi dengan posisi kita di pemerintahan. Bisa dikatakan kita di atas angin, dihormati oleh teman. Tapi sekarang… haha… bahkan kita dianggap… entahlah, kucing jalanan saja sepertinya lebih beruntung dari kita sekarang. Mereka punya kebebasan. Kita sekarang apa Lud?"
Ludwig mengerti maksud sang kakak, ia menghela nafas panjang.
"Aku punya kenalan, semoga kita diberi tempat untuk tidur untuk malam ini. Tapi ada masalah, jarak tempat tinggal kenalanku cukup jauh. Ada di Distrik H2. Butuh mobil."
Gilbert menatap adiknya dengan pandangan lelah.
"Oke, mobil itu dari mana? Tidak mungkin kan dari atas langit jatuh di depan kita?"
Author: Leon di Vendetta entah kenapa keliatan menyedihkan, hmm…. Kena depresi kali yah?
America: AUTHOR! Sekarang Leon? Udah berapa banyak kolek-*dibekep author*
Author: Dan karena Vendetta juga jadi punya headcanon, gimana kalau plaga di RE4 itu bikin pengaruh ke badan dia (walaupun udah dibunuh sih diendingnya) dan berakhir dia kayak Dante di Vendetta, bisa nembak sambil di udara… tunggu, Dante itu kan Leon versi RE4 yang batal jadi DMC! Berarti Leon itu… DANTE? *di dor sama Dante dan Leon berbarengan*
