Author: Liat, siapa yang akhirnya ngelanjutin cerita ini? Ugh... maafkan daku, Ryuu.
Terus juga rada beda sama versi aslinya, karena menurut saya versi aslinya terlalu cepet alurnya.
Oh!
Diclaimer: Hetalia milik Himaruya, cerita ini aslinya punya Ryu03Oktober
Warning: Agak kekerasan berupa self-harm di sini
District 1A Irameca
Di sebuah flat tingkat dua terdapat saudara kembar menempati. Mereka berdua terlihat normal seperti penduduk bagian utara Irameca (Distrik 1A dan Distrik 1C) kebanyakan. Memiliki kulit putih ras Kaukasia dan rambut pirang gelap. Keduanya adalah mahasiswa di universitas di distrik tersebut. Namun jika didekati, ada beberapa kejanggalan di bagian tubuh keduanya. Pertama si rambut lurus punya bagian mencuat melawan gravitasi berdiri tegak. Ia punya mata biru, namanya adalah Alfred F. Jones, ya dia bersikeras untuk setiap orang tak pernah melupakan nama tengahnya jika memanggil nama panjang. Sedangkan saudara kembarnya yang lebih kalem punya rambut tipis keriting ke bawah yang anehnya tak pernah lepas. Dia punya mata unik, warma keunguan. Namanya adalah Matthew Williams.
Oke, pasti satu pertanyaan muncul mengenai keduanya. Kalau memang mereka kembar mengapa punya nama keluarga berbeda? Ada alasan kuat. Mereka sebenarnya tidak dibesarkan bersamaan. Melainkan keduanya berasal dari panti asuhan. Mereka bertemu secara tak sengaja karena dipindahkan dari panti asuhan lama, di mana Alfred lah yang diharuskan dipindah ke tempat di mana Matthew Williams berada. Mereka sadar, kalau wajah mereka mirip. Walaupun saat masih kecil hanya mengerti sebatas itu saja.
Mereka kemudian terpisah, diangkat menjadi 'anak asuh' untuk dua orang berbeda. Saat diangkat, keduanya tidak kehilangan komunikasi, selalu menelepon atau berhubungan lewat sosial media. Hingga keduanya kuliah memilih tempat yang sama.
Saat mereka masuk kuliah lah baru punya ide untuk mengambil tes DNA dan memang ada kecocokan. Jadilah mereka memilih untuk tinggal satu atap setelah sempat terpisah juga empat tahun karena diasuh oleh orang berbeda.
Alfred sekarang sedang sibuk menonton acara di televisi, sebuah laporan berita sedangkan saudaranya sibuk di ruang bawah tanah. Memang cukup beruntung, flat yang mereka tinggali memiliki ruang bawah tanah walaupun berada di kota besar.
Sibuk menonton juga bukan berarti tangannya bebas tak memegang apapun. Mata emang serius menatap layar televisi flat screen namun di tangan kanan terdapat burger ukuran besar dan mulut sibuk mengunyah. Ia memang menyukai makanan apapun itu (tapi paling suka yang tak sehat seperti burger).
Matthew kemudian dengan kesulitan membawa sebuah kotak warna hitam keluar dari pintu ruang bawah tanah.
"Al, cepat bantu aku" suara pelan Matthew sayangnya tak terdengar jadi Alfred masih sibuk berkutat dengan televisi.
"Alfred..."
Si mata ungu hanya bisa melepas nafas lelah, ia akhirnya punya ide untuk menjatuhkan begitu saja kotak hitam ke lantai. Karena kotak entah terbuat dari apa (yang pasti berat) bertemu lantai, suara kencang terdengar memenuhi ruangan. Alfred mau tak mau menatap sumber suara yang dihasilkan.
"Woah, Matt. Itu apaan?" Dengan semangat si laki-laki dengan rambut mencuat melawan gravitasi mendekati orang yang membawa kotak hitam ukuran sedang.
"Entahlah," balas Matthew, ia langsung jongkok untuk melihat lebih dekat kotak hitam tersebut.
"Tapi yang pasti ini kotak berat."
Alfred juga mengikuti kelakuan sang saudara, tangannya kemudian mengelus permukaan licin kotak hitam dan mendapati sebuah bagian unik. Kotak berwarna perak dengan bagian licin seperti layar telepon genggam di tengahnya. Semakin di perhatikan, keduanya menyadari kalau bagian kecil dari kotak ini adalah scanner khusus sebagai pengaman. Pengamanan yang hanya bisa memindai jari pemiliknya alias pemindai biometrik. Keduanya juga sadar kalau ternyata kotak hitam ukuran sedang ini adalah berangkas.
"Uh.. Matt, kau menemukan berangkas ini dari mana? Keliatannya penting dan mahal sekali. Bahkan pakai sidik jari begitu" Alfred makin penasaran, tangan kanannya sebenarnya gatal ingin menyentuh bagian pemindai.
Laki-laki di sampingnya dengan potongan rambut lebih panjang dan bergelombang hanya mengelus permukaan halus berangkas hitam,"umm… aku menemukannya di ruang bawah tanah apartemen yang kita miliki ini, Al..."
"Hah? Tapi aku tidak pernah melihatnya, di mana?"
Matthew hanya menatap malas saudara kembar yang berisik, "yah karena kau memang mencarinya. Setahu aku, kau itu penakut Alfred. Tidak mau berlama-lama di ruang bawah tanah, bahkan hanya ke bawah saat pemanas ruangan tak bekerja. Itupun kupaksa, jadi mana mungkin kau mencari bahkan melihatnya"
"Hei! Aku tidak takut, Mattie! Aku cuma berjaga-jaga" Alfred protes, ia tak mau menerima kenyataan kalau dia penakut.
"Ya... ya... dan kalau saja kau tidak mengambil jurusan tehnik mesin bakalan tak sudi menginjakkan kaki ke ruang bawah tanah sama sekali"
"Makanya kan, kau seharusnya mengambil jurusan teknik juga sepertiku bukan-"
Tatapan tajam sukses menghentikan celotehan Alfred yang mulai nyerocos ke mana-mana.
"Jadi, jari siapa yang akan dipindai?" Matthew langsung mengalihkan perhatian, Alfred kembali menatap ke bagian pemindai.
"Bagaimana kalau aku?"
"... yah, sudahlah."
Matthew pasrah, kalau saudaranya ingin sesuatu, mau tak mau ia harus mengalah untuk mengiyakan keinginan. Kotak hitam tersebut dibawa untuk dipindahkan ke sofa. Alfred menatap Matthew yang dibalas dengan anggukan.
"Here we go!" tangan Alfred memencet tombol yang satu-satunya ada untuk mengaktivasi pemindai. Kemudian dia letakkan tangan kanannya di bagian pemindai, namun hanya suara wanita tanpa emosi mengatakan kalau pindaian tak terdeteksi.
"Apa?" kedua saudara tersebut bicara berbarengan, Matthew sekarang gantian mengarahkan pindaian ke depannya.
"Mungkin harus tanganku, Al..."
Alfred hanya mengangguk, "coba saja"
Matthew meletakkan tangan kanannya ke bagian pemindai. Tak butuh waktu lama pindaian menerima kalau ternyata pemilik berangkas mahal tersebut adalah Matthew. Dengan tatapan sombong ia membuka berangkas. Saat Alfred mau menyentuh isinya, Matthew mendorong tangan si saudara.
"Hei!"
"Tenang dulu Alfred, kan ini milikku jadi... aku yang memeriksa isinya duluan"
Alfred hanya bisa manyun, "kalau memang ini milikmu... kenapa malah tak tahu soal berangkas ini di bawah tanah, hah?"
Tapi Matthew tak terpancing dengan pertanyaan Alfred dan lebih sibuk membaca sebuah buku di mana bagian covernya terbuat dari kulit sapi asli. Ia buka dan menyadari kalau ternyata buku hitam dari kulit sapi itu adalah sebuah jurnal. Catatan penulis yang terlihat seperti diari membuat perhatian Matthew seratus persen diberikan ke tulisan.
"Untuk siapapun yang menemukan buku ini, terima kasih sudah mau membacanya dan maaf menghabiskan waktumu untuk berkutat dengan jurnal ini.
Tulisan ini kupersembahkan untuk banyak pihak, kepada saudara kembarku America, yang sudah membesarkanku, France dan England. Lalu temanku, Cuba. Serta seluruh penduduk wargaku, maaf aku tidak bisa jadi personifikasi yang baik bagi kalian. Oh, dan Prussia yang menganggap kalau sirup maple buatanku itu enak.
Jurnal ini berisi tentang diriku sendiri mulai kutulis saat wacana kalau setiap negara di dunia akan dihapus sampai proyek penghapusan negara selesai.
Tertanda,
Canada."
Matthew memilih membaca dengan suara agar saudaranya yang ingin sekali melihat isi berangkas bisa mendengar. Alfred berakhir menghentikan kegiatan untuk mencoba mengambil isi berangkas dan lebih melihat ke arah Matthew dengan tatapan kebingungan.
"Canada? Siapa Canada dan America? Mereka kembar? Seperti kita dong! Terus pengasuh bernama France dan Eng...la...nd?"
"What I want is my freedom! From now on, consider me... INDEPENDENT!"
Suara milik Alfred namun memiliki kesan kuat entah mengapa terdengar dari dalam kepalanya menyebabkan kedua kaki milik pemuda yang bertanya langsung bergetar dan lemas.
"Inde...pendent?"
Tangan Alfred menyentuh dahi dan bahkan mulai menjambak rambut pirang miliknya, melihat orang di sampingnya mulai kehilangan kendali terhadap dirinya membuat Matthew panik. Teriakan dengan volume kencang hingga melengking menambah kepanikan hingga bulu kuduk merinding.
"Alfred! Hei tenang! Kau menyakiti dirimu sendiri! ALFRED!"
Sekarang Alfred jatuh ke lantai dan memeluk dirinya sendiri, Matthew tahu kalau hal ini sudah masuknya keadaan darurat. Ia langsung saja berdiri dari sofa dan dengan setengah berlari menuju kamarnya untuk mengambil PASSING miliknya. Setelah gawai yang dibutuhkan diambil, ia langsung cari kontak orang terdekat baginya. Untung saja tak butuh waktu lama untuk telepon diangkat.
"Dengan Arthur Kirkland, di sini? Ada apa?" Suara laki-laki dengan aksen unik ditangkap indera pendengar Matthew.
"Paman Arthur! Ini aku, Matthew!"
Matthew dapat mendengar suara rintihan dari ruang televisi.
"Oh, Matthew! Ada apa? Kau terdengar stress sekali, Lad"
"I-ini berhubungan dengan Alfred, dia entah kenapa... astaga, Alfred hentikan menjambak rambutmu, Kau bisa-bisa terluka!" Matthew langsung kembali ke ruang televisi untuk melepas tarikan kuat ke rambut yang dilakukan Alfred. Tapi, Alfred langsung mendorong Matthew tanpa peduli kalau yang ia lakukan menyakiti si saudara karena kepala bagian belakang mengenai kotak berangkas.
"Aduh!"
"Apa katamu?"
"Aku tak tahu, Alfred maafkan aku! Tolong maafkan aku kalau aku melakukan kesalahan, hentikan hei! Yang penting ke flat kami saja, Paman. Cepat!"
"Baiklah, aku akan ke sana. Mungkin sekalian Francis kuajak"
"Baiklah, Paman. Kutunggu!"
Telepon di tutup. Matthew langsung mencari selotip ukuran besar, dengan sigap ia dorong Alfred ke sofa dan kedua tangan ditarik untuk selanjutnya dilapisi dengan selotip. Karena hal itu, Alfred sekarang lebih memilih untuk berbaring dengan posisi telungkup seperti bayi di sofa. Matthew juga tak lupa meletakkan berangkas ke lantai.
"Alfred?" Matthew dengan pelan memanggil, ia tidak ingin saudaranya tiba-tiba histeris.
"...kenapa?"
Matthew menangkap suara pelan dari Alfred.
"A-ada apa, Alfred?"
"Kenapa mereka mengambil semuanya dariku? Kenapa mereka menandangku? Kenapa mereka membuangku? Padahal... padahal... PADAHAL AKU BERPERANG, AKU LAKUKAN SEMUANYA, AKU KOTORI TANGANKU UNTUK MEREKA! KENAPA MEREKA MENUSUKKU DARI BELAKANG!?"
"ALFRED!"
Kedua mata warna biru berkaca-kaca, pipi basah yang menujukkan kalau Alfred menangis. Kemudian ia menatap bingung Matthew.
"Kau..." kehisterisan berakhir ditutup dengan Alfred yang kehilangan kesadaran.
Alfred berakhir tidur karena kelelahan, Matthew periksa kepalanya dan untungnya tidak ada tanda-tanda terluka. Ia mengigit bibir bagian bawah dan memilih untuk mengambil selimut lalu diletakkan di badan Alfred.
Suara bel berbunyi menandakan kalau ada tamu, Matthew berlari kecil membukakan pintu.
"Paman Arthur dan Paman Francis! Silakan masuk."
Kedua orang bernama Arthur dan Francis ini bisa dibilang paman angkat bagi Alfred sekaligus Matthew. Matthew dijadikan anak asuh oleh Francis dan Alfred diurus oleh Arthur. Ternyata, Arthur dan Francis ini sudah kenal sejak lama karena tak sengaja bertemu di bar. Di mana Francis berakhir mengantarkan Arthur ke rumahnya karena mabuk.
Francis memiliki perawakan khas kaukasia sama seperti Arthur. Francis bedanya punya rambut pirang panjang sebahu, terlihat dari gayanya ia termasuk orang yang peduli dengan perawatan diri. Sedangkan Arthur ini seorang laki-laki rambut pirang pendek yang mendekati milik Alfred, hanya saja memiliki ciri paling khas diantara ketiganya berupa alis tebal melebihi orang normal.
Kedua wajah laki-laki menampakkan ekspresi khawatir.
"Oh Matthieu... ada apa dengan si maniak burger sodaramu? Sampai-sampai si alis tebal ini mendatangi apartemenku dengan wajah khawatir" alis kanan Francis terlihat terangkat.
Mendengar perkataan Francis, Arthur sadar ada kata merendahkan sehingga emosi mulai terpancing, "hei! Tadi apa kau bilang? Alis tebal? Yang penting aku tidak sepertimu, penyuka kaki katak!"
"Oh... untung saja aku tidak sepertimu yang tidak modis, Maniak Teh!"
Matthew hanya bisa memijit keningnya, ia tidak mau kedua paman berakhir bertarung di depan apartemen.
"Paman... kalian lebih baik masuk, bisa-bisa tetangga memperhatikan eh?"
Keduanya batal mencekik satu sama lainnya dan memilih menatap dengan tatapan tajam lalu masuk ke dalam apartemen.
Ketiga orang sekarang sedang berdiri menatap laki-laki yang sedang tidur telungkup. Arthur hanya mengangkat alis kanannya.
"Dia sedang tertidur?"
Matthew hanya bisa tersenyum tipis, "ya... bagusnya dia sudah tenang dan tidur. Tadi dia bener-benar kehilangan kendali. Lihat bagian lengannya, ku selotip sampai hampir habis selotipnya."
Kedua laki-laki yang lebih tua dari Matthew maupun Alfred mendekat dan memeriksa bagian pergelangan orang tertidur. Keduanya saling pandang melihat kalau yang diucapkan Matthew memang benar dilakukan.
"Kenapa? Kalau sampai histeris begini, pasti ada penyebabnya. Apalagi aku kan kerja sebagai Psikolog jadi bisa membantu, mungkin?" Arthur hanya mengelus kepala Alfred seperti orang tua ke anak kecil.
"Uhh... itu awalnya karena aku membaca jurnal dari dalam berangkas di lantai ini" kaki Matthew menunjuk ke berangkas, kemudian ia jongkok untuk mengambil jurnal warna hitam yang dibaca tadi.
"Eh? Mungkinkah Alfred menulisnya? Biasanya kalau lupa dan mengingat hal menyakitkan akan ada 'episode' histeris. Tapi itu kan hanya untuk orang kena PTSD..."
Matthew hanya menggeleng, "kalau memang dia yang menulis. Tidak mungkin pemindai biometrik membaca tanganku, seharusnya tangan punya Alfred kan? Terus juga dia aneh, Paman"
"Aneh? Kau tahu kan kalau Alfred itu memang aneh..." Francis hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Paman Francis! Keadaan Alfred bukan untuk bercanda, eh? Dia... mencoba menjambak rambutnya hingga berteriak melengking dan kemudian menangis merintih. Lalu meledak dengan emosi tinggi mengatakan 'mereka' melakukan hal menyakitkan padanya seperti menusuk, menendang, lain sebagainya" Matthew menatap sendu si saudara yang masih tertidur lelap.
"Menjambak... tunggu, Matthew seperti apa histerisnya?"
Matthew mengigit bagian bawah, "seperti... seperti harimau mengamuk, I guess? Terus juga dia mendorong badanku begitu saja dengan kasar. Ugh, kepala belakangku sakit karena terpentok ke berangkas"
Francis berakhir mencoba memeriksa bagian belakang kepala Matthew, "kau tak apa-apa? Saudaramu sudah keterlaluan! Hei, Tea-freak! Aku tak percaya Alfred bisa sekasar itu!"
Tapi anehnya Arthur tak bergeming, ia tidak terpancing dengan ledekan Francis. Hingga akhirnya kedua mata hijau milik Arthur melebar sepertinya jawaban sudah didapatkan.
"Astaga... itu ciri-ciri orang yang pernah disuntikkan serum blumite. Serum itu bisa merusak sel syaraf di otak oke? Bisa menyebabkan orang kena PTSD juga karena serum itu memang bersifat halusinogen kuat, jadi... Setiap orang yang berhasil melewati kengeriannya biasanya menderita PTSD atau... ingatan palsu"
Francis dan Matthew menatap horor ke arah Arthur, "Arthur!"
Arthur mendongak mendapati kedua orang sedang menatap tajam ke arahnya.
"Ta-tapi tidak mungkin Alfred... pernah disuntikkan serum itu, kan? Dia anak baik, kan?"
Matthew langsung menarik kerah Arthur, ini menyebabkan laki-laki dengan alis tebal terkejut karena cukup diluar karakter pemuda yang biasanya sopan.
"Jangan bercanda, Paman! Alfred seumur hidup aku mengenalnya bahkan dari panti asuhan. Dia anak baik-baik dan hanya punya sifat menyebalkan yang tidak sampai masuk kategori kejahatan, oke!?"
"Mathieu, tenang!"
Matthew melepas kerah Arthur setelah Francis mencoba menenangkan.
"... kenapa Alfred bisa terkena PTSD hanya karena jurnal ini?" Tanya Matthew tidak pada siapapun.
Author: Uwaaaah 6 fave! 6 fave! Tapi kapan nyelesaiin multichap yang lain. Maaf juga kurang panjang karena keburu tepar (saya lagi nggak enak badan)
Akhir kata, selamat menunggu di chapter selanjutnya yang gak tau kapan dilanjutin, hehe *dilempar sepatu sama pembaca*
