Up Chapter 7c... Udah ah besok masuk special chapter dulu baru chapter 7d :'v

Balas Review :

girl-chan 2 :

Alex : Ya makasih, ntar kapan-kapan aku dateng... emangnya kayak gimana ya mukanya Tumma.

Red : Lu cek aja sendiri... asal jangan bawa pistol, anti-material sniper, granat, bom, piso, apapun yang membahayakan.

Alex : Ye kali, gue bawa senjata perang gue -.-

Rone : ya buat jaga-jaga aja, takutnya lu malah nganggep dia B.O.W lagi nanti.

Alex : Emangnya dia monster apa =.=

Takano : Sama jangan buka penutup matamu, ntar yang ada disana orangnya kabur semua.

Alex : Iya, iya... tau.

Chapter 7c : Biohazard -Ambigu moment- (Revan : kok gue punya firasat buruk ya sama judulnya -_-)

Monika side (ganti lagi)

Monika yang baru masuk ke dalam sebuah rumah kecil di taman. sepertinya rumah itu tidak mencurigakan, tapi ketika dia mau membuka sebuah pintu dia mendengar percakapan orang lain. Tapi ada yang lebih anehnya lagi pembicaraan orang diruangan itu agak ambigu buat didengar.

"Eh.. gimana? mau dilanjutin nggak!?" tanya seorang pria yang suaranya mirip Rei.

"Ya, mungkin lanjutin aja. Tapi, gue agak nggak yakin sih..." ucap seorang pria yang suaranya mirip Alpha.

"Udahlah.. lanjutin aja!"

"Pelan-pelan kek! gue masih agak nggak yakin soalnya!"

"Tapi, setidaknya lu udah siapkan?"

"Tau dah... ya dikit doang sih."

"Ya ampun... Mereka ngapain sih!" gumam Monika sambil nempelin kupingnya dipintu.

"Yaelah! Udah lanjut mah, lanjut lanjut aja nggak usah takut!"

"Ya tapi, gue masih khawatir tau nggak!"

"Tenang mereka bakal baik-baik saja kok."

"Tapi, kenapa kau harus menghancurkan S.T.A.R.S?"

"Eh... kayaknya menarik nih!" gumam Monika.

"Ini memang sudah menjadi tujuan gue, gue harus menarik mereka kesini dan ninggalin mereka disini."

"Dan keluarga gue gimana?"

"Kan udah gue bilangin mereka bakal baik-baik aja, udahlah lanjuti tugas lu gue pergi dulu!"

"Yauda-"

"Stop! Stop! Stop! Kalian ngapain!?" teriak Monika sambil ngedobrak pintu yang dia mau buka barusan.

Tapi, diruangan itu cuma ada Alpha doang sendirian nggak ada orang lain selain dia.

"Alpha! lu tadu ngomong sama siapa!?" tanya Monika curiga.

"Apa... nggak! gue ngomong sendiri kok!" sanggah Alpha.

"Terus tadi apaan!?"

"Udah dibilangin, gue ngomong sendiri!"

"Berati lu gila dong!" celetuk Monika.

"Gue nggak gila! Mungkin... Dikit sih iya."

"Udahlah, gila mah! ngaku aje nggak usah ngeles kayak Revan ngeles Red!" celetuk Monika yang sukses dilempar sepatu sama Revan dan sebelum Revan ngamuk dia udah ditahan sama Rone duluan.

"Lepasin gue!! gue mau hajar tuh cewe!!" bentak Revan.

"Sabar Van! Sabar Van!" kata Rone sambil nahan Revan.

"Iket dia!!" seru Salem.

Akhirnya Revan diiket dibangku sambil ngeronta minta dilepasin.

"Lepasin gue!!"

"Kayaknya nggak ada cara lain.." kata Edgar ngeluarin balok kayu entah darimana dan mukul kepala Rone. Rone seketika pingsan dan bangun lagi, kemudian deketin Revan.

"Revan... Nggak boleh gitu atau kamu aku hukum." kata Rone dengan nada Sadis.

"Ro..Rone.. Jangan ggggitu!" kata Revan mulai ngerasa nggak yakin.

"Hmm... benarkah." kata Rone sambil nyium Revan.

"R..Rone." Mata kosong, Mulut ngiler, Otak ngestuk. Revan jadi Maso lagi dan semuanya ngeliatin Revan dengan tatapan Horor.

"Gar, cepet ketok Rone lagi.." bisik Salem.

"Okeh.."

"Tu...Tunggu, Gar jangan berbuat yang gega-"

Edgar yang mau ngetok pala Rone malah dilempar sama Rone keluar markas.

"Bah..."

"Ini harus gimana?" tanya Adelia panik.

"Siram mereka pake air dingin." kata Eris.

Dengan segera Adelia ngambil seember air dingin dan nyiram Rone pake air dingin, seketika Rone sadar.

"Revan, lu? bbbrrr!"

"Rone... Hukum aku Rone..." pinta Revan sambil liatin Rone dengan tatapan kosong.

krik, krik, krik...

"Okeh!! Aku Akan Menghukum Dirimu!!" teriak Rone dengan cairan mmerah keluar dari hidungnya.

"Et dah! Rone Stop!" cegah Alex sambil supplex Rone.

"Udahlah! kapan kita balik nonton lagi!" sanggah Mia.

"Eh, iya. Kita malah nge OOT dari tadi."

"Lanjut!"

Red side...

Red masuk keruangan yang ada tanamannya, tapi tanaman itu berukuran luar biasa besarnya dan salah satu tentakel dari tanaman itu mengikat Red.

"Uwahh!!"

Elemy yang kebetulan juga ada di rumah kecil tersebut, ngedenger teriakan Red segera masuk keruangan tersebut.

"Red!!"

"Emy!! Woah!!"

Emy ngarahin pistol dia ke tanaman itu.

"Itu percuma lu harus!! Woah!! Buat Racun buat Tanaman ini!!"

"Gimana caranya!!?"

"Nih ambil! Bukunya buat ngasih tau cara buat Racunnya!! Siram ke akarnya! Akarnya ada di- woah!! Dibasement!"

"Okok.. Eh!! Cara masuk basementnya gimana!!" seru Elemy

"Lu Masuk Wah!! Kamar No.02 trus kalo ada tangga tinggal turun aja dan cari pintu besi!! Cepet!!"

"Ok Red! Jangan Mati duluan ya!! Sama jangan ada genre Tentakel kalo ada!!" Teriak Elemy yang sukses membuat semua orang (termasuk Red) sweatdrop.

Elemy masuk ke ruang kimia dan nemu berbagai bahan kimia, tapi entah dia agak bingung karena dia agak kurang ngerti soal kimia. Tapi, dia dapet hint dari tulisan yang ada di tembok. dia dengan cepet nyaet semuanya

"Air 1, merah 2, ungu 3, hijau 4."

"1 2 = 3, 2 4 = 6, 4 3 = 7, 6 7 = 13, 13 3 = 16."

"Bentar, coba gue baca bukunya dulu." gumam Elemy sambip membuka buku yang dikasih Red barusan. "Oh... 16 itu terakhir!! Ok!"

Dengan cepet Elemy nyampurin semua bahan kimia yang dia liat. Yah biarpun ada sedikit kesalahan juga.

"Mana Ungunya!?"

"Aduh! Kelebihan!"

"Ups! Salah Campur!!"

"Uhuk! Uhuk! Aduh Bau banget!"

"Thun! Bantuin tuh pacar lu!" kata Jung.

"Biarin aje! Biar dia Usaha!" sanggah Thundy tidak peduli.

"Akhirnya! Jadi!" seru Elemy lari keluar ruangan sambil bawa Obat Kimia buat Taneman tersebut. Dia lari dari ruangan sambil nutup hidung dia karena bau obatnya busuk banget.

Dia masuk kedalam ruangan yang dibilang Red dan ngeliat akar taneman tersebut.

"Nah... Taneman Jelek! Mati kamu!" gumam Elemy sambil nyipratin obat kimia ke akar tanaman tersebut. Tanaman itu mengecil, tapi bau obatnya makin nyengat dan hampir buat Elemy muntah. "Ih! Bau banget dah!"

Elemy langsung keluar ruangan dan lari sambil ngibas-ngibasin tangan dia. "Itu terakhir kalinya gue bakalan ngeramu obat kimia. Bau banget!"

Kembali ke Red...

"Aduh!" Red dibanting tanaman tersebut setelah tanaman tersebut menyusut ukurannya.

Red langsung bangun dan lari ke perapian dan ngambil kunci lainnya sebelum tanaman itu kembali keukuran semulanya. Diluar ruangan dia kbali bertemu dengan Elemy yang baru balik dari basement.

"Red! Gimana? Lu nggak apa-apakan? sama tadi nggak ada kejadian dengan genre 'tentakel'-kan?" tanya Elemy yang nuat semua orang sweatdrop.

"Entah kenapa tuh pertanyaan agak ambigu banget ya..." ujar Lectro sambil minum jus jeruk.

"Nggak ada apa-apa, dan lu nanyain gituan agak ambigudah Emy.." kata Red.

"Yaudah... Asal lu Ok, ok aja, udah lebih baik kok. Oh ya... Em.. Gue balik ke markas duluan ya. Perlu ngecek si Maurice, apa dia udah bangun apa blom.." kata Elemy dan ninggalin Red di ruangan itu.

"Hati-hati ya.."

"Yah.."

"Wih! RedEle bakal he- Aaahhh!!" Sontak Rendy disetrum Thundy dari belakang.

"Entah kenapa gue mau nyetrum lu tadi.." kata Thundy setelah nyetrum Rendy sampe kejang-kejang.

Revan yang udah sadar dan lepas dari iketan langsung nendang Rendy. "Beraninya lu ngomong kayak gitu hah!!" bentak Revan sambil nginjek-nginjek badan Rendy.

"Ampun!"

To be Continue... Part 7d

Minggu depan special Chapter mungkin agak sedikit ngaco-ngaco dikit sih :D