Balas Revievv :

Girl-chan 2 : Oh.. Babang Leon toh :V

Maklum lah, kalo nama orang disingkat jadi ndak ngeh.

Lectro : Udah diatas kata nista bahkan.. Ada yang nggak normal banget. ._.

Thx!

Chapter 18 : The Daily life of Ghost Lancer.

~Awaken as a binded soul~

Citadel Cemetery

"Ketua.. Kita ngapain ke kuburan sih?" tanya Marisa.

"Ikut gue dulu dong.. Lagi pula lu bisa make skill buat mengikat jiwa orang yang udah mati, kan?" tanya Reha.

"Iya sih.. Cuman ngapain dipake kalo misalnya nggak ada yang kenal orangnya!" jawab Marisa.

"Ish! Tenang, gue hanya kau lu hidupin seseorang kok!" ucap Reha sambil menarik tangan Marisa ke sebuah makam yang terukir nama 'Alfredo Lanceford'.

"Nah, hidupin jiwa dia, Marisa!" perintah Reha sambil menunjuk ke arah makam tersebut (jan lupa gigit jari ya *plak).

"Dia siapa memangnya?" tanya Marisa penasaran.

"Udah hidupin aja dulu, ntar gue ceritain." sanggah Reha.

Marisa mengangkat kedua bahunya dan mulutnya mulai komat-kamit mengucapkan mantra pengikat jiwa, "Uvuv WeVewevade 'blablablabla' " (males dilanjutin)

Kemudian, sebuah asap mengepul dari makam tersebut dan muncullah seorang pria dengan rambut merah muda dan bekas jahitan di lehernya.

"Siapa yang summon gue barusan?" tanya Alfredo bingung.

"Hai, Alfredo.. Lama nggak bertemu." sapa Reha.

"Oh kau rupanya.. Apa kau yang summon gue tadi?" tanya Alfredo.

Reha geleng-geleng kemudian menunjuk kearah Marisa. Alfred menatap tajam ke arah Marisa denfan wajah super datarnya (yang bener yang mana).

"Mau apa kalian summon gue! Gue bukan alat perang dan pesuruh!" ucap Alfredo geram.

"Nggak kok, gue hanya mau lu balik ke seseorang." ucap Reha.

"Hah!?"

Reha menunjukan foto Eris ke Alfredo dan dia hanya diam saja. "Jadi, gue bakalan..."

"Yap, jiwa lu bakal keiket sama Adek tiri lu! Sampe dia mati." ucap Reha sambil tersenyum.

"Entahlah.. aku senang apa sedih mendengarnya tapi terima kasih." balas Alfredo.

"Nggak masalah.. Ayo kita pulang Marisa."

"Ok, Ketua."

'Jadi, dia itu kakak tirinya, kak Eris toh..' batin Marisa.

Di markas Squad...

"Eris! Eris Maen Yok!" Teriak Reha sambil menggedor pintu kamar Eris dengan brutal.

"Brisik lu! Kayak bocah manggil temennya aja!" bentak Eris dan membukakan pintunya.

Ketika dia membuka pintunya, Eris kaget dengan seseorang di belakang Reha yang tinggi banget dan Reha hanya sebahu dirinya.

"A.. Al.. Alfred!" kata Eris yang shock melihat Alfredo dibelakang Reha dan tiba-tiba memeluk dirinya.

"Hai.. Apa kau merindukan diriku?" tanya Alfred dipelukannya.

"Ya.. Aku merindukanmu- tu.. Tunggu sebentar!! Bagaimana bisa kau kesini!" celetuk Eris yang baru ngeh kalau Alfred tiba-tiba lepas dari batu makamnya sendiri, kemudian dia menatap tajam ke Reha.

"Ehehe... Ketauan ya.." ucapa Reha sambil menggaruk kepala belakangnya.

"Reha! Kau menggunakan dark magic 'soul binding' ya!?" tanya Eris dan dia mengeluarkan aura gelap daari belakang punggungnya.

"Iya.. Tehe.."

"AAAAARGH!! RASAKAN INI!! BAKAICHOU!!" Summon portal dibawah kaki Reha yang meneleport dia ke drop zone.

~Muka Datar~

Setelah Alfred kembali bersama sang 'adik tiri', dia merasa bahagia tapi itu hanya tercermin dihatinya dan senyuman tipisnya karena setelah diketahui bahwa Alfred memiliki ekspresi muka yang sangat datar (bahkan bisa dibilang melebihi ekspresi datar dari Rone.)

"Oi, Eris adu tatap yuk! Yang kedip duluan kalah!" tantang Ethan.

"Sama Alfred dulu aja baru gue!" balas Eris.

"Ok, siapa takut!"

Pertandingan tatap menatap antar Ethan dan Alfred dimulai.

'Gue pasti bisa menang!' pikir Ethan serius menatap Alfred yang memiliki muka datar.

'Gue nggak tau, gue ngapain..' batin Alfred.

10 detik.. Tak ada efek..

15 detik... Ethan mulai gelisah...

25 detik.. Ethan kalah..

"Anjrit!! Gue kagak nahan liat muka Alfred!! Datar banget!!" seru Ethan sambil mengucek matanya. Sementara, Alfred baru berkedip dan kebingungan dengan sikap teman adik tirinya itu.

"Tadi, gue ngapain ya? Kok ngerasa aneh sih..." gumam Alfred dengan muka datarnya. (What the- kacang!)

~Kujungan~

"Ris, bawa Alfred jalan-jalan ke markas Garuchan sana!" perintah Reha.

"Hmm.. Ok.. Alfred, jalan yok." pinta Eris, alfred hanya mengangguk kemudian mereka pergi keluar bersama-sama.

Takano menjitak pelan kepala Reha, "hei, kau pasti mempunyai suatu rencana kan, membawa Alfred ke markas Garu?" tanya Takano skeptis.

"Iya.. Tapi, Rahasia~" jawab Reha.

Di markas Garu squad..

"Jadi, ini tempatnya, Eris?" tanya Alfred yang kebetulan (atau memang itu yang dikenakan) hanya memakai Kaos V-neck tanpa lengan, Celana Jeans, dan kalung.

"Memang ini tempatnya Fred.." kemudian, Eris memencet bel di pintu depan markas.

Ting Tong!

Kemudian, seseorang yang mengenakan kostum 'ThunderBird' membukakan pintunya.

"Hei Tum, lu kenapa masih pake kostum?" tanya Eris bingung.

"Yah, aku hanya takut ada orang asing yang ketakutan melihatku nanti, misalnya dia..." Tumma menunjuk Alfred yang dibelakang Eris.

Eris hanya menggelengkan kepalanya, "udahlah, nggak usah malu! Dia nggak bakal takut kok!"

"Hmm, Baiklah.." Tumma membuka topengnya sambil menunduk karena takut menunggu reaksi dari Alfred.

Alfred sedikit tersentak ketika melihat rupa dari Tumma, tapi dia merasa tidak enak jika menyinggungnya, "Penampilanmu, tidak buruk kok!" ucapnya sambil tersenyum lembut.

"Hmm, Terima kasih..." balas Tumma sambil tersenyum tipis, "Ayo masuk!"

Di ruang tengah semuanya kaget melihat Eris datang bersama seseorang dibelakangnya.

"Wah, Eris! Eh, Siapa yang dibelakangmu itu?" tanya Alpha sambil menunjuk Alfred.

"Err.. Ini, 'Mantan' gue.." jelas Eris agak risih.

"Salam Kenal! Aku Alfredo Lanceford, panggil aku Alfred!"

"Kukira Revan doang yang pacarnya cowok..." celetuk Vience sambil menahan tawa.

"Kok lu nyebutnya 'Mantan' sih, Ris?" tanya Mathias.

"Err.. Soalnya.."

Alfred melihat ke arah seorang pria yang memperhatikannya sejak tadi. 'Apa yang dia perhatikan dari diriku ya' gumam Alfred.

Entah tiba-tiba pria itu shock dan wajahnya memucat ketika melihat kakinya yang melayang.

"HANTUUUUUUUU!" jeritnya sambil kabur tunggang-langgang.

"Lho kok, Thundy yang kabur? Bukannya yang takut hantu itu Rendy?" tanya Eris bingung.

"Itu emang Rendy, dia lagi cosplay jadi Thundy..." jawab Mathias watados.

"Ooh..." Eris langsung sweatdrop mendengarnya.

"Oh iye, tadi gue nanya kenapa dia dipanggilnya 'mantan', Ris?" tanya Mathias.

"Sebenernya sih... Dia ini Mantan gue sebagai Kakak Tiri, cuman yah.. Biasalah Ketua Gebleg emang begitu. Jawab Eris watados.

"Ooh..." Mathias hanya sweatdrop mendengarnya.

"Ngomong-ngomong... Kalian lagi ngobrolin apa nih?" tanya Eris.

"Kita sebenernya mau ngestalk kakaknya Salem sama si Edgar besok.." bisik Alpha.

"Ooh... Sini gue kasih tips, biar lancar ngestalknya." Eris mulai membisikan sesuatu ke pria 'Nista' tersebut. "Ahh! alfred kau boleh keliling sendiri dulu!" ucap Eris, Alfred hanya mengangguk dan pergi.

~That Ghost Girl..~

Alfred berkeliling markas Garu sendirian tanpa arah (karena di sendiri bingung mau kemana.) Kemudian, dia sampai ke ruang baca. Mungkin, disitu dia bisa menemukan buku yang menarik perhatian dirinya.

Sampai dia tak sengaja bertemu dengan seseorang yang memakai kostum set prajurit lancer disitu, "Emm.. Permisi, apa kau salah satu anggota markas ini?" tanya Alfred ke pria itu.

Pria itu membalikan badannya dan melihat kearah Alfred. Awalnya tampangnya biasa saja, tapu saat melihat kearah kakinya Alfred dia langsung shock berat.

"HYAAAA!!! HANTUUUU!!" Pekuk pria itu sambil kabur tunggang langgang.

Alfred kebingungan dan menetap di ruang baca saja sampai dia melihat seorang perempuan berambut plum. Sepertinya dia pernah melihat gadis itu di pemakaman.

"Emm... Maaf, apa kau salah satu dari anggota squad ini?" tanya Alfred sambil menepu pundak gadis itu.

"Ahh! Owh.. Yah, aku salah satu anggota sini.. Err... Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku tidak merasa asing dengan mukamu." jawab gadis itu sambil melihat kearah kuka Alfred.

"Aku Alfredo Lanceford! Penghuni dari salah satu makam di Blok G.."

"Aku Ashley Yudori.. Aku lupa tentang beberapa info yang lain.. Tapi, kau dari blok G, berarti kau salah satu orang yang berasal dari anggota kerajaan ya?" tanya Ashley.

Alfred hanya mengangguk.

"Kau kesini dengan siapa? Yang aku tau, hantu tidak bisa lepas dari ikatan makamnya kecuali ada yang memerlukan dirinya atau di summon dengan dark magic.." tanya Ashley.

"Aku bersama dengan adik tiriku, dia salah satu anggota squad juga soalnya." jawab Alfred datar.

"Owh.. Siapa orangnya?"

Eris kemudian nongol disebelah Alfred, "Alfred.. Disini kau rupanya, oh ada Ashley rupanya.. Hai!"

"Hai, Eris-kun! Sepertinya kalian saling mengenal ya."

"Dia ini adik tiriku..." jawab Alfred watados.

Ashley hanya ber-oh-ria saja.

"Sudah ya.. Aku mau pergi dulu. Dah!" ucap Ashley dan melayang pergi.

~Benang di leher~

"Yah... Terima kasih sudah mengunjungu kami ya." ucap Luthias sambil menyerahkan sebuah makanan ke Eris.

"Yah sama-sama..." balas Eris yang sweatdrop karena melihat Salem dan Rendy yang menatap tajam kearah mereka berdua.

Alisa melihat sebuat benang terjuntai di leher Alfred, dia penasaran dan ingin menarik benang itu, "ini benang apa?"

Alfred dan Eris langsung panik ketika melihat Alisa menarik benang dileher Alfred, "Alisa!! Jangan tarik!!"

Syuutt!

Plukk!!

"GYAAAAA!!! KEPALA BUNTUNG!!"

Apa yang terjadi?

Kepalanya Alfred terlepas dari badannya dan menggelinding di lantai yang menyebabkan kepanikan masal.

Rendy dan Salem pingsan dengan mulut berbusa, Alisa bengong di tempat, Mathias Kayang dilantai, Teiron jejerit ala perempuan dengan suara cemprengnya, Alpha merayap ke pintu terdekat, Luthias udah jantungan duluan, Edgar nutupin mata suci Edward sama mata dia juga, Vience nyakar-nyakarin tembok terdekat, Thundy jungkir balik, Rina nangis di tempat, Lucy kejang-kejang, Maurice udah pingsang sambil kejang-kejang duluan, Sementara, sisanya hanya teriak dan sweatdrop berjamaah.

"Lain kali... akan aku suruh Alfred memakai jaket saja.." batin Eris sambil membawa kepala Alfred dan sweatdrop.

~Belanja bersama~

"Alfred.. Temenin belanja yuk..." ajak Eris.

Alfred hanya mengangguk dan pergi mengikuti Eris ke pasar swalayan.

Beberapa saat kemudian di pasar swalayan...

"Hei, Alfred kau nanti kau apa? Sarden atau Makarel." tanya Eris sambil memegang dua buah ikan kalengan.

"Sarden saja..."

"Baiklah.. Hei, itu mereka berdua." kata Alfred yang menunjuk Edgar dan Naya tidak jauh dari mereka.

Eris memutar badannya dan melihat mereka berdua, "persis Alex sama Silica ya Mereka." gumam Eris.

Berapa saat kemudian..

"Yah.. Kita sudah mendapatkan semua barang yang diperlukan dan kita masih punya banyak waktu juga." Ucap Eris sambil melihat ke daftar belanja yang dia bawa.

Kruuyuukk!

"Kau lapar?" tanya Alfred ketika mendengar suara perutnya Eris.

Eris hanya blushing ketila seseorang mendengar suara perutnya karena kelaparan, "yah... Mungkin kita makan dulu sebelum pulang."

Mereka mencari sebuah tempat makan di pasar tersebut. Tapi, tiba-tiba Eris merasa ingin buang air kecil dulu sebelum pergi ke restoran tersebut.

"Maaf, kau tunggu sebentar dulu ya.. aku mau ke toilet." ucapnya dan langsung pergi ke toilet.

Alfred menunggu di luar toilet dengan muka datarnya, entah kenapa setiap orang yang melewati dirinya memperhatikan dirinya ketika lewat depan dirinya, terutama perempuan. Tak lama kemudian, Eris keluar dari toilet.

"Apa aku lama?" tanya Eris dan Alfred hanya menggelengkan kepalanya.

Tiba-tiba, dua orang perempuan menghampiri mereka.

"Emm.. Maaf, apa kami boleh meminta foto kalian?" tanya salah satu dari mereka.

"Baiklah.. Kau tak apa kan? Alfred?" tanya Eris dan Alfred hanya mengangguk.

Beberapa foto kemudian...

"Terima kasih, sudah mau membagi waktu kalian.." ucap salah satu dari mereka dan pergi.

Alfred hanya tersenyum tipis dan membawa Eris pergi, "well... Seperti ya mereka sudah pergi.. Ayo jalan!"

"Ish! Sabar dong!"

Di Restocafé..

"Kau mau memesan apa?" tanya Eris sambil melihat daftar menu.

"Hmm... Caramel Cocoa Cluster Frappucinno yang Blended Coffee dan makanannya tolong cinnamon roll." Ucap Alfred.

"Pastideh.. Selalu kalau makan ke Restoran atau Café pasti selalu ngambil yang mahal." ujar Eris sambil menutup daftar menunya.

Alfred seakan tidak peduli dengan perkataan adiknya dan memanggil pelayan.

"Hmm..." Eris melihat seorang yang dia kenal bersama dengan seorang perempuan buta dibelakangnya.

'Itu merek berdua...' batinnya.

Tapi, dibelakangnya lagi terdapat dua pria berjubah yang bisa dibilang... Menarik perhatian pelanggan satu Restoran. Eris yang melihat kejadian itu hanya bisa facepalm sendiri.

'Hadehh! Udah dibilangin penyamarannya jangan yang mencolok orang banyak!' gumamnya ketika melihat kearah Alpha dan Salem yang memakai jubah panjang tersebut.

Sementara, Alfred hanya bisa kebingungan melihat adiknya yang tiba-tiba facepalm tersebut. 'Dia kenapa?'

~Nightmare~

Eris tertidur di kamarnya, tapi entah kenapa sepertinya dia memasang muka tidak nyaman karena sesuatu.

(Eris P.O.V)

Siang hari, ketika itu aku memakai sebuah jubah kumuh berwarna coklat tua. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa ingin ke kota yang menganggap keluargaku itu musuh tersebut, kabarnya mereka bakal melakukan acara pengeksekusian tahanan mereka, aku penasaran dan menghampiri kota tersebut dengan penyamaran seadanya. Ketika mencapai alun-alun kota, aku melihat kerumunan orang berkumpul di depan eksekutor dan pisau pemenggal raksasanya (lupa namanya). Mungkin, ini adalah pertama kalinya aku melihat pengeksekusian orang.

Tapi, aku tertegun ketika melihat orang yang akan dieksekusi adalah.. Kak alfred...

Tidak! aku tidak percaya ini! Aku tak mau dia dieksekusi!

Aku ingin berteriak namun tak bisa karena mulutlu seperti tertahan sesuatu dan juga jika aku berteriak pasti orang-orang akan tau siapa diriku.

Alu melihat kak Alfred menengok kearah penonton dan sepertinya dia melihatku diantara para orang-orang ini. Dia tersenyum tipis, kemudian pisau itu terjatuh dan..

(Normal P.O.V)

Eris terbangun dari mimpi buruknya yang kadang terulang itu, dia meringkuk kedua kakinya dan menangis ketakutan.

Alfred baru masuk ke kamar Eris dan melihat Eris menangis di atas kasurnya.

"Eris.. Ada apa?"

"Kak.. Aku takut.. Kak!"

"Mimpi buruk?"

Eris mengangguk dan memeluk Alfred.

"Sudah, sudah.. Sini kakak temani dulu kamu.." ucap alfred kemudian dia mencium kening adiknya itu.

Alfred ikut tidur di kasur Eris dengan Eris yang memeluknya seerat mungkin. "Makasih ya... Kak.."

"Ya.. Sama-sama."

Bonus :

Suasana Markas squad sedang tenang bin normal sekarang sampai sebuah kejadian terjadi..

"ANDRE NGGAK MAU PAKE INI LAGI!!" seru Andre sambil melempar alat bantu melihatnya dan seketika itu pula matanya langsung buram lagi.

"Andre kenapa, Lex?" tanya Red bingung yang melihat Andre tiba-tiba ngelempar alat bantu melihatnya dan ngurung diri di kamar.

Alex hanya menghelakan nafasnya, "Anak itu tersinggung soal matanya yang buram dari pada buta soalnya."

"Trus apa hubungannya?" tanya Red bingung.

"Entahlah, orang seperti dia memang sulit dikasih tau. Sekalinya ngambek, bisa ribet banget, biarpun udah manggil kakak gue." jawab Alex sambil menunjuk Ars yang baru dateng.

"Mana Andre?" tanya Ars.

"Ngambek, ngunciin diri di kamar." jawab Alex datar.

Ars hanya bisa menghela nafasnya dan mengetuk kamar Alex, (karena Andre sekamar sama dia. "Andre... Ini kakak.. Buka pintunya."

"Nggak mau! Hiks... Andre nggak mau keluar!!" jawab Andre dari dalam kamar dengan terisak.

"Andre... Tolong buka pintunya... Biarkan kakak masuk, kakal mau ngomong sama kamu." ucap Ars sambil mengetuk pintu.

"Nggak! Andre nggak mau ngeliat kak Ars lagi! Kak Ars jahat, Hueeee!" suara tangis Andre makin kencang dari dalam kamarnya.

"Ada apa ini?" tanya Takano yang baru datang.

"Andre ngambek dan nggak mau keluar kamar." jawab Red datar.

"Oh.. Biar ayah yang tenangin..." Takano mengetuk pintu dan membujuk Andre agar membiarkan dirinya masuk. Akhirnya, Andre mengijinkan Takano masuk dan membukakan kunci pintunya.

Takano masuk ke ruanga dan menemukan Andre yang sedang menangis di kasur sambil selimutan.

"Andre... Jelaskan kenapa kau sedih?" tanya Takano sambil mengelus pelan rambut Andre.

"Andre.. Iri, yah."

"Iri? Dengan siapa? Dan kenapa kamu bisa iri?" tanya Takano lembut.

"Andre iri dengan kak Naya, karena dia bisa bahagia biarpun tetap buta. Sementar, Andre sendiri baru bisa bahagia setelah dikasih alat bantu pengelihatan dari kak Ars." jelas Andre.

"Nggak begitu dong, kamu harusnya yang lebih bangga karena punya kakak yang sudah mau nolongin kamu buatin alat itu." ucap Takano sambil mengusap kepala Andre.

"Tapi yah-"

"Sshhtt, begini Andre... Kakakmu Ars dan Alex sudah berusaha sekuat tenaga mereka demi kamu agar kamu bisa senang, mereka rela mengorbankan waktu mereka demi kamu. Coba kalau Ars lebih kejam, pasti dia nggak bakal buatin kamu alat bantu ini sekuat tenaganya, coba pikirkan kalau Alex lebih cuek ke kamu, pasti dia juga nggak akan peduli kamu ngambek atau menangis seperti tadi, paham?" jelas Takano sambil memakaikan alat bantu melihat Andre ke tangannya lagi.

Andre mengangguk dan tersenyum ke arah Takano kemudian menghapus air matanya.

"Nah, sekarang minta maaf ke mereka berdua. Pasti mereka menerima permintaan maafmu." ucap Takano.

Note :

Biografi Alfred dan Eris:

Alfredo Lanceford, Lancer, 28 tahun (sekarang)/23 tahun (mati), 94 kg, 203 cm (jangkuk bet!), ultah 18 Oktober.

Eris Lanceford, Jumper, 23 tahun, 180 cm, 74 kg, ultah 19 september.

Fun fact :

1. Alfred memiliki muka terdatar di squad, bahkan yang bisa baca ekspresi dia hanya Eris.

2. Alfred mati karena jadi tawanan dan di eksekusi penggal dan Eris ngeliat semua itu.

3. Eris hanya anak angkat keluarga Lanceford. Dan kenapa dia bisa seperti itu masih misteri.