Balas Revievv :
Girl-chan 2 : Cie, Yang Bad Mood! :V *nari gaje dan kabur takut di lempar kapak.
Red : Serius, gue ngakak pas alucard bilang kambing. sampe yang dangdutan pada ngerem sampe tiban-tibanan satu sama laen. :V
thx!
ini Bigfoot 2nd kan abisnya nulisnya yang dulu pernah maen LS? : Wuis, sabar mas. sabar... tahan jangan marah ingat lagi puasa.
Alucard hanya OC disini bukan termasuk dari game ML ya, karena gue tau kalo di ML ada Alucard juga karena maen. tampangnya juga beda jauh kok, disini matanya Heterochromia Iridum (baca : ODD eyes dan CMIIW) -w-'.
Thx!
Chapter 24 : Unseen Moment
1. Ketika Red meng'dekorasi' kamar Teiron. (Beberapa hari setelah kejadian 'balada Cynophobia')
Ting tong.
"Permisi!" ucap Red setelah memenet bel pintu.
"Ya..." sorang wanita berambut merah membukakan pintu untuk Red. "Wah, Red tumben kemari."
"Iya, bibi Rilen, aku hanya mau memberikan hadiah ke Teiron karena dia sudah mau menjaga Hato saat kesini." kata Red sambil tersenyum, tapi punya arti lain di senyumannya itu.
"Ooh, yaudah.. Silahkan masuk saja, tapi Teironnya lagi keluar mau nunggu tidak apa-apa?" tanya Bibi Rilen.
Red mengangguk dan bibi Rilen malah memberinya jalan masuk ke markas. Red dengan senang hati masuk dan pergi kedalam.
"Emm... Kamarnya dimana ya? Biar aku tunggu dikamar aja deh." ucap Red watados.
"Oh, yaudah sini, bibi tunjukan." kemudian Red mengikuti bibi Rilen ke kamarnya Teiron dan membukakan pintu kamarnya untuk Red. Padahal itu adalah sebuah kesalahan besar.
"Jika kau mau pulang saja atau apa tolong dikunci lagi pintunya, ya." kata Bibi Rilen sambil menyerahkan kuncinya ke Red. "Terima kasih."
Pintu ditutup dan Red sendirian di kamar Teiron. Red kemudian membuka box yang dia bawa daritadi dan langsung berseringai jahat dan ketawa pisikopatnya keluar.
"Hahahahahahahahahahaha!! Kau akan menerima balasanku!!" Red mulai mendekorasi kamar Teiron dengan kejamnya.
Beberapa menit kemudian...
"Tinggal sentuhan terakhir dan yak! Beres!" Red tersenyum puas disela senyuman jahatnya. Kemudian, dia keluar kamar Teiron dan menguncinya lagi.
"Are? Sudah mau pulang?" tanya Bibi Rilen di ruang tengah.
"Iya, dianya kelamaan soalnya jadinya aaku pulang duluan saja. Terima kasih ya, Bibi." Red kemudian pergi keluar markas dan kembali ke squad.
Sepuluh menit kemudian...
"Kami pulang!" ucap beberapa anggota yang baru pulang keluar markas.
"Selamat datang.."
Teiron langsung pergi ke kamarnya tapi, ketika dia mau membula pintu kamarnya. Entah kenapa saat dia kau memegang knop pintu kamar dia merasakan aura jahat yang sangat jahat dari pintu itu.
"Kenapa Ron?" tanya Ikyo yang melihat Teiron hanya diam saja.
"Lu ngerasainnya nggak kalau pintu kamar gue auranya jahat banget." ucap Teiron datar.
Ikyo mencoba mendekati pintu kamar Teiron dan memegang knop pintunya dan..
"Anjirt! Hii! Suram bener!" pekik Ikuo ketika memegang knop pintu kamar Teiron.
"Ada apa nih?" tanya Thundy sama Alpha yang baru nongol.
"Aura kamar Teiron suram banget!" kata Ikyo agak merinding.
"Yakin? Coba gue bu- Anjrit! Suram banget!" jerit Alpha yang memegang knop pintu kamar Teiron.
"Coba ya, gue buka.." Thundy mencoba membuka kamar Teiron dan mengabaikan aura suramnya. Tapi, saat dia berhasil mencoba membuka pintu kamarnya.
"AAAAAAAAAAHHHHHHH!! KALIAN MENGGANGGU KETENANGANKU AKAN KU HANTUI KALIAN SETIAP SAAT SAMPAI MATI!! HIDUP LUCIFER RAJA KAMI!!" Jerit Thundy dengan mata putih semua yang menandakan..
Dia kesurupan!!
"THUNDY KESURUPAN!!" Jerit Trio (Baka) Golden Rare itu sambil kabur tunggang-langgang yang sukses membuat heboh satu markas.
(Me : seriously, Red. Ini level 5 apa 10 sih? -.- ; Red : level sepuluh lah! Level lima mah kekecilan!!)
2. Beberapa moment dengan keluarga yang terlewatkan saat Thanksgiving.
~Maya~
Maya sedang mengurus kebun bunganya, biarpun dia hanya menanam bunga mawar tapi, setidaknya itu bervariasi jenis mawarnya, mulai dari biru, merah, putih, kunging sampai pink.
"Yak, sudah sele-" saat dia berbalik dia meliahat seorang perempuan Musketer berbaju merah dengan rambut belakang diikat tinggi keatas.
"Mama!"
"Maya, anak cantikku!" ucap Melissa sambil memeluk Maya.
"Papa mana?" tanya Maya.
"Anak ku cantik, ayah disini!" seprang pria zoro melompat dari atap markas ke bawah tapi sayang dia malah nyusruk di semak-semak yang sukses membuat mereka berdua sweatdrop.
"Ngenes amat sih..." batin Maya dan Ibunya bersamaan.
"Maya~" seseorang memanggilnya dari belakang, Maya sepertinya senang mendengarnya. "Eduardo!"
~Ethan~
Ethan sedang mendapat tugas untuk menjaga Hato untuk tidak bertingkah yang aneh-aneh selama acara Thanksgiving berlangsung di halaman belakang.
"Nah! Kamu jangan jadi Anjing nakal ya! Nanti Master marah besar loh!" ucap Ethan sambil mengelus kepala Hato. "Woof!"
Tiba-tiba, punggungnya sepertinya ditepuk seseorang dan dia menengok kebelakang.
"Hai Nak! Apa kabar mu?" seorang pria Sapper berambut Hitam menyapanya.
"Ayah! Sudah datang rupannya!" Kata Ethan sambil memeluk Ayahnya.
"Iya dong, oh ya.. Apa Sunny sudah kesini?" tanya Marth.
"Belum sih ta- Uwah! Sunny!" Etahn langsung dipeluk sama sepupunya dari belakang dan nyusruk direrumputan.
"Halo Sepupu! Lama tak jumpa!" sapa Sunny.
"Hmmh.. Lepasin kek! Oh iya, aku dapet tugas buat jagain anjing temanku jadi tu- HATO!!" Ethan langsung berteriak ketika melihat Hato mulai menggali lubang di dekat pohon dan kabur ketika melihat Ethan menghampirinya. "Jangan gali-gali dulu! Nanti!"
"Well, sepertinya dia bakalan sibuk ya... Paman.." ucap Sunny sambil nyengir.
~Mia~
Mia sedang merapihkan beberapa barang diruang tengah dengan senang hati, tiba-tiba Yuki nongol. "Mia-chan, keluargamu datang tuh."
"Iya, Ibu~" Mia menghampiri seorang pria berambut aquamarine bersama seorang perempuan berambut kuning di ruang tengah. "Tou-San, Kaa-san!" Mia langsung memeluk kedua orang tuanya.
"Halo Mia, sudah lama kami tak bertemu denganmu!" ucap Kamura.
"Mana kakakmu? Apa masih sibuk.." tanya Yayoi.
"Emm.. Maaf, Tou-san, Kaa-san... Nii-chan masuk Rehabilitasi karena phobia Anjingnya kambuh dan hampir membunuh Anjing squad kami waktu itu." jelas Mia murung.
"Owh.. Kasian si Romi.. Yah, mungkin itu memang sudah jalannya. Tou-san dulu juga mau seperti itu, hanya saja nggak tega.." ucap Kamura sambil tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Mia.
"Sudahlah, tak usah sedih. Mending kita seperti biasa saja, main alat musik dan bersenang-senang dulu, ok!" hibur Yayoi dan mengeluarkan sebuah suling dari kantongnya.
"Iya, ayo kita memainkan sebuah lagu!" ucap Kamura yang mengeluarkan sebuah harmonika dari kantongnya.
"Baiklah.. Aku ambil gitar-ku dulu." Mia berlari kecil ke kamarnya untul mengambil sebuah gitar akustik.
~Revan~
Revan masih kesel karena dikerjain sama Red dan kakeknya Red dengan muka masih dikembungin kayak ikan buntel. (Kok, geli ya bayanginnya :V *dilempar kotak peluru)
Tiba-tiba, tangannya ditarik seseorang dari belakang, seketika Revanpun kaget. "Uwah! Siapa!"
"Hei! Ini Ayah tau! Kenapa kaget!" ucap Ayahnya sewot.
"Ayah! Jangan bikin kaget bisa nggak!" balas Revan sambil mengelus dadanya.
Ayahnya kemudian malah ikutan ngembungin mukanya kayak ikan kembung. (Ayah anak sama aja ya :V *dilempar granat *ditembak pesawatnya predator)
"Sudahlah yah.. Revan bagaimana keadaanmu?" tanya Ibunya.
"Baik, oh iya.. Mana Barie sama Marisa?" tanya Revan.
"Lagi ke toilet, ntar juga balik." ucap Ayahnya dengan Tsunderenya juga.
"Nggak usah pake nada itu juga dong yah..." ujar Revan sweatdrop.
"Oh iya, dibelakangmu itu siapa ya?" tanya Ibunya penasaran, Revan menengok kebelakang dan berakhir dipeluk sama Red.
"Kenapa pergi? padahal aku lagi ngenalin kamu sama keluargaku barusan." tanya Red manyun.
"Ish! Lepasin gue! Ada Ayah sama Ibu gue masalahnya jangan gitu napa!" bentak Revan sambil mendorong Red yang memeluknya.
Ayah dan Ibunya hanya bisa cengo dan sweatdrop melihat kejadian itu. "Dia pacarmu?" tanya Ayahnya penasaran.
"Iya, saya pacar Anak anda berdua. Pasti anda adalah ayah dan ibunya Revan." jawab Red yang tetep meluk Revan.
Ibunya Revan menatap Revan dengan tatapan 'Serius! Kamu pacaran sama dia!?', Revan membalasnya dengan tatapan, 'I.. Iya, dia pacarku..' ibunya membalas lagi 'Ciyus? Miapah?' Revan langsung memutar matanya 'Serius! Dan jangan mulai ngalay deh bu..'
"Baiklah.. Jika, itu bisa membuat anakku bahagia, kau boleh menjadi pacarnya. Tapiiiiii!! Jika kau membuatnya Sedih.. Pesawat predator akan langsung datang membawa bom nukril kesini! Paham!" jelas Ayahnya sambil melipat tangannya.
"Saya paham Tuan Sharps, saya akan membuat Revan bahagia." balas Red dan Revan hanya bisa blushing mendengarnya.
"Baiklah Red, dan ingat itu baik-baik ya. Karena pisau dapur tidak selamanya akan akan memotong sayuran atau bahan makanan loh." jelas Ibunya Revan sambil tersenyum dengan maksud mengancam.
"Iya, saya tau..." balas Red sweatdrop karena tau maksudnya.
~Setelah Alex ketemu Andre dan Ars~
"Oh iya, Andre, kau itu buta total?" tanya Alex penasaran.
"Nggak total banget sih... aku hanya bisa melihat 15 sampai 20 persen saja.. Sisanya burem. Bahkan kak Alex aja yang sedeket ini nggak keliatan sama sekali burem banget deh." Jelas Andre sambil meraba-raba muka Alex.
"Sudahlah Ndre.. Yang penting kita kan udah ngumpul lagi, yah memang sementara doang sih. Karena aku nggak bisa lama-lama disini." ucap Ars sambil mengusap kepala adiknya.
"Ya... Tapi, aku masih mau sama kak Alex, kak Ars-kan sering sibuk kerja.." ujar Andre manyun.
"Kak Alex juga sama Andre.. Sering sibuk kerja- Apaan!" Alex menyadati kalau Eudo menepuk pundaknya barusan.
"Orang tua gue mau ketemu sama lu, cepet sebelum ayah gue ngomel nggak jelas!" kata Eudo sewot.
Alex berdecak dan bangun dari tempat duduknya dan langsung menemuin kedua orang tuanya Eudo. Ketika dia sampai ke ruang makan dia melihat kedua orang tuanya Eudo sedang mengobrol dengan Silica dan Mita, hanya saja sepertinya itu lebih mirip perdebatan jika didengar.
"Hei, ini aku bawakan Alex yang Silica bilang." ucal Eudo sambil melipat tangan.
"Eudo! Sikapmu kurang sopan!" ucap Ayahnya sewot.
Eudo hanya memutar matanya dan pergi, "Terserah..." tapi, sebelumnya dia sudah membisikan sesuatu ke telinga Alex. "Hati-hati, Ayah gue Tiran banget. Salah ucap, maka Hubungan lu sama Adek gue nggak akan direstuin sama sekali sama dia. Berjuanglah.."
Alex duduk (di tengah Silica dan Mita) dengan tenang biarpun ada ke gugupan karena salah sedikit maka habislah hubungan dia sama Silica.
"Jadi, ini pangerannya Silica?" tanya pria Stranger itu dengan muka datar. "Lumayan... Tapi, apa dia termasuk orang hebat." komentarnya.
"Ayah, jangan itunya dulu.. Alexander, apa kau mencintai Almira dari lubuk hatimu?" tanya Ibunya dengan senuman lembut.
"Iya, saya mencintai anak perempuan anda dari lubuk hati saya." jawab Alex serius.
"Oh.. Sepertinya, dia merupakan orang yang baik yah.. Bagaimana denganmu Mita, apakah Alexander adalah orang yang baik?" tany Ibunya ke Mita.
"Kak Alex.. Dia baik kok ke kak Ailica, nggak pernah berantem, selalu ngelindungin dia, selalu memenuhi permintaan kak Silica juga biarpun kak Silica nggak memaksa." jawab Mita agak gugup.
"Apakah benar itu? Almira?" tanya Ayahnya penasaran.
Silica kaget dan langsung menjawabnya dengan gugup. "I.. Iya, Ayah.. Dia memang seperti itu.."
Ayahnya segera menatap ke Alex, Alex sekarang yang gugup karena selalu inget kata Eudo agar tidak salah ucap..
"Apa pekerjaan anda Tuan Alexander?" tanya Ayahnya Eudo.
"Ehh... Saya berkerja sebagai seorang Wakil Komandan pemberantas Bio-teroris saya bertempatkan di pasukan utama sebagai penembak jarak jauh, dan Komandan pasukan saya adalah seorang Legenda karena berhasil menyelamatkan dunia. Juga dia itu pernah menjadi hal yang sama seperti saya." jawab Alex agak gemetar.
Ayahnya Eudo hanya diam dan menghelakan nafas kemudian dia menatap tajam ke Alex, 'Mampus, gue salah ucap nih!' pikirnya panik.
"Mengecewakan..." ujar Ayahnya Eudo yang sukses membuat Alex dan Silica drop. 'Hubungan kami kandas ditengah jalan...'
"Tapi.. Anda tetap saya terima hubungan anda dengan Silica, karena posisi anda di pasukan utama dan sebagai anak buah dari seorang legenda itu yang menyelamatkan diri anda, biarpun saya menginginkan anda adalah seorang komandan pasukan anda." komentar Ayahnya Eudo.
"Be... Benarkah itu! Tuan..."
"Drud, dan tolong sikapmu. Tuan Alexander." jawab Drud.
"Maaf..."
"Jadi, hubungan aku dengan Alex, diterima?" tanya Silica.
"Ya, diterima.." jawab Drud seadanya dan mulai membaca bukunya lagi.
"Selamat ya! Almira!" ucap Ibunya yang terharu sambil memeluk Silica.
"Iya, Terima kasih bu!" balas Silica yang juga memeluk Ibunya.
Alex hanya tersenyum dan keluar ruangan.
"Ayah, jika tadi ayah nggak menerima kak Alex, siapa yang mungkin ayah terima dari markas ini?" tanya Mita dengan polosnya ke Drud.
Drud menengok kearah Mita dan tersenyum tipis dan mengusap kepala Mita. "Yah, mungkin saja.. Seorang bernama Eris itu dan Pria Red atau Rone atau Taiga itu." jawab Drud.
"Kenapa?"
"Hmm... Ada suatu alasan untuk Eris, kalau untuk Red, Rone, dan Taiga.. Karena mereka keluarga Kamiyama. Ayah kenal betul dengan pemimpin keluarganya, karena kebetulan dia itu ayah pernah melawan dia dan dia sangatlah kuat sampai ayah sendiri tidak bisa membaca gerakannya dan hampir tewas karena dia. Tapi, dia mengampuni Ayah dan menyembuhkan ayah, sejak saat itu ayah sendiri tidak berani macam-macam dengan keluarga mereka. Jika, mereka sudah berkata, maka ayah akan menuruti mereka." jelas Drud sambil memangku Mita.
"Alasan untuk Eris?" tiba-tiba Silica dan ibunya ikutan nimbrung dan penasaran.
"Hmmh.. Baiklah, dia adalah.. Orang terakhir yang masih hidup dari kejadian yang menimpa keluarga kerajaan Lanceford yang sudah hilang."
3. Pas Alucard sama Alfred di Kolam Renang (The Other Side yang bonusnya)
"Hei... Untuk satu ini apa kau sependapat dengan diriku?" bisik Alucard.
"Yah.. Kau benar, aku sependapat denganmu..." balas Alfred.
"Ayo kita lari dari sini..." kemudian mereka langsung ngacir dari tempat itu pasalnya.
"KEJAR MEREKA!!"
Mereka diikutin para Perempuan yang ada di tempat kolam renang umum itu, biarpun nggak semuanya sih.
"Silica-chan! Naek perostan yuk!" ajak Sandra.
"Ayo!"
Mereka berdua hanya nggak dikejar-kejar sama perempuan satu squad doang.
4. More Red Execution.
"Hai-hai semua!" sapa Red di markas squad Garu. Tapi, saat dia baru datang dia mendapatkan sebuah pemandangan Vience sedang disiksa sama ketua sqaud pake motor. Red hanya bisa sweatdrop melihatnya dan mengeluarkan tatapan -WTF-
"Oh, Red tumbenan kesini..." balas Luthias yang lagi ngeliatin kejadian itu.
"Nggak apa-apa maen aja kok... Oh iya, itu motor dapet dari mana?" tanya Red.
"Ada yang ngasih.." jawab Tumma disebelah Red.
Red mangut-mangut, "eh.. Ntar pinjem lapangannya b-"
Bruk!
"Aww, pasti sakit." gumam Red sambil menutup salah satu matanya karena ngilu.
"Oh Red ada apa?" tanya sang ketua squad yang baru selesai menyiksa Vience.
"Minjem lapangannya ya~" ucap Red.
"Buat apa?"
Red membisikan sesuatu ke ketua squad itu dan doa hanya mangut-mangut dan kemudian berseringai, karena kebetulan dia mau lihat 'itu'.
"Oh~ Tei-kun~ kesini deh~" panggil girl-chan yang udah nyiapin pentungan yang dapet entah dari mana.
"Ada ap-"
Duak!!
"Nah, sisanya urusanmu~"
"Makasih~"
Teiron tebangun dengan badan sudah terikat disebuah pasung yang berdiri di tengah lapangan. Dan dia langsung panik tingkat dewa, "A- Ada apa ini? Kenapa gue yang kena!?"
"Halo, Teiron..."
Tak jauh dari dia ada Red yang berseringai jahat sambil memegang sebuah gulungan kertas di tangannya.
"Makasih ya, udah nimpukin Hato make snack, dan juga... Kaleng ikan sarden di super market pas lu lagi ngestalking Edgar sama Naya waktu itu... Sekarang dia memar di tangan sama badannya... Ngehehe.."
"Ma.. Maafin gue!!"
Kemudian, Red menutup matanya dan membuka gulungan itu, "hmmh.. Ini adalah hari yang indah, ya... Bungan-bungan bermekaran, burung-burung berkicau.. Orang seperti dirimu itu..." Ucapan Red terpotong kemudian, gulungannya bersinar. Dia membuka matanya lagi dan sekarang matanya hanya merah keputihan tanpa Iris.
"...harus habis ditanganku.."
Dan Bad Time pun terjadi.
Adegan selanjutnya disensor, karena Teiron sedang dihabisi sama Red habis-habis dengan skill 5 Unique.
Sementara orang yang menonton hanya cengo seketika.
Udah kan? Yaudah Udah :V
