Balas Revievv :

girl-chan 2 :

Red : ...Terima kasih... Tapi... aku tak ingin membahas hal itu dulu...

Mutsuki : Yah, sejak itu dia bakalan depresi saat memasuki HWS-nya.

Thx!

AriFuKi24843 (Angkanya susah!) :

aku mah keep update walaupun agak stuck, kalo soal App entahlah, manaku tau :v

Iris : Silahkan! *Masukin Doujin KyoAdel dan HatoTei ke mulut Hell Statue. Dah tuh! entar juga sampe! Plus Bonus juga kok ada disitu :v

'Singlet'' itu Jokes temenku pas Smp dulu setiap ada acara gosip di R*TI emang suka di plesetin nama acaranya.

Red : Kau masih mending, hanya kehilangan kaki jadi tak bisa berjalan.. aku... mempunyai bekas luka tebasan pedang di seluruh tubuhku! dan kalau mau aku sudah Buta dari dulu! *nangis

thx!

Chapter 29 : An Apology From Father part. 1

Ryuujin Keitsueki (Gwimusa), seorang pendekar pemimpin dari keluarga Keitsueki, berambut merah jabrik, mata Merah, berbaju merah, dan serba merah, bahkan bisa dibilang 'Cabe Raksasa' *plak

Tapi, diantara itu semua, dia memiliki kebencian amat dalam terhadap Iblis. Oleh sebab itu ketika Red kecil mempunyai darah keturunan Kamiyama sudah tumbuh agak besar. Dia menyekap Red di ruang bawah tanah dan menyiksanya terus menerus. Hari ke hari siksaan itu makin berat, namun Red tidak bisa mati walaupun sudah mendapat luka berat sekali pun.

Akhirnya dia menyeret Red keluar penjara dan mengusir Red yang keadaanya sangat memprihatinkan karena jarang diberi makan, sering disiksa dan banyak luka-luka disekujur tubuhnya.

Namun, sekarang keadaannya berbalik dimana dia harus menyakini takdirnya karena dia telah ditolong oleh seorang Iblis yang melihat dia sekarat ketika sedang bertempur. Iblis itu memberinya kekuatan untuk berubah wujud untuk menjadi lebih kuat. Dan dia mulai sadar untuk tidak melihat buku dari sampulnya, apalagi saat dia tau bahwa dia kalah dalam pertempuran dan semua orang yang ada telah mati. Itu berarti dia hanya tinggal sendiri, tapi dia ingat seseorang.. Yang merupakan keluarganya, namun.. Rasa menyesal malah menyelimutinya ketika dia mengingat siapa orang itu. Karena dia adalah anaknya sendiri yang dia perilakukan buruk, dia usir, dan dia buang.

"Red..." gumamnya saat mengingat nama orang yang tersisa itu. Dia bingung, dimana dia dapat menemukan Red. Apa dia sudah mati? Apa belum?

Tapi, dia mendengar tentang sebuah squad yang memiliki nama anggota 'Red Bloodrone' dia berpikir. Apa itu anaknya?

Dia pergi ke squad itu dan menemukan sebuah hasil yang memuaskan.

"Ya? Siapa?" ketika Pintu dibuka, dia melihat seorang pria yang dia kenal. Dia terharu melihat anaknya yang sudah tumbuh besar dan kuat.

"Red... Sudah lama kita tak bertemu..."

Setelah kata-kata itulah.. Dia akan menemukan betapa pahitnya kehidupan ketik dirinya penuh penyesalan.

-Flashback-

"Ayah... Apakah aku ini Monster karena memiliki mata merah?" tanya Red yang ketakutan menghadap Ayahnya.

"Tidak nak, kau bukan monster." jawab Ryuuga, "kau tau.. Warna Merah adalah perlambangan seorang pahlawan."

"Tapi, apa aku sendirian yang memiliki warna mata merah?"

"Tidak, warna mata ayah juga merah kok. Lihat!" Red menengok ke wajah ayahnya, dan benar warna mata ayahnya berwarna merah.

"Kita adalah keluarga dan keluarga akan saling menjaga. Ingat itu ya, Jin." ucap Ryuuga dan memeluk erat Red.

"Iya ayah..."

-Flashback end-

Sungguh bahagia dirinya dulu ketika dia masih bisa tertawa dan tersenyum bersama anaknya. Tapi, setelah dia membuang Red dan kehilangan segalanya. Dia mulai menyadari rasanya kesepian tanpa ada seseorang yang mendukungnya

Ketika dia menemukan anaknya, Red malah ketakutan karena Trauma berat dengan dirinya, apalagi dia juga dicemooh habis-habisan oleh ayah angkat anaknya. Dia amat menyesal ketika melihat Red yang menderita akibat apa yang dia lakukan ke Red di waktu lampau. Sekarang dia hanya punya waktu satu minggu, untuk memperbaiki hubungannya dengan anaknya, atau dia akan diusir dan tidak bisa melihat anaknya lagi.

Skip..

Semua orang squad kebingungan melihat seorang pria serba merah masuk tiba-tiba tanpa ada yang tau.

"Psst! Siapa dia?" tanya Sandra.

"Entahlah, mana saya tau sayakan nub." jawab Maya.

"Emm.. Ibu, dia siapa?" tanya Lectro.

"Dia.. Ayah Kandung dari Red." jawab Yuki datar.

"Oh... Eh!? Ayah kandungnya Red!?" ujar Lectro kaget mendengarnya. "Kok beda!?"

"Udah jangan dibahas suasana sekarang sedang tidak kondusif karena Red dan Ayah habis berantem sama dia." kata Yuki.

"Lalu ada apa dengen Red? Kenapa dia mukanya ketekuk?" tanya Amelia yang melihat Red dipojokan ruangan.

"Dia.. Trauma berat dengan diriku." jawab Ryuuga.

"Sudah jangan dibahas, kasihan Red, takutnya.. Ada satu hal yang bisa terjadi dengannya karena perasaan yang buruk terlalu lama di dirinyam" ucap Yuki dan mendorong Ryuuga ke ruangan yang lain. "Oh iya, sebelumnya jangan ada yang bertanya apa penyebab trauma Red ya.."

"Baiklah, Ibu."

Jam makan siang..

"Semuanya waktunya makan!" panggil Yuki.

"Yeay makan!" seru semuanya (min. Red yang masih manyun).

"Wah! Menu makanan hari ini Tempura Udon, selamat makan!"

"Ih Enak!"

"Iya, Siapa yang buat? Ibu yang buat ya?"

Yuki gugup untuk menjawabnya, namun ketika dia melirik Red yang termenung dan mencoba memakan makanannya. Sebuah kejadian tidak terduga terjadi, Red nangid eh.. Nangis! Iya, dia nangis karena makanan dia. Semuanya cengo melihatnya.

"Nabeyaki Udon ini.. Buatan.. ayahku.. Aku ingat rasa ini..." ucap Red dengan nada terisak disela ucapannya.

"Red nangis!?" gumam Jung yang baru melihat orang paling beringas sekalipun bisa nangis.

"Ayah..."

"Jin..." Ryuuga mencoba mengusap kepala anaknya. Namun, Red menepis tangannya. "Jangan Sentuh aku!"

"Ma.. Maafkan ayah.." ucap Ryuuga menyesal.

"Kau merusak selera makanku! aku nggak mau makan masakanmu sama sekali! Aku jijik dengan hal itu!" Red melempar mangkuknya ke lantai dan lari ke luar ruang makan.

Prang!

Ryuuga melihat kearah lantai dengan penuh rasa sesal. Dia memungut serpihan mangkuk dengan tangannya, sampai tak terasa bahwa tangannya terluka akibat serpihan yang lebih kecil dan darahnya mengalir keluar. Yuki yang melihat kejadia itu langsung panik. "Ryuuga-san tanganmu, terluka."

"Biarkan.. Mungkin ini memang pantas untuk diriku..."

Yuki langsung pergi ke ruang farmasi untu mengambil obat dan perban. ketika dia kembali, dia melihat Ryuuga sedang mencuci tangannnya di westafel. "Ryuuga-san, kemarikan tanganmu."

Ryuuga berbalik dan menadahkan tangannya ke Yuki. Yuki langsung mengobati luka ditangan Ryuuga.

"Ryuuga-san, apa alasanmu ingin berbaikan dengan Red?" tanya Yuki sambil mengobati tangan Ryuuga.

"Karena... aku sudah kehilangan segalanya.. dan saat itu, seorang dari bangsa Iblis menolongku saat diriku sekarat akibat perang. Aku selama ini hanya berpandangan bahwa orang dari bangsa Hitam adalah penjahat dan tidak bisa hidup di dunia. tapi, ternyata aku salah besar.. sekarang aku sama seperti mereka, memiliki kekuatan untuk berubah menjadi Iblis juga..." jawab Ryuuga.

"Ucapanmu itu mengingatkanku ke kakeknya Red.. tapi, dari pihak ayah angkatnya."

"Apa dia masih hidup?"

"Ya, dia masih hidup.. walaupun sudah tua sekali.."

"dia Abadi?"

"Ya, Apa kau pernah mendengar Legenda tentang pendekar yang berubah menjadi seorang pemberontak kelompok Putih?" tanya Yuki.

"Maksudmu, pendekar yang katanya memberontak karena ketidak puasannya terhadap kelompok putih?" tanya Ryuuga balik.

"Ya.. tapi, itu bukan Legenda, tapi kisah nyata... karena.. keluarga Kamiyama adalah saksi bisu peristiwa itu." jawab Yuki.

"Tapi, keluarga Kamiyama adalah keluarga yang melegenda karena kekejaman dalam hal membunuhnya. Lalu, mereka semua menghilang tanpa jejak sama sekali."

"Namun, kau telah bertemu dengan seorang penerus keluarga Kamiyama dan dia adalah keturunan murni."

"Siapa? Tu- tunggu... apa maksudmu.."

"Kau sudah menebaknya dengan benar... dia adalah anakmu sendiri.. Red. Dia akan menjadi penerus ke Empat keluarga Kamiyama."

"Ba.. Bagaimana bisa? dia anakku dan dia bukan dari keluarga Kamiyama!"

"Memang aneh.. tapi, itu memang takdirnya. Bahkan, ketika Kakeknya mengecek darahnya dia terkejut ketika melihat hasilnya." ucap Yuki. "Yah, sudah selesai.. Hati-hati lain kali. Jangan gegabah."

Yuki meninggalkan Ryuuga sendirian di dapur.

'Anakku.. pewaris keluarga Kamiyama...' batinnya.

Di luar dapur...

"Sudah selesai berceritanya?" tanya Takano yang menyender di pintu depan dapur.

"Takano-kun, kau nguping ya?" tanya Yuki agak kesal.

"Menurutmu? Hemh.. Yuki, Yuki.. Jangan membuatku cemburu karena kau berduaan dengan pria lain ya." ucap Takano dan memojokan Yuki di tembok.

"Oh, ayolah.. Aku hanya mengobati tangan, masa kamu sudah cemburu sih." balas Yuki.

"Ya, begitulah.." Takano mengecup pelan bibir Yuki. "Aku hanya sedikit cemburu kok, jika kau mendekati pria itu."

"Ish, jangan disini ah! kelihatan orang banyak ntar malu tau!" omel Yuki dan mukanya mulai blushing.

"Ehem! Keberatan!" seru Ryuuga disebelah mereka dan Yuki langsung mendorong Takano dan lari begitu saja.

"Ah! kau mengganggu waktuku. dengan Istriku tau nggak!" keluh Takano.

"Oh maaf! Tapi, Bisakah kau melakukan itu bukan di koridor!"

"Terserah Gue dong!"

"Ya selow dong Anjay!"

"Bacot lo Kentang!"

"Bewan aja kuy!"

"Ok, Kolo No Drop!"

Yah, jadinya berantem deh.

End Part 1

Bonus :

"Um.. Apa yang terjadi disini?" tanya Kazuma yang kebingungan melihat suatu kejadian yang mengejutkan dirinya.

"Begini em.. Kakeknya Iris-chan.. Aku tak sengaja menumpahkan cairan yang membuat orang menciut dan Iris-chan terkena cairan itu dan.. Berubah." jawab Emy gugup yang membawa seorang anak kecil yang ternyata Iris memakai pakaian kucing berwarna kuning.

"Kapan Efeknya akan berakhir?"

"Kurang lebih 4 Jam."

"Boleh ku lihat cairan itu?"

"Ayo ikut aku."

Kazuma dan Emy pergi ke kamarnya Emy untuk mengecek cairan itu dan meninggalkan Iris sendirian di ruang tengah. Tapi, sebelumnya Kazuma sudah memberi Iris sebuah permen dulu agar tidak rewel.

Tak lama kemudian, lewatlah Alpha dan Teiron. Tak sengaja mereka melihat Iris yang sedang menjilat permennya di sofa.

"Anak siapa tuh?" tanya Teiron.

"Au dah, tapi.. Imut juga ya. Cubit yuk!" gumam Alpha yang melihat pipi tembemnya Iris.

"Iya sih, tapi Al, jangan kayak gitu deh. Gue takut sama ortunya, ntar bisa dikira Pedo gue!" tolak Teiron.

"Yaudah gue aja deh!" Alpha maju ke Iris dan mencubit pipi Iris. "Ya ampun Imutnya~"

Teiron melihat ekspresi Iris yang nggak nyaman dan ketakutan, akhirnya dia mundur tiga langkah untuk menjauh sedikit dari Alpha.

"U.. Uh.. Ka.. Ka.. Jii-chan..."

"Uh.. Tambah Imut! Come to Papa!" Seseorang memegang pundak Alpha dan Alpha menengok ke belakang.

"Ehem! Mau ngapain nak!? Dan maksudnya "Come to Papa" tadi barusan apa ya!?" ucap Kazuma dengan Aura gelap di punggungnya dan juga tangannya sudah mengeluarkan Aura juga.

"E.. Eh? Anda siapa ya?"

"Aku... Aku Kakeknya!!! BERANINYA KAU MEMBUAT NANGIS CUCU-KU, PEDO!!" teriak Kazuma.

"Huaaaa! Maafkan aku!"

"Let the Dragon, Consume You!" seketika itu pula Alpha ditabrak sama Sieryuu.

Bonus End.

Jangan baper dulu ya, masih awal cerita kok baper sih.