balas revievv :
girl-chan 2 : Sst! jangan keras-keras ntar ketauan si Kambing bisa dihajar. gue :V
Namanya Juga menyamar pasiti nggak bakalan kenal dongz!
Thx!
Chapter 31 : Amnesia
'Hmnh...' Red membuka matanya pelan-pelan dan melihat sekeliling. Tempat ini sepertinya terlihat sangatlah asing terhadap dirinya. Karena dia merasa tidak pernah ketempat seperti ini sebelumnya.
"Dimana aku?" Red melihat sebuah benda aneh yang mengeluarkan sebuah suara aneh dan sebuah benda aneh di tangannya. "Apa ini?"
Lectro : "Anda tau infus-" *digaplok Reha
Me : "Eh geblek! Tau orang lagi hilang ingatan nggak!"
Lupakan hal yang baru saja terjadi.
Dia memutuskan untuk kabur dari tempat aneh itu, pertama dia mencabut benda aneh ditangannya dan itu terasa sangatlah sakit. Kemudian dia duduk dikasurnya dan menginjakan kakinya di lantai dan itu lantainya sangatlah dingin. Dia tidak peduli dengan hal itu, yang dia inginkan hanyalah, KELUAR DARI TEMPAT ANEH INI SEGERA!
dia membuka pintunya perlahan-lahan dan mengintip keadaan rumah sakit yang gelap karena sudah sepi dari pengunjung. Dia berjalan mengendap-endap ke tangga terdekat untuk keluar. Tapi, seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya, refleks dia langsung berputar daan bermaksud memukul orang itu tapi pukulannya dia tahan.
"Red!? Kau sudah sadar!?" Red menatap tajam pria itu karena dia tidak mengenal dirinya sama sekali tapi entah kenapa pria itu sepertinya sok akrab dengannya.
"Siapa kau? Dan siapa itu Red?" tanya Red yang masih menatap tajam pria didepannya.
"Bicara apa kau ini, aku ini ayahmu! Ayah kandungku sendiri!"
"Ayah... Kandung? Apa itu?" tanya Redd bingung.
"Red.. Maksudku.. Jin... Apa kau mengingat sesuatu setelah kejadian itu?" tanya 'Ayah Kandungnya'
"Kejadian apa? Memangnya apa yang terjadi dengan diriku?" tanya Red balik tambah kebingungan.
"... Mungkin... Kita lanjutkan besok pagi..." jawab sang 'Ayah Kandung' dan membawa Red ke ruanganya kembali.
"Tu.. Tunggu aku dimana sekarang?" tanya Red saat dia masuk le ruangannya.
"Di rumah sakit.. Kau sudah tak sadarkan diri selama satu minggu... Ayah.. Kami semua menghawatirkan dirimu.. Anakku." jawab si 'Ayah kandung' dan membuat Red duduk di kasurnya lagi.
"Emm... Boleh aku bertanya?" pinta Red.
"Silahkan anakku, apa yang kau ingin tanyakan?" jawab si'Ayah kandung' sembari mengusap kepala Red.
"Siapa dirimu? Siapa namaku? Dan Dari mana aku berasal?" 'Ayah kandung' tersenyum dan mengelus kepala Red.
"Namaku Ryuuga Ketsueki.. Aku ayah kandungmu, namamu Jin Ketsueki, namun.. Memiliki nama lain.. Red bloodrone. Kita berdua ini adalah anggota dari Reha squad." jawab Ryuuga.
"Reha squad? Apa itu?" tanya Red bingung.
"Seperti perkumpulan orang, namun bisa dibilang juga seperti keluarga baru karena kekompakannya." jawab Ryuuga. "Tidur nak, besok kita pulang ke squad."
Time skip, paginya..
"Ini kita dimana?" tanya Red penasaran.
"Inilah markas squad Reha nak.. Rumah kita." jawab Ryuuga sambil membuka gerbang squad.
Mereka masuk ke perkarangan markas dan berjalan ke pintu depan. Ketika Red sedang melihat-lihat sekeliling dia merasa kalau ada sesuatu di kakinya. Dia melihat kebawah dan melihat seekor anjing kecil. Red berjongkok didepan anjing kecil itu.
"Hei kawan, apa kau dari sini juga?" tanya Red sambil mengelus kepala anjing itu.
"Arf Arf!" Anjing kecil itu langsung melompat ke pangkuan Red dan menjilati mukanya. Tapi, entah kenapa Red sepertinya mengerti maksud dari anjing itu.
"Hei, aduh kawan kecil! Hentikan! Aku tidak mengenal dirimu, bagaimana mungkin aku ini mastermu?" tanya Red tapi, tiba-tiba dia ditubrul oleh seseorang.
"Master Red sudah pulang woof! Aku kangen master!" ucap Seorang pria berambut silver yang berperilaku seperti anjing.
"Hei! Siapa kau!? Ak.. Apa kita pernah bertemu?" Tanya Red bingung.
"Master Red.. Apa master Red lupa siapa aku?" tanya Pria anjing itu mulai murung.
Red menganggukkan kepalanya, pria anjing itu diam, kemudian matanya mulai berkaca-kaca, "Hiks.. Master Red melupakan diriku! Hueeeee!"
"Hauu!"
Red merasa tidak tega mendengar tangisan si pria anjing itu. (dan juga si Anjing kecil) "Aduh, hei.. Maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu menangis."
"Hueee, aku dilupakan master!"
"Hauuu!"
"Aduh, emm.." Red melihat sebuah ranting kayu di belakangnya, dia segera mengambil ranting kayu itu dan menunjukannya ke pria anjing dan anjing kecil itu.
"Hei! Lihat apa yang aku pegang!" seru Red sambil memainkan ranting kayu itu.
Pria anjing dan anjing kecil itu melihat ranting kayu itu dan berhenti menangis, kemudian mereka langsung semangat dan mendekati Red.
"Punyaku! Punyaku!"
"Arf Arf!"
"Baiklah... Tangkap!" Red melempar tongkat kayu itu dan mereka berdua langsung mengejar ranting tersebut.
"Punyaku! Punyaku!"
"Arf Arf!"
'Setidaknya itu akan menahan mereka...' batinnya kemudian dia pergi kedalam markas squad.
Kemudian..
"Wah! Luas juga disini!" gumam Red kagum melihat ruang tengah yang agak luas dan tertata rapih dan bersih. "Ayah kemana ya?"
Red berjalan menuju lorong bagian kanan, di situ dia bertemu dengan seorang pria yang berambut coklat dan sangatlah tinggi dan memakai baju tentara lengkap. "Ahoy, Red.. Bagaimana keadaanmu?"
"Emm.. Baik, hei.. apa kita pernah bertemu?" tanya Red bingung.
"Hemm.. Kau lupa denganku, aku Alex ingat! Sepertinya kau Amnesia." ucap Alex sambil menaruh tangannya dipinggang.
"Amnesia?"
"Hilang ingatan, kau sepertinya mengalaminya, tak mengingat siapapun yang kau kenal."
"Jadi.. Aku.. Seperti ini karena aku terkena Amnesia?" tanya Red.
"Ya seperti itulah, sudah ya.. aku mau pergi dulu dah!" Alex pergi ke sisi lain markas. Red melanjutkan perjalanannya kemudian dia bertemu dengan seorang wanita berambut pink.
"Hei Red, sudah pulang, bagaimana keadaanmu?" tanya wanita itu.
"Tidak begitu baik, em.. Aku tadi dibilang terkena apa itu tadi.. Emm.. Am.. Ame.. Amne.."
"Hah? Kau terkena Amnesia?" tanya Wanita itu.
"Nah, itu dia.. Aku sepertinya hilang ingatan tentang siapa kalian semua yang ada ditempat ini." jawab Red watados.
"Owh... Emm.. Kalau begitu, ingatlah.. Namaku Amelia KnightHeart. Kita ini teman satu squad, berasama dengan adik anehku, Sandra KnightHeart. Aku mau keluar dulu ya, dah!" jawab Amelia dan pergi meninggalkan Red.
Red kembali menulusuri markas squad lagi sampai di halaman belakang. Disana dia melihat seseorang yang menikat hatinya atau bisa dibilang dia seperti menemukan malaikatnya. Seorang pria berambut biru eh.. Salah, coklat! Bermata hijau Hazel, dengan rambut pendek.
"Hei! Kenapa aku malah tertarik dengan seorang pria! Aku inikan pria!' batinnya ketika kembali ke dunia nyata.
Tapi, melihat pria berambut coklat sedang ngobrol bersama dengan pria berambut biru disebelahnya benar-benar menarik perhatiannya, hatinya mulai deg-degan. Dia mendekat kearah mereka.
"He.. Hei, apa kabar!" sapa Red agak canggung.
"Oh hei, Red... Sudah pulang bagaimana keadaanmu?" tanya si Pria berambut coklat itu.
"Emangnya Red kenapa Van?" tanya si Pria berambut biru itu
"Em... Red, dia abis jatoh dari atap dan ngebentur kepala belakangnya yang nyebab-in dia koma seminggu." jawab si pria berambut coklat itu datar.
"Oh.. Kasian.."
"Hei, um.. Namanya siapa ya?" tanya Red gugup.
'Kayaknya dia Amnesia...' gumam si Pria berambut coklat tersebut. "Revan.. Senang melihatmu kembali-"
"Kamu.. Imut ya, mau nggak jadi pacar aku?" celetuk Red sambil tersenyum ke Revan.
"Maaf, dah punya pacar." jawab Revam datar yang sukses membuat Red lesu.
"Oh, maaf kalau begitu..." ketika dia mau pergi dia ditahan oleh Revan. "Ja.. Jangan langsung pergi bodoh! G.. Gue hanya mau meluk lu!"
Entah kenapa Red yang melihatnya langsung blushing dan sepertinya dia bisa menebak maksud dari hal itu. 'Jangan hiraukan gue! Masa gitu doang kok lesu.. Gue kangen sama lu! "Begitu katanya" ' gumam Red kemudian dia berbalik dan langsung memeluk Revan. "Hmph, hanya bercanda, aku tak akan menghiraukan dirimu kok."
"Ih apaan sih lu! Gue... Kan nggak bilang gue kangen sama lu! Dan lagi pula gue juga nggak pernah nangisin lu dan nggak pernah ngunjungin lu di rumah sakit!"
'Lu udah buat gue khawatir, gue tiap hari nungguin lu di RS, dan gue juga nangis pas lu masuk RS."
"Maafkan aku, aku sudah membuatmu khawatir." ucap Red sambill mengelus kepala Revan.
"Apaan sih!" gerutu Revan dengan muka merah padam. "Oh iye, ada yang denger suara biola nggak?"
Suara gesekan biola terdengar tak jauh dari tempat mereka berkumpul. "Yah, denger juga.. Siapa yang maen ya?" tanya Thundy
"Palingan si Romi yang maen.. Tapi, kayaknya ini bukan dia yang maen abisnya ini kayaknya lebih jago dari Romi deh..." jawab Revan.
"Samperin aja yuk!" ajak Red.
Mereka bertiga segera mendatangi sumber suara tersebut. Dan tenyata itu adalah..
"Siapa disitu!?"
Alucard...
"Wut! Ternyata lu bisa maen biola juga!?" tanya Revan kaget.
"Ini memang kebiasaanku, dikala senggang.. Hm.. Tuan Shocka." Alucard mendatangi Thundy sambil membawa biolanya.
"A.. Apa mau lu?"
Alucard mengeluarkan sebuah sapu tangan dan menyulapnya menjadi sebuah setangkai bunga mawar berwarna biru. "Untukmu, tuan.."
"He.. Makasih." balas Thundy dengan muka merah dan menerima bunga tersebut.
"Eh.. Card, lu masih ngejer-ngejer Thundy ya?" tanya Revan.
"Selalu.. Hatiku tak akan pernah goyah dengan apapun itu yang terjadi untuk membuat hati Tuan Shocka luluh dengan diriku!" ucap Alucard semangat.
"Tapi, diakan udah..." Revan membisikan sesuatu ke telinga Alucard. Sementara itu, kenapa hati Red malah memanas melihat hal seperti itu, mukanya pun berubah dari biasa aja jadi Jutek. Alucard mendengar cerita dari Revan matanya langsung terbalak dan kaget.
Dia mengambil nafas dan mengeluarkannya lagi. "Yah.. Aku sih.. Nggak peduli dan nggak mau peduli berapa kali dia begituan, yang penting dia bisa luluh karena diri saya!"
Sementara itu..
"Kok gue merasa kalau persaingan gue dengan Alucard masih tetap berjalan ya!" gumam Emy yang sedang memilih buku di toko buku.
"Perasaan doang kan?" tanya Iris yang sedang baca buku disebelah Emy.
"Eh, semuanya lihat ini deh!" ucap Teri sambil memperlihatkan sebuah doujin (biasalah) ke arah Iris dan Emy.
"Perasaan gue aja atau itu mirip dengan..." kata Emy.
"Alucard dan Thundy.." sambung Iris.
"Tapi, siapa yang buat?" gumam mereka berdua bersamaan.
Kita kembali ke Red dkk.
"Bisa menjauh dari dia sebentar!?" ucap Red sambil menarik tangan Revan agar menjauh dari Alucard.
"Tuan Muda BloodRone, tolong jangan salah paham, saya tidak bermaksud merebut tuan Sharps dari anda. Dia hanya memberikan sebuah info ke diri saya." ucap Alucard sopan.
"Cih, baiklah.." balas Red sambil memutar matanya. Dan meninggalkan mereka bertiga.
"Red mau kemana?" tanya Revan.
"Kedalam!" balas Red dengan hati bersungut-sungut.
"Yah.. Dia ngambek." gumam Revan dan Thundy bersamaan.
"Ngomong-ngomong, ada yang mau dengerin 'Fast Play' biolaku?" tanya Alucard yanh sudah bersiap memainkan biolanya lagi.
"Boleh."
"Baiklah, judul lagunya ENDYMION." ujar Alucard dan mulai memainkan biolanya dengan tempo cepat. Revan dan Thundy yang mendengarnya hanya bisa bengong dan kagum ketika melihat permainan Alucard.
'Njir! Dewa amat maenin biolanya!' batin mereka saat mendengar permainan biolanya Alucard.
Tidak jauh dari situ..
"Hei? Bagaimana keadaannya?" tanya Yuki yang menepuk pundak Ryuuga yang bersender di jendela dari tadi sembari memperhatikan anaknya.
"Lumayan.. Namun, ingatannya Hilang.." jawab Ryuuga datar.
"Hmm.. Apa dia tidak tau kita semua?" tanya Yuki lagi.
"Ya, semuanya bahkan dia sempat mau kabur dari rumah sakit, setelah mencabut infusannya dari tangannya sendiri."
"Oh.."
Kembali ke Red..
Red terus berjalan di koridor dengan hati masih panas karena melihat Revan bisik-bisik di telinga Aluard. "Huh! Dasar sialan itu!"
Tak sengaja dia bertabrakan dengan bertabrakan dengan seorang pria berambut pirang sampai terjatuh.
"Hei! Lihat-lihat kalau jalan!" bentak pria tersebut.
"Ya selo aja dong! Namanya juga nggak sengaja!" balas Red.
"Bodo amat! Yang adakan lu yang nabrak gue, Red!" sahut pria itu.
"Jangan sok kenal dah lu! Gue aja blom pernah liat lu!"
"Woi! Ini gue Eudo!"
"Nggak kenal gue!"
"Parah temen sendiri lu lupain!?"
"Nggak tau dan nggak mau tau!" timpal Red, Eudo ingin sekali menggigit bukunya sampai sobek kalau bisa sih sampai dia kunyah sekalian..
Tapi, mungkin dia harus melakukannya sekarang.
"Eudo!" panggil panggil seseorang berambut coklat muda dan kakinya sedikit mengapung dari tanah. "Hooh! Apaan!?"
"Gue mau ngasih tau lu kalau, Red lagi amnesia, jadi tolong dimaklumi kalau dia nggak kenal siapa-siapa." jawab Pria itu datar.
"Tau dari siapa!?" tanya Eudo kaget sambil memasang muka 'yang bener lu,' Lectro membalasnya dengan tatapan 'ye! Suwer! Dua rius bahkan!' Eudo kembali membalasnya dengan tatapan 'Ciyus? Miapah? Enelan?', Lectro memutar matanya dengan memasang muka jijik, 'Beneran dan jangan nga'alay' napa! Jijay!'
"Em.. Kalian kenapa?" tanya Red bingung melihat kedua oorang tersebut.
"Nggak apa-apa kok.." jawab Eudo untuk mengalihkan perhatian Red.
"Oh iya, biar lu bisa inget lagi.. Mending gue kasih tau nama gue dulu, Lectro Electron. Kalau yang ini.. Eudo Elford. Inget-ingetuh nama temen-temen lu!"
"Em.. Ok.. Lectro."
"Nah.. Oi, Eu.. Rambut lu numbuh lagi?" tanya Lectro.
"Iye lah, setiap gue ngeluarin buku ginian pasti selalu numbuh dan balik ke awal rambut gue!"
"Balik keawal?" Kata Red bingung.
"Gini.. Rambut Eudo sebenernya warnanya pirang trusnya panjang. Tapi, dia sering potong sama warnain rambutnya ke coklat." jelas Lectro sambil menyiapkan sebuah guting ditangannya. "Dah, yuk! Eu! Potong rambut lu!"
"Ok, dah! Red!" mereka berdua meninggalkan Red sendiri di koridor.
"Bagus, tambah lagi orang aneh.. Apa bakalan ada lagi yang lebih aneh?" gumamnya sambil berjalan menulusuri koridor markas sampai bertemu dengan...
"Yo, Red.. Sudah pulang?"
Rone...
"Ka.. Kau siapa? Kenapa mirip dengan diriku? Suaramu juga? Apa kau seorang peniru?" tanya Red curiga ketika melihat Rone.
Rone hanya berdecak, "hmph.. Jadi, berita dari ayah itu benar, kau amnesia."
"Hah? Ayah? Ryuuga tou-san maksudmu?" tanya Red makin bingung.
"Bukan Ryuu tou-san, tapi Takano Tou-san." kata Rone sambil merangkul Red.
"Takano Tou-san? Memangnya siapa dia? Ayah-ku juga memangnya?"
"Ayah angkat kita berdua, dan ayah kita semua yang ada dimarkas."
"Ayah.. Angkat.." Red mencoba untul mengingat-ngingat kembali pikiran lamanya, namun itu hanya menyebabkan dirinya sakit kepala hebat. "Ungh! Aah!"
"Re.. Red!" Rone segera menangkap tubuh Red yang hampir terjatuh ke lantai dan membopongnya. "Kau tak apa?"
"A.. Ay-"
"Cukup Red! Tak usah dibahas!" potong Rone.
"Arf Arf!" tiba-tiba Nigou muncul dihadapan mereka dengan mengigit sebuah tongkat kayu yang tadi Red lempar, tapi entah kenapa ada yang kurang..
"Nigou, Hato mana?" tanya Rone.
"Namanyha Nigou?" tanya Red ke Rone.
"Yap, dan Hato kakaknya." Jawab Rone.
"Tapi, Bukannya di markas ini hanya ada satu anjing?"
"Tau pria berambut silver dan selalu berbicara dengan suffix ~woof?"
"Maksudmu? Dia itu Hato? Tapi, dia itu orang bukannya anjing!"
"Ya, dia Hato, dan dia itu anjing. Mungkin kau akan mengingatnya sewaktu-waktu nanti soal masa lalunya. Dia tak suka jika di telantarkan tuannya."
"Arf!"
"Hmm, ada apa Nigou?" tanya Red.
"Arf Arf!" Nigou menyerahkan tongkat kayu itu ke Red dan memperhatikannya dengan mata bulatnya. Red seakan mengerti maksud dari anjing kecil itu langsung berjongkok didepan anjing itu dan mengusap kepalanya.
"Baiklah, kita keluar dan bermain." kata Red.
"Arf!"
"Ngomong-ngomong, mana Kakak-mu? Bukannya tadi kau bersamanya?" tanya Red.
"Arf Arf!"
"Teiron? Siapa itu?" tanya Red.
"Anak dari squad sebelah, tidak suka anjing, tapi selalu ditempel sama Hato dengan alasan selalu ingin bermain dengannya." jawab Rone sambil melipat tangan.
"Boleh tunjukan jalannya? Aku mau lihat." tanya Red penasaran.
Nigou segera berlari keluar markas di ikuti dengan Red dan Rone. Mereka terus mengikuti Nigou sampai disebuah pohon Jambu biji. (karena Rambutan atau mangga udah biasa! Mungkin besok-besok pohon toge atau terong aja :V) Mereka semua langsung sweatdrop ketika melihat seorang pria berambut merah sedang nangkring di dahan pohon jambu tersebut dibawahnya terdapat Hato yang sedang memperhatikannya.
"Teiwoof, ayo turun.."
"NGGAK MAU! PERGI NGGAK LU!" Usir Teiron yang nemplok di dahan pohon.
"A.. Hah? Sampe segitunya?" tanya Red bingung dan sweatdrop.
"Pernah lebih parah lagi, dia sampe ngelemparin Hato pake kaleng makanan di supermarket karena diikutin sama Hato."
"Hee..."
"PERGI NGGAK LU ATAU LU GUE TIMPUK PAKE JAMBU!" bentak Teiron.
Hato diem aja bahkan sekarang Nigou malah ikut-ikutan merhatiin Teiron nangkrin dipohon jambu. Nah lo!
"Teiwoof, sini, aku mau main.."
"Arf Arf!"
"Red, Rone tolongin gue dong! Anjingnya di bawa dulu!" pinta Teiron.
"Tinggalin aja yuk." ajak Red kemundian mereka berdua langsung meninggalkan tempat itu melupakan Teiron yang sedang nangkring diatas pohon diperhatikan Hato dan Nigou.
Kasihan, Ooh Kasihan, Ooh Kasihan, Aduh Kasihan...
Oh iya, bagaimana jika kita lihat keadaan Revan dan Thundy sekarang.
"Van, keluar yuk! Jalan-jalan gitu.." ajak Thundy.
"Oke.."
Mereka berjalan di koridor markas tak sengaja mereka melihat Mitsumu sedang duduk membelakangi mereka berdua. "Van, ajak dia sekalian ya."
Revan awalnya mau menerimanya tapi, dia ingat sesuatu yang nggak boleh dilakukan. "Thun, bentar jangan-"
"Oi Mitsumu mau ikut?" seru Thundy.
Mitsumu menengok kebelakang dan menggeram kearah mereka berdua. Dia langsung berjalan mendekati mereka berdua sambil menggeram, sementara Duo Tsundere itu malah mundur.
"Van, Mitsu kenapa?" tanya Thundy agak ketakutan.
"Gue lupa bilangin, kalau Mitsumu lagi HWS, dan kalo nggak ada ayahnya pasti dia gitu." jawab Revan.
Mitsumu langsung berlari kearah mereka berdua dan mereka berdua langsung melakukan hal yang harus mereka lakukan yaitu.. Ngacir dari tempat itu secepat mungkin.
"Hiiii!!!"
Back to Red..
"Kemarilah, aku ingin mengajakamu ke tempat ini dulu.. Mungkin kau akan sedikit merasakan sesuatu." ujar Rone sambil membuka gerbang squad sebelah.
Mereka berjalan ke pintu depan setelah menutup gerbang dan memencet bel pintu. Tapi, entah kenapa nggak ada jawaban sama sekali, akhirnya Rone memutuskan untuk membuat sebuah candaan ke Red.
"Hei Red, coba deh gini.." Rone menirukan orang menendang bola. "Nah, terus bilang "Bazeng" pas mau nendang ke depan."
"Hmm... Menarik, biarku coba." Red mengambil ancang-ancang dan bersiap untuk menendang udara. Tapi..
"BA-"
"Ya? Siapa?"
"ZENG!"
Duagh! 'Please Stand by'
"Aaah, Pasti Sakit." ujar Rone karena melihat seorang pria berambut pirang yang diduga merupakan jelmaan kambing jadi-jadian alias Mathias menjadi korban tendangan mautnya Red.
Bijinya masih dua nggak? Ntar pecah satu lagi.. Muehehehe! :V (Hush jorok ya!)
Ok, balik ke cerita!
Sekarang Red sama Rone lagi duduk di sofa ruang tengah markas Garu squad dengan tidak memperdulikan Mathias yang sedang jadi 'Bebek Nungging' sambil memegang area keramatnya karena tidak sengaja ditendang dengan keras oleh Red. Bahkan, sang pelaku dan otaknya malah asik-asikan diruang tengah sambil minuk teh.
"Oh, jadi gitu toh.." ucap Tumma yang sweatdrop mendengar cerita dari Red dan Rone. "Ngenes amat hidupnya..."
"Oh iya, sebelumnya aku ingin memberi tau sesuatu yang agak penting.." ujar Rone setelah menyeruput Teh-nya.
"Apa itu?"
"Red.. Dia.. Amnesia total, dia tidak mengingat siapapun, apapun, bahkan dirinya sendiri.." jawab Rone setelah melipat tangannya.
"Eh? Red dia lupa ingatan?" tanya Alpha yang numpang lewat.
"Ya, begitulah.."
"Apa yang menjadi penyebab Amnesianya Red?" tanya Lisa.
"Gini..."
-FlashBack-
Ryuuga menatap kearah atap dan menemukan Red sedang termenung di ujung atap disela-sela tangisannya. Ryuuga segera melompat ke atas dan ketika sampai, dia langaung mendekati Anaknya itu. "R.. Red.."
"Pergilah! Jangan dekati aku!! Kau tak tau rasa sakit yang ku alami akibat dari dirimu!" usir Red.
Ryuuga langsubg termenung tapi dia tetap memaksakan untuk berbicara dengan Red. "Red, tolong beri ayah satu kali kesempatan! Ayah janji kali ini, ayah akan melindungimu!"
Red hanya diam saja dan masih memeluk lututnya.
Ryuuga mendekatinya dan menepuk pundak Red. "Red, ayah janji.. Tak akan ada lagi siksaan, ayah juga sudah merasakan jadi dirimu... Ayah... Juga merasakannya Anakku."
Red melihat ke ayahnya, "maksudmu?"
"Semuanya sudah tidak ada Red, semuanya.. Ayah hanya mengembara sekarang mencari dirimu karena semuanya telah hancur rata dengan tanah, rumah kita sudah hancur karena musuh sudah menghancurkannya, tak ada yang tersisa semuanya mati hanya ayah yang selamat. Hal ini membuat ayah mengerti karena ayah masih hidup setelah ayah ditolong seseorang yang membebaskan ayah dari siksa musuh." Ryuuga mengelus kepala Red.
"Jadi, selama- sudah berapa lama kau mencariku?" tanya Red penasaran.
"Kira-kira, 6 sampai 7 tahun aku mencarimu. Kau satu-satunya anakku, dan aku mengkhawatirkan dirimu, Jin.." Red memeluk ayahnya dan tersenyum dipeluk itu.
"Terima kasih kau sudah mencari diriku, ternyata kata ibu benar... Suatu hari pasti ayah akan kembali seperti awal."
"Ibu? Tapi-"
"Emm.. Maksudku, Yuki-san.. Dia itu ibu angkatku ayah.. Dia awalnya perempuan.. Namun, karena kesalahan dalam ritual keluarga dia berubah menjadi laki-laki." jawab Red.
"Ooh, hei... Bagaimana jika kita turun, apa kau tidak kedinginan?" ajak Ryuuga.
"Baiklah.." Red dan Ryuuga berdiri dan berjalan sedikit ke pojok atap. Tapi, sebuah kecelakaan terjadi. Red terpeleset dan terjun bebas dari atap gedung dan mendarat kepala bagian belakang terlebih dahulu.
"JIIIIIIIIINNNN!!" jerit Ryuuga yang ikutan melompat dari atap tapi bisa mendarat dengan baik dan mendekati Red yang tak sadarkan diri dan bersimbah darah dari bagian kepala belakangnya.
-Flashback end-
"Setelah itu dia dilarikan ke ICU dan Koma selama seminggu. Tapi, setelah itu, dia dipindahkan ke ruangan biasa setelah kondisinya stabil tapi masih belum sadarkan diri." ujar Rone.
Tak menyangka yang nyimak ceritanya malah tambah Rame. Bahkan, mereka sampai prihatin melihat Red yang kebingungan melihat mereka semua. "Ada yang. Salah?"
"Kasihan.. Dia baru mau kebahagian tapi.. Malah mendapatkan sebuah cobaan." ujar Naya yang merenung karena mendengar cerita Rone barusan.
"Berarti dia tidak ingat siapa kita semua?" tanya Edward yang matanya udah basah.
"Nggak, seratus persen dia tidak tau siapa kalian sama sekali.. FYI,dia sempat mau kabur dari rumah sakit saat baru sadar." jawab Rone.
"Hiks.. Kenapa gue jadi nangis sih?" gumam Ikyo yang kayak tersentuh karena cerita Rone.
"Huweeeee!! Sedih Dayo!" kalo musket udah nangis duluan.
"Terlalu memprihatinkan..." komentar Edgar yang datar tapi sebenernya udah mau nangis juga.
"Aduh, kasihannya.." timpal Adelia dan Elwa yang udah nutupin hidungnya dengan Tisu.
Bahkan Rina, Vivi, Lucy, dan Lisa udah nangis duluan.
"Berarti kita harus kenalin diri lagi dong sama Red?" tanya Sapphire yang meperin ingus dia dibajunya Daren yang berakhir dengan sebuah Tabokan di kepalanya.
"Mau nggak mau, tapi harus iya..." jawab Rone seadanya.
Beberapa saat kemudian...
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rone yang duduk disebelah Red.
"Yah, lumayan..."
"Ingatlah, mereka adalah teman-teman kita semua. Ya, biarpun ada yang ngeselin juga sih." komentar Rone sambil melipat tangan.
"Misalnnya?"
"Teiron, suka kue mangkuk, orangnya blak-blakan, dan benci sama anjing, Mathias, si Kambing itu yang tadi jadi korban dirimu, Emy, ca- *euh.. (Betahak, mau ntar kiamat lagi gara-gara ucapin kata ajaib itu?)* tapi agak sedeng. Salem si Siscon yang suka pingsan kalo liat anak kembar, dan masih banyak lagi sih.." jawab Rone.
"Owh.."
Tiba-tiba ada sebuah kegaduhan diluar markas squad Garu.
"Thun-kun itu milikku! Jangan coba-coba untuk menggodanya!" teriak Emy yang kedengeran sampe dalem.
"Ada apa ya?" gumam mereka berdua, kemudian mereka berdua keluar untuk melihat kegaduhan itu.
"Hm.. Aku hanya mau bersama dengan dirinya ayolah hari ini saja." balas Alucard yang membawa sebuah bunga ditangannya.
"Nggak! Nggak boleh! Pasti lu mau kencan sama dia! Nggak boleh!" bentak Emy sambil mendorong Alucard.
"Ada apa ini?" tanya Red bingung.
"Biasalah, drama.. Emy suka sama Thundy, Alucard juga suka sama Thundy tapi, Emy nggak seneng sama Alucard ya jadinya gitu deh. Udah sering mereka kayak begono." jawab si ketua squad yang sedang melipat tangannya.
Red hanya ngangguk-ngaangguk.
"Ayolah.. Aku mau mengobrol dengan dirinya sebentar." pinta Alucard.
"Nggak! Lu nganterin dia kesini aja udah cukup nggak usah pake basa-basi lagi!"
"Emy-chan, udah-udah, ngucap! mba ngucap! Kitakan hanya mau nyari tau tentang pembuat Doujin itu. Inget? Kita bukan mau berantem loh." lerai Iris.
Sejak kapan Iris bisa sebijak itu, apa tadi dia bilang 'ngucap' wew!
"Oh iya, Ya rabb..(?) Maaf ya, gue TERPELATUK abisnya liat kalian berduaan." ujar Emy yang menyesal setelah diberikan siraman Rohani sama Iris. (?)
"Ya.. Tak apa.." balas Alucard sambil tersenyum.
"Tapi, tadi kalian bilang doujin? Doujin apa?" tanya Alisa penasaran.
Iris memberikan Doujin tersebut ke Alisa dan dia langsung tercengang mellihatnya. "Wut!? Serius nih?" tanyanya dengan muka skeptis.
Lucy melihat Doujin itu dan kebingungan. "Ha? Kok mirip Thundy sama Alucard ya?"
"Mana-Mana?" Vivi dan Lisa mengambil Doujin itu dari tangan Lucy dan melihatnya dengan muka bingung. "Ini sih kayaknya emang Thundy sama Alucard." kata mereka bersamaan.
"Lihat dong!" Monika mengambil Doujin itu dan memeriksa nama pengarangnya. "FJDSHK, AM? Ada yang kenal nama pengarangnya?" tanyanya bingung.
"Lebih terdengar seperti nama Inisial deh... Soalnya kalau lihat berita tentang penjahat atau apa nama mereka pasti disingkat." komentar Adelia.
"Bener juga tuh!" seru para perempuan.
"Tapi, siapa yang memiliki inisial FJDSHK, sama AM?" tanya Lucy.
Mereka semua mikir..
"Hmm.. Ikyo, KI, Teiron, TC, Alpha, AS, Thundy, TS." (Iris)
"Rendy, REV, Salem, SMAL, Maurice, MW, Tumma, THAM." (Elemy)
"Mathias, MK, Vieny, VA" (Vivi)
"Luthias, LO, Daren, DA, Sapphire, SA." (Adelia)
"Giro, GC, Musket, ML." (Monika)
"Tartagus, TA, Edgar, EL, Otou-Chan... AM.. Tunggu dulu.. AM?" Semuanya langsung menengok ke Alexia yang sedang mengendap-endap diantara kerumunan.
"Alexia/Otou-chan!~" Entah kenapa semua anak perempuan yang ngecek doujin barusan langsung memasang aura gelap, bahkan Lucy tangannya langsung memanjang dan menarik kerah Adiknya itu.
"He.. He.. Emm.. Ada apa ya?" tanya Alexia gugup dan udah keringet dingin.
"Hmm..." Semuanya langsung tersenyum sambil menatap Alexia dengan seringai licik. Kemudian, Iris mengeluarkan baju Maid berwarna pink yang pernah dipake Alexia.
"Tidak! Jangan baju itu lagi!" jerit Alexia ketika melihat baju maid itu.
"Nggak! Harus pake! Semuanya!" kemudian, Alexia dipaksakan Crossdress lagi.
Satu baju maid kemudian..
"Amboi, cantiknya adikku ini!" Goda Lucy sambil memfoto alexia.
"Hihihi, Alexi-chan cantik ya!" goda Vivi.
"Duck Face!" seru Adelia yang foto dengan memonyongkan bibirnya kayak bebek.
"Aduh, mba Alex, cantik banget sih~" goda Monika.
"Pissss!" seru Alisa dan Lisa memfoto dirinya dan Alexia dengan gaya dua jari dibentuk -V-
Pesan Moral hari ini : makannya jangan suka sembarangan ngambil Pairing jadinya, ginikan!
Oh iya, balik ke Red, Rone, dan Alucard...
Mereka berjalan pulang ke markas karena sudah selesai dengan markas sebelah. Tapi, ketika mereka sampai depan pintu markas mereka melihat seorang perempuan berambut panjang coklat yang membawa sebuah busur panah menunggu didepan markas.
"Halo, sepertinya kalian baru pulang.. Dan lama tak jumpa, kakak Alucard.. Aku harap kakak masih ingat siapa aku.." sapa Gadis itu sambil tersenyum.
Alucard menelan ludahnya, "Sa.. Sarah? Bagaiman kau tau aku disini?" tanya Alucard gugup.
"Aku mendapatkan Info tentang keberadaan kakak, jadinya aku kemari. Dan juga..." Sarah menunjukan sebuah kertas Formulir penerimaan anggota baru dan disitu tertulis diterima. "Mulai sekarang aku satu squad dengan kakak."
"A.. Apa!?" pekik Alucard.
"Oh iya, biasanya kalau ada Kak Alucard.. Pasti ada Cullen? Dimana dia?" tanya Sarah yang langsung membuat Alucard manyun.
"Tolong.. Jangan bahas dia." jawab Alucard yang mulai bad mood. 'Cullen..'
"Maaf, aku pergi duluan." sambung Alucard yang berubah jadi Kelelawar dan terbang ke jendela kamarnya.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Red.
"Hm.. Kau belum tau tentang Adik bungsu kami?" tanya Sarah.
"Tidak, bahkan dia tidak pernah cerita tentang keluarganya sama sekali." jawab Rone.
"Oh.. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu tentang adik kami. Kalau boleh tau, kamarnya dimana?" tanya Sarah.
"Lantai 4, paling ujung kanan."
Sementara itu dikamar Alucard...
"..." Alucard sedang termenung karena teringat dengan Adik bungsunya yang sudah mati sejak lama. "Cullen..."
"Alu.. Kau baik-baik saja?" tanya Yuki.
"Ah, Tuan Yuki.. Yah, begitulah.. Hanya teringat adikku saja." jawab Alucard.
"Oh.. Apa kau perlu waktu untuk sendiri atau perlu teman?" tanya Yuki lagi.
"Aku perlu waktu untuk sendiri.. Tolong, keluar sebentar." pinta Alucard.
"Baiklah.." Yuki keluar kamar tak sengaja dia bertemu dengan Sarah dikoridor. "Apa Alicard ada dikamarnya?" tanya Sarah.
"Ya, tapi dia perlu waktu untuk sendiri katanya." jawab Yuki kemudian dia pergi. Sarah berjalan ke depan pintu kamar Alucard dan mengetuk pintunya. "Kakak, boleh aku masuk?"
"Silahkan.."
Sarah membuka pintunya dan melihat Alucard sedang termenung di pinggir kasurnya tanpa menengok sama sekali. "Kak, aku perlu bicara dengan kakak sebentar.."
Beberapa menit kemudian..
"Ja.. Jadi.. Cullen dia sudah.." ujar Sarah yang terkejut mendengar cerita kakaknya tersebut.
"Ini salah Kakak, Sarah! Kakak tak bisa melindunginya! Andai kakak tidak menurutinya untuk keluar! Mungkin saja..."
"Tidak kak, sepertinya itu memang sudah takdirnya! Aku mengerti perasaan kakak ketika melihat Cullen mati ditangan kakak sendiri.. Tapi, dia sudah mendapatkan permohonan terakhirnya.. Jadi, dia pasti bahagia disana sekarang!"
"Bukan itu! Kakak sundah berbohong ke dirinya sebelum dia mati! Kakak merasa menyesal sudah tidak jujur dengannya!"
"Tapi, aku rasa Cullen tau kalau kakak bukan bermaksud untuk menyakitinya makanya dia masihh bisa tersenyum ke kakak!"
"Argh! Cullen... Cullen!" Alucard mulai menjambak rambutnya sendiri dan menangis tersedu-sedu karena mengingat adiknya.
"Kak Alu, tolong hentikan.. Sarah tau kakak amat tertekan karena Kematian Cullen. Tapi, Cullen juga pasti sedih kalau kakak sedih!'
"...Cullen..."
"...kak.. Aku tahu kakak sedih.. Tapi, apa yang sudah terjadi biarkanlah terjadi.. Cullen sudah mati.. Relakan dia."
Alucard berdiri dan berjalan ke jendela.
"Kakak mau kemana?"
"Aku... Perlu ke suatu tempat dulu."
"Aku ikut!"
"Maaf, kakak mau sendiri dulu." jawabnya dan dia langsung pergi tanpa nenengok kebelakang.
Bonus :
~Asal bahagia~
"Sar, menurut lu gimana jika kakak lu belok orangnya?" tanya Amelia.
"Entahlah, mungkin agak geli sih, tapi asal dia bahagia aku sih ok ok aja." jawab Sarah, kemudian dia mendapatkan sebuah foto yang memperlihatkan Alucard lagi ngerangkul seseorang berambut biru.
"I.. ini siapa?" tanya Sarah.
"Orang yang lagi dikejar-kejar kakakmu. Namanya Thundy." jawab Amelia.
"Ja.. jadi, kakakku itu belok beneran nih?"
"Hooh, dan dia bener-bener ngejar tu orang sampe keakar-akarnya."
"maksudnya?"
"Gini ya mba, um.. dia udah ditolak masih aja ngejar tuh orang, dan juga padahal si Thundy ini udah punya pacar tapi, kakakmu tuh batu."
"Owh, selalu seperti biasa, sifatnya memang batu dari dulu." ujar sarah sweatdrop.
"oh iya, ngemeng-ngemeng kau itu berapa bersaudara sih?" tanya Amelia.
"kami lima bersaudara, Kak Alucard yang paling tua, aku anak tengah a.k.a ketiga."
Udahkan? Yaudah!
A/N : Gimana jika gue bikin Fic Lemon soal Doujinnya Mau nggak? (Iykwim) :v/
Sarah Valiento 'Note : Valiento itu nama margaa keluarganya Alucard' (Robin Hood a.k.a Dhita) : Adik kedua Alucard, agak loyalitas tapi lembut, nggak suka dengan yang namanya kelalaian, Alergi dengan serbuk sari.
