Balas Revievv :

Girl-chan 2 :

Yap, Benar sekaleh! :v

Vincent : Aku sih juga kaget, dia bisa break dance gitu '-'

Thx!

Chapter 35 : Gaje time at Reha squad.

Murid..

"... Kau masih mau latihan?" Vincent memutar matanya dan menghembuskan nafasnya. Ketika didatangi seorang perempuan yang mau memintanya mengajari parkour.

"Ayolah, aku tertarik soalnya. Aku ingin coba!" ucap gadis itu bersemangat.

"Sebentar... Desmand!" panggil Vincent dan Desmand langsung muncul. "Ada apa?"

"Ikut gue bentar, lu juga bantuin gue ngajarin nih anak, dia mau ikutan parkour." kata Vincent.

"Baiklah, tunggu ya. Kita langsung berangkat." ucap Desmand dan pergi ke kamarnya.

"Pokoknya aku nggak mau tau apa yang terjadi setelah ini ya." ucap Vincent sambil melipat tangannya.

"Baiklah! Aku akan berusaha!"

Two Father and Yuki Moment

1. Takano : (Ngidam?)

"Takano-kun..."

"Ya, apa?"

"Aku.. Em... Mau..."

"Mau apa?"

"Aku.. Mau.. Punya anak lagi..."

Krik, Krik, Krik...

Bruuuuuuuuuh!

Takano langsung menyemburkan teh yang dia minum dari hidungnya setelah diam beberapa saat.

"Yuki, ka.. Kau Ngidam!?" tanya Takano sambil melotot ke Yuki dengan tatapan 'Jangan bercanda kau!'

"A.. Nggak, ini hanya... ya... Keinginanku saja. Biarpun kau taukan, kita sudah punya tiga (Taiga [anak kandung] Red, dan Rone [Anak Angkat]) anak dan satu cucu. Tapi, a.. Aku rasanya masih mau nambah deh." ucap Yuki gugup.

Takano hanya bisa Facepalm, "Gimana ya... Kau ini Laki-laki masalahnya dan-"

"Ya.. Aku tau.. Aku nggak bisa hamil lagi... I.. Ini hanya angan-angan kok." potong Yuki sambil blushing. Takano langsung menarik Yuki ke bangku sebelahnya dan merangkapnya.

"Memang aneh sih... Tapi..." Takano mencium kening Yuki, "Entahlah... Aku tak bisa memikirkannya."

"Ya.. Maaf ya, aku sudah minta yang aneh-aneh..."

2. Ryuuga : (Pernyataan)

"Y... Yuki!"

"Ya, Ryuu-kun?"

"Ak.. Aku mau ngomong sesuatu padamu.."

"Apa itu?"

Ryuuga memalingkan mukanya sedikut karena sebenarnya dia blushing dan dia tidak ingin Yuki melihatnya Blushing.

"A.. Aku tau, ini aneh.. Dan aku sudah mengiranya kalau aku akan di tolak.." ucap Ryuuga pelan Yuki bingung mendengarnya.

"Yuki... A.. Aku mencintaimu... Mencintai secara serius dan dari lubuk hati terdalamku sendiri."

Krik, Krik, Krik..

"Eh..." Yuki hanya bisa bengong karena dia sendiri bingung mau ngomong apa.

Oooooooohhh, Api Asmara dan Rivality akan berkobar antara para Ayah!

"A.. Aku tau, ini aneh... Kau sudah bersuami dan kemudian seseorang yang baru saja mengenalmu selama beberapa bulan mendatangi dirimu hanya untuk menyatakan cintanya didepan dirimu."

"Ma.. Maafkan aku, a.. Aku tak bisa menerimanya ya.. Mungkin karena aku sudah bersuami ini yang jadi alasannya." ucap Yuki sebenarnya dia juga tidak enak mengatakannya.

"Ya.. Tak apa aku tau, aku memang hanya perlu kau untuk meluapkan perasaanku saja kok sebagai ayah." ucap Ryuuga sambil memeluk Yuki.

"Tapi, aku akan tetap mencintaimu... Apapun itu alasannya." bisik Ryuuga.

"Kalau soal itu silahkan.. Aku tak keberatan." balas Yuki.

Jealous

Takano mendorong Ryuuga ketika Ryuuga sedang mengobrol dengan Yuki.

"Beraninya kau mendekati istri orang!" bentak Takano.

"Takano-kun, dia hanya mengobrol sedikit dengan diriku kok. Tak ada yang aneh-aneh." kata Yuki sambil menahan Takano agar tidak kelepasan.

"Tapi, aku tidak senang jika kau berbicara dengan si keparat ini!" balas Takano sewot.

"Takano-kun, kau... Cemburu ke dia? Tak biasanya kau mengeluarkan rasa cemburu-mu ke orang, kecuali kakak-ku sih." gumam Yuki watados.

"A.. Aku tidak Cemburu! A.. Aku-"

"Itu artinya kau cemburu.." celetuk Ryuuga dan di death glare sama Takano.

"Diam kau! Tak usah ikut campur urusanku!" bentak Takano. "Tch, Terserah!" kemudian, Takano pergi dengan hati yang bersungut-sungut.

"Jarang-jarang dia cemburu ke orang, biasanya hanya menggretak doang." gumam Yuki.

Dua orang paman dari negara lain..

"Des kayaknya gue beberapa hari ini ngeliatin lu, lu agak yah... Beda gitu.. Ada apa ya?" tanya Lectro penasaran dengan tingkah Desmand yang akhir-akhir ini agak aneh.

"Hmm... Sebenernya ada yang nggak enak sih, tapi paman jauh Ale- Eh.. Vincent mau kesini.. Ngecekin keadaan dia setiap tahun dan besok dia dateng.." jawab Desmand sambil menggaruk kepala belakangnya.

"Lah, kan itu bagus namanya, paman dia masih peduli sama dia."

"Bukan itu masalahnya, paman Vincent ini agak sensitif orangnya jadi gampang kesulut dan kalo udah marah dia nggak rela buat nonjokin orang yang buat dia marah."

"Emm.. Kayaknya keluarga Vincent emang sensitifan deh orangnya.." gumam Lectro sweatdrop.

"Ya, kecuali Adek dan Ibunya doang yang nggak gampang ke sulut. Sisanya kayak ayah, kakak, dan seterusnya dari garis ayahnya super duper sensi semua kayak anak cewek lagi PMS."

"Ok, itu sih bahaya ya..." ujar Lectro. "Ngomong-ngomong, pamannya itu dia jobnya apa?"

"Outboxer, lu tau sendiri.. Outboxer kalau nonjokin orang cepetnya kayak apaan tau."

"Yaya, lu bener juga.. Harus hati-hati nanti soal penyulutan amarah." gumam Lectro sweatdrop.

Besoknya..

"Hei, ada yang punya jadwal pesawat nggak?" tanya Vincent di ruang tengah.

"Ini, coba lihat.. Biasanya ada disini." ujar Grayson sambil memberikan sebuah koran.

"Makasih..." Vincent langsung melihat koran tersebut untuk mencari jadwal pesawat ke CitaAirport.

"Hmm... Dari Amerika, America Airline, no A1468 sampai jam... 12.45 menit." Vincent melihat jam dan sekarang masih jam 10 pagi. "Dua setengah jam sebelum dia sampai."

"Al, udah nemu?" tanya Desmand.

"Yah, jam set. Satu ntar dia sampe.. Berangkat jam sebelas aja deh.." ucap Vincent santai.

"Yaudah, terserah anda deh. Gue hanya ngikut doang kok."

Kemudian di bandara..

"Menurutmu.. Dia bakalan keluar di-"

"Tuh dia orangnya." potong Vincent sambil menunjuk seorang pria berjaket hitam (lagi) memakai hoodie kecoklatan dan kemeja putih belum terkancing semua. Serta tatapan dari mata biru langit yang tajam.

"Paman Mark!" panggil Vincent sambil menghampiri Mark.

"Oh, kau disitu Alex. Bagaimana keadaanmu?" tanya Mark setelah memeluk Vincent.

"Yah, baik-baik saja kok. Aku kesini bersama Desmand, paman masih ingatkan?"

"Yeah, still in my mind, hey, Des... How's goin'?"

"Yah, sehat-sehat saja. Dan belum terjadi apa-apa yang an- eh!?" Seseorang menepuk pundak Desmand. Desmand menengok kebelakang dan itu adalah..

"Hei, Nak! Lama tak bertemu." ucap seorang bertudung putih dengan luka di bibirnya juga dia tak punya jari manis di tangan kirinya.

"Paman Altera!? Sedang apa paman disini!?" Desmand kaget melihat pamannya tiba-tiba muncul entah dari mana.

"Aku ingin mengunjungimu nak, tak apa-apa kan?" ucap Altera sambil nyengir kuda.

"Tak apa sih.. Hanya saja, paman nggak bilang-bilang mau kesini." keluh Desmand.

"Maaf, maaf... Tapi, tak apalah. Sesekali aku ingin mengunjungi keponakan jauh ku."

"Terserah." ujar Desmand seadanya.

"Hei, kalian ayo pulang ke markas dulu! Bisnya sudah sampai nih!" seru Vincent.

"Tunggu!"

Bad Luck Salem

"Kenalkan dia paman jauh kami Altera Ibnu Al-Syaf/ Mark Mercer." ucap Vincent dan Desmand bersamaan.

"Des.. Paman lu itu.."

"Dia dari sekitaran Iran sama Irak jadinya namanya agak arab." potong Desmand datar.

"Tapi, ini yang timur tengah ya. Gue masih ada paman lagi di Itali.." sambung Desmand sambil melipat tangannya.

"Auditore kan?" timpal Altera.

"Nah, paman Auditore.."

"Kalo Vincent... Mereka kok mirip ya, tampangnya?" tanya Ikyo.

Vincent membuka tudungnya begitu juga pamannya dan memperlihatkan perbedaan mereka. "Lihat.. rambut kami beda."

Rambut Vincent jabrik dan pamannya pendek tapi, agak keriting dan pipinya juga agak kemerahan. Oh, satu lagi.. Rambutnya Mark warnanya putih.

"Oh, sebentar... Kami ini sama dalam satu hal.." Vincent merubah tangannya menjadi pedang raksasa. "Tenang tak ada yang akan ku lukai kok."

"Kau pernah melukai seseorang dengan itu!?" tanya Mark kaget.

"Nggak kok, hanya ngancem doang." jawab Vincent santai.

"Oh, yaudah.."

Paman macam apa yang ngebiarin keponakannya macem-macem sama pisau segede itu. Entahlah... Hanya Tuhan dan keluarga mercer yang tau.

"Baiklah, sekarang giliranku." Mark menumbuhkan armor di kedua tanganya sampai se-lengan dan tetap memiliki duri hitam diujungnya. (Kalo bisa dibilang sih, jadi lebih mirip tanganya si gagak hitam dari Fandom sebelah. You know lah siapa, cuman ini dua-duanya kalo si doi kan cuman satu doang.)

"Permisi.. Apa kalian semua memiliki kekuatan itu, untuk memperkuat tubuh kalian?" tanya Naya penasaran.

"Ya, turun-menurun dari kakek. Tu- tunggu dulu, kau butakan? Bagaimana bisa?" Mark dan Vincent kaget bersamaan ketika Naya menanyakan kekuatan mereka padahal matanya di perban.

Sriing!

Rendy langsung mencari tempat bersembunyi di belakang sofa.

Buagh!

Salem yang baru dateng (bawa piso pula) langsung ditabok sama Mark dan mental entah kemana.

"Sepertinya, tangan itu melipat gandakan kekuatannya.." gumam Rendy ketika melihat Salem mental entah kemana setelah ditabok Mark.

Quote Hari ini :

Baru mau ngancem orang, malah ditabok entah kemana.

-Bad Luck Salem-

Ditempat lain..

"Ergh! Berisik sekali mereka!" Kazuma mencoba untuk bemeditasi di siang hari. Tetapi, terganggu sama kegaduhan dari kamar sebelah, sementara di kamar sebelah Harada lagi nge-war sama para Unique lainnya.

"WOI! COVER KEK! JANGAN MAJU TERUS! UDAH TAU GUE MAKE HWANMA JADINYA EMPUK BANGET NIH DEFF!!" (Reo)

"BUKAN KARENA GUE SUPPORT SAMA TB, GUE DIJADIIN TUMBAL YA!!" (Walrus)

"HAHAHAHA! GUE SPAM OMBAK TSUNAMI!" (Seander)

"PESAWAT STRIDER IS COMING!" (Eh? Ars dia teriak juga!?)

"DEMI BOLA LISTRIK OMEN! SIAPA YANG NGESPAM NAGA IJO! PASARAN BANGET!" (Destra)

"ULULULULULULU! I'M COMING BIACTH WITH HELL SPHERE! HP SEGER LAGI!" (Harada)

"HAHAHAHA! GUE BUG A S HOLD STRANGER MAMPUZ SEMUA!" (Drud)

"SD SOUN MASTER PLUS ACC MIDNIGHT DATANG!" (Ferdinand)

Rasanya Kazuma ingin menabrakan mereka semua dengan Sieryuu. Atau mungkin diaa harus melakukannya sekaang?

Gubrak!

Salem baru saja jatuh dari atas kamar Kazuma yang bikin atapnya bolong. Kazuma melihat orang itu dengan dark aura disekitar dirinya dan dia langsung masuk immortal mode.

"Aduhh.. Loh, gue dimana?" gumam Salem bingung, tapi dia merasakan ancaman di belakangnya.

"Kau... Beraninya..." Kazuma sudah mulai mempersiapkan diri untuk mengsummon Sieryuu.

"Tu- tunggu, i.. Ini-" Ucapan Salem terpotong karena dia sudah ditabrak sama Sieryuu dan terbawa entah kemana lagi.

"RYUU GA WAGA TEKI O KURAU!!!!"

Di Fandom FPS sebelah.

"Anija, Anija, Lihat ke langit!" unjuk seorang pria cyborg putih sambil menunjuk sieryuu dan Salem yang masih terbawa di moncongnya.

"Apapun itu.. Seseorang telah memakai skill ku di suatu tempat dan kampret!" ujar seorang pria pemanah kekar sweatdrop.

"Haruskah kita mendatanginya?"

"Kita nggak tau tempatnya dimana. Dan aku juga nggak mau tau dimana orang yang meng-cast itu."

"Hee..."

More Today's Quotes :

Baru mendarat dikamar orang, Di Tabrak sama Sieryuu sampai terbawa ke Fandom sebelah.

-Bad Luck Salem-

Penyembelihan Hewan.

"Tartagus!" panggil Reha.

"Apa?"

"Boleh gali lobang di depan sebentar aja, agak daleman kalo bisa." pinta Reha, Tartagus mengangguk dan pergi membawa sekopnya kedepan untuk menggali lubang.

Satu lubang kemudian..

"Ok, udah.. Emangnya buat apa?" tanya Tertagus ketika selesai menggali lubang permintaan Reha sebelumnya.

"Ada aja.. Eh, mandi sana. Diajakin nge-date sama Ir-" dalam sekejap Tartagus langsung ngibrit ke dalem dan mandi. Bahkan, Vience yang baru mau masuk kamar terpaksa menerima hantaman pintu dari Tartagus sebanyak dua kali (pas mau masuk di sela sama Tartagus dan pas Tartagus keluar).

"SEPUPU KAMPRET!" teriak Vience.

Kalo udah soal Iris, pasti Tartagus cepet orangnya.

Kemudian siang harinya..

"Loh? Ini sapi dari mana?" ujar si Ketua squad Garu sweatdrop melihat seekor sapi di halaman squadnya terikat di sebuah pohon di kerubutin sama anak-anak (polos).

"Enggak tau deh.." ucap Jung.

Girl-chan berjalan mendekati sapi tersebut dan melihat sebuah lubang yang sudah dipasangin dengan kayu diatasnya.

"Please, jangan bilang ntar ada yang motong kurban disini..." batinnya ketika melihat lubang tersebut.

Lalu...

"Sapinya mau diapain?" tanya Nigou watados ketika melihat sapinya dibawa ke sebuah tempat yang ada lubangnya.

"Mau di sembelih Nigou." jawab Hato sambil menggenggam tangan Nigou.

"Eh~ jangan disembelih, sapinya baru aja dateng." ucap Mita manyun.

"Tapi, ntar kalo udah di sembelih dagingnya bisa dimasak loh. Biasanya Ibu suka bikin sop iga atau sop buntut, trus iga bakar, atau Steak kalo ayah yang buat." ujar Silica sambil mengelus kepala Mita.

"Eh? Serius?"

"Iya, memangnya kakak pernah bohong?" balas Silica.

Kemudian, datang lah beberapa orang yang sudah membawa pisau cukur eh.. Golok deh. Ya kali, nyembeli hewan pake piso cukur sama aja kayak lu nebang pohon make silet kali.

"Semuanya, udah siap?" tanya Takano yang membawa tali.

Semuanya mengangguk dan langsung memulai prosesnya. Pertama, mereka ikat sapi itu di beberapa bagian. Lalu, Skip.. (Gue males ngejelasin bagian ini.)

"Tro! Wei, Lectro!" seru Eris yang menahan Lectro agar tidak jatuh ke tanah langsung.

Note : Ingat, Lectro nggak kuat liat darah, jadi kalau dia ngeliat darah ngucur (banyak lagi) pasti dibakalan pingsan.

"Bawa dia ke kamarnya sekarang, jangan lupa siapkan ember sekalian." perintah Takano.

"Woi! Ini kambing nggak di potong!" seru Red sambil membawa Mathias dengan cara dibalik dan kedua tangan dan kakinya terikat di sebuah tongkat kayu.

"Oh, kalau itu bukan dipotong." Takano nyengir jahat. "Tapi, langsung dibakar!" Takano menunjuk sebuah api unggun yang sudah dinyalakan Ethan, Jung, dan Alex.

"WOI GUE BUKAN KAMBING OI! GUE MASIH ORANG!" Jerit Mathias yang diikat terbalik.

"Eh? Kambingnya minta langsung dibakar? Ok, Ayo semuanya! Kita bakar Kambing!"

"Stop, Eh, Aduh, Gyaaaaaa Jangan!"

Hato Kerja?

Sudah beberapa ini Hato nggak kelihatan dari pagi sampe sore. Dia hanya kelihatan pas malemnya doang. Ini adalah hal terbaik untuk Teiron yang benci sama Hato, tapi aneh juga jadi satu. Apalagi, Red, Rone nggak ngerasa khawatir sama sekali dengaj hilangnya Hato dari pagi sampai siang setiap hari senin sampai Jum'at hanya sabtu dan minggu saja Hato kelihatan di markas sepanjang hari.

Tapi, tak lama itu juga ia mengetahui sesuatu yang membuatnya kaget. Hal ini dimulai pada hari rabu. Saat itu dia melewati sebuah taman kanak-kanak di kota.

'Jadi kepikiran buat balik ke TK lagi.' batinnya sambil melihat taman kanak-kanak itu lagi.

"Psst, kau sudah lihat guru baru itu?" Ternyata Teiron tak sengaja mendengar percakapan ibu-ibu di sebelahnya.

"Oh, dia.. Ia, dia ganteng juga ya." lanjut ibu-ibu di sebelahnya.

'Dasar mak-mak kang gosip.' batin Teiron sweatdrop dan pergi dari tempat itu.

Tak sengaja dia melihat sebuah seorang pria yang di kerubutin sama anak-anak TK tersebut, tapi dia merasa tak asing soal pria itu. Rambut tebel agak jabrik dikebalakangin dan warnanya silver, tinggi, tegap, dan kalo bisa dibilang badannya lumayan kekar juga.

'Kayaknya dia yang dibicarain sama ibu-ibu itu.. Tapi, kok kayaknya nggak asing ya?' batinnya ketika melihat pria itu biarpun hanya punggunya saja.

"Ayo semua, waktunya masuk ke kelas lagi!" ucap pria itu dengan nada suara agak berat yang makin bikin dia ngerasa nggak asing lagi.

'Entah tapi.. Tuh orang ngingetin gue sama si sialan itu ya...' batinnya sampai..

"Kakak siapa?" seorang siswi TK itu menangkap basah dia sedang bersender di pagar pembatas bangunan.

"Eh?"

"Hei, Marry, kau nggak ma-" Pria tadi menghampiri anak tadi tapi dia juga melihat Teiron. "Tei.. Woof..."

Wait...

Pria tinggi berambut silver dikebelakangin, agak jabrik, manggil dia Teiwoof, Tegap, mata Amethyst, dan suara agak berat.

"Ha.. Hato!?" pekik Teiron nggak percaya.

"Kau sedang apa disini?" tanya Hato kaget, tapi.. Dia nggak pake suffix biasanya dan juga kemana telinga dan ekornya!?

"Hatori-sensei kenal dia?" tanya Marry watados.

"Dia teman sensei.. Ah, kau masuk ke kelas, cepat."

"Baik!"

"Hatori!?" pekik Teiron tambah kaget.

"Teiwoof, a.. Aku bisa jelaskan!"

"Maaf, mengganggu! Aku akan pergi dari sini! HYAAAAAAAAAA!!" teriak Teiron langsung kabur dari tempat itu ketika tau kalo Hato jadi guru TK.

Dan ini menyebabkan dia tambah shock ketika ketemu sama Hato dimarkas yang mencoba menerjangnya berkali-kali.

"Teiwoof! Aku ingin berbicara dengan mu sebentar, woof!"

"Ogah! Pergi!"

Tertangkap basah

"Ayo, ikut aku sebentar!" Vincent menarik tangan Desmand ke atap markas.

"Ngapain!?"

Begitu sampai ke atap markas Desmand langsung dipojokkan ditembok dekat pintu sama Vincent dengan pose kabedon.

"Lex.. Aku rasa ini ide buruk.." ucap Desmand gugup sambil menguatkan pegangannya ke selempang tasnya. Pasalanya, dia agak gugup untuk menatap wajah Vincent yang lebih pendek dari dia. (Note : Vincent dan Desmand, beda mereka 10cm)

Vincent tersenyum licik, "Des, Des lihatlah muka itu.." dia meraba muka Desmand dan membisikan sesuatu ditelinga Desmand. "Begitu pasrah melihat diriku, itulah yang aku suka..."

Note : Vincent itu seorang Sadistik.

"Lex, lepaskan a.. Aku."

"Tak akan..."

Vincent mengangkat kedua tangan Desmand dan memegangnya dengan erat agar Desmand tidak bisa melawan.

"Des.." bisik Vincent kemudian dia menggigit telingan Desmand.

"A.. Apa yang kalian lakukan!?" tanya Altera yang shok melihat keponakannya hampir disiksa sahabatnya sendiri.

"Pa.. Paman Altera.. A.. Aku.."

"Paman Altera, Kami sudah lama berhubungan jadi ini adalah waktu kami berdua. Dan aku juga tau kau memiliki hubungan dengan paman Mark juga kok." Altera dan Desmand kaget bersamaan dengan mata terbalak.

"Dari mana kau tau itu!?"

"Kau kira aku tak pernah menangkap basah kau dipojokin sama paman mark..." ucap Vincent datar dan masih mengekang Desmand dan Altera mulai blushing. "aku waktu itu pernah melihat kalian *piip bahkan di rumah ku saat Desmand dan kau berkunjung." sambungnya watados.

"Gyaaaaaaa!! Lupakan Hal itu!!?" teriak Altera yang malunya udah tingkat dewa.

"Alex.. Kapan kau melihat kejadian itu!?" tanya Desmand nggak percaya.

"Aku pernah teleport ke kamar pamanku untuk mengambil sebuah tang yang dia simpan di lacinya."

"Dan itu berakhir dengan menangkap basah pamanmu sedang di *piip* sama pamanku."

"Ok, Cukup kau Mercer muda! Kembali kau kesini!"

Mereka berakhir dengan kejar-kejar di atap markas.

Bonus :

Note : Bagian Red ditulis dengan Underline karena dia bakal ngomong pake bahasa Jepang sementara yang lain bahasa inggris.

Enam orang anak laki-laki squad Reha mencoba melakukan drama, coba kita lihat drama mereka..

Semuanya pake baju panjang coklat dan topi coklat.

(Desmand kanan ke kiri) A wadding motion, a shaken off Tension.

Supries, Supries, It pulls off the trick.

(Alex jalan dari kiri ke kanan) Question after question, replies is uneeded.

I hate it, i hate it, don't you bind me.

(Vincent di sorot sendirian di tengah) I press the "On" the "Button" part of all alone.

Stop it with Delusion on Desistning.

(Vincent, Alex, Desmand bersamaan dari tiga sisi) There's nothing out there you can't buy. Put the another way to everything.

Fecth a price tag and sold it to the market. There's no sense about loss, gain, respect, or virtue. (Jalan keluar dengan menunduk)

(Revan masuk dari kanan) Wafting about a little, a peek about your true self.

Not Fair, Not Fair, Not cute at all.

(Rone jalan ke tengah dari kiri) Then the following propose, reveal the trye self of the cheater.

It Stinks, It Stinks, It's so shamefull.

(Red masuk dan berhadapan dengan Rone dengan tampang seperti kebingungan) Machigai Sagashi no Pearukku/Spot the differences in this matching pairs.

(Saling Tunjuk) Are To Kore To Sore To Dore/Thats one and This one and Those one and Which one?

(Revan, Red, Rone bersamaan) Once we're bored like the way we toss out gum/Akitara GAMU no suteru no you ni.

We go seek a new love that's the way works/arata na koi o sagasu douri.

Like the pieces of a puzzle suprisingly/PAZURU no dekoboko igai ni mo.

Seems like I fit with anyone/Dare to demo Hamaru you da..

(Alex dengan tampang murung) Under the downpouring rain, I toss away the anchor that should stop me. Life is but a long boat ride.. Called Regretted from the public. (Alex Keluar digantikan Vincent yang masuk dengan tampang penyesalan)

If i must pick an obstacles for you. (Banyak benda berjatuhan)

Perhaps a heart, morals, or laws started to start.

If also i've taken the long way around the highest wall, and there you came to say, "Hey/Hora" (semuanya keluar dari belakang tumpukan benda sambil menepuk pundak Vincent)

"Hello/Konnichiwa!"

(Semuanya bersamaan) If you asked me "What is Love?"/ "ai" to wa nanzo to towarereba.

Then I shall respond, "It's me"/ Sore wa "Watashi" no kotaeyou zo.

Just because diamonds don't crack, It doesn't mean i dont need any/Hibi wareshi nikui dake na no de, daiya nado iranai no desu

Ok, segitu aja.

Character Note :

Mark Mercer (OutBoxer) : Paman dari Vincent, sama-sama punya kekuatan merubah tangan menjadi senjata, Sadis sebenernya, Sensi, Tinggal di Mamarica eh Amerika.

Altera Ibnu Al-Syaf (Desert Blader) : Paman Jauhnya Desmand yang tinggal di Irak, Nada bicara agak ke Arabic, nggak punya jari manis kiri, kalo pergi kemana-mana suka diem-diem, Anti-Deteksi orang sekitar saking tipisnya bayangannya tapi nggak suka di diemin, kalo udah serius serem bisa dibacokin pake pisau dia.