Balas Revievv :
Rosy Miranto18 :
Nigou : Hmm.. Baiklah ._.
Yuki : Owh, Yuki-onna toh. Tapi, namaku direferensi dari Momo Kisaragi dari Kagerou Daze. Dan Yuki itu juga malah pikiran autor sendiri karena dia sedang menonton national geographic dan melihat salju, sekawanan Rubah, kemudian sekawanan serigala.
Para perempuan : Kami kelaparan dan ternyata menjadi laki-laki terlalu menyiksa.
Desmand : Kalau aku akan menggunakan jarak dekat yah biarpun.. akan ada yang mengawasi kita seperti elang.
Ditempat jauh..
Vincent : Tak ada yang boleh menyentuh Desmand-ku.
Kazuma : Itu tak akan cukup sama sekali untuknya! *manyun
Girl-chan 2 :
Well, Tapi entahlah dapet paket gaya apa nggak, klo nggak terpaksa aku harus battle 5 jam dulu. .w.
Tapi, yang lebihnya lagi kalian semua nyadar nggk kalau Lucy ikut berubah padahal dia nggak pacaran. Atau, jangan-jangan seseorang ada yang suka sama dia ya.. -w-"
Ok, aku baru nyadar pas diingetin :v
Iris : Nggak mau tau! Pokoknya Salem, kamu itu hubungannya dengan Alfred itu udah pacaran! Nggak ada kata Normal, sama anak kecil aja udah di friendzone dasar Jones! *Jleb banget ea
Me : Hayoloh, Madam Fujo udah berbicara.. -w-"
Thx!
Chapter 39 : HeartStabbing Day.
Satu minggu setelah kejadian Genderbend..
Ting Tong.
"Ya?"
"Kyaaaaaa! Ogree!!" Terdengar suara jerit perempuan dari pintu depan markas. "Jangan makan aku, aku Mohon!"
Sepertinya bakalan ada yang nangid lagi nih -w-"
Brak!
Tumma langsung membanting pintu dan lari ke kamarnya dengan menangis sesegukan, sementara yang lain hanya bisa sweatdrop dan berpikir hal yang sama 'Dan Terjadi lagi~'
'Njir, Nangid' yah, kecuali satu orang, Vin- you know lah.
"Kali ini siapa ya?" gumam Mathias dan mengecek siapa yang ada di pintu depan. Ternyata seorang wanita yang memakai pakaian pendaki berwarna hitam, Topi hiking, tas berukuran besar dan sedang meringuk di deoan pintu. "Hei, kau tak apa?"
"Eh, ah? Mana Ogre-nya sudah hilang?" tanya Wanita itu sambil melihat sekeliling.
"Yah, sebenarnya itu bukan ogre, tapi salah satu anggota sini." jawab Mathias sweatdrop. "Oh, dan kau siapa?"
"Ah iya, maaf.. Aku Mira Valiento, aku ingin bertemu kedua saudara-ku. Aku dengar mereka disini."
'Vaient, em.. Oh'
"Baiklah, silahkan masuk!"
"Terima kasih, Emm..."
"Mathias Køhler, salam kenal!"
"Baiklah, Mathy, emm.. Terdengar dari nama-mu kau ini dari Denmrak ya?"
"Ja!"
"Wow, Sudah lama aku tak melihat orang Skandavian, terakhir kali kesana aku malah ditatap habis-habisan sama pria dingin, tinggi, dan super datar." ucap Mira sambil membawa tasnya ke dalam.
"Y.. Owh, begitu.." Mathias hanya sweatdrop ketika mendengarkan ucapan Mira. 'Apapun itu pasti dia membuat Su kesal..'
Disisi lain..
"Sal, tuh adaa cewe cakep masuk markas, nggak disapa? Bisa aja dia suka ama Lu!" bisik Eris sambip menujuk Mira yang sedang celingak-celingukan melihat-lihat markas.
"Gue nggak Ris soal ini.." ucap Salem sambil cemberut.
"Yaudah, kalau nggak mau.. Berarti lu udah official jadi pacar kakak gue nih. Besoknya juga, gue sumpahin lu Tunangan sama Alfred!" seru Eris sambil mengacungkan jarinya ke Salem.
"Sal, lebih baik lu kerjain deh.. Masih inget terakhir kali lu disumpahin sama Eris nggak?" kata Rendy.
Flashback bok!
"Gue sumpahin lu Sal, Jadi Jones sampe se-anak kecilpun nggak ada yang mau sama lu!" Seru Eris yang kesal karena Salem dengan sengaja menyenggolnya dan menjatuhkan makanan yang baru dia beli.
"Hmph! Siapa takut!" tantang Salem.
Tapi, sumpah Eris ternyata jadi kenyataan.
"Maaf ya Sal, kita temenan aja.."
"kita Temenan aja.."
"Temenan aja.."
"Temenan.."
"Aja..."
Sebuah Panah Friendzone tertancap di punggung Salem yang tak berhasil menembak Sarah. Kemudian, dia mencoba untuk melupakan hal itu dan mendengarkan musik, tapi..
"Dan Kemudian, dia berbicara, kita hanya berteman.."
"Hanya berteman.."
'Ok, cukup!' Kemudian, dia mencoba pergi berkerja tapi ada yang pacaran disitu..
"Cintaku ke kamu~"
"Iu, Gombal!"
Jleb!
"Nggak kuat, Nggak kuat! PHK saja saya pak!" pikir Salem sambil melambaikan tangan kanannya.
Seminggu kemudian, Salem memutuskan utuk berfoto dengan Flore dan mau memasang fotonya sebagai PP facebook. Tapi, Foto itu telah berkehendak lain. Ketika Salem membentuk tangannya seperti setengah hati. Flore hanya membentuk peace dan tersenyum ke kamera. Dengan kata lain.. Dia baru saja ter-friendzone bahkan oleh anak kecil sekalipun.
Flashbacknya end bok
"Ok, Ok.. Gue lebih baik ter-friendzone daripada ditunangin sama Kepala Buntung..." ucap Salem merinding.
Dia maju dan mendekati Mira dan menyapanya, "H... hai, kamu siapa?" tanyanya gugup.
"Oh, Hai.. Namaku Mira Valiento, aku kesini untuk menemui kedua saudaraku. Dan kau siapa?" jawab Mira.
"Oh, Nama.. Namaku Salem Morihayashi Al-Jumrah. Senang mengenal-mu."
"Ternyata Campuran, Hei, boleh aku melempar batu ke dirimu?" tanya Mira dengan cengiran di mukanya.
"A.. Aku bukan Tempat pelempar batu Jumrah, biarpun namaku Jumrah!"
"Ehehe, Hanya Bercanda kok. Tak usah dibawa serius... Kakak Al!" Mira langsung mendekati seseorang dibelakang Salem yang merupakan..
"Oh, Mira sudah lama kita tak bertemu, dan Salem, terima kasih sudah menemani adikku ya. Ayo, kita berkumpul dulu, Mira." ajak Sarah dan pergi bersama Mira.
"Dadah, Sally!"
"Sa- Sally!" pekik Salem tapi, dia mendengar beberapa orang tertawa dibelakangnya.
"Hahaha, Sally!? Mirip bebek kecil yang ada di aplikasi "Garis" itu!" seru Eris dan Rendy bersamaan.
"Nggak lucu dah!" sahut Salem dan pergi begitu saja.
"Yah, Baper."
"Sal, tapi, kayaknya lu juga jangan macem-macem deh kalo sana Adeknya Alucard." ucap Rendy dengan pose berpikir.
"Emangnya kenapa?" tanya Salem penasaran sambil membalikan badannya.
"Em.. Gue pernah denger dia ngomong gini.."
Mini Flashback
"Siapapun yang berani membuat adikku menderita maka dia akan aku habisi ditempat! Jika dia masih hidup maka akan aku kejar dia sampai mati!"
Flashback end
"Gitu.."
"G.. Gue nggak bakalan nembak Mira, dan untungnya Sarah nolak gue." gumam Salem merinding mendengarnya.
Kita keatas sekarang...
"Urgh!" Yuki langsung mendekap mulutnya dan lari ke kamar mandi terdekat. Bahkan, dia tak sempat minta maaf ke Alpha yang dia tabrak pas baru mau keluar kamar mand.i
Dia kemudian langsung berjongkok di depan toilet dan...
"HUUUUUEEEEEK!!" suara indah nan absurd terdengar sampai bawah.
Sepuluh menit kemudian..
"Yuki, kau tak apa-apa? Ini sudah keempat kalinya kau muntah dari pagi." tanya Takano yang khawatir dengan kondisi Yuki.
"Aku... Nggak apa-apa kok..." jawab Yuki pelan.
"Mungkin, kau harus ke rumah sakit.." saran Ryuuga yang juga ikut khawatir dengan kondisi Yuki.
"Mungkin ini aneh, tapi, aku setuju dengan Ryuu, kau harus ke rumah sakit, Yuki." ucap Takano.
"Baiklah, aku pergi sekarang saja daripada terjadi hal-hal aneh nanti."
Jendela kamar merupakan hal penting jika pagi hari tiba. Karena sinarnya membuat kamar menjadi terang. Tapi, Jendela kamar Desmand berbeda pagi ini karena...
"Hmmh.. Jam berapa sekarang?" ujarnya dan berusaha mengambil jam wekernya.
"Sekarang, Jam 7.48, Passero." seseorang dengan aksen italia medok eh salah, kental yang menjawabnya.
"Hmmh.. Bangunkan aku jam delapan ya, Vin.." dia kemudian tertidur lagi. Tapi, kemudian dia menyadari sesuatu. 'Vin nggak mungkin ngomong pake aksen italia! Dan juga, Desmond juga nggak disini jadi nggak mungkin Aksen italia kakek Ezio yang agak ngerayu diucapkan orang lain. Hanya, ada satu kemungkinan!' Desmand membuka matanya dan..
"Buongiorno! Dezmund!" sapa seorang bertudung putih dengan muka ditutup dengan tudungnya menyapanya dengan bahasa Italia.
"Pa.. Paman Auditore! Bagaimana bisa!?" pekik Desmand kaget melihat pamannya yang dari Italia datang tapi ada yang aneh. "Dari mana kau masuk!?"
"Tuh, dari Jendela, Passero!" Tunjuk Auditote Watados.
"Hah!? Bisa nggak yang normalan dikit, kayak dari pintu depan misalnya, ntar Paman bisa dikira Maling sama orang lain!" Keluh Desmand.
"non divertente, jadi tidak seperti Assassin saja masuk dari pintu!" balas Auditore.
'Dasar Aneh!' batin Desmand sweatdrop.
"Oh, darimana kau tau aku disini?" tanya Desmand penasaran.
"Gampang saja, Altera datang, berarti aku datang juga!" jawab Pamannya dan berbaring di sebelahnya.
"Hei, bukan berarti kau masuk lewat jendela langsung seenaknya tidur ya! Dan juga, bagaimana kau tau aku disini!?"
"Altera dan la vista dell'aquila " jawab Auditore. "Sudah ah! Mau tidur dulu! buona notte!"
"Nuuh! Kita harus bertemu ketua dulu atau aku akan menendangmu lewat jendela!" keluh Desmand dan bangun dari kasurnya.
"non è un ottimo modo per trattare lo zio." ucap Auditore dengan pipi dikembungkan.
"Nggak peduli dan nggak mau peduli!" balas Desmand
Kemudian..
"Reha.. Ada siapa ini?" tanya Desmand.
"Adiknya Alucard datang. Namanya Mira." ucap Reha.
"Hai, aku Mira, senang berkenalan denganmu." sapa Mira.
"Aku Desmand Miles dan ini Pamanku dari Italia. Namanya-"
"Auditore de Firenze, giovani!" potong Auditore dan mencium punggung tangan Mira.
"Ish, udah kek nggak usah pake acara ngerayu segala!" keluh Desmand dan mendorong pamannya. "Ngomong-ngomong, mana Senjata-mu, biasanya kau membawanya?"
Auditore menunjukan sebuah keranjang yang dia bawa dan ternyata isinya...
"Ada disini, Passero!" jawab Auditore sambil menunjukan isi keranjangnya.
Reha langsung kicep melihat itu dan teringat sebuah kertas summon yang dia dapatkan kemarin.
"Umm.. Des, gue bisa.. Etto, kayaknya dia ini anggota baru deh.. Soalnya kemarin, gue dapet RH permanen dari Soul Hero.." ucap Reha sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya.
Kita Zoom keluar dulu...
1.. 2.. 3..
"APAAAAAAAAAAAAA!!!!?" sebuah teriakan yang dapat menyebabkan Giro pingsan, Tsuchi sama Kopen cenge-ngesan, Tanah berguncang, Air bergetar, bahkan Emy dan Iris langsung pundung karena kerjaan mereka kecoret garis lurus besar.
Alucard Depresion
"Hah? Apa yang terjadi disini?" kata Mira ketika melihat kamar Alucard yang disegel sampai beberapa meter jaraknya dari pintu depan kamarnya. Bahkan, udah ditembokin dan juga ditempelin kertas segel segala pula.
"Emm.. Kau ingat tanggal 25 September merupakan hari apa.." ucap Sarah.
"Oh iya, sekarang Ultahnya Cullen.. Pantas saja. Pasti, kak Al sedang berkabung sekarang. Tapi, kenapa bisa separah ini?" tanya Mira.
"Soal itu.. Shocka baru saja membuatnya patah hati kemarin. Jadinya, dia double heartstabber deh." jawab Sarah miris.
"Shocka? Siapa itu?" tanya Mira.
"Orang yang disukai sama Kak Alu, dia baru saja bilang membencinya makannya dia seperti itu. Soal aura, itu udah dari semalam, tapi areanya lebih sempit."
"Sepertinya, kak Al sangat menderita karena hal itu..." ucap Mira prihatin.
Pintu dibuka dan keluar Alucard dengan tampang super kacau dengan aura suram yang langsung menyebar kemana-mana. Mira dan Sarah memberanikan diri untuk mendekati Alucard, biarpun mereka takut sih.
"Oh, hai Mira, lama tak berjumpa, a.. Aku mau ke makam dulu ya.." ucap Alucard dengan nada memprihatinkan.
"I.. Iya, dadah kak.." ucap Mereka berdua dan melihat Alucard turun.
Mau tau apa yang terjadi dengan para anak-anak yang nggak sengaja lewatin Alucard.
"Sal, Ren! Kenapa pingsan!" seru Eris panik ketika melihat mata Salem dan Rendy langsung memutih ketika berada disekitar Alucard.
"Alucard ke.. Kenapa?" tanya Rina merinding karena nggak sengaja lewat sebelah Alucard.
"... Apa dia depresi karena gue ya.." ujar Thundy yang tidak tega melihat Alucard murung berjalan keluar markas.
"Mungkin, setidaknya lu minta maaf dulu, Thun.. Masa Emy doang, dia juga suka sama lu, jadi setidaknya hibur dia sedikit." Saran Revan yang sedang mengusap kepala Nigou dipangkuannya.
"Ya, lu bener juga.. Setidaknya gue minta maaf sedikit mungkin ok-ok aja. Yaudah gue ngikutin dia dulu deh." ucap Thundy dan beranjak pergi.
"Dah, berjuanglah.." ucap Revan pelan dan menggendong Nigou untuk kembali ke kamarnya. "Ungh, berat! Dasar bayi gede!" Tapi, keberatan.
Thundy mengikuti kemana perginya Alucard. Dan ternyata dia ke kota untuk membeli sebunket bunga di sebuah toko bunga. Kemudian, dia langsung pergi ke pemakaman.
'Untuk apa dia ke pemakaman?' batin Thundy ketika sampai di depan gerbang pemakaman.
Alucard terus berjalan agak jauh dari gerbang pemakaman diikuti Thundy dibelakangnya tapi, dia tidak menyadarinya sama sekali. Akhirnya, disebuah bukit kecil yang sudah jauh dari area pemakaman umum, terdapat sebuah makam yang terdapat dibawah pohon yang besar. Thundy memutari bukit itu dan sampai dibelakang bukit dan bersembunyi di belakang pohon besar.
"Hei, selamat ulang tahun, Cullen.."
'Cullen? siapa dia?' gumam Thundy.
"Ya, kakak tau.. Kau ba.. Baha.. Bahagia.. Me.. Melihat kakak datang.." suara Alucard sepertinya mulai terdengar sesegukan.
'Alu, menangis?' ujar Thundy kaget, baru kali ini dia melihat Alucard menangis.
"Ti.. Tidak, kaka.. Kakak ti.. Tidak se.. Sedih kk.kkkok.." ucap Alucard. "Se.. Sedikit mu.. Mungkin.."
"Ka.. Kakak melakulan hal yang salah! Kakak Bodoh dan membuatnya kecewa! Harusnya Kakak tidak pernah melakukan itu! Kakak Menyesal! Huaa.."
'Masalah waktu itu..' Thundy mengintip sedikit dan melihat Alucard sedang meringuk sambil mencakar-cakar tanah, sesekali dia mengacak-acak rambutnya. 'Se.. Se-depresi itukah Alucard?'
"Dia Membenci Kakak Sekarang! Aah, hah... Tidak mungkin dia akan memaafkan kakak semudah itu..."
Alucard berbicara 'sendiri' selama setengah jam, Sampai akhirnya..
"Yah, mungkin.. Segitu dulu. Kakak mau pulang.."
"Kakak juga akan merindukan mu, Cullen." bisik Alucard dan pergi. Thundy keluar dari persembunyiannya ketika Alucard sudah jauh. Ketika dia melihat batu nisan itu, dia berjongkok dan mengelus batu tersebut.
"A.. Aku mau minta maaf, aku telah menyakiti kakakmu. Sebenarnya, aku tak bermaksud melakukan itu tapi..."
"Tapi apa?" tanya Seorang pria berambut ungu dibelakang Thundy.
"Uaah!"
"Tapi kenapa? Kenapa kau membuat kak Alucard menangis.." ucap Pria itu yang ternyata adalah Hantu dari Cullen. "Kak Alucard itu sangat depresi, kehilangan kedua orang tua kami, kehilangan diriku, Trauma Masa lalu, sekarang kau mencoba membuatnya menangis karena pertengkaran dengan wanita-mu! Itu membuatku sedih juga karena melihat dirinya menderita!"
"To.. Tolong, aku tau, tapi.. aku juga mau minta maaf ke kakakmu." balas Thundy.
"Lakukan sendiri! aku tak peduli soal itu! Aku tak suka dengan orang yang membuat kak Alucard makin menderita! Diriku saja sudah cukup!" seru Cullen.
Thundy terdiam, kemudian dia mencoba untuk pergi. "Waktumu sampai natal tiba, karena itu hari kematianku.. Kalau aku mendengar kak Alucard masih sedih tentang dirimu. Aku akan menghantuimu dengan rasa bersalah! Titik!" ucap Cullen kemudian, dia menghilang.
'Kalau dia bicara seperti itu, pasti ini bukanlah hal yang mudah..'
Kemudian di markas..
Thundy menghampiri Alucard yang sedang duduk di bangku taman dengan wajah ditundukan dan termenung.
"Hei, A... Alu.. Boleh aku bicara denganmu?" tanya Thundy.
"Oh, apa itu Tuan Shocka?" tanya Alucard dengan senyuman miris di wajahnya.
"Aku.. Mau minta maaf soal yang waktu itu..." ucap Thundy gugup.
"..." Alucard langsung berdiri dan pergi. Thundy mengikutinya dan menggenggam tangannya.
"Tu.. Tunggu dulu- Alu-" Alucard mendorongnya sampai terjatuh ke lantai dan menatapnya dengan wajah termenungnya.
"Maaf, tapi.. apapun itu.. Aku tak akan mengganggumu lagi.. Karena.. Kau membuat hatiku hancur.. Aku akan melupakan semuanya tentang dirimu, apa yang sudah aku lakukan untukmu dan juga.. Semua perasaanku terhadap dirimu.. Shocka.. Dan.. Selamat tinggal.. Bahagialah bersama nona Emy..."
"Tidak, tunggu dulu Al-" Thundy mencoba untuk bangun tapi.. Dia langsung jatuh berlutut ketika Alucard menciumm keningnya dan mengucapkan 'Selamat Tinggal'.
"Dia milikmu sekarang.." bisik Alucard ketika berpapasan dengan Emy.
Entah, Emy sebenarnya ingin merasa senang karena dia menang tapi, kenapa dia merasa jadi kurang.. Ketika dia melihat Thundy berlutut dan menangis terisak, dia merasa tidak tega.
"Thun-kun..."
"Emy.. Inikah penyesalan yang dibicarakan Adiknya Alucard?" tanya Thundy.
"Adik yang mana?" tanya Emy balik.
"A.. Aku mengikuti dia ke makam, dan bertemu adiknya yang sudah mati. Aku berjanji ke adiknya untuk membahagiakan Alucard. Dan diberi waktu sampai hari natal... Jika tidak, aku akan dihantui rasa menyesal. Tapi, sekarang aku malah membuatnya makin sedih dan penyesalannya langsung terasa di tubuhku."
"Dia punya Adik yang sudah mat-" Emy langsung teringat cerita Sarah ketika datang pada hari pertama menumpang.
Flashback
"Kalian ini berapa bersaudara?" tanya Emy.
"Kami ada Lima saudara, dan kak Alu yang tertua."
"Masih lengkap?"
"Kami.. Punya Adik yang sudah meninggal dan dia adalah kesayangan kak Alu... Cullen namanya. Dia amat disayang kak Alu lebih dari adik-adiknya yang lain karena Cullen sudah penyakitan sejak kecil."
"Oh~ Menarik."
Flashback end.
"Yah.. aku mengenalnya karena Sarah pernah menceritakan dirinya ke aku.." gumam Emy sambil mengusap kepala Thundy dipangkuannya. "Thun-kun... aku akan menolongmu dalam masalah ini.. Apapun itu halangannya."
"Sungguh?" tanya Thundy meminta kesungguhan jawaban Emy.
"Iya, apapun itu masalahnya.."
A big news from Yuki.
"Takano-kun, Ryuu-kun.. aku mau bicara dengan kalian dulu.." ucap Yuki setelah pulang dari rumah sakit diantar Rilen dan Grayson.
"Ada apa Yuki? Kau baik-baik saja kan?" tanya Takano khawatir.
"Dia baik-baik saja Takano.. Hanya saja.." Rilen menggantungkan jawabannya dan melirik ke Yuki.
"Apa? apa yang terjadi!?" tanya Ryuuga yang ikutan khawatir.
"Sabar.. Yu.. Yuki, mungkin kau bisa perlihatkan hasilnya.." pinta Grayson.
"I.. Ini..." Yuki menyerahkan sebuah amplop ke Takano dan Ryuuga. Mereka langsung terbalak melihat isi amplop tersebut. "It.. Itu, hasil testnya. Dan aku.."
"Yuki, Kau!?" Takano langsung memeluk Yuki, dan Ryuuga tak kuasa menahan air mata bahagianya.
Silahkan tebak, apa yang terjadi dengan Yuki!!
Auditore Dumb Section..
"Lex.. Apa yang kau lakukan?" tanya Desmand.
"Pinjam pundakmu! aku lelah!" balas Vincent dan tertidur di pundak Desmand. Desmand ingin mencium Vincent sesekali tapi, aksinya tertangkap basah pamannya yang nangkring di pohon.
"Ah, Baci la sua ragazza in pubblico, davvero carina." ucap Auditore yang sedang duduk di dahan pohon. "Dezmund, Dezmund"
"Paman Bodoh, sejak kapan kau ada disitu!?" pekik Desmand.
"Aku sudah disini daritadi, bahkan sebelum kau datang, Passero" jawab Auditore santai sebelum dia mendapat Ancaman dari Desmand yang melemparinya dengan banyak sekal pisau. "Che cosa è il mio guasto!?"
"Karena lu udah membuat gue malu! Paman bodooooh!!" teriak Desmand yang masih melempari pamannya dengan pisau.
Tapi, Hukuman juga berlaku untuk Desmand dari Vincent berupa..
"Berisik tau nggak!?" omelnya setelah mengikat pergelangan tangan Desma-
(NOOOOOOOOOOOOOOOOO!! It'll make this fic M rate!!)
'Pikirkan sendiri ea! Karena Vin itu Seorang sadistik'
More Father Clonning?
"U.. Unnh.. U.." Nigou makin bingung pasalnya dia tak sengaja terpisah dari Revan, Red, dan Rone di mall. Matanya mulai berair karena panik sendirian. Tak sengaja dia melihat punggung seseorang yang dia amat kenal, dia langsung menghampiri orang itu.
"AYAAAAH!!" Seru Nigou dan memeluk pria itu.
"Maaf nak, aku bukan ayahmu.." ucap pria itu setelah melihat Nigou memeluknya. Nigou makin panik, dan air mata mulai mengalir dari kedua matanya. Si pria yang dia temui juga panik karena melihat Nigou mulai menangis.
"H.. He.. Hei.. Sht, sht, shht, Shht.. Bagaiman jika kita ke pusat informasi sekarang." ajak pria itu dan Nigou menangguk. Pria itu menggenggaam tangan Nigou dan membawanya ke pusat informasi.
"Jadi, siapa namamu nak?" tanya Pria itu.
"Nigou.."
"Hmm.. Jadi Nigou, kau terpisah dari ayahmu?"
"Iya, dan paman sangatlah mirip dengan ayah.."
Sampai di pusat informasi ternyata sudah ada Red, Rone, dan Revan yang menunggunya. "Ayah! Papa!"
"Nigou?"
"Ayah! Pap-"
Duagh!
"U.. U.. Huu.. Sakit.."sebuah jitakan keras dari Red ke kepala Nigou.
"Huff.. Makanya jangan asal pergi, mengerti!?" omel Rone dengan pose melipat tangannya.
"Hiks, iya..."
"Sudah, sudah.. Jangan menangis lagi, lain kali jangan diulangi lagi ya. Mau jajan apa? Ayah beliin yuk." ajak Red tapi, dia menyadari sesuatu. "Emm.. Kau.."
"... Kenapa ada dua diriku ya?" gumam Si pria yang mengantarkan Nigou ke Red dan Rone.
Revan hanya bergumam dan serasa nggak peduli dengan kejadian itu. "Dan Terjadi lagi.. Doppleganger Red.."
Setelah keheningan beberapa saat..
"Kau ikut ke markas kami sekarang.." ucap Red dan Rone bersamaan.
"Eh?"
Bonus :
"Hei, sebelumnya kenapa kau kesini? Biasanya kalau sudah bersama Paman Altera kau bakalan betah." tanya Desmand dengan pose berpikir.
"Emm..."
Flashback
'Aah~ Sampai juga!' pikir Auditore ketika berada didepan apartement Altera tinggal.
"Altera! Yuhu! Aku Datang un-" Auditore langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Dan dia langsung mendapatkan pemandangan yang absurd karena..
"Audito.. Re.. Eh!? Ja.. Jangan Salah sangka!!"
Altera yang sedang ditiban di lantai sama Mark, sementara Mark hanya santai-santai aja ngomong 'hai' ke Auditore.
Flashback end
"Ada alasan khusus yang aku enggan beritau, Passero " ujar Auditore sweatdrop.
"Hee..."
Udah Segitu dulu ea!Chara Notes :Mira Valiento (Vampire 'Idol') : Adik Perempuan Alucard setelah Sarah, seorang pecinta alam dan suka travelling kemana saja. Kebetulan mengetahui keberadaan kakaknya makanya dia mengunjungi markas tempat kakaknya tinggal.
Auditore De Firenze (Red Hood) : Paman Desmand dari Italia, memakai nama kakek buyutnya, bicara kadang pake bahasa itali, aksen bicaranya kedengaran agak merayu orang, punya kebiasaan buruk masuk rumah orang dari jendela atau nggak masuk seenak pantatnya tanpa ketok pintu terlebih dahulu.
Akarui Horima (Vagabond) : Dopplegangernya Red... (baru itu dulu :v)
Entahlah, kenapa gue malah masukin Auditore ke Red Hood. Padahal maunya yang lain, tapi mau gimana lagi, hero Red hood dapet dari Hero Soul ya gimana lagi nganggur nanti.
