Balas Revievv :

Girl-chan 2 :

Kok U dapet paket gaya sih! Gue nggak! *pundung. Rela keluarin 10rb hanya buat style doang nih padahal mau beli gear rare ticket.

Red : Ceh, 10k doang!

Mira : Oh, jadi dia memang seperti itu.. Si.. Sverige, ku kira ada masalah apa dia menatapku setajam itu. -w-"

Revan : Nggak! Dan Nggak Mau jadi Harem! 2 Sua- eh.. 2 orang idiot itu aja udah ribet apalagi 3! *lempar granat lagi.

Rosy Miranto18 :

Mira : Yah, Seperti kata Mathy. Dia memang seperti itu katanya. Dan kami ini sebenarnya dari UK, bukan Skandavian.

Sarah : Bukan, Edward Cullen, kalau seperti itu nanti jadi Twilight dong -w-"

Me : Yah, lumayan .w.

Yuki : Aku ini setengah manusia, setengah kitsune. Aku ini awalnya memang perempuan sih, hal itu juga susah dijelaskan secara logistik -.-"

Thx!

Chapter 40 : Hunting Battle.

"Jadi, Senor Desmand? Kau membawa siapa saja?" tanya Felipe penasaran ketika mereka sampai di Raton Canyon.

"Hmm..." Tiba-tiba asap mengepul dan 'nggak ada yang pose power ranger ea!' muncul lima orang entah darimana datangnya.

"Yak, kami telah muncul.." ucap Mark dengan menghantkan kedua tangannya bersamaan.

"Kalian, Marksman dan Woman akan melawan para Assassin Handal dan juga seorang sniper." kata Altera dengan senyuman sinis di wajahnya. "Jangan kecewakan kami ya.."

"Jadi, kita akan berburu singa gunung.. Hmph, menarik juga, biarpun aku lebih memilih untuk berburu Molded agar lebih menegangkan." ujar Alex sambil menyiapkan anti-material Snipernya.

"Aku hanya ikutan saja kok..." jawab Vincent datar.

"Aah, Hari yang baik untuk berburu di alam bebas." ucap Auditore yang malah membawa keranjang piknik.

"Emm.. Kita mau berburu bukan mau piknik disini..." ujar Yingqi yang sweatdrop melihat Auditore bawa keranjang piknik. Tiba-tiba, Desmand membisikan sesuatu ke telinganya.

'Jangan Remehkan dia, dia bisa membunuh apapun biarpun hanya bersenjatakan dengan pisau mentega plastik.' bisik Desmand.

"Jangan salah Nona, aku bisa membunuh seekor beruang walaupun hanya bersenjatakan sebuah pisau plastik ataupun pisau mainan." balas Auditore tak mau kalah soal dirinya sendiri.

"B.. Baiklah."

"Jadi, semuanya sudah disini? Ayo kita mulai sekarang.." ajak Kenji tapi, ditahan oleh Desmand.

"Hei, kami akan berpencar ok, kalian boleh menyatu untuk menarik perhatian." ucapnya sebelum memberi aba-aba.

"Baiklah, kami pergi dulu!" Seketika itu pula mereka berpencar dengan cepat tanpa jejak sama sekali, hanya meninggalkan Alex yang berdiri sendirian.

"Aku akan ikut kalian, mungkin aku akan cover dari belakang." jawab Alex santai. "Oh, dan sebelumnya pakai ini dulu."

Aoi, Yingqi, Amaya, Kenji, dan Filipe menerima benda yang diberikan Alex yang merupakan sebuah alat komunikasi jarak jauh. "Dengan itu kita semua dapat berkomunikasi jarak jauh." Alex menyalakan miliknya dan mengetes alat tersebut.

"Test, tes! Kalian dapat mendengarku?" tanya Alex dan Alat miliki Yingqi, Kenji, Aoi, Amaya, dan Filipe berbunyi.

"Ya, sepertinya ini bekerja dengan baik." jawab Aoi.

"Baiklah, dengan benda ini kita dapat berkomunikasi dengan mudah, jika harus berpencar. Maka dari itu, aku akan berjaga dibelakang kalian.. 450 m dari posisi kalian sekarang." ucap Alex.

"Eh!? Bukannya itu terlalu jauh??" tanya Amaya yang kaget dengan keputusan Alex.

"Tidak juga, bahkan yang kalian lihat ini sekarang hanyalah hologram diriku. Jaa, Nee.." seketika itu pula Alex menghilang dan terlihat hanya sebuah bola berwarna hijau di tanah.

"Benda apa ini?" gumam Filipe ketika mengambil bola hijau itu dari tanah.

"Entahlah, tapi apapun itu.. Ayo pergi!"

Beberapa Jam kemudian..

"Kita sudah berkeliling beberapa kali dan hanya menemukan tiga ekor saja.." keluh Filipe.

"Aku penasaran.. Berapa banyak yang mereka temukan ya?" gumam Amaya.

Tiba-tiba, Aoi berhenti karena mencium sesuatu, "teman-teman, tunggu.. Kalian mencium sesuatu?" Mereka berhenti dan benar saja mereka mencium sesuatu.

"Seperti bau teh.. Tapi, Siapa juga yang mau nyeduh teh didalam hutan!?" ucap Kenji bingung. Mereka mengikuti asal bau tersebut sampai di sebuah persimpangan mereka malah menemukan.

"Oh, kalian, Kalian mau beristirahat, minum teh, dan makan kue?" tanya Auditore yang sedang menyeduh teh dengan sebuah kompor portabel yang dia bawa.

Semuanya langsung sweatdrop berjamaah melihat ke Absurd-tan itu.

'Berburu Cougar memang berbahaya, tapi.. Kau menyeduh teh disaat berburu Cougar di tengah wilayahnya itu lebih dari berbahaya bahkan aneh. -Filipe-' (QOTD :v)

"Ayo kemari dan nikmati suasana alam yang masih damai ini dan juga beristirahat sejenak." Ajak Auditore dengan santainya.

"Em.. Baiklah.."

Mereka kemudian beristirahat sambil meminum teh dan makan kue. Auditore menceritakan cerita-cerita menarik soal Assassin dan keluarga-keluarganya. Tapi, kemudian dia melempar sebuah pisau plastik kearah semak-semak secara cepat.

"Untuk apa pisau itu dilempar, Senor Auditore?" tanya Filipe.

"Tak apa, hanya memastikan tak ada yang mengintai kita." jawab Auditore santai.

"Nee, Nee, Ceritakan lagi soal Assassin! Sepertinya menarik menjadi itu!" ucap Yingqi yang tertarik soal Assassin.

"Sabar, Amore, baiklah jadi begini.." Auditore menceritakan beberapa hal lainnya selama 15 menit.

"Jadi, begitulah.."

"Ooh~ menarik, tapi, saatnya kita berburu lagi. Terima kasih untuk teh dan kuenya!" kata Mereka berlima ke Auditore dan Pergi.

"Si!" Ketika mereka semua sudah jauh, dia langsung menuju semak-semak tempat dia melempar pisaunya.

"Hmm.. Tepat sekali mengenai titik vital." ujar Auditore ketika melihat seekor Puma yang tertusuk di dadanya dengan pisau plastik yang dia lempar.

Beberapa menit kemudian..

"Yeay! Ini yang kelima dan aku yang mendapatkannya!" seru Amaya setelah memanah seekor puma yang berada didekat mereka.

"Ahahaha! Hentikan, itu geli!" ucap seseorang tak jauh dari mereka.

Mereka mendatangi sumber suara itu dan melihat pemandangan yang tidak biasa lagi. Seorang pria berambut putih, dengan tangan kehitaman, jaket hitam, sedang bermain dengan seekor Cougar besar.

"Bagaimana bisa dia menjinakan seekor Cougar dengan mudah!?" ujar Filipe yang tak percaya apa yang dia lihat.

"Oh, hai kalian.." dia mengangkat cougar itu seperti kucing biasa dan mengelus kepalanya. "Bagaimana perburuan kalian?"

"Ba.. Bagus.. Kami berhasil dapat lima.. Ja.. Jadi Mer-"

"Panggil aku Mark saja ok.." potong Mark.

"Jadi, Mark, berapa banyak yang ka-"

"Tidak ada, aku dari tadi hanya mencari dan menemukan dirinya mengikutiku dan aku berhasil menjinakannya." jawab Mark santai dan mengelus punggung kucing besar itu.

"Be.. Benarkah? Bagaimana bisa ka-"

"Dia ini hanya kucing biasa dimataku, tidak kurang tidak lebih.." potong Mark lagi, kemudin dia kembali bergumal dengan kucing besar itu.

"Lebih baik, kita tinggalkan saja dia.." bisik Kenji.

"Aku tetap bisa mendengar ucapanmu, jika kau pergi silahkan pergi aku masih mau bermain dengan dirinya." kata Mark. "Ayo, Tag, kita lanjutkan bermainnya."

"Tag?"

"Itu namanya.."

"Heee..."

Mereka melanjutkan perjalanan sampai ke sebuah danau kecil. Tapi, disitu ada pemandangan yang absurd, dimana seorang yang mengenakan baju (gaun?) putih sedang bertengger disebuah balok kayu yang mengambang di daerah tepi danau.

"Halo.. Em.. Boleh minta tolong sebentar?" pinta Pria itu.

"apa itu?"

"K.. Ah.. Tolong tarik balok ini ke pinggir! A.. Aku tak bisa berenang sama sekali!"

'D.. Dia.. Dia Hydrophobic, aku ingatkan itu dia Hydrophobic!" suara dari Auditore terdengar dari earphone mereka semua.

"Eh? Hydrophobic? Maksudnya takut air?" tanya Amaya.

"Berisik! Jangan beri tau mereka semua kalau aku itu takut dengan air dengan kapasitas besar!" balas Pria itu dengan berteriak sampai membuat semuanya pengeng seketika.

"Hee.. perdonami, Altera.." balas Auditore.

"la yahmini!!"

"Sepertinya, Paman mulai mengomel dengan bahasa Arab lagi." suara Desmand kali ini terdengar.

"Paman-mu bisa bahasa arab?" tanya Kenji.

"Ya, karena dia memang jadi daerah timur-tengah. Tapi, lebih tepatnya lagi dia dari Ira- Hnmh!"

"Senor Desmand ada apa?" tanya Filipe. kemudian, sambungan komunikasi dari area Desmand terputus dari earphone mereka.

"Aku rasa ada sesuatu yang tidak beres bagaima-"

"Heii! Kalian! Tolong! Ada yang tidak bisa berenang disini!" seru Altera yang sudah mulai nggak sabaran karena terlalu dekat dengan tengah danau.

"Ah, iya.. Maaf, maaf!"

Satu penyelamatan Assassin yang nggak bisa berenang kemudian...

"Terima kasih sudah menolong-ku." kata Altera dan dia beregas pergi lagi.

"Tu.. Tunggu, berapa banyak yang sudah kau dapat?" tanya Aoi.

"Dua.. Baru dua.." Jawab Altera datar sebelum melesat diudara dan menghilang di pepohonan.

"Dia.. Cepat sekali gerakannya.." gumam Kenji kagum melihat gerakan Altera yang langsung menghilang. "Seperti Misdirection saja.."

"Gerakannya memang cepat kalau di udara, tapi jika sudah terkena dengan air.. Maka dia akan langsung melambat, bahkan berhenti." sambung Mark yang sudah ada dibelakang mereka bersama Tag.

"Uaaah! Kapan kau kesini!?" tanya Amaya yang kaget.

"Baru saja.." kemudian, dia duduk di tanah. "Altera memang sangatlah cepat dan lincah, tapi.. Disiram air atau ditaruh di tengah danau juga langsung keok."

"Jadi.. Dia beneran Hydrophobia?" tanya Yingqi.

"Yap dan Yap, Dia memang Hydrophobia karena pernah hampir tenggelam. Dia ketakutan dengan air dengan volume besar, tapi mungkin ini agak parah tapi, setiap hujan dia akan sembunyi di kolong meja dan enggan keluar rumah setelah hujan karena banyak genangan air."

"Kalau Minum?" timpal Aoi.

"Minum masih bisa sendiri, mandi harus ditemenin diluar ruangan atau dia akan mandi kilat."

Semua mangut-mangut setelah dijelaskan beberapa hal soal Altera. Mereka mau melanjutkan perburuan lagi tapi, Mark memberi satu peringatan soal Altera.

"Jangan pernah membuatnya kaget ataupun merasa terancam sesekalipun!"

"Kenapa?"

"Setiap sudut pakaiannya terdapat senjata tersembunyi yang dia sangat bisa gunakan untuk membunuh kalian dalam satu gerakan, kalaupun kalian menghindar.. Dia sangatlah lincah, ingat itu!" peringat Mark.

"Baiklah.."

"Jangan dicoba ya, atau kalian akan berakhir seperti aku..." Mark menunjukan sebuah luka bacokan di pinggangnya. "2 cm lagi kena ginjal."

Glek!

"Ba.. Baiklah, ayo semuanya, ki.. Kita berangkat!" ajak Filipe yang agak khawatir jika bertemu dengan Altera.

"Te.. Test! Kedengaran?" sekarang suara Alex yang terdengar.

"Ya, ada apa Senor Alex?" tanya Filipe.

"A.. Aku perlu kembali ke markas.. Ada urusan karena orang tua tunangan-ku mau datang untuk pembicaraan soal hari H pernikahan-ku.." ucap Alex. "Maaf, aku harus pergi sekarang.."

"Baiklah jika itu mau-mu.."

"Kita Harus mengehentikan perburuan ini!" teriak Vincent dari earphonenya.

"Hah? Ada apa?" tanya Amaya

"Aku Tak Bisa menghubungi Desmand sama sekali!"

"Hah?? Dia tidak bersama dirimu!?" tanya Auditore panik.

"Tidak! Kami berpencar dari awal! aku saja baru menyalakan earphone-ku, jika kalian tak percaya, temui aku di Tempat awal kita beremu sekarang!!"

Beberapa saat kemudian..

"Lihat! Baterai milikku masih sisa 89 persen! aku tidak berbohong sama sekali!" Protes Vincent.

"Ya sudah! Sekarang masalahnya satu, apa yang terjadi dengan keponakan kami!?" timpal Auditore dan altera bersamaan.

"Mungkin, dia diculik.. Tapi, tak mungkin itu terjadi di tengah hutan!" timpal Amaya.

"Kalau dari statenya, tadi dia terpotong saat baru mau ngomong Iran atau irak barusan.." sambung Aoi dengan pose berpikir.

"Bzzt.. Si.. D.. Sia.. Sp.. Siapa saj.. T.. T.. Tol.. Tolong.. Kku!" Earphone mereka mendapat sebuah sinyal masuk entah dari mana, tetapi suaranya seperti suara Desmand.

"Des! Itukah kau!?"

"A.. Pa.. Ku.. De... Ma.. T.. Tolo.. Tak.. Abstr.. To!" sambungan terputus kembali.

"Des! Des! Sial!"

"Dia diculik! Maaf, mungkin kita lanjutkan perburuan ini lain waktu, ki punya tugas penting sekarang!" perintah Mark. "Ayo! Kita cari dia! Berpencar!"

Merekapun pergi dengan cepat bahkan tak sempat terekam dengan mata para lima orang yang mengajak berburu.

"Sepertinya.. Kita harus kembali sekarang.. " gumam Kenji dan semuanya mengangguk setuju dan pergi dari tempat itu segera.

Bonus :

"DESTRA! KAMI MOHON JANGAN LAKUKAN ITU!!"

"TIDAK DESTRA JANGAN LAKUKAN ITU!!"

"DESTRA JANGAN LOMPAT!! NANTI SIAPA YANG BAKALAN JAGAIN REO!!"

"DES!! AKU MOHON JANGAN!!"

"AKU MEMANG TIDAK DIBUTUHKAN SAMA SEKALI!!" teriak Destra yang sedang berada dipinggir jurang dekat laut.

Penyebabnya..

"Hero Unique ke-enam jatuh kepada... REO MIDORIJIMA!!" Seru Harada. "SELAMAT KARENA HERO AZAZEL TELAH DI PUBLISH OLEH DEVELOVER!!"

"Eh? Serius?" tanya Reo nggak percaya dengan hal itu. Tapi, tiba-tiba dia mendapat sebuah tombak berwarna hitam kehijauan.

"Ini senjata-mu nak, tombak kegelapan ini, dan juga, kau bisa mengendalikan apimu dengan sesuka hati-mu tapi, jangan berlebihan ya." ucap Kazuma.

"Terima kasih.. A.. Ngh!!" Setelah Reo mengambil Tombak itu dia merasakan kekuatan yang amat besar mengalir ke tubuhnya, ciri-ciri tubuhnya juga mulai berubah sekarang. "Ah... Kekuatan yang sangat besar mengalir ke tubuh ku.."

(Ciri-ciri yang berubah : Mata Jadi berwarna kuning irisnya, rambut agak pendek berwarna hitam tapi masih terlihat kehijauan, tinggi bertambah 5 cm jadi 187cm, badan lebih tegap, massa otot bertambah.)

"Untung Destra belom denger soal ini." gumam Walrus.

"Iya, kalau dia denger bisa-bisa dia depresi ber-"

KOMPRYANG!

"Rat..." semuanya langsung melihat kearah Destra yang berlutut dengan tatapan depresinya. Dan juga, dia sepertinya tak sadar kalau lututnya terluka akibat serpihan gelas.

"A.. Ahaha.. Aku diskip lagi ya... Haha.."

"D.. De.. Des..." Reo mencoba mendekati Destra yang depresi.

"JANGAN SENTUH AKU REO!!" Destra menepis tangan Reo dan segera berlari keluar entah kemana arahnya.

"DES! TUNGGU!"

Flashback end

"DESTRAAAAA!!" Reo segera mengejar Destra yang mencoba melompat dari jurang tepi laut terjal. Dia menangkap tangan Destra sebelum Destra terjun bebas.

"Lepaskan aku Reo..." bisik Destra.

"Tidak! Tidak mau! Aku.. Jangan tinggalkan aku sendirian!" balas Reo yang mulai terisak. Dibelakangnya para Unique lainnya mulai mencoba menolong mereka berdua untuk naik kembali.

"Re.. Reo.."

"Aku tak mau sendiri! Kita sudah berjanji untuk saling menunggu! Jika, salah satu dari kita mendapatkan senjata, maka akan saling melindungi.."

Mereka mulau ditarik keatas, dan Reo langsung memeluk Destra yang terduduk.

"Des.. Jangan tinggalkan aku.. Aku masih mau bersama-mu. Tolong jangan lakukan itu..."

Destra mengecup keningnya dan tersenyum ke Reo, "terima kasih ya.. Mungkin, aku melakukan hal yang bodoh sampai-sampai hampir meninggalkan dirimu." ucapnya.

"Awww~" semuanya yang memfilmkan kejadian langsung terpana dan tepuk tangan.

"Ayo, kita pulang.. Reo."

"Iya.. Ayo!"

More bonus : Answer from Cullen.

Seorang gadis berkacamata mengunjungi makam Cullen seminggu sebelum natal sesuai dengan petunjuk dari seseorang. Culen kemudian muncul ketika gadis itu berada didekat makamnya. Tapi, dia tau siapa dia, dan apa tujuannya kemari.

"Tolong! Jangan benci Thun-kun, aku mohon jika kau ingin melampiaskannya ke diriku saja!" pinta Gadis itu dan membungkuk didepan Cullen.

Cullen hanya tersenyum, kemudian dia mengajak gadis itu ke sebuah tempat dimana di tempat itu terdapat sebuah meja taman dan perlengkapan teh.

"Duduklah, aku sudah tau tujuan-mu kesini sebelumnya." kata Cullen kemudian dia menuangkan teh ke gelas Gadis itu.

"Terima kasih.. Cullen."

"Ya, sama-sama.. aku tau, kau mau minta maaf soal kejadian yang menimpa kekasih-mu. Dan... aku tak keberatan untuk mendengarkan kisah masa lalu kekasihmu itu." lanjut Cullen dan memperhatikan Gadia itu.

"Jadi, begini.." Gadis itu menceritakan semuanya soal kekasihnya mulai dari masa lalunya, sampai kejadian terburuk yang menimpa kekasihnya itu. "Ak.. Aku mohon tolong jan-"

"Aku tau.. Lagi pula, aku hanya ingin mengetesnya, se-setia apakah dia terhadap pendampingnya.." Cullen meminum tehnya. "Dan juga, dia sangat bersungguh-sungguh soal itu, karena dia punya perasaan ke kakak-ku."

"Ya, aku tau.. Mungkin, kalau a.. Kami tidak terlalu sering macam-macam tak akan terjadi seperti ini.." sesal gadis itu.

"Sebenarnya kalian tidak terlalu salah, namun.. Cara penyampaian rasa sayang kalian itu sama. Menyebabkan kalian saling memberontak satu-sama lain."

"Tapi, kenapa Alucard selalu menyukai kekasih-ku?" tanya Gadia itu.

"Kak Alucard, dia hanya menyukai seseorang dengan rambut biru dengan mata biru. Menurutnya, itu sesuatu yang menarik perhatiannya secara lebih. Terutama Shocka, dia amat berarti karena dia mirip dengan..." Cullen langsung diam dan termenung.

"Siapa?"

"Shocka mirip dengan Kekasih pertama Kak Alucard... Yang juga berambut panjang biru dan bermata biru." ucap Cullen pelan.

"A.. Alucard punya kekasih sebelumnya?" tanya Gadis itu penasaran dengan mata kagetnya.

"Ya, namanya Raeno Bluestar... Seorang Skadi.. Dia sangatlah mencintai kak alucard dari hatinya. Dan dia juga sangat mirip dengan Shocka. Kecuali sikapnya, Raeno sifatnya tidak pernah menyalak, menyiksa, mengomel jika dia langsung merasa terganggu tetapi diam." jawab Cullen. "Bahkan, ketika kak Alu mengunjungi-ku setelah bertemu pertama kali melihat shocka dia.. amatlah bahagia, karena dia seperti melihat Raeno hidup kembali.."

"Jadi.. Raeno sudah mati?"

"Iya.. Raeno mati ditangan kak alucard ketika sedang diobati. dia mati akibat kehilangan banyak darah akibat pendarahan hebat di kepala dan organ dalamnya akibat perang." lanjut Cullen. "Dia mati 2 tahun sebelum aku mati, berarti saat aku berumur 13 tahun."

Gadis itu mulai menunjukan rasa prihatinnya ke Alucard dan pernderitaannya yang dia alami. Dia menatap ke gelas tehnya, "A.. Aku turut menyesal soal itu.."

Cullen Tersenyum ke gadis itu, "Tak apa.. Yang penting, kak Alucard sudah lebih baik sekarang karena bertemu seseorang yang sama seperti, Raeno dan Shocka."

"Benarkah? Tapi, kami belum pernah melihatnya sama sekali." kata Gadis itu bingung.

"Dia sudah menemukannya." Cullen memunculkan sebuah bayangan kakaknya di sebuah layar. Terlihat Alucard sedang bersama seorang pria lainnya yang bertampang sama seperti Reano maupun Thundy, berambut biru dan bermata biru. Tapi, yang berbeda adalah topi yang dikenakan Pria itu dan juga Tongkat yang dia bawa. "Dia orangnya.. Orang itu menghibur kak Alucard saat dia depresi."

"Siapa namanya?" Tanya Gadis itu

"Haytman BlauWeis"

"Lightning mage lagi?"

"Ya, entah kenapa kak Alucard selalu tertarik dengan pria pengendali petir ataupun pengendali es." Cullen menggaruk kepala belakangnya dan tersenyum miris soal ketertarikan kakak sulungnya itu.

"Kakakmu kadang memang aneh ya.." ucap gadis itu sweatdrop, tak sengaja dia melihat Cullen tersenyum kembali ketika melihat wajah Alucard yang bahagia. "Ada apa?"

Cullen menoleh ke gadis di hadapannya. "Hati kakakku.. nengatakan.. Dia masih mempunya ruang kosong yang muat untuk seseorang yang dia cintai."

"Hmm.. Maksudnya?" tanya Gadis iu bingung.

"Kakak-ku.. Dia sepertinya masih menyimpan rasa suka dan sayangnya terhadap Shocka."

"Dia masih suka dengan Thun-kun? tapi, dia-"

"Tidak, sepertinya lubuk hatinya masih sangat tertanam dengan semua kenangannya bersama Shocka."

"Well, mungkin, kita bisa sudahan dulu.. Ada yang datang soalnya." sambungnya. Kemudian, mereka keluar dari tempat itu dan seseorang telah menunggunya.

"Kemana aja lu! Pada nyariin tuh! Panik semuanya, dari pagi sampe malem nggak pulang-pulang!" Omel Thundy. "Padahal gue suruh ke makam doang kok ampe ma-"

"Maaf, kami mengobrol sebentar di batas dimensi. Makanya dia pergi lama sekali." potong Cullen.

"Tapi, kita hanya mengobrol 8 menit!" ujar gadis itu bingung.

"Satu menit disana, sama saja dengan satu jam disini." balas Cullen miris.

"EEEH-"

"Shhtt! Jangan teriak di kuburan plekok!" Omel Thundy.

Tiba-tiba, ada dua orang datang dari belakang mereka. Mereka bertiga kaget ketika mengetahui bahwa yang datang itu adalah...

"Tuan Shocka.. Nona Emy.. C.. Cullen.."

"A.. Alucard..."

"Em.. Alu, mereka siapa ya?"

The end