balas revievv :

girl-chan2 : What The Heck!?

Rosy Miranto 18 :

Me : *keluar dari lubang persembunyian "Untung sempet bor tanah pake skill Drill.."

Red : *nyengir jahat, Seppuku Salem ya... Kehihihihi..

Eudo : Itu udah mobil yang keberapa? aku aja mobil baru satu doang dan belom pernah gonta-ganti. *sweatdrop

Desmand : Hei, Itu maksudnya Chat Room Nickname tau -w-"

Desmond : Mandom itu Desmand, Mondam itu aku. Bisa dilihat dari Mand dan Mondnya -w-"

Red, Rone, Aka : Kami memilih Re-chan sebagai orang terTsundere!

Alex : *Meganging perut sambil ngakak. "Hahahaha!!! Pir!!"

Piers : Bacot! *Nyetrum Alex.

Alex : *Gosong.

Me : Ehm.. jadi gini, nama dia itu Piers Nivans, dan nama official jepangnya dari Capcom itu ピアーズ ニヴァンス dibacanya Piaazu Nivansu bukan Pears Nivanse. Ya kan? Piers?

Piers : *ngangguk "Pria bernama Revan itu sungguh mirip dengan diriku yah, biarpun bedanya dia masih normal (sehat wal afiat 100 persen manusia) aku sudah terinfeksi (Enchanted C-Virus)"

Me : dan soal R-18 itu artinya... U Know.. Adult Content like Lemon :v

Piers : Ja... Lupakan soal R-18-nya ok..

Me : Iye, isinya kalo nggak u di 'aha-ihi' si Chris atau nggak u yang 'aha-ihi' si Chris :v

Piers : *blush very hard. "DI.. DIAM KAU!"

Me : Ok mas.. 'dasar Tsunderies' oh, soal kapak connor dia memakai sejenis Tomahawk namun, ini beda karena tidak berantai dan ujungnya berbentuk huruf A. dan dia juga ahli memanah.

Vincent : Aku rasa itu ide buruk karena Apapun yang dia rentas hanya dia yang bisa kembalikan atau jika kau bisa lebih ahli dari dirinya itu tak apa.. Masalahnya rentasan dia bisa mempengaruhi semua system Informasi, Teknologi, Alat disekitar kalian, bahkan kelistrikan sekalipun.

Thx!

Chapter 43 : Finding the Hacker.

sebelumnya..

Seisi markas tiba-tiba dipanikan dengan mati lampu saat siang hari. Namun, yang anehnya mereka menggunakan panel surya dan tak mungkin untuk mati lampu siang hari. Vincent mencurigai bahwa markas telah di rentas oleh seseorang karena dia tau tentang seluk-beluk sistemasi markas GCS. Sementara itu, dari jauh seseorang sedang mengetik dengan cepat dan sesekali mengecek HP milikinya.

Sekarang...

"Eh? Markas ke Hack? sama siapa?" tanya Mathias panik.

"iya, kayaknya markas ini kuat deh jaringan sistemnya, kok bisa?" timpal Ethan.

"Yang pastinya.. Dia adalah seseorang yang sangatlah ahli dalam perentasan dan mungkin saja dia pernah mengambil data sistem markas kalian tanpa ada yang tau." jawab Desmand sambil melipat tangannya.

"Namun, dari ciri-ciri orang yang merentas markas, dia berhasil melakukannya dengan sempurna.. Than, senjata lu nggak bisa nembak lasernya kan?" tanya Vincent.

"Iya, tiba-tiba senjata gue hilang kelistrikannya."

"Thias, HP-lu nggak ada sinyal walaupun kita berjarak beberapa ratus meter dari tiang pemancar sinyal."

"Ja, HP gue nggak ada sinyal sama sekali."

"Dan satu lagi bukti kalau dia sangatlah ahli.." Vincent melemparkan sebuah duri ke CCTV dia ujung tembok. "Tenang, ntar gue ganti..."

"Eh? maksudnya CCTV?" tanya Luthias.

"Kita semua, diawasi ketat dengan sang perentas itu jadi, aku menyarankan kalian harus merusak setiap CCTV di markas karena dia bisa melihat kita biarpun CCTV-nya dicopot sekalipun." pinta Vincent, semuanya mengangguk dan pergi keluar untuk mencari batu.

"sebagai langkah awal, kita cegah dia mengawasi kita terlebih dahulu." gumam Vincent. "Baru kita cari orang yang bisa melawan dia."

Sementara itu di tempat lain..

"Sialan kau Vincent!" Umpat sang perentas.

Kembali ke Markas...

"Kok bisa mati lampu ya.." ujar Kaze bingung.

"Thun-kun, gelap-gelapan it-"

TERGAPLOK

"Dih, najong dah lu!" sembur Elwa sehabis Gaplokin Emy yang kebetulan ada disebelah dia.

"udahlah, yang penting sekarang cari tau dulu penyebab mati lampunya." relai Eris untuk meredakan ketegangan.

"hei semuanya tadi gue nggak sengaja dengerin percakapan Adel sama Yubi. Adel bilang kalau markas abis di hack sama seseorang." kata Tumma yang sukses buat semua orang panik.

"Apa di hack!?" pekik Emy.

"Iya! Markas abis ke hack!"

"Kudu- Eh? Nggak ada sinyal HP gue!" timpal Emy.

"HP gue juga!" (Elwa)

"Idem.." (Thundy)

"Sama.." (Kaze)

"Itu karena HP kalian juga ke hack, orang yang di hack aja satu markas.. lebih jelasnya seluruh perangkat Elektronik markas, termasuk HP." seru Tumma sambil menunjukan HPnya yang juga nggak dapet sinyal sama sekali.

"Buset Niat am-"

PRAK!!

Semuanya langsung menengok kearah Mathias, Luthias, Ethan, dan Jung yang baru saja menimpuk CCTV ruang tengah pake batu yang mereka ambil dari luar.

"WOI! NGAPAIN LU RUSAKIN CCTV MARKAS, KAMBING!!" sembur Thundy.

"kalian tau.. kita ini diawasin sama perentas lewat CCTV markas. Jadi, mending dirusakin aja, dan juga Vincent juga bilang kalau dia bisa melihat gerak-gerik kita walaupun CCTV sudah dicopot." jelas Mathias ketika Luthias menaruh tangga dan mencopot CCTV yang rusak setelah menjadi korban Rajam Mathias.

"Waduh! gawat amat!" seru Tumma.

"Yaudah, kita bantuin deh.."

kemudian..

"Markas gue ke hack?" tanya Girl-chan bingung. "bukannya rusak ya?"

"nggak ini ke hack.. dan lagi pula, buktinya ada di HP-mu soalnya tadi, kami berdua sempat ke tiang sinyal sebentar dan kami nggak dapat sinyal sama sekali." jelas Desmand, girl-chan memeriksa HPnya dan benar saja dia nggak mendapat sinyal sama sekali.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan? membalasnya, tapi Andre lagi pergi ke tempat Ars dan belom pulang." ucap Reha dengan pose berpikir.

"Aku akan mencari seseorang yang bisa melawan dia.. Aku akan tanya paman Mark soal ini.."

Vincent kemudian keluar dan pergi ke tempat pamannya.

Apartement Mark...

"Hm.. jadi, dia berulah lagi?" gumam Mark.

"Ya.. tapi, masalahnya programmer di tempat kami sedang tidak ada dan semua sinyal HP sudah di bajak oleh dia. Makanya, apa kau ada kenalan seseorang yang sangat handal melawan perentas?" tanya Vincent, Mark melipat tangannya dan berpikir sebentar. Kemudian, dia teringat sesuatu.

"Aku punya kenalan, tapi entahlah keahliannya berkurang semenjak dia kehilangan satu tanganya. Tapi, akan aku coba hubungi dia."

"Halo?"

"Oi, Thohir! lama tak menghubungimu!"

"biar aku tebak, ini kau kan? Mark?"

"Yap, kau benar, hei.. kau bisa menolongku?"

"Untuk apa?"

"Begini, Keponakanku, Markasnya baru saja direntas orang. Bisakah kau mengembalikannya seperti semula?"

"Em.. Hem.. Baiklah, aku akan coba mencari tiket pesawat yang cepat kesana."

"Apa!? memangnya kau sekarang dimana?"

"Spanyol!"

"Cih! sebentar!" Mark mengalihkan pandangannya ke Vincent.

"Nak, aku tak tau, tapi.. adakah orang bisa meneleport orang di markasmu?" tanya Mark.

"Ada Namun, kekuatannya termatikan juga.."

Mark memutar matanya dan menghembuskan nafas kesalnya. "Ada yang lain?"

"Sebentar, biar aku tanya mereka dulu.." Vincent keluar Apartement pamannya dan langsung melompat keatas lagi. Tak sengaja dia melihat Eudo masih lengkap dengan seragamnya sedang berjalan pulang kerja dan sesekali memainkan HPnya sekedar untuk mengecek Chat.

'Tunggu, dia tak kena sama sekali karena dia sedang kerja.' batin Vincent kemudian dia berhenti dan turun dari atas gedung di sebuah gang sempit, kemudian dia menghampiri Eudo. "Oi! Eudo"

Eudo menengok kebelakang dan melihat Vincent menghampirinya. "Oh Vin, ada apa?"

"Baru pulang? mending jangan kemarkas dulu.." ucap Vincent.

"kenapa?"

"Markas lagi di hack dan yang nggak kena hanya lu doang."

"eh.. untung lu ngingetin.."

"Oh, dan bisakan lu kasih tau gue, ada orang lain yang bisa meneleport orang langsung ke tempat paman gue."

"Gue kebetulan bisa.. Tapi, lebih baik.. kita.." Eudo mulai nggak enak karena ini menyangkut ayahnya sendiri. "Ajak ayah gue, karena dia lebih ahli."

Kemudian di markas Unique..

"Dia tinggal disini? tidak dengan keluarga?" tanya Vincent.

"Ini tempat kerjanya.." jawab Eudo dan mengetuk pintu. "Permisi! Kazuma-san!"

Seseorang membukakan pintu dan itu adalah seorang pria berkumis dan janggut tipis. "Oh, kau.. mau apa?"

"Mencari ayahku.. ada yang mau minta tolong dia.." jawab Eudo datar.

"Baiklah.. akan aku panggilkan dia."

Kemudian..

"Hmm.. begitu.. baiklah jika itu mau mu.." ucap Drud kemudian dia mulai membaca mantra di bukunya. setelah beberapa saat, sebuah portal terbuka dan itu berada di sebuah perpustakaan. Seorang pria bertangan satu kaget melihat portal itu, Mark kemudian masuk dan berbincang dengan pria itu. Kemudian, mereka pergi sebentar dan kembali lagi dengan sebuah koper di tangan Mark.

"Koper? buat apa?" tanya Eudo.

"Sesuatu yang penting.." jawab Thohir datar.

Mereka berempat (Karena ayahnya Eudo balik ke markas Unique) berangkat ke TKP dan ketika sampai Thohir diunjukan jalan ke ruang kontrol. dia membuka kopernya dan sebuah perlengkapan seperti komputer transparan keluar dari koper itu.

"Baiklah ayo kita mulai sekarang.." ucapnya dan kemudian dia mengetik dengan cepat biarpun hanya memiliki satu tangan saja.

"Set.. Jago bener satu tangan bisa." ucap Lectro kagum melihat Thohir dapat mengetik dengan cepat biarpun hanya dengan satu tangan. Thohir memencet tombol enter dan data mulai recovering tapi, ketika masih 25 persen proses recovery datanya gagal, tapi anehnya dia malah berseringai.

"Kena dia.. Hei kau!" Thohir menunjuk Vincent. "Aku tau kau ini Blacklight, nah coba lacak perentasnya, tapi sebelumnya sentuh layar ini agar kau bisa tau dimana dia." perintah Thohir, Vincent menurut dan menyentuh layar peralatan Thohir. Dia merasakannya, sebuah tempat dimana si perentas berada.

"Owh, baiklah.. Des, ikut aku!" Desmand mengangguk dan ikut dengan Vincent keluar markas.

"Baiklah, sepertinya aku butuh bantuan seseorang disini..." gumam Thohir.

"Hei, sepertinya mereka benar, semuanya mati dan tak bisa di benarkan sama sekali."

"Eh.. Dia siapa?" tanya Eris.

"Perkenalkan namaku, Sakura Futaba, aku datang mendengar kalau markas ini terhack."

"Kebetulan, apa kau bisa membantuku?" tanya Thohir.

"Baiklah.. tapi, aku tak bawa-"

"Aku punya tambahan!" Thohielr mengeluarkan sebuah laptop dari kopernya. "ini cadangan dan sudah di setting untuk kerja."

"Terima kasih.."

"Apa yang terjadi disini?" tanya Andre yang baru muncul.

"ANDRE! AKHIRNYA DATANG JUGA!" Seru Reha yang ngebuat Andre langsung bingung.

"Kak Reha? Kenapa?"

"Markas di Hack! jadi tolo-"

"Baiklah.." Andre kemudian duduk dilantai dan mengibaskan tangajnya diudara daan sebuah keyboard dan layar transparan keluar. "Aku akan berusaha."

2 jam kemudian..

"Wow, lama juga perlawanannya." gumam girl-chan yang baru masuk ruang kontrol lagi.

"yah, karena mereka saling tekan satu sama lain jadinya lama." jawab Reha tiba-tiba, listrik menyala lagi, dan sinyal HP pun kembali. Semua orang yang udah nggak sabaran dari awal langsung sujud syukur rame-rame.

"Misi selesai, kerja bagus!" seru Ethan sambil menepuk tangannya.

"Ngomong-ngomong, Vin sama Des mana?" tanya Amelia.

"Sebelah sini!"

Semuanya menengok dan mereka melihat Vincent mengikat seorang pria yang sepertinya ketakutan dengan dia. Desmand kemudian membuat pria itu berlutut didepan kedua pemimpin squad.

"OOH!! Jadi, kau yang menghack markas ini toh!" seru Reha.

Pria itu ketakutan tapi, dia hanya menggerakan mulutnya. Kemudian, sebuah pesan terkirim ke HP Reha dan girl-chan.

War. O : Ma.. Maafkan aku! Aku.. aku tak akan mengulanginya lagi! Tolong lepaskan aku, aku takut jika, Vincent akan memakanku!

"Hah? Kamu nggak bisa ngomong?" tanya girl-chan bingung.

War. O : Aku kehilangan kemampuan berbicara secara vokal, hanya ada beberapa orang yang tau dan di kelompokmu (Reha) hanya Vincent dan Desmand yang tau suara asliku sebelum menghilang.

"Ehm.. semuanya keluar dulu deh.. biar kami interogasi dia dulu, kecuali Vin dan Des." perintah Reha dan semuanya keluar kecuali, Vincent dan Desmand.

"Jadi, kenapa kau menghack markas orang?" tanya girl-chan.

"Aku mencari data soal suara asliku agar aku bisa 'bicara' lagi"

"Tapi, gagal karena kau tau.. Vin dan Des itu baru disini."

"Maafkan aku.. aku tak tau, data suara yang ku simpan hanyalah suara dari kakak mereka berdua sisanya hilang entah kemana setelah ada yang menghapus paksa memoriku."

"Bisa kau tunjukan suara kakak-ku?" pinta Vincent, kemudian mata pria itu menjadi berwarna hijau terang kemudian, menjadi hijau gelap lagi.

"Emm... Jadi, bagaimana?" tanya Pria itu.

"Mirip!" Seru Vincent.

"Karena ini memang suara Alex."

"Alex?"

"Itu nama kakaknya Vincent."

"Banyak bener yang namanya Alex.." ujar Girl-chan sweatdrop.

Kemudian...

"Ok, semua.. jadi, gue bakalan ngasih tau.. perentas itu bakalan jadi anggota kita. Karena hasil interogasi kalau dia hanya mencari data di markas kita." ucap Reha.

"Selalu deh, yang aneh-aneh selalu diajak jadi anggota." gumam semua anggota Reha (min. Vincent dan Desmand) sweatdrop.

"Nah kenalkan nama mu... Oh semuanya cek HP kalian.."

Kling..

"Sekarang.." Semuanya mengecek HP mereka.

War. O : Salam kenal namaku Warrend Orchard, Umur 28 tahun, aku tak bisa bicara karena kecelakaan menyebabkan pita suaraku rusak berat. Kalian boleh memanggilku Warrend atau Ward. Jangan pernah panggil aku Orc!

"Eh.. Kamu Bisu?" tanya Silica dan Warrend mengangguk.

"Hei, maaf menyela, tapi aku boleh pinjam buku Filosofi yang tebal?" pinta Thohir yang belom sempet pulang.

"Emm.. baiklah." Thundy Teleport ke Perpus kemudian mengambil buku yang cukup tebal kemudian kembali Teleport ke Thohir lagi.

"Nih, bisa diselesain berhari-hari kali tuh buku." ucap Thundy sambil menyerahkan bukunya.

"Terima kasih, sebenarnya ini juga buat sesuatu." Kemudian Thohir pergi ke lantau satu dan berdiri agak jauh dari pintu masuk, dia nggak sadar kalau diikutin sama beberapa orang yang penasaran sama dia. "Hebat bener bawa buku tebel satu tangan."

Thohir menghelakan nafasnya dan tiba-tiba auta hitam keluar dari dirinya yang bikin semua orang yang ngikutin kaget. Dia berancang-ancang, kemudian mulai menirukan gerakan dari pitch professional sebelum melempar bola baseball.

Ting Tong

"Masuk saja, pintu tidak dikunci dan tolong tunggu di dalam." ucap Tumma dari jauh karena.. U know lah. Pintu dibuka dan ada 4 orang pria yang masuk. Kemudian, Thohir melempar buku itu secepat kilat seorang didepan berhasil menghindar tapi, mengenai orang dibelakangnya dan yang ditengah berhasil menghindar juga tapi yang paling belakang kena juga. sekali melempar batu dua burung langsung terbunuh.

"Gile lu Ndro! sekuat itukah dia?" gumam para penonton sweatdrop melihat dua orang yang merupakan korban lemparan buku maut Thohir terkapar di lantai.

"Fuh.. lega juga akhirnya." ucap Thohir dengan nada santai.

"wow, mereka pingsan..." ucap Desmond sweatdrop melihat Shahin dan Altair yang pingsan akibat terkena lemparan buku maut Thohir.

"Memangnya apa masalahmu dengan paman Shahin?" tanya Desmand.

Flashback

"Thohir lihat aku!" seru Shahin, Thohir menengok kebelakang.

"Kalau kau senang hati tepuk tangan!"

Plak

Plak

Plak

Sekarang muka Shahin langsung merah karena di tampar bolak-balik sama Thohir. Yaiyalah, Thohir hanya punya satu tangan jadi, mana bisa tepok tangan! *dilempar buku tebel sama yang bersangkutan.

Flashback end

"Begitulah..." ucap Thohir datar.

Bonus :

Hatinya Hampa setelah dia memutuskan hubungannya dengan orang yang dia sukai. Tapi, dia selalu berusahan untuk bergerak dan mencoba melupakan hal itu dan memulai hidup baru lagi. Mencari orang baru? Apakah itu bisa? Dia pasti bisa, kenapa tidak mungkin menyakitkan tapi, apa boleh buat daripada dia selalu di ombang-ambing rasa Hampanya selama ini.

Kemudian, dia mulai mengambil topi fedoranya, Jubahnya, dan kacamata hitamnya. Tanpa ada yang tau, dia keluar mencari jati dirinya yang baru. Mulai belajar meninggalkan masa lalunya. Saat dia kembali, dia sudah membawa seseorang yang dia sukai lagi. Kali ini dia akan membuatnya aman dan tidak akan memprovokasinya lagi, namun, dia tetap tak bisa melupakan seseorang yang dia sukai sebelumnya. Dan dia mulai khawatir, apakah dia akan membuat 'dia' cemburu karena mendekati yang lain.

Okay, Sampe Situ dulu..

Chara Note :

Warrend Orchard (Hacker) : Seorang programmer yang sangat handal senang bekerja di balik layar. Kehilangan suaranya kecelakaan mobil yang menyebabkan sebuah serpihan kaca merusak pita suaranya dan terpaksa membuatnya bisu. Dengan bantuan software dia mencoba mengembalikaj suaranya dengan program itu, namun seseorang menghapus seleruh data suaranya.