Balas Revievv :
girl-chan 2 : aku lupa bilang dua chapter in a day :'v
Iris : Kok, nggak mau ikut sih :'v
Rosy Miranto18 :
Warrend : Hmm... Baiklah, aku tidak pernag punya senjata lain, selain pistol, dan senapan mesin sih. Tapi, aku tetap menerimanya.. Walaupun, ujung-ujungnya aku akan menggunakan tangan kosong. Dan lagi pula.. kalau memang mau membayar.. aku bisa sih.
Vincent : Dia bisa menganalisis dan mengingat gerakan musuh semuanya. Karena.. dia punya ingatan Fotografi.
thx!
Chapter58 : Warrend and his life.
"Warrend kamu sekarang keren deh."
"Warrend, terima kasih ya."
"Warrend.."
"Warrend!"
"Warrend?"
"Warrend, aku.. menyayangimu.."
"Angh!" Aku terbangun dari tempat tidur ku karena mimpi yang selalu terulang, Penyesalan selalu datang, dadaku sesak, sulit bernafas, keringat keluar dari keningku. "A.. Aku... Aku..."
'Tidak Warrend, ingatlah, kata tuan Aiden...' batinku dan aku selalu mencoba untuk mengingat kata-kata pengajar-ku sebelum aku dan dia berpisah.
'Jangan lihat kebelakang! Lihat kedepan! Jangan Menyesal! Sesuatu pasti selalu berhubungan!'kata-kata itu selalu dapat menghibur diriku jika terkena serangan panik. Karena sejak dulu, aku gampang terserang panik yang berlebihan, jika sendiri dan tak ada yang mendukung.
Tapi.. Itu sudah cukup lama sekali.. 4 tahun yang lalu. Dan juga, pertemuan pertamaku dengan dia tak akan pernah dilupakan.
Saat itu, 23 Agustus 2013, cuacanya hujan...
Aku berjalan sendirian di tengah kota. Sebenarnya, aku agak gugup jika harus keluar sendirian, minimal harus bersama satu orang teman. Karena aku mudah terkena serangan panik jika sendirian. Namun, karena hujan suasana kota jadi tidak terlalu ramai makannya aku keluar. Berdiri di tengah hujan di suasana sepi ini, membuat diriku tenang.
Namun, tiba-tiba dadaku sesak dan badanku bergetar dengan hebat. Nafasku mulai naik-turun, sebuah ingatan buruk saat hujan mulai terekam dikepalaku lagi. Aku berusaha berjalan sekuat tenagaku, mencari tempat untuk beristirahat sebentar. Mungkin, sebuah gang kecil di sudut kota bukanlah hal yang bagus untuk beristirahat tapi, pengelihatanku mulai kabur.
'Kenapa, harus terjadi...' batinku sebelum aku jatuh pingsan. Tapi, saat aku pingsan aku melihat seorang pria tinggi mendekatiku, memakai jaket panjang dan topi.
'H.. Hei, Kau.. Bai-'
Saat terbangun, aku berada disebuah kamar apartement kecil. kenapa aku disini? Aku tak tau.
"Hei, kau sudah bangun rupanya..." ucap seorang pria berjaket coklat dan bertopi yang duduk di bangku.
"Yah.. emm.. Dimana aku?"
"Kau di apartermentku, aku menemukan dirimu pingsan di gang dekat sini."
"Pingsan? Aku pingsan di gang? Kapan? gang mana? dan kenapa aku bisa diluar saat hari hujan?" Oh, Aku lupa bilang jika aku pingsan karena tekanan itu. maka, aku tak akan ingat apa yang terjadi padaku setelah dan beberapa menit sebelum pingsan.
"Hah? Aku tak sengaja mengikutimu karena kau mulai sempoyongan di jalan saat hujan 23 menit yang lalu." balas pria itu.
"Aku tidak ingat sama sekali." jawabku datar.
"Kau memang seperti itukah?"
"Yap, jika aku pingsan, karena tekanan dari kepala kemudian, merambat ke dada maka aku tak akan ingat apapun dari beberapa menit sebelum pingsan." Aku melihat sekeliling dan ada sebuah komputer yang menyala di meja miliknya. Dan juga aku melihat HPnya dan menyadari sesuatu.
"Kau, Perentaskan?"
"E.. Ya, aku memang seorang perentas. Namaku Aiden."
"Warrend, Warrend Orchard. Kebetulan aku juga yah.. pemula sih dalam hal merentas. Seperti kamera CCTV, Menyadap telefon orang, dan beberapa hal kecil lainnya." Aku duduk dipinggir tempat tidurnya dan melihat kearahnya. "Kau, sepertinya sudah ahli, berapa lama kau merentas?"
"beberapa tahun dan.. Aku tak mau melanjutakn ceritanya." jawab Aiden.
"Tak apa, aku juga tak ingin tau, rahasia pribadi seseorang.. Hei, boleh aku minta tolong?"
"Apa itu?"
"Ajari aku.. aku ingin menjadi perintas juga." Dia menerimanya walaupun, dengan paksaan karena aku terus mendesaknya.
Selama beberapa bulan aku belajar banyak merentas darinya.. Ikut dengannya menjalani misi, memberantas kriminal, kadang mencuri mobil orang, namun, reputasi kami tetaplah warga biasa.
Sampai akhirnya aku berpisah dengannya ketika aku merasa sudah cukup untuk bekerja sendiri. dia memberiku sebuah gelang perak dan selalu berpesan kepada diriku untuk berhati-hati dan selalu berkembang. Setelah itu.. kejadian mengerikan itu terjadi..
Sudahlah, tak usah membahas kejadian mengerikan itu. Aku melupakan kejadian itu, walaupun dengan ingatan fotografi.
Seseorang membuka pintu kamarku dan itu adalah Takano.
"Hei, sarapan sudah siap." ucapnya kemudian dia pergi.
Di meja makan...
"Warrend, ini sarapanmu." ucap Amelia sambil memberikan sepiring roti panggang dengan daging asap sebagai isianya.
"Terima kasih."
Duduk disebelah trio Red memanglah berbeda karena mereka hampir selalu berebut soal makan. Aku hanya tertawa melihat mereka berebut sebuah paha ayam, sungguh itu adalah pemandangan ter-aneh setelah Aiden membajak sebuah satelit.
"Warrend kamu sungguh-sungguh untuk menerima tantangan 1 vs 1 itu?" tanya Red.
"Iya.. memangnya kenapa?"
"Kau seorang perentas, kelemahan terbesarmu kan-"
"Aku bisa, aku pernahbikut bela diri walaupun, tidak sekuat kalian bertiga." potongku.
"Lagi, pula dia.. tidak tau tentang invisibility jika tidak terkena serangan 10 detik.. atau.."
"Atau apa?" tanya Rone.
"Tak apa.. lupakan saja."
Kemudian, Lantai 7 GCS...
"Sudah siap?" tanya Aki dengan pedang kiri-tounya di tangannya.
"Baikalah.." Aku hanya menaruh tangan dikantung dan menatapnya. Tidak ada perentasan, tidak ada sihir, dan teknologi.. Tapi, Tidak dengan kemampuan tersembunyi yang biasa aku pakai saat iseng doang.
5 detik... 4 detik...
"Hyaattt!" dia maju dengan sekuat tenaganya..
3 detik.. 2 detik..
Crang!
Pedangnya menghantam tanah dan aku langsung menghindari dan bersembunyi di pohon..
Dan Sekarang adalah waktunya...
"..." Aku maju dengan pisau ditangan kiriku dan dia menahannya.
"Hanya pisau senjatamu?" tanya Aki.
"Iya, tapi kau tidak akan tau, aku menyiapkan sebuah kejutan.."
"Hah?"
dibawah...
"Hmm.. Mau masak apa ya.." gumam Rilen dengan pose berpikir.
"Hei, ada apa saja di kulkas ini?" tanya ku sambil membuka kulkas dan mengambil sebuah jus jeruk.
"Lho, Warrend bukankah kau-"
"Sedang bertarung dengan Aki di atap, ya memang aku sedang bertarung, dan aku juga sedang minum jus jeruk ini di depanmu." jawabku dan membuka botol jus itu.
Rilen sepertinya bingung dengan perkataanku, tapi saat dia melihat kebawah dia mulai menyadarinya.
"Mana bayangan-"
"Dia sedang bertarung dengan Aki disana."
"Kau nggak kesana?"
"Ini mau kembali lagi, terima kasih untuk jusnya ya." aku berjalan ke ekskalator lagi dan pergi ke lantai tujuh.
Disana aku masih melihat mereka bertarung dengan serius. Saat pisau bayangan diriku terpojok aku membuka pintunya dan melihat itu bersama beberapa orang disana.
"Warrend? lha, itu si-"
"Shht... jangan berisik." aku hanya tersenyum sambil menutup mulut Alisa.
Kemudian, bayangan itu terjatuh dan Aki menodongkan senjatanya. sementara, aku bersembunyi di rerumputan dan mulai mendekatinya diam-diam.
"Sudah menyerah, aku memenangkan ini, lho." ucap Aki.
"Hmmph, ah, hei.. kalau bisa ku bilang, coba tengok ke belakang deh." ucap bayangan itu dengan seringai di wajahnya. Aki menengok kebelakang dan..
"Hei.." Aku pukul dia sekuat tenaga sampai dia terjatuh dan mengambil pisauku yang terjatuh. Kemudian, menancapkannya di tanah samping kepalanya. "kau kalah..."
"Kapan kau!?"
"harusnya.. ketika kau bertarung denganku.. jangan diamkan aku walaupun didepan matamu sendiri.. lebih dari 10 detik.. atau kau lihat sendiri." aku menolongnya berdiri.
"Dompetku sekarat dah nambah satu orang." kata aki.
"Aku nggak ikut, aku mau ke kota sendiri." balas Warrend.
Mengunjungi tempat Desmond temanku akan menghiburku sesaat karena dia orangnya tidak begitu macam-macam. Walaupun, aku sedikit takut dengan Alex karena urgh.. aku pernah menangkap basah dirinya memenggal kepala orang. Dan aku muntah saat itu juga.
"Desmond? Desmond? Desmond?" ku tunggu dia didepan pintu apartementnya tapi, tak ada jawaban dari siapapun. mungkin, dia sedang keluar atau bekerja. 'Kerja kayaknya.'
saat aku kebawah, aku terkejut ketika hampir menabrak Desmond dan Alex yang baru datang.
"Hei, Warrend, Bagaimana keadaan mu?" tanya Desmond.
"Yah, lumayan.."
"Tu.. tunggu! kau sudah bisa bi- oh." Alex melihat alat dileher Warrend. "Apa yang kau lakukan disini?"
"mengunjungi kalian saja dan.. whaaaat?"
Aku tak percaya ini..
"Oh, hei, Aiden.. Lepaskan deh." pinta Desmond.
"Uhh, biarkan aku memelukmu lebih lama." ucap Aiden.
"Hei, Lepaskan!" sembur Alex.
"A.. Aiden.."
"Oh, Hai.. Warrend lama tak jumpa." sapa Aiden.
AKU BERTEMU DENGANNYA LAGI!!
"Hei, alat apa di lehermu itu?" tanya Aiden.
"Emm.."
"Semacam Alat untuk komunikasi, dia tidak bisa bicara tanpa alat itu, karena kecelakaan- hmmph!"
"Jangan Bahas Kecelakaan itu lagi bodoh!" sembur Desmond.
aku hanya menghela nafas, tapi.. Aku berterima kasih untuk Desmond karena dia tidak ingin memicu Trauma itu datang lagi.
"Tak apa Des, itu memang kenyataannya." ucapku dengan senyuman palsu walaupun, itu memang sakit.
"Kecelakaan? Kapan?" tanya Aiden.
"4 tahun lalu, tepatnya beberapa bulan setelah kita berdua.. maksudku, aku pergi ke Manhattan."
"A.. Aku minta maaf soal itu." kata Aiden dan dia mengusap pundakku seperti dulu.
"Yah.. Ah, Aku akan kembali ke markasku."
"Ok, Sampai kan Salamku untuk Adikku dan.. suruh dia untuk kembali kerja karena dia sudah absen 3 hari." Kata Desmond.
"Baiklah.."
Aku pergi meninggalkan mereka bertiga untuk kembali ke markas. Sesekali, aku menengok kebelakang untuk melihat sosok Aiden yang sedang memeluk Desmond walaupun, Alex terlihat tidak senang dengan hal itu. Ingin sekali aku dipeluk seperti itu.. oleh Aiden. Bukan karena aku menyukai dia, tapi aku menghormatinya dan aku sudah menganggapnya seperti Ayahku sendiri. (Beda umur Warrend dengan Aiden adalah 16 tahun. Warrend, 26. Aiden, 42.)
Apa yang kupikirkan.. Fokus Warrend! Fokus!
"Warrend, Warrend!"
"Ha" Aku menyadari kalau aku sedang berada di meja makan dengn yang lainnya.
"kenapa bengong?" tanya Yuki.
"Ta.. Tak apa.."
"Makanlah.."
"I.. iya."
Ketika aku kembali ke kamar HP-ku berbunyi dan itu dari..
'Aiden.. mungkin..'
Nexus : Kau tak apa?
War.O : Ya.. hanya terpikir hal lama lagi.
Nexus : Masih sering.. Pingsan?
War.O : Tidak.. Aku sudah tidak pernah pingsan mendadak lagi.
Nexus : Baguslah.. Hei, aku ingin mendengar ceritamu.. ceritakan aku soal Kecelakaan itu.
War.O : Aku sedang berusaha melupakan hal itu dan kau menanyakanya lagi?
Nexus : Maaf..
War.O : Tak Apa.. Mungkin, kau memang perlu tau... (Warrend menceritakan kecelakaan itu.) Begitulah.
Nexus : Kau menangis?
War.O : Ti.. Tidak.. (sobs).. Aku.. (sobs).. hanya.. Ahn.. Kelilipan..
Nexus : Kau Menangis.. Seperti dulu.. menyembunyikan sesuatu.. saat kau menceritakannya dan berujung dengan tangisan berjam-jam.
Nexus : Yang penting.. Kau..
War.O : Aku pernah bunuh diri..
Nexus : Kau gila!?
Nexus : Kenapa kau berani melakukan itu!?
Nexus : Temui Aku Besok! Aku ingin bicara dengan dirimu, empat Mata!
War.O : Ta..
Nexus : Tak ada Tapi Warrend! Jika kau tidak datang maka aku akan menjemputmu disana!
War.O : Aku Akan Kabur..
Nexus : Tidak. Akan. Bisa.
War.O : Ayolah.. A-
Nexus : WARREND!! JANGAN MELAWAN!! KAU DAPAT MASALAH BESAR BESOK!! INGAT ITU!
Segitu aja..
