Balas Revievv :
Girl-chan 2 : Emm.. Okay. Tapi, kalo bisa bikin adegan nangid-nangidnya Si Eris ke Salem :'v
Red : Hoi Bangun! *nampar Arie.
Eudo : Aku akan mulai curiga dengan benda cair, minuman dan lain-lain yang ada di meja.
StrideRyuuki : Kau belum tau Kekuatan Blacklight :v
Vincent : Masih mending mobil, enteng, kalo tank yah, lumayan. Kakakku juga pernah menganggkat Tank untuk menimpuk Helikopter yang terbang mengejarnya.
Alucard : Tolong jangan dibuat pusing, masih kzl aku sama tuh orang. -_-
Rosy Miranto18 :
Vincent : Mobil Mah masih biasa, Enteng! Tank malah lumayan berat.. enaknya diledakin!
Desmand : Sedikit, kecuali Bagian ditinggal orang tua, kakaknya mati, dan bagian paksaan makan orang itu.. Emm.. Entahlah, Desmond Sudah tiada.. Dan Alex (Kakaknya Vincent) Menghidupkannya lagi karena dia tak mau kehilangan Desmond. Keluargaku, hanya ada Ayah yang terlalu ketat, Desmond mati karena terkubur di reruntuhan kuil bawah tanah. Tapi, The Good news is, jasadnya di temukan. Dia selalu mencoba menahan nafsu makan tubuhnya dan jika dia mulai memakan orang itupun juga bukan sembarangan. Setidaknya.. Sampai kami berdua.. kena Bleeding effect, Semacam Skizofrenia yang membuat kami melihat para pendahulu kami berdua, kadang menembus dinding, kadang di depan mata kami, dll.
Eris : Terima kasih.. Aku akan sangat senang.. Ya, Alfred itu hantu dia sebenarnya sangat baik.
Thx!
Chapter 61 : Desmand life Q and A
Intro :
"Yeee! Nggak belajar Matematika!" seru Reha sambil lari-lari keliling markas.
"Dia kenapa?" tanya Alex bingung.
"Dia seneng karena dia terpilih ikut 'Carrier Day' dan itu satu hari penuh, dan dia seneng karena dia ngeskip MTK disekolahnya yang berlangsung 2 setengah jam." jelas Yamagi.
"Kok lu tau?" tanya Alex.
"Karena gue yang dapet info pertama kali pas dia loncat-loncat kesenengan."
Dan Alex hanya sweatdrop mendengarnya.
Ok, Cukup dengan Happy intro-nya! Ahahahahahaha! I Feel Free!
Sebenarnya aku malas melakukan ini, tapi, mau bagaimana lagi. Anak itu yang memintaku melakukannya.
Kenalkan Namaku, Kalian sudah taukan.. Desmand Miles. Umur 26 tahun, job Crow, Ulang tahun 13 Maret, punya saudara kembar namanya Desmond Miles. Dan bla bla bla..
Hal seperti saudara ku, aku ini Assassin. Bertarung untuk menyelamatkan dunia dengan apalah itu, karena aku tak terlalu peduli aku hanya ingin hidup bagaikan oramg biasa. Juga, peraturan yang sangat ketat yang bisa menyeret dirimu terhadap pengkhianatan walaupun kau tak sengaja melakukannya. Kesal memang karena salah sedikit kau akan diburu habis-habisan, tapi, begitulah hidup.
1. Kehidupan sebelum masuk squad?
Sama Sekali tidak menyenangkan!
Aku dan kakakku kabur dari rumah kami karena sudah muak dengan hal-hal yang berbau dengan Assassin. Sebenarnya kami ini masih tertarik tapi, ayah kami yang membuat kami muak dengan segala hal.
Namun, ada juga yang senang..
Saat aku bertemu dengan Mercer bersaudara. Hal itu adalah hal paling menyenangkan. Yah, memang tidak semuanya. Vin sempat terluka parah sebelum akhirnya Alex dengan terpaksa mengingfeksi dirinya dengan virus blacklight demi menyelamatkan Vin dari kematian. Aku masih bersyukur walaupun Vin harus hidup bersama virus mengerikan itu.
Karena...
Aku menyukainya.. Aku suka dengan Vin..
Dan, Alex juga menyukai Desmond. Itu bisa terlihat dari sikapnya yang sangat protektif terhadap Desmond. Bahkan, dia nekat mengikutinya dan memperhatikannya seperti elang selama bekerja, juga dia nekat memeluknya dari belakang saat banyak pelanggan. Untunglah, Vin tak pernah seperti itu.
Namun, kami berdua harus berpisah karena Alex kehilangan sifat manusiawinya dan berubah menjadi seorang monster yang menghancurkan seluruh kota dan Vin berusaha menghentikannya, tapi, dia sudah berjanji akan bertemu dengan kami lagi setelah semuanya berakhir. Aku terpaksa ikut dengan Desmond ke Itali untuk mengungsi karena banyak yang kelompok yang mengejar keberadaan kami dan kami juga harus mengungakap kebenaran soal dunia ini.
Dan saat itulah, hal-hal aneh mulai terjadi dengan diriku. Suatu malam beberapa minggu setelah sesi pengungkapan memori para pendahulu aku dan Desmond. Kami mulai merasakan hal-hal aneh, kadang aku melihat seorang berbaju putih sedang berjalan sampai dia menembus tembok, dan Desmond pernah mendengar bahkan merasakan kalau seseorang menyentuh dirinya padahal tidak ada siapa-siapa, awalnya kami kaget tapi, akhirnya biasa-biasa saja karena itu hal yang sering. Tapi, dengan adanya hal itu, kami belajar menjadi Assassin perlahan-lahan dan akhirnya kami dapat mencapai tingkat keahlian yang tinggi.
Satu tahun kemudian...
Aku sudah sangat muak, sendirian, sedih, depresi, dan putus asa. Aku terus mencoba mengeluarkan semuanya. Tapi, sepertinya percuma. Desmond meninggalakan diriku untuk selamanya, dia mengorbakan dirinya untuk dunia ini. Tubuhnya tertimpa reruntuhan kuil bawah tanah, dan Vin... Dia Mati untuk menyelamatkan Alex yang hampir di mati juga. Mungkin, kami yang menderita karena tapi, Alex selalu membisikan ini ke telingaku.
'Vin, dia akan kembali. Tenanglah, jangan sedih.' bisiknya.
Dia juga memintaku dimana Desmond terkubur. Untung aku masih hafal tempatnya dan aku menunjukannya tempat itu. Dia meminta diriku untuk menunggu selama 1 bulan dan jangan pernah menghubunginya selama itu juga. Dia bilang dia akan memberikan diriku kejutan.
Satu bulan kemudian, seseorang mengetuk pintu depan apartement aku tinggal. Aku membuka pintunya dan...
Desmond disitu, bersama Alex. Aku memeluknya dan melepaskan rasa rindu karena kehilangan dia. Aku tau kalau Alex menggunakan kekuatannya untuk menghidupkan Desmond dengan kekuatannya. Seperti dirinya, yang sebenarnya sudah mati..
Dan Vin kembali dan memeluk diriku beberapa bulan kemudian. Aku senang karena mereka kembali kehidupku, yah, biarpun Vin harus pergi lagi untuk mencari sesuatu tapi, aku akan mencarinya.
2. Kehidupan setelah masuk squad
Saat aku masuk ke squad aneh ini, entah kenapa, aku malah bahagia dengan semua yang telah aku lakukan. Juga, ada hal-hal dan orang-orang aneh yang ku temui. Misalnya...
~Hato~
Ok, Dia memang sedikit aneh karena saat aku mendengar dia berbicara. Dia selalu mengakhiri dengan kata ~Woof. Dan dia selalu berkelakuan seperti anjing, dan lihatlah kepalanya. Ada telinga hewan juga. Sampai akhirnya, aku mengetahui sesuatu yang membuat diriku terkejut.
"Aku ini Anjing Woof!" Ucapnya ketika sedang makan. Masalahnya yang dia makan itu, Makanan Anjing!
Pantas saja, walaupun dia berukuran sepertu pria dewasa. Dia tetap diperlakukan seperti Anak-anak (Kadang-kadang) dan Red sangat protektif terhadapnya (soalnya aku pernah melihat salah satu orang yang menimpuk Hato dengan batu berakhir di pukulin sama Red.) Ternyata, itulah rahasia orang itu.
~Alfred~
Hantu, orang pasti tidak akan percaya kalau dia itu hantu. Padahal, dia memang hantu gentayangan. Aku dengar dia suka dengan orang dari squad sebelah walaupun, berakhir diusir juga sih.
Soal sifatnya, bisa kubilang dia itu, Hantu kepala buntung dengan badan setinggi tiang listrik dan ekspresi wajah sedatar Triplek.
Dia sangat datar, bahkan, kau tak akan tau dia itu bahagia atau marah atau sedih atau takut.
Kepala Buntung?
Iya, dia itu pernah melepas kepalanya dengan sendirinya.
~Red~
Hmm.. Setengah Iblis. Memang agak kaget ketika tau dia itu setengah iblis. Tapi, sifatnya nggak ketulungan.
Nggak bisa diem!
~Emy dan Iris~
Kedua Makhluk ini salah satunya memang besa squad. Tapi, mereka sungguh mengesalkan. Satu aja mereka sudah buat jengkel karena cerita buatan mereka.
Pernah aku menemukan cerita buatan mereka di perpustakaan. Dan itu membuatku kaget setengah kaget.
Bayangkan saja... Vin dia me-raep diriku dengan kekuatan keluar dari yang tubuhnya.
Hei, Vin bukan Alex yang suka me-raep Desmond dengan hal tersebut walaupun dia mempunyai kekautan seperti itu.
Sisanya masih banyak sampai bisa membuat diriku gila dengan itu.
3. Reaksi soal Kedekatan hubungan kakakmu dengan Aiden?
Entahlah, aku menerimanya saja sih. Tapi, aku baru tau jika dia sedang dekat dengan Si perentas itu.
Dan untuk para Fujo, bukan berarti ntar aku juga ikutan kayak kakakku. Aku hanya mau sama Vin saja, sama Warrend nggak. Dia itu sahabat doang.
(Iris : Ih, kok dia bisa tau sih. Padahal kayaknya seru loh :'v)
Oh, aku akan menanyakannya jika bertemu dengan Desmond nanti. Karena aku baru dengar soal ini.
4. Bagaimana dengan sikap Connor saat dia masuk squad?Dia nggak terlalu ricuh dan hanya menanyakan sesuatu jika perlu saja. Aku beruntung mendapatkan dia daripada Desmond yang mendapatkan Altair dan Ezio.
Tangan mereka geratilan soalnya dan kalau menanyakan sesuatu seperti anak udia tiga tahun. Nggak ada Remnya dan altair bisa saja menghajar beberapa orang karena dianggap monster. Makannya saat dia melihat Tum-Tum dia langsung mengejarnya sambil mengeluarkan pisau tersembunyinya.
Flashback..."Oh, jadi ini merupakan tempat perkumpulan mereka, menarik." gumam ezio sambil melihat sekeliling.
"Yah, setidaknya kalian jangan menyentuh beberapa hal yang belum kalian tau." ujar Desmond datar.
"Mond, kau yakin membawa mereka kesini?" tanya diriku yang tak yakin karena Altair ikut datang.
"Aku ingin mengunjungi dirimu tapi mereka terlalu lengket kayak lem Foks." keluh Desmond. "Kalau Ezio sih emang nggak terlalu heboh kecuali ada perempuan cantik."
"GYAAAAAAAAAAH! TULUNG!"
"Eh?"
"Kembali kau Monster!"
"Mampus dah.." ujar kami berdua sweatdrop.
Flashback end..
Dan Kalau Ezio..
Flashback lagi..."Yah masalah Altair sudah selesai dan dimana Ezio?" tanya Desmond sambil melihat sekeliling.
"Awwwwhh~"
Mereka menghampiri sumber suara itu dan kemudian, mereka melihat...
Ezio...
Sedang...
Mengelus Para kucing, Nigou, dan Hato...
Sambil bersenandung dengan bahasa Itali...
Dan Para Anak perempuan..
Termasuk Bibi Rilen...
Terlena dengan dirinya...
"Huff.. baru ditinggal bentar udah di krubutin lagi..." keluh Kami berdua.
Flashback End..
Bonus
"Hiks.. Mama..."
"Sudahlah, pasti suatu hari nanti dia akan ditemukan." hibur Eris.
Mereka berhasil menemukan Alfa yang sedang menangis di taman dekat kota pada malam hari setelah pencarian berjam-jam.
"Tapi, Alfa mau ketemu Mama."
"Kita tak tau dia dimana, tapi, berdoalah kalau dia masih bisa ditemukan, ok." Hibur Eris (AU)
"Ok..."
Beberapa minggu kemudian..
"Ka.. Kalian sudah kemari?" tanya Salem.
"Daritadi, mereka berdua memeberi tau kami bertiga. Salem, jika kau mau mempunyai hubungan dengan wanita lain, tidak semestinya kau seperti itu." ucao Eris (AU)
"A.. aku hanya tak bisa.. mengucapkannya. Aku tak menghancurkan Hati Alfred." jawab Salem.
"Justru karena kau kabur yang menghancurkan hatinya, bukan hanya dia, tapi Alfa juga Sal, dia rela nyari mama dia yang hilang. Kalau kau mau bicara, dia pasti akan mengizinkannya." sambung Eris.
"Mama... Jangan Tinggalin Alfa lagi.. Alfa nggak mau kehilangan mama."
Salem memeluk Alfa erat-erat, "Maafkan Mama, Alfa. Mama yang salah. Hampir mencelakakan kamu. Aku juga minta maaf ke Alfred, aku tak bermaksud menghilangkan dirinya dari dunia ini. Aku minta maaf atas kebodohan dan keangkuhan diriku. Tolong maafkan aku, dan kembali ke dunia ini.. Aku mohon. Aku ingin bicara dengan dia sekali saja."
Sekelibat sinar muncul dan Salem merasakan seseorang mulai memeluknya dari belakang.
"Aku tau, kau akan kembali.. Aku memaafkan dirimu."
"Kakak/Alfred/Ayah!"
"Jangan seperti itu lagi, aku mohon. Jika ada sesuatu tolong bicarakan ke diriku. Aku akan mempertimbangkannya." bisik Alfred.
"Ya.. Maaf.. Aku selalu berpikir untuk memiliki seorang wanita, tapi, aku takut kau tak mengizinkannya."
"Hm-mh. Hanya itu?"
"Iya..."
"Lem, tak apa, aku menerimanya jika itu kemauan dirimu untuk bersama wanita lain. Aku hanya ingin kau mengucapkannya, bahkan, jika hubungam kita tetap berlanjut, kau boleh bersama wanita kok."
Alfred membuat Salem melepaskan pelukannya ke Alfa dan menutup mata Anaknya itu. Kemudian, dia membalikan Salem dan Menciumnya.
"Jika terjadi apa-apa atau terjadi sesuatu atau kau kesepian karena wanita itu agak brengsek ke dirimu. Kunjungi aku ok. Oh, dan aku akan tetap mengunjungi dirimu walaupun tidak sesering yang biasanya karena kau perlu waktu untuk sendiri dan jika susah bicara dengan wanita yang kau suka. Tanyakan saja ke aku, Salem." bisik Alfred di telinga Salem dan dia menggigit pelan telinga Salem.
"Hmm.. Baiklah.. Jangan digigit."
"Ahaha.. Maaf."
"Hei, Ada anak kecil disini!"
"Mama dan ayah sedang apa?"
Alfred hanya tertawa kecil dan Salem langsung blush dan mendorong wajah Alfred. Sebelum berpisah, Alfred membisikan kata-kata itu lagi dan mencium pipi Salem.
"Ingat itu?"
"Iya, Iya.. Udah kek jangan disini banyak orang!"
"Uh-huh."
Ah, A good end for AlfeSal :'v
