Balas Revievv :
Rosy Miranto18 :
Kau harus mencobanya! Aku rekomendasi kau download game dari RE 1 untuk belajar. Yah, memang senapan dan pelurunya terbatas, dipenuhi oleh puzzle juga dan racun, tentu saja.
Urgh.. Apapun itu aku ingin segera menggantinya karena banyak yang memanggilku dengan nama yang aneh-aneh.
Alfred : Huff.. Percuma. *menangkap Salib tersebut. Aku kebal dengan salib, karena.. biarpun aku hidup lagi dengan dark magic, Tapi.. Aku hatiku masih suci dengan cahaya, karena magic yang dipakai adalah magic pengikat bukan perubah pikiran seperti, Demon. *melemparnya balik.
Kaze : Petai itu ku borong dari beberapa pasar dan supermarket dan tukang sayur terdekat. *Nyengir
Hato : *Ngiler. Es krim Daging... Sepertinya enak.
Red : Hmm.. pvp Boleh aja!
Desmand : Boleh.. Kau tau gamenya apa?
Rone : Aku Prefer yang ada namanya sama kayak nama aslinya Red.
Red : He... Maksudmu... J.. Jin!?
Rone : Yap..
Desmand : A.. Terserah.
Lectro : Aku ikut!
Genzo : Aku ikut juga!
girl-chan2 : Kalau aku.. Entahlah, aku sampai susah itungnya karena dari kalangan ibuku (Sepupu ada.. Ponakan juga ada) Ponakan banyak banget, tapi, kalau ayah sih nggak terlalu banyak.
Alfred : Tu...
Eris : *Nahan Alfred. Nope!
Alfred : Hemmh..
Ups, I did it again, Sorry :'v
SR :v : Terserah Ente, Gue balesnya tetep pake SR *Angry React
Alfred : *Death Glare. Aku. Tidak. Memperkaosnya!
Jangan. Berpikir. Macam-macam. Soal. Lemon!
Hato : Tsundere? Aku tidak seperti Master Revan-Woof!
Revan : *Ngelempar Granat ke SR.
Thx!
Chapter 65 : Their Fathers come here!
Intro :
'Catatan Psikologis Yuki.'
Pasien 1 : Red Bloodrone (Jin kestueki)
Tanggal Lahir : 16 Juli
J.k : Laki-Laki
Umur : 35 tahun.
Tinggi : 185 cm.
Pekerjaan : Dark monk.
Red/Jin Menderita Trauma dari Ryuuga (ayah kandungnya) di masa lalunya yang kelam karena dia adalah anak setengah iblis dengan mata yang mengerikan. Mungkin, penyebab dia memunculkan Trauma ini karena dia disekap dibawah tanah kediamannya sebelum akhirnya melarikan diri dari rumah dan bergabung dengan Reha squad.
Aku merawatnya ketika menemukan dia sedang kelaparan di sebuah desa. Saat itu kondisinya mengenaskan karena dia kekurangan gizi dan dehidrasi berat. dia juga sering berhalusinasi dan mimpi buruk soal apa yang menimpanya.
Namun, sekarang dia sepertinya sembuh akibat dari Amnesia dan dia sudah berbaikan dengan ayahnya. Tapi, tetap harus diawasi dengan ketat, takut terjadi kejadian yang terulang padanya.
Pasien 2 : Eris Lanceford.
Tanggal Lahir : 30 April
j.k : Laki-laki.
Umur : 19 tahun.
Tinggi : 174 cm.
Pekerjaan : Jumper.
Dia sangatlah mengkhawatirkan karena selain menderita trauma masa lalu, dia jug menderita Halusinasi soal keluarganya. Terkadang dia sering berbicara sendiri saat tidak ada ymg melihat di perpustakaan. Entah apa yang ia bicarakan tetapi, seertinya dia terhibur dengan kakaknya yang bernama Alfred.
Aku menemukan dia dalam keadaan depresi dan enggan berbicara dengan siapapun di tengah gang suatu desa terpencil saat dia masih berumur 15 tahun. Dia sering menangis di malam hari, mengigau, dan menjerit ketika bermimpi buruk. Aku tak tau cara membuatnya baik-baik saja, karena ketia dia menangis dan kau mencoba menghiburnya, itu akan mememakan waktu yang lama.
Salah satu anggota kami diminta untuk membawa arwah kakaknya dan berhasil untuk membuatnya membaik. Walaupun, kebiasaan dan mimpi buruknya masih sering menimpanya tapi, tangis itu tidak terdegar lama melainkan haya beberapa menit sebelum akhirnya hilang.
Aku hanya berterima kasih karena kakaknya cukup membuat dia membaik namun, aku akan penasaran.. Jika, kakaknya hilang, apa dia akan kemkembali seperti awal?
Ok, Stop intronya.
"Hmm.. Bau Bawang!" seru Pyro sebelum ditabok buku sama Frost.
"Bacot! Bau Bawang mulu, lu sendiri juga vvibu bawang kan?" sembur Frost yang kayaknya udah kesal dengan lelucon 'Bau Bawang.'
"Ye, kan gue hanya bercanda mas, lagi pula kan lucu. Dan juga, gue bukan vvibu bawang!" balas Pyro dan mulai membuka bukunya.
Mereka melanjutkan membaca buku komik mereka selama beberapa puluh menit sebelum akhirna bosan dan mulai bermain di HP mereka lagi.
"Pyro? Lu kadang ngerasa kangen sama Paman Inferno nggak sih?" tanya Frost yang masih fokus ke HP-nya. "Open war Ro!"
"Yah, kadang gue agak kangen sama Ayah gue, lu sendiri nggak kangen sama Paman Cyro?" tanya Pyro dan langsung memcet layar HP nya dengan brutal. "Tungguin gue."
Diluar..
"Kau yakin ini rumahnya?" tanya Seorang berambut perak dengan syal abu-abu dan baju serba abu-abu putih.
"Ya, Kau lihat sendiri di GPS lah!" jawab seorang pria berambut pirang agak keorenan sambil melipat tangannya dengan pakaian berwarna merah, gelang emas, sayangnya dia nyeker, dan memiliki tato di lengan kanannya. Dan dia sepertinya membawa seekor phoniex di pundak kananya juga.
"Baiklah, jika itu mau mu." jawab si pria abu-abu dan mengetuk pintunya, dan saat dibuka.
"Kalian siapa? Ada apa? Mencari siapa? Dan apa tujuan kalian ke sini, jawab kurang dari 20 kata." kata Shiki datar sebelum kedua pria itu sweatdrop bukan karena melihat serigala yang bisa bicara, tapi karena tantangan Shiki untuk menjelaskan kurang dari 20 kata.
"Aku Inferno dan ini Cyro, kami ayahnya Pyro dan Frost, kami datang kesini untuk mengunjungi anak kami." kata Inferno.
"Baiklah dan apa itu burung phoenix?"
"Iya, dia phoenix keluarga kami, namanya Flare." Flare mengepakan sayapnya dan turun untuk menatap shiki lebih dekat.
"Sayap yang bagus, Flare."
"Terima kasih, Serigala abu-abu."
"Namaku Shiki, panggil aku Shiki."
"Ok, Jika itu mau mu."
"Ah, Paman Inferno dan paman Cyro!" seru Moku dan mendatangi mereka berdua.
"Oh, Halo Moku. Apa kau sendirian?" tanya Cyro.
"Ya, Pyro dan Frost sedang di perpustakaan. Main HP, sparing katannya." jawab Moku, "Kalian berdua saja?"
"Ya, Soil dia sepertinya sedang sibuk, kalau Aurum memang sibuk orangnya."
Note : Soil, Ayahnya Moku, Aurum ayahnya Rai.
"Emm.. Baiklah." kata Moku dan pergi begitu saja.
"Halo, kalian sispa?" tanya yuki yang muncul dari koridor dekat mereka.
"Aku Inferno dan ini cyro, aku ayah dari Pyro dan Cyro ayah dari Frost."
"Oh, Mau menemui anak kalian? Ada diperpustakaan. Naik tangga ke lantai 2 lalu, belok ke kanan dan nanti kelihatan ada palang yang menunjukan perpustakaan." jelas Yuki dan mereka berdua mengangguk.
"Hei, Kau sedang hamil berapa bulan?" tany Cyro penasaran.
"Emm.. 8 bulan dan sudah masuk ke fase akhir." jawab Yuki. "Hmmnh..."
"Ka.. kau tak apa!?" tanya Cyro panik ketika melihat Yuki tiba-tiba memegang perutnya.
"Ahh.. Nggak apa-apa, tadi, hanya tendangan dari dia." jawab Yuki dan tertawa kecil. "Kan, nggak mungkin prematur."
"Syukurlah.. Ku kira dia akan melahirkan disini, kita bisa panik karena tak tau siapapun disini." ujar Inferno.
"Maaf ya, aku mau pergi dulu, mau membeli bahan masakan."
"Hati-hati..."
"Nah, Cy, ayo, kita temukan mereka berdua."
"Yap..."
Meanwhile..
"Heittchaa!" Tampak Yamatabi sedang memukuli dan menendang beberapa boneka latihan di halaman markas. Entah sudah berapa lama dia seperti itu karena sudah banyak yang rusak dan patah berserakan di sekitarnya.
"Oi, Walapun kau mau sekuat apapun, kau perlu istirahat! Jangan paksakan dirimu, kau sudah dari pagi latihan!" seru Yamagi dan melemparkan Yamatabi sebuah Handuk dan air minum.
"Terserah.. Aku memang perlu istirahat." jawab Yamatabi datar dan duduk di lantai. Kemudian, dia membuka botol minum itu dan mengguyur kepalanya dan meminum sisanya.
"Hei, Kembalilah setelah ini. Makan siang hampir selesai dibuat." ucap Yamagi dan pergi, tapi dia memberikan pedangnya ke Yamatabi. "Aku rasa kau akan perlu ini, Yamatabi."
"Emm.. Terima kasih, Yama-Nii." Tapi, Yamatabi bingung. 'Kenapa dia memberikan pedangnya ya?' Saat di menarik pedang itu dari sarungnya. Dia melihat sekelibat bayangan di belakangny yang tiba-tiba menghilang. "Sial! I.. itu!"
"Ougi : Shaadou Kiruu!"
Tch!" Yamatabi langsung berusaha menahan serangan yang dilancatkam oleh Hayabusa secara bertubi-tubi. Tapi, karena belum siap, dia menerima banyak serangan daripada menahannya.
"Kau terlalu Lambat! Tabi-Nii!" komentar Hayabusa.
"Aku tak berpikir kau akan menyerangku seperti itu!" balas Yamatabi kesal.
Now go to Hospital..
"Oh ya, kau yakin? Mau operasi katarak-mu Syahin?" tanya Luigi yang melihat Syahin sedang berbaring di ranjang rumah sakit.
"Ini terlalu parah! mata kananku terlalu buram kalau untuk melihat!" keluh Syahin yang mencoba menggenggam sebuah gelas dengan mata kiri tertutup. "Argh! Sial!"
"Bodoh! Jangan paksakan kau bisa melakukannya!" sembur Thohir dan merebut gelas itu.
"Thohir benar, kalau kau memang buram jangan dipaksakan untuk mencobanya." sambung Mark dan mengangguk.
"Halo? Bagaimana?" tanya Desmond yang baru datang.
"Dia akan melakukannya nanti jam 4 sore." jawab Luigi.
"Kami hanya mencegah dia melakukan hal-hal aneh yang membahayakan dengan mata kiri tertutup, seperti menuruni tangga." jelas Thohir.
"He.. Dia memang keras kepala dan nekat seperti Altair." komentar Desmand sweatdrop.
"Ngomong-ngomong, kenapa kalian tau ruanganku? Padahal, kalian hanya mendapatkan info kalau aku akan menjalani operasi katarak di rumah sakit ini kan?" tanya Syahin penasaran.
"Sahabat kami ada yang dirawat disini, dia pingsan dan tak sadarkan diri beberapa hari terakhir." jelas Desmond.
"Kata dokter, dia terkena gegar otak, dan kami datang karena katanya dia sudah sadarkan diri." sambung Desmand.
"Bagus-"
"Tidak, ada yang menggangguku." kata Desmand.
"Apa itu?" tanya Thohir.
"Tatapannya kosong, dan dia diam saja dari tadi, karena lapar kami berdua memutuskan untuk mengunjungi kantin kemudian, ke kamar paman Syahin." jelas Desmond, tapi Thohir langsung memasang wajah panik.
"Apa ada yang mengawasinya!?"
"Ti.. Tidak.. Memangnya kenapa?" tanya Desmand gugup.
"Ini buruk! Kamar nomor berapa!? dan dilantai berapa!?" tanya Thohir lagi.
"Emm.. Nomor 25, lantai 4."
"Ikut aku sekarang juga!" Thohir langsung berlari menuju lift diikuti oleh Desmond dan Desmand.
"Kenapa? Memangnya ada apa?' tanya Desmond penasaran.
"Dia.. Belum sadar.. Pikirannya masih kosong! Harusnya ada yang mengawasinya." ucap Thohir dan pintu liftpun terbuka dan ada Aiden di situ.
"Oh, Hai kalian ini sia-"
"Cepat! Lantai 4 sekarang juga!" pintu Lift tertutup dan lift pun naik ke lantai 4. Ketika pintu terbuka Thohir, Desmand, dan Desmond langsung berlari kearah kamar Warrend diikuti oleh Aiden dibelakang mereka sampai di kamar No.25.
Thohir langsung membukanya tanpa ba-bi-bu lagi. Dan semuanya langsung panik ketika melihat Warrend dengan sebuah ikatan korden di lehernya yang terancap di sebuah lampu gantung dan bersiap untuk gantung diri.
"Warrend! Hentikan!" Seru Aiden dan menahannya untuk tidak melangkah lebih jauh dan tergantung karena jatuh.
"Potong kordennya cepat!" seru Thohir dan Desmond langsung memotong korden yang terikat. tiba-tiba, Warrend pingsan lagi dan kembali tertidur di pelukan Aiden.
Beberapa menit kemudian..
"A.. Aiden? Apa yang terjadi padaku?" tanya Warrend bingung ketika melihat banyak orang disekitarnya.
"Syukurlah! aku tak akan meninggalkanmu sampai kau keluar dari rumah sakit ok!" ucap Aiden dengan air mata di pipinya.
"Des? Apa yang terjadi?"
"Kau hampir gantung diri Warrend? Kau kenapa lagi memangnya?" tanya Desmand.
"Gantung diri? Aku? Urgh.. berikan aku kantong muntah." Desmond memberika Warrend kantong plastik dan warrend segera muntahnya ke dalam plastik tersebut.
"Ti.. Rgh.. Tidak! Erg.. Aku.. Urgh.. Tidak.. Huegh.. Mungkin.. Melakukannya!" kata Warrend walaupun, terpotong karena muntah dan dia langsung menangis. "Aku tidak akan melakukannya seperti dia! Tidak akan!"
"Siapa yang kau bicarakan Warrend?" tanya Aiden.
"Ayahku! Aku tak akan melakukan hal yang sama! aku tak mau!" jawab Warrend. "Karena dia, aku menderita akibat kemampuanku! Aku tak bisa menghapusnya!"
"Kenapa?"
"Sejak kecil, aku punya ingatan fotografi, dan.. Ayahku.. dia depresi dan gantung diri. Aku melihatnya, aku melihat mayatnya masih tergantung. Aku mohon tolong buat aku melupakan hal itu, pukul aku sekuat mungkin! Pukul kepalaku sampai aku lupa akan segalanya!"
"Warrend, hentikan!" seru aiden dan mengusap punggung Warrend. Dan wareend kemudian menatao Aiden.
"Jangan menatap masa lalu ok, aku juga ounya masa lalu yang buruk, hal itu hampir mencelakakan seluruh keluargaku dan teman-temanku. Aku yang dipenuhi rasa dendam dan sesal akan selalu merasakan hal itu, makanya aku sangatlah simpati ke dirimu."
"Sekarang, jelaskan padaku.. Kenaoa kau sangat senang terhadap diriku?" tanya Aiden.
"kau.. Kau mirip.. Ayahku dan kau sangatlah baik terhadap diriku. Aku merasa tenang karena kau selalu mendukungku." jawab Warrend gugup.
Kembali ke Cyro dan Inferno beberapa menit sebelumnya juga...
1. PvP in Trio Room.
"Kemana mereka? Katanya di perpus tapi, kosong melompong tak ada orang." ujar Inferno.
"Iya, mungkin.. mereka sudah pergi ke suatu tempat." kata Cyro.
Saat mereka berdua melewat sebuah kamar tak sengaja mereka melihat kedua orang yang mereka cari.
"Pyro/Frost!" panggil mereka dan menghampiri kedua anak mereka.
"Ayah dan paman Inferno/Cyro?" Pyro dan Frost kaget melihat ayah mereka datang. "Sedang apa kalian disini?"
"Mengunjungi kalian tentu saja." balas Inferno dan memekuk anaknya. "Ayah kangen dirimu, kangen meluk anak terakhir ayah, yang satu-satunya anak laki-laki!"
"Ish, lepasin! malu diliatin banyak orang."
"Bagaimana keadaanmu, Frost?" tanya cyro dan mengusap kedua pundak Frost.
"Lumayan, Ayah bagaimana? Sudh ada perkembangan?"
"Belum semanya masih putih Abu-abu."
"Oho, Ini siapa?" tanya Inferno ketika melihat Red membawa sebuah konsol game dari luar.
"Oh, itu Red, be ngomong-ngomong ini kamar dia, kedua saudranya, dan Anjingnya." jawab Pyro.
"Oh, Hai, Kalian siapa?" tanya Red.
"Red ini ayah gue, dan itu ayahnya Frost." jawab Pyro.
"Aku Inferno Pyromancer, salam kenal."
"Aku Cyro Silverstein Cyromancer, Salam Kenal."
"Kalian mau bermain game apa?" tanya Inferno.
"Fighting, pokoknya game petarungan saja." jawab Rone.
"Lho kau?"
"Aku Red bloodrone (Chizaru Ketsueki), kembaran kedua Red."
"Aku Akarui Kestueki, Kembaran ketiga Red."
"Tunggu, namamu Red Bloodrone!? Lalu, Si Red mana yang asli!?" tanya Cyro kaget.
"Aku Jin Ketsueki, Kembar pertama dan paling tertua diantara mereka berdua." jelas Red datar.
"Kalim benar-benar membuatku pusing." keluh Cyro sambil memijit keningnya.
"Oh, Halo, Sepertinya ramai disini." seseorang mengintip lewat pintu kamar red.
"Oh, Filipe kau datang, kami belum mulai sama sekali." ucap Rone.
"Namanya Filipe?" tanya Inferno.
"Lebih tepatnya, Filipe Willian Armerio Ferreira." sambung Filipe.
"Yah, mana Flare?" tanya Pyro penasaran.
"Oh iya, sebentar." Inferno langsung bersiul untuk memanggil Flare. "Dan kita tunggu sebentar."
"Flare itu siapa?" tanya Filipe.
"Burung Phoenix keluarga kami, dan ayah sangat sayang sama dia." jawab Pyro.
"Kalian memelihara burung Phoenix!?" tanya Filipe.
"Burung Phoenix adalah hal biasa yang dipelihara oleh kalangan Penyihir api, jadi jangan kaget." jelas Inferno.
"Bagaimana dengan kau?" Filipe menunjuk Frost dan ayahnya.
"Kami merawat tiga hewan, dan mereka akur semua."
"Apa saja?"
"Beruang kutub, Pinguin, dan harimau putih."
"Oh, sangat.. Hebat.."
"Moshi, moshi! Keisatsu desu!" Seru seseorang berambut coklat muda di pintu kamar Red.
"Hilih, ngapain juga nih anak!" sembur Red dan menendang pria itu. "Masuk!"
"Yaudah dong, jangan nendang juga." keluh pria itu.
"Siapa dia?" tanya Frost.
"Kenalin, ini Genzo Shihada, hero Unique, Automaton." jelas Red.
"Gue mau ikut kalian main!" pinta Genzo dan langsung merebut Kontroler game dari lantai.
'Dasar sembrono.' gumam Trio Red.
"Yaudah! Filipe lawan dia dulu!" kata Rone dan langsung duduk.
"Baiklah, senor Rone."
Kemudian...
"Kebanyakan nyerang, tapi, ngedeff jarang." komentar Aka saat melihat cara bermainnya Genzo. "Akhirnya, kena come back."
Hasil pertandingan, Filipe menang 3 : 2 dari Genzo.
"Saatnya giliranku." ujar Rone.
"Tunjukan Skill-mu Rone."
"Ya, ya, ya..."
Kemudian...
"A.. apa!?" Filipe kahet ketika melihat Rone menang darinya padahal. "Kau hanya menghindar selama pertandingan dan melayangkan beberapa pukulan."
"Itulah tekniknya liciknya Rone, Menghindar sebanyak mungkin dan menyerang saat musuhnya lengah."
2. Efek Terbekukan dan Tenis Penggorengan.
ting tong.
"Sebentar!" Silica membuka pintu depan (Oh, Dia lagi libur awal tahun jadinya ada di markas.) dan melihat seorang pria menggunakan topi tinggi dan jaket panjang hitam. "Ada yang bisa aku bantu?"
"Ah, nyonya, aku mencari Reha boleh bertemu dengannya?" tanya pria itu.
"Baiklah..."
Beberapa menit kemudian...
"Ah, Jacob akhirnya kau datang juga!" seru Reha dan mencoba untuk melompat dan memeluk Jacob tapi, ditahan Yamagi.
"Yap, oh, apa itunya sudah siap?"
"Tinggal tunggu-"
"Gyaaaah! Awas!"
Brak!
"Eh?"
Mereka keluar dan melihat luthias sedang memperhatikan sebuah patung es yang sepertinya itu...
"Inferno!?"
"Aku tak sengaja menabraknya dan dia berubah jadi es." ucap Luthias khawatir.
"Tenang saja, dia akan baik-baik saja.. tapi.." Es yang menyelimuti Inferno mulai meleleh karena panas tubuh Inferno yang meningkat. Tapi, sayangnya membekukan Inferno sama saja dengan membuatnya menjadi yah.. begitu..
"Ayo! Bekukan aku lagi! Aku menikmatinya setiap hawa dingin dari Es yang menusuk tulang! Bekukan aku lagi!" seru Inferno dengan iler di mulutnya, mata nggak fokus, pipi memerah, dan nafas yang terengah-engah.
"Di- Dia kenapa?" tanya Jacob sweatdrop.
"Kau tau, Fetish dari tuan besar Inferno adalah hawa dingin, jadi.. Lihat celananya." Jawab Flare dan semuanya langsung melirik kearah celana Inferno dan benar saja.
"Bloody hell, He's got a B*n*R, just from freezing!" Umpat Jacob ketika melihat celana Inferno.
"Bekukan Aku lagi!" seru Inferno.
"Ja.. Jangan turuti dia."
Skip..
"Aku kira, tenis biasa. Ternyata,..." Luthias hanya sweatdrop ketika bermain tenis bersama Jacob.
"Kenapa Pemukulnya jadi penggorengan dan bolanya, bola baseball!?" serunya dan jacob mulai melambungkan bola ke atas.
"Terima ini!" seru Jacob dan memukul bola baseball tersebut.
Prang!
"Eh!? wait!"
Sementara dari pojokan hanya ada haya seorang. Kemana Yamagi?
"Hee.. Magh Kambuh disaat yang tidak tepat dan kau langsung panas badannya." jelas Yamagi dan menaruh sebuah kompresan di kepala Reha.
"Perut sakit..."
"Iya, iya.. mau ditemenin sampe tidur?"
"Hooh..."
"Ok, ok."
Bonus :
Kring-Kring.
"Ay? Siapa?"
"Salem bagaimana keadaanmu?" tanya seseorang diseberang telepon dengan suara wanita.
"Salma? Kau kah itu?" tanya Salem balik.
"Salma siapa Salem?" tanya Chilla.
"Ah.. Apa suara itu Chilla? Aku mau berbicara dengannya deh." pinta Salma.
"Sal, aku tak yakin-"
"Ayolah! Aku ingin berbicara dengannya Alfred bilang dia pacarmu."
"Salma!"
"Salem~ Ayolah~"
"Terserah!" Salem berikan HP-nya ke Chilla.
"Ha..Halo?"
"Halo Chilla, bagaimana dengan Salem?"
"Ya, Salem baik-baik saja. Ngomong-ngomong, Salma ini siapanya Salem ya?" tanya Chilla penasaran.
"Aku.. Aku ini Salem.."
"Umm.. Salem?"
"Salem versi wanita tentunya, aku dari dunia lain."
"Ouh, lalu.. Bagaimana dengan Chilla disana? Apa Chilla berubah menjadi laki?"
Gubrak!
Salem yang mendengarnya langsung jatuh.
"Suara apa itu?"
"Salem jatuh, jadi, bagaimana Chilla disana?" tanya Chilla lagi.
"Entahlah, aku belum bertemu denganmu disini makannya aku penasaran dengan dirimu." jawab Salma miris.
"Lalu, kau pacaran dengan siapa?"
"Aku bukan pacaran lagi, tapi, sudah berkeluarga dan punya satu anak." jawab Salma datar.
"Dengan siapa kau menikah? Apakah Chilla bisa mengetahuinya?" tanya Chilla Polos dan Salem hanya bisa Facepalm ria.
"Alfred, aku menikah dengan Alfred dan punya satu anak bernama Alfa, Chilla... Aku.. Harap kau tidak kaget jika, nanti kau bertemu seorang anak yang memanggil Salem dengan sebutan mama." jelas Salma dan menggihit bibirnya dia takut kalau Chilla bakalan curiga soal hubungan Alfred dan Salem.
"Alfred? Yang Hantu, kakaknya Eris, dan temannya Salem ini?"
"I.. Iya, tapi, dia hidup di duniaku dan dia sangatlah baik." jawab Salma.
"Iya, dia baik! Dia membelikan Chilla Banyak makanan ketika sedang pergi bersama Salem dan mentraktir kami berdua." balas Chilla dan Salem dan Salma langsung bernafas lega.
"Chilla mau bertemu dengan Salma boleh?"
"Eh? Umm.. Boleh aku juga sedang di Squad Alfred Duniamu, karena Alfa ingin bertemu dengan Alfred di dunia ini dan tentunya juga Mamanya."
"Baiklah, dimana kita bisa bertemu?"
"Mau ke mall?"
"Ok." Telepon tiba-tiba di tutup, dan Chilla langsung memberikannya ke Salem. "Salem, Chilla mau ketemu Salma bolehkan?"
"Boleh-boleh."
"Yee! Chilla siap-siap dulu."
Kling..
"Maaf sebentar aku di lantai tujuh dulu."
Dilantai Tujuh...
GhostlyLance : Salem.. Aku.. Minta maaf soal gigitan itu.
Bukan titisan Jumrah : Tak apa.. Kau juga tak bermaksud melakukannyakan?
GhostlyLance : I.. iya.. Maafkan aku, sungguh, aku benar-benar menyesal Salem! Maafkan aku yang hampir membuatmu menderita.
Bukan Titisan Jumrah : Aku sudah memaafkan mu Alfred, lagi pula.. Kau sudah berusaha menahannya agar tidak kebablasan yakan? biarpun hanya membuka bajuku dan bajumu sih.. Dan kau berbohong ke Eris juga kan?
GhostlyLance : I.. Iya.. Aku mencintaimu Salem, tolong maafkan aku. Aku malah menimbulkan ingatan memalukan untukmu
Salem hanya tersenyum membacanya, Alfred benar-benar menyesal bahkan, dia melihat Alfred menangis dihadapannya karena hampir saja me-raep dirinya walaupun dia berhasil menahan dirinya agar tidak kebablasan walaupun, dia tetap menganggapnya memalukan sih.
Flasback..
'Tidak.. Ah.. Apa yang aku lakukan!? Aku.. Aku!'
'Al.. Alfred?'
'Jangan Mendekat! Aku tak mau... tidak! Aku tidak akan melakukannya! Aku tak mungkin melakukannya!' Alfred mulai meringuk dan menangis sambil memegang kepalnya.
'Alfred?' Salem mengusap pelan punggung Alfred yang sedang meringuk di tembok. "Sudah, aku memaafkanmu ok, kau hebat sudah menahan dirimu sendiri.'
'Salem? Kau tak akan membenciku?'
'Tidak ok, tapi, kesal iya karena kau meneleport diriku ke kamarmu tengah malam begi-'
'Begitu ya..'
'Tu.. Alfred, aku tak bermaksud menyakitimu ok, aku hanya sedikit kesal karena kau meneleport diriku seenaknya saja tidak membencimu secara berlebihan.'
'Benarkah?'
'Iya, aku mencintaimu kok..Uff.. Mnhm..'
'Huah... Aku juga... Mencintamu Salem..'
Dan setelah itu mereka langsung tertidur pulas.
Bukan Titisan Jumrah : Iya, Aku memaafkan dirimu Alfred, Aku juga menyayangimu.
GhostlyLancer : Hei, bisa keluar sebentar. Aku ada di depan squadmu.
Salem langsung keluar markas tanpa ada yang tau alau dia sudah keluar. Di depan gerabang terdapat Alfred yang sedang menunggu sambil membawa dua buah kantong plastik.
"Oh, kau sudah keluar rupanya. Ini untukmu." ucap Alrred dan memberikan kantong plastik itu.
Salem melihatnya dan isinya ternyata 20 buah Es krim cup, "Emm.. Makasih."
'Kok, rasanya pernah liat nih es krim deh." batin Salem.
"Aku sudah beli beberapa juga untuk di markasku, dah ya.." Alfred kemudian pergi, tapi dia langsung berbalik lagi. "Oh, Soal itu.. Bekasnya sudah hilang ok, jadi, tenang saja."
Salem mengangguk dan pergi kedalam, karena dia agak penasaran dia melihat isi kantong plastik tersebut dan merogoh sebua kertas bon belanjanya Alfred.
"Es Krim Häagen-Dazs, kayaknya nggak asing deh."
"Salem lu bilang apa tadi!?" tanya Daren yang sedang menyiram tanaman kaget.
"Es krim Häagen-Dazs, kenapa emangnya.. Anjrit! Serius per-cupnya kan!?"
"Itukan Es krim yang mahal banget itu!? Lu beli?" sahut Sapphire kaget.
"Bukan! Alfred yang ngasih gue barusan! Nih sekantong!" balas Salem.
"Anjrit! Tadjir banget tuh orang! Beli.. 20!?" kata Vience kaget melihat sebuah struk belanja. "Per cup 45rb dan dia beli 20 berarti.."
"900rb buat es krim doang!"
"Tadi, dia bawa dua kantong! berarti dia beli 40-an..." Salem terdiam sebentar. "1,8 juta..."
"Enak banget lu, pacar cewe lumayan, pacar laki-laki tadjir and Sultan. Kurang lengkap apa lagi lu Sal-Sal!" sembur Daren dan langsung main comot salah satu es krim.
Ok, Segitu aja.
N/B :
Firery Inferno Pyromancer (Fire Mage?), 61 tahun : Ayah dari Pyro. Memiliki fetish yang paling aneh karena dia bisa terangsang hanya dengan udara dingin disekitarnya. Sihirnya dipengaruhi oleh temperatur sekitarnya, Makin panas suasana disekitar dia atau makin dingin suasana disekitar dirinya, maka akan semakin kuat sihir apinya. Alasan dikasih tanda tanya karena.. Dia Fire mage tapi, nggak bawa Tongkat jadi hanya pake tangan aja.
Cyro 'Jack' Silverstein Cyromancer (R-Ice mage/Jack Frost), 61 tahun : Ayah dari Frost. Sebenarnya.. Dia buta warna total makanya dia hanya melihat warna putih, hitam, dan abu-abu saja. Namun, dia tau kok kalau di dunia ini memiliki banyak warna, karena itu tujuan dirinya adalah melihat banyak warna selain monokrom.
Yamatabi Kunihiro (Lee), Umur 45? : Adik kedua dari Yamagi, orangnya sangatlah lincah dan suka berlatih sepanjang hari. lebih mengandalkan ke tendangan karena pukulannya sudah bisa membuat efek berupa shockwave yang lumayan kuat. Sebenarnya, dia juga bisa menggunakan senjata-senjata seperti belati dan shuriken berukuran yamg cukup besar, tapi, dia lebih memilih untuk pukulan fisik dari pada senjata. (Revisi dari info adik Yamagi di Chapter sebelumnya)
A/N : Umur Yamagi 55?, Umur Yamatabi 45?, Umur Hayabusa 35?
