Balas Revievv :
Girl-chan : o.. Oh.. -3-
Iris : Parah nih Mas, sodara sendiri diketawain *Angry react Dan diem-diem seludupin Doujin Insect Andreas Siblings ke perpus disana.
Rosy Miranto 18 :
Inferno : Baiklah, aku Tak jadi Deh.. *Bersiul Dan pergi. Dan oh, Apa Kau bilang jugje itu panah peledak? Nope, Ini bukan panah tapi sihir peledak kekuatan tinggi.
Mira : Entahlah, aku mau memberikan Vience oleh-oleh atau nggak. Mending ke kakak Aja.
Destra : *Flying to Aland Island. Yak, sampe!
Sebenernya, sih.. itu sensoran ok :v
Kazuma : Sieryuu itu naga peliharaan ku .v.
Eris : Seharian!? Ide bagus!!
Thx!
Chapter 70 : The Life Story of Miles Siblings.
Desmond P.O.V
Demi Adikku, aku Akan bergabung bersamanya agar dia tidak dimarahi boss tempat kerja kami lagi karena dia sering bolos padahal kerjanya adalah yang terbaik Dari bartender yang lain. Tapi Entahlah, apa aku Akan kuat bersama kelompoknya itu yang katanya agak aneh Dan liar. Namun, Bagaimana lagi, aku Tak mau dia dipecat jadi, terpaksa aku Akan resiko terbesar bergabung dengannya Walaupun, nyawaku Akan jadi taruhan disana...
Yah.. Aku hanya harap berjalan dengan lancar...
Third Person P.O.V
"Sekarang atau tidak sekali..." Desmond masuk ke markas dan berjalan menuju ke ruang tengah tapi, saat sedang menuju ke ruang tengah dia bertabrakan dengan seorang pria berambut kuncir kuda yang datang dari arah yang berlawanan. "Hei, Maaf."
"Ya, Tak ap-"
"Zhao Ziloooooooong!!"
"Maaf aku harus kabur dan dah!" Pria itu kembali lari sampai keluar markas dan Desmond hanya bisa diam dan kembali ke tujuan awalnya.
"Oh, kau sudah datang Desmond." ucap Takano yang sepertinya agak kelelahan karena mengejar sesuatu.
"Ya.. Emm.. Apa yang terjadi denganmu?" tanya Desmond penasaran.
"Tak apa, hanya saja, seorang yang idiot melemparku dengan sebuah kaus kaki bekas dan aku mengejarnya."
"Pasti, pria yang berambut kuncir kuda barusan."
"Ya.. kau melihatnya?"
"Keluar markas."
"Ok, Kau ke ruang tengan saja, nanti kita akan bertemu setelah ini ok." Takano.l langsung berlari secepat mungkin dan sepertinya suara pintu dibanting terdengar cukup keras.
Desmond bisa bertahan hidup di tempat seaneh ini, yah... biarpun dulu lebih aneh sih karena mereka dipaksa untuk tiduran dan diteliti terus-menerus sampai rasanya mereka berdua menjadi agak gila dan dapat melihat bayang-bayang pendahulu mereka berdua. Dan sekarang hal tersebut masih membekas dikepala mereka sampai entah kapan. Ketika sampai di ruang tengah, dia melihat keadaannya normal-normal saja (padahal tadi, ada perang kue pie. Dan entah kenapa semuanya langsung kinclong bersihnya.) Dia duduk di sofa dan terdapat sepiring kue pie dan teh di depannya.
"Kau pasti lelah kesini, silahkan." ucap seorang wanita berambut hijau dengan senyuman di wajahnya. (Walaupun dia sering mendengar tempat adikknya, dia belum tau banyak soal anggotanya, kecuali kerusuhan massal yang selalu terjadi di antara para anggota kelompoo itu.) Desmond hanya tersenyum balik dan mengangguk.
"Emm.. Namamu siapa ya?" tanya Desmond.
"Silica, Silica Almira Mayer. Kau boleh memanggilku Silica." ucap Silica dan menunduk kemudian pergi. Desmond iseng menggunakan kekuatan analisi-nya dan betapa kaget dirinya saat melihat Gadis yang barusan tersenyum ke dirinya itu berwarna merah redup.
'Gadis itu.. Dia.. Musuh? tapi, dia begitu baik. Apa.. Jangan-jangan, ini beracu- Ah, tidak! Tak ada yang akan menyakitimu Des!' batin Desmond dan mengambil kue pie itu. 'Enak..'
Dia rasa, dia ingin keliling sebentar mungkin, ke halaman belakang atau mengecek hal-hal lainnya karena kalau hanya menunggu dia akan bosan. Desmond pergi ke halaman belakang, tapi.. Dia malah menemukan sebuah kejadian yang agak privasi disitu.
"Vi- Vin.. Hentikan, jangan disini!" kata Desmand dan mencoba mendorong Vincent yang memojokannya di sebuah pohon.
"Heh.. Tapi, aku mau disini Des, tak ada siapa-siapa ini ko- Sialan ada yang datang." Vincent menengok kebelakang dan hampir merubah tangannya jadi senjata, namun, tidak jadi karena yang datang adalah.. "Oh, Ada Desmond rupannya."
"Kakak? Kan hari ini libu-"
"Bukan masalah itu ok!" potong Desmons dengan blush di wajahnya. "Em.. Vin, tolong bisakah aku bicara empat mata dengan adikku dulu."
"Baiklah, jika itu maumu." Ucap Vincent dengan nada agak mengeluh karena dia terganggu oleh kedatangan Desmond.
"Nah, Apa mau mu kak?" tanya Desmand.
"Hei, lebih baik kalau kita berdua bersatu lagi oke, kita bersama lagi kau dan aku."
"Tapi, aku tak mungkin ketempat kau tinggal, sekaramg ini rumahku."
"Bukan itu bodoh, tapi aku yang akan mencoba tinggal disini." sela Desmond dan Desmand hanya bisa diam mendengarnya.
"Kau tidak seriuskan? Maksudku, kau bercanda?"
"Nggak, aku serius!"
"Kau yakin? Bagaimana jika mereka datang dan membawa-mu pergi atau tinggal disini!?" balas Desmand dan Facepalm.
"Hmm.. Sial, aku lupa memikirkan it-"
"Deeeeesmmmmmoooooooooonnddd!!"
"Tu..." Mereka menatap kearah langit dan seorang pria langsung mendarat tak jauh dari mereka. Tentu saja, mereka mengenal pria itu sebenarnya sih bukan seorang tapi, dua orang...
"Kenapa kau tidak bilang ke aku hah!?" tanya Alex dengan nada kesal dan mencoba menarik kerah jaket Desmond.
"Oke, aku memang salah, tapi aku mau tinggal dengan adikku karena dia bolos kerja mulu!" jawab Desmond dan berusaha melepaskan genggaman Alex dari jaketnya. Dia lupa soal dua orang yang selalu menstalk dirinya, bahkan lewat HP sekalipun.
"Des, kembali sekarang!" seru Alex.
"Aku mau disini!" Balas Desmond.
"Kau tak akan tahan lebih dari sehari!" Sela Aiden.
"Biarkan! Aku mau bersama adik kembarku ok!" sahut Desmond.
"Yaudah, terserah kau!" kata Alex. "Lagi pula, cari aja yang lain! Dia juga bisa! Kaliankan mirip soalnya!" Teriaknya.
Kata-kata Alex sepertinya langsung merembes ke Desmond seorang karena bisa terlihat dari mukanya kalau dia sudah marah karena mengungkit masa lalunya karena dia pernah pacaran dengan orang lain, lalu putus dengan tidak bagus sama sekali. Desmond langsung memukul muka Alex.
"Yaudah sana! Aku tak mau melihat kau lagi! Pergi dariku!" seru Desmond dan melempar Alex entah kemana tau.
"De.. Des.. kau tak.."
"Aiden.. Tolong.. biarkan aku berdua dengan adikku dulu ok..." ucap Desmond.
"Baiklah, emm.. Desmand, ada Warrend kan?"
"Ada kok, lantai 4 kamar kamar nomor 2 dari kiri."
"Terima kasih." Aiden langsung masuk ke markas.
"Mond.. kau tak apa?" Desmand yakin kalau kakaknya menangis walaupun ditahan dan bisa terdengar dari suara seduannya yang mulai terdengar. "Mond.. Ada apa kau dengan Alex?"
"Aku sedang muak dengannya.. Dia terlalu mengungkit masa lalu hubunganku yang dulu."
"Dengan Dia?"
Note : 'Dia' yang dimaksud disini bukanlah Alex tapi, ada satu orang lagi yang jadi pairing Desmond. Tapi, aku akan membuatnya secret ok!
"Iya, Kami sering bertengkar hebat beberapa hari ini. Aiden selalu menghiburku jika aku sedih."
"Maafkan aku.. kau jadi, em.. membahasnya."
"Tak apa, aku memang mau menceritakannya ke dirimu kok." ucap Desmond dan menghapus air matanya.
"Ada niat buat baikan?" tanya Desmand.
Desmond hanya diam dan segera mengalihkan ke topik pembicaraan yang lainnya.
"Hei Umm..."
Lantai 4 kamar ke 2 dari kiri...
Tok, Tok, Tok...
"Warrend? kau didalam" tanya Aiden, dia yakin kalau dia mendengar suara orang terjatuh dari kursi atau apalah itu di kamar Warrend.
"Hooaam, Ya?" Warrend tampak kacau karena rambutnya masih berantakan dan wajahnya masih mengantuk saat membukakan pintu kamarnya. "Oh, Aide- Maaf! Tunggu sebentar!"
"Emm.. Ok.." Aiden hanya sweatdrop melihatnya dan masuk ke kamar Warrend. Agak berantakan karena banyak alat perkakas dan ada monitor pengawas serta buku-buku bertebaran di kasur dan lantai kamar Warrend. 'Anak ini haruslah memcoba merapihkan kamarnya.'
"Hei, em.. maaf aku ketiduran di kursi saat mencoba mengawasi markas karena katanya ada beberapa orang jahil yang kadang menjahili beberapa anggota lainnya saat tertidur." ucap Warrend dan menguap lagi.
"Kau tampak kau? berapa hari kau tidak tidur?" tanya Aiden.
"Dua Hari.. Hoamm..."
"Tidurlah, aku rasa kau sangat perlu tidur sekarang, aku yang akan berjaga." ucap Aiden dan mengusap kepala Warrend yang dia angkat ke kasur.
"Kau yakin.." ujar Warrend dengan mata mulai menutup tapi, dia tahan.
"Iya, sekarang kau tidur ok, jaga kesehatanmu. Jangan terlalu lama bangun."
Warrend-pun menutup matanya dan tersenyum, "terima.. kasih..."
"Tidurlah.. Orchard..."
Back to Miles Siblings..
"Aku punya pertanyaan.." Amelia mencoba merangkai pertanyaannya, "Bagaimana kalian bisa bertemu dengan Vin dan Alex di Manhattan?" tanya Amelia.
"Um..."
Flashback Manhattan, 5 tahun sebelumnya...
Desmond dan Desmand mencoba menyusup ke sebuah gedung yang sepertinya terdapat benda yang mereka cari. Namun, mereka harus menyusup melewati sebuah gedung yang masih dibangun dan disinilah mereka bertemu dengan Mercer bsrsaudara. Tapi...
'Mau tak mau, kami harus melakukannya.' ujar Desmamd sambil berjalan disebuah pipa. mau tak mau kemampuan mereka berdua harus dikeluarkan karena Gedungnya benar-benar masih dibangun dan bisa dibilang baru setengah jadi. Tapi, saat dia sedang melewati sebuah pintu besi.
"Wo! Tahan! Pemandangan yang indah!" suara teman mereka dari earphone yang mereka pakai.
"Mond! Tolongin!" seru Desmand yang bergelayutan di ujung gedung. Yah, saat dia sedang mencoba melewati bawah pintu dengan berseluncur malah kelebihan karena ancang-ancang yang dia ambil terlalu lama dan dia langsung meluncur ke ujung batas tapi, untung saja dia langsung memegang batas aman.
"Hati-hati lain kali dan Paku, Shaun!" gerutu Desmond.
Note : Paku? itu hanya semacam sensor buat F*ck you kok :v
Mereka berdua terus-terusan bergelayutan, memanjat, berpeganggan, berlari, melompat, dan menjaga kesebangan di fondasi yang bisa dibilang.. hanya setumpu ujung besi saja. Sampai akhirnya mereka sampai diatas puncak tertinggi gedung setengah jadi itu.. Puncak dari alat angkut bahan bangunan diatas gedung.
"Nah, dari situ kalian akan terbang sampai ke gedung didepan kalian!" ucap teman mereka di earphone.
"Siapa duluan?"
"Undi?"
"Ok.."
"Batu!"
"Gunting!"
"Kertas!"
Desmond : Kertas, Desmand : gunting.
"Silahkan, duluan." ucap desmand dengan cengiran dimukanya.
"Sialan lu dek!" Desmond akhirnya melompat duluan. Disusul oleh Desmand dibelakangnya. Nah, disinilah.. mereka akhirnya bertemu..
"Mand, aku rasa-"
Brak!
"Mond!-"
Brak!
"Hei!? Apa yang!?" keluh Alex dan menatap Desmond yang menabraknya dan terbawa entah kemana.
"Vin?"
"Mand?"
Oh, kecuali mereka berdua yang udah kenal duluan..
Flashback end..
"Begitulah.." komentar Desmand.
'Bukan saat yang bagus untuk pertemuan pertama.' ujar Amelia sweatdrop.
"Oi, kayaknya kau salah deh. Itu mah sebelum kita berdua berpisah dengan mereka karena Alex menggila!" ralat Desmond.
Flashback again...
"Hei, berikan aku dan adikku ini yang terbaik." ucap Seorang pria yang mengenakan jaket hitam, hoodie abu-abu, dan kemeja putih tapi, atasnya tidak dikancing. Sementara, pria (yang mungkin adiknya) mengenakan baju kemeja putih dan jas hitam dan beberapa garis merah diujungnya hanya diam dan menangguk.
"Baiklah."
"Kalian kembar ya?" tanya pria dengan jas hitam itu.
"Ya, kami kembar." jawab Desmond.
"Siapa yang kakak? apa kau?" tanya si pria berhoodie abu-abu dan menunjuk Desmand.
"Haa.. selalu, tapi maaf, aku si adik. Dia kakakku." jawab Desmand.
"Hah? Kau lebih tinggi dari kakak kembarmu?" tanya si pria berjas itu.
"Ya memang dan itu adalah pembeda kami jika kalian sudah kenal."
"Nama kalian?"
"Kakak, Desmond Miles."
"Adik, Desmand Miles."
Flashback end
"Begitulah, yang benar." ucap Desmond.
"Oh."
Malam harinya...
Gubrak! Gedubrak!
"Hei! Hentikan! Des-"
Brak! Bruak!
Terdengar sepertinya ada yang berbicra dengan bahasa arab di kamarnya Desmand. Semuanya langsung mendobrak kamarnya takut ada yang salah dan saat dibuka terlihat Desmond sedang menodong Desmand dengan sebuah pisau di lehernya. Dan dia berbicara dengan bahasa yang kurang dimengerti oleh beberapa orang. Desmand membalasnya juga dengan bahasa yang sama.
"Cukup ok! Aku ini adik dari Desmond dan aku cu- eh.. Salah satu penerusmu." Desmond menurunkan pisaunya dan menatap tajam ke orang yang berkumpul di pintu.
"Siapa kalian!?"
"Em.. Apa yang terjadi?" tanya Red penasaran.
"Tahan dulu Altair, jangan menyerang dulu." ucap Desmand. "Jadi, begini Red.. Emm.. Desmond mempunyai empat kepribadian, Yang satu desmond, yang satu itu Altair dia.. agak pemarah dan arogan oh, dan dia juga bicara dengan bahasa arab, yang satu Ezio.. Dia bicara setengah bahasa itali dan inggris tapi.. agak sedikit perayu, dan Connor, kalian.. pasti sudah tau kan.. Yang ini Altair.."
"Aku dimana?"
"Kau dirumahku, tenang saja, aku tinggal bersama teman-temanku dan mereka baik. Jadi, tenanglah." jawab Desmand dan Desmond hanya mengangguk kemudian, dia jatuh pingsan.
"Dia tak apa?" tanya Silica.
"Tak apa, dia kalau berganti kepribadian sering pingsan jadi, biarkan saja." jawab Desmand.
'Yah, oh.. apa itu Malik?' Desmand melihat sekelibat bayangan putih yang menembus kerumunan. Seorang pria berambut hitam pendek dan berjubah hitam serta, memiliki satu tangan.
"Des! Des!"
Teriakan Rone sepertinya mengembalikan Desmand ke dunia nyata. "Ya, apa?"
"Kok bengong?" tanya Rone.
"Ti.. Tidak apa-apa kok." jawab Desmand.
'Aku tak akan memberitahu mereka soal halusinasi itu.' batin Desmand.
Bonus :
"Mana Destra?" tanya Reo.
"Entahlah, dia bilang ingin keluar sebentar." balas Ferdinand.
"Hmm..." Reo masuk ke kamar Destra dan tak sengaja dia melihat sesuatu yang membuat dia kaget. 'Di.. Dia serius!?'
Helmnya ketinggalan...
sementara itu..
"Kau siapa?" tanya Enara hati-hati ketika melihat seorang pria berambut biru panjang berantakan dan bermata merah dan luka di wajah bagian atasnya. Berpakaian Jubah biru tua dan ada efek seperti listrik dan segi enam pembatas disekelilingnya.
"Destra Electrocutor, salam kenal." ucap Destra dan melipat tangannya kemudian dia sedikit terangkat ke udara.
"Oh, jadi kau Destra.. Apa yang terjadi dengan wajah-mu?" tanya Enara.
"Sudah lama sekali dan aku tak mau membahasnya." jawab Destra. "Ingat, aku kesini untuk membahas senjata."
"Tapi, kau taukan, senjataku ini tongkat bukannya, tom-"
"Tak apa, justru aku hanya akan memikirkan senjata sementara yang akan aku gunakan." ucap Destra. "Dan sepertinya aku bisa memikirkannya sekarang."
Destra mengumpulkan seluruh tenaganya ke kedua tangannya dan menepuk kedua tangannya, lama-lama dia membuat jarak atara kedua tangannya sampai terlihat sebuah tongkat mulai terbentuk.
"Heaaaaargh!"
"Wa.. Tenaga yang luar biasa." komentar Enara.
"Aku biasa melakukan sihir dengan tenaga yang cukup hebat, tapi ini terlalu menguras tenagaku." Destra langsung sempoyongan dan hampir terjatuh ke tanah tetapi, Enara menahannya.
"Tahan, kau harus istirahat dulu untuk mengisi tenaga-mu lagi. Dan kau bagaimana bisa kesini?"
"Terbang.. dan.. Teleport, aku bisa.. melakukannya.. dengan tenaga yang sedikit.. tapi.. kece.. patan.. yang.. tingg-" Destra langsung pingsan dan terjatuh ke tanah menimpa Enara.
"Di.. dia berat sekali."
Segitu aja ya..
